4 Sharing with Daddy
Heeseung & Riki
Suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar membelah kesunyian halaman depan rumah. Jantungmu yang baru saja mencoba berdetak normal setelah badai semalam, mendadak mencelos hingga ke perut. Itu suara mobil Heeseung. Dia pulang dua jam lebih cepat dari jadwal yang dia katakan di telepon.
Kamu tersentak bangun, mengabaikan rasa nyeri yang luar biasa di sekujur tubuhmu, terutama di bagian pinggang dan paha dalammu. Di sampingmu, Riki masih terlelap dengan posisi menelungkup, tangan besarnya masih bertumpu posesif di atas pinggulmu yang telanjang. Sperma yang mengering di sela pahamu terasa lengket dan perih, menjadi alarm nyata atas dosa besar yang baru saja kamu selesaikan satu jam lalu.
βRiki! Bangun, Ki! Daddy kamu pulang!β bisikmu panik setengah mati, mengguncang bahu kokohnya.
Riki melenguh pelan, matanya terbuka sedikit, namun bukannya panik, dia malah menarik pinggangmu mendekat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu yang penuh memar. βEunggh... biarin. Suruh nunggu.β
βRiki, aku nggak bercanda! Minggir!β Dengan sisa tenagamu, kamu mendorong tubuh beratnya hingga terlentang. Kamu melompat dari ranjang, mengabaikan rasa pusing yang mendadak menyerang kepalamu.
Pandanganmu menyapu kamar utama yang hancur berantakan. Sprei sutra abu-abu pemberian Heeseung sudah kusut, koyak di beberapa bagian, dan dipenuhi bercak-bercak basah yang berbau pekat. Gaun tidur satinmu yang robek tergeletak mengenaskan di lantai. Jika Heeseung masuk ke kamar ini sekarang, tamat sudah riwayatmu dan Riki.
βSialan,β umpat Riki rendah, akhirnya sadar akan situasi setelah mendengar suara pintu mobil ditutup di bawah. Dia duduk di tepi ranjang, mengacak rambutnya yang berantakan dengan gusar. βSana buruan mandi. Bersihin badan kamu. Biar aku yang urus kasurnya.β
Kamu tidak membalas. Kamu berlari ke kamar mandi, mengunci pintunya, dan langsung menyalakan shower air hangat. Di bawah guyuran air, kamu menggosok tubuhmu dengan kasar menggunakan sabun, berusaha meluruhkan aroma tubuh Riki, cairan spermanya, dan sisa-sisa maksiat semalam. Air matamu bercampur dengan air shower saat kamu melihat pantulan dirimu di cermin mandi: leher, dada, hingga perutmu dipenuhi tanda keunguan yang sangat pekat. Riki benar-benar menepati janjinya untuk menghapus jejak ayahnya.
Kamu keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe tebal berwarna putih yang menutupi tubuhmu rapat-rapat hingga ke leher. Kamar sudah tampak sedikit lebih rapi, Riki entah bagaimana sudah mengganti sprei yang kotor dengan sprei yang baru, dan dia sendiri sudah menghilang-kembali ke kamarnya lewat pintu penghubung balkon.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu depan kamar membuat tubuhmu membeku di tempat.
βSayang? Kamu di dalam? Aku pulang,β suara Heeseung terdengar dari balik pintu, terdengar begitu hangat, lelah, namun penuh kerinduan.
Kamu mengatur napasmu yang memburu, mencoba tersenyum sebelum memutar kunci dan membuka pintu. Di hadapanmu, Lee Heeseung berdiri dengan setelan jas yang sedikit kusut karena perjalanan semalaman. Wajah prianya yang matang tampak sangat lega begitu melihatmu.
βMas... kok cepet banget pulangnya?β tanyamu, berusaha keras menjaga suaramu agar tidak bergetar.
βAku kangen banget sama kamu, Y/N. Makanya proyeknya aku kebut biar bisa pulang subuh ini,β Heeseung langsung melangkah masuk, menjatuhkan tas kerja dan jasnya ke sofa kamar, lalu menarik tubuhmu ke dalam pelukan hangatnya.
Saat dada bidang Heeseung mendekapmu, tubuhmu menegang kaku. Aroma parfum maskulinnya yang mahal langsung memenuhi indra penciumanmu, sangat berbeda dengan aroma mint dan keringat liar Riki yang baru saja melekat di kulitmu beberapa menit lalu. Kamu merasa seperti pendosa paling kotor di dunia karena dipeluk oleh suami yang begitu tulus mencintaimu di atas lantai yang sama tempat anaknya merusakmu semalam.
βKamu kok kaku banget, Sayang? Masih sakit ya badannya?β Heeseung melepas pelukannya sedikit, menatap wajahmu yang pucat dengan dahi berkerut cemas. Tangannya yang besar bergerak naik, berniat membuka kerah bathrobe-mu untuk memeriksa keadaanmu. βKemarin kata Riki kamu pusing banget sampai pucat di mobil. Coba aku lihat...β
βJangan, Mas!β kamu memekik pelan, refleks menepis tangan Heeseung dan merapatkan kerah bathrobe-mu lebih kencang ke leher.
Heeseung tersentak, sedikit terkejut dengan reaksi defensifmu yang mendadak.
Menyadari perubahan ekspresi di wajah Heeseung, otakmu berputar cepat untuk mencari alibi logis agar dia tidak menaruh curiga.
βE-eh, maaf Mas... maksudku, aku belum pakai baju apa-apa di dalam sini. Badanku juga lagi keringetan banget karena tadi air shower-nya terlalu panas,β ujarmu terbata-bata, mencoba memberikan senyuman manja yang biasa disukai Heeseung. βLagian... aku malu kalau Mas lihat aku berantakan pas baru bangun tidur begini.β
Mendengar alasan itu, raut wajah Heeseung yang tadinya tegang langsung mencair kembali. Dia terkekeh rendah, mencubit hidungmu gemas. βAstaga, kamu ini. Padahal kan sudah sah jadi istriku, masih aja pemalu begini. Ya sudah, kamu ganti baju dulu sana. Aku mau mandi di kamar mandi luar aja biar nggak ganggu kamu.β
βIya, Mas. Makasih ya,β jawabmu lega, merasa seolah baru saja lolos dari lubang jarum.
Sebelum Heeseung melangkah keluar kamar, pintu kamar mandi luar di koridor terbuka. Riki keluar dari sana dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong putih, handuk tersampir di bahunya-berakting seolah dia juga baru saja bangun tidur dan mandi di luar.
βEh, Dad? Udah pulang?β sapa Riki dengan nada suara datar yang sangat natural, tanpa ada nada panik sedikit pun.
Heeseung menoleh, tersenyum lebar melihat anaknya. βIya, Ki. Baru aja sampai. Makasih ya seminggu ini udah jagain Mama kamu di rumah. Daddy bener-bener terbantu.β
Riki melirikmu sekilas yang masih berdiri di ambang pintu kamar dengan bathrobe rapat. Sebuah kilatan miring, penuh kepuasan dan rahasia yang jorok, melintas di matanya sebelum dia kembali menatap ayahnya. βSama-sama, Dad. Jagain Mama... udah jadi kewajiban aku kan selama Daddy nggak ada?β
Kamu mengepalkan tanganmu di balik saku bathrobe. Kalimat Riki terdengar sangat ambigu, namun Heeseung yang terlalu polos dan percaya pada anaknya hanya mengangguk setuju tanpa tahu bahwa semalam suntuk, anaknya telah menjalankan βkewajibanβ itu secara brutal di atas ranjangnya sendiri.
Ruang makan kediaman Lee pagi itu terasa begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh denting halus sendok yang beradu dengan piring porselen. Heeseung duduk di kepala meja, tampak gagah meski gurat lelah masih membekas di wajah matangnya. Di sisi kanannya, kamu duduk dengan kaku, mengenakan sweter rajut berkerah tinggi (turtleneck) berwarna krem yang tebal-sebuah pilihan busana yang tidak biasa untuk sarapan di rumah yang hangat. Sementara di depanmu, Riki duduk dengan santai, memotong omeletnya dengan gerakan yang terlalu tenang.
βKamu beneran nggak apa-apa, Sayang? Dari tadi cuma diaduk-aduk aja nasi gorengnya,β Heeseung meletakkan cangkir kopinya, menatapmu dengan mata yang dipenuhi rasa khawatir. Tangannya bergerak di atas meja, menggenggam jemarimu yang terasa sedingin es.
βE-eh... nggak apa-apa, Mas. Cuma masih agak mual aja,β alibimu, mencoba tersenyum senatural mungkin.
Namun, tepat saat kamu berbicara, kamu bisa merasakan pergerakan di bawah meja. Ujung kaki telanjang Riki sengaja menyentuh pergelangan kakimu, perlahan merayap naik ke betismu, memberikan usapan-usapan menuntut yang membuat seluruh bulu kudukmu meremang. Tubuhmu refleks menegang kaku.
βRiki bilang seminggu ini kamu emang jarang keluar kamar,β ucap Heeseung lagi, mengalihkan pandangannya ke arah anak laki-lakinya. βKi, kamu beneran pastiin Mama kamu makan teratur, kan?β
Riki mendongak dari piringnya. Bukannya menjawab ayahnya dengan sopan, matanya yang tajam justru langsung tertancap pada bibir bengkakmu, lalu turun ke arah kerah turtleneck-mu yang tinggi. Tatapannya begitu intens, gelap, dan sarat akan kilatan obsesi yang tidak semestinya. Ada senyum miring yang sangat tipis di sudut bibirnya-tatapan seorang pria dewasa yang sedang mengagumi miliknya, bukan tatapan anak tiri.
βAku pastiin dia βkenyangβ kok, Dad. Malah setiap malam aku selalu cek ke kamarnya buat mastiin dia nggak kekurangan apa pun,β jawab Riki, suaranya berat dan santai, namun setiap katanya terdengar begitu jorok dan ambigu di telingamu. Kakinya di bawah meja kini semakin berani, menekan kuat di antara kedua pahamu yang masih terasa perih akibat semalam.
βAh!β Kamu refleks memekik pelan, hampir menjatuhkan garpu yang kamu pegang karena terkejut dengan tekanan tiba-tiba dari Riki.
Heeseung tersentak. Alisnya bertaut rapat saat dia melihat reaksimu, lalu pandangannya beralih sepenuhnya kepada Riki yang masih menatapmu tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Heeseung, pria berusia 40 tahun yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, mendadak menangkap ada sesuatu yang salah. Atmosfer di antara istri muda dan anak kandungnya ini terasa terlalu pekat.
βRiki,β suara Heeseung mendadak berubah berat dan rendah, aura pemimpin perusahaannya keluar seketika. βKenapa kamu natap Mama kamu kayak gitu?β
Suasana di meja makan mendadak membeku. Riki menghentikan gerakan kakinya di bawah meja, namun matanya tetap tenang saat menatap balik mata ayahnya.
βKayak gimana, Dad?β tanya Riki balik, nadanya terlalu santai, memicu ketegangan baru di udara.
βTatapan kamu... terlalu intens,β Heeseung menyipitkan matanya, mengamati interaksi kalian dengan saksama. Kecurigaan pertama mulai tumbuh di kepala pria matang itu. βDia Nyonya Lee, Riki. Ibu sambung kamu. Daddy nggak suka kamu ngeliatin dia seolah dia itu... orang asing.β
Kamu menahan napas, meremas kain swetermu di bawah meja dengan jantung yang berpacu gila. Rahasia gelap kalian baru saja berada di ambang kehancuran.
to be continued
duh mantep lagi dua duanya




