JANGAN LUPA LIKE, KOMEN N FOLLOW
Lampu depan Honda Civic Hatchback warna hitam milik Riki membelah kegelapan pelataran parkir gedung Dekanat yang basah. Tetes-tetes air hujan raksasa menghantam kap mesin dengan irama yang nyaring dan tak teratur.
Riki berjalan setengah berlari menjagamu, memegang payung hitam berukuran sedang yang kemiringannya delapan puluh persen mengarah ke tubuhmu. Begitu sampai di sisi pintu penumpang depan, Riki bergerak cepat memutar kunci remote dan membukakan pintu mobil untukmu terlebih dahulu.
โMasuk cepat, (Y/N). Nanti tambah basah,โ katanya pendek. Suaranya agak tertahan oleh desing angin malam.
Kamu mengangguk pelan, tidak membuang waktu untuk segera melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma campuran leather condition, parfum mobil yang dingin, dan sisa bau hujan yang segar. Kamu menarik napas lega begitu terbebas dari gempuran gerimis, mendudukkan dirimu di atas jok kulit hitam yang empuk.
Tidak sampai tiga detik kemudian, pintu pengemudi terbuka dan Riki meluncur masuk ke dalam kemudi. Dia menutup pintu dengan sekali sentak kerasโthump!โseketika membungkam bisingnya suara hujan di luar menjadi dengungan yang teredam.
Kabin mobil mendadak terasa begitu sempit dan tertutup.
Kamu melirik ke arah Riki yang sedang mematikan payung dan menaruhnya di lantai belakang. Saat Riki menegakkan badannya kembali untuk memegang roda kemudi, mata kamu tidak sengaja menangkap kondisi bahu kiri kemeja bahan milik Riki. Kain berwarna abu-abu tua itu basah kuyup hingga warnanya berubah gelap dan menempel ketat di kulit bahunya. Bahu kirinya basah sepenuhnya demi memastikan gaun katun tipismu tidak terkena guyuran hujan deras saat berjalan tadi.
Ada rasa bersalah dan sedikit denyut aneh di dadamu melihat pengorbanan kecil itu. Kamu meraba-raba tas kainmu, berniat mengambil sepaket tisu kering untuk diberikan padanya.
โKi, bahu kamuโโ
Gerakan tanganmu yang sedang merogoh tas mendadak terpotong. Riki tidak mendengarkan ucapanmu. Dia justru memutar badannya ke belakang, meraih jaket bomber tebal berwarna navy yang tergeletak di jok belakang, lalu menariknya ke depan.
โNih, pakai,โ kata Riki, menyorongkan jaket tebal itu ke pangkuanmu.
Kamu menatap jaket tebal yang memancarkan wangi khas Rikiโcampuran aroma deterjen hangat, sedikit bau rokok tipis, dan wangi maskulin yang sangat akrab di ingatanmu. Rok katun tipismu memang agak basah di bagian ujungnya terkena cipratan air dari genangan parkiran, membuat kakimu terasa dingin terkena hembusan AC mobil yang mulai menyala.
โGak usah, Ki,โ kamu mencoba menolak dengan sopan, mendorong pelan jaket itu kembali padanya. โKamu aja yang pakai, bahu kamu yang basah kuyup dari tadi. Aku gakโโ
Hatchoo!
Suara bersin kecil yang lolos begitu saja dari hidungmu membungkam kalimat penolakanmu secara telak. Kamu refleks menutup hidung dan mulutmu dengan kedua tangan, wajahmu memerah seketika karena malu.
Riki tidak mengatakan apa-apa lagi. Alisnya berkerut tajamโbukan raut marah, melainkan campuran antara gemas, cemas, dan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Tanpa meminta izin lagi, Riki meraih jaket bomber itu, membukanya lebar-lebar, lalu menyampirkannya langsung ke atas kedua bahumu. Tangannya yang agak dingin sempat menyentuh kulit tengkukmu secara tidak sengaja saat merapikan kerah jaket itu, mengirimkan tersetrum halus yang membuat bulu kudukmu berdiri.
โUdah, gak usah ngeyel. Kulit lo udah dingin banget gitu,โ bisik Riki pelan. Suaranya berat, sangat dekat di samping telingamu.
Belum sempat kamu memproses kehangatan jaketnya yang melapisi tubuhmu, Riki mendadak memajukan seluruh badannya ke arahmu. Tubuh tingginya yang tegap mendominasi pandanganmu secara tiba-tiba.
Riki meraih sabuk pengaman dari pilar pintu di samping kirimu untuk memasangkannya ke tubuhmu. Karena jarak dudukan mobil yang terbatas, tindakan Riki membuat posisinya memangkas habis ruang udara di antara kalian. Garis wajahnya yang tajamโrahang yang tegas, hidung mancung, dan mata hitamnya yang dalamโmendadak sejajar sempurna dengan wajahmu. Hanya berjarak tak lebih dari sepuluh sentimeter.
Kamu menahan napas secara otomatis. Jantungmu bergedup kencang secara brutal, menghantam rongga dadamu hingga suaranya rasanya bisa terdengar di dalam kabin yang sepi ini. Setiap embusan napas Riki yang hangat melayang pelan, membelai permukaan kulit pipimu yang terasa dingin. Riki menghentikan gerakan tangannya yang sedang menarik kepala sabuk pengaman. Dia membeku. Matanya yang tadinya fokus pada pengait sabuk di dekat pinggulmu, kini perlahan terangkat... mengunci penuh matamu.
Di dalam keremangan cahaya lampu dasbor mobil yang berwarna keemasan, kamu bisa melihat pantulan dirimu sendiri di dalam iris mata Riki. Tatapan Riki tidak lagi dingin, tidak lagi sinis seperti berbulan-bulan lalu saat dia memanggilmu gila. Tatapan itu terasa begitu panas, intens, dan rapuh.
Pandangan Riki turun perlahan dari matamu, berhenti tepat di bibirmu yang ranum dan sedikit terbuka karena terkejut. Riki menelan ludahnya kasar. Kamu bisa melihat jakun di lehernya bergerak turun-naik dengan jelas. Ruang di dalam mobil rasanya mendadak kehabisan oksigen. Kamu terkunci dalam tarikan gravitasinya, tidak sanggup bergerak, tidak sanggup memalingkan wajah, hanya bisa menatap bagaimana jarak wajah Riki terasa makin mengikis secara perlahan...
Click.
Suara pengait sabuk pengaman yang terkunci dengan bunyi klik nyaring mendadak memecahkan sihir pekat yang mengikat kalian berdua. Riki tersentak pelan. Dia berdeham keras โEhem!โ lalu dengan cepat menarik badannya kembali ke posisi semula di balik roda kemudi. Wajahnya yang biasa pucat kini menunjukkan semburat merah tipis di sekitar daun telinganya, meskipun dia berusaha setengah mati untuk menatap lurus ke arah kaca depan yang tertutup bulir air hujan.
โS-sorry...โ gumam Riki pendek. Tangannya yang memegang roda kemudi meremas kulit roda itu sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. โBiar aman aja.โ
โI-iya... gak apa-apa. Makasih, Ki,โ balasmu dengan suara yang hampir tenggelam, membetulkan letak jaket tebal Riki di dada dengan tangan yang agak gemetaran. Kamu memalingkan wajahmu sepenuhnya ke arah jendela samping, berpura-pura sangat tertarik menatap tetesan air yang meluncur di kaca. Riki menekan tombol Engine Start. Mesin Honda Civic itu menderum halus, lalu mobil perlahan bergerak meninggalkan pelataran parkir Dekanat yang sepi.
Keheningan yang menyelimuti perjalanan malam itu terasa jauh lebih bising daripada suara hujan di luar. Aura canggung menyebar tebal di setiap sudut kabin, membuat posisi dudukmu terasa kaku dan serba salah. Kamu meremas ujung jaket Riki di pangkuanmu, menghirup aroma kayu hangat yang tertinggal di kainnya, wangi yang mendadak membuat dadamu bergetar hebat mengingat posisi dekat kalian beberapa menit lalu.
Riki fokus menatap jalanan raya Jakarta yang basah oleh pantulan lampu-lampu jalanan berwarna kuning dan merah. Jarinya yang berada di atas setir menggetuk-getuk pelan, gestur yang kamu tahu betul menandakan kalau dia sedang sangat gugup dan bingung harus berbuat apa.
Setelah sepuluh menit perjalanan yang diisi oleh suara deru mesin dan wiper yang bergerak ke kiri dan ke kanan, Riki akhirnya berdeham lagi.
โGue... gue setel lagu ya? Biar gak... biar gak terlalu sepi,โ kata Riki. Suaranya yang biasanya terdengar cool dan percaya diri mendadak terdengar sedikit belibet dan canggung. โLo... lo mau dengerin lagu apa? Maksud gue, nyamain... nyamain selera lagu lo yang sekarang?โ
Kamu melirik Riki sekilas dari samping. Cowok itu menatap layar head unit mobilnya dengan dahi berkerut tebal, seolah-olah sedang mengoperasi pasien dan bukan sekadar memilih daftar lagu di Spotify. Melihat Riki yang mendadak kehilangan gaya nonchalant-nya dan jadi begitu berhati-hati di depanmu, ada rasa geli kecil yang mencoba menyusup di balik kecanggunganmu.
โTerserah kamu aja, Ki,โ jawabmu cepat, memaksakan suaramu terdengar sesantai mungkin agar suasana cepat membaik. โAku ikut aja. Apa aja yang biasa kamu putar di mobil.โ
โOh... oke. Lagu santai aja ya,โ balusnya pendek. Jarinya menekan layar monitor, memilih sebuah playlist lagu indie-pop akustik ber-tempo lambat.
Melodi gitar yang lembut mulai memenuhi kabin mobil, sedikit mengurangi ketegangan di udara. Namun hal itu tidak memadamkan rasa deg-degan di dalam dadamu. Setiap kali Riki menginjak rem atau memutar setir, lengan tangannya yang berotot bergerak di batas pandangan matamu, mengingatkanmu kembali pada aroma dan kehangatan napasnya yang tadi sempat membelai pipimu dari jarak yang sangat dekat.
Kamu harus tenang, (Y/N), bisik hatimu, mencoba meredakan detak jantungmu yang masih tidak beraturan. Jangan sampai kamu jatuh lagi ke dalam ilusi yang sama.
Di sampingmu, Riki melirikmu lewat kaca spion tengah secara sembunyi-sembunyi. Melihatmu meringkuk rapi di dalam jaket bomber-nya yang kebesaranโdengan wajah yang setengah tersembunyi di balik kerah jaketโada perasaan hangat dan posesif yang meletup-letup pelan di dalam dada Riki. Sebuah perasaan asing yang tidak pernah dia izinkan masuk sebelumnya, namun kini membanjiri seluruh kesadarannya tanpa bisa dia cegah lagi.
Mobil Civic hitam itu terus membelah malam yang basah, membawa dua jiwa yang dulu saling menjauh, kini terjebak bersama dalam sebuah perjalanan lambat menuju arah yang belum pernah mereka duga sebelumnya.
to be continued





Seru banget anjayy ๐ญ๐ญ ni pasti bakal panjang bangettt
Pingin jg lah dipakain jaket ma ni-ki. Gila yah tiap kak mici bkn cerita member pst pd pengen juga diini sm member ini itu. Emg pelet bujang enha kuat๐ซ