Kamar Executive Suite itu akhirnya kembali tenang. Deru napas beringas Jungwon telah mereda, berganti menjadi hembusan napas yang teratur dan berat di atas pelipismu. Di bawah remang lampu kamar, Jungwon perlahan menarik dirinya keluar dari tubuh mungilmu. Sensasi kosong yang tiba-tiba membuatmu melenguh lirih, meringkuk seketika di atas kasur yang sudah berantakan total dengan seprai yang terlepas di ujungnya.
Cairan hangat meluap dari intimu, mengalir di paha dalammu. Kamu menangis kecil, menyembunyikan wajahmu yang merah padam dan sembap di balik bantal hotel. Tubuhmu benar-benar terasa remuk, lelah, dan kehabisan energi setelah menghadapi dua ronde genjotan beringas tanpa ampun dari sang pembalap. Namun, sesuatu yang berbeda terjadi malam ini. Jungwon tidak langsung memakai celananya dan berbalik memunggungimu seperti yang biasa ada di pikiran burukmu tentang sosoknya yang arogan.
Cowok itu duduk di tepi kasur selama beberapa saat, menatap tubuh telanjangmu yang kini dipenuhi memar merah keunguan hasil perbuatannya. Penyesalan tipis melintas di mata tajamnya, namun segera digantikan oleh tatapan pelindung yang dalam. Jungwon berdiri, berjalan ke kamar mandi, dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa selembar handuk kecil yang sudah direndam air hangat.
Dia naik kembali ke atas kasur, lalu dengan gerakan yang sangat pelan jauh berbeda dengan kebrutalan pinggulnya tadi Jungwon menarik selimut yang menutupi pahamu.
βWon... mau ngapain lagi? Aku udah capek, sakit...β bisikmu parau dengan mata berkaca-kaca, refleks mencoba merapatkan kedua pahamu karena takut akan dihantam lagi.
βDiem, (y/n). Gua nggak bakal ngapa-ngapain lagi,β potong Jungwon. Suaranya tidak lagi membentak kotor, melainkan terdengar berat, serak, dan ada nada lembut yang terselip di sana. βGua cuma mau bersihin badan lo. Kalau nggak dibersihin, nanti lo sakit.β
Kamu tertegun. Mata bulat polosmu menatap wajah ganteng Jungwon yang kini sedang menunduk fokus, dengan telaten menyeka sisa-sisa cairan sperma kentalnya dan cairan becekmu di paha dalammu menggunakan handuk hangat. Setiap usapannya terasa begitu lembut, seolah-olah dia sedang merawat barang pecah belah yang sangat berharga.
Setelah selesai, Jungwon melempar handuk itu ke lantai. Dia ikut menyelinap ke balik selimut tebal yang sama denganmu. Tanpa berkata apa-apa lagi, tangan kekarnya merengkuh pinggangmu, menarik tubuh mungilmu yang masih bergetar sisa kelelahan hingga menempel erat pada dada telanjangnya yang hangat. Dia membiarkan kepalamu bersandar nyaman di atas dadanya, tepat di mana kamu bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu kuat.
Kamu yang kelewat polos hanya bisa mengerjapkan mata, menikmati kehangatan pelukan Jungwon yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Tangan kecilmu pasrah mencengkeram lengan kekarnya. βWon... jantung kamu detaknya cepat banget. Kamu capek ya setelah balapan tadi?β tanyamu lempeng, menyuarakan rasa penasaranmu yang polos di tengah keheningan malam Spanyol.
Jungwon terdiam sejenak, jemarinya perlahan bergerak mengusap rambut panjangmu yang wangi bedak bayi, memainkan helai demi helai dengan sayang. βBukan karena balapan di sirkuit, bego,β bisik Jungwon parau, dagunya bertumpu di atas kepalamu. βTapi karena lo yang di kasur bikin jantung gua mau copot.β
Kamu mengerutkan kening, mendongak sedikit untuk menatap rahang tegasnya. βKenapa gitu? Aku kan nggak ngapa-ngapain, aku cuma ngikutin apa yang kamu mau aja...β Jungwon mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus akhirnya terukir di bibirnya, sesuatu yang belum pernah dia tunjukkan selama pertunangan paksa ini berjalan. βJustru karena lo pasrah dan bego kayak gitu, (y/n). Itu yang bikin gua nggak bisa lepas dari lo lagi sekarang. Lupain soal guling pembatas. Mulai malam ini, tempat lo cuma ada di sini, di pelukan gua.β
Jungwon masih setia mengusap helai rambutmu dengan gerakan konstan yang menenangkan. Keheningan malam di kamar hotel mewah ini terasa begitu intim, hanya menyisakan deru napas kalian yang berangsur normal dan detik jam dinding yang samar. Rasa lelah yang luar biasa membuat tubuhmu terasa berat untuk digerakkan, tetapi pikiran polomu justru sedang berkelana memikirkan banyak hal.
Kamu menggigit bibir bawahmu pelan, meremas sedikit dada bidang Jungwon yang hangat itu. Ada satu pertanyaan yang sejak kemarin menyumbat dadamu, sebuah tanya yang muncul akibat sikap ketus dan kasarnya Jungwon selama kalian dipaksa bersama.
Dengan gerakan lambat, kamu mendongak sedikit dari dada bidangnya. Mata bulatmu yang masih agak sembap menatap lurus ke arah rahang tegas Jungwon.
βWon...β panggilmu lirih, suaramu terdengar begitu mencicit di keheningan kamar.
Jungwon tidak membuka matanya, namun usapan tangannya di rambutmu sempat terhenti sejenak sebelum berlanjut lagi. βApa?β sahutnya bariton, terdengar malas namun tidak sedingin biasanya.
βKamu... kamu sebenarnya masih marah ya sama aku?β tanyamu dengan nada yang kelewat jujur dan polos. Alis Jungwon bertaut. Dia perlahan membuka kelopak matanya, menunduk untuk menatap langsung ke dalam manik matamu yang berkaca-kaca. βMarah kenapa lagi?β
βYa... marah karena aku terus ngintilin kamu dari Jakarta sampai ke sirkuit Spanyol ini,β gumammu lempeng sambil menundukkan kepala lagi, merasa ciut di bawah tatapan tajam sang pembalap. βAku tahu aku sering bikin kamu kesal karena telat mikir, sering nanya hal bego, terus... sekarang kita malah harus sekamar begini gara-gara Bang Heeseung hilang. Kamu pasti terpaksa banget, ya?β
Jungwon terdiam cukup lama. Dia menatap ubun-ubun kepalamu dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam benaknya, egonya sebagai seorang pria arogan dan pembalap F1 yang egois sedang berperang hebat. Jika ini terjadi sebulan yang lalu, dia pasti akan langsung mengiyakan dengan ketus dan menyuruhmu menjauh. Tapi malam ini, setelah dia menjajah tubuhmu hingga dua ronde nonstop tanpa batas guling, ada sesuatu yang bergeser secara permanen di lubuk hatinya. Jungwon mendengus parau, membuang muka ke langit-langit kamar dengan gurat gengsi yang tercetak jelas di wajah gantengnya.
βLo emang beban, bikin pusing,β jawab Jungwon ketus, suaranya terdengar sangat defensif untuk menutupi rasa canggungnya. Dia menjeda kalimatnya sejenak, meremas pundak telanjangmu sedikit lebih erat agar tubuhmu tidak menjauh dari dekapannya. βTapi... ya, gua nggak sekesal itu lagi sekarang. Lagian lo udah telanjur ada di sini. Kalau gua lepas, lo pasti makin bego dan ilang arah di negara orang.β
Meskipun kata-katanya terdengar judes dan ogah-ogahan, kamu bisa merasakan kehangatan dari cara dia mendekapmu. Sudut bibirmu refleks terangkat tipis, merasa senang karena setidaknya Jungwon tidak membencimu seperti yang kamu takuti selama ini. Namun, rasa senang itu mendadak luntur saat ingatanmu kembali pada status pertunangan kalian yang terjadi karena paksaan bisnis keluarga. Malam ini adalah malam pertama kalinya kalian melangkah sejauh ini, padahal pernikahan resmi kalian baru akan digelar beberapa bulan lagi.
βWon...β cicitmu lagi, kali ini nada suaramu berubah agak bergetar. βAku... aku takut.β
Jungwon kembali menatapmu, sebelah alisnya terangkat. βTakut apa lagi? Gua udah bilang nggak bakal gua genjot lagi malam ini. Badan lo udah remuk begitu.β
βBukan itu,β potongmu cepat dengan wajah memerah. Kamu meremas lengan kekar Jungwon yang melingkari pinggangmu. βAku takut... kamu bakal ninggalin aku setelah kita melakukan... itu. Kita kan belum resmi nikah. Gimana kalau nanti setelah sirkuit ini selesai, kamu balik lagi sama cewek lain atau... atau kamu berubah pikiran dan batalin semuanya?β
Ketakutan yang jujur dari seorang gadis polos di pelukannya membuat rahang Jungwon mengeras. Dia bisa merasakan ketukan jantungmu yang berdegup cemas di dadanya. Perlahan, Jungwon mengubah posisinya menjadi sedikit bertumpu pada siku, membuat wajahnya kini berada tepat di atas wajahmu.
βDengerin gua, (y/n),β kata Jungwon, suaranya kini terdengar sangat dalam, serius, dan tidak main-main. Kilatan matanya memancarkan dominasi mutlak yang membuatmu terpaku. βKalau soal perjodohan ini, gua emang awalnya kesal setengah mati sama orang tua kita. Gua benci diatur-atur.β Jungwon mendekatkan wajahnya, mengecup keningmu dengan sapuan yang hangat dan lama, sebuah tindakan aftercare yang begitu manis hingga membuat matamu kembali berkaca-kaca.
βTapi kalau soal lo... gua udah mulai percaya kalau hubungan kita nggak bakal berakhir instan,β bisik Jungwon parau tepat di depan bibirmu. Tangannya yang besar menangkup pipimu yang merona. βGua nggak bakal ninggalin lo setelah lo nyerahin semuanya ke gua malam ini. Karena gua pembalap, gua tahu kapan harus ngerem dan kapan harus tancap gas sampai garis finish. Dan bagi gua, lo itu sekarang jadi garis finish-nya. Jadi, stop mikir hal bego yang nggak-nggak. Paham?β
Kamu tertegun, rasa hangat langsung menjalar memenuhi seluruh dadamu, mengusir rasa takut yang sempat menghantui. Kamu hanya bisa mengangguk pelan dalam pasrah yang manis, membiarkan Jungwon kembali menarikmu ke dalam pelukannya yang protektif untuk menghabiskan sisa malam tanpa ada lagi jarak yang memisahkan.
Musim balap F1 akhirnya resmi berakhir. Setelah berbulan-bulan membakar ban di aspal sirkuit internasional, Jungwon pulang ke Jakarta tidak dengan tangan kosong. Pembalap muda itu pulang sebagai Sang Juara dunia yang baru. Dia sukses mematahkan dominasi Jay dan menggeser posisi juara bertahan sekelas Max Verstappen. Nama Yang Jungwon dielu-elukan di mana-mana. Namun, baginya, piala emas terbesar yang berhasil dia menangkan sebenarnya ada di rumah, dimana ada dirimu yang dengan setia menunggunya pulang.
Rencana pernikahan yang sempat tertunda akibat hilangnya Heeseung kini mulai digarap ulang oleh kedua belah pihak keluarga. Namun, perjalanan menuju altar ternyata tidak pernah semudah itu.
Sore itu, ruang tamu kediaman orang tuamu mendadak senyap bak kuburan. Suasana hangat yang tadinya membahas vendor pernikahan langsung menguap begitu pintu depan terbuka dan sesosok pria melangkah masuk dengan wajah tanpa dosa. Heeseung pulang. Setelah berbulan-bulan kabur tanpa kabar dan membuat kekacauan, dia tiba-tiba muncul, bersimpuh di depan mama dan papamu, meminta maaf, lalu dengan lantang berkata, βMa, Pa... Heeseung mau melanjutkan pernikahan Heeseung sama (y/n).β
Kedua orang tuamu dan orang tua Jungwon yang berada di sana terkejut, namun perlahan raut wajah mereka melunak. Hati orang tua selalu mudah memaafkan. Tapi tidak dengan Jungwon.
Grep!
Jungwon yang duduk di sebelahmu langsung berdiri. Tangan besarnya mencengkeram pergelangan tanganmu dengan sangat kencang, menarik tubuh mungilmu ke belakang punggung tegapnya. Urat-urat di lengan Jungwon menonjol tajam, napasnya memburu beringas, dan matanya menggelap menatap sang kakak. Jungwon sudah terlanjur jatuh cinta mati-matian padamu setelah semua hal intim yang kalian lewati di luar negeri. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merebut apa yang sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Kamu yang tidak paham rumitnya situasi bisnis mereka, namun paham kalau Jungwon sedang mengamuk, hanya bisa bergidik takut. Kamu meremas ujung kemeja Jungwon dari belakang, menjadikan tubuh kokoh sang pembalap sebagai benteng perlindunganmu.
βMaksud lo apa-apaan, Seung?β geram Jungwon, suaranya bariton, rendah, dan penuh ancaman yang mematikan. βLo kabur kayak pengecut, dan sekarang lo datang mau ngambil tunangan gua?β
Heeseung bangkit berdiri, menyeringai meremehkan tanpa ada rasa bersalah. Dia menatap cengkraman tangan Jungwon di pergelanganmu. βTunangan lo? Jangan lupa, Won, dari awal dia itu dijodohin sama gua. Lo cuma ban serep pas gua pergi.β
βBangsat,β umpat Jungwon kasar, melangkah satu kali ke depan membuat kedua orang tua kalian langsung panik berdiri. Heeseung justru semakin memanas-manasi. Dia menatap mama papamu dengan pandangan licik. βMa, Pa, kalian belum tahu aja kelakuan anak emas kalian ini selama di Eropa. Sebenarnya dia itu punya cewek lain yang disembunyiin di Jakarta! DIa nggak senurut itu sama kalian...Lo gak usah sok suci, Won!β
Mendengar itu, pekikan kaget lolos dari mulut kedua ibunda kalian. Kamu sendiri hanya bisa diam di balik punggung Jungwon. Kamu tidak terkejut, karena kamu sudah tahu kenyataannya dari Jungwon langsung, dan Jungwon sudah menegaskan bahwa mereka sudah putus dari lama sejak malam pertama kalian di hotel Spanyol itu.
Jungwon tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar luar biasa mengerikan. βLo mau mancing perkara di sini, Sat? Lo mau bikin nyokap bokap kaget sama kelakuan gua?β Jungwon maju selangkah lagi, menatap Heeseung tepat di wajahnya dengan tatapan merendahkan. βLo ngaca, bangsat. Kelakuan busuk lo di luar sana jauh lebih parah daripada gua. Dan satu hal yang harus lo camkan di otak lo yang dingo itu... (y/n) udah jadi milik gua, luar dalam. Jangan pernah berani lo sentuh dia pakai tangan kotor lo.β
Atmosfer di dalam ruang tamu merayap turun hingga ke titik beku. Ketegangan antara Jungwon dan Heeseung bukan lagi sekadar adu mulut antar-saudara, melainkan benturan ego dua pria yang memperebutkan satu hak milik mutlak. Kamu bisa merasakan dada tegap Jungwon naik-turun dengan kasar di depanmu, menjadi tameng kokoh yang menyembunyikan tubuh mungilmu dari tatapan tajam dan penuh tuntutan milik Heeseung.
βJungwon! Heeseung! Cukup! Jaga mulut kalian di depan orang tua!β
Suara bariton Papa yang berat dan menggelegar akhirnya memutus lingkaran setan makian mereka. Papa berdiri dari sofa tunggalnya, melangkah maju dengan wibawa yang tak terbantahkan, memosisikan dirinya tepat di tengah-tengah kedua putranya. Wajah tua itu tampak lelah, kecewa, namun sarat akan ketegasan seorang kepala keluarga. Papa menoleh ke arah Jungwon, menatap cengkeraman tangan putranya yang begitu protektifβhampir posesifβpada pergelangan tanganmu. Kemudian, pandangan Papa beralih kepadamu yang gemetaran di balik punggung Jungwon.
β(y/n),β panggil Papa, suaranya melembut namun terdengar sangat serius. βPapa minta kamu maju ke depan. Tolong alihkan perhatian kamu ke Papa.β
Kamu menelan ludah dengan susah payah. Jemarimu perlahan melepaskan remasan pada kemeja Jungwon. Namun, begitu kamu hendak melangkah, cengkeraman Jungwon di pergelangan tanganmu justru semakin mengencang, menolak melepaskanmu walau hanya satu sentimeter.
βWon... lepasin dulu. Papa manggil aku,β bisikmu kelewat polos dan parau, mendongak menatap rahangnya yang mengeras.
Jungwon tidak menoleh. Matanya tetap menghujam Heeseung dengan kilatan beringas, namun egonya terpaksa melunak demi menghormati perintah sang ayah. Dengan helaan napas kasar, Jungwon perlahan mengendurkan jemarinya, membiarkanmu melangkah maju berdiri di sebelah Papa, tepat di titik tengah pusaran konflik.
βPerjodohan ini dari awal berantakan karena keegoisan,β kata Papa, menatap Heeseung dan Jungwon bergantian. βHeeseung pergi meninggalkan kewajiban, dan Jungwon menggantikan posisi itu di sirkuit luar negeri. Sekarang, setelah semua kekacauan ini, Papa tidak mau memaksakan kehendak keluarga lagi. (y/n), keputusan ada di tangan kamu malam ini. Kamu yang berhak memilih siapa yang akan mendampingi kamu ke jenjang pernikahan. Heeseung, atau Jungwon?β
Pertanyaan Papa menjatuhkan bom waktu yang instan di dalam ruangan. Semua mata kini tertuju padamu, menanti jawaban dari bibirmu yang masih menyisakan rona kemerahan samar akibat sesi intim beberapa jam lalu.
Otak polosmu mendadak berputar, mencoba menimbang situasi dengan logika sederhana yang kamu miliki. Di satu sisi, ada Heeseung. Pria yang secara hukum adat keluarga seharusnya menjadi suamimu. Namun, kenyataan pahitnya menghantam jiwamu yang jujur, kamu dan Heeseung baru bertemu dua kali seumur hidup. Pertemuan pertama adalah malam sebelum pertunangan formal digelarβmalam di mana Heeseung bersikap dingin sebelum akhirnya kabur membawa misteri besar. Dan pertemuan kedua adalah hari ini, saat dia pulang tanpa rasa bersalah setelah berbulan-bulan menghilang tanpa kabar.
Di sisi lain, ada Jungwon. Pria arogan, ketus, dan pembalap beringas yang awalnya membencimu setengah mati. Namun, dialah yang menemanimu selama bulan-bulan intens di Eropa. Dialah yang tubuh panasnya bersamamu di kamar hotel Spanyol tanpa batas suci dari guling. Dialah yang di balik kata-kata kotor dan kasarnya, selalu memperhatikanmu, selalu menyelimutimu, menyeka sisa pelepasanmu dengan handuk hangat, dan mendekapmu erat hingga fajar menyingsing. Secara biologis dan emosional, seluruh dirimu sudah diklaim dan menjadi milik Jungwon seutuhnya.
βAku...β suaramu bergetar, matamu bergerak pasrah menatap Jungwon yang kini menahan napas, menunggumu dengan kepalan tangan yang memutih. βAku... milih Jungwon, Pa.β
βNggak bisa!β potong Heeseung instan, langkah kakinya maju menyentak kasarnya lantai marmer. Wajahnya memerah, menolak dikalahkan begitu saja oleh adik kandungnya sendiri. βMa, Pa, kalian nggak bisa biarin (y/n) milih bocah ingusan ini! Dia masih sah milik gua berdasarkan obrolan awal keluarga kita!β
Jungwon tertawa sinis, sebuah tawa kotor yang langsung memotong urat saraf kesabaran Heeseung. βSah dari mana, bangsat? Lo pikir dia barang yang bisa lo tinggal pas lo bokek, terus lo ambil lagi pas lo butuh?β
βJungwon! Bahasa kamu yang sopan!β tegur Mama panik.
βNggak, Ma. Biar aku buka semuanya di sini biar Papa sama Mama tahu kelakuan asli anak sulung kesayangan kalian ini,β geram Jungwon, matanya berkilat penuh kemenangan yang brutal. βGua tahu alasan asli lo balik hari ini, Bang. Bukan karena lo tobat atau kangen sama (y/n). Lo balik karena duit lo udah habis, kan? Setengah aset cair keluarga yang lo bawa kabur kemarin udah lo sebar buat nutupin utang balapan liar lo dan pacar rahasia lo yan gk kentung jumlahnya itu!β
Wajah Heeseung mendadak pucat pasi. Tuduhan telak Jungwon menghantam tepat di ulu hatinya, membuat rahasia busuknya terekspos telanjang di depan kedua pasang orang tua mereka. Papa terengah, menatap Heeseung dengan pandangan kecewa yang teramat dalam.
Heeseung yang kalang kabut mencoba membalas, melangkah maju hendak merenggut lenganmu. βLo jangan fitnah gua, Won! (y/n), sini loββ
Sebelum tangan Heeseung sempat menyentuh helai pakaianmu, Jungwon bergerak cepat. Dia menarik tubuhmu mendekat, merengkuh pinggangmu dengan satu tangan kekar, dan di depan mata seluruh anggota keluarga yang terbelalak kaget, Jungwon menubrukkan bibirnya ke atas bibirmu.
Cup! Mmpgh...
Ciumanitu adalah klaim mutlak yang panas, vulgar, dan beringas. Jungwon melumat bibir tipismu dengan sedikit gigitan gemas, mengabaikan pekikan kaget dari Mama. Lidahnya menyelinap masuk secara dominan, seolah sedang memamerkan secara langsung kepada Heeseung dan kepada dunia bahwa kamu sudah dijajah luar dalam olehnya. Kamu yang kelewat polos hanya bisa membelalak kaget, tubuhmu lemas bersandar pasrah pada dada bidang Jungwon yang berdegup kencang, menerima ciuman brutal itu di tengah ruang tamu keluarga.
Setelah beberapa detik yang intens, Jungwon melepaskan tautan bibir mereka, menyisakan benang saliva tipis yang langsung diusapnya kasar dengan ibu jari. Napas cowok itu memburu, matanya menatap Heeseung dengan seringai kemenangan yang paling kotor. βDia punya gua. Udah gua pakai, luar dan dalam. Lo mau bekas gua, Bang?β bisik Jungwon dengan dirty talk yang luar biasa tajam, membuat Heeseung hampir saja melayangkan jotosan jika tidak ditahan oleh Papa.
Jungwon tidak memberikan waktu bagi siapa pun untuk berdiskusi lagi. Dia menatap Papa dan Papamu dengan tatapan mutlak seorang pria yang sudah mengambil keputusan final. βGua nggak mau nunggu minggu depan, bulan depan, atau nunggu semua vendor pesta sialan ini selesai,β tegas Jungwon, suaranya bariton dan mantap tanpa keraguan sedikit pun. βBesok pagi subuh, gua bakal bawa (y/n) ke gereja. Kita nikah besok pagi. Cuma ada gua, dia, pendeta, dan Tuhan. Gua nggak bakal biarin benalu kayak dia punya celah buat nyentuh milik gua lagi.β
Kamu hanya bisa mengerjapkan mata pasrah di balik dekapan hangat Jungwon, merasakan ketakutanmu menguap digantikan oleh rasa aman yang mutlak, bersiap menghadapi janji suci yang akan diikrarkan di bawah sinar fajar esok hari.
tbc






Ini sebenernya dua duanya brengsek sih π
Walaupun brengsek ku akui kau gentleman uwonπ