5 Overdose
Captain Jake
Jangan Lupa Like
โLihat dari belakang sini... kamu cantik banget, Sayang. Bagian bawah kamu bener-bener pas membungkus punya aku,โ bisik Jake serak, matanya menatap lurus ke arah penyatuan kalian yang begitu basah dan vulgar dari belakang.
Dia merunduk, menempelkan tubuh depannya ke punggung polosmu, lalu menjangkau ke depan untuk kembali meremas kedua dadamu dari bawah. Sentakan-sentakannya dari belakang semakin cepat, seirama dengan detak jantungmu yang sudah berpacu di luar batas normal manusia. Kamu bisa merasakan setiap urat tegang di miliknya bergesekan langsung dengan dinding dalammu, memberikan sensasi geli, penuh, dan nikmat yang luar biasa hebat hingga membuat kepalamu pusing.
โAku gak akan kasih kamu ampun malam ini. Gak ada batasan sebulan sekali lagi. Mulai besok, setiap kali aku mau, kamu harus siap di bawah aku kayak gini, paham?โ geram Jake, suaranya terdengar begitu dominan dan penuh tuntutan kepemilikan yang mutlak.
Kamu hanya bisa mengangguk pasrah di sela-sela desahanmu yang semakin melemah. Seluruh tenagamu seolah sudah terkuras habis oleh intensitas ronde kedua yang berkali-kali lipat lebih brutal dari ronde pertama tadi. Tubuhmu bergoyang hebat mengikuti setiap hentakan keras yang diberikan Jake dari belakang. Kesadaranmu sudah berada di ambang batas, melayang di dalam pusaran kenikmatan yang diberikan oleh cowok FIK ini.
Setiap kata-kata kotor, setiap remasan kasar di dadamu, dan setiap tamparan pelan yang dia berikan di atas kulitmu sore itu berubah menjadi stimulan terbaik yang membuat intimu semakin menjepit miliknya dengan remasan yang teramat ketat, menandakan bahwa kamu sudah kembali mendekati puncak pelepasanmu yang kedua.
โJake... ahh! Mau keluar... aku udah gak kuat, ahh!โ jeritmu parah, kedua tanganmu mencengkeram erat bantal sofa di depanmu, mencoba menahan guncangan tubuhmu yang semakin tidak beraturan.
Mendengar jeritan klimaksmu yang sudah di depan mata, Jake mengetatkan seluruh otot tubuhnya. Kecepatan tumpuannya dari belakang berubah menjadi gila-gilaan, sebuah gerakan pamungkas dari seorang atlet yang sedang memburu garis finish-nya. Dia menghujamkan miliknya berkali-kali secara frontal, menembus titik terdalam rahimmu tanpa ampun sampai seluruh tubuhnya bergetar hebat.
โKeluar bareng aku, Sayang... jepit yang kuat!โ perintah Jake parah, suaranya benar-benar habis di tenggorokan.
Bersamaan dengan jeritan panjangmu yang menggema di dalam ruangan saat klimaks kedua menghantam seluruh sarafmu, Jake memberikan satu hentakan terdalam yang paling kuat. Dia menekan pinggulnya habis-habisan menempel pada pantatmu, mengunci miliknya di dalam rahimmu saat seluruh otot tubuhnya menegang sempurna.
Croot! Spurt! Spurt!
Gelombang cairan panas dalam jumlah yang jauh lebih banyak dan pekat dari ronde pertama kembali memancar deras, menyembur langsung di dalam rahimmu dalam beberapa kali dorongan beruntun yang kuat. Perut bagian bawahmu kedutan hebat menerima limpahan cairan panas milik Jake yang terasa memenuhi seluruh rongga intimu hingga meluber keluar membasahi paha kalian berdua.
Jake mengerang sangat rendah dan panjang, menyembunyikan wajahnya di antara pundak dan leher belakangmu yang basah oleh keringat. Tubuh besarnya ambruk menindih punggungmu, sama-sama terengah-engah mencari oksigen setelah menyelesaikan ronde kedua yang begitu brutal di atas sofa apartemenmu yang kini dipenuhi oleh aroma keintiman kalian berdua.
Detak jam dinding di ruang tengah apartemenmu kini menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan yang tersisa. Hawa AC yang semula kalah telak oleh panasnya gairah di atas sofa kulit, perlahan-lahan mulai membelai permukaan kulit kalian yang basah oleh keringat.
Tubuh besar Jake masih menindihmu dari belakang, beratnya yang maskulin dan kokoh terasa begitu menenangkan di atas punggung polosmu. Napasnya yang semula memburu kasar seperti singa yang lepas kendali, kini perlahan-lahan bertransisi menjadi hembusan napas yang teratur, hangat, dan lembut di ceruk leher belakangmu.
Miliknya yang tertanam jauh di dalam rahimmu perlahan-lahan mulai melunak, namun Jake sama sekali belum bergerak untuk menarik diri. Dia seolah ingin mengunci momen ini, membiarkan kehangatan terdalam kalian tetap menyatu selama mungkin.
โJake... berat,โ bisikmu serak. Suaramu hampir habis, tenggorokanmu terasa kering akibat jeritan desahan yang kamu tumpahkan di dua ronde brutal sebelumnya.
Mendengar bisikan lemasmu, Jake melenguh rendah. Dia memberikan satu kecupan lembut di bahumu yang ternoda rona kemerahan, lalu dengan perlahan menarik tubuhnya mundur. Gesekan terakhir saat miliknya terlepas dari intimu membuatmu reflek melenguh kecil karena sensitivitas tubuhmu yang masih berada di puncak pasca-klimaks. Cairan hangat yang memenuhi rahimmu perlahan meluber keluar, mengalir di sela paha, namun sebelum kamu sempat merasa risih, Jake sudah bergerak.
Dia membalik tubuhmu dengan sangat hati-hati, seolah-olah kamu adalah barang pecah belah yang paling berharga di dunia. Sifat beringasnya beberapa menit yang lalu menguap tanpa sisa, digantikan oleh tatapan mata cokelat gelap yang begitu teduh, dalam, dan dipenuhi binar kasih sayang yang meluap-luap.
โMaaf ya, Sayang? Sakit, hm?โ suara Jake berubah seratus delapan puluh derajat. Nada bicaranya kembali menjadi sangat manis, lembut, dan penuh afeksi yang membuai-suara khas yang selalu sukses bikin kamu luluh sekeras apa pun kamu mencoba bertahan.
Kamu menggeleng lemah, menyembunyikan wajahmu di dada bidangnya yang polos. Jake terkekeh rendah, suara kekehannya yang berat bergetar di dadanya, memberikan rasa nyaman yang instan. Lengan kekarnya menyelinap di bawah kepalamu, menjadikannya bantal, sementara tangannya yang lain menarik helaian rambutmu yang menempel di dahi akibat keringat, menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang teramat protektif.
โKamu bener-bener bikin aku gila tadi,โ bisik Jake lagi. Dia merunduk, menangkup rahangmu dengan jemarinya yang hangat, lalu membawa bibirmu masuk ke dalam sebuah ciuman yang sama sekali berbeda dengan yang tadi.
Ciuman kali ini berjalan sangat lambat, sebuah slowburn setelah badai. Bibir penuhnya melumat bibir bengkakmu dengan kelembutan yang begitu sabar, menghisap bibir atas dan bawahmu bergantian dengan penuh perasaan. Gak ada desakan, gak ada tuntutan kasar. Ini adalah sebuah penyerahan rasa sayang yang begitu dalam, membuat dadamu terasa penuh oleh kehangatan yang meletup-letup. Kamu membalas ciumannya dengan sisa tenagamu, membiarkan lidah kalian bertaut pelan dalam irama yang manis dan memabukkan.
Begitu tautan itu terlepas, Jake gak langsung menjauh. Dia menempelkan ujung hidung mancungnya ke hidungmu, menggeseknya manja seperti anak anjing besar yang enggan kehilangan atensi.
โBibir pacar aku manis banget, heran. Ini efek formulasi obat apa sih? Bikin overdosis terus tiap hari,โ gombalnya dengan cengiran seksi yang mempertegas ketampanan wajahnya yang tajam.
Kamu mendengus pelan, menepuk dada bidangnya lemah. โGak usah mulai deh, gombalannya receh banget, Captain.โ
โSiapa yang gombal? Ini fakta ilmiah, Bu Farmasi,โ sahut Jake cepat, matanya menyipit jenaka. Dia mengecup keningmu lama, lalu turun ke kelopak matamu, ke pipimu yang merona, dan berakhir di sudut bibirmu. โSeisi kampus boleh mikir aku pinter ngomong manis ke semua orang, tapi mereka gak tahu aja kalau lidah manis aku ini cuma berfungsi maksimal kalau dipakai buat ngerayu kamu di atas sofa kayak gini.โ
Wajahmu memanas mendengar kalimatnya yang kembali menjurus ke arah sensual namun dibalut dengan nada yang begitu manja. Kamu hanya bisa memeluk lehernya lebih erat, menikmati bagaimana detak jantung Jake berdegup konstan tepat di depan dadamu.
Jake membiarkan keheningan malam kembali merayap di antara kalian selama beberapa menit. Tangannya bergerak lambat, mengusap punggung polosmu ke atas dan ke bawah, sesekali memberikan remasan-remasan kecil yang protektif di pinggangmu. Namun, di balik sentuhan lembutnya yang penuh afeksi itu, ada sebuah ketegangan samar yang terasa dari cara dia mendekap tubuhmu.
โSayang,โ panggil Jake, suaranya mendadak berubah agak berat, menurunkan nada bermanjanya menjadi sesuatu yang lebih serius dan penuh dominasi tersembunyi.
โHm?โ kamu menyahut tanpa membuka mata, masih terlalu nyaman bersandar di dada bidangnya.
โMulai malam ini, aku gak mau pulang ke kosan aku lagi.โ
Mendengar kalimat itu, matamu langsung terbuka. Kamu mendongak, menatap wajah tajam Jake dari bawah. Ekspresi wajah cowok FIK itu gak main-main, rahangnya mengeras sedikit, dan tatapan matanya memancarkan sebuah keputusan mutlak yang gak menerima bantahan. Sisi dominan sang kapten olahraga yang terbiasa mengatur strategi dan memegang kendali penuh kembali muncul ke permukaan.
โMaksud kamu?โ tanyamu agak bingung.
โMulai malam ini, aku tinggal di sini. Sama kamu. Living together,โ jawab Jake tegas, tanpa ragu sedikit pun.
Kamu tertegun, mencoba mencerna kalimatnya yang mendadak melompati batas zona nyaman yang selama ini kamu bangun. โJake, kita baru pacaran lima bulan. Lagian kamar kos kamu kan deket sama lapangan latihan, kenapa tiba-tiba-โ
โKarena aku udah gak bisa tenang kalau harus jauh dari kamu, even cuma beda beberapa blok,โ potong Jake cepat. Dia memutar tubuhnya sedikit, mengungkung tubuhmu di bawahnya lagi, namun kali ini tanpa gairah yang meledak-ledak. Tatapannya murni posesif dan penuh pelindung.
Dia menggenggam kedua tanganmu, menyatukan jemari kalian di atas bantal sofa. โKamu pikir aku tenang di luar sana? Saban hari di kampus, aku harus liat cewek-cewek dari fakultas lain nyoba deketin aku, dan aku harus tetep pasang muka ramah karena urusan organisasi. Tapi yang paling bikin aku gak tenang itu kamu.โ
Jake merunduk, mengecup bibirmu singkat dengan penekanan yang tegas.
โKamu yang terlalu santai, kamu yang gak pernah cemburu pas aku dikelilingi fans, kamu yang selalu bilang โya udah selesaiin urusanmuโ. Kamu tahu gak itu bikin aku insecure setengah mati? Aku ngerasa kayak... kamu gak takut kehilangan aku sama sekali,โ curhat Jake, suaranya melembut namun nadanya menuntut kepatuhan. โApalagi pas aku liat kamu di perpus tadi. Gak pakai kacamata, rambut berantakan, fokus sama buku-buku kamu. Cowok-cowok di meja sebelah itu bolak-balik ngelirik kamu, Sayang. Aku gak suka. Aku mau gila rasanya.โ
Kamu tertegun mendengar kejujuran yang keluar dari mulut buaya kampus ini. Jadi, ketenanganmu selama ini justru dibaca sebagai ancaman oleh ego posesifnya.
โAku cuma percaya sama kamu, Jake. Makanya aku gak cemburu,โ belamu pelan.
โAku tahu. Tapi aku yang gak bisa jauh dari kamu,โ dominasi mutlak terpancar jelas dari sepasang mata cokelat gelapnya. โApalagi setelah malam ini. Setelah aku tahu seberapa pasnya tubuh kita kalau menyatu, setelah aku tahu gimana rasanya keluar di dalam rahim kamu sampai penuh... kamu pikir aku bakal rela pulang ke kosan aku yang sepi itu dan ngebiarin kamu tidur sendirian di sini? Enggak akan, Sayang.โ
Jake mengusap pipimu dengan ibu jarinya, menatapmu dengan pandangan yang mengunci seluruh pergerakanmu. โAku udah minta anak-anak UKM yang deket sama aku buat bantuin pindahin barang-barang penting aku besok pagi. Baju olahraga aku, sepatu, beberapa buku kuliah. Aku bakal taruh semuanya di lemari kamu. Urusan biaya sewa biar aku yang bayar mulai bulan depan dan seterusnya. Kamar apartemen ini bakal jadi markas kita berdua. Gak ada penolakan, Bu Farmasi. Ini perintah mutlak dari Captain.โ
Kamu menatap wajah tegasnya lama, lalu sebuah senyuman tipis tak dapat dibendung muncul di bibirmu. Di balik sikap dominannya yang mematikan ini, kamu tahu dasar utamanya adalah rasa sayang yang sudah terlanjur melesat melewati dosis aman. Dia sudah benar-benar overdosis akan kehadiranmu di hidupnya.
โDasar posesif,โ cibirmu pelan, namun tanganmu bergerak naik untuk memeluk lehernya lagi, menandakan bahwa kamu menerima keputusan mutlaknya tanpa syarat.
Jake tersenyum penuh kemenangan-senyuman termanis yang malam ini ditutup dengan kehangatan cinta yang utuh. โPunya pacar secantik dan sepinter kamu emang harus posesif, Sayang. Kalau enggak, bisa dicuri anak fakultas lain.โ
โSekarang, waktunya bersih-bersih,โ kata Jake lembut setelah puas memelukmu beberapa saat lagi.
Dia melepaskan dekapannya, lalu bangkit berdiri di atas sofa. Tubuh tingginya yang proporsional, atletis, dan polos tanpa sehelai benang pun terekspos sempurna di bawah temaram lampu ruang tengah. Tanpa rasa canggung sedikit pun, Jake merunduk ke arahmu yang masih berbaring lemas di atas sofa.
โAyo, aku angkat,โ bisiknya manis.
Sebelum kamu sempat bersiap, lengan kekar Jake sudah menyusup di bawah punggung dan lekukan lututmu. Dengan satu sentakan bertenaga yang terasa begitu mudah bagi fisik atletnya, dia mengangkat tubuh polosmu ke dalam gendongan bridal style. Kamu reflek mengalungkan kedua lenganmu di leher kokohnya, menyembunyikan wajahmu yang kembali merona di dadanya yang hangat.
Setiap langkah yang diambil Jake menuju kamar mandi terasa begitu santai dan penuh afeksi. Dia gak terburu-buru, sesekali dia sengaja menghentikan langkahnya hanya untuk mengecup bahumu, memberikan gigitan-gigitan kecil yang menggoda di sepanjang lehermu, membuatmu memekik pelan dan mencubit lengannya yang keras.
โJake, stop... geli tahu,โ protesmu dengan sisa suaramu yang serak.
โLagian kamu menggemaskan banget kalau lagi lemas gini. Biasanya galak kalau di lab,โ godanya penuh tawa, matanya berbinar jenaka menatap wajah berantakanmu yang tanpa kacamata kelihatan sepuluh kali lipat lebih cantik di matanya.
Jake mendorong pintu kamar mandi dengan kakinya, membawa kalian masuk ke dalam ruangan yang didominasi keramik putih bersih itu. Dia menurunkan tubuhmu dengan sangat hati-hati di atas tepi bathtub, memastikan kamu duduk dengan nyaman sebelum dia menyalakan pancuran air hangat.
Aroma sabun beraroma vanilla-mint milikmu perlahan mulai bercampur dengan uap air hangat yang memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang teramat rileks dan intim. Jake berlutut di depanmu, mengambil shower puff yang sudah diberi sabun cair, lalu mulai mengusap lengan dan bahumu dengan gerakan yang teramat lembut.
Dia membersihkan sisa-sisa keringat dan jejak kemerahan di tubuhmu dengan penuh ketelatenan, seolah sedang merawat aset paling berharga yang dia miliki di dunia. Saat tangannya bergerak turun ke sela pahamu untuk membersihkan sisa cairan putih pekat miliknya yang sempat mengering di sana, mata Jake kembali meredup sejenak, menatap bagaimana intimu yang kemerahan masih sedikit terbuka akibat aktivitas brutal mereka tadi.
โMasih perih?โ tanya Jake, suaranya merendah, ada nada penyesalan sekaligus kebanggaan tersendiri di sana.
Kamu menggeleng pelan, membiarkan jemari hangatnya membasuh area sensitifmu dengan kelembutan yang menenangkan. โEnggak begitu. Cuma lemas aja.โ
Jake mendongak, menatap matamu lurus-lurus sembari tangannya terus bekerja membasuh tubuhmu di bawah guyuran air hangat. โBagus deh. Karena mulai malam ini dan seterusnya, kamu harus mulai terbiasa sama ketahanan fisik anak FIK, Sayang. Aku gak akan kasih kamu kelonggaran lagi.โ
Kamu tertawa kecil, menjungkitkan dagunya dengan jarimu, meniru gaya bicaranya yang penuh dominasi manis. โKita lihat aja seberapa lama kamu bisa bertahan sama jadwal praktikum dan prinsip ketat anak Farmasi, Captain.โ
Jake terkekeh rendah, meraih tanganmu untuk dikecup punggungnya dengan penuh perasaan di bawah rintik air hangat kamar mandi. Malam itu, di balik pintu apartemen yang terkunci rapat, kalian berdua resmi meleburkan seluruh batasan yang ada, bersiap memulai babak baru yang penuh dengan overdosis afeksi, dominasi manis, dan cinta yang tak akan pernah menyisakan ruang untuk jarak lagi.
โ
The End
gaada extra part ๐๐ป




JUJUR MAU JAKE ๐ญ๐ญ๐ญ
Jake jangan cemburu sama cowok saingan kamu cuma laprak kok๐ญโ๐ป