ββSasaeng Special Service - Nishimura Rikiβ
Minggu soremu yang harusnya tenang dan damai jadi kacau lagi. Pas kamu lagi asik jogging santai sambil nikmatin angin sore, tiba-tiba HP di dalam tas pinggangmu bergetar hebat. Kamu udah punya firasat buruk, dan bener aja, pas kamu intip layarnya, ada warna merah neon yang menyala intens.
[FINAL TARGET ACQUIRED: NIGHT 07]
Name: Nishimura Riki (NI-KI)
Status: The Prodigy Idol / Global Star
Location: Private Dance Studio - VIP Floor.
[MISSION: THE FINAL VALIDATION]
βRiki punya segalanya: bakat, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi di balik sifat arogannya, dia punya haus akan validasi yang nggak pernah terpuaskan. Dia nggak cuma mau dipuja sebagai idol, dia mau ditaklukkan sebagai pria. Jadilah satu-satunya βpenggemarβ yang bisa bikin dia berlutut.β
Dalam sekejap, pemandangan taman tempatmu olahraga berubah jadi ruangan luas dengan dinding kaca dan lantai kayu yang mengkilap. Aroma parfum mahal bercampur keringat yang segar memenuhi udara. Di tengah ruangan, di bawah sorotan lampu studio yang tajam, seorang pemuda dengan postur tubuh tinggi, ramping, dan atletis sedang bergerak gila-gilaan mengikuti dentuman musik bass yang berat.
Itu dia, Nishimura Riki.
Gerakannya sangat tajam, presisi, dan penuh tenaga. Dia nggak sadar kalau kamu ada di sana, atau mungkin dia sengaja mengabaikanmu karena dia terbiasa jadi pusat perhatian. Begitu musik berhenti, Riki menyambar botol minumnya, menenggak air hingga jakunnya bergerak naik-turun, membiarkan sisa air membasahi kaus sleeveless abu-abu tipisnya yang sudah basah oleh keringat.
Dia menoleh, menatapmu lewat pantulan cermin dengan tatapan tajam dan sedikit arogan.
βSiapa lo? Staf baru?β tanyanya dengan suara bariton yang dalam, sangat kontras dengan wajahnya yang masih terlihat muda tapi tegas. dia berjalan mendekat, setiap langkahnya punya irama yang bikin kamu merinding. βAtau lo salah satu fans fanatik yang berhasil nyelinap ke lantai VIP ini?β
Riki berdiri tepat di depanmu, tingginya mengintimidasi. Dia menyeringai kecil, seolah-olah dia tahu persis kalau pesonanya sedang menghantammu sekarang. βKalau lo mau tanda tangan, lo salah tempat. Tapi kalau lo mau sesuatu yang lain... gue mungkin punya waktu sepuluh menit sebelum manajer gue balik.β
Kamu nggak gentar. Kamu justru maju selangkah, menipiskan jarak sampai dadamu hampir menyentuh dadanya yang bidang. Kamu bisa ngerasain panas tubuhnya yang baru selesai latihan.
βGue nggak butuh tanda tangan, Riki,β bisikmu sambil narik kerah kausnya yang basah, bikin dia sedikit nunduk buat sejajar sama wajahmu. βGue cuma penasaran, apa dance lo di atas kasur sekeren dance lo di atas panggung?β
Riki tertegun sebentar, tapi sedetik kemudian tawa kecil yang terdengar meremehkan sekaligus tertarik keluar dari bibirnya. βWah, berani juga ya. Lo tahu kan kalau gue nggak suka cewek yang cuma jago ngomong?β
Dia langsung nyengkeram pinggangmu, narik kamu masuk ke dalam dekapannya dengan tenaga yang kuat khas penari profesional. Tatapannya kini nggak lagi arogan, tapi penuh kegilaan dan rasa haus akan validasi yang kamu tawarkan.
βJangan nyesel ya. Karena kalau gue udah mulai βmanggungβ, gue nggak bakal kasih lo waktu buat narik napas,β geram Riki sebelum dia ngebanting kamu ke arah dinding kaca studio yang dingin, mengunci tubuhmu dengan tubuh panasnya.
Riki menyeringai, tapi matanya yang tajam seperti elang itu nggak lepas dari setiap gerak-gerikmu. Dia mencengkeram rahangmu pelan, mengangkat wajahmu supaya kamu bener-bener natep matanya yang dingin namun penuh api.
βGue tanya sekali lagi,β bisik Riki, suaranya rendah dan sedikit menekan, tapi ada nada main-main yang sangat kentara. βSiapa lo sebenernya? Staf nggak bakal berani natep gue kayak gini, dan sasaeng biasanya bakal gemeteran kalau gue deketin sedekat ini.β
Kamu justru terkekeh sinis, sama sekali nggak terintimidasi sama aura mencekam yang bikin banyak orang ciut. Kamu mulai berbisik, tepat di depan bibirnya, membongkar semua rahasia yang bahkan manajernya pun mungkin nggak sadar.
βLo itu kesepian, Riki. Di puja jutaan orang tapi nggak bisa punya satu orang pun buat dipeluk tiap malem karena jadwal gila lo. Lo hampir gila karena tekanan reputasi lo yang sempurna, kan?β Kamu mengelus dadanya yang naik-turun cepat. βFans fanatik lo? Mereka cuma berani nyuri baju atau botol minum lo dari jauh karena mereka takut sama aura βmonsterβ lo itu. Tapi gue...β
Kamu menjilat bibir bawahmu sambil menatapnya lapar. βGue nggak takut sama monster di dalem diri lo. Gue justru mau monster itu keluar malam ini juga.β
Riki tertegun. Pupil matanya melebar. Semua validasi yang selama ini dia cari dari tepuk tangan penonton tiba-tiba terasa hambar dibandingin sama provokasi lo.
Dia sadar kalau lo tahu segalanya tentang dia, dan alih-alih merasa terancam, egonya yang arogan itu justru merasa tersanjung secara gila-gilaan.
βJadi lo beneran fans fanatik gue, ya?β Riki tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. βOke. Kalau fans yang lain cuma berani nyuri barang gue, lo dapet pengecualian. Lo boleh nyuri βjiwaβ gue malam ini, kalau lo sanggup.β
Riki nggak nunggu jawaban lagi. Dia langsung nyamber bibir lo dengan ciuman yang sangat kasar dan penuh dominasi. Rasanya kayak lagi di tengah badai, lidahnya bergerak dengan ritme yang agresif, seolah dia lagi melakukan dance break di atas panggung yang paling krusial dalam karirnya.
Dia memutar tubuhmu dengan satu gerakan kuat, membantingmu ke arah dinding kaca studio hingga terdengar suara dentuman pelan. Kedua tangannya mengunci kepalamu, dan dia mulai menyerang lehermu dengan gigitan-gigitan kecil yang bikin kamu mendesah keras.
βLiat pantulan cermin di sanping,β geram Riki, suaranya udah pecah karena gairah yang meledak. βLiat idol kebanggaan dunia ini... yang sekarang lagi bertekuk lutut cuma karena provokasi satu cewek fanatik kayak lo.β
Riki dengan kasar melepas kausnya sendiri sampai terdengar suara sobekan di kainnya dan melemparnya sembarangan di lantai kayu studio, nunjukin tubuh atletisnya yang berkeringat dan penuh urat yang menonjol. Dia udah nggak peduli lagi sama citra idol-nya. Dia cuma mau validasi paling mutakhir malam ini: melihat lo hancur di bawah kendalinya.
Riki bener-bener kayak predator yang lagi menikmati mangsanya pelan-pelan. Begitu legging olahragamu dipaksa turun sampai ke pergelangan kaki, pemandangan bokongmu yang terekspos di bawah lampu studio yang terang bikin napas Riki seketika tertahan. Dia nggak bisa nahan tangannya, dengan telapak tangan besarnya yang kasar karena sering latihan, dia mendaratkan satu tamparan keras di sana.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di ruangan kedap suara, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulitmu. βBagus banget... ternyata fans fanatik gue punya tubuh sesempurna dan semantep ini,β bisik Riki, suaranya makin serak dan berbahaya.
Dia nggak berhenti di situ. Dengan gerakan yang nggak sabaran tapi tetap artistik, Riki menarik ritsleting jaket olahragamu dan membuangnya ke sembarang arah. Begitu tinggal menyisakan sport bra ketat hitam yang menekan dadamu, Riki menyeringai. Dia menyelipkan jemarinya di balik kain elastis itu, lalu dalam satu sentakan kuat khas tenaganya yang luar biasa, dia menariknya paksa ke atas sampai terlepas sepenuhnya.
Sekarang kamu benar-benar bugil di tengah studio, hanya beralaskan lantai kayu yang dingin, sementara Riki masih mengenakan sisa celana training abu-abunya yang sudah sangat menonjol di bagian depan. Tatapan lapar Riki nggak bisa bohong, matanya menyisir setiap inci tubuhmu seolah-olah dia lagi menghafal koreografi paling sulit dalam hidupnya.
βBentar,β gumam Riki.
Dia berjalan menjauh darimu sebentar, langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai kayu. Dia menuju pintu masuk studio VIP, lalu KLIKβdia memutar kunci dari dalam dan mematikan panel lampu utama, menyisakan lampu mood remang-remang yang bikin suasana makin intim dan mencekam.
Riki balik lagi ke arahmu, sambil jalan dia ngelepas melonggarkan tali sampul celananya lalu menarik turun celananya, membiarkan miliknya yang sudah menegang sempurna terekspos. Dia bener-bener nggak main-main soal validasi, dia mau kamu ngeliat seberapa besar efek yang kamu kasih ke tubuhnya.
Dia narik kamu berdiri tepat di depan cermin besar yang tingginya sampai lantai ke langit-langit studio. Riki berdiri di belakangmu, nempelin tubuh panasnya yang berkeringat ke punggungmu yang dingin. Tangan besarnya merayap ke depan, meremas payudaramu dengan kasar sambil natep pantulan kalian berdua di cermin.
βLiat ke depan, Bitch. Liat gimana idol lo ini bakal bikin lo nggak bisa jalan besok pagi,β geram Riki. Dia nunduk, ngegigit bahumu kuat-kuat sampai kamu mendesah keras, sementara tangannya yang lain turun ke bawah, mulai bermain di area sensitifmu yang sudah sangat basah karena provokasi tadi. βGue mau denger suara lo lebih kencang dari teriakan fans gue di stadium. Bisa?β
Kamu mengangguk pelan, tatapanmu tidak lepas dari mata tajam Riki yang terpantul di cermin. Kamu bisa merasakan dominasi yang begitu kental keluar dari setiap pori-pori tubuhnya. Tanpa perlu kata-kata tambahan, Riki mencengkeram bahumu dan menekannya ke bawah, memaksamu berlutut tepat di antara kedua kakinya yang kokoh.
Di depan matamu, milik Riki sudah menegang sempurna, urat-uratnya menonjol menunjukkan betapa gila hasrat yang sedang dia tahan. Ujungnya sudah mengeluarkan precum yang berkilau di bawah lampu remang studio, memberikan pemandangan yang sangat menggoda sekaligus mengintimidasi.
βSuck my dick,β perintah Riki singkat, suaranya berat dan serak. βTunjukin ke gue sesetia apa fans fanatik gue ini bisa manjain milik idol kesayangannya.β
Kamu mulai membuka mulutmu, perlahan melingkari miliknya yang panas. Riki langsung melenguh panjang, kepalanya mendongak ke atas sebentar sebelum dia memaksa matanya tetap terbuka untuk menatap cermin di samping lalu menunduk. Dia ingin melihat setiap detail saat bibirmu menjajahnya.
Tangannya merayap ke rambutmu, menjambaknya dengan tarikan yang pas agar kamu tidak bisa berpaling. βLiat ke cermin, Bitch. Liat gimana mulut lo kerja buat gue,β geramnya.
Kamu menuruti perintahnya, menolehkan wajahmu sedikit ke arah cermin sambil terus memberikan service yang paling maksimal. Kamu menggunakan lidahmu untuk mempermainkan area sensitifnya, menghisapnya dengan tekanan yang membuat pinggul Riki tersentak maju secara instingtif.
Pemandangan di cermin itu benar-benar vulgarβseorang idol dunia yang dipuja jutaan orang, kini berdiri dengan kaki terbuka sementara seorang wanita berlutut di bawahnya, melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dibayangkan oleh media mana pun.
Riki benar-benar menikmati validasi ini. Melihat ekspresi wajahmu yang berantakan karena miliknya memberikan kepuasan ego yang jauh lebih besar daripada piala penghargaan mana pun.
βPinter banget nyepongnya... ngh... lo bener-bener tahu gimana caranya bikin gue gila,β bisik Riki sambil semakin menekan kepalamu masuk lebih dalam.
Napasnya makin memburu, keringat di tubuhnya mulai menetes mengenai bahumu yang bugil. Dia sudah hampir mencapai batasnya. Riki tiba-tiba menarikmu bangun, tidak membiarkanmu menyelesaikan tugasmu dengan mulut.
Dia membalikkan tubuhmu dengan kasar menghadap cermin, memaksamu membungkuk hingga bokongmu menempel pada miliknya yang sudah sangat siap untuk menghantam.
βCukup service-nya. Sekarang waktunya gue yang kasih βpenampilanβ yang nggak bakal bisa lo lupain seumur hidup,β bisik Riki tepat di telingamu sebelum dia bersiap melakukan penetrasi brutal yang sudah dia janjikan.
Riki tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan satu sentakan kuat yang terukur, dia menghujamkan miliknya ke dalam dirimu dari belakang. Penetrasi itu begitu dalam hingga kamu merasakan rahimmu seolah terhantam, memaksamu membusungkan dada dan mencengkeram tepian meja kaca di depan cermin.
βLiat... liat gimana tubuh lo nerima gue, Sayang,β geram Riki, suaranya pecah menjadi bisikan parau yang penuh kemenangan.
Dia mulai bergerak dengan tempo yang sangat cepat, mengikuti ritme dance yang sudah mendarah daging dalam ototnya. Setiap hantaman Riki presisi, bertenaga, dan tanpa ampun. Suara vulgar dari kulit yang beradu dan basahnya penyatuan kalian menggema di seluruh penjuru studio yang luas itu, memantul di dinding kedap suara. Suaramu, desahanmu yang melengking tinggi, terdengar jauh lebih merdu dan nyata bagi Riki daripada musik ambient yang berputar lembut di speaker studio.
Riki menjambak rambutmu ke belakang, memaksa kepalamu mendongak hingga leher jenjangmu terekspos sepenuhnya di bawah lampu remang. Matanya berkilat puas melihat payudaramu memantul indah mengikuti setiap sodokannya.
Dari belakang, tangan besarnya merayap maju, meremas dadamu dengan kekuatan yang tidak main-main hingga meninggalkan bekas jari kemerahan yang mencolok di kulit putihmu. Sementara itu, tangannya yang lain turun ke bawah, bermain dengan sangat ahli di klitorismu, memberikan stimulasi ganda yang membuat seluruh sarafmu berteriak.
Kamu mencapai orgasme pertama dalam hitungan menit. Tubuhmu gemetar hebat, dinding rahimmu menjepit milik Riki dengan sangat ketat hingga sang idol itu sendiri mengerang frustrasi.
βBaru segini udah keluar? Gue belum selesai!β
Riki membalik mendudukkan tubuhmu dengan kasar saat kamu masih lemas karena orgasme. Dalam satu gerakan akrobatik yang ekstrem, dia mengangkat kedua kakimu ke atas bahunya, membuat tubuhmu menempel sepenuhnya pada dinding kaca studio. Badanmu seperti terlipat.
Posisi ini sangat menyiksa sekaligus nikmat, Riki bisa menghujamkan dirinya jauh lebih dalam. Dia menyodokmu habis-habisan sambil menciummu dengan brutal, menyesap lidahmu seolah ingin menghisap seluruh nyawamu.
Kalian berdua mencapai puncak bersamaan tepat di depan cermin besar itu. Riki mengerang keras saat dia melepaskan seluruh gairahnya jauh di dalam dirimu, membiarkan tubuhnya ambruk di atasmu dengan napas yang memburu hebat. Keringatnya menetes membasahi dadamu, menyatukan aroma kalian berdua.
Namun, saat Riki mulai bergerak untuk ronde keduaβterlihat dari miliknya yang kembali mengeras dengan cepat karena stamina remajanyaβkamu menahan dadanya.
Dengan napas yang masih tersengal, kamu menunjuk ke arah sudut atas ruangan, ke arah kamera CCTV yang lampunya berkedip merah terang, merekam setiap detik adegan gila kalian.
Riki menoleh sebentar, lalu kembali menatapmu dengan seringai arogan yang tidak goyah sedikit pun. Tatapannya terlihat sangat tenang, seolah rekaman itu bukanlah ancaman bagi karirnya yang bernilai jutaan dolar.
βCCTV itu?β Riki terkekeh, suaranya terdengar sangat meremehkan. Dia mengelus pipimu dengan jemarinya yang kasar. βGue punya akses penuh ke ruang server lantai ini. Setelah gue puas sama lo, gue bakal hapus semuanya tanpa sisa. Atau... gue simpen satu salinan buat gue tonton sendiri tiap malem kalau lo nggak ada di sini.β
Dia mencium lehermu lagi, memberikan gigitan kecil yang menandakan dia tidak akan membiarkanmu pergi sebelum fajar menyapa.
βSekarang, jangan mikirin kamera itu. Fokus ke gue... karena konser privat ini baru aja dimulai, Fan-girl.β
Riki sama sekali nggak peduli sama peringatanmu soal CCTV. Baginya, kamera itu cuma saksi bisu dari kehebatannya malam ini. Begitu pelepasan pertama selesai, bukannya melemas, Riki justru makin beringas. Stamina remajanya yang gila bener-bener di luar nalar.
βRonde dua, Bitch. Gue belum puas denger suara lo,β geram Riki.
Dia menarik tubuhmu membuka pahamu lebah lebah mengangkanginya di lantai kayu studio yang dingin dan keras. Tanpa membiarkanmu menghirup oksigen dengan benar, Riki langsung menyerangmu lagi. Kali ini lebih kasar, lebih menuntut, dan tanpa ritme yang beraturan. Dia seolah ingin menguras setiap tetes tenagamu.
Kamu mencoba mengimbangi, tapi tubuhmu yang sudah digempur habis-habisan oleh enam target sebelumnya akhirnya menyerah. Pandanganmu mulai kabur, suara napas Riki di telingamu terdengar menjauh, dan dunia rasanya berputar. Di tengah hantaman Riki yang semakin dalam dan cepat di lantai studio itu, kesadaranmu perlahan hilang. Kamu pingsan, terkulai lemas di bawah kungkungan tubuh atletisnya.
Bukannya panik melihatmu tak sadarkan diri, Riki justru makin obses. Melihatmu yang pasrah sepenuhnya, lunglai, dan hanya bisa menerima setiap sodokannya tanpa perlawanan, justru menyulut sisi gelap di dalam dirinya.
Dia terus melanjutkan βpertunjukannyaβ pada tubuhmu yang pingsan, menciumi bibirmu yang sedikit terbuka, dan membisikkan kata-kata posesif seolah kamu adalah boneka koleksi pribadinya.
βGue nggak bakal lepasin lo... mau lo pingsan atau mati sekalipun, lo tetep milik gue malam ini,β bisik Riki sambil terus memacu staminanya yang seolah nggak ada habisnya hingga fajar menyingsing.
-ΛΛβββββ
Saat sinar matahari pertama menyentuh kaca studio, aplikasi OBSESSION menarikmu kembali secara paksa. Kamu terbangun di tempat tidurmu sendiri dengan rasa sakit yang luar biasa di seluruh persendianmu. Punggungmu memar karena lantai kayu, dan lehermu penuh jejak Riki.
Sementara itu, di studio...
Riki terbangun dengan tubuh polos di tengah ruangan yang sunyi. Dia menoleh ke samping, mencari sosok yang semalam dia gempur habis-habisan sampai pingsan, tapi dia hanya menemukan lantai kayu yang kosong dan bercak keringat yang sudah mengering. Kamu hilang.
Dengan amarah yang meluap dan rasa penasaran yang menyiksa, Riki lari ke ruang kontrol CCTV. Jarinya gemetar hebat saat memutar rekaman semalam pukul 03.00 pagi.
Mata Riki membelalak. Di layar monitor, dia melihat dirinya sendiri di atas lantai studio, bergerak dengan sangat liar dan penuh gairah... tapi dia sendirian. Di rekaman itu, Riki terlihat seperti orang gila yang sedang menyetubuhi udara kosong, menciumi bayangan, dan mengerang menyebut nama yang bahkan audionya pun tersensor oleh aplikasi.
βNggak mungkin... gue ngerasain dia! Gue ngerasain kulitnya!β teriak Riki sambil memukul meja kontrol.
Memory Fog menghapus detail wajahmu dari ingatannya, tapi bekas goresan kuku yang panjang dan perih di punggungnya adalah bukti nyata kalau kamu bukan sekadar halusinasi.
Riki terduduk lemas di kursi, matanya menatap tajam ke arah layar yang menunjukkan dirinya βsendirianβ itu. Kekosongan di hatinya kini berubah menjadi obsesi yang sangat berbahaya.
Sang idol dunia itu kini punya satu tujuan baru: Menemukan βhantuβ yang sudah membuatnya terlihat gila di depan kamera CCTV-nya sendiri.
-ΛΛβββββ
Layar ponselmu yang retak karena cengkramanmu yang terlalu kuat akibat Sunghoon tempo hari tiba-tiba menyala dengan pendar cahaya ungu gelap yang menyakitkan mata. Getaran frekuensi tinggi merambat dari telapak tanganmu hingga ke sumsum tulang, menandakan akhir dari sebuah siklus yang neraka sekaligus memabukkan.
[MISSION COMPLETED: NIGHT 07 - THE FINAL VALIDATION]
Target: Nishimura Riki β FULLY POSSESSED.
Status: Idol dunia itu kini hanya melihat bayanganmu di setiap sudut panggungnya.
[SYSTEM ANNOUNCEMENT: CYCLE 01 CONCLUDED]
βSelamat. Kamu telah berhasil menjinakkan tujuh predator dalam satu minggu tanpa kehilangan kewarasanmu sepenuhnya. Kamu telah meninggalkan jejak permanen di ingatan, tubuh, dan jiwa mereka.β
Kamu menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhmu yang remuk di atas kasur. Rasanya seperti baru saja selamat dari kecelakaan beruntun. Bekas cekikan Sunoo di lehermu masih berdenyut, rasa nyeri di pinggul akibat kebrutalan Sunghoon belum hilang, dan rasa lemas setelah menghadapi stamina gila Riki membuatmu ingin tidur selama setahun.
Tiba-tiba, layar ponselmu menggelap, lalu muncul bilah progres yang bergerak lambat:
[UPDATING APPLICATION... 15%... 45%... 100%]
[VERSION 2.0: REALITY CONVERGENCE]
Kamu sempat mengira ini adalah akhir. Kamu pikir setelah tujuh malam yang gila ini, aplikasi OBSESSION akan melepaskanmu dan membiarkanmu kembali ke hidupmu yang membosankan. Namun, sebuah notifikasi pop-up dengan desain yang jauh lebih eleganβdan lebih menyeramkanβmuncul tepat di depan matamu.
THE EPILOGUE? NO, THE PROLOGUE.
Jangan tertipu dengan kata βselesaiβ. Minggu pertama hanyalah tahap inkubasi. Selama tujuh malam kemarin, aplikasi sengaja membawamu ke lokasi mereka secara tiba-tiba, menggunakan memory fog untuk melindungimu, dan memberimu keuntungan elemen kejutan. Itu adalah simulasi... dan sekarang adalah realita.
[RULES OF VERSION 2.0]
No More Teleportation: Kamu tidak akan lagi βditarikβ secara paksa ke lokasi mereka.
Real World Encounters: Kamu akan bertemu dengan ketujuh target tersebut di kehidupan nyatamuβdi kantor, di jalan, di kafe, atau bahkan di depan pintu apartemenmu.
The Scent of Memory: Walau wajahmu samar di ingatan mereka, tubuh mereka tidak bisa dibohongi. Insting mereka akan menuntun mereka kepadamu melalui aroma, suara, dan βrasaβ yang telah kamu tanamkan.
The Collision: Jika dua atau lebih target bertemu di tempat yang sama saat mencarimu, aplikasi tidak lagi menjamin keselamatanmu.
-ΛΛβββββ
Pagi ini, saat kamu melangkah keluar dari apartemen untuk berangkat kerja, atmosfer kota terasa berbeda. Tidak ada lagi perlindungan sistem yang membuatmu βtak terlihatβ. Kamu merasa diawasi oleh ribuan mata.
Di lobi kantor PR tempatmu bekerja, suasana sangat kacau. Tim keamanan terlihat bersiaga penuh karena ada tamu-tamu VIP yang datang secara mendadak tanpa janji temu. Kamu mencoba menyelinap lewat pintu belakang, namun langkahmu terhenti saat melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terparkir tepat di depan pintu masuk.
Seorang pria keluar dari mobil itu. Kacamata hitamnya menutupi mata yang tajam, tapi aura dinginnya langsung menusuk kulitmu. Park Sunghoon. Dia berdiri di sana, mengendus udara seolah-olah dia sedang melacak mangsa yang hilang.
Belum sempat kamu bersembunyi, sebuah notifikasi baru muncul di HP-mu, kali ini dengan peta real-time yang menunjukkan tujuh titik merah yang semuanya bergerak menuju koordinatmu sekarang.
[CURRENT MISSION: THE FIRST ENCOUNTER]
βTarget: Heeseung, Jay, Jake, Sunghoon, Sunoo, Jungwon, Riki.β
βObjektif: Temui salah satu dari mereka di dunia nyata. Hadapi obsesi yang telah kamu buat. Jangan biarkan mereka tahu bahwa kamu adalah βhantuβ semalam... kecuali jika kamu ingin mereka mengurungmu selamanya.β
ββSasaeng Special Service - Nishimura Rikiβ
To Be Continued
ngerinya oi, takut gue sama rikiπππ»
tapi mantep wkwkwkwk
hope you guys enjoy
Love You All, My Michies π











Kak kapan lajut
PILIHHH JUNGWON KAA