5 Sharing With Daddy
Heeseung & Riki
Ketegangan di ruang makan itu begitu pekat hingga suara detak jam dinding di sudut ruangan terdengar seperti dentuman keras. Pertanyaan Heeseung yang dingin dan penuh intimidasi menggantung di udara, menuntut penjelasan mutlak dari anak kandungnya. Kamu berhenti bernapas, jemarimu yang bersembunyi di bawah meja mencengkeram kain sweter rajutmu hingga buku-buku jarimu memutih. Di sebelahmu, aura berwibawa dari Heeseung sebagai seorang pria matang berumur empat puluh tahun memancar kuat, menekan atmosfer ruangan.
Namun, Riki sama sekali tidak menunjukkan riak kepanikan. Dia meletakkan garpunya dengan perlahan, menciptakan denting halus yang sengaja memutus keheningan. Pria berusia dua puluh tahun itu mendongak, menatap langsung ke dalam mata tajam ayahnya dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi datar, polos, namun sarat akan manipulasi.
βIntens?β Riki mengulang kata itu dengan kekehan rendah yang terdengar sangat natural, seolah pertanyaan ayahnya adalah sebuah kesalahpahaman yang menggelikan. βMaaf kalau Daddy ngerasa begitu. Aku cuma lagi merhatiin sweter yang dipake Mama.β
Heeseung tidak langsung melepaskan pandangannya. Alisnya masih bertaut rapat, menilai setiap jengkal ekspresi anaknya. βSweter? Apa urusannya sama cara kamu ngeliatin dia?β
βKemarin pas aku anter ke kampus, Mama bilang dia agak pusing karena cuaca lagi nggak menentu. Terus subuh tadi, pas aku denger langkah kaki Daddy pulang, aku keluar kamar dan liat Mama masih pucat banget di depan pintu kamar utama,β Riki menjeda kalimatnya, menoleh sekilas ke arahmu dengan kilatan mata yang hanya kamu yang tahu maknanya-sebuah tatapan yang mengingatkanmu pada kebrutalan yang dia lakukan di atas kasur beberapa jam lalu.
Riki kembali menatap Heeseung, suaranya melembut, berakting menjadi anak yang berbakti. βMakanya pas liat Mama pake sweter turtleneck setebel itu di dalam rumah, aku cuma mikir... apa Mama sakitnya parah banget sampai kedinginan kayak gitu? Aku cuma khawatir Daddy bakal repot kalau baru pulang kerja tapi istri Daddy langsung jatuh sakit. Nggak ada maksud lain, Dad.β
Mendengar penjelasan Riki yang begitu runtut, logis, dan penuh perhatian, bahu Heeseung yang tadinya tegang perlahan melonggar. Aura mengancam dari pria matang itu perlahan menyusut, digantikan oleh hela napas panjang yang terdengar bersalah karena telah mencurigai darah dagingnya sendiri.
βOh... begitu,β gumam Heeseung, dia mengusap wajahnya sekilas lalu menepuk bahu Riki yang berada di depannya. βMaaf ya, Ki. Daddy mungkin terlalu capek setelah perjalanan jauh, jadi agak sensitif. Daddy malah harusnya makasih karena kamu merhatiin kesehatan Mama kamu sedetail itu.β
βNggak apa-apa, Dad. Aku paham,β jawab Riki dengan senyum miring yang sangat tipis, hampir tak terlihat. Di bawah meja, ujung kaki Riki sengaja memberikan satu ketukan keras pada betismu-sebuah tanda kemenangan mutlak darinya yang membuat jantungmu berdegup gila karena nyaris terkena serangan jantung.
Meskipun suasana di meja makan berhasil diredam oleh alibi cerdik Riki, rasa tidak tenang di dalam benak Heeseung ternyata tidak sepenuhnya menguap. Begitu sarapan selesai, Heeseung memintamu untuk menemaninya ke kamar utama dengan alasan ingin dibantu merapikan pakaian dari koper besarnya.
Begitu pintu kamar utama tertutup dan dikunci dari dalam, atmosfer hangat yang biasa Heeseung tunjukkan mendadak berubah menjadi sunyi yang menekan. Heeseung tidak langsung membuka kopernya. Dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke balkon, tempat di mana seminggu lalu Riki pertama kali mengancammu.
βSayang, ke sini sebentar,β panggil Heeseung, suaranya terdengar berat, tidak seceria biasanya.
Kamu melangkah mendekat dengan sangat pelan, merapatkan sweter turtleneck-mu seolah pakaian itu adalah perisai terakhir yang melindungi rahasia busukmu. βAda apa, Mas? Kamu keliatan capek banget.β
Heeseung berbalik. Dia menggenggam kedua belah bahumu, menatap langsung ke dalam matamu yang berkaca-kaca karena ketakutan. βAda yang nggak beres di rumah ini selama aku pergi, Y/N? Jujur sama aku.β
Jantungmu seolah berhenti berdetak. βM-maksud Mas apa? Semua baik-baik aja kok. Riki... Riki jagain aku dengan baik.β
βItu dia masalahnya,β Heeseung menyipitkan matanya, guratan kecurigaan seorang pria dewasa terpancar jelas dari rahangnya yang mengeras. βRiki itu anakku. Aku tahu persis sifatnya. Dia itu cuek, dingin, dan nggak pernah peduli sama urusan orang lain-bahkan sama urusan cewek-cewek di kampusnya. Tapi seminggu ini... dia terlalu protektif sama kamu. Cara dia bohong di depan aku tadi... itu bukan tatapan seorang anak yang khawatir sama ibunya.β
Heeseung mendekatkan wajahnya, tatapannya menuntut kebenaran mutlak yang membuatmu merasa tercekik. βTatapan Riki ke kamu tadi pagi... itu tatapan seorang pria dewasa yang lagi cemburu karena miliknya diganggu orang lain. Dia ngeliatin bibir kamu, leher kamu, seolah-olah dia tahu apa yang ada di balik baju kamu. Apa dia... apa dia ada lancang sama kamu selama aku nggak ada, Y/N?!β
Pertanyaan Heeseung menghantammu layaknya gada besi. Kamu membeku, air mata ketakutan hampir saja lolos dari sudut matamu. Di balik sweter tebal ini, tubuhmu dipenuhi oleh memar keunguan dan bekas gigitan Riki yang masih terasa perih dan berdenyut. Rahasia bahwa anak tirimu telah menghancurkan rahimmu semalaman suntuk kini berada di ujung tanduk, siap meledak dan menghancurkan pernikahan mewah yang baru saja kamu jalani ini.
Pertanyaan Heeseung yang begitu menuduh membuat dinding kamar utama terasa semakin menyempit. Tatapan matanya yang tajam mengunci seluruh pergerakanmu, menuntut jawaban atas kecurigaannya terhadap Riki. Kamarmu luar biasa sepi, hingga suara napasmu yang memburu akibat panik terdengar begitu jelas. Di balik sweter turtleneck tebal yang kamu peluk erat ini, kulitmu seolah terbakar, setiap memar keunguan dan bekas gigitan yang ditinggalkan Riki subuh tadi seakan berdenyut, mengancam akan terekspos jika Heeseung nekat menarik kerah bajumu.
βMas... kamu ngomong apa sih?β suaramu pecah, bergetar hebat di antara rasa takut dan rasa bersalah yang luar biasa. Kamu memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sumbang. βRiki itu anak kamu. Dia cuma... dia cuma denger pesen kamu buat jagain aku. Nggak ada yang lain, Mas. Sungguh.β
βTapi tatapannya nggak bisa bohong, Y/N,β Heeseung melangkah satu telapak lebih dekat, rahangnya yang tegas mengeras. Tangannya bergerak naik, jemarinya yang hangat menyentuh rahangmu, memaksamu untuk terus menatap matanya. βAku pria, Y/N. Dan aku tahu gimana cara seorang pria menatap wanita yang dia inginkan. Riki nggak menatapmu sebagai ibunya. Dia menatapmu seolah... seolah kamu adalah miliknya.β
Tangan Heeseung perlahan turun ke leher swetermu, berniat melonggarkannya karena melihat keringat dingin mulai bercucuran di pelipismu. βKenapa kamu keringetan gini? Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku, Sayang? Buka swetermu, let me check-β
βMas, jangan!β Kamu refleks menepis tangannya dengan kepanikan yang tidak bisa lagi disembunyikan.
Mata Heeseung membelalak, kilatan terluka dan kecurigaan yang semakin tebal beradu di manik matanya. Sebelum pria matang itu melontarkan pertanyaan yang bisa menghancurkan pernikahan kalian, insting bertahan hidupmu mengambil alih. Kamu tahu, satu-satunya cara untuk membuat pria berumur empat puluh tahun ini berhenti berpikir logis adalah dengan menyerang titik lemahnya: hasratnya padamu.
Kamu melangkah maju, menghapus jarak di antara kalian, dan langsung mengalungkan kedua tanganmu di leher kokoh Heeseung. Tanpa memberikan Heeseung waktu untuk mencerna perubahan sikapmu, kamu mendongak dan membungkam bibirnya dengan ciuman yang sengaja dibuat intim, menuntut, dan penuh kepasrahan yang manipulatif.
Heeseung tersentak di tempatnya, tubuh tegapnya membeku sesaat menerima serangan kasih sayang yang mendadak dari istri mudanya. Namun, kelembutan ciumanmu, caramu melumat bibirnya dengan sedikit erangan tertahan yang sengaja kamu buat, langsung meruntuhkan seluruh dinding pertahanan rasionalnya. Kecurigaan yang tadi membakar kepalanya menguap begitu saja, digantikan oleh gairah pria dewasa yang sudah seminggu menahan rindu pada tubuh istrinya.
βNnghh... Mas...β rintihmu di sela pagutan kalian, sengaja memperdalam ciumanmu saat merasakan tangan besar Heeseung mulai merayap turun ke pinggangmu, meremasnya dengan posesif.
Heeseung mengerang rendah, ciumannya berubah menjadi lumatan dalam yang memuja. Dia mengangkat tubuhmu dengan mudah, membawamu menuju ranjang king size yang beberapa jam lalu baru saja diganti sprei barunya oleh Riki. Heeseung merebahkanmu di sana, menindihmu dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kebrutalan anaknya semalam.
Di luar kamar utama, berdiri di koridor yang remang-remang, Riki tidak benar-benar kembali ke kamarnya. Pria muda itu berdiri membeku di depan pintu kayu jati yang tebal. Kedua tangannya mengepal kuat di dalam saku celananya, urat-urat di lengan bawahnya menonjol tegang saat indra pendengarannya menangkap suara-suara yang sangat dia kenali dari dalam kamar.
Suara decitan ranjang yang teratur. Suara erangan berat ayahnya yang dipenuhi gairah, dan... suara desahan vulgar darimu.
βAhh... Mas Heeseung... nnghh... pelan... pelan... ahh!β
Suara desahanmu yang memanggil nama ayahnya menembus pintu, menghantam dada Riki layaknya gada besi. Riki memejamkan matanya rapat-rapat, giginya bergelatuk menahan amarah dan cemburu yang membakar seluruh kesadarannya. Semalam suntuk, kamu meneriakkan namanya, menangis di bawah kuasanya, dan memohon ampun pada kebrutalan tubuh mudanya. Namun sekarang, dalam hitungan jam, kamu mendesahkan nama pria lain di atas kasur yang sama, menggunakan tubuh yang baru saja dia tandai untuk memuaskan ayahnya agar rahasia kalian tetap aman.
Riki menyandarkan dahinya di permukaan pintu yang dingin. Rasa kepemilikan yang gelap dan obsesif semakin mengakar di dalam hatinya. Dia mendengarkan setiap ritme pergulatan kalian di dalam sana dengan napas yang memburu berantakan.
Di dalam kamar, kamu sedang melewati neraka duniamu. Heeseung dengan sabar membuka sweter turtleneck-mu dalam keadaan lampu yang sengaja kamu matikan total agar dia tidak melihat memar di tubuhmu. Setiap kali Heeseung menyentuh kulitmu dengan kelembutan yang memuja, tubuhmu justru merespons dengan rasa perih yang luar biasa akibat sisa permainan Riki yang masih membekas di dalam rahimmu. Kamu terpaksa mendesah keras, berpura-pura menikmati setiap sentuhan Heeseung, padahal setiap desahan itu adalah jeritan rasa sakit dan rasa bersalah yang kamu tujukan untuk dirimu sendiri-dan untuk pria muda yang kamu tahu sedang mendengarkan dari balik pintu.
βKamu nikmat banget hari ini, Sayang... fffuck, aku kangen banget sama kamu,β bisik Heeseung parau, mempercepat ritmenya sebelum akhirnya dia mencapai puncaknya di dalam dirimu, memelukmu erat seolah kamu adalah satu-satunya pelabuhan hidupnya.
Kamu hanya bisa menatap langit-langit kamar yang gelap dengan air mata yang mengalir tanpa suara, mendengar detak jantung Heeseung yang menggila di dadamu, sementara di luar sana, kamu bisa mendengar langkah kaki Riki yang berjalan menjauh dengan entakan penuh amarah yang menjanjikan siksaan yang jauh lebih kejam untukmu di malam berikutnya.
Lampu kamar yang sengaja kamu matikan total tidak mampu menyembunyikan hawa panas yang mendadak menguasai ranjang king size itu. Begitu tubuhmu menyentuh kasur, Heeseung tidak lagi memberikan jeda. Pria berusia empat puluh tahun yang biasanya selalu memulai segalanya dengan elusan lembut dan kecupan penenang, kali ini bergerak dengan urgensi yang hampir terasa seperti tuntutan kasar. Kerinduan selama seminggu penuh, bercampur dengan distorsi rasa cemburu yang dipicu oleh tatapan tajam Riki di meja makan tadi, telah mengubah pembawaan tenang suamimu menjadi sesuatu yang jauh lebih beringas.
βMas... pelan-pelan...β bisikmu parau, tanganmu gemetar saat menahan dada bidangnya yang terasa panas tanpa sehelai benang pun.
Heeseung tidak mendengarkan. Dia mengunci kedua pergelangan tanganmu ke atas bantal, mencengkeramnya dengan satu tangan besarnya yang kokoh. Napasnya memburu di atas wajahmu, beraroma kopi dan gairah yang pekat.
βAku nggak bisa pelan-pelan, Y/N. Seminggu ini aku tersiksa di luar kota, mikirin kamu terus,β bisik Heeseung, suaranya rendah, serak, dan sarat akan emosi yang menuntut. Matanya yang tajam menatapmu di dalam kegelapan temaram. βApalagi pas liat anakku sendiri ngeliatin kamu kayak tadi pagi. Aku nggak suka, Y/N. Kamu istriku. Cuma aku yang boleh punya tatapan kayak gitu ke kamu.β
Tanpa memberikanmu waktu untuk merespons, Heeseung menyatukan tubuh kalian dengan satu sentakan yang dalam dan bertenaga.
βAAAAHHH! MAS!β
Kamu menjerit, matamu terbelalak lebar saat rasa penuh yang menghantam rahimmu terasa begitu masif. Hantaman Heeseung kali ini terasa jauh lebih berat dan bertenaga karena didorong oleh ego pria matang yang sedang mengklaim kembali wilayah kekuasaannya. Tubuhmu yang sebenarnya masih terasa perih, kaku, dan sensitif akibat kebrutalan Riki semalaman suntuk, kini dipaksa untuk meregang kembali, menerima sodokan-sodokan dalam yang dilakukan Heeseung tanpa jeda.
Plak! Plak! Plak!
Suara benturan pinggul Heeseung pada pantatmu terdengar berat, ritme yang dibangunnya cepat dan konstan. Heeseung melepaskan kuncian di tanganmu, beralih mencengkeram pinggangmu dengan sangat kuat hingga jemarinya tenggelam di kulitmu-tepat di atas bekas lecet yang ditinggalkan Riki subuh tadi. Kamu meringis kesakitan, namun di sela rasa sakit fisik itu, tubuhmu yang sudah dikondisikan oleh Riki semalaman justru mengeluarkan cairan alami yang melimpah, membuat penyatuanmu dengan Heeseung terdengar semakin basah dan vulgar.
βNnghh... Mas Heeseung... fffuck... ahh! Sakit, Mas... ahh!β kamu merintih, menyembunyikan wajahmu di ceruk lehernya yang wangi parfum mahal, mencoba menahan air mata yang mendadak luruh.
Rasa bersalah yang teramat sangat menghancurkan mentalmu. Di dalam rahimmu, kamu bisa merasakan bagaimana milik Heeseung bergesekan langsung dengan sisa-sisa kepemilikan Riki yang bahkan belum sempat luruh sepenuhnya. Kamu sedang digempur oleh suamimu sendiri, di atas kasur pernikahan kalian, namun ingatan ototmu masih tertinggal pada keliaran anak tirimu yang saat ini sedang berdiri mendengarkan di balik pintu kamar.
βKamu sempit banget hari ini, Sayang... hnghh, nikmat banget,β Heeseung melenguh panjang, memperdalam sodokannya hingga bagian pangkalnya menumbuk keras. Beringasnya kerinduan Heeseung membuat dia tidak menyadari bahwa jeritan desahanmu bukan hanya karena nikmat, melainkan karena rasa tersiksa yang luar biasa secara psikologis.
Heeseung membalikkan tubuhmu, mengangkat kedua kakimu hingga melingkar di pinggangnya, memaksamu menerima hantaman akhir yang semakin cepat, kasar, dan dalam, sebelum akhirnya dia mengerang keras dan menumpahkan seluruh benih kerinduannya yang panas di dalam dirimu, mendekapmu begitu erat seolah takut kamu akan menghilang jika dia melepaskannya.
Napas Heeseung yang berat dan memburu di atas dadamu belum juga mereda, namun keheningan kamar utama itu kembali terkoyak oleh ego pria matang yang belum terpuaskan. Heeseung mendongak, menatap wajahmu yang acak-acakan di bawah temaram kamar. Rasa cemburu terpendam yang dia bawa dari meja makan tadi tampaknya belum sepenuhnya padam hanya dengan satu ronde. Dengan gerakan yang menuntut, kedua tangan besarnya mencengkeram pinggangmu, mengangkat tubuhmu yang lemas, dan memaksamu berpindah posisi menjadi duduk di atas kejantanannya yang kembali menegang keras-memaksamu mengambil alih kendali dalam posisi Woman on Top.
βMas... ahh! Nnghh... rahimku penuh... Mas...β rintihmu tertahan, air mata kembali menetes di sudut matamu.
Saat tubuhmu turun dan menelan miliknya kembali, sensasinya terasa luar biasa intens hingga membuatmu hampir kehilangan kesadaran. Di dalam rahimmu, intimu terasa berkedut hebat, berdenyut-denyut sensitif karena siraman sperma Heeseung yang baru saja tumpah banyak di dalam sana, kini dipaksa bercampur dan bergesekan dengan sisa-sisa cairan pekat milik Riki yang belum sempat luruh. Rasa penuh, panas, dan padat yang berlipat ganda itu membuat dinding-dinding intimmu menjepit milik Heeseung dengan remasan yang teramat ketat secara tidak sengaja.
βFfuck, Sayang... kencang banget... kamu jepit aku dalem banget, arghh,β Heeseung melenguh parau, urat-urat di lehernya menonjol saat merasakan kedutan intim dari dalam dirimu.
Dua pria di hidupmu ini-ayah dan anak-ternyata memiliki ciri yang sangat mirip jika sudah dikuasai oleh cemburu buta, mereka sama-sama tidak mau mengalah, sama-sama ingin mendominasi, dan sama-sama ingin menghancurkan pertahananmu. Kedutan sensual yang dilepaskan oleh intimu yang kewalahan justru membuat Heeseung kembali heat, memicu gairah primitifnya untuk meledak berkali-kali lipat lebih beringas.
βAyo, Sayang... bergerak buat aku. Goyang pinggulmu,β perintah Heeseung, suaranya parau penuh tuntutan, sementara kedua tangannya mencengkeram paha dalammu, membantumu untuk naik dan turun di atas miliknya.
Kamu terbuai dalam rasa sakit dan nikmat yang destruktif. Kamu mulai menggerakkan pinggugmu, menunggangi suamimu dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali tubuhmu turun dan menumbuk pangkalnya, suara penyatuan kalian terdengar begitu basah, vulgar, dan becek akibat percampuran cairan dari dua generasi pria Lee yang menggenang di celah paha kalian.
βAhh! Ahh! Mas Heeseung... nnghh! Sakit... tapi... ahh!β
Melihat kepasrahanmu yang begitu erotis di atas tubuhnya, Heeseung menjadi semakin gelap mata. Dia menarik tengkukmu ke bawah, memaksamu membungkuk hingga dadamu menempel pada dada bidangnya. Dalam posisi WOT yang intim itu, Heeseung mulai menciumi leher dan dadamu dengan gigitan-gigitan kecil yang kasar. Dia meninggalkan kissmark baru yang banyak dan pekat, sengaja menghisap kulitmu hingga tanda kemerahan miliknya tumpang tindih secara langsung dengan bekas gigitan keunguan yang dibuat Riki subuh tadi.
Heeseung menandaimu seolah sedang berperang mengklaim hak milik, tanpa menyadari bahwa tanda yang sedang dia timpali adalah karya dari darah dagingnya sendiri yang saat ini mungkin masih mengepalkan tangan menahan amarah di balik pintu kamar. Kamu hanya bisa mendongak pasrah, meremas bahu kokoh Heeseung saat hantaman-hantaman dari bawah semakin brutal membentur rahimmu, membawamu terbangun dalam pusaran dosa yang semakin mengikat jiwamu.
Ritme beringas di atas ranjang king size itu mencapai puncaknya ketika Heeseung tidak lagi mampu menahan gejolak gairahnya. Setiap tumbukan dalam posisi Woman on Top membuat rahimmu yang panas, yang dipenuhi sisa percampuran benih ayah dan anak, berkedut dalam jepitan yang luar biasa ketat. Heeseung mengerang parau, memeluk pinggangmu erat-erat saat tubuh tegapnya menegang hebat. Dengan satu dorongan dalam yang mengunci, dia menumpahkan seluruh sisa kerinduannya di dalam dirimu untuk kedua kalinya-banyak, panas, dan menggenang hingga meluap di celah paha kalian.
βAku sayang banget sama kamu, Y/N... fffuck, maaf kalau aku terlalu kasar hari ini,β bisik Heeseung terengah-engah, suaranya parau penuh kepuasan yang tulus saat dia merebahkan tubuh lemasmu ke atas kasur.
Pria berusia empat puluh tahun itu tidak langsung tidur. Sifat dewasanya mengambil alih, dia melakukan aftercare dengan sangat lembut. Heeseung bangkit, menyalakan lampu tidur temaram di sudut kamar, lalu kembali ke ranjang dengan membawa selembar kain hangat untuk menyeka sisa-sisa cairan yang membasahi tubuhmu.
Saat cahaya kuning redup itu menerangi kulitmu, Heeseung tertegun menatap hamparan tanda kemerahan di dada, leher, dan bahumu. Di bawah pendar lampu, kissmark pekat yang baru saja dibuat Heeseung tampak bertumpuk, menyatu, dan menutupi bekas gigitan keunguan milik Riki dari subuh tadi.
Heeseung mengusap bercak-bercak itu dengan jemarinya yang hangat, menyunggingkan senyum bangga seorang pria yang merasa telah berhasil mengklaim penuh hak miliknya. Cemburu butanya mengaburkan logika. Dia sama sekali tidak mencurigai jejak Riki, pria matang itu mengira penggelapan warna kulit yang keunguan itu adalah akibat dari keberingasannya sendiri beberapa menit yang lalu.
βLihat... sampai biru-biru gini,β Heeseung terkekeh rendah, mengecup keningmu yang berkeringat dingin dengan penuh kasih sayang. βMaaf ya, Sayang. Gara-gara mikirin tatapan Riki tadi, aku jadi sekasar ini nandaian kamu. Tapi sekarang aku tenang, semua orang tahu kamu punya siapa.β
Kamu hanya bisa memejamkan mata, membiarkan suamimu memelukmu erat hingga dia tertidur pulas dalam ilusi kemenangan, sementara jiwamu menangis meraung di dalam dada karena ketakutan yang teramat sangat.
Ketenangan itu tidak bertahan lama. Siang harinya, guncangan keras di bahumu membuatmu terbangun. Heeseung sudah berpakaian rapi dengan setelan jas kerjanya, wajahnya tampak gusar saat menatap layar ponsel yang terus berdering. Ada panggilan darurat dari kantor pusat yang mengharuskannya pergi saat itu juga.
βSayang, maaf banget, ada masalah produksi di pabrik yang harus aku urus sekarang. Aku mungkin pulang agak malam,β Heeseung mengecup bibirmu sekilas, memberikan usapan penenang di pipimu sebelum melangkah terburu-buru keluar dari kamar utama.
Kamu terduduk di tepi ranjang, mendengar suara langkah kaki Heeseung yang menuruni tangga, disusul suara deru mesin mobilnya yang perlahan bergerak menjauh, meninggalkan pekarangan rumah yang megah namun terasa seperti sangkar emas ini.
Klik.
Suara itu sangat pelan, namun gema dari lantai bawah membuat seluruh tubuhmu mendadak meremang kaku. Itu bukan suara pintu ditutup. Itu adalah suara selot kunci pintu depan yang diputar dua kali dari dalam, diikuti oleh suara langkah kaki yang santai namun berat, mendaki anak tangga satu demi satu menuju kamarmu.
Pintu kamar utama yang tidak tertutup rapat didorong pelan. Riki berdiri di ambang pintu. Pria muda berumur dua puluh tahun itu sudah mengganti pakaiannya dengan kaus hitam longgar. Matanya yang sehitam jelaga menatap langsung ke arah sprei yang berantakan, lalu naik memperhatikan tubuhmu yang masih menyembunyikan tanda-tanda tumpang tindih di balik sweter yang kembali kamu kenakan.
βSuara kamu kedengeran jelas banget sampai luar, Sayang,β Riki melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu memutar anak kuncinya dengan gerakan lambat yang sengaja mengintimidasi mentalmu. βApalagi pas kamu manggil nama Daddy... βMas Heeseung... pelan-pelan...β. Sialan, itu erotis banget.β
βRiki, jangan sekarang... aku capek banget, badan aku sakit semua,β pintamu dengan suara bergetar, memundurkan tubuhmu hingga mentok ke kepala ranjang saat Riki mulai merangkak naik ke atas kasur, mengungkung tubuhmu di bawah bayang-bayang tubuh tegapnya yang atletis.
βCapek?β Riki mencengkeram rahangmu dengan kasar, memaksamu mendongak. Kilatan cemburu buta yang jauh lebih gelap dari milik Heeseung berkobar di matanya. βSemalam kamu main sama aku, siang ini kamu biarin Daddy numpahin spermanya di tempat yang sama sampai rahimmu penuh, dan sekarang kamu bilang capek ke pacarmu sendiri?!β
Riki mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang membuat duniamu runtuh seketika. βAku nggak peduli. Aku mau tagih balasan untuk setiap desahan sialan yang kamu kasih ke Daddy tadi. Dan asal kamu tahu... permainan petak umpet ini selesai hari ini.β
Tangannya yang dingin merayap masuk ke dalam swetermu, meremas pinggangmu dengan penekanan yang menyakitkan. βNanti malam, pas Daddy pulang, aku bakal ungkapin semuanya. Aku bakal bilang ke Heeseung kalau istri mudanya yang suci ini... sebenarnya masih berstatus sebagai pacar kandung anaknya sendiri. Kita liat gimana hancurnya muka Daddy pas tahu kita udah main gila di belakangnya selama ini.β
to be continued





Riki kasian yeen
egiluyy Riki