JANGAN LUPA LIKE, KOMEN N FOLLOW
Mobil Honda Civic hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan pagar kosanmu. Lampu sorot mobil menerangi rintik gerimis halus yang masih tersisa di bawah naungan pohon mangga depan pagar. Kamu segera melepaskan sabuk pengaman, menyangklong tasmu, lalu bersiap melepaskan jaket bomber tebal milik Riki yang melapisi tubuhmu sejak tadi.
βIni jaketnya, Kiββ
βGak usah dilepas,β potong Riki cepat. Tangannya yang besar mendadak menahan pergelangan tanganmu secara refleks, sebelum akhirnya dia sadar dan buru-buru menarik jarinya kembali. βPakai aja dulu.β Kamu mengernyitkan alis, menatap Riki bingung. βTapi kan ini punya kamu, Ki. Nanti kamu dingin, bahu kamu aja basahββ
βSuhu malam lagi gak nentu, (Y/N),β Riki mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar, suaranya terdengar tegas namun menyimpan rasa cemas yang tak bisa dia sembunyikan. βLagian akhir-akhir ini lo sering banget cuma pakai baju tipis atau cardigan katun pas pulang malam. Lo gampang bersin. Bawa aja jaketnya masuk, balikinnya kapan-kapan aja pas kita latihan lagi.β
Kamu terpaku. Riki menyadari apa yang kamu pakai belakangan ini? Dia memperhatikan?
βTapi aku gak mau ngerepotin kamu...β bisikmu pelan.
βGak ngerepotin,β potong Riki lagi, kali ini nada suaranya melunak. Dia menatap matamu lurus-lurus. βYang penting lo gak sakit. Udah, sana masuk. Biar gue liat sampai lo masuk ke dalam pagar.β Melihat ketetapan di mata cowok itu, kamu akhirnya menyerah. Kamu mengangguk pelan. βYaudah... makasih ya, Ki. Hati-hati di jalan.β
Kamu membuka pintu mobil dan melangkah turun. Kehangatan jaket bomber beraroma khas dia banget itu membungkus tubuhmu sepenuhnya saat kamu berjalan menembus gerimis dan membuka pintu pagar. Sebelum menutup pagar, kamu sempat menoleh ke belakang. Mobil Civic Riki masih diam di sana, lampunya menyala terang, menunggumu hingga kamu benar-benar melangkah masuk ke dalam koridor kosan yang aman.
Begitu sampai di dalam kamar kosmu yang tenang, kamu menyandarkan tubuhmu di balik pintu yang sudah terkunci rapat. Kamarmu hening, hanya ada suara deru kipas angin dan detak jam dinding. Kamu menjatuhkan dirimu di tepi tempat tidur, masih menggunakan jaket tebal milik Riki. Jarimu bergerak menyentuh permukaan kain jaket itu di bagian dada. Bau khas Riki merasuk kuat ke dalam indra penciumanmu, memicu ingatan tentang jarak wajah kalian yang hanya beberapa sentimeter di dalam mobil tadiβhembusan napas hangatnya di pipimu, dan tatapan matanya yang tertuju pada bibirmu.
Kamu meraih ponselmu dari dalam tas. Aplikasi WhatsApp terbuka di layar. Kamu mencari kontak nama βRikiβ di daftar kontak yang terblokir. Jarimu menggantung di atas layar. Ada kebingungan yang membeku di dalam dadamu. Kamu diam, membeku di posisi yang sama selama hampir lima belas menit.
Harus aku buka gak ya? batinmu bergejolak. Kalau aku buka, berarti aku membuka pintu lagi buat dia masuk. Tapi... kita kan sekarang partner latihan buat Festival Fakultas. Kalau ada info latihan mendadak atau perubahan partitur, masa harus lewat orang lain terus? Terlalu gak profesional.
Kamu menghela napas panjang, mencoba merasionalkan keputusanmu agar tidak terdengar seperti kepasrahan emosional. Kamu menekan opsi βBuka Blokirβ. Baru satu menit tombol itu ditekan, sebelum kamu sempat meletakkan ponselmu ke meja, layar ponselmu menyala dan bergetar nyaring.
Denting!
Sebuah notifikasi obrolan masuk tepat dari nomor Riki.
Riki: Gue udah sampe kosan.
Riki: Makasih buat latihan hari ini, (Y/N).
Jantungmu mendadak mencelus. Dia langsung mengabari? Apakah dari tadi dia mengecek kontakmu terus-menerus sampai tahu blokirannya sudah dibuka?
Kamu memegangi dada kiri kamu yang berdebar kencang. Banyak sekali pertanyaan yang menumpuk di kepalamu: Kenapa kamu belakangan ini beda banget, Ki? Kenapa kamu beliin aku lima cangkir kopi? Kenapa kamu paksain kasih jaket kamu? Kenapa kamu natap aku kayak mau nyium aku di mobil tadi? Kenapa berubah banget kamu akhir - akhir ini?
Namun, jarimu mengetik balasan yang sangat berbeda dari gejolak di kepalamu. Kamu merasa malu, dan jauh di dalam hatimu, kamu merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu diucapkan. Mungin Riki hanya bersikap baik karena kalian sekarang partner kerja sama, bukan karena hal lain. Kamu tidak boleh geer lagi seperti dulu.
(Y/N): Iya sama-sama Ki. Makasih juga udah dianterin pulang dan dipinjemin jaket. Selamat istirahat.
Kamu mematikan layar ponselmu dan menaruhnya telungkup di atas kasur, menutup wajahmu dengan kedua tangan sambil melepaskan erangan pelan.
Sementara itu, di kamarnya sendiri suasananya jauh dari kata tenang. Riki mengunci pintu kamarnya, melemparkan kunci mobilnya ke atas meja hingga berdentang nyaring, lalu menjatuhkan seluruh tubuh bongsornya ke atas kasur busa tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu.
βArrrgh!β
Riki menggeram keras, menyergap bantal dengan kedua tangannya dan membenamkan wajahnya di sana untuk membungkam erangan frustrasinya sendiri. Dia menendang-nendang ujung kasurnya seperti orang gila. Wajah Riki memerah hebat hingga ke leher. Bayangan beberapa puluh menit lalu di dalam mobil berputar ulang di kepalanya seperti film berkualitas tinggi yang diputar tanpa henti mulai aroma rambutmu, dinginnya kulit pipimu yang terkebas angin, helaan napasmu yang tertahan, dan bibir ranummu yang sedikit terbuka saat matanya terkunci di sana.
Hampir saja.
Hampir saja dia kehilangan akal sehat dan memangkas sisa jarak itu untuk menciummu. Jika saja sabuk pengaman itu tidak berbunyi, Riki tidak yakin apakah dia masih punya sisa kendali diri untuk berhenti.
βGila... lo beneran gila, Riki,β umpatnya pada diri sendiri, membalikkan badannya terlentang menatap langit-langit kamar dengan napas terengah-engah.
Ponsel di saku celananya bergetar tanpa henti. Bergetar beruntun bagai nada dering darurat.
Dengan napas yang masih berantakan, Riki menarik ponselnya. Layar ponselnya dipenuhi oleh ratusan notifikasi dari grup WhatsApp berisi lima orangβgrup bentukan James, Junghwan, Ohyul, dan Ryul.
METEOR 5
Junghwan: WOIIII RIKI MANA RIKI???
Junghwan: Laporan woy! Lo nganterin (Y/N) naik mobil lo kan tadi??? Gue liat dari jendela lobi lo berdua jalan satu payung!
Ryul: Sumpah demi apa satu payung???
James: Gue dapet laporan valid dari anak vokalis, (Y/N) naik ke mobilnya Riki pas hujan deras. Posisinya Riki bahunya basah demi ngayungin (Y/N).
Ohyul: GOKILLLL! Es batu kita akhirnya mencair gaes!
Junghwan: @Riki WOY BALES KONT*L! Lo ngapain aja di dalam mobil dua puluh menit??? Jangan bilang lo diem-dieman doang kayak patung gedung dekanat!
James: Kalau Riki diem aja sih kebangetan. Udah disiapin panggung natural masih gak dimanfaatin.
Ryul: Jangan-jangan si Riki malah ketiduran di setir? π€£
Junghwan: @Riki Woy mumpung hujan, lo pegang tangannya gak? Lo pakein jaket lo gak?
Ohyul: Kalau Riki gak pakein jaketnya, fix kita kick dia dari tongkrongan minggu ini.
Riki menatap rentetan pesan ejekan dan introgasi dari keempat temannya itu dengan mata memicing. Rasa malu yang luar biasa membakar dadanya sampai rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut terhalang gengsi. Dia mengepalkan tangannya, lalu mengetik balasan pendek dengan jari gemetaran karena menahan malu.
Riki: Bising lo semua. Gue udah sampe kosan.
Junghwan: ANJIR DIBALES!
Junghwan: Gimana bro? Gimana responsnya (Y/N)? Lo di-unblock gak???
James: Liat emotnya kalem gitu pasti ada progression nih. Unblock gak, Ki?
Riki: Udah. Dia udah unblock wa gue.
Junghwan: AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!
Ryul: DEMI APAAA??? ANJIR DEMI APA DIBUKA BLOKIRNYA?!
Ohyul: MANTAP BERSATU KEMBALI KITA PUNYA AURA TONGKRONGAN CERAH!
Junghwan: Terus terus? Lo omongin apa aja di mobil? Lo nembak dia gak?!
Riki: Gak lah anjir.
Gue cuma nganterin pulang.
James: Tapi lo kasih jaket lo kan?
Riki: ...iya.
Junghwan: WKWKWKWKWK MAMPUS LO RIKI KENA KARMA! Dulu sok-sokan dingin sekarang jaketnya dikasih-kasih!
Ryul: Besok-besok lo yang beliin dia bakso kuah tanpa sambel ya Ki π€£
Riki tidak membalas lagi. Dia mematikan notifikasi grup itu dan melempar ponselnya ke ujung kasur. Dia menutupi matanya dengan lengan tangannya, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
Di balik rasa malu akibat digoda teman-temannya, ada satu kenyataan manis yang merayap di dadanya malam itu kalau pesannya dibalas olehmu. Blokirannya dibuka. Dan perjalanan panjang untuk mendapatkan hatimu kembali baru saja menemukan celah cahaya pertamanya.
to be continued





Gemasssβ¦ lanjut ka π«Άπ
avvvvv lucu bangettttπ€©π€©π€©π€©