jangan lupa like
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah jalanan Seoul yang basah oleh sisa hujan dini hari. Di kursi penumpang, kamu terlelap pulas dalam balutan jas hitam milik Jay, kepalamu miring ke samping dengan napas teratur. Di setiap lampu merah, Jay tidak pernah benar-benar menatap jalanan; iris matanya yang gelap selalu terpaku pada wajahmu yang tenang tanpa topeng arogansi.
Melihatmu terlelap seperti ini selalu menarik kesadaran Jay kembali ke masa lalu—ke masa di mana semuanya belum serumit dan sehancur ini. Jauh sebelum kamar tidur mereka berubah menjadi arena pelampiasan rasa sakit dan gairah tanpa nama, ada masa di mana kamu adalah satu-satunya sumber cahaya di lingkaran pertemanan mereka. Dua keluarga konglomerat dengan reputasi kaku dan tradisi kolot telah mengikat mereka berempat sejak kecil. Jay, kamu, kakak perempuanmu Yunjin, dan adik bungsunya, Jungwon, tumbuh di taman belakang kediaman mewah yang sama.
Saat itu, kamu adalah anak perempuan paling manis yang pernah Jay kenal. Tawa renyahmu selalu mampu mencairkan suasana rumah keluarga Park yang dingin. Kamu adalah gadis kecil ceria yang suka membagikan permen stroberi kepada Jungwon, yang selalu menggandeng tangan Yunjin ke mana pun, dan yang selalu berhasil membuat Jay—yang sejak kecil memiliki gengsi setinggi langit dan canggung dalam mengekspresikan diri—tersipu diam-diam di balik buku-buku tebalnya.
Jay telah jatuh cinta padamu sejak usianya masih terlalu belia untuk memahami arti kata ‘selamanya’. Namun, karena gengsinya yang kaku dan posisinya sebagai putra sulung yang dituntut sempurna, Jay tidak pernah berani mengucapkannya. Ia hanya menyimpan perasaan itu rapat-rapat, puas hanya dengan menjadi pelindung yang memperhatikanmu dari jarak aman.
Hingga malam pertunangan terkutuk itu tiba, lima tahun lalu, saat kalian semua masih mengenakan seragam sekolah menengah atas.
Keluarga besar telah mengatur aliansi bisnis akbar melalui perjodohan putra sulung keluarga Park—Jay—dengan putri sulung keluarga kalian, yaitu Yunjin. Bagi keluarga kolot mereka, pernikahan bisnis adalah transaksi mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Namun, mereka melupakan satu hal bahwa Yunjin memiliki dunianya sendiri. Kakakmu itu mencintai seorang pria dari kalangan biasa dengan segenap jiwanya, sebuah cinta mati yang rela menentang garis darah dan kekayaan keluarga.
Malam itu, di sebuah hotel bintang lima paling megah di pusat kota, aula pertunangan telah dipenuhi ratusan tamu dari kalangan elite dan kilatan lampu kamera wartawan yang meliput dari lobi utama. Gaun pertunangan high fashion telah siap, cincin berlian telah diletakkan di atas baki beludru, dan keluarga besar Park telah berdiri menyambut para pejabat tinggi.
Lalu, kabar itu meledak di ruang rias pribadi. Yunjin melarikan diri.
Kakakmu meninggalkan gaunnya yang tergeletak di lantai marmer, perhiasan keluarga yang ditinggalkan begitu saja di atas meja rias, dan sepucuk surat singkat yang menyatakan bahwa ia memilih pergi bersama pria yang ia cintai dan tidak akan pernah kembali ke dalam sangkar emas ini.
Kepanikan luar biasa melanda kedua belah pihak keluarga. Reputasi dua dinasti konglomerat berada di ambang kehancuran total. Jika berita bahwa calon mempelai wanita kabur sampai bocor ke telinga publik dan media yang haus skandal, saham kedua korporasi akan terjun bebas, dan aib itu akan melekat selama beberapa generasi.
Di tengah jerit histeris dan kemarahan orang tuamu, sebuah keputusan brutal dan sepihak diambil dalam hitungan menit.
Kamu yang harus menggantikannya.
Jay masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana pintu aula utama terbuka perlahan malam itu. Saat ia berdiri di atas panggung dengan setelan tuksedo kaku, mengira pernikahan sandiwara ini akan dibatalkan, sosok yang melangkah masuk ke dalam karpet merah bukanlah Yunjin melaikan adalah kamu.
Kamu dipaksa mengenakan gaun pertunangan yang sedikit kebesaran di tubuh remajamu. Langkah kakimu gemetar menahan amarah yang begitu dahsyat. Di balik riasan tebal yang dipulaskan secara terburu-buru oleh para perias yang panik, matamu bengkak dan merah karena tangisan tanpa henti.
Saat kamu berdiri bersanding di samping Jay di hadapan para tamu undangan yang tersenyum palsu, tatapan matamu begitu tajam dan menusuk. Siapa pun yang menatap matamu saat itu bisa melihat murka dan kebencian yang mendidih di dalam dirimu, deklarasi tanpa suara bahwa kamu membenci situasi ini, kamu membenci keluargamu yang mengorbankanmu, dan kamu membenci Jay yang berdiri di sampingmu.
Beruntung bagi kedua keluarga, publik dan media massa tidak pernah mengetahui detail wajah calon mempelai wanita sebelumnya, mereka hanya tahu bahwa aliansi antara keluarga Park dan keluarga kalian telah resmi terikat malam itu.
Bagi Jay, momen saat kamu melangkah masuk ke aula adalah gabungan dari dua rasa sakit yang berlawanan. Jantungnya berdegup kencang karena gadis yang selama ini ia cintai dalam diam tiba-tiba berdiri menjadi tunangannya, namun hatinya hancur berkeping-keping melihat betapa peristiwa itu telah merenggut seluruh senyuman dan keceriaan dari wajah manismu, menggantikannya dengan kepahitan yang pekat.
Sejak malam itu, kamu berubah tiga ratus enam puluh derajat.
Gadis manis yang dulu disayangi semua orang mati seketika. Sebagai bentuk pertahanan diri dari rasa sakit karena dijadikan ‘pengganti’ dan ‘tameng aib’, kamu membangun dinding arogansi yang tebal dan kejam. Kamu menjadi dingin, sinis, dan tak segan-segan memperlakukan semua orang—terutama Jay—dengan kekejaman emosional yang tak terkira.
Itulah sebabnya Jungwon begitu marah dan frustrasi setiap kali melihat interaksi kalian bertahun-tahun kemudian. Jungwon merindukan sosok ‘kakak perempuan’ manis yang dulu memanjakannya dengan permen stroberi, dan ia tidak tahan melihat bagaimana kamu melampiaskan seluruh dendam masa lalumu kepada abangnya yang sama sekali tidak bersalah.
Pernikahan resmi kalian digelar tak lama setelah kelulusan SMA. Dan di malam pertama kalian di penthouse ini lima tahun lalu, kamu meletakkan sebuah batasan mutlak yang mengunci dinamika beracun kalian. Jay masih mengingat aroma dingin kamar tidur saat kamu melemparkan cincin pernikahanmu ke atas nakas, menatapnya dengan dagu terangkat dan mata yang berkilat menantang.
“Dengar baik-baik, Jay,” suaramu saat itu begitu dingin dan tak kenal ampun. “Pernikahan ini cuma transaksi bisnis busuk. Jangan pernah bermimpi kamu akan mendapatkan cinta atau rasa hormat dariku. Kalau suatu saat kita tidur di satu ranjang, itu murni karena pelepasan fisik dan gairah hewani. Nggak akan pernah ada perasaan, nggak akan pernah ada kasih sayang suami-istri. Dan aku yang memegang kendali atas tubuhmu.”
Malam itu, alih-alih melawan atau membatalkan pernikahan itu, Jay menundukkan kepalanya dan menyetujui setiap patah kata yang kamu ucapkan.
Jay rela menelan seluruh harga dirinya, rela menjadi boneka pemuas nafsu yang kamu kendalikan sesuka hati, rela dijadikan wadah pelampiasan amarah dan frustrasimu, asalkan ia bisa terus berada di sisimu. Rasa cinta Jay padamu sudah terlalu mengakar, terlalu besar, hingga ia lebih memilih dicabik-cabik oleh kebencianmu setiap malam daripada harus melepaskanmu barang sejengkal pun dari hidupnya.
Mobil berhenti mulus di basement penthouse.
Jay mematikan mesin, melepaskan sabuk pengamannya, lalu menatapmu yang masih terpejam dalam diam. Tangannya terangkat ragu-ragu, jemarinya yang hangat menyapu helai rambut dari pipimu dengan kelembutan yang tidak pernah pudar sejak hari pertama ia mengenalmu.
“Bahkan kalau kamu membenciku seumur hidupmu, (Y/N)...” bisik Jay parau di dalam keheningan mobil yang temaram, “...aku tetap tidak akan pernah bisa pergi.”
☢
Lift privat meluncur naik tanpa suara menuju lantai puncak. Di dalam kotak besi berlapis cermin perak itu, bayangan Jay tampak begitu kontras, kemeja putihnya yang sobek di bagian dada terkoyak oleh amarahmu, dasi sutra hitamnya hilang entah ke mana, dan di dalam dekapannya, tubuhmu terkulai lemas berbalut jas wol hitam yang masih mempertahankan sisa panas tubuhnya.
Setiap kali ia melangkah keluar dari lift menuju koridor marmer penthouse, keheningan tempat itu menyambutnya seperti kuburan mewah yang sudah terlalu akrab. Jay tidak membawa tubuhmu langsung ke tempat tidur. Langkah kakinya yang tenang namun mantap membawamu langsung ke dalam kamar mandi utama. Ia meletakkan tubuhmu dengan sangat perlahan di atas kursi rias berbalut beludru, lalu memutar keran air hangat pada bathtub porselen besar. Suara gemercik air yang jatuh memecah kesunyian, disusul kepulan uap hangat yang membawa aroma chamomile dan kelopak mawar kering yang sengaja ia tebarkan ke dalam air.
Dengan gerakan yang begitu hati-hati Jay menanggalkan jasnya dari tubuhmu. Di bawah penerangan temaram lampu dinding kristal, tubuhmu yang tak berdaya terpampang di hadapannya. Kulitmu yang seputih pualam dipenuhi oleh tanda-tanda merah pekat, bekas gigitan, memar kecil di pinggang akibat cengkeramannya yang tak terkendali saat ia kehilangan akal di sofa tadi, serta lelehan cairan pekat miliknya yang telah mengering di antara paha bagian dalammu.
Jay berlutut di depanmu. Matanya yang gelap memancarkan bauran emosi yang begitu pekat—kegilaan, rasa bersalah, dan pemujaan mutlak yang tak terhingga. Tangannya yang besar terangkat, menyentuh pipimu yang dingin dengan punggung jarinya. “Maafkan aku...” bisik Jay parau, suaranya tercekat di dasar tenggorokan. “Maaf karena malam ini aku membiarkan diriku merusak batasmu.”
Jay mengangkatmu ke dalam gendongannya lagi, lalu melangkah masuk ke dalam bathtub. Air hangat seketika menyelimuti tubuh kalian berdua, meredakan ketegangan otot-ototmu yang sempat kram hebat akibat ekstasi brutal beberapa jam lalu. Jay duduk di dasar bak mandi, memposisikan dirimu duduk di antara kedua kakinya yang terbuka lebar, menyandarkan kepala dan punggungmu sepenuhnya ke dadanya yang bidang.
Tangannya meraih spons busa lembut yang telah dituangi sabun beraroma lembut. Dengan penuh ketelitian dan kelembutan yang nyaris terasa seperti ritual keagamaan, Jay mulai membersihkan tubuhmu. Ia mengusap tengkukmu, menyeka sisa riasan yang luntur di kelopak matamu, membasuh bahu dan dadamu, lalu perlahan menyusupkan tangannya ke bawah air untuk membersihkan bagian paling intim dari dirimu. Jemarinya yang panjang bergerak dengan sangat hati-hati, memastikan seluruh sisa kekacauan semalam terbasuh bersih tanpa menyakiti dinding sensitifmu yang masih berdenyut lelah.
Setiap kali tangannya menyentuh jengkal kulitmu, bibir Jay mendekat ke puncak kepalamu, mendaratkan kecupan-kecupan kecil yang sarat akan kepedihan. “Kapan kamu akan berhenti menyiksa dirimu sendiri, (Y/N)?” bisik Jay, kata-katanya mengalun seperti doa yang patah di tengah uap air yang hangat. “Kembalilah... tolong, kembalilah jadi gadis yang dulu selalu tertawa bersamaku. Aku ingin melihat senyummu lagi. Aku ingin kamu menatapku bukan dengan tatapan benci atau tuntutan nafsu, tapi dengan tatapanmu yang dulu...”
Namun, bahkan ketika doa itu meluncur dari bibirnya, seringai getir dan gelap muncul di sudut bibir Jay. Ia tahu kebenarannya. Jauh di dalam sudut jiwanya yang paling rusak, Jay tahu bahwa bahkan jika kamu tidak pernah kembali menjadi gadis manis itu, bahkan jika kamu tetap memilih menjadi iblis arogan yang menginjak-injak harga dirinya setiap malam... ia tetap tidak akan pernah bisa melepaskanmu. Cintanya sudah bermutasi menjadi racun yang mendarah daging. Ia lebih rela menjadi boneka hidup yang kamu gunakan sampai hancur daripada harus melihatmu menatap pria lain dengan tatapan memuja.
Sikap acuh tak acuh dan kepatuhan dingin yang selalu ia tunjukkan saat kamu sadar seratus persen hanyalah benteng pertahanan terakhirnya—topeng agar kamu tidak menyadari betapa putus asanya ia menginginkanmu, topeng agar kamu tidak lari ketakutan melihat betapa obsesif dan gilanya cinta yang ia sembunyikan di balik matanya.
Jay mematikan keran, mengeringkan tubuhmu dengan handuk tebal selembut sutra, lalu membawamu ke ranjang utama. Ia mengenakan gaun tidur satin sutra berwarna gading yang bersih ke tubuhmu, menyisir rambutmu yang lembap dengan jemarinya, dan menarik selimut bulu tebal hingga mencapai batas lehermu.
Saat Jay baru saja hendak merebahkan tubuhnya di sisi kasur, sebuah getaran ritmis dan dengungan tajam memecah keheningan kamar.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Ponselmu yang tergeletak di atas nakas menyala terang di dalam kegelapan.
Sebuah panggilan masuk. Di layar kaca yang berpendar itu, tertera nama kontak yang Jay kenali dengan sangat baik: Park Sunghoon. Pria yang mengirimimu pesan teks pagi tadi, salah satu pewaris konglomerat yang akhir-akhir ini selalu berusaha mendekatimu di pesta-pesta malam.
Tatapan mata Jay yang tadi dipenuhi kelembutan seketika berubah. Suhu di dalam kamar seolah anjlok di bawah titik beku. Rahang Jay mengeras, urat-urat di lehernya mencuat saat iris matanya menatap nama pria itu dengan kilatan gelap yang mematikan. Kesabaran pasif yang ia pertahankan selama bertahun-tahun mendadak retak, digantikan oleh dorongan posesif yang luar biasa pekat.
Lima tahun ia membiarkanmu bermain api. Lima tahun ia menelan rasa sakit melihatmu dikelilingi pria-pria lain. Tapi malam ini, setelah ia menandai rahimmu dengan benihnya sendiri, setelah batas suci itu ia robohkan dengan tangannya sendiri, Jay tidak berniat lagi untuk mundur ke balik bayang-bayang.
Ia akan mengambil hatimu, apa pun harganya.
(ibarat kata jay kayak mau ngomong “SAYA AKAN LAWAN!!”)
Tanpa ragu sedikit pun, Jay meraih ponselmu. Layar terkunci dengan pemindai wajah, dan dengan tenang Jay mengarahkan kamera depan ke wajahmu yang sedang terlelap pulas. Layar seketika terbuka. Panggilan dari Sunghoon terputus karena tidak diangkat, namun detik berikutnya sebuah pesan masuk beruntun:
‘(Y/N), kamu di mana? Aku tunggu di lounge dari tadi. Apa kamu masih sama suamimu yang kaku itu? Balas pesanku, aku jemput sekarang.’
Napas Jay mendengus sinis, tawa rendah tanpa humor yang menguar di udara hening. Jay bergeser naik ke atas ranjang. Ia menyusupkan tubuhnya ke balik selimut, menanggalkan kemejanya yang robek, lalu menarik tubuhmu yang lunglai ke dalam dekapannya. Jay melingkarkan lengan kirinya di pinggangmu, membiarkan kepalamu bersandar nyaman di atas dada telanjangnya yang kokoh dan dipenuhi bekas luka cakaranmu, sementara tangan kanannya mengangkat kamera ponsel.
Klik.
Sebuah foto diambil dalam pencahayaan temaram yang sangat intim dan nyata. Di foto itu, Jay menatap lurus ke arah lensa dengan tatapan tajam yang penuh arogansi dingin dan kemenangan mutlak. Di bawahnya, kamu tampak tertidur lelap tanpa daya, bibirmu yang membengkak sedikit terbuka, gaun tidurmu sedikit melorot memperlihatkan tanda kemerahan segar di tulang selangkamu yang kontras dengan kulit dada telanjang Jay yang menempel lekat pada punggungmu.
Jay tidak membuang waktu. Ia membuka ruang obrolan Sunghoon, mengirimkan foto tersebut, lalu mengetikkan sebuah pesan sarkas yang dingin dan mematikan:
“Dia sedang tidur di atas dadaku setelah terlalu kelelahan melayaniku semalaman. Berhenti bermimpi menyentuh milik orang lain sebelum aku menghancurkan seluruh saham konsorsium keluargamu besok pagi, Sunghoon. Sentuh dia sekali lagi, dan aku pastikan namamu lenyap dari negeri ini.”
Tepat setelah tanda centang dua berubah warna menandakan pesan itu terkirim, Jay langsung menekan tombol blokir pada kontak Sunghoon, menghapus riwayat panggilan, dan melenyapkan kontak pria itu sepenuhnya dari ponselmu.
Jay melempar ponselmu kembali ke atas nakas dengan bunyi thud yang pelan. Pria itu menarik napas panjang, lalu kembali membenamkan tubuhnya ke atas kasur. Lengannya mengunci pinggangmu semakin erat, menarik tubuhmu hingga tidak ada lagi jarak satu milimeter pun yang memisahkan kalian di atas ranjang itu. Tidak ada lagi sisi kasur yang kosong. Tidak ada lagi batasan aman.
Jay menyandarkan dagunya di puncak kepalamu, memejamkan mata dalam kehangatan napasmu yang berhembus teratur di dadanya.
“Mulai besok pagi, permainannya berubah, (Y/N),” bisik Jay dalam gelap dengan nada mutlak yang tak terbantahkan. “Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku lagi.”
to be continued
skskskskk demen gue kayak gini.. gmna menurut kalian?





akupun demen loch ya, SAYA AKAN LAWAN!!
LANJUT KA KAJGKSKAKS OMAGAHHHH😭😭 SUDAHH KEPOO MENTOK AKU INI LANJUTANNYA GMN😭😭