Setelah pintu terkunci rapat dan suara langkah teman-temannya menghilang, suasana di apartemen itu mendadak berubah drastis. Ketegangan karena panik berganti menjadi ketegangan yang jauh lebih panas dan menyesakkan.
Jake tidak membuang waktu. Ia menyambar tubuh (y/n) yang masih dalam wujud manusia, menggendongnya dengan satu hentakan kasar yang membuat (y/n) memekik kecil. Jake membawamu ke kamar, lalu menjatuhkan tubuhmu di atas kasur yang masih berantakan sisa pergulatan semalam.
Jake merangkak naik ke atas kasur, menyeret tubuhmu ke tengah kasur, tidak memberikan sedetik pun bagi paru-parumu untuk meraup oksigen, mengurung tubuhmu di bawah bayang-bayang tubuh besarnya.
Napasnya masih menderu, tapi kali ini bukan karena habis mengusir teman-temannya, melainkan karena gairah yang kembali meledak melihat bagaimana kamu menatapnya dengan mata biru yang sayu dan bibir yang sedikit terbuka.
Atmosfer kamar itu sudah bukan lagi sekadar panas; udara terasa tebal, pengap oleh aroma feromon yang saling beradu. Jake menatapmu dengan mata yang sudah benar-benar gelap, kehilangan jejak akal sehat yang tadi pagi ia pertahankan.
βNggak ada jeda buat hari ini,β desis Jake, suaranya pecah dan rendah.
Ia langsung menarik paksa kedua kakimu hingga terbuka lebar, memosisikan dirinya di antara pangkal pahamu. Tanpa peringatan atau pembukaan yang perlahan, Jake menghujamkan dirinya dalam satu sentakan besar. Kamu tersentak hebat, kepalamu mendongak ke belakang dengan mata yang membelalak. Rasa penuh yang mendadak itu membuatmu mengeluarkan tangis kecil yang tertahan di kerongkongan.
βLo tahu seberapa bahaya tindakan lo tadi?β suara Jake rendah, bergetar oleh dominasi yang tertahan. Tangannya mencengkeram kedua pergelangan tanganmu, menekannya ke atas bantal dengan kuat.
βLo hampir bikin mereka gila, (y/n). Dan sekarang, gue yang harus tanggung jawab buat βjinakinβ lo lagi.β
Kamu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tarikan napas pendek saat Jake mulai memberikan βhukumanβ pertamanya.
Ia membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, memberikan gigitan-gigitan kecil yang menuntut, meninggalkan tanda baru di atas tanda semalam yang belum pudar.
βJ-Jake... pelan...β rintihmu, jemarimu mencengkeram sprei hingga buku-bukunya memutih.
βPelan? Setelah apa yang lo lakuin di depan temen-temen gue?β Jake justru mempercepat temponya.
Setiap dorongan Jake terasa brutal, menghujam dalam hingga mengenai titik terdalammu. Kamu menangis, air mata mulai mengalir di sudut mata bukan karena sakit yang murni, melainkan karena stimulasi yang terlalu berlebihan. Tubuhmu gemetar hebat, tidak siap menerima serangan bertubi-tubi tanpa henti.
Ronde pertama berakhir dengan ledakan yang membuat tubuhmu melengkung kaku, namun Jake tidak membiarkanmu jatuh dalam afterglow. Sebelum napasmu kembali normal, ia sudah membalikkan tubuhmu dengan kasar.
βJake, cukup... capek...β isakmu, namun ia justru menjambak rambutmu dengan lembut tapi tegas agar wajahmu menghadap cermin di depan.
βLiat diri lo sendiri, (y/n). Liat gimana lo berantakan gara-gara gue,β bisiknya sebelum kembali memulai penetrasi dari belakang dengan sudut yang lebih mematikan.
Jake memberikan dorongan yang konstan dan keras, membuat perutmu terasa tertekan dengan nikmat yang menyiksa. Kamu menangis lebih kencang saat merasakan setiap inci dari dirinya memenuhi ruang di dalam dirimu tanpa menyisakan celah.
Setiap kali Jake mencapai puncaknya dan membanjiri bagian dalammu dengan cairannya yang hangat dan kental, ia tidak menarik diri. Ia tetap di sana, membiarkan sensasi penuh itu menyiksa indramu sebelum kembali bergerak dalam ritme yang lebih cepat lagi.
Cairan berlebih mulai merembes keluar, membasahi sela-sela pahamu, namun Jake justru menggunakan itu sebagai pelumas untuk ronde ketiga, keempat, dan seterusnya.
Kamu sudah kehilangan hitungan ronde. Duniamu hanya berisi suara kulit yang beradu, derit ranjang, dan suara rendah Jake yang terus membisikkan betapa nakalnya kamu hari ini.
Setiap kali kamu hampir kehilangan kesadaran karena kelelahan, Jake akan memberikan βpukulan-pukulanβ kecil atau gigitan di bahumu untuk memaksamu kembali merasakan setiap sensasi yang ia berikan.
Hingga matahari benar-benar menghilang dan menyisakan kegelapan total di kamar itu, Jake tetap tidak berhenti. Ia memastikan bahwa rahimmu penuh, kakimu lemas tak berdaya, dan pikiranmu hancur, hanya menyisakan nama βJakeβ sebagai satu-satunya hal yang mampu kamu ingat di tengah tangisan nikmatmu.
Setiap sentuhan Jake terasa lebih menuntut dari sebelumnya. Tidak ada lagi kelembutan yang ada hanyalah dorongan impulsif untuk menandai setiap inci kulitmu sebagai miliknya.
Jake memberikan tekanan yang dalam pada pinggulmu, memastikan kamu merasakan betapa kerasnya ia menginginkanmu saat itu juga.
βHukuman buat kucing nakal...β bisik Jake tepat di telingamu, disusul dengan sentuhan-sentuhan intens yang membuat seluruh tubuhmu melengkung, menyambut setiap penyatuan yang ia berikan.
Kamar itu kini hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya lampu jalan yang menembus celah jendela, namun suhu di dalamnya masih terasa membakar.
Kamu sudah berada di titik nadir kesadaran, napasmu pendek dan putus-putus, sementara matanya sudah mulai memutih karena stimulasi yang tak kunjung usai. Namun bagi Jake, ini adalah puncaknya-final dari hukuman yang ia janjikan.
Jake menyambar kedua pergelangan kakimu, mengangkatnya dengan kasar hingga bertumpu di atas pundaknya. Posisi ini memaksa tubuhmu melipat, mengekspos bagian paling intimmu sepenuhnya.
Dengan satu sentakan brutal, ia menyeret pinggulmu agar menempel tanpa celah, memastikan setiap inci kejantanannya menghujam hingga ke dasar rahimmu.
βSatu kali lagi, (y/n)... satu kali lagi sampai lo nggak bisa lupain gimana rasanya punya gue,β geram Jake dengan suara yang sudah menyerupai raungan binatang.
Kedua tangannya meremas payudaramu yang menegang hebat, memberikan tekanan yang kuat hingga meninggalkan bekas jari yang memerah. Kamu tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata, hanya suara erangan parau yang pecah dan tangis yang tak lagi bersuara. Saat Jake mempercepat ritme serangannya menjadi satu rentetan tumbukan yang mematikan, kamu merasakan seluruh syarafmu seolah meledak.
βJ-Jake... akh! JAKE!β
Tepat saat kamu mencapai puncak pelepasan yang paling dahsyat hingga membuat kesadaranmu hilang sepenuhnya, Jake mengeluarkan erangan terakhir yang panjang dan dalam. Ia membenamkan dirinya sedalam mungkin, memberikan dorongan final yang membuat seluruh tubuhnya menegang kaku.
Cairannya yang panas menyembur dalam volume yang luar biasa, memenuhi rahimmu hingga meluap. Sprei di bawahmu sudah basah kuyup, bukan hanya oleh keringat, tapi juga oleh sisa-sisa pergulatan kalian yang tumpah ruah.
Jake tidak langsung menarik diri.
Ia menjatuhkan beban tubuhnya di atasmu yang sudah pingsan, membiarkan miliknya tetap tertanam di dalam hangatnya rahimmu yang masih berdenyut menerima muatannya.
Ia menarik napas berat, lalu dengan tangan yang masih gemetar, ia mengusap perutmu yang sedikit membuncit dan mengeras-tanda nyata bahwa ia telah mengisi dirimu sepenuhnya hingga penuh.
Jake tersenyum puas, sebuah senyum predator yang berhasil menjinakkan mangsanya. βPunya gue. Semuanya punya gue,β bisiknya posesif.
Saat ia perlahan menarik diri, suara basah yang menjijikkan namun memuaskan-blup-terdengar di kesunyian kamar. Cairan sperma yang berlebih langsung bocor keluar dari milikmu, mengalir deras ke sela-sela paha dan menambah genangan di atas sprei. Jake mengamati pemandangan itu selama beberapa saat, menikmati hasil βkerja kerasnyaβ sepanjang sore itu.
Melihat tubuhmu yang terkulai tak berdaya dan wajahmu yang masih sembab oleh sisa air mata, sisi protektif Jake kembali muncul.
Jake menarik selimut, menyeka keringat di keningmu dengan jemarinya yang kini lembut, dan mengecup matamu yang terpejam rapat.
Jake membisikkan kata-kata sayang sambil mulai membersihkan tubuhmu dengan telaten-sebuah aftercare yang kontras dengan kebrutalan yang baru saja ia tunjukkan.
Suasana kamar itu dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan desahan yang tidak lagi tertahan.
Jake tidak membiarkanmu beristirahat hari itu, dia membawamu melalui ronde demi ronde yang menguras tenaga, seolah ingin memastikan bahwa feromon dan aroma tubuhnya adalah satu-satunya hal yang akan melekat padamu sampai matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat dan kini Jake puas.
To Be Continued





LANJUUUUT KA MICIIII