don't forget tinggalin jejak👣
Ketegangan di lantai eksekutif memuncak saat kesepakatan dingin tercapai. Pihak kepolisian memutuskan untuk membawa Sunghoon ke kantor pusat malam itu juga guna menindaklanjuti bukti baru yang ia bawa. Namun, sebuah pengkhianatan kecil terjadi tepat saat mereka akan melangkah keluar.
Manajer Kang, dengan dalih efisiensi, memisahkan Sunghoon dari para member. "Biarkan polisi yang membawa Sunghoon agar keamanannya terjamin secara hukum. Kalian lewat basement, mobil sudah siap di sana untuk menghindari keributan," perintahnya dengan nada otoriter yang tak terbantahkan.
Jay sempat memprotes, cengkeramannya pada lengan hoodie Sunghoon tak mau lepas, namun Sunghoon memberikan anggukan kecil-sebuah sinyal bahwa ia akan baik-baik saja. Namun, itu adalah sebuah jebakan citra. Saat Jay dan yang lainnya digiring menuju lift menuju parkiran bawah tanah yang aman dan tertutup, Sunghoon justru dibawa keluar melalui Pintu Utama.
Begitu pintu kaca besar itu terbuka, ribuan kilatan lampu blitz kamera wartawan langsung menyambar seperti petir di tengah malam. Suara riuh teriakan pertanyaan yang menghakimi dan sorakan kebencian dari massa yang masih bertahan di depan gedung pecah seketika. Staf keamanan memang membentuk barikade, namun mereka seolah sengaja membiarkan celah agar wajah Sunghoon yang pucat dan kelelahan tertangkap sempurna oleh lensa kamera. Sunghoon harus terlihat seperti pesakitan di mata publik-itu adalah strategi terakhir agensi untuk menjaga jarak jika nantinya bukti Sunghoon dianggap tidak sah.
Di dalam mobil polisi yang meluncur membelah jalanan Seoul, Sunghoon hanya menatap bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. Ia baru saja dilemparkan ke serigala, dan ia merasakannya.
Sesampainya di kantor pusat kepolisian, suasana tidak seperti yang Sunghoon bayangkan. Ruang pemeriksaan itu tidak kosong. Saat ia melangkah masuk dengan pengawalan dua petugas, ia melihat beberapa sosok pria paruh baya mengenakan setelan jas mewah yang harganya mungkin setara dengan satu unit apartemen di Gangnam. Mereka bukan polisi, juga bukan staf agensi.
Di sudut ruangan, berdiri beberapa pengawal dengan tubuh tegap dan earpiece di telinga mereka-khas pengawal pejabat tinggi negara. Salah satu pria yang duduk di kursi utama tampak sedang menyesap kopi sambil menatap berkas di hadapannya dengan acuh tak acuh.
"Duduk, Park Sunghoon," ucap salah satu penyidik senior dengan suara yang terdengar lebih tertahan, seolah ia sendiri merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang-orang asing di ruangan itu.
Sunghoon menatap pria-pria berjas itu satu per satu. Ingatannya yang tajam sebagai seorang atlet mulai memutar kembali cuplikan berita yang sempat ia lihat di TV saat ia masih bersembunyi di rumahmu. Wajah-wajah ini... mereka adalah jajaran menteri dan politikus yang belakangan ini tersangkut kasus korupsi pengadaan lahan publik berskala besar.
Sebuah realita yang mengerikan menghantam Sunghoon.
Skandal narkobanya meledak di hari yang sama saat penyelidikan kasus korupsi itu dimulai. Foto clubbing palsunya muncul tepat saat publik mulai menuntut transparansi dana pemerintah. Ia bukan hanya sekadar korban fitnah rekan bisnis atau sasaeng; ia adalah pengalih isu nasional.
"Kenapa mereka ada di sini?" tanya Sunghoon, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Ini ruang pemeriksaan kasus narkotika dan pencemaran nama baik. Kenapa pejabat publik ada di ruangan ini?"
Penyidik itu berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Mereka hanya... berkepentingan untuk memastikan stabilitas industri hiburan tidak terganggu oleh kasus-kasus sensitif. Sekarang, mari kita bicara soal bukti yang Anda bawa."
Sunghoon meremas ponselnya di bawah meja. Ia merasa muak. Ia bukan lagi sedang bertarung melawan satu orang yang benci padanya, melainkan sedang berhadapan dengan tembok raksasa yang dibangun oleh kekuasaan. Jika ia menyerahkan bukti ini sekarang, apa jaminannya bahwa bukti ini tidak akan "hilang" di tengah jalan demi menjaga skandal ini tetap hidup untuk menutupi borok para pejabat itu?
Di kepalanya, tiba-tiba muncul wajahmu. Ia teringat bagaimana kamu mempertaruhkan nyawa dan tempat tinggalmu hanya untuk melindunginya. Ia menyadari satu hal: jika ia gagal di sini, bukan hanya kariernya yang hancur, tapi semua kebaikan yang sudah kamu berikan akan sia-sia.
Sunghoon merasakan telapak tangannya dingin dan basah oleh keringat. Di bawah meja ruang pemeriksaan yang kaku itu, jemarinya bergerak secara mekanis di balik saku celananya. Tanpa melihat layar, hanya dengan mengandalkan muscle memory yang terlatih selama seminggu berada di kamarmu, ia menekan tombol-tombol ponselnya.
Satu per satu, ia menghapus riwayat pesan singkat yang berisi percakapan hangat tentang sup pereda mabuk dan janji untuk pulang. Ia menekan opsi delete pada kontak bernama Shin (y/n). Nama yang baru saja ia pelajari maknanya, nama yang menjadi satu-satunya alasan ia masih ingin bernapas, kini ia hapus seolah jejakmu tidak pernah ada dalam hidupnya.
Ia harus melakukannya. Jika ponsel ini disita-dan melihat keberadaan para pejabat tinggi di depannya, ponsel ini pasti akan disita-identitasmu akan terbongkar. Media akan menggiring opini bahwa kamu adalah kaki tangan, atau lebih buruk, mereka akan menyeretmu ke tengah lapangan untuk dirajam secara publik dengan narasi "penggemar yang menyembunyikan buronan" dan terkena skandal tambahan "kekasih Sunghoon yang telah lama disembunyikan". Hal ini memungkinkan terjadi mengingat netizen terlalu suka dengan hal=hal provokatif. Sunghoon rela hancur sendirian, tapi dia tidak akan membiarkan setitik pun lumpur mengenai pintu rumah sewamu yang bersih.
Pria berjas mewah yang duduk di kursi utama itu meletakkan cangkir kopinya dengan denting keramik yang tajam, memecah kesunyian yang mencekam. Matanya menatap Sunghoon dengan pandangan meremehkan, seolah Sunghoon hanyalah sebuah bidak kecil yang sedang mengganggu papan catur besarnya.
"Saudara Park Sunghoon," pria itu akhirnya bersuara, nadanya berat dan penuh wibawa yang palsu. "Kami di sini untuk membantu. Industri hiburan adalah aset bangsa. Kami tidak ingin ada skandal narkotika yang mencoreng citra negara di mata internasional. Serahkan ponselmu, biarkan ahli IT kami memverifikasi bukti yang kamu klaim itu. Jika benar, kami akan memastikan namamu bersih."
Sunghoon mengepalkan tangannya. Ia melihat Manajer Kang yang berdiri di sudut ruangan, pria itu menunduk, tidak berani menatap mata Sunghoon. Saat itulah Sunghoon sadar, tidak ada rencana cadangan. Ia tidak sempat mengirim salinan bukti ke Jay, ia tidak sempat mengunggah apa pun ke cloud. Dia datang ke sini hanya dengan keberanian yang didorong oleh kemarahan spontan setelah melihat poster wajahnya yang dicoret-coret di halte bus.
Ia terjebak. Ia membawa bukti itu di tangannya, tapi ia berada di ruangan yang penuh dengan orang-orang yang ingin bukti itu lenyap demi menutupi korupsi mereka.
"Kenapa harus sekarang?" Sunghoon bertanya, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang meluap. "Kasus korupsi lahan publik itu... butuh pengalihan isu yang sangat besar, ya? Sampai-sampai kalian butuh seorang idol untuk dicap sebagai pecandu narkoba?"
Suasana di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Penyidik senior di sebelah Sunghoon tampak pucat pasi, sementara pria berjas itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip ancaman.
"Kamu punya imajinasi yang terlalu liar, anak muda. Mungkin itu efek samping dari 'tekanan mental' yang kamu alami selama menghilang," sahut pria itu tenang. "Serahkan ponselnya. Sekarang."
Sunghoon menatap ponsel di tangannya. Di dalamnya ada video klarifikasi yang ia siapkan di rumahmu, ada rekaman suara Manajer Kang yang memaksanya bungkam, dan ada metadata yang bisa membersihkan namanya. Namun, ia tahu, begitu ponsel ini berpindah tangan, isinya akan "rusak secara tidak sengaja" atau terhapus permanen sebelum sampai ke meja persidangan.
Ia menoleh ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, lalu kembali menatap ke pintu masuk, berharap member lain atau pengacara yang jujur akan mendobrak pintu itu. Namun, pintu itu tetap tertutup rapat.
Saat berita di TV menampilkan Sunghoon yang digiring masuk ke kantor polisi, kamu tidak lantas meraih ponsel untuk menelepon atau mengirim SMS. Logikamu bekerja lebih cepat daripada emosimu. Kamu tahu betul, begitu ia melangkah ke sana, ponselnya akan menjadi barang bukti pertama yang disita. Menghubunginya hanya akan meninggalkan jejak digital yang bisa menyeretmu ke dalam pusaran masalah ini.
★
Untungnya, Sunghoon sempat memindahkan semua bukti asli ke laptopmu beberapa hari lalu. Kamu segera menyambar flashdisk yang berisi cadangan data tersebut, memakai jaket, dan berlari menuju warnet yang letaknya cukup jauh dari lingkungan rumahmu untuk menghindari pelacakan IP address yang mudah.
Di dalam bilik warnet yang remang-remang, jemarimu menari di atas keyboard. Berbekal ilmu dari mata kuliah jurnalistik yang kamu ambil, kamu mulai menyusun artikel dengan struktur yang rapi namun provokatif. Kamu tidak hanya mengunggah satu tulisan. Kamu menggunakan beberapa akun bot dan forum diskusi berbeda yang sudah kamu siapkan secara dadakan.
Narasinya berbeda-beda: ada yang fokus pada kejanggalan metadata foto, ada yang membongkar anomali waktu saat "kejadian" narkoba berlangsung, dan ada yang secara halus menyinggung bahwa skandal ini muncul di saat yang terlalu tepat dengan kasus korupsi pejabat. Semuanya mengarah pada satu kesimpulan: Sunghoon adalah korban pengalihan isu.
"Aku nggak akan biarin mereka makan kamu hidup-hidup, Sunghoon," bisikmu sambil menekan tombol post di berbagai platform secara bersamaan.
Namun, kamu sadar gerakan ini terlalu besar untuk dilakukan sendirian. Kamu butuh traffic nyata agar algoritma media sosial meledakkan artikel-artikel ini sebelum pihak agensi atau pemerintah bisa men-take down-nya. Dengan tangan sedikit gemetar, kamu menghubungi Rei dan Yujin melalui panggilan grup.
"Rei, Yujin... gue butuh kalian sekarang di Warnet dekat stasiun. Jangan banyak tanya, ini soal Sunghoon. Gue punya bukti aslinya dan gue butuh bantuan kalian buat nyebarin ini secara masif dalam satu jam ke depan."
Tak butuh waktu lama sampai kedua sahabatmu itu muncul dengan wajah panik sekaligus penasaran. Di dalam bilik warnet yang sempit, kamu akhirnya menceritakan semuanya-tentang Sunghoon yang bersembunyi di rumahmu, tentang trauma yang ia alami, hingga bukti-bukti yang ia tinggalkan di tanganmu.
Yujin dan Rei terdiam seribu bahasa, mata mereka membelalak menatap folder-folder di layar komputer yang berisi data rahasia sang idol.
"Gila... jadi selama ini dia ada di tempat lo?" Rei membekap mulutnya sendiri, suaranya hampir hilang karena terkejut.
"Gue bakal jelasin semuanya nanti. Tapi sekarang, kalian harus bantu gue, situasinya udah kritis," potongmu cepat. "Rei, lo punya akses ke akun-akun besar fanbase, kan? Tolong arahkan mereka buat fokus ke tagar yang baru gue bikin. Yujin, lo bantu gue buat kirim rilis berita anonim ini ke beberapa jurnalis senior yang gue tahu punya reputasi 'anti-pemerintah'. Kita harus bikin ini meledak sebelum Sunghoon dipaksa tanda tangan surat pernyataan apa pun di kantor polisi."
Yujin menatapmu dengan sorot mata kagum sekaligus cemas, terlihat dengan jelas kegigihanmu untuk membela sang Idola yang pernah menyelamatkan kewarasanmu pada titik terendah dalam hidupmu. "Lo tahu kan risikonya, (y/n)? Kalau ini ketahuan, lo bisa kena masalah hukum karena menyebarkan data tanpa izin agensi."
"Gue nggak peduli," jawabmu tegas, matamu kembali menatap layar yang kini menampilkan ribuan engagement yang mulai naik. "Dia udah kehilangan segalanya buat lindungin kejujurannya sendiri. Masa gue nggak bisa lakuin hal sekecil ini buat dia yang udah berusaha dengan keras bertahan di dunia industri hiburan yang kejam ini?"
Suasana di dalam ruang interogasi itu terasa semakin mencekik. Cahaya lampu neon yang berkedip di atas kepala Sunghoon seolah menghitung mundur sisa-sisa kesabarannya. Di hadapannya, para pejabat itu tidak lagi berpura-pura ramah. Mereka menggunakan taktik gaslighting yang sistematis-mengatakan bahwa kariernya sudah tamat, bahwa publik sudah membencinya, dan satu-satunya jalan keluar adalah "bekerja sama" demi kebaikan negara.
"Kamu pikir kamu masih punya suara, Sunghoon?" CEO agensi itu berbisik, suaranya dingin tanpa emosi. "Tanpa kami, kamu hanya warga sipil biasa yang punya catatan kriminal narkoba. Pikirkan masa depan member lain. Kalau kamu keras kepala, mereka semua akan ikut terseret ke dalam lubang yang sama."
Yang membuat darah Sunghoon mendidih adalah fakta bahwa agensinya sendiri menolak mendatangkan pengacara. Ternyata yang ada di ruangan eksklusif tadi hanyalah pajangan untuk membuat Sunghoon merasakan keamanan sesaat. Mereka membiarkannya telanjang di hadapan hukum, tanpa pembelaan, hanya agar ia merasa tidak berdaya dan akhirnya menyerah. Keputusan telah dibuat: Sunghoon akan ditahan di sel kantor polisi selama satu minggu ke depan untuk "penyelidikan lebih lanjut"-yang sebenarnya adalah waktu bagi mereka untuk memanipulasi bukti dan melihat sejauh mana massa bisa diprovokasi.
Di luar ruangan, Jay dan Jungwon sempat mencoba menerobos masuk, berteriak menuntut keadilan, namun mereka segera digiring keluar oleh petugas keamanan agensi yang jauh lebih banyak. Mereka dibungkam secara paksa, ponsel mereka disita, dan diperintahkan untuk kembali ke asrama di bawah pengawasan ketat. Sunghoon hanya bisa mendengar suara gaduh dari luar yang perlahan menjauh, meninggalkannya dalam kesunyian sel yang dingin.
Malam semakin larut, dan di dalam ruang kantor polisi yang tertutup, para pejabat itu mulai bersantai, yakin bahwa mereka telah berhasil mengunci mulut sang idola. Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel salah satu pengawal bergetar hebat. Tak lama kemudian, asisten pribadi sang politikus masuk dengan wajah pucat pasi.
"Tuan... kita punya masalah besar," bisiknya gemetar sambil menyodorkan sebuah tablet.
Mata pria berjas itu melebar. Di layar, tagar buatanmu-#InSunghoonWeTrust, #SunghoonTheTruth, #ProtectSunghoon, dan #HiddenPolitics-telah menduduki peringkat satu dunia. Artikel yang kamu tulis di warnet tadi meledak seperti bom waktu yang tepat sasaran.
Publik yang tadinya menghujat, kini berbalik arah karena bukti-bukti teknis yang kamu unggah sangat sulit untuk dibantah meskipun ada yang denial karena memang membenci Sunghoon setelah melihat bukti yang terlihat valid mereka meminta maaf.
Melalui analisis metadata, foto "clubbing" yang kamu unggah memperlihatkan tanggal asli pengambilan gambar dua tahun lalu, membuktikan bahwa itu adalah foto lama yang sengaja dikeluarkan kembali. Kamu juga mengunggah log alibi, rekaman audio dan log aktivitas studio yang menunjukkan Sunghoon sedang bekerja di malam tuduhan narkoba itu menyebar luas. Serta membuat teori konspirasi yang akurat, Narasi yang kamu bangun tentang pengalihan isu korupsi lahan publik mulai masuk akal bagi masyarakat. Netizen mulai menghubungkan titik-titik antara jam tayang berita Sunghoon dan jam rilis kasus korupsi tersebut.
"Siapa yang mengunggah ini?!" teriak CEO agensi, tangannya gemetar saat melihat video pernyataan Sunghoon yang di rekam di rumahmu kini ditonton jutaan kali dalam hitungan menit. "Hp-nya ada di sini! Kami sudah menyitanya! Bagaimana mungkin data ini keluar?!"
Para pejabat itu mulai panik. Mereka saling pandang dengan tatapan menuduh. Strategi mereka untuk membungkam Sunghoon secara total justru menjadi bumerang karena mereka tidak memperhitungkan keberadaan "orang asing" yang menyimpan salinan cadangan dari seluruh hidup Sunghoon.
Di dalam sel yang gelap, Sunghoon duduk menyandar di dinding semen yang dingin. Ia belum tahu apa yang terjadi di dunia luar. Ia hanya menatap langit-langit, membayangkan wajahmu. Ia merasa gagal karena tidak bisa melindungimu dengan cara yang lebih elegan, malah berakhir menjadi tawanan di tempat ini.
Namun, keheningan itu pecah saat beberapa petugas polisi muda yang sedang berjaga di lorong mulai berbisik-bisik sambil menatap layar ponsel mereka.
"Heh, lihat ini... ini beneran bukti asli?" "Gila, kalau ini bener, kita bisa kena masalah besar karena nahan dia tanpa prosedur yang bener, tahu sendiri polisi di mata publik kalau udah dipandang jelek endingnya bakal gimana."
Sunghoon menajamkan pendengarannya. Ia mendengar namanya disebut berkali-kali. Ia mendengar tentang "bukti digital" dan "artikel jurnalis". Sebuah senyum tipis, untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, muncul di wajahnya yang letih.
Ia tahu itu kamu. Ia tidak perlu melihat layarnya untuk tahu bahwa "malaikat pelindung" yang memberinya sup hangat itu kini sedang mengobrak-abrik dunia demi dirinya.
"Shin (y/n)... kamu beneran ngelakuinnya," bisiknya lirih, matanya berkaca-kaca.
Sementara itu, di dalam ruang CEO, suasananya berubah menjadi neraka. Rencana "sidang pengakuan dosa" yang mereka siapkan untuk minggu depan kini terancam menjadi sidang kehancuran bagi mereka sendiri. Masyarakat mulai bergerak menuju kantor polisi, bukan untuk mengirim bunga kematian, tapi untuk menuntut pembebasan Park Sunghoon.
to be continued





don't worry hooniee, i'm here with you baby!! 🥺🫂💗
pertama😙