JANGAN LUPA LIKE
Bulan demi bulan berlalu usai kelulusanmu dari jurusan Ilmu Komputer. Kehidupan pernikahanmu dengan Jungwon di rumah dua lantai mereka tetap terasa hangat dan penuh perhatian, tetapi ada satu beban tak kasatmata yang perlahan mulai menumpuk di pundakmu.
Mencari pekerjaan pertamamu di dunia tech ternyata tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Di tengah persaingan pasar kerja yang ketat, puluhan lamaran pekerjaan sebagai Software Engineer maupun Data Analyst yang kamu kirimkan berulang kali berujung pada email penolakan otomatis, atau bahkan tidak direspons sama sekali.
Ditambah lagi dengan harapan implisit yang mengendap di dalam hatimu usai obrolan hangat kalian beberapa waktu lalu—tentang keinginan Jungwon untuk memiliki buah hati. Setiap kali siklus menstruasimu datang di awal bulan, ada rasa kecewa dan kecemasan mendalam yang menghantammu.
“Apa karena aku stress? Atau... apa jangan-jangan aku mandul?”
Pikiran buruk (overthinking) itu sering kali muncul tanpa diundang, membuat jam tidurmu berantakan dan pola makanmu menjadi sangat tidak teratur. Kamu sering mendapati dirimu tersentap bangun di tengah malam hanya untuk memeriksa email, atau lupa makan siang karena terlalu panik memperbaiki portofolio kodinganmu.
Namun, di tengah segala badai kecemasan yang melanda dirimu, Yang Jungwon membuktikan ucapannya secara nyata. Jungwon tidak pernah sekalipun menyalahkanmu. Pria berusia 20 tahun yang kini menginjak semester 5 di jurusan Ilmu Keolahragaan itu benar-benar menjelma menjadi sosok suami siaga yang luput dari prasangka buruk.
Pagi itu, kamu terbangun dengan kepala yang berat usai begadang hingga jam tiga pagi demi menyelesaikan tes teknis dari salah satu perusahaan startup. Kamu berjalan gontai menuju dapur dengan gaun tidur yang agak kedodoran, berniat menyeduh kopi hitam pekat untuk menahan kantuk.
Namun, sebelum jemarimu menyentuh cangkir, sebuah tangan kekar yang hangat merebut kaleng kopi dari genggamanmu.
“Ga ada kopi hitam buat perut kosong di pagi hari, Kak (Y/N),” tegur sebuah suara bass yang sangat familiar.
Kamu mendongak, menemukan Jungwon berdiri tegap di depan meja bar. Suamimu sudah rapi mengenakan kaus dry-fit olahraga berwarna abu-abu dan celana training, lengkap dengan handuk kecil di lehernya. Ia baru saja selesai melakukan jogging pagi di sekitar kompleks.
“Won... aku butuh kopi, kepalaku pusing banget mau lanjut ngerjain tes,” rintihmu pelan sambil mencoba meraih kaleng kopi itu kembali.
Jungwon menggelengkan kepalanya pelan. Ia meletakkan kaleng kopi itu jauh dari jangkauanmu, lalu memutar tubuhmu anggun dan mendudukkanmu di atas kursi bar dapur. “Kopi hitamnya diganti ini dulu,” kata Jungwon lembut. Ia menyodorkan segelas jus alpukat campur kurma yang baru saja ia buat dengan blender, lengkap dengan se piring sarapan berisi telur dadar isi bayam, alpukat potong, dan dada ayam panggang.
Kamu menatap piring makanan sehat itu dengan raut wajah lesu. “Won, aku ga selera makan. Masih kepikiran tes teknis semalam yang belum kelar...”
Jungwon menghela napas pendek. Ia menarik kursi di sebelahmu dan duduk mendekat. Jemari tangannya yang hangat menangkap jemarimu yang agak dingin, mengusap punggung tanganmu dengan kelembutan yang menenangkan.
“Makanannya dihabisin dulu, Sayang. Gimana otak kamu mau jalan buat koding kalau perutmu kosong dari kemarin malam?” bujuk Jungwon dengan tatapan mata elangnya yang pekat namun teduh. “Kamu udah dua minggu ini makan cuma sekali sehari, tidur ga pernah lebih dari empat jam. Badan kamu makin kurus, Kak.”
“Tapi aku takut tes ini gagal lagi, Won...” bisikmu parau, matamu mendadak berkaca-kaca. Semua tekanan berbulan-bulan ini seolah mau pecah seketika. “Teman-teman seangkatanku udah pada dapet kerja. Terus... terus bulan ini aku mens lagi. Aku takut aku ga bisa kasih kamu anak, aku takut kalau ternyata aku...”
“Ssshh...”
Sebelum kalimat buruk itu terucap dari bibirmu, Jungwon sudah memotongnya dengan mendekatkan ibu jarinya ke bibirmu. Ia meletakkan tangannya di belakang lehermu, menarik kepalamu perlahan hingga dahi kalian saling menempel.
“Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi,” bisik Jungwon dengan nada tegas namun teramat lembut. “Ga ada yang mandul, ga ada yang salah sama tubuh kamu. Kamu cuma lagi stress berat, Kak. Hormon kamu berantakan karena pola tidur sama pola makan kamu yang kacau.”
“Tapi kamu kan pengen banget...”
“Aku pengen punya anak sama kamu, iya. Tapi kesehatan kamu jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini,” potong Jungwon, menatap lurus ke dalam matamu yang berair. “Aku ga peduli kalau kita harus nunggu setahun, dua tahun, atau lima tahun lagi. Yang aku mau itu kamu sehat dulu. Jangan siksa diri kamu sendiri kayak gini.”
Kata-kata tulus dari suamimu membuat benteng pertahananmu runtuh. Air matamu menetes hangat di pipi, dan Jungwon dengan cepat menghapusnya menggunakan ibu jarinya, lalu membawamu ke dalam pelukan hangat di dadanya yang tegap.
Sebagai mahasiswa Ilmu Keolahragaan, Jungwon paham betul bagaimana stres dan gaya hidup buruk bisa merusak keseimbangan hormon serta kesehatan reproduksi. Maka dari itu, Jungwon secara bertahap mengambil alih kendali atas pola hidupmu dengan caranya yang manis namun disiplin.
Setiap pagi, Jungwon bakal memaksamu bangun pukul enam pagi—bukan untuk menyuruhmu koding, melainkan menggeledahmu keluar rumah untuk jogging santai atau sekadar jalan kaki menghirup udara segar selama 30 menit.
“Ayo, Kak! Lima menit lagi sampai taman!” seru Jungwon sambil berlari kecil di sebelahmu.
“Won... capek, napasku mau habis...” keluhmu sambil memegangi lutut di tepi jalan taman kompleks.
Jungwon berhenti berlari. Ia tertawa kecil, memamerkan lesung pipit dalamnya yang memikat, lalu berjalan mendekatimu. Tanpa rasa malu di depan orang-orang yang sedang berolahraga pagi, Jungwon berlutut di depanmu dan membersihkan keringat di keningmu memakai handuk kecilnya.
“Pinter banget istriku... hari ini dapet dua kilometer,” puji Jungwon manis, lalu memberikan kecupan singkat di pipimu yang memerah karena lelah. “Nanti malam tidur jam sepuluh ya? Ga ada lagi begadan-begadang depan laptop lewat tengah malam. Kodingannya dilanjutin besok pagi pas otak masih segar.”
Selain mengajakmu berolahraga ringan, Jungwon juga rutin menyusun menu makanan kaya nutrisi untukmu. Setiap akhir pekan, dia yang membelanjakan bahan makanan segar ke supermarket—membeli sayuran hijau, kacang-kacangan, ikan salmon, buah-buahan, hingga vitamin nutrisi khusus wanita.
Jungwon memasakkan makan siang dan makan malam untukmu di sela-sela jadwal kuliahnya yang padat. Kamu sering kali merasa terharu mendapati meja makan sudah terisi makanan hangat dan surat kecil dari Jungwon saat kamu selesai melakukan sesi wawancara kerja online.
“Semangat interview-nya hari ini, Istriku yang paling pinter. Makanan sehatnya dihabisin ya, nanti sore aku pulang kuliah kita jalan-jalan cari es krim. I love you! – Suamimu, Jungwon.”
Perubahan gaya hidup yang diterapkan Jungwon secara konsisten selama dua bulan terakhir perlahan membuahkan hasil. Wajahmu yang tadinya pucat dan kusam kini kembali berseri-seri. Pipimu sedikit lebih berisi, dan kualitas tidurmu jauh lebih membaik. Kamu tidak lagi merasa tertekan setiap kali membuka email lamaran kerja—kamu mulai belajar untuk menikmati prosesnya.
Suatu malam, hujan deras mengguyur luar rumah. Suasana kamar utama terasa dingin dan tenang. Kamu dan Jungwon berbaring miring saling berhadapan di atas kasur yang empuk, terbungkus selimut tebal yang hangat. Jungwon merengkuh tubuhmu rapat-rapat, membiarkan kepalamu bersandar nyaman di atas lengan berototnya.
Tangannya yang hangat merayap di bawah selimut, mengusap lembut perut ratamu dengan pola melingkar yang menenangkan—sebuah kebiasaan manis yang tak pernah Jungwon lewatkan sebelum tidur.
“Makasih ya, Won...” bisikmu lirih di kegelapan kamar.
Jungwon mendongak sedikit, menatapmu. “Makasih buat apa, Sayang?”
“Buat semuanya. Buat ga pernah nyalahin aku, buat sabar ngadapi overthinking-ku, buat jus buah tiap pagi, buat masak makanan sehat...” kamu menatap mata pekat suamimu dengan penuh rasa cinta yang mendalam. “Aku ngerasa beruntung banget punya kamu.”
Jungwon tersenyum sangat manis. Ia memajukan wajahnya, memberikan kecupan lembut di keningmu, kedua matamu, lalu berakhir di atas bibirmu dalam ciuman hangat yang lambat dan dalam.
“Tugas aku kan emang jagain kamu, Kak,” bisik Jungwon parau usai melepaskan pagutan bibirnya. “Aku ga pernah merasa beban sedikit pun. Aku justru seneng banget bisa ngerawat kamu kayak gini.”
Jemari Jungwon mengusap pipimu yang halus dengan rasa sayang yang melimpah. “Soal kerjaan, aku yakin bentar lagi kamu dapet yang terbaik. Dan soal anak...” Jungwon menggantungkan kalimatnya, menatap perutmu yang sedang diusapnya. “...dia bakal datang di waktu yang paling tepat, pas ibunya udah benar-benar bahagia, sehat, dan ga stress lagi. Kita berjuang bareng-bareng ya?”
Kamu mengangguk mantap, menyandarkan kepalamu kembali di dada bidang Jungwon yang hangat. Di dalam pelukan suami siagamu ini, segala rasa takut, cemas, dan ketidakpastian tentang masa depan seolah menguap tanpa sisa. Kamu tahu, sejauh apa pun perjuangan yang harus kamu tempuh di luar sana, kamu akan selalu punya tempat pulang yang paling aman dan penuh cinta, rumah itu adalah Yang Jungwon.
💋
Satu tahun berlalu dengan cepat, membawa banyak perubahan dalam dinamika rumah tangga kalian. Kini, giliran Yang Jungwon yang berada di puncak masa-masa paling krusial sekaligus melelahkan dalam kehidupan akademisnya. semester 7 jurusan Ilmu Keolahragaan, bergelut dengan tumpukan draf skripsi yang seolah tak ada habisnya.
Peran kalian kini sepenuhnya berbalik. Jika setahun lalu Jungwon yang menjelma menjadi sosok suami siaga saat kamu berdarah-darah menyelesaikan skripsi Ilmu Komputer, kini giliran kamu yang mengambil alih peran sebagai pengayom utama di rumah.
Namun, mengurus anak keolahragaan berusia 21 tahun yang sedang stres skripsi ternyata jauh lebih menguras emosi daripada yang kamu bayangkan. Jungwon yang biasanya tenang, penuh percaya diri, dominan di kasur, dan selalu memasang badan sebagai pelindungmu, perlahan menunjukkan sisi terrapuhnya. Beban revisi dari dosen pembimbing, metodologi penelitian lapangan yang rumit, serta analisis data statistik keolahragaan yang memusingkan membuat suamimu berubah menjadi sangat sensitif, mudah cemas, dan berlipat-lipat lebih manja.
Malam itu hujan gerimis mengguyur kompleks. Di dalam kamar kerja, lampu meja menerangi tumpukan jurnal sports science, buku metodologi latihan fisik, dan layar laptop Jungwon yang menampilkan draf Bab III yang sudah direvisi lima kali tapi masih saja ditolak oleh dosen pembimbingnya.
Jungwon duduk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menutup wajahnya rapat-rapt dengan kedua telapak tangannya. Pundaknya yang lebar dan tegap itu terlihat bergetar halus. Kamu yang baru selesai merapikan dapur berjalan mendekat membawa secangkir teh chamomile hangat. Langkah kakimu terhenti saat mendengar suara isakan pelan dan parau dari balik jemari suamimu.
“Sayang...?” panggilmu lembut, meletakkan cangkir di meja lalu segera berlutut di sebelah kursinya.
Jungwon menurunkan tangannya. Matanya yang pekat tampak sembap dan memerah, hidungnya memerah, dan air mata menetes basah menyusuri pipinya. Wajah tampan yang biasanya memamerkan lesung pipit penuh percaya diri itu kini terlihat sangat berantakan dan putus asa.
“Aku capekk, Kak...” tangis Jungwon pecah seketika.
Pria berusia 21 tahun itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke depan, menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahumu, merengkuh pinggangmu erat-erat seperti anak kecil yang sedang ketakutan. Suara tangisnya yang teredam di ceruk lehermu terasa membakar hatimu.
“Dosennya nolak lagi... katanya metodologi aku ga valid,” rintih Jungwon sesenggukan, napasnya berantakan. “Aku udah capek-capek tes fisik ke atlet, ngukur data panas-panas di lapangan... tapi dianggap salah semua. Aku mau menyerah aja, Kak... aku ga bisa...”
“Sshh... enggak, enggak boleh ngomong gitu,” bisikmu menenangkan. Kamu mengusap lembut punggung lebar Jungwon yang bergetar, menyusupkan jemarimu ke rambut hitamnya yang agak berantakan, mengecup pelipisnya berulang kali. “Kamu udah berusaha hebat banget, Sayang. Jangan menyerah ya?”
Namun, menangani Jungwon yang sedang defensif bukan hal yang mudah. Karena perbedaan jurusan—kamu dari Ilmu Komputer dan dia dari Ilmu Keolahragaan—Jungwon kerap kali merasa frustrasi dan tidak yakin saat kamu berusaha membantunya.
“Sini, coba aku liat drafnya,” bujukmu pelan setelah tangisnya agak mereda. Kamu duduk di kursi sebelah Jungwon, meneliti bagian sitasi dan daftar pustaka yang berantakan.
Dengan keahlianmu menggunakan aplikasi reference manager seperti Zotero dan teknik paraprase kalimat yang sistematis, kamu mulai merapikan susunan kalimat di Bab III agar terlihat lebih akademis dan mudah dipahami. Kamu juga membenarkan format Zotero-nya yang sempat memicu kemarahan dosennya.
“Coba kalimat yang ini diubah begini, Won... biar alur berpikirnya masuk,” tunjukmu di layar.
Namun, bukannya lega, Jungwon yang sedang berada di puncak ketidakpercayaan dirinya justru merengut dan bersikap defensif.
“Ga gitu maksudnya, Kak!” cetus Jungwon dengan suara agak tinggi, meraih tetikus secara kasar. “Itu istilah biomekanika sama cardiovascular response! Kalau diganti kata-kata kamu, maknanya jadi beda! Kamu kan anak IT, ga paham teori olahraga!”
Kalimatnya yang agak tajam sempat membuat dadamu berdesir nyeri. Tapi kamu menahan diri. Kamu tahu betul bahwa ini bukan Jungwon yang sebenarnya—ini hanyalah ego pria muda yang sedang terluka dan kelelahan setengah mati karena tekanan akademis, persis seperti dirimu setahun lalu. Alih-alih marah, kamu menghela napas panjang, lalu meraih kedua pipi Jungwon dengan kedua tanganmu. Kamu memaksa wajah tampannya yang muram untuk menatap lurus ke matamu.
“Yang Jungwon,” panggilmu tegas namun penuh kelembutan. “Aku tau aku bukan anak keolahragaan. Tapi aku ini istri kamu, dan aku lulusan S.Kom yang paham cara menyusun karya ilmiah yang rapi. Aku ga bakal ngerusak substansi penelitian kamu. Aku di sini cuma mau meringankan beban kamu, paham?”
Jungwon terpaku menatap matamu. Tatapan tegasmu yang penuh kasih sayang perlahan melunturkan sikap defensifnya. Matanya kembali berkaca-kaca karena rasa bersalah.
“Maaf...” lirih Jungwon pelan, menundukkan kepalanya. “Maafin aku udah bentak kamu... Aku cuma frustrasi banget sama diri aku sendiri, Kak...”
“Iya, aku paham,” bisikmu manis, mengecup bibir bawahnya yang merengut. “Sekarang, biarkan aku rapihin format Zotero sama paraprasenya dulu. Nanti kamu tinggal periksa lagi substansinya, oke?”
Jungwon mengangguk pasrah. Ia tidak bergeser sedikit pun, ia malah menarik kursinya makin dekat, menempelkan pipinya di bahumu saat kamu mengetik di laptopnya, membiarkan dirinya dimanja di tengah rasa lelahnya.
💋
Dua minggu berselang, di sela-sela kesibukanmu mengurus rumah, menyiapkan makanan sehat untuk Jungwon, dan membantunya merapikan rujukan skripsi, sebuah kabar yang kamu tunggu-tunggu selama setahun akhirnya tiba.
Ponselmu berdering saat kamu sedang menyeduh teh di dapur. Sebuah email resmi masuk ke kotak masukmu dari salah satu perusahaan elektronik multinasional terkemuka:
“Panggilan Wawancara Kerja (Interview) - Posisi Software Development Associate.”
Matamu membelalak tak percaya. Setelah puluhan penolakan dan penantian panjang penuh kecemasan, panggilan wawancara dari perusahaan impianmu akhirnya berada di genggaman.
“JUNGWON!” jeritmu kaget bercampur bahagia, berlari menuju kamar kerja sambil memegang ponsel. Jungwon yang sedang lunglai di depan laptopnya kaget setengah mati. Begitu kamu menyorotkan layar ponselmu ke depan wajahnya dan menjelaskan beritanya, raut wajah lesu Jungwon langsung berubah terang seketika.
“Beneran, Kak?! Kamu dipanggil interview?!” seru Jungwon senang.
Tanpa memedulikan rasa pegal di tubuhnya, Jungwon langsung berdiri dan memeluk tubuhmu erat-erat, mengangkatmu sedikit lalu memutarmu di udara—persis seperti yang ia lakukan saat kamu lulus sidang skripsi dulu.
“SELAMAT, SAYANG! Aku tahu kamu pasti bisa! Kamu pinter banget!” puji Jungwon penuh rasa bangga, menangkup wajahmu dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahmu.
Kamu tertawa haru di dalam pelukannya, merasa segala penantian dan kesabaranmu selama ini akhirnya terbayar tuntas. Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Begitu Jungwon menurunkan tubuhmu dan kembali duduk di tepi kasur, ekspresi wajahnya mendadak berubah keruh. Cengiran mewahnya perlahan pudar, digantikan oleh raut sedih dan lengkungan merengut di bibirnya.
“Won? Kenapa?” tanyamu bingung, ikut duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya.
Jungwon menunduk, meremas jemarimu pelan dengan raut wajah sangat manja dan lesu.
“Aku seneng banget kamu dapet panggil kerja, Kak... demi Tuhan aku bangga banget sama kamu,” gumam Jungwon dengan suara parau yang amat pelan. “Tapi... nanti waktu kamu buat aku bakal kepotong banyak...”
Kamu tersenyum tipis, memahami jalan pikiran suamimu yang sedang kelewat sensitif ini.
“Nanti kalau kamu udah kerja, kamu bakal sibuk di kantor dari pagi sampe sore...” lanjut Jungwon dengan mata kembali berkaca-kaca, menduselkan kepalanya di ceruk lehermu secara tiba-tiba. “Nanti ga ada yang meluk aku pas aku nangis stres skripsi... ga ada yang nemenin aku skripsian malam-malam... ga ada yang mijitin aku...”
Sifat clingy dan menggebu-gebu dari anak muda ini benar-benar keluar sepenuhnya. Jungwon melingkarkan kedua tangannya kencang-kencang di pinggangmu, seolah takut kamu bakal menghilang esok hari. kamu tertawa kecil melihat tingkah laku suamimu yang kelewat menggemaskan ini. Kamu mengusap lembut rambut hitamnya, memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya.
“Jungwon, dengarin aku ya,” bisikmu lembut di telinganya. “Kantornya masih di kota yang sama. Aku kerja cuma dari pagi sampai sore. Begitu jam kerja selesai, aku bakal langsung pulang ke rumah... langsung pulang ke suami akunya yang ganteng dan manja ini.”
“Beneran?” bisik Jungwon mendongak dari lehermu, menatapmu dengan mata sayu penuh kepasrahan.
“Beneran, Suamiku,” janji tulusmu. kamu memagut bibirnya dalam ciuman hangat yang penuh kelembutan, menyalurkan rasa kepastian dan cinta yang tak akan pernah goyah oleh kesibukan apa pun. “Kita jalani ini bareng-bareng. Kamu tuntaskan skripsimu, aku berjuang di wawancara kerjaku. Nanti pas kamu lulus dan aku udah kerja, kita merayakan semuanya sama-sama.”
Jungwon mengangguk pelan dalam pelukanmu, menyunggingkan senyum manis dengan lesung pipit dalamnya yang perlahan kembali. Di balik segala cobaan akademis, kelelahan, dan tangisan di kamar kerja, kamu tahu bahwa ikatan pernikahan yang kalian bangun dengan rasa saling mengerti dan pengorbanan ini akan selalu siap menghadapi babak baru kehidupan yang ada di depan mata.
to be continued





Sumpah ihhh deep bgt perjuangan mereka. Kerasa relate bgt di akuu yg skrg jd jobseeker pasca resign hokzzzzzzz😭😭😭😭😭
GEMESH BANGET POV NYAAA