Jungwon tidak membiarkanmu menikmati kelegaan itu sedetik pun. Begitu denyutan orgasmemu mulai mereda, ia tidak mendorongmu menjauh, sebaliknya, tangannya yang melingkar di pinggangmu mengunci posisimu agar tetap tertanam di atasnya.
Bisikan dingin itu menyapu telingamu, “Kamu pikir satu kali udah cukup buat membayar ketidaksopananmu, (y/n)? Kamu mengambilnya tanpa izin... dan sekarang, aku akan mengambil sisanya darimu dengan cara yang nggak akan pernah kamu lupakan.”
Jungwon tidak lagi diam. Ia membalikkan keadaan dengan satu gerakan tangkas, membuatmu kini berada di bawahnya dengan posisi kaki yang dipaksa menekuk ke arah dadamu. Ia meraih kembali remote vibrator yang tadi ia letakkan di nakas.
“Satu siksaan untuk tubuhmu, dan satu lagi untuk keberanianmu,” gumamnya.
Tanpa belas kasihan, ia menyalakan kembali telur vibrator di level tertinggi dan menekannya tepat di klitorismu yang sekarang sudah sangat lecet dan sensitif karena baru saja mencapai puncak. Rasa nikmat yang seharusnya sudah tuntas kini berubah menjadi rasa perih yang elektrik, seolah sarafmu sedang dipanggang hidup-hidup.
“Kak Jungwon! Hhh—n-no! Berhenti... perih!” jeritmu, kepalamu menggeleng liar di atas bantal.
Sembari alat itu menyiksa bagian luarmu, Jungwon mulai menghujamkan dirinya kembali ke dalam vaginamu. Namun kali ini, ia tidak menggunakan ritme lambat yang manipulatif. Ia bergerak dengan kecepatan brutal dan tenaga yang menghantam rahimmu setiap detiknya.
Setiap kali ia mendorong masuk, ia sengaja menekan alat getar itu lebih keras ke klitorismu. Kamu terjepit di antara dua sensasi yang saling bertabrakan: rasa penuh yang kasar dari Jungwon dan getaran tajam yang menyakitkan dari mesin itu.
“Ini yang kamu mau, kan? Kamu mau memegang kendali?” Jungwon mencengkeram lehermu, tidak cukup kuat untuk mencekik, tapi cukup untuk membuatmu merasa tercekik oleh dominasinya. “Rasain gimana rasanya pas aku nggak lagi kasih pilihan buat berhenti.”
Otakmu benar-benar meledak. Kamu terus-menerus didorong ke ambang orgasme berulang kali tanpa jeda. Setiap kali kamu merasa akan meledak lagi, Jungwon akan mempercepat ritmenya, memaksa tubuhmu untuk terus merespons meski kamu sudah memohon ampun hingga suaramu habis.
Kamu menangis histeris, tubuhmu gemetar hebat seperti sedang kejang. Kamu bukan lagi manusia; kamu hanya gumpalan saraf yang bereaksi terhadap rangsangan brutal Jungwon. Siksaan ganda ini membuatmu merasa seolah rahimmu akan hancur dan kulitmu akan terkelupas.
“Kak Jungwon... please... aku hancur... aku hancur...” rintihmu di sela-sela isakan yang memilukan.
“Memang itu tujuanku, Sayang,” balasnya dingin, memberikan satu sentakan terakhir yang sangat keras hingga kepalamu membentur kepala tempat tidur, bersamaan dengan pelepasan keduanya yang memenuhi rahimmu yang sudah meluap.
Jungwon membiarkanmu terkapar lemas, hancur sepenuhnya baik secara fisik maupun mental. Ia tidak mematikan alat getar itu, membiarkannya terus berdenyut di antara pahamu yang lemas, sementara ia bangkit untuk membersihkan dirinya. Kamu ditinggalkan di sana dalam kondisi bergetar tanpa henti, menyadari bahwa di tangan Jungwon, “ampunan” adalah kata yang lebih menakutkan daripada “hukuman”.
Kesadaranmu kembali secara perlahan, ditarik paksa dari kegelapan tidur yang tidak nyenyak oleh rasa pegal yang menghujam hingga ke sumsum tulang. Kelopak matamu terasa sangat berat, lengket oleh sisa air mata yang mengering. Saat kamu mencoba menggerakkan ujung jarimu, rasa sakit yang tumpul namun konsisten menjalar di seluruh sarafmu. Tubuhmu benar-benar remuk—terasa seperti rongsokan yang dipaksa bekerja melampaui batasnya.
Kamu menyadari satu hal yang mengerikan: kakimu tidak bisa menutup. Otot paha bagian dalammu terasa kaku dan gemetar, dipaksa terbuka lebar selama berjam-jam oleh spreader bar dan aktivitas brutal semalam. Dan di sana, di pusat intimu yang membengkak, kamu masih bisa merasakan benda asing yang dingin dan keras menyumbatmu. Vibrator itu masih tertanam di dalam, meski getarannya sudah mati, meninggalkan sensasi penuh yang membuat perut bawahmu terasa kram dan mulas.
Di balik selimut tebal yang hanya menutupi dari pinggang ke bawah, kamu merasakan pergerakan di sisi ranjang.
Jungwon mendekat. Ia hanya mengenakan celana kain hitam yang longgar, memperlihatkan dada bidangnya yang dipenuhi goresan kuku darimu—jejak keputusasaanmu semalam. Wajahnya tampak segar, seolah ia tidak baru saja menghancurkan kewarasan seseorang. Ia menatapmu dengan binar mata yang kini kembali “lembut”, namun kamu tahu itu adalah manipulasi paling berbahaya.
“Selamat pagi, Pet,” bisik Jungwon, suaranya serak khas bangun tidur namun tetap terdengar dominan.
Ia menyibak selimut itu, mengekspos kondisimu yang hancur. Tanpa kata-kata, ia meraih alat yang masih tertahan di dalam dirimu. Dengan satu tarikan yang lambat namun pasti, ia mengeluarkan benda itu. Kamu mengeluarkan rintihan kecil yang menyedihkan saat otot-ototmu yang sensitif dipaksa berkontraksi sekali lagi.
“Kaku berantakan banget, (y/n),” gumam Jungwon, meletakkan alat itu di nakas seolah itu hanya sampah biasa.
Ia tidak memberimu kesempatan untuk memprotes. Jungwon menyusupkan lengannya ke bawah leher dan lututmu, mengangkat tubuhmu yang terkulai lemas dalam gendongan bridal style. Kepalamu terkulai di bahunya, kamu tidak memiliki energi bahkan untuk sekadar memegang lehernya. Kamu hanya bisa pasrah saat ia membawamu melangkah menuju kamar mandi mewahnya yang beruap hangat.
Suara gemericik air yang memenuhi bathtub marmer raksasa itu seharusnya menenangkan, namun bagimu, itu hanya menandakan dimulainya ritual pembersihan yang posesif. Jungwon melangkah masuk ke dalam air hangat yang sudah dipenuhi busa aromaterapi, masih mengenakan celana kainnya yang kini basah kuyup dan menempel di kulitnya, sambil tetap mendekapmu erat.
Ia duduk di dalam bathtub, memposisikanmu di antara kedua kakinya sehingga punggungmu bersandar di dadanya yang hangat. Air hangat mulai merayap naik, menyentuh kulitmu yang penuh lebam keunguan—jejak tangan Jay, gigitan Sunoo, dan klem dari Jungwon.
“Sshh... diam. Aku mau mandiin kami,” bisik Jungwon saat kamu sedikit meringis ketika air menyentuh bagian sensitifmu.
Dengan sangat hati-hati, ia mengambil spons lembut dan mulai mengusap bahumu. Gerakannya sangat telaten, seolah-olah ia sedang memandikan porselen retak yang sangat berharga. Ia membasuh sisa-sisa keringat dan cairan yang mengering di kulitmu dengan gerakan memutar yang menenangkan, namun setiap sentuhannya tetap terasa seperti klaim kepemilikan.
Kamu terkulai lemas dalam dekapannya. Otot-ototmu yang tadinya kaku mulai sedikit rileks karena suhu air, namun mentalmu tetap terjaga dalam ketakutan. Kamu bisa merasakan detak jantung Jungwon yang stabil di punggungmu.
“Kamu nurut banget pagi ini,” ujar Jungwon, mencium puncak kepalamu yang basah. “Kalo kamu terus kayak ini, mungkin aku bisa bujuk Papa buat lepasin rantaimu di ruang makan nanti.”
Jungwon menggunakan jemarinya untuk menyisir rambutmu yang kusut, lalu mulai memijat tengkukmu. Kamu memejamkan mata, membiarkan dirimu tenggelam dalam dekapan pria yang semalam memberimu siksaan ganda tanpa ampun. Di dalam air yang hangat ini, kamu menyadari ironi yang pahit: pria yang menghancurkanmu adalah pria yang sama yang sekarang membasuh lukamu.
Kamu adalah tawanannya, budaknya, dan peliharaannya. Dan di dalam bathtub ini, dalam keheningan yang menyesakkan, kamu menyadari bahwa kamu mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan antara rasa sakit yang ia berikan dan perlindungan yang ia tawarkan.
Uap hangat dari kamar mandi masih menempel di kulitmu yang pucat saat Jungwon mendudukkanmu di depan meja rias mahoni yang besar. Cermin di hadapanmu memantulkan sosok yang hampir tidak kau kenali—seorang gadis dengan mata yang redup, dikelilingi oleh kemewahan yang terasa mencekik.
Jungwon bekerja dengan ketenangan seorang seniman yang sedang merestorasi lukisan rusak. Ia memulai dengan mengoleskan minyak aromaterapi ke bahumu, memijat otot-ototmu yang kaku akibat ketegangan semalam. Jemarinya yang panjang bergerak lihai, mengabaikan fakta bahwa setiap sentuhannya membuatmu gemetar kecil.
“Jangan tegang, Sayang. Hari ini dunia harus lihat secantik apa milik keluarga Park,” bisiknya.
Ia tidak terburu-buru, seolah setiap detik yang ia habiskan untuk menyentuh kulitmu adalah hak istimewa yang ia menangkan semalam.
Jungwon mengeluarkan sebuah gaun yang tampak sangat kontras dengan kekejaman yang kamu alami. Gaun bergaya Victorian berwarna putih bersih dengan motif bunga-bunga pucat yang samar. Bahannya terlihat sangat mewah; perpaduan antara kain sutra halus dan organza yang transparan di bagian bahu.
“Gaun ini cocok banget buat kamu,” bisik Jungwon sambil membantumu mengenakannya.
Gaun itu memiliki model off-shoulder yang memperlihatkan bahumu, namun Jungwon dengan sengaja menata rambut panjangmu sedemikian rupa untuk menutupi lebam keunguan di sana. Bagian dadanya dihiasi dengan renda-renda bertumpuk yang cantik, memberikan kesan bahwa kamu adalah gadis yang sangat dijaga dan disayangi. Gaun ini memiliki potongan pinggang yang tinggi dengan aksen kancing-kancing kecil yang manis, membuat tubuhmu terlihat ramping namun tetap sopan.
Namun, bagian yang paling mematikan adalah lehernya. Jungwon tidak membiarkan lehermu kosong. Ia mengambil sebuah pita kain sutra yang tebal dan lembut. Dengan jemari yang telaten, ia melilitkan pita itu berkali-kali di lehermu, menutupi choker kulit hitam yang masih terpasang kuat di sana. Ia mengikatnya menjadi simpul pita besar yang sangat manis di bawah dagumu.
Siapa pun yang melihatmu hanya akan mengira itu adalah bagian dari gaya gaunmu yang anggun. Tidak ada yang akan menduga bahwa di balik pita cantik itu, ada kalung jerat yang menandakan kamu adalah budak mereka.
Jungwon kemudian mengambil peralatan makeup. Dengan sangat halus, ia memoleskan concealer untuk menutupi jejak kelelahan di bawah matamu. Ia memberikan rona merah muda tipis di pipimu agar kamu tidak terlihat seperti mayat hidup, dan memoleskan lip gloss bening pada bibirmu yang masih terasa sedikit berdenyut perih.
“Lihat ke cermin, (y/n). Kamu cantik banget,” gumam Jungwon. “Boneka kecilku yang paling sempurna.”
Jungwon membimbingmu keluar dari kamar. Tubuhmu terasa remuk; setiap langkah yang kamu ambil membuat rasa nyeri menjalar dari panggul hingga ke tulang belakang. Namun, cengkeraman tangan Jungwon di pinggangmu seolah menjadi satu-satunya penyangga yang memaksamu untuk tetap berdiri tegak.
Di ruang keluarga yang luas, Jay dan Sunoo sudah menunggu. Ketiganya mengenakan setelan jas formal yang identik, berwarna abu-abu gelap yang sangat rapi dan berkelas. Mereka tampak seperti tiga pangeran yang berkuasa, kontras dengan dirimu yang tampak seperti tawanan berbaju indah.
Sunoo mendekat, menyentuh simpul pita di lehermu dengan ujung jarinya. “Pitanya cantik banget, Jungwon. Rapi banget buat nyembunyiin mainan kita,” ujarnya dengan senyum tipis yang dingin.
Jay berdiri di samping sofa tunggal yang megah—singgasana yang menjadi pusat ruangan. Ia menatapmu dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang penuh kepuasan. “Kemarilah, (y/n). Waktunya kita mengambil foto keluarga pertama kita.”
Suasana di ruang tengah itu begitu hening, hanya terdengar detak jam dinding antik yang seolah menghitung sisa-sisa kemanusiaanmu yang masih tertinggal. Fotografer pribadi keluarga Park berdiri mematung di balik kameranya, kepalanya tertunduk tak berani menatap langsung ke arah panggung sandiwara yang sedang disusun oleh ketiga tuannya.
Jay duduk dengan angkuh di atas sofa tunggal beralaskan beludru merah tua—sebuah singgasana yang memancarkan aura kekuasaan mutlak. Ia membuka pahanya, memberimu isyarat tanpa suara. Dengan tubuh yang gemetar dan langkah yang diseret paksa oleh rasa nyeri yang menusuk di area panggul, kamu melangkah mendekat.
“Duduk, (y/n). Di sini, di tempat yang seharusnya,” suara Jay rendah, bergema di ruangan yang luas itu.
Kamu mendudukkan dirimu di pangkuan Jay. Seketika, lengan besarnya melingkar di pinggangmu, mendekapmu begitu erat hingga kamu bisa merasakan detak jantungnya yang tenang di punggungmu. Cengkeramannya bukan sebuah pelukan hangat, melainkan sebuah kunci yang memastikan mangsanya tidak akan pernah lepas.
Sunoo melangkah ke sisi kanan belakang sofa. Ia meletakkan tangannya yang dingin tepat di atas bahumu yang terbuka, jari-jarinya yang lentik meraba garis lehermu yang tertutup pita putih. Sementara itu, Jungwon berdiri di sisi kiri, berdiri tegak dengan satu tangan bertumpu pada sandaran kursi, menatap tajam ke arah lensa kamera dengan sorot mata predator yang puas.
“Angkat dagumu, Sayang. Jangan biarin air matamu ngerusak riasan yang udah aku buat dengan susah payah,” bisik Jungwon tepat di samping telingamu, napasnya terasa hangat namun membuat bulu kudukmu berdiri.
Kamu mencoba mendongak. Di depanmu, di balik lensa kamera, kamu melihat bayangan dirimu sendiri. Kamu terlihat sangat cantik—begitu suci dalam balutan gaun putih bunga-bunga itu. Tapi kamu tahu kebenarannya. Kamu tahu bahwa di balik kain sutra yang mahal ini, kulitmu penuh dengan lebam keunguan. Kamu tahu bahwa di balik pita cantik yang diikat Jungwon, ada choker kulit hitam yang mencekik nadimu. Dan kamu tahu, jauh di dalam rahimmu, kamu masih bisa merasakan sisa-sisa kehancuran yang mereka tinggalkan semalam.
“Tersenyumlah yang paling manis. Tunjukkan pada dunia bahwa kamu bahagia menjadi milik kami,” perintah Jay, suaranya mengandung ancaman halus yang membuatmu tak punya pilihan.
Kamu menarik sudut bibirmu, membentuk sebuah senyuman yang paling hampa dan paling menyedihkan yang pernah ada. Sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata, karena matamu sudah kehilangan cahayanya—kosong dan mati.
Cekrek.
Lampu kilat kamera menyambar, mengunci momen itu dalam keabadian.
Potret itu akan menjadi sejarah. Dunia luar akan melihatnya sebagai foto keluarga aristokrat yang sempurna; seorang pria berwibawa yang mencintai ‘putrinya’, dan dua kakak laki-laki yang menjaga ‘adiknya’. Mereka akan memuji kecantikanmu, mereka akan iri pada kemewahanmu.
Namun, kebenaran yang paling tragis adalah: potret itu adalah nisan bagi kebebasanmu. Foto itu adalah bukti bahwa kamu telah sepenuhnya dijinakkan. Kamu bukan lagi seorang gadis dengan mimpi atau keinginan, kamu hanyalah perhiasan hidup yang dipajang untuk memuaskan ego mereka.
Saat fotografer itu mengemasi peralatannya dan pergi, Jay tidak melepaskan dekapannya. Ia justru menarik pita sutra di lehermu hingga simpulnya terlepas, memperlihatkan jerat hitam yang tersembunyi di baliknya.
“Selamat datang di rumah, (y/n),” bisik Jay sambil mencium keningmu dengan kepemilikan mutlak. “Kamu nggak akan pernah keluar dari bingkai ini. Sampai mati, kamu adalah bagian dari kami.”
Di bawah lampu kristal yang megah, dalam balutan gaun putih yang melambangkan kemurnian yang telah dirampas, kamu menyadari satu hal: kamu tidak hanya kehilangan kebebasanmu malam itu. Kamu telah kehilangan dirimu sendiri, terjebak selamanya dalam foto keluarga yang indah... namun membusuk di dalamnya.
THE END
Cuma bisa bikin sampai disini saja
wopyu, my michies 💖




Tapi bagus bgt alur ceritanya aku suka, ditunggu karya selanjutnya kak mici❤️
Dikala kak mici merinding, kok aku sedih yah, sakit bgt sumpah🥺