⚾️
Beberapa minggu berlalu sejak sore berfajar keemasan di gudang peralatan Stadion Mokdong.
Atmosfer sekolah yang tadinya riuh oleh selebrasi kemenangan perlahan kembali ke ritme normalnya. Koridor SMA Hwanwoon kembali dipenuhi hiruk-pikuk siswa yang tenggelam dalam tumpukan tugas, ujian tengah semester, dan persiapan festival sekolah.
Namun, ada satu perubahan besar yang dirasakan oleh seluruh penghuni sekolah—sesuatu yang menjadi bahan bisik-bisik hangat di setiap sudut kantin.
Yang Jungwon.
Si pelempar bisbol dingin dan menyendiri yang dulu selalu mengenakan headphone hitam dan menatap lurus tanpa memedulikan sekitarnya, kini punya kebiasaan baru.
Setiap bel istirahat berbunyi, sosok bertubuh tinggi atletis itu selalu terlihat berdiri bersandar di balik pintu kelasmu. Kaos seragamnya tergulung rapi hingga memperlihatkan lengan bawahnya yang tegap, dan matanya hanya akan fokus mencari satu orang: kamu.
“Kamu tuh ya, ditungguin dari tadi di depan malah asyik ngobrol sama Cowok lain,” suara Jungwon terdengar memotong obrolanmu dengan teman sekelompokmu di ambang pintu kelas.
Suaranya tidak lagi menggunakan gaya bicara yang kasar dan ketus seperti saat awal kalian bertemu di lapangan. Gaya bicaranya melembut dan terdengar sangat manis—meski nada tegas, maksa, dan posesifnya sama sekali tidak berkurang.
Teman sekelasmu yang sedang membicarakan tugas kelompok langsung pamit mundur dengan canggung begitu melihat tatapan tajam dan protektif yang dipancarkan oleh Jungwon.
Kamu menghela nafas pelan, namun senyum manis tak bisa disembunyikan dari bibirmu. Kamu berjalan mendekatinya sambil membawa buku catatan.
“Itu cuma teman sekelompokku, Jungwon. Cuma lima menit,” celotehmu pelan.
“Satu menit juga aku ga suka kalau dia natap kamu dekat-dekat gitu,” balas Jungwon cepat tanpa ragu. Ia meraih tanganmu, melingkarkan jemarinya di antara jemarimu, lalu menarikmu pelan menyusuri koridor menuju tangga rooftop—tempat sembunyi favorit kalian jika ingin berduaan.
Jungwon benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menjadi sosok pacar yang sangat bisa diandalkan dan memegang teguh setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Ia tidak pernah terlambat menjemputmu di gerbang asrama, selalu memastikan kamu sudah makan siang di tengah kesibukanmu sebagai manajer dan murid, dan ia selalu menunggumu selesai kelas tambahan sebelum kalian pergi latihan bisbol bersama.
Di tangga rooftop yang sepi dan terhindar dari lalu lalang murid lain, Jungwon mendudukkanmu di anak tangga teratas, sementara ia sendiri berdiri di step bawahnya, membuat tingginya kini sejajar dengan posisi dudukmu.
Jungwon meraih tasmu, meletakkannya di samping, lalu meraba dahi dan lehermu dengan punggung tangannya.
“Agak hangat,” gumam Jungwon, alis tebalnya bertaut cemas. “Tadi malam kamu tidur jam berapa? Jangan bilang kamu begadang lagi buat rekap statistik latihan tim?”
“Cuma sampai jam satu kok, lagipula hari ini ada kuis—”
“Aku bilang kan ga boleh begadang kalau ga sama aku,” potong Jungwon tajam. Tangannya berpindah mengelus pipimu dengan ibu jarinya, sentuhannya sangat halus dan hangat. “Nanti kalau kamu sakit gimana? Kamu mau bikin aku ga fokus latihan gara-gara mikirin kamu di UKS?”
Kamu tertawa pelan melihat raut wajah bahagianya yang pura-pura galak. “Iya, maaf. Nanti malam aku tidur cepat.”
“Ga ada kata maaf kalau nanti malam ga aku cek sendiri lewat video call,” tegas Jungwon. Nada memaksa khasnya keluar lagi, tapi tatapan matanya begitu penuh dengan rasa sayang.
Jungwon merogoh saku celana seragamnya, mengeluarkan satu kotak susu pisang favoritmu dan roti lapis yang sudah dibelinya dari kantin sebelum mendatangi kelasmu. Ia membukakan sedotan susu itu, lalu menyodorkannya tepat ke bibirmu.
“Minum,” perintah Jungwon lembut.
Kamu menerima sedotan itu dan meminumnya, sementara Jungwon memperhatikan setiap pergerakan bibir dan tegukan di lehermu dengan tatapan yang sangat dalam.
“Jungwon...” panggilmu pelan di sela minummu.
“Kenapa, Sayang?” sahut Jungwon santai. Panggilan kasual yang terlontar begitu saja dari bibirnya sukses membuat rona merah menjalar cepat di pipimu.
Kamu menepuk bahunya pelan karena malu. “Panggilan kamu tuh suka bikin kaget.”
Jungwon terkekeh manis. Lesung pipi tipisnya muncul, memancarkan pesona ketampanan yang sangat berbahaya. Ia maju satu langkah, mengikis jarak di antara tubuh kalian, lalu menyandarkan dahinya di bahumu yang terbalut kemeja seragam.
“Biarin. Kamu kan emang punya aku,” bisik Jungwon di lehermu, napas hangatnya membuatmu meremang. Tangannya melingkar posesif di pinggangmu dari depan, menikmati momen tenang di tengah padatnya jam sekolah. “Aku suka kalau liat pipi kamu merah gini.”
⚾️
Sore harinya, hujan gerimis tipis kembali mengguyur area sekolah setelah bel pulang berbunyi.
Latihan tim bisbol ditunda karena lapangan basah, memberi kalian waktu luang lebih awal. Di bawah kanopi gedung olahraga yang sepi, Jungwon berdiri menunggumu sambil memegang satu payung hitam besar.
Ia mengenakan jaket bisbol tim Hwanwoon favoritnya di atas seragam sekolah. Saat ia melihatmu berjalan mendekat, Jungwon langsung melebarkan jaket tebalnya dan merengkuh tubuhmu masuk ke dalam dekapan hangatnya sebelum membungkusmu dengan jaket itu bersama tubuhnya.
Aroma minyak kayu manis, parfum maskulin khasnya, dan kehangatan tubuh atletis Jungwon langsung menyergap inderamu.
“Dingin ga?” tanya Jungwon, merapatkan lingkaran tangannya di bahumu sambil memegang payung di atas kepala kalian.
“Enggak, kan ada kamu,” jawabmu jujur sambil menyandarkan kepala di dada tegapnya.
Jungwon tersenyum puas. Ia menunduk, mengecup puncak kepalamu yang tertutup tudung jaket dengan sangat lembut dan penuh kepemilikan.
“Bagus kalau paham fungsi pacar kamu ini,” ujar Jungwon dengan nada angkuh yang memikat. “Mulai sekarang, ke mana pun kamu pergi saat hujan, kamu cuma boleh hangat karena aku. Paham?”
“Iya, Yang Jungwon. Bawel banget deh,” godamu pelan.
“Bawel begini juga kamu sayang kan?” balas Jungwon tak mau kalah. Ia menyunggingkan senyum miring yang seksi sebelum memiringkan kepalanya dan mendaratkan ciuman singkat namun dalam di bibirmu.
Ciuman rasa manis susu pisang dan hujan sore itu terasa begitu sempurna. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi bayangan trauma masa lalu. Hanya ada Yang Jungwon—seorang ace bisbol yang tangguh di lapangan, namun bertransformasi menjadi pelindung hangat yang begitu posesif dan setia hanya untukmu.
⚾️
Ketenangan dalam hubunganmu dan Jungwon bertahan beberapa minggu, tapi kehidupan atlet bisbol SMA tidak pernah benar-benar sepi dari badai.
Pagi itu, udara musim gugur terasa makin menusuk kulit. Kamu berjalan menyusuri lorong menuju lapangan bisbol membawa dua botol minuman isotonik dan papan jepit catatan statistik. Hari ini Hwanwoon dijadwalkan mengadakan latihan gabungan sekaligus tanding persahabatan dengan sekolah lain.
Saat kamu melewati area bawah tribun penonton yang remang-remang, langkah kakimu terhenti.
“Lo yakin bahu lo gapapa, Won?”
Suara Pelatih Han terdengar berat dan sarat kecemasan dari balik tiang beton tribun. Kamu menahan napas, bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan.
“Ga apa-apa, Pelatih. Cuma pegal biasa,” sahut suara Jungwon. Datar, tapi kamu yang sudah menghafal setiap nada bicaranya tahu ada getaran kecil yang berusaha ia sembunyikan.
“Gue liat catatan release point lo di inning ke-tujuh kemarin turun 3 km/jam dibanding awal tanding. Jangan bohong sama Gue, Jungwon,” tegas Pelatih Han. “Gara-gara lo maksa latihan lempar tiada henti malam-malam sebelum penyisihan kemarin, otot rotator cuff lo tegang lagi, kan? Kalau lo paksa tanding lawan SMA Deoksu hari ini, cedera lo bisa permanen.”
Hening sejenak.
“Gue bisa tahan, Pelatih,” jawab Jungwon, suaranya mendadak berubah keras dan tidak mau dibantah. “Gue baru aja dapet ritme Gue lagi. y/n udah bantu Gue sejauh ini. Gue ga mau kelihatan lemah di depan dia atau bikin tim ini mundur cuma gara-gara bahu Gue pegal.”
“Jungwon—”
“Tolong, Pelatih. Biarin Gue main hari ini. Cuma tiga inning.”
Jantungmu berdesir hebat di balik dada. Papan jepit di tanganmu gemetar halus.
Rasa sakit di bahunya... dia sembunyiin dari aku?, batinmu.
Ingatanmu langsung melayang ke beberapa malam terakhir. Saat kamu menginap di kamarnya atau saat kalian berduaan di rooftop, Jungwon memang beberapa kali mengelus bahu kanannya secara refleks saat ia pikir kamu tidak sedang melihatnya. Tiap kali kamu bertanya, ia selalu mengacak rambutmu sambil tersenyum manis dan bilang, “Cuma capek biasa, Sayang.”
Jungwon berbohong padamu demi menjaga gengsinya, demi terlihat tangguh di depanmu.
Pertandingan persahabatan melawan SMA Deoksu dimulai pukul dua siang.
Deoksu terkenal dengan strategi bunt dan pukulan lambat yang memaksa pelempar bekerja ekstra keras memutar tubuh dan berlari mengejar bola di lapangan.
Di inning pertama dan kedua, Jungwon tampil memukau seperti biasa. Dua strikeout berhasil ia amankan. Namun, kamu yang duduk di dugout memegang stopwatch dan papan catatan bisa melihat perubahan kecil itu: waktu jeda Jungwon sebelum melempar makin lama, dan dahinya dipenuhi butiran keringat dingin yang jauh lebih banyak dari biasanya.
Inning ke-tiga. Dua out, dua runner Deoksu berada di base kedua dan ketiga.
Jungwon berdiri di atas mound. Ia mengangkat kaki kirinya, menarik tangan kanannya ke belakang untuk melempar fastball keputusan.
Namun di detik ia melepaskan bola—
Agh!
Jungwon merintih pelan, raut wajahnya meringis menahan nyeri hebat yang memutus dorongan otot bahunya.
Bola itu terbang pendek, menumbuk tanah jauh di depan piringan pemukul (wild pitch). Catcher Hwanwoon gagal menangkapnya, membuat bola bergulir liar ke belakang dan memberikan angka gratis bagi tim Deoksu!
“BALL! RUNNER SCORES!” teriakan wasit bergema.
Seluruh tim Hwanwoon tersentak. Jungwon berdiri mematung di atas gundukan. Tangan kanannya tergantung lemas di samping tubuhnya, jemarinya bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi.
Pelatih Han langsung memberi sinyal timeout dan berjalan cepat keluar ke lapangan bersama tim medis.
“Gue ga apa-apa! Gue masih bisa melempar!” bentak Jungwon kasar saat Pelatih Han meraih bahunya. Mata Jungwon liar, frustrasi, dan penuh amarah pada dirinya sendiri.
“Cukup, Yang Jungwon! Lo diganti!” tegas Pelatih Han.
“ENGGAK! GUE BISA!” teriak Jungwon, suaranya bergema di seluruh lapangan.
Namun saat ia mencoba mengangkat tangannya kembali untuk membuktikan posisinya, rasa sakit tajam menusuk bahunya bagai ditancap jarum panas, memaksanya membungkuk menahan nyeri.
Di tengah tatapan kasihan dari penonton dan kepasrahan timnya, Jungwon terpaksa ditarik keluar dari lapangan.
Saat berjalan menuju dugout dengan langkah terseret, mata Jungwon menatap lurus padamu. Ada rasa malu, kecewa, dan amarah yang begitu pekat memancar dari mata cokelatnya. Ia melewati kamu begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pun, terus berjalan menyusuri koridor dalam menuju ruang ganti.
Kamu menyerahkan papan catatanmu ke manajer cadangan dan langsung berlari menyusul Jungwon.
Pintu ruang medis sekolah tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara benda plastik dihantam keras ke lantai. Kamu membuka pintu kayu itu tanpa mengetuk.
Jungwon duduk di tepi ranjang periksa, bertelanjang dada dengan jersey nomor punggung 1 miliknya yang sudah tergeletak mengenaskan di lantai. Tangan kanannya ditempeli kompres es batu besar oleh petugas medis, sementara napas Jungwon naik turun cepat karena amarah.
“Keluar,” desis Jungwon tanpa mendongak saat mendengar langkah kaki masuk. Suaranya dingin dan sarat ancaman. “Gue bilang keluar!”
“Ini aku, Jungwon,” ucapmu pelan namun tegas. Kamu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Jungwon membeku. Ia mendongak lambat. Raut wajahnya yang tampan terlihat sangat berantakan, matanya merah menahan amarah dan ketidakberdayaan.
“Aku bilang keluar, y/n...” suara Jungwon memelan, kini terdengar rapuh dan serak. Ia membuang mukanya ke samping, menolak menatap matamu. “Jangan liat aku kayak gini.”
Kamu tidak mundur. Kamu berjalan mendekatinya, melangkahi seragamnya yang berserakan, lalu berdiri tepat di antara kedua paha Jungwon yang terbuka.
Kamu meletakkan kedua tanganmu di kedua sisi pipinya, memaksa wajah Jungwon berputar kembali menatapmu.
“Kenapa bohong sama aku?” tanyamu pelan, matanya menatap lurus ke dalam pupil matanya yang bergetar. “Kenapa kamu sembunyiin rasa sakit di bahu kamu dari aku, Yang Jungwon?”
Jungwon menepis tanganmu pelan dari pipinya, memegang pergelangan tanganmu rapat-rapat.
“Karena aku ga mau kamu liat aku kayak gini!” bentak Jungwon frustrasi. Udara di dalam ruang medis terasa makin sesak. “Aku ini pacar kamu! Aku yang harusnya bisa kamu andalin, aku yang harusnya kelihatan hebat di depan kamu! Tapi liat sekarang...”
Jungwon menunjuk bahunya sendiri dengan tawa sinis yang menyakitkan.
“...aku cuma pelempar cacat yang bahkan ga sanggup menyelesaikan tiga inning tanpa bikin tim rugi! Aku ga mau kamu nyesel punya pacar kayak aku!”
Mendengar ucapan bodoh itu terlepas dari bibirnya, rasa hangat sekaligus amarah menyelimuti dadamu.
Kamu menampar dada tegap Jungwon yang telanjang—cukup keras untuk membuatnya terdiam seketika.
“Kamu pikir aku bertahan sama kamu selama ini cuma gara-gara kamu ace bisbol yang jago?!” serumu, matamu mulai berkaca-kaca karena emosi. “Kamu pikir aku mau jadi pacar kamu cuma buat liat kamu melempar bola 140 km/jam?!”
Jungwon terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, menatap air mata yang mulai menggenang di pelupuk matamu.
“Aku ada di sini waktu kamu ga bisa melempar satu strike pun di bawah hujan malam-malam, Yang Jungwon!” ucapmu dengan suara bergetar namun sarat akan rasa cinta yang mendalam. “Aku ada di sini buat kamu... bukan buat gelar pelempar terbaik kamu! Kalau kamu sakit, ngomong! Kalau kamu butuh bantuan, bilang! Kenapa kamu harus menanggung semuanya sendiri seolah-olah aku ini orang luar?!”
Air mata pertamamu menetes jatuh melewati pipi.
Melihat tetesan air mata itu, seluruh pertahanan dan ego tinggi Yang Jungwon runtuh seketika tanpa sisa.
Sensasi rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada rasa nyeri di otot bahunya. Dengan tangan kirinya yang sehat, Jungwon menyambar pinggangmu, menarik tubuhmu masuk ke dalam dekapan hangatnya. Ia menyembunyikan wajahnya di dada dan lehermu, meremas bajumu erat-erat.
“Maaf...” bisik Jungwon serak di ceruk lehermu, napas panasnya berburu berantakan. “Maafin aku, y/n... aku salah... aku cuma takut kamu kecewa...”
Kamu melingkarkan lenganmu di leher tegapnya, mengusap lembut rambut hitamnya yang lembab oleh keringat. Kamu merasakan bahu kokoh laki-laki itu bergetar halus di dalam pelukanmu.
“Jangan pernah bohong lagi sama aku, Jungwon,” bisikmu di dekat telinganya. “Nyeri kamu itu tugas aku juga buat nyembuhin. Mengerti?”
Jungwon mendongak lambat dari lehermu. Matanya yang memerah menatapmu dengan intensitas yang begitu dalam dan pasrah.
“Iya... aku janji,” bisik Jungwon rendah. “Aku ga bakal bohong lagi sama kamu.”
Jungwon meraih tanganmu, membawa telapak tanganmu ke bibirnya dan mencium punggung tanganmu berkali-kali dengan penuh penyesalan.
“Dokter bilang aku harus istirahat total dua minggu,” gumam Jungwon pelan, menyandarkan dahinya di dada bagian atasmu. “Ga boleh pegang bola bisbol sama sekali.”
Kamu tersenyum tipis, mengelus rahang tegasnya yang kini terasa rileks. “Bagus. Biar kamu fokus belajar dan istirahat.”
“Tapi dua minggu itu lama banget...” keluh Jungwon. Sifat manja dan posesifnya yang hanya diperlihatkan padamu kembali muncul. Ia mendongak, menyunggingkan senyum tipis dengan lesung pipinya yang memikat. “Kalau aku ga bisa melempar bola... terus kamu mau ngapain selama dua minggu ini?”
Kamu menaikkan alismu, menggoda pacarmu itu. “Ya aku mau fokus ngurusin tim dan tugas kelaslah.”
Mata Jungwon seketika menyipit tajam. Lingkaran tangan kirinya di pinggangmu makin mengencang, menarik tubuhmu merapat hingga dadamu menempel pada dada telandangnya.
“Enggak bisa,” potong Jungwon cepat dengan nada memaksa yang hangat. “Tugas manajer kamu buat tim bisbol dipotong 50%. Sisa waktu kamu cuma boleh buat ngurusin aku.”
“Jungwon, kamu kan cuma cedera bahu, kaki kamu ga apa-apa—”
“Aku ga peduli,” desis Jungwon manis, mengikis jarak di antara bibir kalian. “Dua minggu ini kamu harus ikutan aku terapi, kamu harus suapin aku kalau aku capek, dan kamu harus tidur di samping aku tiap malam minggu. Nggak ada penolakan.”
Kamu tertawa pelan di depan bibirnya, menyentuhkan ujung hidungmu ke hidungnya.
“Ngatur banget sih kamu, Won?”
“Biarin,” balas Jungwon angkuh sebelum menyambar bibirmu dalam ciuman yang dalam, hangat, dan penuh kepastian rasa memiliki. “Aku cuma suka ngatur sama cewek aku sendiri.”
Di dalam ruang medis yang terkunci rapat itu, di antara aroma obat dan es batu yang mencair, Yang Jungwon menyadari satu hal, ia mungkin harus beristirahat sebentar dari lapangan bisbol, tapi di dalam pelukanmu, ia sudah memenangkan pertandingan paling penting dalam hidupnya.
⚾️
The End
atau
extra part?





Extra part dong kakk, mereka belum na ni nu di tempat yg proper😭 di matras, di gudang terus masa😭
Extra part