ada unsur pemaksaan, jadi kalo ga nyaman langsung drop aja demi kenyamanan bersama.
jangan lupa tinggalkan jejak
🔥
Lampu amber (kuning) redup menyinari sofa kulit putih raksasa yang berada di tengah ruangan luas berlantai marmer itu. Di luar dinding kaca tempered, kabut tebal pegunungan mulai turun menyelimuti jurang pinus, menciptakan ilusi bahwa dunia hanya tersisa di dalam kubah kaca ini.
Dua juru kamera di sudut ruangan hanya bergerak dalam senyap, membidik setiap jengkal gestur tanpa mengeluarkan satu instruksi pun. Tidak ada naskah arahan di atas meja. Tidak ada panduan posisi dari sutradara. Tensi di dalam ruangan langsung melesat ke titik didih saat Riki merobek alur formal syuting tanpa kompromi.
Tanpa basa-basi atau aba-aba manis, tangan Riki yang kokoh mencengkeram kain gaun rajutmu di bagian dada, menariknya ke bawah hingga robek di sepanjang jahitan samping. Gaun itu luruh ke lantai marmer dingin bersama pakaian dalammu, mengekspos tubuh polosmu seutuhnya di bawah sorotan lensa dan tatapan matanya yang menggelap. Sebelum kamu sempat memproses keterkejutanmu, Riki memutar tubuhmu dengan satu gerakan tegas dan mendorongmu membungkuk di atas sandaran sofa kulit.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pantatmu yang padat. Suara benturan kulit itu bergema nyaring di langit-langit vila yang tinggi, meninggalkan sengatan panas dan jejak telapak tangan kemerahan di atas kulit putihmu.
“R-riki... shh...” Napasmu tersentak hebat, kedua tanganmu refleks mencengkeram erat sandaran sofa saat rasa perih bercampur gelombang gairah mendadak menyengat saraf panggulmu.
Plak!
Tamparan kedua mendarat lebih kuat di sisi lain, disusul oleh cengkeraman jemari panjang Riki yang meremas kulit pantatmu tanpa ampun. Tubuhmu melengkung rendah, napasmu memburu saat ujung jarinya yang basah mulai menyusup ke sela paha bagian dalam, mengusap pintu intimu yang mulai merekah basah akibat kombinasi rasa kaget dan sensasi perih yang membakar.
“Basah secepat ini?” bisik Riki rendah di belakang punggungmu, suaranya sarat akan nada meremehkan yang sangat sensual. “Gue bahkan belum mulai, (Y/N).”
Jarinya menekan dan memainkan klitorismu dengan tempo kasar yang membuat kedua kakimu bergetar hebat. Sensasi panas yang mendesak di dalam sana membuat pinggulmu secara naluriah bergerak mundur, mencari kepenuhan yang biasa kamu dapatkan.
“Riki... please...” rengekmu parau, membuang gengsi saat desakan nikmat mulai membakar akal sehatmu. “Masuk sekarang...”
Riki terkekeh rendah—sebuah tawa dingin yang penuh kuasa.
“Minta yang bener,” bisiknya kejam sembari menarik tangannya menjauh dari selangkanganmu, membiarkanmu menggantung di tepi jurang gairah yang menyiksa. “Lo pikir lo yang nentuin kapan gue masuk?”
Riki menarik bahumu ke belakang, memaksamu berbalik menghadapnya lalu mendorongmu berlutut di atas lantai marmer yang dingin di hadapannya. Riki berdiri tegak di depanmu. Dia menanggalkan celana kain hitamnya, mengekspos miliknya yang sudah menegang sempurna ke udara ruangan. Saat matamu tertuju ke sana, napasmu mendadak tercekat di tenggorokan.
Milik Riki berdiri kokoh, berurat tebal, dan yang paling membuat jantungmu mencelus: tidak ada lapisan pengaman di atasnya.
Seluruh aturan keamanan yang kamu pegang teguh selama enam tahun kembali diinjak-injak begitu saja. Ukurannya yang jauh lebih masif dari rata-rata klienmu tampak begitu mengintimidasi di bawah cahaya redup.
“Sekarang,” suara Riki terdengar begitu datar dan mutlak dari atas kepalamu. “Pakai mulut lo.”
Tubuhmu seketika membeku. Rasa panik yang murni merayap naik ke dada.
Sepanjang kariermu di industri malam, oral sex adalah hal yang hampir tidak pernah kamu lakukan untuk klien luar. Alasannya bukan sekadar rasa tidak suka, melainkan sebuah memori kelam yang terkunci rapat di masa lalumu bersama Jake. Dulu, di awal kariermu, Jake selalu memaksamu mengulum miliknya tanpa pengaman. Jake menyukai sensasi bibirmu yang penuh, namun bagi dirimu yang saat itu masih rapuh dan trauma, dorongan keras di pangkal tenggorokan selalu memicu rasa mual hebat dan tangisan histeris yang harus kamu telan sendiri demi bertahan hidup.
“R-riki... nggak...” kamu menggeleng lemah, mencoba memundurkan kepalamu menjauh. “Gue nggak bisa... gue nggak pernah main oral tanpa—”
Sebelum penolakanmu selesai, tangan Riki menyusup ke sela-sela rambutmu. Gerakannya tidak kasar, namun cengkeramannya di akar rambutmu begitu kokoh, mengunci kepalamu di tempat hingga kamu tak bisa membuang muka barang satu sentimeter pun.
“Lo bisa,” bisik Riki tenang tapi tak terbantahkan. “Buka mulut lo, (Y/N).”
Ibu jari Riki menekan dagumu ke bawah, memaksa bibirmu terbuka. Tanpa memberi jeda bagimu untuk menenangkan diri, Riki menuntun kepala kejantanannya yang panas dan basah oleh pre-cum langsung menembus masuk ke dalam rongga mulutmu.
Ghk—
Sensasi padat yang langsung memenuhi rongga mulut membuat dinding tenggorokanmu menyempit. Ukuran Riki yang luar biasa tebal merenggangkan bibirmu hingga batas maksimal, memaksa kedua sudut bibirmu tertarik kaku. Rasa asin-manis yang khas dan aroma kulitnya yang dominan seketika menginvasi seluruh indra pengecapmu.
Refleks mual yang terkubur dari masa lalu mendadak bangkit, memicu air mata murni mengalir deras membasahi kedua pipimu. Kamu terbatuk halus di sela-sela sumbatan itu, air liur yang tak tertampung menetes membasahi dagu dan turun ke dadamu yang telanjang. Pandangan matamu yang berkaca-kaca menatap lurus ke atas, menatap Riki dengan tatapan putus asa dan penuh permohonan agar dia menghentikan tekanan ini.
Namun bukannya menarik diri melihat air matamu, tatapan Riki justru semakin menggelap—menikmati sepenuhnya pemandangan wajahmu yang tak berdaya menampung miliknya. Jemarinya di rambutmu menahan kepalamu dengan stabil, sementara pinggulnya mulai bergerak maju perlahan, mendorong kejantanannya semakin dalam ke dalam mulutmu, memaksa lidah dan dinding mulutmu memeluk setiap jengkal ukurannya yang padat tanpa celah sedikit pun.
Genggaman tangan Riki di sela-sela rambutmu kian mengencang. Ritme pergerakannya tak lagi memberi ruang untuk sekadar menarik napas lega. Setiap dorongan pinggulnya terasa semakin dalam dan menuntut, menekan batas tenggorokanmu hingga suara erangan basah dan ritme hisapan yang terpaksa kamu buat bergema memenuhi ruang vila yang sunyi.
Air mata yang mengalir di sudut matamu jatuh membasahi lututmu yang bertumpu di atas lantai marmer. Kamu terbiasa mengendalikan lawan main di depan kamera, namun dominasi Riki malam ini benar-benar merenggut seluruh kendali itu.
Mendengar suara tertahan dari bibirmu dan merasakan kehangatan dinding mulutmu yang membungkusnya rapat, napas Riki berubah semakin memburu dan berat. Urat-urat di lehernya menegang jelas, otot perutnya berkontraksi keras saat gelombang pelepasan pertama menghantam kesadarannya tanpa ampun.
“Telen semuanya, (Y/N)...” bisik Riki serak di sela erangan beratnya.
Sebelum kamu sempat menarik diri, hentakan dalam yang tiba-tiba mengunci kepalamu di tempat. Pelepasan yang begitu hangat dan pekat menyembur bertubi-tubi langsung ke dalam pangkal tenggorokanmu. Jumlahnya yang banyak seketika memenuhi rongga mulut, membuatmu tersedak dan terbatuk tertahan di bawah tekanannya.
Tangan Riki menahan rahangmu sesaat, memastikannya meluncur melewati kerongkonganmu hingga tandas, sebelum akhirnya perlahan menarik miliknya keluar dari bibirmu yang memerah dan basah kuyup. Kamu terbatuk pelan, berusaha mengais oksigen dengan dada yang naik-turun hebat. Setetes cairan yang tersisa menetes di dagumu, meninggalkan rasa kebas bercampur kelelahan mental yang mendalam. Namun, jeda itu hanya berlangsung beberapa detik.
Riki mengulurkan tangan kokohnya, meraih lenganmu dan menarik tubuh lemasmu berdiri dari lantai dingin. Dia membimbingmu melangkah menuju sofa kulit putih raksasa di tengah ruangan, lalu mendorong pundakmu perlahan agar kamu duduk bersandar di sana.
“Buka kaki lo,” perintah Riki rendah, nada suaranya kembali datar dan dingin, meski tatapannya masih membakar.
Dengan kedua tangan yang sedikit gemetar menahan pegangan sofa, kamu merenggangkan kedua kakimu, mengekspos bagian paling sensitifmu yang sudah basah dan merekah akibat campuran rasa takut, perih, dan gairah yang tak bisa dipungkiri oleh tubuhmu sendiri.
Riki tidak langsung menuntaskan ronde berikutnya dengan penetrasi. Dia justru berlutut di atas lantai marmer, tepat di antara kedua paha mulusmu yang terbuka lebar. Kedua tangannya yang besar dan hangat menahan bagian dalam pahamu, menarikmu lebih maju ke ujung sofa agar posisimu terekspos sempurna di depan matanya. Matanya menatap lurus ke arah inti kewanitaanmu yang berkilau di bawah lampu amber redup, lalu mendongak menatap matamu yang masih basah oleh air mata.
“Gue mau liat seberapa jauh tubuh lo bisa merespons gue,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar di antara desau angin di luar kaca.
Tanpa peringatan lebih lanjut, Riki mencondongkan wajahnya ke depan. Hembusan napas hangatnya yang pertama menyapu kulit sensitifmu, membuat seluruh tubuhmu meremang seketika. Detik berikutnya, lidahnya yang hangat, basah, dan lentur mendarat tepat di atas titik paling sensitifmu—menjilatnya dengan satu sapuan panjang dan lambat dari bawah ke atas, mencicipi cairan tubuhmu sendiri tanpa ragu sedikit pun.
“Ah... Riki...”
Punggungmu seketika melengkung ke atas, jemarimu meremas kuat bantalan sofa saat sensasi sengatan listrik yang luar biasa tajam kembali menjalar ke seluruh saraf panggulmu. Riki memejamkan mata sesaat, menikmati rasa basahmu di lidahnya, sebelum memperdalam permainan mulutnya dengan ritme lambat yang sengaja dirancang untuk membakarmu dari dalam sekali lagi.
Lidah Riki bergerak dengan kelihaian yang benar-benar di luar dugaan. Bukan sekadar jilatan permukaan, ujung lidahnya yang hangat dan lentur mulai menekan, menusuk masuk ke celah intimu yang basah kuyup, lalu menarik diri perlahan hanya untuk memfokuskan hisapan kuat tepat di titik klitorismu.
Sensasi basah, hangat, dan ritme hisapannya yang begitu presisi seketika mengirimkan gelombang kejut ke seluruh saraf panggulmu. Tubuhmu menggeliat hebat di atas sofa kulit putih, pinggulmu terangkat tanpa sadar mencari gesekan yang lebih dalam.
“R-riki... pelan... akh...”
Suaramu tercekat di tenggorokan. Kedua tanganmu yang gemetar refleks terangkat, merangsek ke sela-sela rambut hitam Riki. Niat awalmu adalah mendorong kepalanya menjauh agar kamu bisa bernapas, namun ketika lidahnya kembali meliuk dan menyesap titik sensitifmu dengan tekanan yang lebih menuntut, jemarimu justru kehilangan kendali rasional—mencengkeram helaian rambutnya erat-erat dan menekan kepalanya semakin dalam ke pangkal pahamu.
Merasakan tarikan tanganmu yang kontradiktif antara menolak dan menuntut, Riki terkekeh rendah di antara kedua pahamu. Getaran tawanya yang terasa langsung di kulit sensitifmu membuat bulu kudukmu meremang seketika. Tawa itu menjadi sinyal bahaya.
Riki justru melipatgandakan intensitas permainannya. Hisapan di klitorismu menjadi semakin kencang, tempo lidahnya bergerak cepat dan melingkar tanpa memberi jeda sedetik pun. Di saat yang bersamaan, tangan kanannya yang bebas menyusup turun.
Tanpa peringatan, dua jari panjangnya yang sudah terlumuri cairan basahmu meluncur masuk ke dalam liang intimu.
Ngh—!
Kombinasi invasi ganda itu seketika meremukkan sisa-sisa pertahanan mentalmu. Dua jarinya bergerak masuk-keluar dengan gerakan melengkung yang menghantam dinding sensitif bagian atas, sementara bibir dan lidahnya terus mengunci klitorismu dalam hisapan yang dalam dan panas. Suara basah yang tercipta dari perpaduan jari dan lidahnya beradu dengan deru napasmu yang kian memburu liar.
Kedua kakimu yang terbuka lebar bergetar hebat di udara, otot-otot paha bagian dalammu menegang kaku menahan desakan kenikmatan yang menumpuk terlampau cepat. Riki menarik bibirnya beberapa milimeter, menyisakan jarak tipis yang basah, lalu mendongak menatap matamu yang sudah berkaca-kaca dipenuhi kabut gairah.
“Lepasin semuanya, (Y/N),” bisik Riki parau, suaranya terdengar begitu berat dan memerintah di sela deru napasnya yang hangat. “Nggak usah ditahan. Gue mau ngerasain lo basah di lidah gue.”
Kalimat itu menjadi pemicu terakhir. Tekanan jarinya di dalam sana bergerak semakin rapat dan cepat, berpadu dengan hisapan lidahnya yang kembali mendarat tanpa ampun. Dinding intimu seketika berkontraksi hebat, menjepit kedua jarinya dengan sangat ketat saat gelombang pelepasan yang luar biasa deras meledak di sekujur tubuhmu.
Kamu melenguh panjang, mencakar sandaran sofa dengan tubuh melengkung pasrah, membiarkan Riki menelan dan mengecap setiap tetes pelepasanmu hingga tuntas di bawah temaram lampu studio.
Napasmu masih memburu berat, dada naik turun tak beraturan di atas sofa kulit yang licin oleh keringat. Seluruh tubuhmu terasa gemetar dan kebas setelah pelepasan barusan. Di antara pandangan matamu yang masih sedikit berkabut, kamu melihat Riki perlahan bangkit berdiri di hadapanmu.
Riki mengusap sudut bibirnya yang basah dengan punggung tangan, gerakannya santai namun sarat akan aura dominasi yang pekat. Matanya yang gelap menatap lurus ke arahmu—meneliti bagaimana tubuhmu terkulai lemas, pasrah, dan sepenuhnya terbuka di bawah sorot lampu amber studio. Dua juru kamera di sudut ruangan tetap diam membisu di balik lensa mereka, terus merekam setiap detail mikro tanpa jeda.
Riki mencondongkan tubuhnya ke depan, menopangkan kedua tangannya di sandaran sofa tepat di kedua sisi kepalamu, mengurungmu dalam jarak yang sangat intim. Hembusan napas hangatnya yang beraroma tembakau manis dan sisa rasa tubuhmu sendiri menerpa langsung di atas kulit pipimu yang memerah.
“Kita masih butuh satu adegan inti buat nutup rekaman vila ini,” bisik Riki dengan suara rendah yang bergetar pelan di telingamu.
Jemarinya yang panjang terangkat, menyelipkan helaian rambutmu yang basah ke belakang telinga, lalu turun membelai rahangmu dengan tekanan lembut yang terasa seperti ancaman terselubung.
“Gue kasih lo pilihan buat konsep take terakhir,” lanjut Riki, senyum tipis yang dingin terbit di sudut bibirnya. “Mau rough dynamic—di mana lo lepasin semua kendali lo dan ngikutin tempo kasar gue sampai selesai... atau lo mau konsep forced play? Lo pura-pura nolak, pasang ekspresi benci andalan lo, dan biarin kamera ngerekam gimana gue maksain kehendak gue ke lo sampai lo nggak punya suara lagi buat ngelawan?”
Pertanyaan itu membuat dadamu mendadak berdesir dingin bercampur sengatan gairah yang rumit. Dua pilihan yang ditawarkan Riki pada dasarnya sama saja: menuntut penyerahan total atas tubuh dan egomu. Bedanya hanya terletak pada topeng mana yang ingin kamu kenakan di depan lensa kamera.
Kamu menelan ludah pelan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa suaramu yang serak. Matamu menatap tajam ke dalam manik mata Riki yang tak bergeming, mencari sedikit saja celah keraguan di sana, namun yang kamu temukan hanyalah tekad mutlak yang siap menelanmu seutuhnya ke dalam babak berikutnya.
to be continued
abis ini bakal main agak kasar, jadi kalo kalian ga nyaman bisa langsung drop aja





gaspol danga danga, up agyy mom
Mantep bngett😋