6 Halo Dek
Laksamana Jay
AYO LIKE JANGAN LUPA ๐ซฐ๐ป
konten bdsm,kasar,nonkon
yang ga kuat bisa drop langsung aja storynya
Tangan Jay yang besar dan berurat secara mendadak menarik silikon bergetar itu keluar dari dalam dirimu. Plop. Suara basah itu menyisakan kehampaan yang luar biasa menyiksa. Kamu tersentak, pinggulmu refleks bergerak maju, mencari kembali benda yang baru saja memporak-porandakan sarafmu.
โB-bang... jangan dilepas... hiks... dingin... ahh!โ racaumu, kepalamu menggeleng-geleng dalam borgol, matamu yang tertutup kain sutra hitam mulai membanjiri pipimu dengan air mata nikmat.
Jay hanya terkekeh rendah, membiarkanmu menggantung dalam kekosongan selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. โTadi katanya minta ampun? Sekarang malah minta diisi lagi? Dasar memek haus,โ bisiknya kasar, namuntangannya mengusap dagumu yang basah oleh air liur dengan ibu jarinya.
โMinta yang bener, (y/n). Bilang โAbang, tolong isi aku pake punya Abang yang gedeโ,โ tuntut Jay, suaranya terdengar sangat dominan di depan kamera ponsel yang masih setia merekam setiap inci kehancuranmu.
โBa-bang Jay... tolong... isi aku... pake punya Abang... ahh! Aku udah nggak tahan!โ kamu berteriak lirih, benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi.
Mendengar itu, Jay tidak lagi memberi ampun. Ia mengangkat satu kakimu yang mungil hingga menjulang ke udara, menyampirkannya di lengan berototnya yang keras. Sebelum ia masuk, ia menyelipkan sebuah vibrator telur yang kecil namun bertenaga tepat di atas klitorismu, menjepitnya di antara tubuhnya dan titik paling sensitifmu.
Lalu, dengan satu hentakan brutal dari belakang โ SLUURPPโ milik Jay yang panas, keras, dan berurat menghujam masuk ke dalam rahimmu yang sudah banjir.
โฮฮฮฮฮฮฮ! JAAAY!โ kamu memekik hebat, suaramu pecah memenuhi kamar mandi.
Rasanya luar biasa sesak. Kamu merasakan tekanan ganda, vibrator telur yang terus menghajar klitorismu di bagian luar, dan milik Jay yang menghujam dalam di bagian dalam. Stimulasi ini terlalu berlebihan untuk tubuh mungilmu yang baru berusia 16 tahun. Jay menatap layar HP-nya dengan tatapan laparโia melihat ekspresi sange yang luar biasa di wajahmu, bibir bengkak yang terbuka, air liur yang menetes, dan wajah yang memerah padam karena nikmat yang tak tertahankan.
Plak! Plak! Plak!
Suara paha Jay yang menghantam bokongmu terdengar seperti bensin yang menyambar api. Jay semakin beringas, ia memacu gerakannya secara brutal tanpa ritme yang lembut lagi. Ia benar-benar ingin โmerusakโ dan mengklaimmu di depankamera itu.
โAhhh! Bang! Keluar... aku keluar lagi! Ahh! Ahh!โ kamu meracau, tubuhmu mulai menegang kaku.
Tanpa izin dari Jay, kamu mencapai puncakmu berkali-kali. Cairanmu menyembur keluar, melumasi setiap hentakan brutal Jay yang tak kunjung usai. Tubuhmu gemetar hebat di dalam borgol, rantai besi itu berdenting-denting keras seiringdengan guncangan tubuhmu yang tak terkendali.
โTerus, (y/n)... keluar terus buat aku!โ geram Jay, ia tidak peduli kamu sudah cum berkali-kali, ia justru semakin mempercepat sentakannya, berniat menghabisimu sampai kamu benar-benar lemas tak berdaya sebelum fajar menyingsing.
Kabin kamar mandi yang pengap itu seolah meledak oleh intensitas gairah yang sudah melampaui batas kewarasan. Tubuh mungilmu terus bergetar hebat, mengalami kejang-kejang nikmat yang tak kunjung usai akibat stimulasi bertubi-tubi. Jay, dengan segala dominasi militernya, menghujammu tanpa ampun dari belakang, membiarkan setiap sentakannya menghantam rahimmu hingga ke pangkal.
โBang... ahh! Jay... hiks... ampun... mau pingsan...โ racaumu dengan suara yang nyaris hilang, air liur dan air mata bercampur membasahi wajahmu yang tertutup kain sutra.
Bunyi bzzzt dari klem vibrasi di payudaramu beradu dengan suara tamparan tangan Jay yang kasar di susumu. Setiap remasan kuatnya membuat dadamu membusung hebat di bawah tarikan borgol, menciptakan sensasi tersengat yang membuatsarafmu seolah terbakar.
โTahan, (y/n)! Jangan pingsan dulu! Lihat aku... rasain aku!โ geram Jay.
PLAK!
Jay memberikan satu tamparan kencang di bokongmu yang sudah memerah. Rasa panas mendadak itu membuat otot-otot intimu bereaksi secara primitif, kamu menjepit milik Jay dengan kekuatan luar biasa, seolah ingin meremuknya di dalamsana. Jepitan maut dari kepolosanmu yang sudah โrusakโ itu menjadi pemicu terakhir bagi sang perwira.
โAKHHHH! SEKARANG, (Y/N)!โ
Jay meraung kencang, suaranya mengguncang dinding marmer. Ia memberikan beberapa tujahan brutal terakhir yang sangat dalam sebelum akhirnya ia menanamkan benihnya yang panas dan kental jauh ke dalam rahimmu.
Di saat yang bersamaan, kamu kembali cum untuk kesekian kalinya-kali ini begitu hebat hingga seluruh tubuhmu kaku, melengkung ekstrem di dalam borgol, sebelum akhirnya terkulai lemas tak berdaya.
Cairan kalian bercampur, merembes keluar dari celah penyatuan dan menetes ke lantai basah, terekam sempurna oleh kamera ponsel di sudut ruangan. Jay tetap menekan tubuhnya padamu, menstabilkan napasnya yang menderu berat di ceruklehermu, menikmati sisa-sisa kedutan nikmat yang masih terasa di antara kalian setelah pergumulan yang sangat panjang dan melelahkan itu.
Tubuhmu yang mungil benar-benar terkulai pasrah, hanya ditopang oleh tarikan borgol di pergelangan tanganmu yang mulai memerah.
Napasmu pendek-pendek, tersengal di antara sisa isak tangis nikmat yang belum reda. Kamu tidak bisa melihat apa-apa, hanya kegelapan dari kain sutra hitam yang menutupi matamu, membuat pendengaranmu menangkap setiap suara gesekankulit dan deru napas Jay yang berat di belakangmu.
Jay tidak langsung melepaskanmu. Ia membiarkan miliknya tetap tertanam di dalam rahimmu yang masih berdenyut kaku, menikmati sensasi jepitanmu yang luar biasa kencang setelah pelepasan tadi.
โPinter banget... lihat seberantakan apa kamu sekarang, (y/n),โ bisik Jay serak.
Ia mengulurkan tangannya ke sudut ruangan, mematikan rekaman di ponselnya dengan gerakan cepat tanpa kamu sadari sedikit pun. Baginya, rekaman itu sudah cukup untuk menjadi โobatโ selama ia di barak nanti. Sekarang, ia hanya ingin fokus menghabiskan sisa tenagamu.
Klik. Klik.
Suara borgol yang terlepas membuat tanganmu jatuh terkulai. Dengan sigap, Jay menangkap tubuh lemasmu sebelum kamu merosot ke lantai marmer yang basah. Ia menggendongmu dengan gaya bridal style, membawamu keluar dari kamarmandi yang pengap menuju ranjang hotel yang luas dan dingin.
โBang... ampun... udah nggak kuat lagi,โ rintihmu saat punggungmu menyentuh sprei sutra yang lembut.
Jay merangkak di atasmu, mengunci kedua tanganmu di atas kepala dengan satu tangannya yang besar. Ia mulai menghujani wajah dan lehermu dengan ciuman yang sangat lembut, sebuah kontras yang memabukkan dari kebrutalannya tadi. โTadi siapa yang bilang sayang sama Abang? Hm? Katanya mau nurut?โ
โIya... sayang... tapi aku capek banget, Bang Jay... hiks...โ kamu menggeleng lemah, air liur masih sedikit menetes di sudut bibirmu yang bengkak.
โSstt... istirahatnya nanti kalau sudah pingsan, Sayang,โ bisik Jay dengan nada penenang yang manipulatif.
Tangannya kembali membuka paha dalammu lebar-lebar. Meski ia bersikap lembut dengan kata-katanya, tekanan miliknya di pintu intimu menunjukkan niat yang berbeda.
Jay tidak berniat berhenti. Ia ingin memacu tubuh mudamu sampai batas terakhir, sampai kesadaranmu benar-benar hilang dalam dekapannya.
โSatu ronde lagi... kali ini sampai kamu bener-bener nggak bisa manggil nama aku lagi,โ geram Jay sebelum ia kembali menghujammu dengan satu hentakan dalam yang membuatmu memekik tertahan, tenggelam kembali dalam badai gairahyang ia ciptakan khusus untuk menghancurkan pertahananmu malam ini.
Lampu kamar hotel yang temaram kini memantulkan bayangan Jay yang menjulang tinggi di atas tubuh mungilmu. Meskipun suaranya terdengar lembut dan menenangkan, gerakan tubuhnya menceritakan kisah yang berbeda-dia haus akansetiap jengkal kulitmu.
Jay meraih ponselnya dengan gerakan yang sangat rapi dan tenang saat kamu memejamkan mata, kepalamu terkulai lemas di atas bantal sutra. Tanpa kamu sadari, ia menyisipkan ponsel itu di sela-sela vas bunga di atas nakas, memosisikanlensanya tepat ke arah ranjang tempatmu terbaring tanpa daya.
โBang Jay... pelan... hiks... udah nggak kuat,โ igauamu, suaramu serak karena terlalu banyak mendesah dan berteriak sepanjang malam.
โSstt... sebentar lagi, Sayang. Lihat aku,โ bisik Jay, suaranya berat dan penuh wibawa.
Ia tidak mendengarkan permohonanmu. Jay memposisikan dirinya di antara kedua pahamu yang gemetar, lalu dengan satu dorongan yang sangat mantap dan dalamโSLURPโia kembali mengisi rahimmu hingga ke pangkal. Kehangatan dan ukurannya yang besar membuatmu tersentak, matamu terbelalak di balik kain sutra hitam yang masih menutup penglihatanmu.
โAKHHH! JAY! AH! DALEM BANGET!โ
Sentakan Jay kali ini terasa lebih brutal namun tertata. Ia seolah ingin memastikan setiap gerakannya terekam dengan estetika yang liar di kamera ponselnya. Racauanmu pun menjadi semakin vulgar, kamu mulai meracau tentang betapabesarnya milik Jay dan betapa kamu sangat menyukai rasa penuh di dalam dirimu.
โPinter... bilang lagi, (y/n). Bilang seberapa haus memek kamu sekarang,โ geram Jay, tangannya meremas pinggangmu hingga meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulit putihmu.
โHaus... ahh! Memek aku haus banget... tolong... kocok lagi pakai Kontolmu, Bang! Jay... cepetin!โ kamu berteriak lirih, benar-benar sudah kehilangan akal sehat.
Jay menyeringai puas. Ia kemudian menarikmu untuk berganti posisi. โNungging, Sayang. Tunjukin ke Abang seberapa nakal kamu kalau minta diisi.โ
Kamu yang sudah benar-benar penurut hanya bisa merangkak dengan tangan gemetar, mengambil posisi menungging yang sangat terekspos. Bokongmu yang mungil menantang tepat di depan wajah Jay, sementara intimu yang memerah danbanjir terus berdenyut, seolah-olah memang benar-benar haus akan milik Jay.
Tanpa menunggu lama, Jay menghujammu kembali dari belakang dengan kekuatan penuh. Setiap tumbukannya membuat tubuhmu terdorong maju, kepalamu menenggelamkan diri di bantal sementara bokongmu bergoyang liar mengikutiirama brutal Jay. Di sudut ruangan, lensa ponsel di sela vas bunga itu menangkap setiap detail pergumulan yang tak kenal ampun ini-sebuah kenangan terlarang yang akan Jay simpan selamanya.
Kamar hotel itu kini hanya berisi suara napas yang menderu berat, derit ranjang yang tersiksa, dan bunyi kulit yang saling beradu dengan ritme yang semakin tidak manusiawi. Jay, yang didorong oleh gairah yang hampir mencapai titik kegilaan, menarik tubuhmu ke belakang hingga punggungmu menempel di dada bidangnya yang keras dan bersimbah keringat.
Ia melingkarkan lengan bisepnya yang sebesar paha remaja tepat di lehermu-sebuah kuncian yang bukan untuk membunuh, tapi untuk merampas oksigenmu demi sensasi choking yang mematikan.
โGigit, (y/n). Gigit lengan Abang kalau kamu ngerasa enak,โ geram Jay, suaranya parau dan rendah, tepat di telingamu.
Kamu yang sudah kehilangan akal sehat langsung menancapkan gigimu di otot bisepnya yang keras. Rasa asin keringat dan aroma maskulin Jay memenuhi indramu. Jay sama sekali tidak meringis, ia justru semakin terangsang oleh gigitanmu. Iamenghujammu dari belakang dengan kekuatan penuh, setiap tumbukannya terasa seolah ingin menembus rahimmu.
Sensasi tercekik yang dipadukan dengan hujaman brutal di bawah sana membuat otakmu kekurangan oksigen, menciptakan euforia yang luar biasa. Matamu mendongak ekstrem, putih matamu mendominasi sementara pupilmu nyarismenghilang karena kenikmatan yang terlalu berlebihan sebuah ekspresi ahegao yang sempurna tertangkap oleh kamera di sela vas bunga.
โAhhh! Mmph... Jaaay... hhnggg!โ rintihmu tertahan karena kuncian di lehermu.
Tubuhmu mendadak kaku, jari-jari kakimu melengkung, dan intimu menjepit milik Jay dengan getaran yang sangat menyiksa. Kamu cum lagi untuk kesekian kalinya, cairanmu menyembur deras hingga membasahi sprei hotel. Kehilangankendalimu yang mendahuluinya justru membuat Jay semakin beringas. Ia menganggap itu sebagai bentuk perlawanan yang harus dipatahkan.
โKeluar duluan lagi, hm? Dasar nakal,โ Jay menyeringai gelap. Ia mempercepat temponya secara brutal, tidak lagi memberikan jeda bagimu untuk sekadar mengambil napas. Ia menghajarmu habis-habisan, membiarkan tubuh mungilmuberguncang hebat seperti boneka kain di tangannya.
Kamu mulai merasa pandanganmu semakin gelap, bukan karena kain sutra, tapi karena kesadaranmu sudah berada di ambang batas. Tenagamu habis total. Saat Jay merasakan titik puncaknya sendiri, ia memberikan satu dorongan terakhir yang sangat dalam dan keras, menyemprotkan seluruh benihnya ke dalam dirimu yang sudah hancur berantakan.
Begitu ia melepaskan kuncian di lehermu, tubuhmu langsung terkulai lemas, benar-benar pingsan karena kelelahan yang luar biasa. Jay menatap tubuhmu yang tak berdaya dengan napas yang masih memburu. Ia tidak merasa bersalah, ia justru menyeringai puas, sebuah senyum kemenangan seorang predator yang berhasil menundukkan mangsanya hingga titik nol. Malam ini, ia bukan hanya memenangkan tubuhmu, tapi ia telah menghancurkan setiap jengkal pertahananmu untukselamanya.
Di tengah keheningan kamar hotel yang kini hanya menyisakan suara dengung AC dan detak jantung yang perlahan melambat, Jay menarik tubuh lemasmu ke dalam pelukannya. Tubuh mungilmu tampak benar-benar tenggelam dalam dekapanpria tinggi besar ini. Kamu sudah benar-benar kehilangan kesadaran, napasmu teratur namun sangat tipis, tanda bahwa tenagamu telah terkuras habis hingga titik nol.
Jay meraih selimut tebal hotel, membungkus tubuh kalian berdua di dalamnya, menciptakan kepompong hangat yang menyembunyikan segala kekacauan yang baru saja terjadi. Ia menatap wajah tidurmu yang tampak begitu polos namunberantakan-bibir bengkak, sisa air mata yang mengering, dan tanda kemerahan di lehermu.
Ia mendekatkan bibirnya ke telingamu, membisikkan kata-kata yang tidak akan kamu dengar, namun sarat akan obsesi yang mendalam.
โKamu hebat banget malam ini, (y/n)... servis pertama yang bener-bener nyata. Makasih ya, Sayang,โ bisiknya parau, suaranya kini kembali lembut, hampir terdengar seperti pria paling penyayang di dunia.
Jay menyeringai tipis, sebuah kilat kepuasan yang dingin melintas di matanya saat ia teringat semua rekaman yang tersimpan di ponselnya. Baginya, sesi malam ini bukan sekadar pelampiasan rindu, melainkan sebuah proklamasi kepemilikan. Ia telah memacu dirimu sampai pingsan, menundukkanmu dengan segala cara, dan melihatmu memohon ampun di bawah kekuasaannya.
โAku nggak akan pernah ngelepasin kamu. Nggak akan pernah,โ ia mengecup keningmu lama, lalu memelukmu semakin erat, seolah-olah ia sedang memegang harta karun paling berharga yang berhasil ia curi dari dunia luar.
Malam itu, di balik kaca hotel yang berembun dan pintu yang terkunci rapat, Jay membiarkanmu beristirahat dalam lingkaran emas tak bercela yang ia ciptakan. Ia tertidur dengan perasaan menang yang mutlak, siap menyambut pagi di mana iaakan kembali menjadi perwira yang disiplin, sementara kamu tetap menjadi miliknya yang paling rahasia dan paling hancur di tangannya.
โ
Cahaya matahari pagi yang tipis mulai menyelinap di sela-sela gorden blackout hotel yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis cahaya keemasan di atas sprei putih yang sudah berantakan. Kamu mengerjap pelan, merasakan kelopak matamuterasa sangat berat-mungkin karena tangis nikmat yang tak henti semalam.
Hal pertama yang kamu rasakan adalah rasa pegal yang luar biasa di seluruh persendianmu, terutama di bagian pangkal paha dan pergelangan tanganmu yang masih menyisakan bekas kemerahan samar dari borgol bulu semalam. Namun, rasa dingin AC hotel tidak menyentuh kulitmu karena tubuhmu terbungkus rapat dalam dekapan yang sangat posesif.
Saat matamu terbuka sempurna, kamu langsung disambut oleh tatapan tajam namun teduh dari Jay. Pria itu ternyata sudah bangun lebih dulu. Ia berbaring miring, bertumpu pada satu lengannya yang berotot, sementara tangan satunya lagi memainkan ujung rambutmu yang berantakan di atas bantal.
โPagi, Sayang,โ bisik Jay. Suaranya serak khas orang bangun tidur, terdengar jauh lebih seksi dan dalam daripada biasanya.
Jay memandangi muka polosmu dengan saksama. Wajahmu yang baru bangun, dengan pipi yang sedikit sembap dan bibir yang masih tampak bengkak kemerahan akibat perbuatannya semalam, benar-benar membuatnya merasa sangat puas. Iamenatapmu seolah-olah kamu adalah artefak paling berharga yang baru saja ia menangkan dari medan perang.
โBa-bang Jay... jam berapa ini?โ suaramu keluar hampir seperti bisikan, serak dan lemas.
Jay tidak langsung menjawab. Ia justru mendekatkan wajahnya, menghirup aroma tubuhmu yang kini bercampur dengan aromanya, lalu mendaratkan sebuah morning kiss yang lembut namun dalam di bibirmu. Tidak ada paksaan seperti semalam, hanya lumatan pelan yang terasa sangat hangat dan memabukkan, membuatmu kembali merasa sangat disayang sekaligus โdimilikiโ sepenuhnya.
โMasih pagi. Mandi bareng, yuk? Biar Abang bersihin sisa semalam, terus kita siap-siap ke sekolah,โ ucap Jay santai, seolah-olah kejadian brutal semalam hanyalah mimpi indah yang biasa, padahal jejak-jejaknya masih terasa berdenyut di dalamrahimmu.
Kamu hanya bisa mengangguk patuh dalam dekapannya, kembali terhipnotis oleh sisi lembut sang Laksamana yang kini siap membimbingmu kembali ke realita setelah malam yang paling โterlarangโ dalam hidupmu.
Sisa-sisa gairah semalam yang membara kini berganti dengan ketenangan yang menghanyutkan. Jay dengan lembut membimbingmu, menggendong tubuh mungilmu yang masih lemas masuk ke dalam kamar mandi yang sudah hangat oleh uapair. Tidak ada paksaan, tidak ada gertakan dominan seperti semalam. Jay benar-benar menjelma menjadi sosok gentleman yang penuh perhatian.
Di bawah pancuran air hangat, ia menyabuni tubuhmu dengan telaten, membasuh sisa-sisa pergumulan liar kalian dari kulitmu yang sensitif. Jemarinya yang besar menyisir rambutmu yang basah, sesekali ia mengecup bahumu dengan sayang, tanpa niat untuk memulai ronde baru. Ia tahu tubuhmu sudah mencapai batasnya.
Begitu selesai mandi, kamu terkejut melihat seragam OSIS-mu, pakaian dalam, bahkan lingerie sutra hitam yang sempat robek dan kotor semalam, sudah tergantung rapi dan bersih di gantungan handuk.
โKapan Bang Jay...?โ tanyamu bingung.
โTadi malam, pas kamu pingsan. Aku minta pihak hotel buat express laundry,โ jawab Jay singkat sambil mengeringkan tubuhmu dengan handuk lembut. โAku nggak mau kamu pulang dengan baju yang berantakan.โ
Setelah kamu berpakaian, Jay mengeluarkan sebuah kotak kecil dari nakas yang sudah disiapkan oleh pihak hotel. Di dalamnya ada segelas air dan satu butir pil emergency contraception. โMinum ini ya, Sayang. Biar kita aman,โ ucapnya lembut namun tak terbantahkan. Tanpa banyak tanya, kamu menurut dan menelannya di depan Jay.
Jay kemudian membantumu mengenakan kardigan rajut baru yang ia belikan di mall kemarin. Kardigan itu sangat pas, memberikan rasa hangat dan nyaman yang kamu butuhkan.
Kamu segera berdiri di depan cermin, mengaplikasikan concealer tebal pada beberapa titik hickey ungu gelap di lehermu, lalu menggerai rambut panjangmu ke depan untuk memastikan tidak ada jejak โhukumanโ Jay yang terlihat oleh guru atauteman-temanmu.
โSini sebentar,โ panggil Jay. Ia mengambil sebuah pita manis berwarna senada dengan kardiganmu dan mengikatkannya dengan rapi di rambutmu. Sentuhan terakhir yang membuatmu tampak seperti siswi teladan yang manis, sangat kontras dengan rekaman liar yang tersimpan di ponselnya.
Jay mencium keningmu lama, sebuah kecupan perpisahan yang sarat akan janji obsesif. โBelajar yang pinter. Jangan nakal pas aku nggak ada.โ
Mobil SUV-nya melaju tenang membelah jalanan pagi yang mulai ramai, hingga akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sekolahmu. Langkahmu terhenti sejenak di depan pintu mobil yang masih terbuka. Udara pagi yang segar kontras dengankehangatan sisa semalam yang masih terasa di antara paha dalammu. Sebelum kamu benar-benar melangkah keluar, Jay tiba-tiba menarik tengkukmu dengan tangannya yang lebar, memaksamu kembali mendekat ke arahnya di kursi kemudi.
Tanpa kata-kata, ia melumat bibirmu dengan nafsu yang mendadak meledak-sebuah ciuman perpisahan yang liar, menuntut, dan penuh rasa tidak rela. Kamu bisa merasakan lidahnya menyapu rongga mulutmu, seolah ingin meninggalkan jejak rasa yang akan bertahan sampai jam sekolahmu usai. Jay sepertinya berat melepasmu masuk ke gedung sekolah itu, namun sebagai pria dewasa, ia tetap memprioritaskan pendidikanmu.
โAbang nggak bisa jemput nanti siang, Sayang. Ada panggilan mendadak, aku harus segera ke pelabuhan sekarang,โ bisik Jay serak tepat di depan bibirmu yang basah.
Kamu hanya mengangguk patuh, masih sedikit terengah akibat ciuman mendadaknya. โIya, Bang. Hati-hati di jalan ya...โ
โUdah Abang transfer ke saldo GoPay kamu buat ongkos pulang sama jajan. Kalau ada apa-apa, langsung chat,โ tambahnya sambil mengusap pipimu dengan ibu jari, memberikan tatapan posesif yang seolah mengunci jiwamu.
Kamu pamit dengan mencium punggung tangannya, sebuah gestur sopan yang kontras dengan apa yang kalian lakukan semalam di kursi fantasi. Begitu turun dari mobil SUV hitamnya, kamu melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah denganhati yang berbunga-bunga.
Meskipun tubuhmu terasa lemas, setiap langkah yang kamu ambil mengingatkanmu pada โtandaโ permanen yang Jay tanamkan di dalam rahimmu semalam. Di balik kardigan hangat dan pita manis di rambutmu, kamu merasa seperti memilikirahasia paling indah dan paling gelap di dunia. Kamu berjalan melewati koridor sekolah dengan senyum simpul, merasa sangat dicintai dan dijaga, sementara Jay melaju pergi menuju pelabuhan dengan rekaman โhukumanmuโ yang tersimpanaman di sakunya.
โ
To Be Continued




omgg jay stress, y/n stress, gw yg baca stress SEMUA STRESS!! ๐ญ๐คฆ๐ปโโ๏ธ๐
jay di sini ga eling bgt anjirr!! TAPII SERUU SIALANN!! ๐คค๐ฅต๐ป๐โค๏ธโ๐ฅ๐ซฆ๐๐๐ป๐ ๐ป
bacanya sambil nahan napas ๐ญ