❛❛The Curious Boy - Yang Jungwon❞
Malam keenam datang dengan atmosfer yang berbeda. Tidak ada bau cat minyak atau dinginnya es. Kali ini, kamu terbangun di sebuah kamar yang terlihat sangat “muda”. Ada poster grup band, konsol game terbaru, dan rak buku yang penuh dengan komik serta buku pelajaran SMA tingkat akhir.
Udara di sini berbau cologne segar dan bedak bayi—bau khas remaja laki-laki yang baru saja puber.
[NEW TARGET ACQUIRED: NIGHT 06]
Name: Yang Jungwon
Status: The Curious Prodigy (ABG Kepo)
Location: Jungwon’s Bedroom - Midnight Session.
[MISSION: THE FIRST LESSON]
“Jungwon adalah ketua OSIS yang teladan, tapi di balik pintunya yang tertutup, dia punya tumpukan majalah dewasa dan riwayat pencarian internet yang penuh rasa penasaran. Dia ingin tahu rasanya menjadi dewasa, tapi dia terlalu takut untuk memulai. Jadilah ‘pelajaran’ pertamanya. Ajari dia bahwa dunia dewasa tidak seindah yang dia bayangkan.”
Kamu melihat dirimu di cermin besar di kamar itu. Aplikasi memberimu pakaian yang jauh lebih “santai” tapi mematikan: sebuah oversized shirt putih tipis tanpa celana, hanya menggunakan underwear renda di baliknya. Rambutmu dibiarkan sedikit berantakan, memberikan kesan baru bangun tidur yang sangat menggoda.
Di sudut kamar, seorang remaja laki-laki sedang duduk di depan meja belajarnya. Dia mengenakan kaos rumahan biasa, wajahnya sangat imut dengan mata bulat yang cerdas. Itu dia, Yang Jungwon. Dia terlihat sedang fokus menatap layar laptopnya, namun telinganya memerah saat dia melihat sebuah video “edukasi dewasa” yang sedang dia tonton secara sembunyi-sembunyi.
Jungwon menghela napas, menyugar rambutnya dengan frustrasi. “Susah banget dipraktekin kalau cuma nonton...” gumamnya polos.
Tepat saat itu, kamu sengaja membuat suara dengan menjatuhkan salah satu bukunya dari rak. Jungwon tersentak, hampir terjatuh dari kursinya, dan dengan panik menutup laptopnya.
“S-Siapa?!” serunya dengan suara yang sedikit pecah—khas remaja yang sedang puber.
Kamu melangkah keluar dari balik tirai gelap, berjalan pelan ke arahnya. Cahaya lampu meja menyinari kakimu yang jenjang dan kaus tipis yang mengekspos lekuk tubuhmu. Jungwon membeku. Matanya yang bulat membesar, menatapmu dari bawah ke atas tanpa berkedip. Mulutnya sedikit terbuka, dan kamu bisa melihat jakunnya naik-turun saat dia menelan ludah dengan susah payah.
“Katanya mau praktek?” bisikmu sambil bersandar di meja belajarnya, menatapnya dengan pandangan menggoda. “Mau gue ajarin, Jungwon?”
Jungwon gemetar. Ini bukan lagi video di layar, ini adalah kenyataan di depan matanya. Dia merasa takut, tapi rasa keponya yang sangat tinggi sebagai ABG jauh lebih besar. Dia menatapmu dengan binar mata yang haus akan pengetahuan baru.
“Lo... lo siapa? Kok bisa masuk ke kamar gue?” tanya Jungwon, suaranya gemetar tapi dia tidak bergerak menjauh. Malah, tangannya perlahan terjulur, ingin menyentuh ujung kausmu karena dia masih tidak percaya kalau kamu nyata.
Tawa kecilmu pecah melihat tingkah Jungwon yang bener-bener di luar prediksi. Anak ini bukannya teriak maling atau lari ketakutan, dia malah celingukan bingung, matanya yang bulat itu natap kamu dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan binar kepo yang nggak bisa ditutupin.
“Lo... hantu ya? Kok bisa nembus pintu kamar gue?” tanyanya polos banget, suaranya agak serak karena hormon pubernya lagi di puncak.
“Kalau hantu, emang bisa sehangat ini?” balasmu sambil meraih tangannya dan menempelkannya ke pipimu.
Jungwon tersentak. Kulitnya yang halus khas remaja itu bersentuhan dengan kulitmu yang hangat. Dia gemetar, tapi dia nggak narik tangannya. Malah, jari-jarinya mulai merayap berani ke arah bibirmu, lalu turun ke kerah kaus putihmu yang tipis. Dia bener-bener bereksperimen, kayak lagi megang barang pecah belah yang paling berharga.
“Dunia nyata itu nggak sekeren video yang lo tonton tadi, Jungwon. Mau tau bedanya?” bisikmu tepat di telinganya.
Jungwon sempat ragu. “Tapi... gue nggak kenal lo. Kalau nyokap gue masuk gimana?” Dia mencoba nolak, tapi pas kamu natep matanya dalam-dalam, pengaruh aplikasi dan sihir godaanmu bikin dia luluh seketika. Dia mendadak jadi submissive, nurut banget pas kamu narik tangannya ke arah tempat tidur.
Kamu mendudukkan dia di pinggir kasur. Jungwon nunduk, mukanya merah padam sampai ke telinga. Tapi dasar ABG kepo, dia sempat mencoba sok tahu. Dia narik napas panjang, mencoba masang muka serius kayak cowok-cowok dominan yang dia liat di internet.
“Gue... gue tau kok caranya. Lo diem aja, biar gue yang pimpin,” ucapnya sambil mencoba narik pinggangmu buat duduk di pangkuannya. Gerakannya kikuk banget, tangannya gemetar pas megang pahamu.
Kamu nggak bisa nahan tawa. Pas dia mencoba nyium lehermu dengan cara yang dia pikir “keren”, kamu malah narik rambutnya pelan, bikin dia ndongak, dan lo balas dengan ciuman yang jauh lebih dalam dan nuntut. Jungwon langsung freeze. Tangannya yang tadi mau sok dominan malah lemes, dan dia cuma bisa megang sprei kasur kuat-kuat.
“Baru segini aja udah gemetar? Katanya mau pimpin?” bisikmu sambil mulai ngelepas kancing kemejamu satu per satu di depan matanya.
Jungwon bener-bener kehilangan kata-kata. Dia ngeliat pemandangan di depannya dengan napas yang mulai nggak beraturan. Status “Ketua OSIS Teladan” yang selalu dia banggain seolah menguap gitu aja dari kepalanya. Dia bener-bener pasrah pas kamu mendorongnya pelan sampai dia telentang di kasur.
“Gue bakal kasih tau lo ‘praktek’ yang sebenernya, Jungwon. Pelajaran pertama: jangan pernah coba-coba sok tau di depan instruktur lo,” ucapmu sambil merangkak naik ke atas tubuhnya, menjebaknya di bawah berat tubuhmu.
Jungwon cuma bisa nggigit bibir bawahnya, matanya natep kamu dengan tatapan memuja sekaligus takut. Dia bener-bener nggak berdaya di bawah kendalimu.
Kamu mulai ngelepas kaos rumahan yang dia pake, nunjukin tubuh remaja yang belum terlalu berotot tapi punya garis-garis yang mulai terbentuk. Jungwon merintih pelan pas tangan dinginmu menyentuh kulit perutnya yang sensitif.
“Kak... pelan-pelan... gue belum pernah...” gumamnya lirih, bener-bener nunjukin sisi submissive-nya yang paling dalem.
Jungwon tampak seperti rusa yang terjebak di lampu sorot mobil; matanya membesar, napasnya tersengal pendek-pendek, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat saat kamu mulai memberikan Sensory Overload yang tak terbayangkan oleh otak remajanya yang jarang memikirkan hal-hal ‘dewasa’.
Kamu tidak memberinya ruang untuk bersembunyi atau menutup mata. Dengan dominasi penuh, kamu menarik celana pendek dan pakaian dalamnya dalam satu gerakan efisien, membiarkannya terekspos sepenuhnya di bawah lampu kamarnya yang terang.
“Liat ke sini, Jungwon. Jangan merem,” perintahmu dengan suara rendah yang mutlak. “Lo mau belajar, kan? Pelajaran pertama adalah observasi.”
Kamu duduk di antara kedua kakinya yang terbuka lebar di atas sprei bermotif garis-garis itu. Kontras antara kulitmu yang dewasa dan tubuhnya yang masih transisi menuju pria dewasa menciptakan pemandangan yang sangat erotis. Tanganmu yang hangat langsung melingkar, menggenggam miliknya yang sudah menegang sempurna karena rasa penasaran dan gairah yang meledak-ledak.
“A-akh! Kak... pelan... itu...” Jungwon merintih, kepalanya mendongak ke belakang, namun kamu segera mencengkeram rahangnya pelan, memaksanya untuk menunduk dan melihat bagaimana tanganmu bekerja di bawah sana.
“Liat gimana tangan gue gerak, Jungwon. Liat apa yang terjadi sama tubuh lo kalau gue sentuh di bagian sini,” bisikmu sambil memberikan stimulasi yang sangat teknis namun penuh perasaan. Kamu memainkan ujungnya dengan ibu jarimu, memberikan tekanan yang pas—jenis stimulasi yang tidak akan pernah dia temukan di video mana pun.
Jungwon bener-bener kewalahan. Saraf-sarafnya yang masih “hijau” bereaksi berlebihan terhadap sentuhanmu. Dia mulai mengeluarkan air mata di sudut matanya—bukan karena sedih, tapi karena ledakan nikmat yang terlalu besar untuk ditampung oleh tubuhnya. Isak tangis kecil lolos dari bibirnya yang bergetar. Dia merasa sangat terekspos, sangat lemah, namun di saat yang sama, dia merasa sangat hidup.
“Hiks... Kak, rasanya... aneh banget... gue nggak kuat...” gumamnya sambil mencengkeram sprei kasur hingga buku-buku jarinya memutih.
Kamu sengaja memperlambat gerakanmu, melakukan tarik ulur yang menyiksa. Saat dia sudah berada di ambang pelepasan, kamu berhenti total, hanya membiarkan jemarimu mengelusnya ringan.
Jungwon merintih frustrasi, pinggulnya bergerak naik tanpa sadar, memohon untuk dilanjutkan. Dia benar-benar kehilangan martabatnya sebagai Ketua OSIS yang berwibawa, sekarang dia hanyalah seorang remaja laki-laki yang haus akan sentuhanmu.
“Kenapa? Mau lagi?” godamu sambil memberikan kecupan basah di paha bagian dalamnya, membuat tubuhnya tersentak hebat. “Bilang, ‘Kak, tolong lanjutin’, baru gue kasih pelengkapnya.”
Jungwon menatapmu dengan mata yang basah dan memerah, bener-bener pasrah. “T-tolong... Kak... lanjutin... kasih tau gue semuanya...”
Mendengar itu, kamu tersenyum puas. Kamu mulai memberikan stimulasi yang lebih intens, memadukan gerakan tanganmu dengan kecupan-kecupan di titik sensitifnya. Jungwon benar-benar menangis nikmat sekarang, tubuhnya melengkung hebat setiap kali kamu memberikan kejutan saraf baru.
Dia benar-benar belajar lewat cara yang paling brutal sekaligus indah: bahwa kenikmatan nyata jauh lebih tajam, lebih basah, dan lebih memabukkan daripada sekadar imajinasi di layar laptopnya.
Jungwon sudah mencapai titik nadirnya. Seluruh tubuhnya berkeringat, dan matanya mulai sayu karena stimulasi yang tak henti-henti. Dia benar-benar telah menjadi budak dari “pelajaran” yang kamu berikan.
Jungwon benar-benar kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih saat dia melihatmu merangkak turun di antara kedua kakinya. Matanya mendelik, napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat dia menyadari apa yang akan kamu lakukan. Sebagai remaja yang hanya pernah melihat hal ini dalam resolusi rendah di layar laptop, melihatmu mendekat secara nyata adalah sebuah teror sekaligus fantasi yang menjadi kenyataan.
Begitu bibirmu yang hangat dan basah melingkar di miliknya, Jungwon tersentak hebat. Tubuhnya menegang kaku, jari-jarinya mencengkeram sprei hingga hampir robek.
“K-Kak! Akh! Apa itu... ngh...” suara Jungwon pecah, berubah menjadi rintihan yang sangat tinggi.
Sensasi mulutmu yang hangat, lembut, dan lembap benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah dia bayangkan. Stimulasi itu jauh lebih intens daripada tangannya sendiri. Kamu sengaja memainkan lidahmu, memberikan pijatan-pijatan kecil di area yang paling sensitif, membuat Jungwon mendelik dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia merasa seolah seluruh saraf di tubuhnya ditarik ke satu titik pusat.
“Liat ke bawah, Jungwon. Jangan merem,” bisikmu di sela-sela kegiatanmu, menatapnya dari bawah dengan pandangan yang sangat provokatif.
Jungwon menurut meski tubuhnya gemetar hebat. Dia melihat bagaimana kepalamu bergerak maju-mundur, bagaimana rambutmu terurai di atas pahanya, dan bagaimana mulutmu menjajah bagian paling pribadinya.
Pemandangan itu benar-benar menghancurkan mental “anak baik-baik” yang dia jaga selama ini. Dia merasa sangat berdosa, namun kenikmatan yang kamu berikan terlalu besar untuk ditolak.
“Gue... gue nggak bisa... Kak, rasanya terlalu... akh!” Jungwon merintih, tangannya kini tanpa sadar merayap ke rambutmu, mencengkeramnya dengan lembut namun penuh desakan.
Dia mulai kehilangan kendali atas pinggulnya. Jungwon mulai bergerak maju secara instingtif, mencoba mencari kedalaman lebih di dalam mulutmu. Air matanya kembali mengalir—orgasme pertamanya sudah di ambang pintu, dan itu dipicu oleh sesuatu yang jauh lebih panas dari mimpinya mana pun. Suara desahan polosnya yang beradu dengan suara basah dari mulutmu memenuhi kamar yang tadinya sunyi itu, menandai berakhirnya masa polos sang Ketua OSIS malam ini.
Pelajaran malam ini benar-benar berubah menjadi kurikulum yang sangat berbahaya bagi mental seorang Yang Jungwon. Kamu terus memacu ritme mulutmu, menghisapnya dengan tekanan yang pas hingga tubuh remaja itu menegang kaku, jemari kakinya melengkung, dan dalam satu sentakan hebat, dia melepaskan seluruh gairah pertamanya tepat di dalam mulutmu.
Jungwon terengah-engah, matanya sayu dan berair, menatapmu dengan pandangan yang benar-benar kosong karena otaknya baru saja shutdown akibat ledakan dopamin yang terlalu besar. Namun, kamu belum selesai. Kamu mendongak, menatapnya lurus di mata sambil menjulurkan lidahmu yang masih basah oleh sisa pelepasannya—sebuah pemandangan vulgar yang langsung menyulut sisa-sisa hormon di tubuh remajanya.
Tanpa ragu, kamu menelan semuanya di depan matanya.
Jungwon yang tadinya submissive tiba-tiba kehilangan kontrol. Insting lelakinya yang baru bangun memberontak. Dia bangkit dari tidurnya, menerjangmu, dan mencium bibirmu dengan kasar—mencicipi sisa dirinya sendiri yang masih tertinggal di sana. Ciumannya berantakan, penuh nafsu yang meledak-ledak dan rasa penasaran yang haus, mencoba mencuri dominasi darimu untuk sesaat.
Kamu membiarkannya menikmati sensasi “menang” itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya kamu mendorong dadanya hingga dia kembali rebahan di kasur dengan napas memburu.
“Sabar, Jungwon... Pelajaran intinya baru mau dimulai,” bisikmu penuh otoritas.
Kamu berlutut di atasnya, memposisikan dirimu tepat di atas miliknya yang kembali menegang karena provokasi bibirmu tadi. Jungwon menahan napas, matanya mendelik lebar saat dia merasakan ujung dirimu menyentuh miliknya. Kamu mulai turun pelan-pelan, inci demi inci, membiarkan Jungwon merasakan bagaimana dinding rahimmu mulai menjepit dan merangkul miliknya yang masih sangat sensitif.
“A-akh... Kak... rasanya... beda banget sama yang tadi... ngh...” Jungwon merintih, tangannya gemetar mencoba mencari pegangan di pinggulmu.
Kamu merenggut keperjakaannya dengan sangat perlahan, sengaja ingin dia merekam setiap sensasi penyatuan ini di dalam otaknya. Jungwon menggigit bibir bawahnya kuat-kali ini bukan hanya air mata nikmat, tapi ada ekspresi kewalahan yang luar biasa saat dia merasa benar-benar “penuh” di dalam dirimu. Dia merasa sangat kecil namun sangat perkasa di saat yang sama.
“Liat, Jungwon... Sekarang lo udah jadi milik gue sepenuhnya,” gumammu sambil mulai menggerakkan pinggulmu dalam ritme yang stabil namun dalam, merusak kepolosan sang Ketua OSIS hingga tak bersisa.
Jungwon benar-benar definisi murid yang terlalu bersemangat. Begitu dia merasakan kehangatan dan jepitan rahimmu, rasa takutnya menguap, digantikan oleh rasa lapar yang meledak-ledak.
Kamu terus menggoyangkan pinggulmu, menggiling miliknya dengan gerakan memutar yang dalam. Sensasi “penuh” dari Jungwon—yang ternyata punya ukuran dan kekuatan di luar dugaan untuk anak seusianya—membuatmu sedikit kewalahan.
“Ah... Jungwon... ngh... lo bener-bener...” racaumu, merasakan dinding rahimmu berdenyut hebat setiap kali kamu menekan tubuhmu ke bawah.
Sambil terus memacu ritme, kamu menunduk, menyerang leher dan bahu halusnya. Kamu memberikan sesapan-sesapan kuat dan gigitan kecil, sengaja meninggalkan jejak-jejak kemerahan (hickey) yang sangat mencolok di area yang sulit ditutupi kerah baju seragam.
Kamu membayangkan betapa paniknya Ketua OSIS teladan ini besok pagi saat rapat rutin dua mingguan di sekolah. Teman-teman OSIS-nya pasti akan bertanya-tanya tentang “tanda” permanen di leher pemimpin mereka.
Jungwon sendiri sudah tidak peduli lagi soal rapat besok. Stamina remajanya benar-benar gila. Meskipun ini adalah kali pertamanya, dia seolah punya cadangan energi yang tidak terbatas.
“Kak... jangan berhenti... please... Enak banget jepitan lo di bawah sana” Jungwon memohon dengan suara serak, kedua tangannya mencengkeram pinggulmu dan membantumu naik-turun dengan kekuatan yang makin berani. “Gue nggak mau ini selesai. Rasanya... rasanya gue mau mati kalau Kakak berhenti sekarang.”
Matanya yang bulat kini sayu, penuh dengan kabut gairah. Setiap kali kamu menggiling, dia akan melenguh panjang, membiarkan kepalanya terkulai ke bantal sambil menikmati setiap inci tubuhmu yang merengkuhnya.
Jungwon benar-benar ketagihan. Dia terus memaksamu untuk bergerak lebih cepat, lebih dalam, mengabaikan fakta bahwa fajar mungkin akan segera tiba.
Pelajaran pertama bagi Jungwon sukses besar: dia tidak hanya belajar tentang seks, tapi dia belajar bagaimana rasanya menjadi budak dari gairahnya sendiri kepadamu.
Puncaknya datang saat kamu mempercepat goyanganmu diatasnya. Jungwon yang sudah tidak tahan akhirnya mengambil alih permainanmu. Dia membalik posisi hingga kamu terlentang di bawahnya.
Jungwon mengeram saat penyatuan kalian menjadi semakin brutal. Kakimu bertengger di pundaknya sementara kamu mendesah semakin kencang karena sodokannya mengenai G-Spotmu.
Dorongan terakhir Jungwon menyemburkan cairan panasnya di dalam rahimmu mengirimkan sensasi penuh yang nikmat begitu juga kamu yang melakukan pelepasan beberapa detik berikutnya.
Jungwon terkulai lemas di atasmu, memeluk erat seakan tidak ingin moment ini berakhir begitu saja. Jungwon mengangkat wajahnya yang bersembunyi di ceruk lehermu lalu melumat bibirmu penuh perasaan sebelum melepaskannya dengan enggan.
“Makasih karena udah ngajarin gue jadi dewasa kak, gue nggak bakal bisa lupain nikmat malam ini yang udah lo kasih ke gue. Semoga besok gue bisa ngerasain sensasi nikmat ini lagi bareng lo.” Detik itu juga Jungwon terlelap karena energinya terkuras setelah menjadi dominan di akhir permainan. Kamu mengusap rambutnya sebelum ikut terlelap karena kelelahan akibat aktivitas yang hebat.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Kamu terbangun di kamarmu sendiri saat sinar matahari mulai masuk lewat celah gorden. Tubuhmu terasa pegal—efek dari meladeni stamina ABG yang tidak ada habisnya semalam. Saat kamu mengecek ponsel, notifikasi aplikasi sudah menunggumu.
[MISSION COMPLETE: NIGHT 06]
Target: Yang Jungwon — ADDICTED.
Reward: “The President’s Secret” & 4000 Diamonds.
Sementara itu, di sebuah sekolah menengah atas yang bergengsi, Jungwon sedang duduk di ruang OSIS dengan gelisah. Dia mengenakan jaket bertudung (hoodie) meskipun cuaca cukup gerah, menarik ritsletingnya sampai ke dagu.
“Jungwon, lo sakit? Kok pake hoodie? Kita mau mulai rapat nih,” tanya salah satu anggota OSIS dengan heran.
Jungwon tersentak, tangannya refleks memegang lehernya yang perih di balik kain jaket. Bayangan wajahmu, rasa mulutmu, dan bagaimana kamu merenggut keperjakaannya semalam berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, membuatnya sulit fokus pada agenda rapat yang ia pimpin. Dia mencoba mengingat wajahmu, tapi memory fog menyamarkannya—hanya menyisakan rasa nikmat dan tanda merah yang kini berdenyut di lehernya.
❛❛The Curious Boy - Yang Jungwon❞
To Be Continued
anjay jungwon malesub 🥵
kapan lagi lihat dia kikuk gabisa jadi dominan untuk melakukan seks pertama kalinya?
semoga kalian enjoy dengan ceritanya ya...
jangan lupa LIKE dan komen
Love U, My Michies💖💖💖





lanjut dong, btw lanjutin juga yg halo dek nya ya mic😘
LANJUT MOMMM