Sinar matahari pagi menyusup tipis lewat celah gorden yang sedikit terbuka, memotong kegelapan kamar tidur dan menyorot debu-debu halus yang melayang di udara. Saat matamu perlahan terbuka, sensasi pertama yang menyapa adalah rasa ngilu tumpul di sekujur tubuh. Otot paha, panggul, dan punggung bagian bawahmu terasa kaku luar biasa, efek langsung dari dua sesi beruntun yang menguras habis fisikmu semalam. Bibirmu yang masih sedikit bengkak terasa perih saat kamu mencoba membasahinya dengan ujung lidah.
Sisi kasur di sebelahmu sudah dingin dan kosong. Seprai abu-abu gelap kusut berantakan, menyisakan jejak aroma khas cologne Jake dan sisa panas tubuh semalam. Pria itu selalu punya kebiasaan menghilang sebelum matahari benar-benar naik, kembali menjadi manajer yang sibuk mengurus jadwal, uang muka, dan transaksi di balik layar agensi.
Jake sudah pergi. Di atas meja nakas, tempat yang sebelumnya penuh bungkus pengaman semalam, kini tersisa secangkir teh hangat yang masih mengepul tipis diletakkan di atas nakas, dua butir tablet pereda nyeri, dan selembar kartu akses cadangan yang sengaja ditindih di atas sebuah sticky note kuning terang bertuliskan pesan singkat dari Jake:
“Gue ke kantor agensi pagi-pagi buat mantau server launch nanti malam. Sarapan nutrisi udah gue pesenin lewat ojol, bentar lagi sampe. Hari ini lo bener-bener bed rest, jangan keluar apartemen. — Jake”
Kamu mendengus pelan, menyingkirkan selimut tebal dan memaksakan kakimu menapak ke lantai kayu yang dingin. Langkahmu gemetar saat berjalan menuju kamar mandi. Di depan cermin wastafel, kamu berhenti menatap pantulan dirimu sendiri. Di bawah cahaya lampu putih yang terang, bercak-bercak merah keunguan di tulang selangka dan lehermu terlihat sangat kontras di atas kulit pucatmu. Jejak kepemilikan ganda—bekas gigitan Riki yang belum pudar ditimpa cumbuan Jake beberapa jam lalu.
Dring... Dring...
Suara dering panggilan masuk dari ponselmu yang tergeletak di meja rias memecah kesunyian apartemen. Bukan nada panggil biasa, melainkan dering khusus untuk panggilan privat tak dikenal. Kamu mengambil ponsel itu, menyipitkan mata menatap layar yang hanya menampilkan tanda minus hitam. Dengan helaan napas berat, kamu menggeser tombol hijau.
“Halo?” suaramu masih parau khas bangun tidur.
Hening satu detik di seberang sana, sebelum suara berat yang sangat kamu kenal terdengar menyapa santai, lengkap dengan latar belakang hembusan angin luar ruangan yang tenang.
“Pagi, (Y/N).”
Tubuhmu mendadak menegang seketika. “Riki?”
“Suara lo serak,” kekeh Riki pelan, nada suaranya terdengar sangat segar dan tajam, kontras dengan kondisimu yang hancur lebur. “Kecapekan karena sesi kita kemarin, atau manajer lo yang serakah itu nuntut lo kerja lembur semalam?”
Jantungmu berdegup cepat. Cara bicaranya selalu membawa tebakan yang tepat sasaran, membuat bulu kudukmu meremang halus.
“Mau lo apa telepon pagi-pagi?” ketusmu dingin, berusaha keras menyembunyikan rasa gelisah. “Kalau soal video rilis nanti malam, Jake yang ngurus. Gue cuma talent.”
“Gue nggak peduli soal rilis malam ini. Hasilnya udah pasti meledak,” sahut Riki santai. Kamu bisa mendengar suara gemercik air di latar belakang teleponnya, seolah dia sedang berada di dekat kolam renang atau area terbuka. “Gue telepon cuma mau mastiin lo minum vitamin lo hari ini. Vila gue di puncak udah selesai disiapin buat minggu depan. Set lokasinya lebih luas, dan kali ini... kru yang ikut cuma dua orang kameramen kepercayaan gue.”
Kamu terdiam. Jumlah kru yang sedikit berarti pengawasan dari pihak agensi luar akan minim, dan kendali Riki atas jalannya syuting bakal mutlak tanpa batas.
“Jangan pasang muka takut gitu,” bisik Riki seolah-olah dia bisa melihat ekspresi wajahmu saat ini. “Istirahat yang cukup, (Y/N). Karena minggu depan, gue nggak bakal ngasih lo ruang buat kabur lagi kayak kemarin.”
Pip.
Sambungan telepon berakhir tanpa kata penutup formal. Kamu berdiri mematung beberapa saat di depan wastafel, mendengarkan keheningan apartemen yang kembali utuh setelah nada putus berhenti berbunyi. Ponsel kamu letakkan di atas meja marmer, lalu kedua tanganmu menangkup air dingin untuk membasuh wajah, mengusir rasa letih yang masih menempel di kelopak mata.
Menatap bayangan dirimu di cermin, sorot matamu tampak tenang namun sarat konsentrasi. Tanda kemerahan di sepanjang garis leher dan bahu adalah konsekuensi fisik dari proyek bernilai fantastis yang baru saja rampung—sebuah lompatan besar yang mempertemukan standar agensimu dengan kekuatan finansial Riki di level tertinggi.
Waktu bergulir cepat menuju pukul sembilan malam. Kamu memanfaatkan hari itu untuk isolasi mandiri di dalam apartemen, menenangkan pikiran dan membiarkan tubuhmu memulihkan staminanya secara optimal. Meski rasa pegal pada otot-ototmu telah mereda berkat suplemen dan istirahat, debaran antisipasi profesional tetap terasa saat layar jam digital menunjukkan waktu perilisan resmi.
Getaran konstan dari ponsel di atas meja seketika memecah keheningan.
Aplikasi manajemen agensi memunculkan puluhan notifikasi secara simultan. Akses pada saluran VIP melonjak tajam melampaui kapasitas harian, membuktikan tingginya ekspektasi pasar terhadap materi terbaru ini. Laporan cepat dari Jake masuk dengan rincian angka yang impresif:
“TARGET TAHUNAN TERLAMPAUI! Traffic server melonjak instan sejak menit awal. 15.000 akses VOD ludes dalam hitungan detik. Respons komunitas luar biasa masif melihat chemistry lo dan Riki di proyek ini. Posisi lo sekarang ada di puncak tertinggi portofolio agensi, (Y/N)!”
Kamu menatap angka-angka keberhasilan tersebut dengan kepala dingin. Di balik kesuksesan komersial itu, ada kenyataan bahwa standar eksklusivitasmu kini telah dinaikkan ke tingkat yang jauh lebih menuntut, memperlihatkan intensitas tanpa filter yang kini dinikmati oleh para pemegang modal terbesar di industri.
Memilih untuk tidak larut dalam hiruk-pikuk data malam ini, kamu menaruh ponsel ke sisi ranjang, mematikan pencahayaan kamar, dan membenamkan diri ke dalam kehangatan selimut. Mengumpulkan seluruh fokus dan energi untuk menghadapi agenda berikutnya di villa Riki minggu depan.
🔥
Tujuh hari berikutnya berlalu bagai bayangan kabur. Jake memenuhi janjinya untuk tidak membebanimu dengan jadwal syuting lain, tapi sikap protektifnya berubah menjadi bentuk pengawasan yang mencekik. Dia memastikan suplemen harianmu diminum, mengontrol asupan kalorimu, dan berulang kali mengingatkanmu agar “tampil maksimal” di vila Riki demi menjaga stabilitas investasi baru mereka.
Hingga akhirnya, hari Sabtu tiba.
Sebuah mobil SUV hitam dengan kaca antipeluru dan pelat nomor khusus berhenti tepat di lobi privat apartemenmu pada pukul sembilan pagi. Bukan taksi sewaan, melainkan sopir pribadi berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang langsung membukakan pintu belakang tanpa banyak bicara.
“Nona (Y/N)? Tuan Riki meminta saya menjemput Anda langsung ke vila,” ucap sopir itu dengan nada kaku dan formal.
Kamu menoleh ke arah Jake yang berdiri di samping lobi sambil menenteng koper kecil berisi kostum dan perlengkapan syutingmu. Jake tersenyum lebar, menepuk pundakmu pelan sembari berbisik di telingamu, “Tunjukkan kelas lo, (Y/N). Kontrak satu bulan ini kunci kebebasan kita.”
Kamu melangkah masuk ke dalam mobil tanpa membalas kata-katanya. Begitu pintu tertutup rapat, mobil melaju kencang meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota, mengarah ke jalur pegunungan yang berkelok-kelok menuju kawasan vila terisolasi di dataran tinggi.
Perjalanan memakan waktu hampir tiga jam. Udara dingin pegunungan dan kabut tipis mulai menyelimuti kaca mobil saat kendaraan melewati gerbang besi tempa setinggi empat meter yang dijaga ketat oleh sistem keamanan elektronik.
Vila milik Riki berdiri megah di atas tebing batu yang menghadap langsung ke lembah pinus yang sunyi. Arsitekturnya mengusung gaya modern minimalis dengan dominasi dinding kaca tempered transparan, lantai marmer abu-abu gelap, dan kolam renang infinity yang airnya tampak menyatu dengan kabut jurang di bawahnya. Tempat ini benar-benar terisolasi dari dunia luar—tidak ada tetangga, tidak ada suara bising kendaraan, hanya desau angin dingin yang menghantam pepohonan pinus.
Pintu utama terbuka otomatis saat langkah kakimu menaiki tangga marmer. Begitu melangkah ke dalam ruang utama yang luas dengan langit-langit setinggi enam meter, pemandangan yang menyambutmu langsung membuat langkahmu tertahan.
Ruangan itu telah disulap menjadi set produksi privat kelas sinema. Hanya ada dua orang kru teknis—seorang penata cahaya dan seorang juru kamera profesional dengan rig stabilizer berat—yang sedang melakukan kalibrasi lensa di dekat sofa kulit putih raksasa. Tidak ada kerumunan staf agensi, tidak ada sutradara cerewet yang biasanya memberi instruksi kasar.
Dan di seberang ruangan, berdiri membelakangi dinding kaca besar yang menghadap kabut, adalah Riki. Dia mengenakan kemeja sutra hitam polos yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan garis lengan kokoh dan jam tangan perak berdesain elegan. Rambutnya disisir ke belakang sedikit berantakan, menonjolkan garis rahang yang tegas dan tatapan mata elang yang langsung menguncimu begitu kamu melintasi ambang pintu.
“Tepat waktu,” suara Riki terdengar begitu jernih dan tenang di ruangan yang luas itu.
Dia meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja kaca, lalu melangkah santai mendekatimu. Langkah kakinya tanpa suara, namun auranya memancarkan dominasi yang langsung membuat udara di sekitarmu terasa menipis.
“Gimana perjalanannya? Sopir gue bawa mobilnya terlalu kencang?” tanya Riki santai, berhenti tepat satu jengkal di hadapanmu.
Matanya menyapu penampilanmu dari atas ke bawah—meneliti wajahmu yang terpoles riasan tipis, gaun rajut pas badan yang membalut lekuk tubuhmu, hingga berhenti di bibirmu yang kini tampak segar tanpa luka.
“Tempat ini terlalu sepi buat syuting agensi,” sahutmu dingin, mempertahankan nada suara profesionalmu meski jantungmu berdegup lebih cepat dari biasanya. “Jake bilang kru yang ikut minimal lima orang buat standar keamanan.”
Riki terkekeh pelan—sebuah dengusan rendah yang sarat akan rasa meremehkan.
“Standar agensi lo itu murahan, (Y/N). Terlalu banyak orang asing yang nggak berkepentingan ngeliat lo telanjang,” ucap Riki dengan nada suara yang melambat, mencondongkan tubuhnya maju hingga hembusan napas hangatnya yang beraroma mint dan tembakau menyentuh pelipismu. “Dua orang di sana itu staf khusus gue yang udah tanda tangan NDA seumur hidup. Rekaman hari ini nggak bakal ada yang bocor ke server umum kecuali atas izin gue.”
NDA: kontrak perjanjian kerahasiaan
Kamu menelan ludah pelan. “Maksud lo apa? Jake bilang ini buat VOD episode kedua.”
“Jake cuma tahu apa yang gue izinin buat dia tahu,” potong Riki dengan seringai tipis yang mematikan. Jemarinya yang panjang terangkat, menyentuh lembut kerah mantelmu sebelum menariknya perlahan hingga terlepas dari pundakmu dan menjatuhkannya ke lantai. “Kamera di sana cuma pelengkap formalitas. Karena mulai detik ini sampai besok pagi... lo bukan lagi kerja buat penonton di luar sana. Lo ada di sini sepenuhnya buat gue.”
Dua kameramen di sudut ruangan menyalakan lampu sorot latar dengan warna amber redup yang hangat, lalu memberi isyarat anggukan tanda bahwa lensa utama telah merekam (rolling). Riki tidak menunggu aba-aba atau naskah arahan apa pun. Tangannya melingkari pinggangmu dengan tarikan mantap yang langsung mengikis habis jarak di antara tubuh kalian, menatap lurus ke dalam matamu yang mulai dilanda kepanikan halus.
“Aturan lo soal ciuman udah batal sejak minggu lalu,” bisik Riki rendah dan berbahaya, menempelkan bibirnya tepat di sudut bibirmu sebelum berbisik pelan, “Sekarang, mari kita lihat batasan mana lagi dari diri lo yang bakal hancur hari ini.”
To be continued
ga sabar di obok obok riki😖





LANJUTANNYA MANA MOMMM GA SABAR BUAT BACANYAAAA 😭✌🏻
Baru sadar jadi y/n ini sama Jake punya hubungan ya 😭 terus riki ini siapa dh