7 Halo Dek
Laksamana Jay
Langkah kakimu terasa jauh lebih ringan menyusuri koridor sekolah, meskipun ada sensasi berdenyut yang samar di area bawah sana-pengingat konstan akan intensitas semalam. Efek dari kencan dengan Jay benar-benar dahsyat, kamu merasaseolah-olah seluruh duniamu telah bergeser porosnya. Kamu bukan lagi siswi SMA yang hanya memikirkan ujian, tapi seorang wanita yang telah diklaim dan dipuja oleh seorang pria dewasa yang kuat.
Saat jam istirahat, kamu duduk di kantin bersama Isa, sahabat karibmu. Isa menatapmu dengan dahi berkerut, mencoba membaca perubahan drastis pada auramu. Kamu yang biasanya tenang dan sedikit tertutup, kini terlihat lebih bercahaya, lebih aktif, dan memiliki kepercayaan diri yang berbeda.
“Kamu beneran habis kencan sama cowokmu itu?” tanya Isa sambil menyeruput minumannya. “Kamu kelihatan... beda banget hari ini, (y/n). Kayak ada energi yang baru keluar.”
Kamu hanya tersenyum tipis, merapikan kardigan pemberian Jay untuk memastikan hickey di lehermu tetap tersembunyi sempurna di balik rambut yang digerai. “Iya, Sa. Semalam kita jalan-jalan, dia baik banget.”
Kamu menjawab seadanya, menjaga kerahasiaan setiap jengkal “hukuman” yang kamu terima di hotel. Isa tidak bertanya lebih lanjut karena dia senang melihatmu lebih ceria dari biasanya, meski ia merasa ada sisi kedewasaan yang tiba-tibamuncul pada dirimu hanya dalam waktu satu malam.
[Di Markas Besar Angkatan Laut: Kabin Kontrol KRI]
Sementara itu, suasana di pelabuhan militer terasa begitu kontras. Laksamana Pertama Jay berdiri dengan gagah di podium upacara.
Seragam dinas upacaranya yang berwarna putih bersih tampak sangat pas membungkus tubuh atletisnya, dengan tanda pangkat bintang satu yang berkilat tertimpa sinar matahari laut.
Wajahnya yang tegas dan dingin memimpin pelepasan ratusan prajurit yang akan berlayar ke samudra.
Setelah upacara selesai dengan khidmat, Jay melangkah masuk ke dalam kabin kontrol kapal perang yang canggih. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi komando yang empuk, menghela napas panjang sembari menyesap kopi pahitnya. Suasanahatinya hari ini sangat cerah, sisa kepuasan semalam masih membekas jelas di benaknya.
Tak lama kemudian, pintu kabin terbuka. Ryujin, seorang asisten tentara wanita berpangkat Letnan yang memiliki paras tegas namun cantik, masuk membawa tumpukan laporan logistik. Ryujin sudah lama memendam kekaguman luar biasa padaJay. Baginya, Jay adalah sosok pemimpin yang sempurna dingin, tak tersentuh, dan sangat kompeten.
Meskipun Ryujin tahu bahwa dirinya tidak akan pernah digubris lebih dari sekadar bawahan, ia selalu berusaha berada di sisi Jay. Melihat raut wajah Jay yang tidak sedingin biasanya hari ini, jantung Ryujin berdegup lebih kencang. Ia merasakanaura kepuasan yang terpancar dari atasannya itu.
“Laporan kesiapan bahan bakar dan amunisi sudah siap di meja Anda, Laksamana,” ucap Ryujin dengan nada profesional namun tatapannya tak bisa lepas dari wajah Jay.
Jay hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. “Taruh saja di sana, Letnan.”
Ryujin tidak langsung pergi. Ia mencoba mendekat sedikit lebih dekat, memberanikan diri untuk membuka percakapan kecil. “Anda terlihat... sedang dalam suasana hati yang baik hari ini, Laksamana. Apakah ada berita bagus dari markaspusat?”
Jay hanya menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang misterius. Pikirannya melayang pada rekaman di ponselnya dan bagaimana kamu menangis memohon ampun di bawah kuncian lengannya semalam.
“Hanya urusan pribadi yang terselesaikan dengan baik, Ryujin,” jawab Jay singkat, suaranya dingin namun memiliki nada kemenangan.
Ryujin terpaku sejenak mendengar Jay menyebut namanya tanpa gelar pangkat-sesuatu yang jarang terjadi. Meski senang, ada rasa penasaran dan kecemburuan kecil yang menusuk hatinya. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapa atau apa yang bisamembuat pria sedingin Laksamana Jay terlihat begitu puas dan “hidup” seperti hari ini?
Suasana di dua tempat yang berbeda itu seolah terhubung oleh satu benang merah berasal dari dominasi Jay. Sementara kamu berjuang menahan gejolak rindu di sekolah, di atas kapal perang yang megah, sebuah ketegangan kecil mulaimemicu percikan yang berbeda.
Suasana kelas yang membosankan dan suara guru yang menerangkan rumus fisika di depan papan tulis terasa seperti suara latar yang jauh. Kamu duduk di bangku paling belakang, jari-jarimu tanpa sadar mengusap permukaan halus kardiganpemberian Jay.
“Pst, (y/n). Kamu bengong terus dari tadi,” bisik Isa, menyenggol lenganmu pelan.
Kamu tersentak, mencoba kembali fokus pada buku catatan. “Ah, masa sih? Aku cuma agak ngantuk, Sa.”
“Ngantuk atau kangen?” goda Isa sambil nyengir. “Dari tadi kamu megangin kardigan terus kayak lagi meluk orang.”
Kamu merona hebat. Benar kata Isa, setiap kali kulitmu bergesekan dengan kain kardigan ini, memori semalam langsung terputar otomatis.
Kamu teringat bagaimana Jay menjepit tubuhmu di kursi fantasi, bagaimana suaranya yang berat memintamu memohon ampun, dan bagaimana rasanya “diisi” hingga pingsan. Rasa rindu itu tiba-tiba datang seperti ombak, membuat bagianbawahmu berdenyut samar. Kamu merindukan aroma maskulinnya yang tajam dan sentuhan kasarnya yang membuatmu merasa berharga.
Di saat yang sama, Jay masih duduk di kursi komandonya, menatap radar navigasi dengan tatapan kosong yang dalam. Pikirannya tidak sedang di laut, pikirannya sedang berada di lehermu, membayangkan tanda merah yang ia tinggalkan di sana.
Ryujin, yang masih berdiri di samping meja Jay, merasa atmosfer di kabin itu sangat aneh. Ia melihat Jay yang biasanya kaku dan dingin, sesekali menyentuh bibirnya sendiri dengan ibu jari-sebuah gestur yang sangat intim.
“Laksamana,” panggil Ryujin lebih berani, ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya terpaut satu meter. “Kapal akan berangkat dalam satu jam. Apakah ada yang Anda butuhkan? Kopi tambahan... atau mungkin pijatan ringan untuk melepaspenat sebelum berlayar?”
Jay perlahan mengalihkan pandangannya pada Ryujin. Matanya yang tajam memindai asistennya itu dari atas ke bawah. Ryujin adalah tentara yang cantik, tangguh, dan sangat patuh. Namun, di mata Jay, Ryujin hanyalah seorang bawahan. Tidakada getaran yang sama seperti saat ia melihatmu yang mungil dan polos dalam seragam SMA.
“Pijatan?” Jay bertanya dengan nada datar yang membuat Ryujin merinding.
“I-iya, Laksamana. Saya lihat Anda terlihat... lelah namun tegang,” Ryujin mencoba memberikan senyum terbaiknya, tangannya hampir menyentuh bahu Jay yang terbungkus seragam perwira tinggi.
Jay tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Ryujin dengan cepat. Cengkeramannya kuat, mengingatkan pada cara ia memborgolmu semalam. Ryujin tersentak, wajahnya memerah karena kaget sekaligus senang karena akhirnya disentuh olehsang Laksamana.
“Letnan Ryujin,” bisik Jay, suaranya dingin dan mengintimidasi. “Jangan pernah mencoba masuk ke ruang pribadiku lebih dari yang aku izinkan. Paham?”
“P-paham, Laksamana! Maafkan kelancangan saya!” Ryujin segera menarik tangannya, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang bercampur dengan rasa kagum yang semakin dalam. Ketegasan Jay justru membuatnya semakin tergila-gila.
Jay kembali berpaling ke layar radarnya. Ia merogoh saku seragamnya, menyentuh ponsel yang berisi rekamanmu semalam. Baginya, Ryujin hanyalah gangguan kecil. Fokusnya adalah segera menyelesaikan misi ini agar ia bisa kembalimenemuimu-mangsa kecilnya yang sedang menunggunya di gerbang sekolah.
Ryujin menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kacau balau setelah kontak fisik singkat namun mengintimidasi dari Jay. Ia memberikan hormat militer yang kaku, tumit sepatunya beradu di lantai besi kabin, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dengan raut wajah yang berusaha tetap tegar di depan rekan-rekan perwira TNI lainnya yang sedang sibuk memantau radar navigasi. Di luar kabin, Ryujin hanya bisa menyandarkan punggungnyadi dinding lorong kapal, meremas jemarinya sendiri yang baru saja dicengkeram Jay-merasakan sisa otoritas pria itu yang seolah membekas di kulitnya.
Namun, Laksamana Pertama Jay tidak ikut berlayar hari ini. Setelah memastikan upacara pelepasan selesai dan kapal mulai menjauh dari dermaga, ia menuruni tangga kapal dengan langkah tegap, jubah kebesarannya berkibar pelan tertiupangin laut yang asin. Ia memiliki agenda yang lebih krusial di markas besar: Rapat Koordinasi Strategis pukul 13.00 WIB.
[Pukul 13.15 WIB di Ruang Rapat Markas Besar AL]
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara proyektor yang menampilkan peta kedaulatan laut dan suara berat seorang kolonel yang sedang memaparkan laporan intelijen. Jay duduk di kursi utama, tangan kanannya menopang dagu, sementaratangan kirinya berada di bawah meja, menggenggam ponsel dinasnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar pelan. Sebuah notifikasi muncul dari kontak yang ia beri nama “Adek Kecil”.
Di sekolah, kamu yang sedang bosan di jam pelajaran terakhir nekat membuka ponsel di bawah kolong meja. Rasa rindu yang memuncak membuat jarimu mengetik sesuatu yang sangat berani sesuatu yang seharusnya tidak dibaca oleh seorangLaksamana di tengah rapat militer.
(y/n): “Bang Jay... di sini dingin. Aku kangen tangan Abang yang kasar pas cekik leher aku semalam. Inti aku masih denyut, Bang... kangen kontol Abang yang gede.”
Di ruang rapat, otot rahang Jay mengeras. Ia membaca pesan itu dengan tatapan yang tetap dingin dan profesional, namun di bawah meja, jempolnya bergerak cepat membalas pesanmu. Ia bahkan tidak berkedip saat sang Kolonel menanyakanpendapatnya mengenai zona ekonomi eksklusif.
Jay: “Nakal banget, Sayang. Kamu tahu aku lagi rapat sama jenderal sekarang? Simpen dulu kenakalan kamu itu. Aku nggak bisa jemput siang ini karena urusan ini belum selesai.”
Jay berhenti sejenak, seringai tipis muncul di sudut bibirnya-sebuah seringai predator yang membuat bulu kuduk ajudan di sebelahnya merinding tanpa sebab.
Jay: “Sebagai gantinya, pas kamu sampai rumah nanti, masuk ke kamar. Copot semua baju kamu, jangan sisain sehelai benang pun. Foto posisi nungging di depan cermin, tunjukin lubang kamu yang masih merah bekas aku semalam. Kirim keaku sekarang juga pas kamu sampai. Jangan telat satu menit pun, atau hukuman malam ini bakal lebih parah dari yang di bathtub.”
to be continued




dihh gatel bgt lu jin tomang awas lu ye berani²nya modus ama lakik gw, untung dia waras!! 😡👊🏻
duh omgg gw jadi binal gegara didikan jay!! 😭🥵🫦💋💦
even besok bakal buzy bgt di RS krna full shift tapi wajib bgt baca "hallo dek" dulu sebelum bobo cantik 🤤