6 Sharing With Daddy
Heeseung & Riki
“Riki, aku mohon... jangan kasih tahu Mas Heeseung. Aku bisa lakuin apa aja, tapi jangan hancurin pernikahan ini...” Air matamu luruh tanpa bisa dibendung lagi, membasahi pipimu yang pucat saat kamu berlutut di atas kasur, mencengkeram kaus hitam Riki dengan tubuh yang gemetar hebat.
Riki menatap tangisanmu tanpa seulas pun rasa iba. Alih-alih melunak, ketakutanmu justru menjadi bahan bakar bagi ego dan cemburu butanya yang sudah telanjur hangus mendengar desahanmu untuk ayahnya siang tadi. Pria berusia dua puluh tahun itu tersenyum miring, senyuman dingin yang menandakan bahwa dia memiliki kuasa mutlak atas hidupmu detik ini.
“Apa aja, Sayang?” Riki berbisik parau, jemarinya yang kasar mengusap air matamu dengan penekanan yang kuat, sebelum tangannya bergerak turun, mencengkeram kerah swetermu dan menyentaknya kasar hingga rajutan itu robek, mengekspos hamparan kissmark merah buatan Heeseung yang menumpuk di atas bekas miliknya. Matanya menggelap seketika. “Kalau gitu, bersihin sisa Daddy dari dalam sini. Aku nggak sudi milikku dikotorin sama orang lain, bahkan oleh Daddy sekalipun.”
Tanpa memberikanmu kesempatan untuk bernapas, Riki menarik tubuh lemasmu ke dalam kungkungannya. Dia mengambil kendali penuh atas tubuhmu yang sudah mati rasa. Dengan kekejaman yang didorong rasa kepemilikan yang menyimpang, Riki memaksakan jarinya masuk terlebih dahulu, mengobok-obok intimu dengan kasar, memaksa luapan sperma Heeseung yang menggenang di dalam rahimmu keluar dan mengalir membasahi sprei. Kamu menangis terisak, menggigit bahu Riki untuk menahan rasa perih dan penghinaan psikologis yang menghantam jiwamu.
Belum sempat kamu memulihkan napas dari sisa “pembersihan” paksa itu, Riki langsung menghujamkan miliknya yang sudah menegang panas dengan satu hentakan brutal yang langsung menusuk mulut rahimmu.
“AAAAHHH! RIKI!”
Jeritanmu tertahan di dadanya yang bidang. Hantaman Riki kali ini berkali-kali lipat lebih beringas daripada subuh tadi. Dia menunggangimu tanpa ampun, membalas setiap desahan yang kamu berikan pada Heeseung dengan sodokan-sodokan dalam yang menghancurkan sisa kekuatanmu. Setiap kali pangkalnya menumbuk keras, suara penyatuan kalian terdengar becek dan vulgar, memantulkan gema dosa di dalam kamar yang sunyi.
Riki mencengkeram rahangmu, memaksamu menatap matanya yang dipenuhi kilatan obsesi saat dia mempercepat ritmenya secara gila-gilaan. Tubuhmu yang sudah dieksploitasi sejak semalam tidak mampu lagi menahan gempuran intensitas ini. Kedutan hebat kembali menyerang intimu, menjepit milik Riki begitu erat hingga pria muda itu mengerang parau, memelukmu kasar dan menumpahkan seluruh cairannya yang pekat, panas, dan melimpah tepat di mulut rahimmu-menggantikan seluruh jejak ayahnya dengan benih miliknya sendiri.
Hantaman orgasme yang kesekian kalinya itu, bersamaan dengan pelepasan beringas Riki, membuat pandangan matamu mendadak memutih. Kepalamu terkulai lemas di bahu Riki, hampir kehilangan kesadaran sepenuhnya karena kelelahan fisik dan mental yang terkuras habis.
Malam pun tiba, membawa atmosfer yang begitu mencekam ke dalam kediaman Lee. Jarum jam dinding di kamar utama terus berdetak konstan, menunjukkan pukul sembilan malam-waktu di mana mobil Heeseung biasanya sudah memasuki pekarangan rumah. Kamar yang beberapa jam lalu menjadi saksi pergulatan panas itu kini terasa dingin dan menekan, hanya diterangi oleh pendar lampu temaram yang dinyalakan Heeseung siang tadi.
Heeseung belum kembali, namun nerakamu sudah dimulai lebih awal.
Riki tidak kembali ke kamarnya. Pria muda itu duduk dengan santai di atas kursi santai besar yang terletak di sudut kamar utama milik ayahnya. Pakaiannya sudah kembali rapi, namun auranya sangat mengancam. Di atas pangkuannya, kamu duduk dengan terpaksa. Kedua tangan Riki mengunci pinggangmu dengan cengkeraman yang begitu kencang dan posesif, memastikan kamu tidak bisa bergerak seinci pun untuk melarikan diri.
Tubuhmu dibalut oleh sweter baru yang longgar, namun di balik kain itu, intimu masih berkedut sensitif, terasa penuh dan basah oleh sisa luapan cairan Riki yang sengaja tidak dia izinkan untuk kamu bersihkan. Kamu duduk di sana dengan tubuh yang gemetar hebat, sedingin es. Setiap detak jam dinding terasa seperti langkah kaki malaikat maut yang siap menjemput harga dirimu.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil Heeseung terdengar dari arah gerbang depan, disusul oleh suara deru mesin yang perlahan mati di garasi bawah. Jantungmu seolah mencelat keluar dari rongga dadanya, keringat dingin mengucur deras di pelipismu. Kehancuran mutlak pernikahanmu tinggal hitungan menit.
Kamu menoleh sekilas pada Riki dengan mata memohon yang berkaca-kaca, berharap ada sedikit belas kasihan di hatinya. Namun, Riki justru mendongak, menatap ke arah pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Sebuah senyuman menantang, angkuh, dan penuh kemenangan terukir di bibir tipisnya saat mendengar suara langkah kaki Heeseung yang mulai menaiki anak tangga kayu dengan ritme yang berat.
“Daddy sudah datang, Sayang,” bisik Riki tepat di telingamu, mempererat kunciannya di pinggangmu saat bayangan tubuh Heeseung mulai muncul di ujung koridor. “Mari kita lihat, apa Daddy masih bisa manggil kamu ‘Sayang’ setelah tahu kita pacaran di belakangnya.”
Suara langkah kaki Heeseung yang menaiki tangga kayu jati itu terdengar konstan, berat, dan beritme teratur. Bagi telinga orang biasa, itu mungkin hanya suara seorang suami yang pulang ke rumah setelah hari yang melelahkan di kantor. Namun bagi kamu yang saat ini berada di dalam kuncian lengan Riki, setiap ketukan pantulan sepatu pantofel Heeseung di lantai atas terasa seperti hitungan mundur menuju tiang gantungan.
Kamar utama pernikahanmu hanya diterangi oleh pendar lampu tidur temaram berwarna kuning redup di sudut ruangan. Suasana di dalam kamar begitu pekat oleh aroma dosa yang tertinggal, percampuran antara parfum maskulin Riki yang tajam, sisa keringat dingin dari ketakutanmu, dan aroma vulgar dari penyatuan beringas yang baru saja selesai beberapa saat lalu di atas ranjang yang kini berantakan.
“Riki, lepas... Daddy kamu udah di depan pintu,” bisikmu terengah-engah, suaranya nyaris tidak keluar karena tenggorokanmu kering akibat terlalu banyak menangis dan berteriak menahan orgasme paksaan Riki sore tadi.
Kamu mencoba menyentak pinggangmu, berusaha lepas dari pangkuan anak tirimu itu. Namun, kuncian tangan Riki di pinggang belakangmu justru semakin mengencang, menekan tubuh bagian bawahmu untuk tetap menempel rapat di atas paha tegapnya. Jemari Riki yang kokoh sengaja menekan kulit pinggangmu hingga tenggelam, menembus rajutan sweter barumu, tepat di atas memar-memar sensitif yang masih berdenyut perih.
“Diem, Y/N. Jangan gerak kalau kamu nggak mau Daddy denger suara desahanmu lagi sekarang,” Riki berbisik tepat di depan bibirmu. Napasnya yang hangat dan beraroma mint menerpa wajahmu yang pucat pasrah. Ujung bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang angkuh dan dingin. Dia tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Ego masa mudanya justru merasa tertantang oleh kedatangan pria yang paling dia hormati sekaligus dia cemburui di rumah ini.
Krieeek...
Pintu jati besar kamar utama yang memang sengaja dibiarkan terbuka sedikit oleh Riki, perlahan terdorong lebar.
Heeseung berdiri di sana, di ambang pintu. Setelan jas kerjanya sedikit berantakan, dasinya sudah dilonggarkan, dan tas kerja kulitnya masih berada di genggaman tangan kanannya. Di wajah pria berusia empat puluh tahun itu awalnya terpatri kelelahan yang amat sangat setelah seharian mengurus masalah darurat di pabrik. Dia pulang dengan harapan bisa memeluk istri mudanya yang manis untuk meredakan stresnya.
Namun, pemandangan di dalam kamar membuat seluruh pasokan oksigen di sekitar Heeseung seolah tersedot habis.
Manik mata tajam Heeseung membeku. Dia menatap lurus ke arah kursi santai di sudut kamar. Di sana, anak kandung laki-lakinya yang baru berusia dua puluh tahun sedang duduk dengan santai sembari memangku istrinya. Posisi kalian terlalu intim untuk disebut sebagai hubungan antara ibu tiri dan anak kandungnya-kedua kakimu menjuntai di sisi paha Riki, dan tangan Riki mengunci pinggangmu dengan kepemilikan yang mutlak.
Bruk.
Tas kerja kulit mahal milik Heeseung terlepas dari genggamannya, jatuh menghantam lantai kayu dengan suara berdebum yang berat. Itu adalah satu-satunya suara fisik yang terdengar, karena setelah itu, keheningan yang mencekam dan mematikan langsung menyelimuti atmosfer kamar.
Tidak ada teriakan. Tidak ada amarah yang meledak-ledak seperti pria murahan. Heeseung adalah seorang pria matang yang terdidik, amarahnya tidak termaterialisasi dalam bentuk makian kasar, melainkan dalam bentuk aura dingin yang seketika menurunkan suhu ruangan hingga terasa membekukan tulang.
Rahang tegas Heeseung mengeras hingga urat-urat di sekitar pelipisnya menonjol tegang. Tatapan matanya yang biasanya hangat dan memuja saat menatapmu, kini berubah menjadi sepasang belati es yang siap menguliti kalian hidup-hidup. Dia melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan tanpa menimbulkan suara kasar, lalu memutar selot kuncinya. Klik.
“Riki,” suara Heeseung terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar menahan badai emosi di dalam dadanya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki penekanan yang mengintimidasi mental. “Turunkan tanganmu dari pinggang istriku. Sekarang.”
Bukannya mematuhi perintah sang ayah, Riki justru terkekeh rendah. Suara tawa anak tirimu itu terdengar sangat memprovokasi di tengah kesunyian yang menegangkan ini. Riki mendongak, menatap langsung ke arah mata Heeseung dengan tatapan menantang yang tidak kalah tajam. Hubungan darah di antara mereka membuat sepasang pria Lee ini memiliki aura dominasi yang serupa, dan malam ini, kedua aura itu berbenturan dengan sengit memperebutkan satu wanita yang sama.
“Istri Daddy?” Riki mengulang kalimat itu dengan nada mengejek yang kental. Tangan kirinya bergerak naik, dengan sengaja menarik kerah sweter longgar yang kamu kenakan, menyentaknya ke bawah hingga mengekspos seluruh bagian leher dan pundak kirimu yang dipenuhi bercak merah keunguan.
“Lihat baik-baik, Dad,” bisik Riki dengan senyum miring yang kejam, memamerkan hamparan tanda di kulitmu langsung ke depan mata ayahnya. “Daddy mikir semua tanda ini punya Daddy karena cemburu buta tadi siang? Buka mata Daddy lebar-lebar. Tanda yang warnanya ungu gelap di bawah kissmark baru Daddy itu... aku yang buat subuh tadi. Di atas kasur pernikahan Daddy, saat Daddy masih sibuk rapat di luar kota.”
Mendengar provokasi yang begitu telanjang, napas Heeseung mendadak memburu berantakan. Pria paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Kebenaran yang dilemparkan Riki menghantam egonya sebagai seorang suami dan seorang ayah hingga hancur berkeping-keping.
“Y/N...” Suara Heeseung beralih padamu, bergetar hebat antara rasa terluka yang mendalam dan amarah yang menuntut penjelasan. “Katakan padaku kalau anak ini cuma membual. Katakan kalau itu nggak bener, Sayang...”
Kamu tidak bisa menjawab. Seluruh tubuhmu bergetar hebat di dalam kuncian Riki. Air mata yang sejak tadi kamu tahan kembali tumpah deras membasahi pipimu, menyadari bahwa bom waktu yang kamu takuti selama ini telah meledak, dan dunia barumu yang nyaman bersama Heeseung kini berada di ambang kehancuran mutlak.
“Y/N... tatap aku.”
Suara Heeseung tidak lagi sedingin sebelumnya. Kini, ada retakan emosional yang kentara dalam bariton beratnya-sebuah permohonan yang putus asa dari seorang suami yang dunianya baru saja diguncang gempa mendadak. Heeseung melangkah maju. Setiap langkah pantofelnya di atas lantai kayu terasa lambat, seolah dia harus menyeret seluruh egonya yang terluka. Ketika dia sampai di depan kursi santai, tangan kanannya yang gemetar terulur, mencengkeram pergelangan tangan kananmu yang dingin.
Sentuhan Heeseung terasa hangat, kontras dengan hawa mencekam di kamar itu. Dia menarik tubuhmu dengan sentakan yang tegas namun penuh kehati-hatian, mencoba memisahkanmu dari pangkuan anak kandungnya sendiri.
Namun, Riki tidak membiarkannya terjadi begitu saja.
Melihat ayahnya mencoba mengambil apa yang dia anggap sebagai miliknya, kilatan beringas di mata Riki mengeras. Sebelum tubuhmu sempat sepenuhnya terangkat dari pangkuannya, tangan kiri Riki yang kokoh melingkar di pinggang belakangmu, mencengkeram rajutan swetermu dan menarikmu kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dominan. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kirimu.
Kamu terjebak di tengah-tengah. Lengan kananmu ditarik oleh Heeseung, sementara lengan kiri dan pinggangmu dikunci mati oleh Riki. Tarikan fisik yang saling bertolak belakang dari dua pria Lee yang sedang dikuasai cemburu buta ini membuat tubuhmu yang sudah lemas sejak sore tadi terasa seolah akan terbelah menjadi dua.
“Riki, lepas! Dia istriku!” Heeseung membentak, urat lehernya menegang, kehilangan kendali atas pembawaan tenangnya untuk pertama kali malam ini.
“Istri yang Daddy rebut dari aku!” Riki balas menggeram, suaranya naik satu oktav, matanya merah menatap langsung pada sang ayah tanpa ada lagi rasa hormat. “Aku pacarnya, Dad! Kami pacaran sebelum Daddy bawa dia ke rumah ini dengan status istri muda Daddy! Aku nggak akan lepasin dia lagi!”
“Y/N, pilih...” Heeseung mengabaikan teriakan Riki, matanya yang berkaca-kaca menatap langsung ke dalam manik matamu yang basah. Cengkeramannya di tanganmu mengerat, menyalurkan rasa sakit yang masif. “Pilih malam ini juga, Sayang. Ikut aku dan tinggalkan kegilaan ini, atau kamu hancurin aku sepenuhnya demi anak ini.”
“Jangan bohongi dirimu sendiri, Y/N,” bisik Riki tepat di telingamu dari arah belakang, embusan napasnya membuat tubuhmu meremang ketakutan. “Kamu suka gimana kasarnya aku pas pacaran, kamu suka caraku miliki kamu. Pilih aku, atau aku bakal bikin hidupmu di rumah ini jadi neraka.”
Tekanan udara di dalam kamar temaram itu mendadak terasa begitu berat, menyumbat tenggorokanmu hingga kamu kesulitan untuk sekadar meraup oksigen. Ultimatum dari kedua pria yang sama-sama kamu cintai dengan cara yang berbeda itu menghantam telingamu bagai gada besi.
Air matamu luruh semakin deras, membasahi pipi hingga jatuh menyembur di atas punggung tangan Heeseung yang mencengkerammu. Seluruh tubuhmu bergetar hebat, kepalamu berdenyut pusing akibat kombinasi kelelahan fisik setelah digempur habis-habisan oleh Riki sore tadi dan trauma mental yang kini menghadang di depan mata.
“M-Mas Heeseung... R-Riki... j-jangan...” kamu mulai bersuara, namun kalimatmu keluar secara terbata-bata, terputus oleh isakan parau yang menyakitkan di dada. Kamu menggelengkan kepala dengan lemah, rambut acak-acakkanmu menutupi sebagian wajahmu yang pias.
“A-aku... aku nggak b-bisa...” kamu terisak, napasmu mulai memburu tidak teratur, tanda awal dari panic attack yang mulai menyerang sarafmu. Kamu menatap Heeseung dengan tatapan memohon yang hancur. Di dalam lubuk hatimu yang paling dalam, kamu sangat menyayangi pria matang ini. Kamu mencintai kelembutannya, kenyamanan yang dia berikan, status terhormat sebagai istrinya, dan bagaimana dia selalu memperlakukanmu dengan baik tanpa banyak menuntut ini-itu.
Namun, saat kamu melirik Riki melalui sudut matamu, hatimu juga menolak untuk melepaskannya. Kamu telah telanjur kecanduan pada keliaran Riki. Perilaku kasarnya yang posesif, perhatiannya yang intens selama kalian berpacaran diam-diam, dan bagaimana cara pria muda itu membakar gairahmu hingga ke titik puncak selalu berhasil membuatmu tak berdaya. Kamu menyayangi keduanya. Kamu menginginkan keduanya. Dan kenyataan bahwa kamu tidak bisa memilih salah satu di antara mereka tanpa menghancurkan yang lain membuat jiwamu serasa terkoyak.
“A-aku sayang... s-sayang kalian b-berdua...” bisikmu akhirnya, kalimat jujur yang paling berdosa itu lolos dari bibirmu yang bergetar di sela tangisan. “J-jangan paksa aku m-milih... a-aku nggak b-bisa... hnghh...”
Mendengar pengakuan terlarang itu, Heeseung dan Riki sama-sama tertegun, namun tarikan mereka pada tubuhmu belum juga mengendur. Di tengah kepungan ego beringas ayah dan anak tersebut, pandangan matamu mendadak mulai mengabur. Warna kuning temaram dari lampu sudut kamar perlahan meredup menjadi kegelapan di matamu. Dada bidangmu naik turun dengan sangat cepat, kekurangan pasokan udara, saat tubuh lemasmu perlahan kehilangan daya tapak dan mulai luruh jatuh di antara dekapan kedua pria yang sedang bertarung memperebutkanmu.
to be continued
kalo bisa dua kenapa harus satu ya kan?
sepakat?





Gw juga kalau jadi yeen bingung mau pilih yg mana ,capcipcup semua kecup
SEPAKAT! 🤩