jangan lupa like & komen ya★
Rencana yang kamu susun bersama Rei dan Yujin mulai berubah menjadi gerakan massa yang tak terbendung. Kekuatan jurnalisme yang kamu pelajari, dipadukan dengan koneksi Rei ke jaringan base penggemar besar dan kemampuan koordinasi Yujin, menciptakan gelombang solidaritas yang mengguncang Seoul malam itu juga.
"Now!" seru Rei sambil menekan tombol send pada pesan siaran ke ribuan koordinasi fanbase. "Gue udah kasih titik koordinat kantor polisi dan gedung agensi. Instruksinya jelas: Jangan ada kekerasan, tapi jangan biarkan mereka tenang!"
Yujin yang sedang memegang tiga ponsel sekaligus terus memantau pergerakan di media sosial. "Artikel lo (y/n), udah tembus 5 juta pembaca! Orang-orang mulai sadar kalau bunga kematian kemarin itu salah sasaran. Sekarang mereka bergerak!"
Malam itu, jalanan menuju kantor polisi tempat Sunghoon ditahan mendadak lumpuh. Ratusan orang yang membawa lightstick yang kini diubah menjadi mode cahaya putih terang—sebagai simbol kejujuran—mulai memenuhi trotoar. Di depan kantor polisi, yel-yel tuntutan pembebasan Sunghoon menggema, memantul di dinding-dinding kaca gedung, membuat para petugas di dalam mulai gelisah.
Sementara itu, tim kedua yang dipandu oleh arahan Rei bergerak menuju gedung agensi. Mereka melakukan Arak-arakan. Di sana, suasananya berbeda, bukan lagi truk protes berisi makian, melainkan spanduk-spanduk raksasa berisi dukungan untuk Sunghoon dan semua member lainnya. Mereka mengepung gedung itu, menuntut transparansi agensi dan perlindungan bagi artis mereka.
Namun, perjuanganmu tidak semulus itu. Di tengah kerumunan, muncul kelompok-kelompok kecil yang masih menyimpan kebencian. Para akgae (fans fanatik satu member yang membenci member lain) dan sasaeng yang merasa dikhianati mulai menciptakan provokasi.
"Kalian dibohongi! Dia cuma pakai teknik media buat cuci tangan!" teriak salah satu provokator dari kelompok akgae. Sebagian besarnya menyerang lewat media sosial.
Mereka mencoba menyebarkan narasi buruk bahwa bukti yang kamu unggah adalah buatan AI atau editan demi menyelamatkan grup. Ketegangan sempat memuncak, nyaris terjadi bentrokan antar fans. Namun, narasi jurnalisme yang kamu bangun terlalu kuat. Bukti metadata yang kamu sebar adalah fakta teknis yang tidak bisa dibantah oleh argumen emosional mereka.
Dukungan untuk Sunghoon jauh lebih besar. Massa yang berdiri di pihakmu mulai bernyanyi bersama, sebuah pengingat akan janji setia yang pernah mereka ucapkan. Suara mereka menenggelamkan cacian para pembenci, menciptakan barikade suara yang melidungi nama baik Sunghoon.
Di dalam sel, Sunghoon tidak bisa melihat apa yang terjadi, tapi dia bisa mendengarnya.
Suara ribuan orang yang memanggil namanya, suara lagu yang sangat ia kenal, menembus celah ventilasi kecil di langit-langit sel. Sunghoon berdiri, mendekatkan telinganya ke dinding. Jantungnya bergetar hebat. Ia tahu, ini bukan sekadar protes biasa. Ini adalah "perang" yang dipicu oleh satu orang yang duduk di balik layar warnet.
Di ruang utama kantor polisi, kepanikan mencapai puncaknya. CEO agensi dan para politikus itu berkumpul di depan jendela, melihat lautan massa yang seolah ingin meruntuhkan gerbang kantor polisi.
"Tuan... situasinya sudah di luar kendali," lapor seorang petugas polisi dengan wajah berkeringat. "Media internasional mulai meliput demo ini. Mereka mulai menanyakan tentang keterlibatan pejabat publik dalam penahanan Park Sunghoon."
Pria berjas mewah itu mengepalkan tangannya, memukul meja dengan keras. Rencana mereka untuk menjadikan Sunghoon tumbal telah gagal total karena kekuatan informasi yang kamu sebarkan. Mereka tidak menyangka bahkan tidak tahu bahwa seorang "gadis biasa" memiliki senjata selengkap itu di tangannya.
Kamu, Rei, dan Yujin masih di dalam warnet, mata kalian merah karena kelelahan, tapi semangat kalian justru berada di puncaknya. Kamu melihat melalui siaran langsung streaming bagaimana ribuan orang membela pria yang beberapa jam lalu masih tidur di kasurmu.
"Kita berhasil, (y/n)..." bisik Rei sambil meneteskan air mata. "Mereka semua ada di sana buat dia."
Kamu menatap layar komputer, jemarimu masih gemetar. "Belum selesai, Rei. Sampai Sunghoon keluar dari pintu itu dengan kepala tegak, ini belum selesai."
Kamu baru saja akan mengetik artikel lanjutan untuk menekan pihak kepolisian agar segera membebaskan Sunghoon malam ini juga, ketika tiba-tiba ponselmu bergetar. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.
Jantungmu seolah berhenti. Apakah itu agensi yang berhasil melacakmu? Atau orang-orang suruhan politikus itu? Kamu menatap Rei dan Yujin, memberi kode agar mereka diam, lalu dengan ragu kamu menggeser tombol hijau.
Kamu menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaramu sebelum menekan tombol terima. Suasana di warnet mendadak hening, Rei dan Yujin menatapmu dengan wajah tegang.
"Halo?" bisikmu.
"Ini (y/n)?" suara di seberang sana rendah, terburu-buru, dan penuh tekanan, tapi kamu langsung mengenalinya. Itu Jay. "Dengerin gue, gue nggak punya banyak waktu. Gue pake ponsel rahasia. Gue dapet nomor lo dari Sunghoon sebelum dia... sebelum dia masuk ke kandang singa itu."
Jantungmu berdegup kencang. "Jay? Sunghoon gimana? Dia baik-baik saja?"
"Dia ditahan, tapi dia aman buat sementara karena massa di luar makin gila. Agensi nggak berani macem-macem sekarang," Jay menarik napas tajam. "Gue liat semua artikel dan bukti yang beredar. Itu lo, kan? Cuma lo yang punya data itu. Makasih, (y/n). Lo bener-bener gila, tapi itu nyelamatin nyawa dia."
"Gue harus lakuin ini, Jay. Mereka mau hancurin dia," jawabmu tegas.
"Gue tahu. Tapi sekarang agensi mulai curiga ada 'orang dalam' atau pihak ketiga yang pegang cadangan data. Mereka mulai lacak IP address postingan itu. Lo harus pergi dari tempat lo sekarang. Jangan pake jaringan yang sama lebih dari satu jam," Jay memperingatkan. "Gue bakal coba gerakin member lain buat tetep tekan CEO dari dalem. Kita bakal ketemu di titik akhir. Tetap aman, (y/n)."
Klik. Sambungan terputus.
Tak lama kemudian, sebuah SMS masuk ke ponselmu. Pesan itu berisi koordinat sebuah alamat kantor hukum independen yang dikenal sangat bersih dan berani melawan pejabat.
"Kirim semua bukti asli ke email pengacara di alamat ini. Dia satu-satunya orang yang nggak bisa dibeli sama politikus itu. Kami bakal usahain Sunghoon dipindah ke sana buat pemeriksaan ulang. — J"
Di saat yang sama, di dalam kantor polisi, situasi berubah menjadi horor bagi para pejabat berjas itu. Sorak-sorai fans di luar gedung—yang kini jumlahnya mencapai belasan ribu—mulai terdengar seperti guntur yang mengguncang pondasi ruangan.
Pria berjas mewah itu mondar-mandir dengan wajah merah padam. "Cari tahu siapa yang menyebarkan berita ini! Bagaimana bisa bukti teknis sedetail itu bocor?!"
"Tuan," salah satu penyidik masuk dengan wajah pucat. "Beberapa jurnalis internasional dari BBC dan CNN sudah mulai menanyakan kasus ini lewat email resmi kementerian. Mereka mencium adanya bau 'rekayasa politik'. Jika kita tidak segera membebaskan Park Sunghoon atau memberikan pernyataan yang masuk lurus, ini akan jadi skandal diplomatik."
CEO agensi terduduk lemas di kursi sambil memegangi perut buncitnya. Ia tahu ia telah salah perhitungan. Ia pikir Sunghoon sendirian. Ia pikir ia bisa membungkam seorang pemuda yang sedang hancur psikisnya. Ia tidak menyangka ada seorang mahasiswa yang menggunakan seluruh kemampuannya untuk membangun benteng perlindungan digital bagi artisnya.
Sunghoon yang berada di sel mendengar suara ricuh yang semakin tak terkendali dari ruang utama. Ia melihat Manajer Kang berjalan melewati lorong selnya dengan langkah goyah, wajahnya pucat pasi sambil terus menatap layar ponselnya yang memanas. Sunghoon berdiri, melangkah pelan mendekati jeruji besi, dan menatap manajernya dengan sorot mata yang tajam dan dingin.
"Gimana, Manajer-nim? Dunia di luar sana berisik sekali, ya?" suara Sunghoon tenang, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menusuk harga diri Manajer Kang.
Manajer Kang berhenti mendadak, menatap Sunghoon dengan campuran rasa benci, bingung, dan takut yang amat sangat. "Kamu... siapa yang sebenarnya membantu kamu menyebarkan bukti-bukti itu? Nggak mungkin member lain, mereka semua sudah dikunci di asrama! Siapa yang punya akses ke data-data itu selain kita?!"
Sunghoon hanya diam sesaat, memberikan senyum miring yang penuh kemenangan. Di dalam hatinya, ia membayangkan wajahmu yang sedang berjuang di balik layar monitor, tapi bibirnya tetap terkunci rapat demi melindungimu. Ia tidak boleh memberikan petunjuk sekecil apa pun yang merujuk pada satu orang.
"Itu kekuatan dari orang-orang yang kalian remehkan, Manajer-nim," jawab Sunghoon datar. "Kalian pikir kalian bisa membeli semua orang dengan uang suap dari pejabat itu? Kalian salah. Ada ribuan fans di luar sana yang jauh lebih cerdas dan jujur daripada kalian semua. Mereka punya cara sendiri untuk mencari kebenaran yang kalian coba tipu lewat skandal ini."
Sunghoon mencondongkan tubuhnya ke jeruji, suaranya merendah menjadi bisikan yang mengancam dengan formal. "Kalian tidak hanya berhadapan dengan aku, tapi kalian berhadapan dengan publik yang muak melihat penipuan agensi ini. Dan satu hal yang kalian lupa... kejujuran itu punya cara sendiri untuk menemukan jalan keluar, sesempit apa pun kalian menguncinya."
Manajer Kang terkesiap, nyaris terjatuh karena gemetar. Ia tidak bisa melaporkan "satu orang" kepada CEO atau polisi, karena di matanya sekarang, musuh mereka adalah ribuan fans yang bersatu—sebuah entitas yang mustahil untuk ditangkap satu per satu.
Meskipun ribuan fans masih bertahan dengan semangat yang membara, hukum tetaplah hukum. Tepat setelah jarum jam melewati angka 12 malam, pihak kepolisian mengeluarkan instruksi tegas melalui pengeras suara: massa diperintahkan untuk membubarkan diri demi keamanan publik, atau mereka akan ditindak secara hukum.
Dengan berat hati, arak-arakan fans yang dipimpin oleh Rei melalui koordinasi digitalmu, memberikan instruksi kepada kerumunan untuk mundur secara teratur. Namun, meski secara fisik mereka pergi, perang di dunia digital yang kamu kobarkan tidak pernah tidur. Lautan cahaya ponsel itu perlahan meredup dari jalanan, tapi jejak tuntutan keadilan mereka telah membekas secara permanen di dinding-dinding kantor polisi dan, yang terpenting, di opini dunia internasional.
★
Tiga hari berikutnya adalah masa paling krusial dalam hidup Sunghoon. Tiga hari yang sunyi di balik jeruji besi, namun sangat bising di luar sana. Agensi dan para pejabat itu mencoba melakukan manuver terakhir mereka dengan menghalangi akses komunikasi, namun tekanan dari pengacara independen yang direkomendasikan Jay mulai tidak terbendung.
Berbekal bukti final yang kamu kirimkan secara anonim ke email pengacara tersebut—setelah sebelumnya kamu pindah dari satu warnet ke warnet lain untuk menghapus jejak—pihak kepolisian tidak punya pilihan lain. Mereka tidak bisa lagi menahan Sunghoon tanpa bukti hukum yang sah, terutama saat media internasional mulai menyoroti adanya pelanggaran hak asasi manusia dan manipulasi politik.
Pada hari ketiga, sekitar pukul 2 siang, sebuah pengumuman mengejutkan keluar: Park Sunghoon dinyatakan bebas dari tuduhan narkotika karena tidak ditemukan bukti yang sah, dan statusnya kini beralih menjadi pelapor atas kasus pencemaran nama baik.
Sesuai saran Jay, penjemputan Sunghoon dilakukan secara terpisah untuk memancing transparansi. Sunghoon keluar melalui pintu depan kantor polisi, namun kali ini ia tidak sendirian atau hanya ditemani polisi. Ia didampingi oleh pengacara independen tersebut di sisi kanannya.
Saat pintu kaca terbuka, kilatan kamera kembali menyambar. Namun atmosfernya sudah berubah 180 derajat. Tidak ada makian. Yang terdengar adalah sorak-sorai "Maafkan kami, Sunghoon!" dari beberapa fans yang sudah menunggu sejak pagi.
Di saat yang sama, para member—Jay, Jungwon, Jake, Heeseung, Sunoo, dan Riki—muncul dengan mobil agensi yang berbeda. Mereka turun dari mobil tepat di depan lobi kantor polisi, melanggar perintah Manajer Kang yang menyuruh mereka tetap di dalam kendaraan.
Jay adalah yang pertama melangkah maju. Ia tidak peduli pada kamera. Ia langsung merangkul bahu Sunghoon dengan kencang, seolah memastikan bahwa sahabatnya yang sudah dia anggap saudara itu benar-benar masih utuh.
"Kita pulang," bisik Jay, suaranya parau namun penuh kemenangan.
Namun, Sunghoon tidak langsung masuk ke dalam mobil. Ia berhenti sejenak, matanya menyisir kerumunan orang di seberang jalan. Ia mencari satu sosok. Ia mencari gadis yang ia tahu telah mempertaruhkan segalanya untuk membangun "tangga" kebebasannya dari balik layar komputer.
Kamu berdiri di sudut jalan yang agak jauh, mengenakan topimu yang lain dan masker. Di sampingmu, Rei dan Yujin menggenggam tanganmu erat. Kalian melihat pemandangan itu dari kejauhan—melihat Sunghoon yang tampak lelah namun kembali bersinar di bawah sinar matahari sore.
Ponselmu bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari Jay.
"Dia selamat. Semua berkat lo. Jangan ke menampakkan diri ke publik dulu, keadaan masih panas karena agensi lagi diselidiki soal suap. Tetap sembunyi sampai gue kasih kabar lagi. Dia... dia titip salam. Dia bilang makasih karena udah percaya."
Kamu melihat Sunghoon sekali lagi sebelum dia masuk ke dalam mobil. Untuk sesaat, mata Sunghoon seolah tertuju tepat ke arahmu—meski jarak dan kerumunan memisahkan kalian. Ia menyentuh topi yang ia kenakan (topimu), lalu memberikan anggukan kecil yang hampir tak terlihat oleh orang lain.
Itu adalah kode rahasia di antara kalian. Sebuah janji bahwa ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru di mana kalian tidak perlu lagi bersembunyi di balik kegelapan.
Mobil yang membawa para member perlahan bergerak menjauh, meninggalkan gedung kantor polisi yang kini tampak tidak lagi menakutkan. Di belakang mereka, iring-iringan fans mengikuti, namun kali ini bukan untuk memburu, melainkan untuk menjaga.
Kamu menghela napas panjang, beban di pundakmu seolah luruh seketika. "Ayo pulang," ajakmu pada Rei dan Yujin. "Tugas kita sudah selesai."
Setelah badai yang menghancurkan itu berlalu, dunia perlahan-lahan mulai tenang, meski bekas lukanya masih terasa. Empat bulan berikutnya adalah masa yang paling melelahkan sekaligus melegakan. Kasus suap pejabat tinggi dan korupsi agensi lama terkuak sampai ke akar-akarnya—semua berkat "umpan" informasi digital yang kamu tebar malam itu. Media tidak berhenti menggali, dan publik tidak berhenti menuntut sampai CEO serta jajaran manajemen yang korup itu benar-benar jatuh.
Selama empat bulan itu, kamu dan Sunghoon benar-benar putus kontak. Tidak ada SMS rahasia, tidak ada telepon tengah malam. Kamu paham, Sunghoon dan member lainnya sedang bertarung di ruang sidang untuk memutus kontrak mereka yang mencekik. Kamu memilih kembali ke balik layar, menjadi "bayangan" yang menjaga dari jauh demi keamanan mereka.
Hingga akhirnya, hari yang ditunggu itu tiba. Pengadilan secara resmi memutus kontrak Sunghoon dan semua member tanpa denda sepeser pun karena pelanggaran hak asasi dan penipuan yang dilakukan agensi lama. Mereka menang telak.
Tak lama setelah itu, berita besar mengguncang industri K-pop: Seluruh member ENFINITY resmi bergabung dengan agensi baru yang lebih kecil namun memiliki reputasi sangat baik dalam menghargai hak artis. Mereka bersiap untuk Redebut.
Melihat berita itu di layar ponselmu saat sedang duduk di kafe kampus, kamu menangis lega. Bukan tangisan sedih, tapi tangisan kemenangan.
Sore itu, sepulang kuliah, kamu masuk ke rumah sewamu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kamu membuka lemari besar tempat kamu menyembunyikan semua "harta karun" fansmu beberapa bulan lalu.
Satu per satu, kamu mengeluarkan koleksi album yang tersusun rapi. Kamu mengambil poster raksasa Sunghoon yang sempat kamu gulung dan menyembunyikannya di bawah kasur. Dengan hati-hati, kamu menempelkannya kembali di dinding kamar—tepat di titik di mana Sunghoon dulu sering melamun menatap jendela.
Kamu menata ulang meja belajarmu. Stiker-stiker wajah member yang lucu kembali menghiasi sudut laptop. Kamu mengambil pembatas buku transparan yang sempat dipegang Sunghoon malam itu, lalu menyelipkannya kembali ke buku favoritmu dengan senyum kecil.
"Selamat datang kembali, Sunghoon," bisikmu pada poster itu.
Kamar yang tadinya terasa dingin dan kosong selama empat bulan, kini kembali berwarna. Kamu kembali menjalani hidupmu sebagai mahasiswa jurnalisme biasa—bedanya, kini kamu memiliki sebuah rahasia yang tidak akan pernah diketahui dunia: bahwa pria yang wajahnya kini kembali bersinar di billboard kota itu, pernah makan sup pereda mabuk di meja belajarmu yang sempit.
★
Hari redebut tiba. Video musik terbaru mereka rilis dengan konsep yang sangat berbeda. Tidak ada lagi kesan "produk industri" yang dingin, mereka terlihat lebih lepas, lebih manusiawi, dan yang terpenting... Sunghoon terlihat sangat bahagia.
Kamu duduk di depan laptop, melakukan tugasmu sebagai fans setia: melakukan streaming sekuat tenaga, memberikan komentar positif, dan ikut merayakan kembalinya idola kesayanganmu.
Namun, ada satu detail kecil yang membuat jantungmu berdebar saat menonton video musik tersebut. Di salah satu adegan solo Sunghoon, ia duduk di sebuah ruangan yang ditata mirip dengan kamar sewa sederhana. Ia memegang sebuah topi hitam yang sangat mirip dengan topimu yang hilang hari itu.
Sunghoon menatap kamera, memberikan senyum tipis—jenis senyuman yang hanya pernah ia berikan padamu secara pribadi—lalu ia menaruh topi itu di dadanya sebelum layar meredup.
Mungkin bagi dunia, itu hanyalah properti syuting. Tapi bagimu, itu adalah pesan terima kasih yang melintasi ruang dan waktu. Kamu menyentuh layar laptopmu dengan ujung jari, merasa bangga karena kamu telah membantu mengembalikan sinar di mata pria itu.
Hidupmu kembali normal, tapi kamu tahu, di suatu tempat di luar sana, Park Sunghoon sedang bernapas lega, tumbuh menjadi idola yang ia impikan, berkat keberanianmu yang tak pernah ia lupakan.
★
Beberapa tahun telah berlalu, dan peta industri hiburan telah berubah drastis. Grup yang dulu hampir hancur oleh konspirasi politik itu kini berdiri sebagai raksasa yang tak tergoyahkan. Di bawah naungan agensi baru, mereka memiliki kebebasan yang dulu hanya menjadi mimpi, jadwal individu, sub-unit yang eksperimental, hingga debut solo kini mengalir dengan organik tanpa mengorbankan keutuhan grup.
Kehidupanmu pun bertransformasi secara signifikan. Gelar sarjana yang kamu perjuangkan di tengah badai skandal Sunghoon kini telah membawamu menjadi seorang jurnalis lepas yang disegani—dan bagi sebagian orang, ditakuti. Kamu dikenal sebagai jurnalis yang memiliki integritas "keras kepala", selalu menjunjung tinggi kode etik, dan secara konsisten berhasil membongkar lapisan kotor di balik citra publik figur atau pejabat yang korup. Meski banyak yang membencimu karena ketajaman penamu, kamu tidak peduli. Bagimu, kebenaran adalah harga mati, persis seperti caramu membela Sunghoon bertahun-tahun yang lalu.
Namun, di balik citra jurnalis investigasi yang dingin dan profesional, identitasmu sebagai penggemar tetap menjadi "ruang aman" yang paling kamu jaga. Kamu masih orang yang sama; orang yang rela tidak tidur demi war tiket dan mengoleksi album dengan telaten.
★
Tahun ini adalah tahun besar bagi Sunghoon. Ia akhirnya melakukan debut solo dengan album yang sangat personal, sebuah karya yang ia sebut sebagai "surat terima kasih untuk masa lalu". Saat pengumuman pemenang fansign tatap muka keluar, jantungmu hampir berhenti. Dari sekian ribu pendaftar secara random, namamu—Shin (y/n)—terpampang di urutan pemenang.
Kamu mematung di depan laptop. Ini bukan lagi soal melihatnya dari balik layar warnet atau jarak ratusan meter di depan kantor polisi. Kamu akan duduk tepat di hadapannya.
Hari itu tiba. Kamu datang ke lokasi fansign dengan penampilan yang sangat berbeda dari mahasiswi lusuh yang dulu sering berlari menuju minimarket. Kamu kini lebih dewasa, elegan, dan tenang. Namun, saat namamu dipanggil untuk naik ke atas panggung, lututmu terasa lemas kembali. Kamu membawa album solo pertamanya yang masih tercium bau tinta cetak.
Saat kamu melangkah ke meja Sunghoon, duniamu seolah melambat. Sunghoon sedang tertawa menanggapi candaan fans sebelumnya, namun saat ia mendongak dan matamu bertemu dengan mata tajamnya, tawa itu sedikit tertahan.
Ada kilatan pengenalan yang instan di matanya. Meski kamu memakai riasan yang berbeda dan tumbuh menjadi wanita yang lebih matang, Sunghoon tidak pernah melupakan sorot mata yang menemaninya saat ia makan sup pereda mabuk di kamar sempitmu.
"Halo," sapanya, suaranya kini lebih dalam dan tenang, jauh dari nada putus asa yang dulu pernah kamu dengar.
"Halo, Sunghoon. Selamat atas debut solomu," jawabmu, berusaha tetap profesional di depan staf dan kamera fansite lain yang membidik dari kejauhan.
Sunghoon menerima albummu. Ia mulai menandatanganinya sambil terus menatapmu di sela-sela menulis. Ia memberikan fanservice yang terlihat normal bagi orang lain—senyum manis, tatapan mata intens, dan pegangan tangan singkat—tapi bagimu, setiap gerakannya adalah sebuah kode rahasia.
"Terima kasih sudah datang. Kamu terlihat... sangat sukses sekarang," ucap Sunghoon dengan nada yang hanya bisa dimengerti olehmu. Kalimat "sangat sukses" itu merujuk pada berita-berita investigasimu yang sering ia baca secara diam-diam. Ia tahu jurnalis hebat yang sering membongkar kasus korupsi adalah gadis yang sama yang menyelamatkannya.
"Aku hanya melakukan pekerjaanku dengan jujur, seperti yang kamu lakukan," balasanmu membuatnya tersenyum tulus. Senyum itu bukan senyum idol untuk fans, tapi senyum seorang pria untuk pahlawannya.
Waktu terbatas. Staf mulai memberikan isyarat agar kamu turun dari panggung. Sunghoon menutup albummu dengan cepat dan mengembalikannya padamu dengan remasan tangan yang sedikit lebih lama dari biasanya.
"Jangan pernah berhenti menjadi jurnalis yang jujur, (y/n). Dunia butuh lebih banyak orang sepertimu," bisiknya sebelum kamu benar-benar beranjak setelah dia mengelus kepalamu singkat.
Acara berakhir. Kamu pulang dengan perasaan campur aduk, antara haru karena memori lama yang terbangkitkan dan rasa tenang karena melihatnya bahagia. Begitu sampai di rumah, kamu duduk di tempat tidur—tempat yang sama di mana Sunghoon pernah bersembunyi—dan membuka album tersebut dengan tangan gemetar.
Kamu mencari tanda tangannya di halaman pertama. Ada tulisan standar: "Untuk (y/n), terima kasih karena selalu ada di sisiku."
Namun, saat kamu membalik ke halaman paling belakang—sebuah halaman yang berisi foto konsep Sunghoon sedang menatap jendela (sebuah konsep yang kamu curigai terinspirasi dari masa persembunyiannya)—kamu menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Di sudut bawah, tertulis dengan tinta pulpen hitam yang sengaja disamarkan di area yang gelap, sebuah deret angka yang sangat kamu kenali sebagai nomor ponsel pribadi. Di bawahnya, terdapat sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Sunghoon yang sedikit terburu-buru:
"Aku nggak pernah menghapus nomormu di kepalaku, tapi aku tahu kamu butuh nomor baru ini. Sup pereda mabuknya belum pernah ada yang bisa menandingi dibandingkan buatan bibi penjaga dorm. Hubungi aku saat kamu sudah merasa aman, (y/n). Kali ini, giliranku yang akan melindungimu dari dunia."
Air matamu jatuh tepat di atas tulisan itu. Ternyata, selama bertahun-tahun ini, bukan hanya kamu yang menyimpan memori itu sendirian. Sunghoon tetap menjadi Park Sunghoon yang sama—pria yang tahu bagaimana membalas budi dengan cara yang paling berani dan rahasia.
Identitasmu sebagai pendukung misterius di balik kemenangan sidangnya mungkin masih menjadi teka-teki bagi publik dan agensi lamanya, tapi bagi Sunghoon, kamu adalah satu-satunya kebenaran yang nyata di dunia yang penuh kepalsuan ini. Kamu menutup album itu erat, menyadari bahwa pertemuan ini bukanlah sekadar reuni fans dan idola, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih dalam yang tertunda oleh badai waktu.
TO BE CONTINUED
Lega banget setelah menulis cerita ini anjay😭
ga sabar next part🌚
mau ngapain ya?😏





next partt smut smuttt😋😋😋
emm akhir-akhir ini, eh engga deng setiap waktu, sunghoon mantepp bgtt anjjj😋😋😋 makin hot makin mantap makin menggugah selera😋😋