Beberapa minggu setelah kejadian di fansign itu, dunia seolah berputar lebih cepat. Sunghoon benar-benar menyapu bersih trofi di berbagai acara musik. Setiap kali dia berdiri di panggung sambil memegang piala dan memberikan pidato kemenangan, matanya selalu menatap kamera dengan binar yang berbeda—seolah dia tahu kamu sedang menonton di suatu tempat, bangga atas kerja kerasnya.
Chattingan kalian juga nggak pernah putus. Awalnya memang canggung, tapi lama-lama obrolannya jadi sangat mengalir. Kalian nggak cuma tanya “lagi apa?” atau “sudah makan?”, tapi lebih ke arah diskusi tentang artikel investigasimu yang baru terbit, atau Sunghoon yang curhat soal capeknya latihan koreografi solo yang jauh lebih menguras tenaga dibanding saat bersama grup.
Sampai suatu sore, sebuah pesan masuk di sela-sela kamu sedang merapikan draf berita.
Sunghoon: Malam ini kosong nggak? Ketemu yuk. Aku udah kirim alamatnya di bawah. Jangan lewat jalan utama, masuknya dari pintu samping gedung yang ada stiker bunga kecilnya.
Kamu sempat diam lama, menatap layar ponsel dengan perasaan ragu. Ketemu? Semudah itu? Posisinya sekarang bukan lagi idol yang sedang jatuh, tapi megabintang yang gerak-geriknya diawasi ribuan mata.
Kamu: Hoon, apa nggak bahaya? Kamu baru beres promosi, pasti banyak jurnalis (selain aku) atau sasaeng yang masih ngikutin. Aku nggak mau rencana kita malah jadi skandal baru.
Sunghoon: Percaya sama aku. Aku udah atur semuanya bareng Jay dan manajer baru. Ada sesuatu yang harus aku kasih ke kamu secara langsung. Datang ya? Aku tunggu jam 7.
Sekitar jam 7 lewat sedikit, kamu akhirnya sampai di sebuah gedung apartemen privat dengan pengamanan super ketat di pinggiran Seoul. Dengan jantung yang berdebu kencang, kamu mengikuti instruksinya, melewati pintu samping yang tersembunyi. Benar saja, ada seorang staf muda—yang sepertinya sudah diberi tahu—menunggumu dan membawamu langsung ke unit paling atas.
Begitu pintu terbuka, aroma kayu cendana dan wangi maskulin yang sangat familiar langsung menyergap indramu. Itu adalah unit penthouse yang minimalis tapi sangat hangat.
“Datang juga akhirnya,” suara itu terdengar dari arah balkon.
Sunghoon berdiri di sana, hanya mengenakan kaus putih polos dan celana kain hitam. Rambutnya yang biasanya ditata rapi untuk panggung kini jatuh berantakan di dahinya. Tanpa makeup, tanpa sorot lampu panggung, dia terlihat seperti Sunghoon yang dulu pernah sembunyi di kamarmu.
“Maaf telat, tadi ada urusan kantor bentar,” ucapmu pelan sambil mendekat.
Sunghoon tersenyum, langkahnya mendekat padamu hingga jarak kalian hanya tersisa beberapa jengkal. “Nggak apa-apa. Makasih ya sudah mau datang meski aku tahu kamu pasti takut.”
“Siapa yang nggak takut? Kalau besok wajahku masuk koran bareng kamu, karier jurnalisku bisa tamat karena dianggap nggak objektif,” candamu, mencoba menutupi rasa gugup karena ditatap sedalam itu.
Sunghoon tertawa kecil, suara tawa yang sangat kamu rindukan. Dia lalu meraih tanganmu, menarikmu pelan untuk duduk di sofa panjang yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Seoul dari balik jendela kaca raksasa.
“Aku nggak akan biarin itu terjadi. Aku udah janji kan, sekarang giliranku yang jagain kamu,” katanya serius. Matanya menatapmu lembut. “Sebenarnya, aku manggil kamu ke sini karena mau ngasih ini.”
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru, lalu diletakkan di telapak tanganmu. Saat kamu membukanya, isinya bukan perhiasan mahal, melainkan sebuah kunci perak dengan gantungan kecil berbentuk kepingan salju dan juga kartu akses masuk apartment—persis seperti kunci cadangan kamar sewamu yang dulu dia kembalikan lewat pot bunga.
“Hoon, ini...?”
“Itu kunci dan akses unit ini,” potong Sunghoon cepat sebelum kamu sempat protes. “Bukan berarti aku mau kamu tinggal di sini sekarang, tapi aku mau kamu punya akses ke tempat paling aman yang aku punya. Selama ini, kamu yang kasih aku tempat sembunyi saat dunia jahat sama aku. Sekarang, aku mau tempat ini jadi rumah kedua buat kamu kalau kamu lagi capek sama kerjaanmu atau lagi pengen kabur dari kejaran berita.”
Kamu terpaku, lidahmu kelu. Kamu menatap kunci itu, lalu beralih ke wajah Sunghoon yang tampak tulus tanpa keraguan.
“Kamu serius?” bisikmu.
“Sangat serius,” Sunghoon meraih dagumu, memaksamu menatap matanya. “Selama empat bulan kita pisah dulu, aku cuma kepikiran satu hal: gimana caranya biar aku bisa balas budi ke kamu. Tapi setelah dipikir-pikir, aku nggak mau balas budi. Aku mau kita mulai dari awal lagi, sebagai Sunghoon dan kamu. Tanpa embel-embel idol dan fans, atau buronan dan penolongnya.”
“Hoon...”
“Aku sayang kamu, (y/n). Dari malam pertama aku makan sup itu di kamarmu, rasa itu nggak pernah berubah. Malah makin gila setiap kali aku denger berita tentang keberanian kamu di luar sana,” lanjutnya, suaranya memberat karena emosi.
Kamu merasakan hangat menjalar di pipimu. Kamu meletakkan kotak kunci itu di meja dan tanpa aba-aba memeluknya erat, menyandarkan kepalamu di dadanya yang bidang. Kamu bisa mendengar detak jantungnya yang kencang, sama kencangnya dengan detak jantungmu.
“Aku juga sayang kamu, Hoon. Aku pikir kita nggak akan pernah bisa begini lagi,” gumammu di balik kausnya.
Sunghoon membalas pelukanmu, mencium puncak kepalamu dengan lembut. “Kita bisa. Apapun rintangannya nanti, asal jangan pernah hapus kenangan kita lagi di kepalamu, ya?”
Malam itu, di bawah langit Seoul yang tenang, semua rasa takut dan keraguan menguap begitu saja. Kalian duduk berdua masih saling mendekap satu sama lain di sana, bercerita tentang banyak hal yang terlewatkan, menyadari bahwa meski dunia luar sangat bising, di dalam ruangan ini, kalian akhirnya menemukan kedamaian yang kalian perjuangkan selama bertahun-tahun.
Sunghoon melepaskan pelukannya perlahan, tapi tangannya tidak benar-benar menjauh. Ibu jarinya mengusap pipimu, menyisipkan beberapa helai rambut ke belakang telingamu dengan gerakan yang sangat pelan. Tatapannya jatuh ke bibirmu selama beberapa detik sebelum kembali mengunci matamu.
“Kamu tahu nggak?” bisiknya, suaranya kini terdengar sedikit lebih serak. “Selama promosi kemarin, setiap kali aku berdiri di depan ribuan orang, yang aku bayangin cuma momen ini. Duduk berdua sama kamu, di tempat yang nggak ada kamera satu pun.”
Sentuhan tangannya beralih ke lehermu, jari-jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulitmu yang mulai menghangat. Kamu bisa merasakan deru napasnya yang kini terasa lebih dekat.
“Hoon, nanti kalau manajer kamu tiba-tiba masuk gimana?” tanyamu, mencoba mencari celah untuk bernapas karena atmosfer di ruangan ini mendadak terasa sangat padat.
Sunghoon terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat menggoda di telingamu. Dia justru memajukan duduknya, membuat lutut kalian bersentuhan. “Enggak akan. Aku sudah bilang jangan ada yang berani ganggu malam ini. Kenapa? Kamu gugup ya?”
Dia mencondongkan tubuhnya, menyisakan jarak hanya beberapa senti dari wajahmu. Kamu bisa menghirup aroma mint dari napasnya yang segar. Tangan Sunghoon yang tadinya di lehermu kini turun, menggenggam jemarimu dan menautkannya dengan jemarinya yang panjang.
“Jantung kamu detaknya kencang banget, (y/n),” gumamnya sambil menatap tautan tangan kalian, lalu dia membawa punggung tanganmu ke bibirnya, mengecupnya lama di sana sambil matanya tetap menatapmu dengan nakal.
“Efek... efek kopi tadi sore,” jawabmu asal, berusaha tetap terlihat tenang padahal kakimu sudah terasa lemas.
Sunghoon tersenyum miring, ekspresi yang selalu membuat fans berteriak histeris, tapi kali ini ekspresi itu hanya untukmu. Dia melepas tautan tangan kalian hanya untuk melingkarkan lengannya di pinggangmu, menarik tubuhmu sedikit lebih rapat ke arahnya.
“Bohong,” bisiknya tepat di depan bibirmu. “Kopi nggak bikin wajah kamu semerah ini.”
Dia sengaja nggak langsung menciummu. Dia cuma membiarkan hidungnya bersentuhan lembut dengan hidungmu, menciptakan gesekan halus yang membuat bulu kudukmu meremang. Tangan satunya lagi kini mulai bermain di pinggangmu, meremas pelan kain bajumu.
“Kamu tau nggak pas di kantor polisi dulu? Aku bilang aku nggak akan pernah menang lawan kejujuran, dalam bayanganku juga yang muncul soal kamu yang terus berjuang buat aku di liar sana?” Sunghoon berbisik lagi, kali ini bibirnya nyaris menyentuh sudut bibirmu saat dia bicara. “Sekarang aku mau jujur... dari tadi aku susah banget fokus karena aku cuma pengen tahu, gimana rasanya kalau aku beneran egois malam ini.”
Tangannya yang di pinggang perlahan naik, menyelusuri lekuk tubuhmu hingga berhenti di tengkukmu, memberikan sedikit tekanan yang membuatmu secara refleks mendongak.
“Boleh aku jadi sedikit egois malam ini, Shin (y/n)?” tanya Sunghoon, suaranya sangat rendah dan penuh godaan, sementara tatapannya kini benar-benar gelap, menuntut jawaban yang sudah pasti dia ketahui.
Kamu reflek membeku. Tubuhmu seolah kehilangan komando saat merasakan sentuhan Sunghoon yang semakin berani. Kamu menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahmu yang sudah semerah mawar, sementara napasmu mulai pendek. Sensasi geli dan panas menjalar dari tengkuk hingga ke ujung jari kakimu, membuat lututmu benar-benar terasa seperti jeli. Kamu ingin bicara, tapi suaramu tertahan di kerongkongan.
Karena kamu hanya diam dan terus menunduk, Sunghoon memberikan reaksi yang sama sekali tidak kamu duga.
Tanpa peringatan, tangan yang tadi berada di pinggangmu berpindah ke bawah paha dan punggungmu. Dengan satu gerakan mantap dan bertenaga, dia menarikmu. Sebelum kamu sempat memproses apa yang terjadi, kamu sudah berpindah posisi—kini kamu duduk tepat di atas pangkuannya, menghadap langsung ke arahnya.
“Hoon—” pekikmu pelan, tanganmu reflek mencengkeram bahunya agar tidak terjatuh.
“Tatap aku, (y/n),” perintahnya rendah.
Kali ini suaranya tidak hanya menggoda, tapi penuh otoritas yang membuatmu tidak punya pilihan selain mendongak. Jarak kalian sekarang benar-benar terkikis habis. Kamu bisa merasakan panas tubuhnya merambat ke tubuhmu, dan posisi ini membuatmu bisa merasakan betapa kuatnya dekapan tangannya di pinggangmu, mengunci kamu agar tetap menempel padanya.
Sunghoon menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, membiarkan kamu berada di atasnya dengan posisi yang sangat intim. Dia menatapmu dengan pandangan sayu namun tajam—tatapan yearning, seolah sedang mengagumi setiap inci wajahmu yang sedang gemetar.
“Kenapa nunduk terus? Tadi di TV aku lihat jurnalis Shin berani banget debat sama politikus,” godanya sambil memberikan senyum miring yang mematikan. Salah satu tangannya naik, menyelipkan rambutmu ke belakang telinga, lalu jemarinya menetap di pipimu, mengusapnya perlahan dengan ibu jari.
“Itu... itu kan kerjaan, Hoon. Beda sama ini,” cicitmu, mencoba menghindari tatapannya yang terlalu intens.
Sunghoon terkekeh, dadanya yang bidang bergetar dan kamu bisa merasakannya langsung karena tubuh kalian yang menempel. Dia menarik pinggangmu lebih rapat lagi, membuatmu tidak sengaja memajukan tubuh hingga napasmu menyapu lehernya.
“Di sini nggak ada jurnalis, nggak ada idol. Cuma ada aku dan kamu,” bisiknya, kali ini dia sengaja mendekatkan bibirnya ke telingamu, memberikan embusan napas hangat yang membuatmu merinding hebat. “Aku sudah nunggu bertahun-tahun buat momen ini. Kamu tahu nggak seberapa keras aku nahan diri biar nggak nyari kamu selama hampir 3 tahun kita pisah dulu?”
Dia menjauhkan wajahnya sedikit hanya untuk melihat ekspresimu. Matanya terlihat haus, namun tetap penuh kelembutan. Tangan Sunghoon yang di pinggangmu mulai merayap naik ke punggungmu, memberikan usapan-usapan halus di balik kain bajumu yang tipis, sementara matanya kembali tertuju pada bibirmu.
“Jangan kabur lagi ya? Malam ini, aku nggak akan lepasin kamu secepat itu,” gumamnya pelan, tepat sebelum dia memiringkan kepalanya, perlahan mulai memangkas jarak yang tersisa di antara bibir kalian.
Ciuman itu tidak lagi terasa seperti sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Sunghoon memulainya dengan sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Namun, saat kamu mulai membalas sentuhannya dan tanganmu merambat naik untuk meremas rambut di belakang kepalanya, ritme itu berubah.
Sunghoon mengerang rendah di tengah ciuman kalian, sebuah suara yang terdengar sangat lapar dan tulus. Ia menarik pinggangmu lebih rapat hingga tidak ada lagi udara yang tersisa di antara tubuh kalian. Kamu bisa merasakan detak jantungnya yang berdebum kencang melawan dadamu, sinkron dengan milikmu yang sudah tidak karuan.
“Kamu wangi banget, (y/n)...” bisiknya parau saat ciumannya turun ke garis rahangmu, meninggalkan jejak-jejak panas yang membuatmu tanpa sadar mendesah pelan.
Sentuhan Sunghoon kini berpindah ke bagian belakang lehermu, menarikmu sedikit lebih dekat agar ia bisa menjangkau area sensitif di balik telingamu. Tangannya yang lain tidak tinggal diam, telapak tangannya yang besar merayap turun, memberikan remasan-remasan halus di paha dan pinggangmu yang membuat tubuhmu terasa seperti tersengat listrik.
“Hoon... pelan-pelan,” gumammu tidak berdaya, kepalamu terkulai di bahunya saat bibirnya mulai menjelajahi area lehermu.
“Aku udah coba buat pelan, tapi kamu selalu bikin aku susah buat nahan diri,” sahutnya dengan suara yang sangat dalam dan serak. Ia menjauhkan wajahnya sejenak, hanya untuk menatap matamu yang sayu. Di bawah remang lampu penthouse, Sunghoon terlihat sangat tampan, sangat mendominasi, dan sangat menginginkanmu.
Ia meraih tanganmu yang gemetar, lalu mengecup telapak tanganmu satu per satu sebelum ia mengarahkannya untuk melingkar di lehernya lagi.
“Malam ini masih panjang,” gumamnya dengan senyum miring yang penuh arti. “Dan aku baru aja mau mulai.”
Sunghoon kembali menyatukan bibir kalian, kali ini dengan tuntutan yang lebih dalam dan panas, seolah ia ingin menghapus semua jarak dan tahun-tahun yang pernah memisahkan kalian dalam semalam. Di atas pangkuannya, di dalam keheningan apartemen yang mewah itu, kamu menyadari bahwa pria yang pernah kamu selamatkan dulu kini telah benar-benar menjeratmu dalam dunianya yang tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi.
Logikamu yang biasanya setajam silet saat mengejar berita, kini tumpul sepenuhnya. Kamu benar-benar kehilangan kendali diri, terombang-ambing dalam gelombang sensasi yang diciptakan Sunghoon. Saat pagutan itu semakin dalam dan menuntut, kamu bisa merasakan telapak tangan Sunghoon yang besar dan hangat mulai menyelinap masuk ke balik kemejamu lagi.
Sentuhan kulit ke kulit itu terasa seperti sengatan listrik yang membakar. Jarinya yang panjang merayap naik, mengusap sepanjang tulang rusukmu dengan gerakan yang sangat lambat namun pasti. Kamu tidak sengaja mengeluarkan lenguhan kecil saat jemarinya berhenti sejenak di area sensitif di punggungmu, memberikan sedikit tekanan yang membuat tubuhmu melengkung ke arahnya.
Sunghoon melepaskan pagutan bibirnya hanya untuk menghirup udara sejenak, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Napasnya memburu di depan bibirmu, matanya yang gelap dan penuh kabut gairah menatapmu dengan intensitas yang memabukkan.
“Kamu harus tahu, (y/n) ...” bisiknya dengan suara yang sangat parau, nyaris seperti geraman. “Sesering apa aku bayangin kamu ada di sini, di bawah kendaliku kaya gini dengan perasaan yang sama seperti dulu.”
Tangannya yang berada di dalam kemejamu mulai bergerak lebih berani, mengusap kulit lembut di perut dan pinggangmu, sementara tangan satunya lagi menekan tengkukmu agar kamu tetap menempel padanya. Posisimu di pangkuannya membuat kamu bisa merasakan setiap getaran dari tubuhnya yang mengeras.
Sunghoon kembali menyerang lehermu, namun kali ini lebih dalam. Ia memberikan isapan-isapan kecil yang pasti akan meninggalkan jejak di sana—sebuah tanda kepemilikan yang mungkin akan sulit kamu tutupi besok. Kamu mencengkeram bahu kausnya kuat-kuat, kepalamu terkulai ke belakang, memberikan akses penuh baginya untuk terus menyesap kulitmu.
“Hoon... kemejanya...” rintihmu pelan saat kamu merasakan kancing kemejamu mulai terlepas satu per satu di bawah jemarinya yang terampil.
“Biarin,” jawabnya singkat di sela cumbuan di lehermu. “Aku mau lihat semuanya, (y/n). Aku mau tahu setiap bagian dari kamu yang udah nyelamatin aku dulu.”
Dunia di luar apartemen ini seolah sudah berhenti berputar. Tidak ada lagi jurnalis, tidak ada lagi idol, tidak ada lagi konspirasi. Hanya ada kamu yang sudah pasrah dalam dekapan Sunghoon, dan dia yang kini tidak lagi ragu untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya sejak lama.
Sunghoon mengangkat tubuhmu sedikit, membawa kalian berdua untuk berpindah dari sofa menuju kamar utama yang pintunya sudah terbuka lebar, menjanjikan malam yang jauh lebih panas dari sekadar ciuman di ruang tamu.
Sunghoon membawamu ke dalam kamar yang hanya diterangi cahaya kota yang masuk dari jendela besar di sudut ruangan. Dengan gerakan yang tetap protektif namun penuh gairah, ia merebahkan tubuhmu di atas kasur king size-nya yang empuk. Detik berikutnya, ia langsung menindihmu, mengunci pergerakanmu di bawah bobot tubuhnya yang proporsional.
Kemejamu sudah terlepas sepenuhnya, tersampir entah di mana, menyisakan pemandangan yang membuat napas Sunghoon tertahan sejenak. Kulit putihmu yang kontras dengan bra renda hitam yang membungkus tubuhmu tampak begitu menggoda di bawah remang cahaya. Sorot mata Sunghoon yang tadinya lembut kini berubah menjadi sangat gelap, penuh dengan hasrat yang sudah ia bendung selama bertahun-tahun.
“Kamu cantik banget, (y/n)...” bisiknya, suaranya kini benar-benar serak dan dalam. “Cantik sampai aku rasanya mau gila.”
Sambil terus menatap matamu, tangan Sunghoon bergerak ke atas, meraih pinggiran kaus putih yang ia kenakan. Dengan satu gerakan cepat dan sedikit terburu-buru, ia melepas bajunya sendiri dan melemparnya ke sembarang arah. Kini, dadanya yang bidang dan keras bersentuhan langsung dengan kulitmu yang sensitif, menciptakan sensasi panas yang membuatmu merinding hebat.
Kamu bisa merasakan otot-otot tubuhnya yang menegang saat ia kembali memajukan wajahnya. Jemarinya yang panjang mulai bermain di pinggiran bra rendamu, mengaitkan ujung jarinya di sana sementara tangan satunya lagi menahan kedua tanganmu di atas kepala, mengunci jemarimu dengan jemarinya.
“Aku nggak akan nanya dua kali,” gumamnya pelan, bibirnya kini hanya berjarak satu senti dari daun telingamu, memberikan embusan napas yang membakar. “Boleh aku lepas semuanya sekarang?”
Tanpa menunggu jawaban lisan—karena desah napasmu sudah cukup menjadi persetujuan baginya—tangan Sunghoon mulai bekerja melepas kaitan bra hitammu dengan gerakan yang sangat terampil. Matanya tak lepas darimu, seolah ia ingin merekam setiap ekspresi yang muncul di wajahmu saat ia perlahan membebaskanmu dari sisa pakaian yang menempel.
Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suara napas kalian yang saling berkejaran. Sunghoon mulai menjelajahi setiap inci kulitmu kembali, bukan lagi dengan kelembutan yang hati-hati, melainkan dengan intensitas seorang pria yang akhirnya mendapatkan kembali harta paling berharganya. Malam ini benar-benar menjadi milik kalian, sebuah perayaan atas kebebasan dan cinta yang pernah tumbuh di tengah badai konspirasi yang kelam.
TO BE CONTINUED
deg deg an banget
ah ga sabar besok..
moga aja rame yang minta lanjut wkwkwk
jangan lupa like and comment, cintaku💖





AKAKSNJSJSNS GILAKK HOONIE IHH GW SALTING BGTTTT!!! 😭💗💋
SUKA BGTTTT NEXT PLEASE!! 🥺🙏🏻
Ahh demi apa sama idol lu sendiri..jd pengen 😜😜😜