jangan lupa vote
❛❛Killer Artist - Kim Sunoo❞
Kamu pulang dengan tubuh yang masih terasa remuk, namun di pertengahan jalan, ponselmu bergetar dengan frekuensi yang lebih tajam dan dingin. Sebuah pop-up merah darah muncul, menelan seluruh cahaya di layar.
[NEW TARGET ACQUIRED: NIGHT 05]
Name: Kim Sunoo
Occupation: Fine Arts Student / Freelance Hitman (The Fox)
Location: Abandoned Art Studio - District 7.
[MISSION: THE MERCY KILLER]
“Sunoo sedang menyiapkan kuasnya, tapi bukan untuk melukis di kanvas. Dia akan menghabisi seorang mahasiswa yang merusak reputasinya. Hentikan niatnya, buat dia mengalihkan haus darahnya menjadi haus akan tubuhmu. Hati-hati, dia adalah manipulator yang sangat pintar bermain kata.”
“Oh God, target macam apa ini?!” Belum sempat kamu kembali protes cahaya merah itu menelanmu, dan dalam sekejap, kamu berpindah ke sebuah studio seni tua yang berbau cat minyak dan karat. Di tengah ruangan, di bawah lampu remang, seorang pemuda dengan wajah luar biasa manis dan senyum rubah sedang duduk santai. Di depannya, seorang mahasiswa terikat dan disumbat mulutnya, gemetar ketakutan.
Kim Sunoo. Dia terlihat seperti malaikat dalam balutan kemeja oversized yang ternoda sedikit cat, tapi di tangannya, dia memegang pisau bedah kecil yang berkilau tajam.
“Sstt... jangan berisik. Kematian itu seharusnya indah, kayak lukisan abstrak,” bisik Sunoo lembut, suaranya terdengar sangat ceria namun mematikan.
Bau cat minyak yang apek dan aroma karat yang tajam menusuk hidungmu saat kamu melangkah masuk ke dalam studio tua itu. Di tengah ruangan, Sunoo berdiri dengan tenang, jemari lentiknya memegang pisau bedah yang berkilau di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. Mahasiswa malang yang terikat di depannya sudah hampir pingsan karena ketakutan, lehernya hanya berjarak beberapa milimeter dari ujung pisau Sunoo.
Kamu sengaja menendang kaleng cat kosong di dekat kakimu, menciptakan suara gaduh yang menggema di ruangan sunyi itu.
Sunoo berhenti seketika. Dia menoleh perlahan, gerakan kepalanya mirip seperti rubah yang baru saja mendengar suara di semak-semak. Matanya yang sipit dan indah menatapmu dari ujung kaki ke ujung kepala.
Kamu masih memakai baju kantormu—rok span yang sangat ketat menonjolkan lekuk pinggulmu dan kemeja putih yang beberapa kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan kulitmu yang masih menyimpan sisa panas dari malam sebelumnya.
“Wah... lihat siapa yang datang,” Sunoo terkekeh, suaranya terdengar sangat manis sekaligus mendinginkan suasana. Dia melepaskan cengkeramannya pada rambut mahasiswa itu dan berjalan mendekatimu dengan santai. “Cantik banget. Tapi sayang... lo masuk di waktu yang salah. Lo tahu kan kalau saksi itu lebih merepotkan daripada korban?”
Dia berhenti tepat di depanmu, ujung pisau bedahnya menyentuh ujung hidungmu dengan sangat pelan. “Jadi, lo mau gue bikin ‘indah’ sekarang, atau mau nunggu giliran?”
Kamu tidak mundur. Kamu justru tersenyum miring, menatap matanya yang gelap dengan berani. Tanganmu terangkat, perlahan menjauhkan pisaunya dari wajahmu dengan satu jari, lalu tanganmu yang lain merayap ke dada kemejanya.
“Gue punya penawaran menarik buat lo, Sunoo,” bisikmu, suaramu rendah dan sangat seductive. “Lepasin orang itu. Gue jamin, gue bisa kasih sesuatu yang jauh lebih nikmat daripada darah yang muncrat dari leher mahasiswa cupu itu.”
Sunoo menaikkan alisnya, tampak terhibur. “Nikmat? Lebih nikmat dari ngeliat warna merah yang bakal melukis lantai ini?”
“Jauh lebih nikmat,” balasmu sambil menarik kerahnya hingga tubuh kalian menempel. Kamu mulai menggerakkan pinggulmu perlahan, membuat gesekan yang tidak terduga pada pusatnya. “Sesuatu yang belum pernah lo rasain di kanvas atau di meja operasi lo. Mau coba?”
Sunoo tertegun. Sebagai orang yang selama ini cuma terobsesi sama seni dan cara rapi buat beresin orang, dia nggak pernah bener-bener terjun ke dunia seks. Fokusnya yang tadinya buat ngebunuh tiba-tiba buyar pas ngerasain napasmu yang hangat di bibirnya dan aroma parfummu yang bikin otaknya nge-blank. Manipulasi kata-kata yang biasanya jadi senjatanya mendadak macet.
Dia menatapmu dengan tatapan yang bener-bener beda. “Lo... lo berani banget buat ukuran ‘mangsa’ yang baru aja gue temuin.”
Kamu melirik ke arah mahasiswa yang gemetar itu. “Lepasin dia. Aplikasi—maksud gue, gue bakal urus dia supaya dia nggak bakal inget apa pun soal malam ini. Dia bakal keluar dari sini dengan otak yang bersih. Sebagai gantinya... lo dapet gue seutuhnya.”
Sunoo diem sebentar, trus dia ketawa kecil, suara tawanya kedengeran agak gila. Dia jalan ke arah mahasiswa itu, motong ikatannya dengan kasar, dan nendang dia keluar lewat pintu belakang. “Pergi lo sebelum gue berubah pikiran.”
Begitu pintu ketutup, Sunoo balik badan dan langsung nerkam kamu. Dia nyengkeram pinggangmu kuat banget sampe kamu ngerasain kuku-kukunya menekan kulitmu lewat rok span itu. Dia ngebanting dirimu ke atas meja kayu yang penuh sama bekas cat dan peralatan seninya.
“Gue nggak tahu nikmat apa yang lo maksud, jalang,” geram Sunoo. Panggilan itu kedengeran kasar, tapi ada nada obsesi yang kental di sana—seolah dia baru aja nemuin jenis mainan baru yang pengen dia rusak sepuasnya. “Tapi karena lo udah berani ngeganggu ‘seni’ gue, gue bakal bikin lo jadi kanvas baru gue malam ini.”
Sunoo nggak pake basa-basi. Dia ngerobek kemeja kantormu sampe kancingnya mental ke mana-mana, ngebiarin dadamu terekspos di depan matanya yang udah gelap karena nafsu yang baru aja bangun.
“Jangan nyesel ya udah bikin gue penasaran,” bisik Sunoo sambil nyengkeram rahangmu, matanya menatap matamu dengan tatapan predator yang haus. “Karena gue nggak bakal berhenti sampe gue tau persis sesedap apa rasa ‘nikmat’ yang lo janjikan itu.”
Sunoo menatap tubuhmu yang kini terbaring pasrah di atas meja kayu panjang yang dingin, di antara sisa-sisa cat minyak yang mengering dan peralatan bedahnya yang tajam.
Tatapannya bukan lagi tatapan seorang pria yang ingin membunuh, tapi tatapan seorang kolektor yang menemukan barang antik paling berharga yang siap ia hancurkan.
“Bagus banget...” gumam Sunoo pelan, jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahangmu, turun ke leher, lalu berhenti tepat di sela payudaramu yang naik-turun karena napasmu yang memburu. “Kulit lo... teksturnya lebih lembut dari kanvas mana pun yang pernah gue punya.”
Dia mulai bereksperimen. Bibirnya yang tipis dan dingin itu mendarat di bahumu, menyesap kulitmu dengan teknik yang seolah sedang mencari komposisi warna yang pas. Setiap sesapan dan gigitan kecil yang dia berikan terasa sangat teknis, seolah dia sedang menguji seberapa jauh kulitmu bisa berubah warna menjadi kemerahan. Sunoo benar-benar clueless soal kasih sayang, yang dia tahu hanyalah bagaimana mengeksplorasi sebuah objek sampai batas maksimal.
“Lo bilang ada yang lebih nikmat dari darah?” Sunoo terkekeh di depan wajahmu, lalu tangannya merayap turun dengan kasar, mencengkeram paha dalammu dan dalam satu sentakan kuat, dia merobek stocking hitammu hingga hancur berantakan.
Tanpa peringatan, Sunoo meraih sebuah palet yang masih menyisakan cat warna merah darah yang kental. Dia mencelupkan jemarinya ke sana, lalu mulai mengoleskan cairan pekat itu ke atas dadamu, perut, hingga paha bagian dalammu. Kontras antara warna merah yang mencolok dengan kulit putihmu di bawah lampu neon studio yang remang-remang membuat matanya berkilat gila.
“Gue pengen liat warna merah ini kecampur sama keringat lo pas gue lagi ‘melukis’ di dalem nanti,” bisiknya dengan nada yang bikin bulu kuduk berdiri.
Kamu, meski badan sudah lemas karena sisa kelelahan dari Jake dan Sunghoon, justru mengeluarkan senyum provokatif. “Cuma segitu? Lo cuma berani main cat? Gue kira Kim Sunoo itu manipulator hebat, ternyata lo cuma bocah seni yang takut buat nyentuh realita.”
Kata-kata itu bener-bener ngebakar sisa kewarasan Sunoo. Wajah manisnya berubah total jadi gelap. Dia nggak pake basa-basi lagi. Setelah membebaskan miliknya di balik celana jeansnya Sunoo langsung main hantam. Dia menarik kedua kakimu hingga mengangkang lebar di pinggir meja, lalu tanpa pemanasan, dia menghujamkan dirinya masuk ke dalammu dengan satu hentakan yang sangat kasar dan brutal.
“Akh! Sunoo—!” jeritmu tertahan. Rasanya perih, seolah tubuhmu dipaksa untuk menerima sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kamu tampung.
“Tadi lo minta realita, kan?” Sunoo menggeram, pinggulnya mulai menumbukmu tanpa ampun. “Ini realitanya. Lo cuma barang yang masuk ke studio gue di waktu yang salah, dan sekarang gue punya hak buat ngelakuin apa pun sampe lo hancur.”
Sunoo memaksa membalik tubuhmu ke dalam posisi yang sangat tidak nyaman—dia menekan dadamu ke meja hingga kamu sulit bernapas, sementara dia terus menghajar bagian belakangmu dengan ritme yang liar dan tidak beraturan. Dia benar-benar memperkosamu dengan cara yang sangat manipulatif, setiap kali kamu mulai merasakan sedikit nikmat di tengah rasa sakit, dia akan membisikkan kata-kata yang menjatuhkan mentalmu.
“Liat diri lo sekarang. Jalang yang tadinya sok berani negosiasi sama pembunuh, sekarang cuma bisa nangis dan desah di bawah gue,” bisik Sunoo tepat di telingamu sambil menjambak rambutmu agar kamu mendongak. “Lo pikir lo spesial? Enggak. Lo cuma objek eksperimen yang bakal gue buang setelah warnanya pudar.”
Setiap hantaman Sunoo terasa sangat dalam dan menyakitkan, tapi entah kenapa, manipulasi kata-katanya justru membuat sensitivitasmu meledak. Kamu merasa benar-benar dikuasai, benar-benar dijadikan boneka hidup oleh pria yang terlihat manis ini.
Sunoo terus menjajahmu tanpa ampun, membiarkan cat merah di tubuhmu belepotan dan bercampur dengan cairan penyatuan kalian, menciptakan pemandangan yang benar-benar berantakan dan mengerikan di atas meja seni itu.
Sunoo benar-benar sudah kehilangan sisi manusianya. Baginya, kamu bukan lagi wanita yang tadi mencoba bernegosiasi dengannya, tapi sebuah kanvas hidup yang sedang ia uji ketahanannya.
Sunoo mencengkeram bahumu dan membalikkan tubuhmu dengan kasar hingga kamu kembali telentang di atas meja kayu yang keras. Napasmu tersengal, dadamu naik-turun dengan cepat, dan cat merah yang tadi ia oleskan kini sudah belepotan di seluruh kulitmu, menciptakan pemandangan yang benar-benar erotis sekaligus mengerikan.
“Gue pengen liat... gimana muka lo pas lo nggak bisa milih antara mau napas atau mau klimaks,” bisik Sunoo dengan suara yang sangat tenang, kontras dengan kilat gila di matanya.
Satu tangannya yang dingin merayap naik dan melingkar di lehermu. Dia mulai mencekikmu pelan—tidak cukup kuat untuk membunuh, tapi cukup untuk membuat pasokan oksigenmu menipis dan wajahmu memerah hebat. Di saat yang sama, dia kembali menghujamkan miliknya ke dalam dirimu dengan satu sentakan yang sangat brutal dan tanpa ampun.
Sensasi tercekik itu, dipadukan dengan hantaman keras yang menghujam rahimmu, justru menciptakan ledakan adrenalin yang tidak masuk akal. Bukannya takut, tubuhmu justru bereaksi dengan sensitivitas yang gila. Kamu merasa sangat horny; setiap saraf di tubuhmu menjerit minta lebih.
“Akh... Sunoo... ngh... lagi!” racaumu di sela-sela napas yang terbatas.
Desahanmu yang terdengar serak dan jujur itu bener-bener bikin Sunoo kehilangan sisa kendalinya. Dia yang tadinya ingin bersikap klinis dan teknis, kini malah jadi gila-gilaan. Hantamannya jadi makin liar dan keras, setiap tumbukannya seolah ingin menghancurkan tulang panggulmu.
“Lo bener-bener jalang yang rusak, ya?” Sunoo tertawa sinis, suaranya bergetar karena nafsu. Dia semakin mempererat cekikannya tepat saat dia merasakan dinding rahimmu menjepit miliknya dengan sangat ketat. “Lo suka disakitin kayak gini? Lo suka tiap kali gue bikin lo ngerasa kayak mau mati?”
Sunoo meningkatkan temponya menjadi sangat agresif. Suara kulit yang beradu dan suara decitan meja kayu memenuhi studio tua itu. Dia sengaja menekan titik-titik saraf di tubuhmu yang bikin kamu kesakitan tapi sekaligus melemparmu ke puncak kenikmatan. Kamu mencengkeram lengan Sunoo yang mencekikmu, kuku-kukumu menggores kulitnya, sementara kakimu melilit pinggangnya seolah tidak ingin dia berhenti menjajahmu.
“Liat gue, (Y/N)! Liat gimana gue lecehin lo kayak gini sampai hancur!” geram Sunoo.
Saat kamu berada di ambang orgasme yang paling dahsyat, Sunoo melepaskan semuanya di dalam dirimu dengan dorongan yang paling dalam dan kasar. Di saat yang sama, dia menekan lehermu sedikit lebih kuat, membuat penglihatanmu memutih sesaat. Kamu mengalami klimaks di tengah rasa sesak yang menyiksa, menciptakan sebuah harmoni rasa sakit dan nikmat yang bener-bener gila.
Sunoo terkulai di atas tubuhmu, napasnya memburu di telingamu, sementara tangannya perlahan melonggarkan cekikannya. Dia menatap wajahmu yang berantakan dengan senyum rubahnya yang kembali muncul—tapi kali ini, senyum itu penuh dengan obsesi yang tidak akan pernah padam.
Sunoo menjauhkan wajahnya darimu, menatap hasil “karyanya” dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara pemujaan dan kegilaan. Dia membungkuk, wajahnya tepat di depan telingamu, dan membisikkan kata-kata yang lebih tajam dari pisau bedahnya.
“Gue udah tahu bau lo, rasa lo, dan suara lo. Jangan pikir lo bisa sembunyi di mana pun, Jalang.”
Lalu, seolah ingin menyegel kontrak itu, Sunoo mencium bibirmu. Ini bukan ciuman yang menuntut seperti sebelumnya, tapi ciuman yang penuh dengan janji obsesif—sebuah cara untuk memastikan bahwa rasa bibirmu akan tertanam selamanya di otaknya. Begitu dia melepaskan cumbuan itu, Sunoo meraih kembali pisau bedahnya.
Dengan tangan yang sangat stabil, dia memberikan satu goresan kecil yang dangkal di paha bagian dalammu. Perihnya langsung menusuk, namun goresan itu membentuk inisial samar atau sekadar tanda bahwa kamu adalah miliknya. Sunoo tersenyum puas melihat darah segar yang sedikit merembes, kontras dengan cat merah di sekitarnya.
Berbeda dari Heeseunh, Jay atau Sunghoon yang menemanimu hingga akhir, sama seperti Jake, Sunoo justru memilih untuk pergi lebih dulu. Dia membereskan alat-alatnya dengan tenang, seolah baru saja menyelesaikan sebuah lukisan cat minyak biasa, dan meninggalkanmu yang masih terkapar lemas dan berantakan di atas meja itu sendirian di dalam kegelapan studio.
[MISSION COMPLETE: NIGHT 05]
Target: Kim Sunoo — OBSESSED.
Reward: “The Fox’s Signature” & 5000 Diamonds.
Beberapa saat kemudian, Sunoo kembali lagi ke dalam studio. Dia membawa kain bersih dan air, berniat untuk “membersihkan” kanvasnya atau mungkin... melanjutkan kegilaan yang tadi sempat ia hentikan.
Namun, saat kakinya melangkah masuk, studio itu sunyi senyap. Meja kayu itu kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaanmu selain sisa cat merah yang berantakan dan beberapa tetes darah segar di permukaan kayu. Kamu sudah menghilang sepenuhnya, lenyap seperti asap tanpa meninggalkan jejak kaki sedikit pun.
“Lari lagi?” Sunoo bergumam, namun tiba-tiba...
Deg!
Kepala Sunoo dihantam rasa pusing yang luar biasa hebat. Dia mengerang, mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan hingga jatuh berlutut di lantai yang dingin. Efek Memory Fog dari aplikasi bekerja dengan kekuatan maksimal untuk melindungimu. Di dalam otak Sunoo, memori tentang wajahmu mulai mengabur, fitur matamu menjadi samar, dan namamu—yang bahkan belum sempat dia tahu—terhapus sepenuhnya.
“Sial... siapa... siapa dia?” Sunoo mengerang frustrasi.
Dia berusaha keras mengingat detail wajahmu yang tadi dia ciumi, tapi otaknya justru terasa seperti disiram air keras—putih dan hampa. Namun, meskipun wajahmu hilang, obsesi gila itu tetap tertinggal di dadanya. Perasaan nikmat saat dia mencekikmu dan suara desahanmu masih bergema jelas di telinganya.
Sunoo menatap meja kosong itu dengan napas memburu. Dia kehilangan mangsanya, tapi dia mendapatkan obsesi baru yang akan membuatnya menghabiskan setiap malam untuk mencari “hantu” yang sudah merusak kedisiplinannya sebagai seorang pembunuh.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Kamu terbangun di kamarmu sendiri dengan sentakan napas yang pendek. Tubuhmu benar-benar terasa seperti baru saja dipukuli habis-habisan. Rasa perih di leher akibat cekikan Sunoo membuatmu sulit menelan, tapi yang paling nyata adalah rasa nyut-nyutan di paha bagian dalammu.
Kamu menyibak selimut dan melihatnya—goresan kecil dari pisau bedah Sunoo. Lukanya tidak dalam, tapi cukup nyata untuk membuktikan bahwa semua itu bukan mimpi. Goresan itu merah, sedikit membengkak, dan akan meninggalkan bekas untuk beberapa hari ke depan.
Kamu benar-benar lemas. Lima malam, tiga pria dengan obsesi yang berbeda-beda, dan semuanya meninggalkan jejak permanen di tubuhmu. Namun, aplikasi OBSESSION belum selesai denganmu.
Aplikasi sepertinya tahu kalau kapasitas mental dan fisikmu sudah mencapai batas. Setelah Sunoo “melukis” tubuhmu dengan cara yang begitu traumatis, layar ponselmu meredup perlahan, memancarkan gelombang frekuensi rendah yang membuat saraf-sarafmu yang tegang mendadak rileks. Kamu pun jatuh ke dalam tidur yang sangat dalam—sebuah recovery mode yang dipaksakan oleh sistem untuk menyembuhkan luka-luka fisikmu, termasuk goresan pisau Sunoo yang mulai mengering dengan cepat.
❛❛Killer Artist - Kim Sunoo❞
To Be Continued
eum... agak serem ya Sunoo disini tapi gapapa aku suka karena dia sangat hawwtt🥵🥵🔥🔥
semoga suka sama ceritanya yach
Love u, Michies 💖





