jangan lupa like
Malam harinya, di dalam kamar kos Riki yang sepi, denting gitar akustik mengalun rendah.
Riki duduk di tepi kasurnya, memangku gitar kesayangannya—sebuah gitar kayu tua dengan warna keemasan yang tone-nya sangat hangat. Ponselnya ditaruh di atas tumpukan buku di atas meja, bersandar pada botol air minum dengan posisi kamera mengarah ke jarinya yang sedang menari di atas fretboard.
Dia tidak memperlihatkan wajahnya. Kamera hanya menangkap jemarinya yang memetik senar dan bagian bawah gitarnya. Tapi lagu yang dia mainkan sangat jelas: aransemen akustik dari Honeybee milik Olivia Rodrigo. Petikannya begitu halus, sedikit lebih lambat dari versi aslinya, membawa nuansa penyesalan yang tersirat di setiap perpindahan kunci.
Tanpa menuliskan caption apa pun, tanpa menandai siapa pun, Riki mengunggah video berdurasi dua puluh detik itu langsung ke Instagram Story akun pribadinya pada pukul dua pagi.
Pagi harinya, jagat media sosial anak-anak Fakultas Seni Musik mendadak heboh kasak-kusuk.
Di kantin, di lorong gedung vokal, hingga di grup-grup obrolan WhatsApp tanpa dosen, unggahan Riki menjadi bahan pembicaraan hangat. Pasalnya, ada beberapa puluh orang teman seangkatan yang berteman dekat denganmu sekaligus memfollow Riki. Mereka tahu betul bagaimana sejarahmu yang pernah mengejar Riki seperti orang gila, lalu mendadak berhenti total seolah-olah Riki tidak pernah ada.
Dan kini, menyamakan postingan story kamu di sore hari dengan postingan cover gitar Riki di malam harinya dengan lagu yang sama persis terasa seperti menyaksikan sebuah Lovestagram yang sangat terencana.
“Sumpah ya, ini aneh banget gak sih?” bisik seorang mahasiswa angkatanmu di area loker. “Dulu kan si (Y/N) yang nempel-nempel kayak prangko, tapi si Riki-nya dingin banget kayak es batu. Sekarang kok Riki malah nge-cover lagu yang dipakai (Y/N) di story-nya?”
“Tapi mereka gak ada interaksi sama sekali di kampus,” timpal teman sebelahnya. “(Y/N) makin ke sini makin keliatan mahal, makin tenang. Kemarin pas berpapasan di tangga aja (Y/N) langsung muter balik, gak mau ngeliat Riki sama sekali. Jangan-jangan Riki yang sekarang malah kepikiran?”
“Masa sih Riki kena karma? Tapi geli banget kalau beneran Lovestagram. Kayak ada yang mengganjal aja gitu, soalnya (Y/N) keliatan udah bener-bener move on dan gak pernah ngikutin Riki lagi.”
Kamu sendiri membaca dan mendengar desas-desus itu. Hyerin sempat menunjukkan tangkapan layar story Riki padamu saat kalian sedang duduk di perpustakaan.
“Nih, liat deh, (Y/N),” kata Hyerin pelan sambil menyodorkan layar ponselnya. “Si Riki nge-cover lagu Honeybeebsemalem. Posisinya persis beberapa jam setelah lo bikin story pakai lagu itu walaupun jaraknya jauh sih. Temen-temen pada heboh bilang ini lovestagram terselubung.”
Kamu menatap layar ponsel Hyerin selama tiga detik. Di dalam video pendek itu, kamu bisa mengenali bentuk jemari Riki yang memetik senar gitar—jemari yang dulu sangat ingin kamu genggam. Namun, alih-alih merasa berdebar atau geer seperti dirimu yang dulu, dadamu terasa datar. Ada rasa mengganjal yang asing. Kamu merasa heran, mengapa baru sekarang Riki melakukan hal-hal implisit seperti ini? Di mana Riki yang dulu selalu menyuruhmu pergi dan memanggilmu gila?
“Mungkin cuma kebetulan aja, Rin,” jawabmu tenang, mengembalikan ponsel Hyerin. “Lagu Olivia Rodrigo kan emang lagi trending. Lagian aku sama dia udah gak ada urusan apa-apa lagi.” kamu kembali membuka lembar buku teori musikmu, melanjutkan catatanmu tanpa melewatkan satu ketukan pun. Kamu tidak ingin membiarkan gesture-gesture kecil yang membingungkan dari Riki merusak kedamaian hatimu yang susah payah kamu dapatkan kembali. Kamu sudah terlalu lelah untuk menebak-nebak pikiran cowok itu.
Sementara itu, kondisi di meja tongkrongan di bawah pohon beringin makin hari makin tidak kondusif. Riki menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya, namun auranya sangat pekat oleh rasa frustrasi. Dia sering tiba-tiba menghela napas kasar, mematikan rokoknya sebelum habis, atau memainkan nada-nada disonansi yang mengganggu di gitarnya saat anak-anak lain sedang mengobrol. Dia ingin mendekatimu kembali, dia ingin menarik perhatianmu, tetapi dia membeku oleh ketakutannya sendiri.
Riki sadar betul kalau dia tidak punya pengalaman dalam mengejar cewek. Selama ini, selalu cewek yang mendekatinya. Dan yang paling menakutkan buat Riki adalah fakta bahwa kamu sekarang sangat defensif. Jika dia mendadak bertindak agresif seperti mendatangi kosanmu, mencegatmu di jalan, atau menembakmu secara blak-blakan kamu justru akan makin lari menjauh, persis seperti reaksi yang dulu selalu Riki tunjukkan padamu saat kamu mengejarnya secara agresif.
“Gue gak bisa liat ini anak tiap hari kayak benteng mau runtuh begini,” kata Junghwan siang itu saat Riki sedang pergi ke toilet kampus. Junghwan menunjuk kursi kosong tempat Riki tadi duduk. “Muka dia suram banget, Bro. Kemarin pas latihan drumer gue salah ketuk dikit aja dia langsung natap gue kayak mau makan orang.”
“Iya, aura tongkrongan kita jadi kayak ruangan tempat eksekusi mati,” tambah Ohyul sambil mengunyah keripik. “Riki tuh gengsiannya kelewatan. Dia bingung mau mulai dari mana karena (Y/N) sekarang udah rapat banget nutup diri dari dia.”
James menghembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi, membetulkan kacamata tipisnya. “Kita harus turun tangan. Kalau nunggu Riki bergerak sendiri, sampai kita lulus juga mereka cuma bakal tatap-tatapan tajam dari jauh kayak musuh bebuyutan.”
“Caranya gimana?” tanya Ryul penasaran. “Si (Y/N) kan udah gak mau gabung ke meja kita lagi. Dia juga udah gak pernah nungguin Riki selesai latihan.”
James tersenyum tipis, senyuman penuh rencan rahasia. “Kita pakai jalur paling natural. Jangan kelihatan kalau ini disengaja. Riki itu payah soal pendekatan, jadi kita buatkan panggungnya. Kita bikin momen di mana mereka harus berinteraksi secara alami tanpa bikin (Y/N) merasa dijebak atau terancam.”
“Rencana lo apaan, James?” tanya Junghwan antusias.
“Bulan depan ada acara Festival Musik Tahunan Fakultas,” jelas James seraya memajukan badannya ke meja. “Gue dapet kabar dari divisi acara kalau Panitia butuh penampil kolaborasi antara tim Vokal Utama dan tim Instrumen utama buat pembukaan. Gue bakal dorong ketua panitia buat nunjuk (Y/N) dari divisi Vokal dan Riki dari divisi Gitar. Tapi kali ini, kita gak boleh bikin Riki keliatan kayak bos. Riki harus kita posisikan sebagai pihak bawah... EH MAKSUD GUE pihak yang butuh bantuan (Y/N).”
Ohyul mengangguk-angguk setuju. “Setuju gue. Kalau Riki yang butuh bantuan, (Y/N) gak bakal ngerasa dikejar secara agresif. Itu bakal bikin pertahanan (Y/N) sedikit melunak karena (Y/N) dasarnya anak yang bertanggung jawab kalau soal tugas kampus.”
“Dan tugas kita berempat,” tambah James lagi sambil melirik Riki yang mulai berjalan kembali dari arah toilet, “adalah memastikan si Es Batu ini gak merusak momen itu dengan gengsi sialannya lagi. Kita bakal bantu dia dari belakang. Apapun bakal kita lakuin demi bikin aura tongkrongan ini balik ceria lagi.”
Ketika Riki duduk kembali di kursinya, keempat temannya menatapnya dengan senyuman misterius. Riki mengernyitkan alisnya, merasa ada yang tidak beres. “Ngapain lo semua ngeliatin gue kayak gitu?” tanya Riki curiga. Junghwan menepuk bahu Riki cukup keras sampai cowok itu agak tersentak. “Gak ada apa-apa, Bro. Cuma mau ngingetin aja... siap-siap ya. Sebentar lagi lo bakal dapet kelas latihan tambahan.”
🎸
Dua minggu kemudian, rencana anak-anak tongkrongan mulai berjalan secara halus. Seperti yang sudah diprediksi James, Dosen Koordinator Festival Musik Fakultas menunjukmu sebagai vokalis utama untuk pembukaan acara tahunan tersebut. Kamu menyanggupinya karena itu adalah kesempatan besar untuk menambah portofolio penampilan panggungmu. Namun, ada satu kejutan yang baru kamu ketahui saat rapat panitia pertama bahwa Riki ditunjuk sebagai penata musik dan pengiring gitar tunggalmu.
Ketika nama Riki disebutkan di dalam ruang rapat, kamu sempat terdiam sejenak. Namun, kamu tidak memprotesnya. Kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk menjadi profesional dan tidak membawa drama pribadi ke dalam urusan akademis atau kegiatan kampus.
Sore itu, latihan perdana untuk Festival Musik digelar di Ruang Latihan 4—ruangan itu kecil kedap suara di ujung koridor lantai dua yang dikelilingi dinding peredam busa warna abu-abu.
Kamu datang lima menit lebih awal, membawa botol air minum dan lembaran lirik yang sudah kamu beri catatan kecil. Saat kamu mendorong pintu kaca kedap suara itu, Riki ternyata sudah ada di dalam.
Dia tidak sedang memegang gitarnya. Dia sedang duduk di lantai bersandar ke dinding busa, memangku laptop yang menyala. Di sampingnya ada lima cangkir kopi kemasan yang berbeda-beda merk dan rasa. Kamu menghentikan langkahmu di pintu, bingung menatap deretan cangkir kopi itu.
“Sore, Ki,” sapamu sopan namun berjarak, melangkah masuk dan menaruh tasmu di atas kursi.
Riki mendadak berdiri tegak. Wajahnya terlihat sedikit tegang, matanya menatapmu dengan sorot cemas yang ditahan. Tangannya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Sore, (Y/N),” balas Riki, suaranya agak serak. Dia menunjuk deretan cangkir kopi di lantai dengan canggung. “Gue... gue tadi bingung lo sekarang suka kopi rasa apa. Soalnya lo udah gak pernah beli salted caramel latte lagi. Jadi gue beliin beberapa pilihan. Ada Americano, Vanilla Latte, Matcha, sama Hazelnut. Lo boleh ambil yang mana aja yang lo suka.”
Kamu terpaku menatap lima cangkir kopi itu, lalu beralih menatap Riki. Dulu, kamu yang selalu menghafal selera kopinya dan membawakannya setiap pagi. Dulu, Riki tidak pernah sudi menanyakan apa yang kamu suka. Dan kini, melihat cowok yang biasanya dingin dan acuh tak acuh itu berdiri canggung di depan lima cangkir kopi hanya karena takut salah membelikan minuman untukmu... ada rasa aneh yang menggelitik dadamu.
Riki sedang mencoba. Dengan cara yang sangat amat amatul dan canggung, dia sedang mencoba mengetuk pintumu kembali. Namun kamu tidak ingin cepat terbawa suasana. Kamu memaksakan senyum tipis yang sopan. “Makasih ya, Ki. Tapi aku sekarang lagi mengurangi kafein. Aku bawa air putih sendiri kok.” Kamu mengangkat botol air minummu dari dalam tas.
Riki tampak terpukul pelan oleh jawaban itu. Wajahnya sedikit meredup, namun dia dengan cepat mengangguk. “Oh... gitu. Yaudah, gak apa-apa. Nanti biar diminum Junghwan atau James sama Ohyul Ryul aja.” Riki merapikan cangkir-cangkir itu ke pojok ruangan, lalu mengambil gitar akustiknya. Dia duduk di atas kursi kayu di tengah ruangan, sementara kamu berdiri di depan mikrofon.
“Kita mulai aransemen lagu pertama ya?” tanyamu profesional.
“Iya,” jawab Riki pelan. Tangannya mulai memetik senar.
Latihan sore itu berjalan hening di antara jeda-jeda lagu. Riki tidak lagi menunjukkan sikap sok berkuasa atau mengritik caramu bernyanyi dengan kata-kata tajam. Justru sebaliknya, setiap kali kamu selesai menyanyikan satu bait, Riki akan menatapmu sebentar dan bertanya dengan sangat lembut, “Menurut lo kuncinya ketinggian gak? Mau gue turunin setengah nada?” atau “Lo nyaman gak sama tempo yang ini? Kalau kecepatan bilang ya.”
Perubahan sikap Riki yang mendadak menjadi sangat suportif, lembut, dan penuh kehati-hatian ini membuat suasana di dalam ruang latihan kedap suara itu terasa sangat nyaman namun lambat. Ada tegangan emosional yang tertahan di udara. Riki seolah-olah sedang berjalan di atas lapisan es tipis, takut jika salah melangkah sedikit saja, dia akan membuatmu kembali berbalik dan menghilang.
Latihan berlangsung hingga pukul tujuh malam. Ketika kamu dan Riki melangkah keluar dari Ruang Latihan 4, koridor lantai dua sudah gelap dan sepi. Suara gemuruh angin dan dentuman hujan deras yang menghantam atap seng koridor terdengar sangat nyaring.
Lobi Fakultas Seni tergenang air di bagian pinggirnya. Hujan angin membuat siapapun tidak bisa menerobos keluar tanpa basah kuyup. Kamu berdiri di dekat pilar lobi, menatap tirai air hujan yang jatuh dari atap. Kamu mengecek ponselmu melihat aplikasi ojek online menunjukkan harga yang melonjak tinggi dan tidak ada pengemudi yang mau mengambil pesanan di cuaca ekstrem seperti ini.
Riki berdiri dua meter di sampingmu, menyangklong tas gitarnya di bahu. Dia beberapa kali melirik ke arah ponselmu, lalu ke arah hujan. “Gak dapet ojek?” tanya Riki pelan, mencoba memecah keheningan di antara suara hujan. “Belum,” jawabmu tanpa menoleh. “Masih searching terus dari tadi.”
Riki diam sejenak, meremas tali tas gitarnya. Di kepalanya, suara-suara nasihat dari James dan Junghwan tadi siang mendadak berputar... Kalau ada momen, jangan gengsi lagi, Ki! Gunain otak lo buat nawarin bantuan yang masuk akal!
Riki menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa. “Mobil gue diparkir di balik gedung Dekanat,” kata Riki, suaranya sedikit tenggelam oleh suara hujan. “Gue... gue bisa anter lo pulang ke kosan. Hujan badai gini berbahaya kalau lo paksain naik motor atau nunggu ojek.”
Kamu akhirnya menoleh menatap Riki. Matanya menatapmu lurus, jujur, tanpa ada sisa-sisa tatapan meremehkan yang dulu sering kamu benci. “Gak usah, Ki. Nanti repot. Aku bisa nunggu hujannya reda kok,” tolakmu halus.
“Gak repot, (Y/N),” potong Riki cepat. Kalimatnya keluar lebih tegas dari yang dia rencanakan, membuat matamu sedikit melebar. Riki menyadari reaksinya yang agak terlalu cepat, lalu menurunkan nada suaranya secara drastis. “Maksud gue... kosan lo kan searah sama jalan pulang gue. Lagian kita habis latihan bareng. Gue gak bakal tenang biarin lo sendirian di lobi kampus yang udah sepi begini.”
Kalimat ‘Gue gak bakal tenang biarin lo sendirian’ itu menggantung di udara malam yang dingin. Mungkin kalau Riki bilang itu ke kamu yang dulu, reaksimu pasti bakal heboh.
Kamu menatap wajah Riki yang tampak cemas menantikan jawabanmu. Ada kejujuran yang begitu jelas di matanya. Kamu bisa merasakan bahwa Riki yang ada di depanmu saat ini bukan lagi Riki yang dulu suka memakai topeng cool dan acuh tak acuh. Dia adalah Riki yang sedang ketakutan kehilanganmu untuk selamanya.
Setelah hening yang cukup lama diiringi suara hujan, kamu akhirnya menghela napas pelan dan mengangguk kecil.
“Yaudah... makasih ya, Ki.”
Sebuah senyuman tipis, senyuman lega yang sangat tulus ituperlahan mekar di bibir Riki. Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan yang suram, binar di mata cowok itu kembali menyala. Saat kalian berjalan bersama menembus hujan gerimis menuju tempat parkir di bawah satu payung yang Riki pegang rapat-rapat di atas kepalamu—membiarkan bahu kirinya sendiri basah kuyup terkena air hujan—kamu menyadari satu hal.
Pola di antara kalian telah berubah sepenuhnya. Perjalanan ini mungkin masih panjang, luka di hatimu mungkin belum sepenuhnya terhapus, dan Riki masih harus belajar banyak hal untuk membuktikan perasaannya. Namun malam itu, di bawah guyuran hujan Jakarta yang dingin, garis batas yang dulu memisahkan kalian perlahan-lahan mulai mencair.
to be continued





Udah temen2nya Aku suka bgt James ohyul ryul junghwan 🫰
Udh ah fix mau ni-ki ma y/n lg, keliatannya kali ini si ni-ki yg bakalan bucin abis ma y/n tanpa celan😌