jangan lupa like
Keheningan yang tersisa di dalam kamar tidur utama itu terasa begitu berat dan pekat. Cahaya matahari pagi kini menyiram seluruh ruangan, memperjelas setiap tetes keringat yang mengilap di atas kulit kalian, deru napas yang mulai melambat, serta bercak-bercak basah di atas sprei sutra yang kusut masai. Jay masih menolak untuk menarik tubuhnya menjauh.
Pria itu menyangga sebagian bobot tubuhnya dengan kedua sikunya di sisi kepalamu, namun batangnya yang mulai melunak secara perlahan tetap tertanam di dalam intimu—mengunci kehangatan pekat yang baru saja ia tumpahkan ke dalam rahimmu. Dadanya yang bidang naik turun teratur tepat di atas dadamu yang masih bergetar sisa ekstasi.
Matamu menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, air mata yang tadi mengalir meninggalkan jejak dingin di pelipismu. Seluruh arogansimu seolah tersapu bersih, menyisakan kerapuhan yang selama lima tahun ini kamu tutup rapat-rapat di balik pesta pora, pria-pria asing, dan kata-kata berbisa.
Perlahan, tangan Jay yang besar dan hangat terangkat. Bukan untuk mencengkeram atau menuntut seperti tadi, melainkan dengan jemari yang gemetar halus, ia menyapu helai rambut basah yang menempel di dahimu. Sentuhannya begitu hati-hati, seolah takut kulitmu akan retak di bawah telapak tangannya.
“(Y/N)...” panggil Jay.
Suaranya tidak lagi dingin atau datar seperti saat ia mengenakan jas formalnya di kantor. Suaranya serak, rendah, dan bergetar di setiap suku kata—tanpa sisa topeng apa pun. Kamu memalingkan wajahmu ke samping, menolak menatap matanya karena rasa malu dan kekalahan yang membakar dadamu. Namun, Jay tidak membiarkanmu bersembunyi. Jemarinya yang panjang menyentuh dagumu dengan sangat lembut, menuntun wajahmu kembali lurus ke arahnya. Ketika matamu akhirnya terpaksa bertumbuk dengan sepasang iris gelapnya, napasmu tercekat seketika.
Di dalam mata Jay, tidak ada kilatan kemenangan arogan. Tidak ada cemoohan karena berhasil menundukkanmu. Yang ada di sana adalah genangan air mata yang tertahan di balik pelupuk matanya—sebuah keputusasaan yang begitu purba, begitu nyata, hingga membuat rongga dadamu terasa ngilu.
“Berhenti memandangku seolah aku adalah musuh yang menghancurkan hidupmu,” bisik Jay lirih, sebuah air mata akhirnya luruh menuruni garis rahang tegasnya dan menetes tepat di atas pipimu yang basah.
Jay menelan ludah yang terasa getir di tenggorokannya sebelum melanjutkan, suaranya pecah menjadi pengakuan yang selama bertahun-tahun ia kunci di dasar jiwanya.
“Kamu pikir aku bertahan lima tahun ini karena aliansi bisnis keluarga Park dan keluargamu? Kamu pikir aku rela membiarkanmu memperlakukanku seperti sampah, membiarkanmu tidur denganku hanya saat kamu mabuk dan butuh pelampiasan nafsu, karena aku takut pada ayahku?”
Jay tersenyum getir, sebuah senyuman terluka yang meremukkan seluruh persepsimu tentang pria ini.
“Aku bertahan... karena aku mencintaimu, (Y/N). Sejak kita masih anak-anak, jauh sebelum malam terkutuk saat Yunjin kabur dan kamu dipaksa berdiri di sampingku di atas panggung itu.”
Tubuhmu membeku seketika. Kata-kata itu menghantammu dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripada hunjaman fisiknya beberapa menit lalu.
“Malam itu, waktu kamu berjalan di karpet merah dengan mata bengkak dan gaun yang terlalu besar... aku tahu kamu membenci situasi itu. Aku tahu kamu membenci semua orang di ruangan itu, termasuk aku. Tapi di saat yang sama, separuh dari diriku yang brengsek merasa bersyukur karena akhirnya namamu yang terukir di samping namaku, bukan nama orang lain.”
Napas Jay tercekat di dada. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya tepat di keningmu, membiarkan napas panas kalian kembali bercampur dalam jarak nol milimeter.
“Tapi melihatmu berubah jadi sedingin ini... melihatmu menghancurkan dirimu sendiri setiap malam dengan alkohol dan pria-pria tak berguna itu hanya demi melukai diriku... itu membunuhku pelan-pelan, (Y/N). Setiap malam saat kamu menyuruhku diam dan menggunakan tubuhku sesukamu, aku rela. Aku rela jadi bonekamu, aku rela kehilangan seluruh harga diriku sebagai laki-laki, asalkan kamu tetap pulang ke rumah ini. Asalkan kamu tidak pergi ke pelukan orang lain.”
Jay menarik napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan, lalu menatap lurus ke dalam matamu yang kini mulai berkaca-kaca kembali.
“Tapi semalam... saat melihat nama pria itu di Hp-mu, dan saat kamu menyuruhku berlutut di ruang kerjaku... aku sadar kalau kesabaranku yang pasif ini tidak akan pernah menyelamatkan kita berdua. Aku tidak bisa lagi membiarkanmu pura-pura lupa bahwa aku suamimu. Aku tidak akan lagi membiarkanmu hidup dalam kebohongan bahwa pernikahan ini cuma transaksi bisnis tanpa rasa.”
Jay memajukan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirmu yang membengkak, lalu berbisik dengan nada mutlak yang sarat akan pemujaan tak berujung di depan bibirmu.
“Bencilah aku sesukamu, (Y/N). Marahlah sampai kamu kehabisan tenaga. Tapi mulai detik ini, aku tidak akan pernah mundur lagi ke balik bayang-bayang. Kamu terikat denganku selamanya, dan aku akan membuatmu melihatku—bukan sebagai pelampiasanmu, tapi sebagai satu-satunya pria yang mencintaimu sampai mati.”
Isak tangismu pecah seketika di udara hening kamar utama. Suara tangisan itu bukan lagi rintihan gairah atau kemarahan arogan yang palsu, melainkan suara lolongan pilu dari sudut jiwamu yang paling hancur—tempat di mana kamu mengubur rasa sakit, trauma, dan penghianatan selama lima tahun terakhir.
Kamu memejamkan mata rapat-rapat, memalingkan kepalamu sekuat tenaga ke samping, menolak bertatapan dengan iris gelap Jay yang menatapmu dengan binar pemujaan yang menyiksa. Pengakuan pria itu tidak membawa kelegaan. Kata-kata cintanya yang gila, obsesif, dan tanpa batas itu sama sekali tidak meluluhkan dinding es di hatimu. Pengakuan itu justru terasa seperti menyiramkan asam pekat ke atas luka menganga yang belum pernah sembuh.
Yang mengelupas saat ini hanyalah topeng aroganmu—lapisan luar yang rapuh yang kamu gunakan untuk bertahan hidup. Namun di baliknya, hatimu tetap keras membatu. Di dalam ruang batinmu yang tergelap, Jay masih belum memiliki tempat. Rasa cintanya yang begitu besar tidak cukup untuk menghapus kebencianmu pada takdir busuk ini.
“Kenapa...” Suaramu tercekat di tenggorokan, tersedak oleh air mata yang mengalir deras menuruni pipimu. “Kenapa kamu harus mencintaiku, Jay?!”
Kedua tanganmu yang gemetar naik ke dadanya yang telanjang. Kamu mengepalkan jemarimu, lalu mulai memukul dada bidang pria itu dengan sisa tenagamu.
Bugh. Bugh.
Pukulanmu lemah, tidak berarti bagi tubuh tegapnya, namun setiap pukulan itu sarat akan keputusasaan yang meluap tanpa kendali.
“Kenapa kamu nggak membenciku saja?! Kenapa kamu nggak ceraikan aku dari dulu?! Kenapa kamu nggak biarkan pernikahan sialan ini hancur?!” teriakmu parau, memukul pundaknya, mencakar lengannya yang masih melingkar di pinggangmu. “Aku benci Yunjin! Aku benci orang tua kita! Aku benci seluruh keluarga terkutuk ini yang melempar aib kakakku ke pundakku!”
Jay tidak menghindar. Ia bahkan tidak mencoba menangkap pergelangan tanganmu untuk menghentikan pukulanmu. Pria itu membiarkan dadanya menjadi sasaran amarahmu, menelan setiap hantaman fisik dan verbal yang kamu muntahkan.
Alih-alih mundur, Jay justru menarik tubuhmu semakin rapat ke dalam dekapannya. Lengannya yang kekar mengunci punggungmu, menenggelamkan wajahmu yang basah oleh air mata tepat di ceruk lehernya yang hangat. Ia memelukmu dengan dekapan penuh perlindungan—pelukan tulus yang layak didapatkan seorang istri, bukan boneka pelampiasan.
“Lepas, Jay! Jangan peluk aku kayak gini!” isakmu tertahan di bahunya, tubuhmu menggeliat memberontak dalam kungkungannya. “Aku muak... aku muak sama semua ini! Uang, nama keluarga, penthouse mewah... semuanya nggak ada artinya! Hatiku mati sejak malam pertunangan itu, Jay!”
Rasa sesak di dadamu meledak menjadi rentetan pertanyaan liar yang selama ini menghantuimu setiap malam.
“Kenapa kamu nggak pernah lepaskan aku? Kenapa kamu biarkan dirimu diinjak-injak sama monster kayak aku?!” suaramu bergetar hebat, air matamu membasahi kulit leher Jay tanpa jeda. “Dan kenapa... kenapa aku nggak pernah bisa tidur sama pria-pria di luar sana?!”
Pengakuan pahit itu akhirnya meluncur dari bibirmu sendiri. Selama bertahun-tahun, kamu menyewa pria-pria muda rupawan, mengundang mereka ke pesta privat, membiarkan mereka merayumu dan menari di depanmu hanya demi satu tujuan: memicu amarah Jay, membuat pria itu muak dan menceraikanmu, atau membuktikan pada dirimu sendiri bahwa tubuhmu tidak terikat pada siapa pun.
Namun setiap kali pintu kamar hotel atau mobil tertutup, rasa jijik selalu mencekik lehermu. Kamu tidak pernah membiarkan satu pun dari mereka menyentuh kulitmu lebih jauh. Setiap kali nafsu dan amarahmu mendidih, hanya Jay yang terlintas di kepalamu. Hanya tubuh Jay yang ingin kamu gunakan, hancurkan, dan kendalikan dalam malam-malam panas tanpa nama yang selalu kamu klaim sebagai hal tak berarti.
“Kenapa cuma kamu yang harus kuhancurkan setiap malam, Jay? Kenapa?!” ratapmu, suaramu melemah menjadi bisikan lirih yang sarat akan kehancuran batin.
Jay tidak menjawab dengan bantahan logis. Tangannya yang besar mengusap helai rambutmu yang basah dengan ritme yang begitu tenang dan sabar, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil yang tersesat di tengah badai. Jay mengecup pelipismu berulang kali, menghirup aroma kepedihanmu dalam diam.
“Pukul aku sesukamu, (Y/N),” bisik Jay sangat rendah di telingamu, suaranya sarat akan rasa sakit yang terbiasa ia tanggung sendiri. “Keluarkan semua kemarahanmu padaku. Aku tidak akan ke mana-mana.”
“Aku merindukan diriku yang dulu, Jay...” tangismu pecah lagi, jari-jarimu mencengkeram erat kulit punggungnya tanpa sadar. “Aku rindu anak kecil yang dulu bisa tertawa... tapi dia sudah mati. Gadis manis yang kamu cintai itu sudah dibunuh oleh keluargaku sendiri lima tahun lalu! Yang tersisa cuma bangkai egois yang cuma bisa menyakitimu!”
Jay mengeratkan pelukannya, menekan keningnya ke pelipismu seraya berbisik dengan nada yang begitu mantap, getir, dan tak tergoyahkan. “Gadis itu tidak mati, (Y/N). Dia hanya bersembunyi di balik rasa sakitmu. Dan aku akan tetap di sini memelukmu, bahkan jika yang tersisa darimu hanya duri yang terus menusuk jantungku sampai mati.”
Di atas ranjang yang berantakan itu, di bawah terik matahari pagi yang menelanjangi seluruh kerapuhan kalian, kamu menangis tersedu-sedu dalam pelukan pria yang paling kamu benci sekaligus satu-satunya tempat berpijak yang menahanmu agar tidak sepenuhnya runtuh ke dasar jurang kegilaan.
Suara isak tangismu perlahan mereda, tergantikan oleh tarikan napas panjang yang putus-putus dan berat. Energi di tubuhmu benar-benar terkuras habis setelah badai fisik dan emosional yang menghantam tanpa ampun. Tanganmu yang tadinya mencengkeram punggung Jay perlahan lemas, terlepas dan jatuh terkulai di atas kasur yang berantakan.
Kelopak matamu yang bengkak dan memerah menutup perlahan karena kelelahan yang luar biasa. Dalam dekapan pria yang selalu kamu tolak itu, kesadaranmu akhirnya tenggelam kembali ke dalam tidur lelap yang sunyi.
Jay tidak langsung beranjak. Ia menunggu beberapa menit hingga napasmu benar-benar stabil dan berirama pelan di dadanya. Dengan kehati-hatian luar biasa, Jay melepaskan dekapannya secara perlahan agar tidak mengusik tidurmu. Ia menarik selimut tebal berbulu abu-abu ke atas tubuhmu, menutupi bahumu yang penuh jejak kemerahan dari udara sejuk kamar. Sebelum bangkit, Jay menundukkan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan lembut dan lama di puncak kepalamu.
Jay lalu bergeser ke tepi kasur, duduk membelakangimu dengan kedua kaki menjejak lantai marmer yang dingin.
Ia menundukkan kepala, membenamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya yang besar dan kasar. Bahu tegap pria itu bergetar halus. Di balik keheningan kamar tidur yang luas ini, dada Jay terasa begitu sesak dan berat—seperti ada batu karang besar yang menghimpit paru-parunya hingga sulit bernapas.
Jay ingin sekali berteriak. Ia ingin menangis keras-keras, melampiaskan rasa lelah, frustrasi, dan keputusasaan yang menggunung selama lima tahun terakhir. Ia lelah melihatmu terus-menerus meracuni dirimu sendiri dengan kebencian masa lalu. Ia lelah menjadi target kemarahan atas dosa keluarga yang bukan ia pelakunya. Dan yang paling menyakitkan, ia lelah melihat wanita yang paling ia cintai sejak kecil harus hidup dalam cangkang kosong yang hancur berkeping-keping.
Namun, Jay menelan kembali semua rasa sesak itu ke dasar tenggorokannya. Ia tahu, jika ia ikut hancur dan menunjukkan kelemahannya, tidak akan ada lagi yang bisa menjadi tempat berpijak bagimu saat kamu jatuh. Ia tidak ingin memperlebar luka menganga di hatimu yang bahkan belum pernah mulai mengering.
Jay mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh ke belakang, menatap sosokmu yang terlelap pulas. Pria itu tersadar akan satu hal penting: kamu bukan hanya lelah karena pernikahan paksa tanpa cinta ini. Kamu juga muak dan tercekik oleh kehidupan glamor kaum elite yang penuh kepalsuan. Selama bertahun-tahun, kamu dikelilingi oleh pesta-pesta mewah, perhiasan mahal, uang tak terbatas, dan senyum palsu orang-orang di sekitarmu yang hanya peduli pada status sosial. Semua kemewahan itu tidak pernah mengisi hatimu; itu justru membuatmu semakin kesepian dan terasing di dunia yang dingin ini.
Sebuah keputusan mantap perlahan terbentuk di kepala Jay. Ia bangkit berdiri, mengenakan celana santai dan kemeja bersih, lalu berjalan menuju ruang kerjanya di seberang lorong. Di sana, ia meraih ponsel pribadinya dan langsung menekan panggilan cepat.
“Halo, Bang? Tumben nelpon pagi-pagi begini. Lo nggak ada jadwal rapat sama divisi keuangan jam sepuluh?”
Suara Yang Jungwon terdengar di seberang sambungan telepon, sedikit terburu-buru dengan latar belakang suara gemerisik kertas dokumen kantor.
“Jungwon,” panggil Jay, suaranya tenang namun memiliki nada yang tidak bisa dibantah. “Aku butuh kamu untuk ambil alih seluruh operasional kantorku dan proyek ekspansi mulai besok pagi.”
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara teriakan panik Jungwon meledak di speaker ponsel.
“APA?! Lo gila ya, Bang?! Gue udah megang dua divisi, sekarang lo mau lempar semua kerjaan direktur utama ke gue?! Lo mau bikin adek lo mati muda di balik meja kerja?!”
“Hanya untuk satu bulan, Won,” potong Jay sabar, membiarkan adiknya mengomel panjang lebar.
“Satu bulan?! Mau ke mana lo selama itu?! Jangan bilang lo mau kabur dari masalah!”
Jay menarik napas dalam-dalam, pandangannya menerawang ke arah jendela kaca besar yang menghadap gedung-gedung pencakar langit kota.
“Aku mau bawa (Y/N) pergi dari kota ini,” ujar Jay pelan, suaranya sarat akan ketulusan yang dalam. “Kami butuh pergi ke alam terbuka. Jauh dari pesta, jauh dari keluarga besar, jauh dari semua orang yang menuntut kepura-puraan. Aku mau menyewa sebuah vila terpencil di pegunungan dekat danau selama satu bulan penuh.”
Jungwon di seberang sana mendadak terdiam. Kemarahan di suaranya memudar, berganti dengan nada serius dan sedikit ragu.
“Lo serius, Bang?” tanya Jungwon pelan. “Lo tahu sendiri kan gimana kerasnya sikap (Y/N)? Kalaupun lo ajak dia pergi sejauh itu, kemungkinan besar dia bakal nolak mentah-mentah. Dia bakal tetap dingin sama lo, Bang. Lo yakin mau buang waktu dan tenaga buat sesuatu yang belum tentu berhasil?”
“Aku tahu kemungkinannya kecil, Won,” jawab Jay dengan senyuman tipis dan getir di bibirnya. “Mungkin dia akan terus marah, mungkin dia akan memaki-maki aku setiap hari di sana. Tapi setidaknya di sana tidak ada alkohol, tidak ada klub malam, dan tidak ada pria asing yang cuma memanfaatkan kerapuhannya. Aku ingin merawatnya dengan caraku sendiri. Aku ingin mencoba mengambil hatinya lagi, walaupun aku harus memulainya dari nol.”
Jungwon menghela napas panjang dan berat di ujung telepon. Anak muda itu tahu betul betapa keras kepalanya sang kakak jika sudah menyangkut dirimu. Sejak dulu, Jay tidak pernah menyerah, dan cinta gilanya itu tidak akan pernah bisa dihentikan oleh siapa pun.
“Dasar bodoh,” gumam Jungwon pelan, terdengar pasrah namun penuh rasa simpati. “Oke. Gue bakal tanggung semua urusan korporasi dan urusan keluarga besar selama sebulan penuh. Lo nggak usah mikirin kantor sama sekali. Tapi lo janji sama gue, Bang... bawa dia pulang dalam keadaan yang lebih baik. Dan yang paling penting, jangan biarkan diri lo sendiri hancur di sana.”
“Terima kasih, Won. Aku berutang banyak sama kamu,” ucap Jay tulus sebelum menutup sambungan telepon.
Jay meletakkan ponselnya di atas meja, lalu membuka laptopnya untuk memesan tiket perjalanan dan menyiapkan vila privat di kawasan pegunungan yang tenang dan asri—tempat di mana hanya ada udara segar, gemercik air, dan hutan pinus yang sunyi.
Setelah semua rencana selesai dirancang, Jay kembali melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama yang temaram. Ia berjalan pelan mendekati kasur, lalu merebahkan tubuhnya di sampingmu. Lengannya yang hangat kembali menyusup pelan ke bawah lehermu, menarik tubuhmu merapat ke dadanya.
Jay memejamkan mata, memelukmu dalam diam dengan harapan rapuh yang kembali menyala di sudut hatinya—berharap bahwa perjalanan satu bulan ke depan bisa menjadi awal baru untuk meruntuhkan dinding dingin yang memisahkan kalian berdua.
to be continued





AKUUU MAUUU JAYIII😭😭😭😭✋🏻✋🏻✋🏻✋🏻
Woyyy WOYY semoga enggak sia sia ya perjuangan mu sayang ku 🥹🫳🏻