Di tengah kamar, sebuah kotak hitam besar sudah terbuka di atas ranjang. Di dalamnya terdapat sebuah gaun sutra berwarna putih pucat sangat kontras dengan gaun merah yang mereka robek semalam. Putih yang melambangkan kemurnian yang kini telah mereka klaim sepenuhnya.
Jay berdiri di dekat jendela, sementara Sunoo duduk di tepi ranjang sambil memegang sebuah choker kulit hitam dengan pengait logam kecil di bagian depannya.
“Sini, Sayang,” panggil Sunoo lembut.
Kamu melangkah mendekat dengan kepala tertunduk. Sunoo membantumu mengenakan gaun putih itu. Bahannya begitu tipis dan jatuh di tubuhmu, memperlihatkan dengan jelas setiap lebam kemerahan di tulang selangka dan bahumu. Gaun itu model backless, mengekspos kulitmu yang kini menjadi kanvas bagi tanda kepemilikan mereka.
Setelah gaun itu terpasang, Sunoo melingkarkan choker hitam itu di lehermu. Suara klik saat pengaitnya terkunci terasa seperti suara palu hakim yang menjatuhkan vonis seumur hidup.
“Sekarang kamu kelihatan beneran milik keluarga Park,” gumam Sunoo, mengusap lehermu yang kini terjerat kulit hitam tersebut.
Jay berbalik, menatapmu dari atas sampai bawah. Ia mendekat, jemarinya mengangkat dagumu agar kamu menatap matanya. “Putih ini buat mengingatkan kamu bahwa mulai hari ini, kamu bersih dari masa lalumu. Kamu nggak punya ayah yang menjualmu, kamu bukan punya panti asuhan. Kamu cuma punya kami.”
Jay kemudian mengambil sebuah rantai tipis berwarna emas dari kotak yang sama, lalu mengaitkannya pada pengait di choker-mu. Ia memberikan ujung rantai itu kepada Jungwon.
(cokk merinding gue ngetik bengini)
“Bawa dia ke ruang makan,” perintah Jay dengan nada otoritas yang tak tergoyahkan. “Kita akan rayain hari pertama kehidupan barumu sebagai jantung dari keluarga ini.”
Jungwon menarik rantai itu dengan sentakan kecil yang halus namun tegas, memaksamu untuk melangkah mengikutinya. Kamu berjalan di antara mereka—Jay di belakangmu sebagai pengawas, Jungwon di depanmu sebagai penuntun, dan Sunoo di sampingmu yang terus meremas tanganmu.
Kamu menyadari sekarang, pakaian ini bukan hanya gaun. Ini adalah seragam tawananmu. Dan rantai emas itu adalah pengingat bahwa sejauh apa pun kamu melangkah di dalam rumah ini, kamu akan selalu terhubung pada tangan-tangan yang telah menghancurkanmu.
Satu minggu berlalu sejak malam itu. Di permukaan, Jay tetaplah sosok “ayah” yang royal, sementara Sunoo dan Jungwon tetap menjadi “kakak” yang memanjakanmu. Mereka menuruti permintaanmu jika kamu ingin buku baru, makanan penutup dari toko ternama, atau bahkan perhiasan mahal. Namun, semua itu diberikan dengan satu syarat mutlak: kamu tidak boleh meninggalkan area properti keluarga Park.
Sore itu, kamu mencoba melakukan pemberontakan kecil. Kamu berjalan menuju gerbang utama rumah yang menjulang tinggi, berusaha tampak tenang saat melewati para penjaga.
“Nona (y/n), mau pergi ke mana?” salah satu penjaga menahanmu, namun suaranya tetap sopan.
“Aku cuma mau ke toko buku di ujung jalan. Sebentar saja,” jawabmu, mencoba menormalkan detak jantungmu.
“Mohon maaf, Nona. Tuan Jay memberikan instruksi bahwa Anda tidak diperbolehkan keluar tanpa didampingi oleh Tuan Muda Sunoo atau Tuan Muda Jungwon.”
Kamu mengepalkan tangan di balik gaunmu. Rasa frustrasi itu membuncah. “Aku bukan tahanan! Aku cuma mau bernapas bentar tanpa mereka!”
Tepat saat itu, suara langkah kaki yang tenang terdengar dari belakangmu. “Ada masalah di sini, (y/n)?”
Itu Jungwon. Ia berdiri di sana dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya. Ia melambai pada penjaga agar menjauh, lalu mendekat padamu. Jungwon tidak membentakmu, ia justru membelai pipimu dengan sangat lembut, sebuah gestur yang kini terasa seperti ancaman.
“Kamu mau keluar?” tanyanya lembut. “Kenapa nggak bilang Kakak? Aku bisa anterin kamu ke mana pun, asalkan tanganku nggak lepas dari pinggulmu.”
“Aku mau sendirian, Kak Jungwon! Berhenti perlakuin aku kayak anak kecil!” teriakmu, akhirnya meledak.
Jungwon tertawa kecil, suara yang dingin dan hampa. “Anak kecil? Nggak, Sayang. Kami nggak memperlakukan kamu kayak anak kecil. Kami memperlakukan kamu sebagai sesuatu yang jauh lebih berharga dan jauh lebih berbahaya kalau dilepasin gitu aja.”
⛓️
Malamnya, pemberontakan kecilmu di gerbang berujung pada “pendisiplinan” di ruang kerja Jay. Kamu duduk di kursi besar, sementara Jay duduk di belakang meja kerjanya, menatapmu seolah kamu adalah dokumen yang salah diketik.
“Kamu mencoba melarikan diri tadi siang,” ujar Jay datar.
“Aku cuma mau keluar!” isakmu. “Aku merasa kayak peliharaan di sini! Kalian kasih aku makan, kasih aku baju, tapi aku nggak punya hak atas hidupku sendiri!”
Jay bangkit, berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapanmu. Ia mencengkeram choker hitam yang masih melingkar di lehermu, memaksamu mendongak.
“Memang,” sahut Jay tanpa keraguan. “Kamu adalah peliharaan paling mahal yang pernah aku beli. Dan seperti peliharaan lainnya, tugasmu adalah menyenangkan pemilikmu.”
Ia menarikmu berdiri, lalu mendorongmu hingga berlutut di bawah meja kerjanya. Sunoo muncul dari balik pintu, mengunci ruangan itu dengan bunyi klik yang final.
“Pemberontakanmu tadi siang bikin Jungwon sedih, (y/n),” bisik Sunoo yang kini berdiri di belakangmu, tangannya mulai meraba bahumu yang gemetar. “Kamu tahu nggak, apa yang terjadi kalo salah satu dari kami sedih? Kamu harus membayarnya dengan pengabdianmu.”
Di bawah cahaya lampu meja yang remang, kamu menyadari kebenaran yang paling pahit. Kamu adalah Pet karena kamu diberi makan dan tempat tinggal mewah tanpa suara. Tapi kamu juga adalah Sex Slave karena setiap inci tubuhmu digunakan untuk meredam emosi mereka, melayani nafsu mereka, dan membayar hutang yang sebenarnya bukan kesalahanmu.
Jay membuka ritsleting celananya tepat di depan wajahmu. “Lakukan tugasmu, (y/n). Berhentilah bermimpi tentang dunia luar, karena duniamu sekarang hanya ada di dalam ruangan ini, di antara kami bertiga.”
Kamu meraih kejantanan Jay dengan tangan yang bergetar, menyadari bahwa setiap kali kamu mencoba melawan, mereka akan mematahkanmu dengan cara yang sama—dengan menuntut tubuhmu hingga kamu tidak punya tenaga lagi untuk berpikir tentang kebebasan.
Lampu meja kerja Jay yang berwarna kuning remang menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan yang luas dan kedap suara itu. Di bawah tekanan tatapan Jay yang dingin dan cengkeraman Sunoo di bahumu, kamu menyadari bahwa setiap perlawananmu hanyalah hiburan bagi mereka—sebuah percikan api kecil yang justru membuat mereka semakin ingin memadamkanmu.
Kamu berlutut di atas karpet beludru yang mahal, namun rasanya seperti berlutut di atas duri. Jay menekan ibu jarinya ke bibirmu, memaksamu membuka mulut untuk menerima kejantanannya yang sudah menegang keras. Tidak ada kelembutan, ini adalah perintah mutlak. Kamu menelan sisa harga dirimu bersamaan dengan setiap inci miliknya yang memenuhi rongga mulutmu.
“Good girl,” gumam Jay, jemarinya menjambak rambutmu dengan kasar agar kamu bergerak mengikuti ritmenya. “Lihat, Sunoo. She always knows how to apologize after doing something wrong.”
Sunoo tidak tinggal diam di belakangmu. Ia menurunkan gaun sutra tipismu hingga tersangkut di sikut, mengekspos punggung dan dadamu yang bergetar hebat. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Sunoo mulai menciumi tengkukmu, meninggalkan gigitan-gigitan kecil yang perih di area yang tidak tertutup oleh choker kulitmu.
“Kamu mau kebebasan, (y/n)?” bisik Sunoo di telingamu, suaranya parau oleh gairah. “Kebebasanmu ada di sini. Di dalam rahimmu, di dalam mulutmu. Selama kamu memuaskan kami, kamu bebas untuk meminta apa pun... kecuali pintu keluar.”
Tangan Sunoo merayap ke bawah, masuk ke dalam pangkal pahamu. Tanpa persiapan, ia membenamkan dua jarinya ke dalam intimu yang masih sensitif dari kejadian tadi pagi. Kamu tersedak oleh milik Jay, matamu membelalak saat rasa penuh itu kembali menghantarmu.
“Dia masih basah banget, Pa,” lapor Sunoo dengan tawa rendah yang mengerikan.
Jay melepaskan cengkeramannya di rambutmu, menarik dirinya keluar hanya untuk memaksamu berdiri dan menungging di atas meja kerjanya yang penuh dengan dokumen bisnis bernilai jutaan dolar. Dokumen-dokumen itu tersapu jatuh ke lantai, tidak ada artinya dibandingkan dengan tubuhmu yang kini menjadi fokus utama mereka.
“Pegang ujung meja ini,” perintah Jay.
Kamu mencengkeram pinggiran meja kayu jati yang dingin itu. Sunoo menahan pinggulmu dari belakang, sementara Jay berjalan ke sampingmu. Jay mengambil sebuah penggaris logam berat dari atas meja dan menggunakannya untuk menepuk pelan pantatmu yang terekspos.
PLAK!
Satu hantaman keras mendarat di kulitmu, membuatmu menjerit tertahan.
“Itu buat kamu yang mencoba melarikan diri,” ujar Jay datar.
PLAK!
“Itu karena kamu berani berteriak pada Jungwon.”
Air mata mengalir deras membasahi permukaan meja. Kamu merasa benar-benar seperti peliharaan yang sedang didisiplinkan. Rasa perih di kulitmu menyatu dengan rasa malu yang luar biasa. Setelah beberapa hantaman yang membuat kulitmu memerah panas, Jay membuang penggaris itu dan menggantinya dengan kehadirannya sendiri.
Jay menghujamkan dirinya masuk dari belakang dengan satu sentakan brutal, sementara Sunoo pindah ke depan wajahmu, menggantikan posisi Jay sebelumnya untuk menguasai mulutmu.
Kamu terjepit lagi. Di atas meja kerja tempat Jay biasanya mengendalikan kerajaan bisnisnya, ia kini mengendalikanmu. Kamu merasa seperti budak yang tidak punya hak untuk mengeluh. Setiap kali kamu mencoba merintih, Sunoo akan menekankan miliknya lebih dalam ke tenggorokanmu, dan Jay akan menghantam rahimmu lebih keras.
“Ingat rasa sakit ini, (y/n),” geram Jay di sela-sela napasnya yang memburu. “Setiap kali kamu punya pikiran untuk melangkah keluar dari gerbang itu, ingatlah bahwa kami akan selalu menyeretmu kembali ke meja ini untuk mengingatkanmu di mana tempatmu yang sebenarnya.”
Malam itu, di ruang kerja yang sunyi, kamu belajar satu pelajaran penting: di rumah ini, kamu adalah perhiasan, kamu adalah peliharaan, dan kamu adalah pemuas nafsu. Kamu dicintai, ya, tapi dengan cara yang paling menghancurkan yang pernah ada.
Pikiranmu yang kacau balau tidak lagi bisa membedakan rasa sakit dari kenikmatan. Setiap hantaman Jay di pantatmu, setiap hujaman Sunoo di mulutmu, dan setiap denyutan intimu yang merespons dengan cepat, semuanya bercampur menjadi satu badai sensorik yang menghancurkan. Kamu sudah terlalu sensitif, tubuhmu yang lelah dan babak belur justru semakin mudah mencapai ambang batas.
Jay tidak henti-hentinya menghantam pantatmu yang sudah memerah. Setiap tamparan keras itu menciptakan suara nyaring di ruangan yang sunyi, namun anehnya, justru memicu reaksi yang lebih cepat dari tubuhmu. Kamu mengerang tanpa sadar, pinggulmu bergerak-gerak liar, mencoba menemukan kelegaan di tengah kehancuran ini.
“You are such a bitch, (y/n),” desis Jay, suaranya parau. “Just a few slaps and you’re ready for us.”
Di depanmu, Sunoo mencengkeram kepalamu dengan kuat. Pinggulnya mendorong brutal di dalam mulutmu, tanpa mempedulikan seberapa dalam ia menembus tenggorokanmu. Ia menghujam dengan kecepatan yang gila, memaksamu menelan miliknya sepenuhnya, seolah ingin menghukummu karena berani-beraninya mencari kebebasan.
“Telan, bitch! Telan semuanya!” geram Sunoo, suaranya dipenuhi amarah yang membara.
Rasa sakit dan stimulasi yang brutal dari kedua sisi membuatmu mencapai orgasme secara paksa. Tubuhmu kejang hebat di atas meja, punggungmu melengkung kaku, dan intimu mencengkeram milik Jay dengan kuat, membanjiri bagian dalamnya dengan cairanmu sendiri.
Tepat saat tubuhmu mencapai puncak yang menyakitkan itu, Jay dan Sunoo pun ikut meledak secara bersamaan.
“AAAHHH—!”
Jay meraung, menghujamkan dirinya dalam satu sentakan terakhir yang sangat keras, menyemburkan seluruh benihnya ke dalam rahimmu. Di saat yang sama, Sunoo mencengkeram rahangmu lebih kuat, lalu ia membanjiri rongga mulutmu dengan cairannya yang melimpah, memenuhi mulutmu hingga kamu tersedak.
Kamu terbatuk-batuk hebat, cairan Sunoo mengalir dari sudut bibirmu, bercampur dengan air matamu yang tak henti-hentinya. Tubuhmu terkulai lemas di atas meja, napasmu terengah-engah, dan matamu menatap kosong ke langit-langit.
⛓️
Jay menarik dirinya keluar, meninggalkanmu tergeletak di atas meja. Rasa perih dan kosong di dalam dirimu terasa semakin menyiksa. Sunoo pun menarik dirinya dari mulutmu, meninggalkan bibirmu yang bengkak dan memerah.
“She’s already broken, Pa,” bisik Sunoo, napasnya masih memburu.
“Bagus,” jawab Jay datar, mengusap rahangmu dengan ibu jarinya. “Sekarang, bawa dia ke Jungwon. Dia perlu meminta maaf secara langsung.”
Sunoo tidak memberimu waktu untuk bangkit. Ia menggendong tubuhmu yang lemas dan telanjang itu di lengan kekarnya, membawamu keluar dari ruang kerja Jay. Setiap langkah yang diambil Sunoo terasa seperti walk of shame yang memilukan. Kamu tidak berani mengangkat kepala, hanya bisa menenggelamkan wajah di bahu Sunoo. Kamu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jungwon adalah yang paling ‘lembut’ di antara mereka, tapi justru kelembutan itu yang paling menghancurkanmu.
Sunoo membuka pintu kamar Jungwon yang sudah remang-remang. Jungwon duduk di tepi ranjangnya, menatapmu dengan sorot mata yang penuh kekecewaan, namun juga gairah yang terpendam.
“Dia udah minta maaf ke Papa sama aku, Jungwon,” bisik Sunoo, menurunkan tubuhmu yang lemas itu hingga kamu berlutut di hadapan Jungwon. “Sekarang giliranmu.”
Kamu menatap Jungwon, tubuhmu gemetar hebat. Air mata kembali mengalir membasahi pipimu. Kamu tahu Jungwon tidak akan memaksamu sebrutal Jay atau Sunoo. Namun, justru permintaan maafnya yang ‘lembut’ ini yang akan menghancurkan sisa-sisa pertahanan emosionalmu.
“M-maaf... maafkan aku, Kak Jungwon...” bisikmu, suaramu nyaris tak terdengar. Kamu tahu kata-kata itu tidak cukup. Kamu harus membayarnya dengan cara Jungwon sendiri.
Sunoo melepaskan pegangannya pada bahumu setelah menempatkanmu dalam posisi berlutut yang memalukan di depan Jungwon. Ia memberikan tepukan pelan di kepalamu, seolah-olah kamu adalah hewan peliharaan yang baru saja dipindahkan ke tangan pemilik lain, lalu ia keluar dan mengunci pintu dengan bunyi klik yang berat.
Begitu Sunoo menghilang, kelembutan di wajah Jungwon menguap seketika. Topeng “kakak yang pengertian” itu jatuh, menyisakan tatapan predator yang sangat dingin dan penuh perhitungan.
Jungwon tidak langsung menyentuhmu. Ia bangkit dari ranjang, berjalan pelan mengitarimu yang masih bergetar di lantai. Suara langkah kakinya di atas lantai kayu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi.
“Kamu pikir aku yang paling lembut, (y/n)?” suara Jungwon rendah, hampir seperti bisikan maut. “Kamu pikir karena aku nggak nampar kamu kayak Papa, aku bakal lepasin kamu semudah itu?”
Ia membuka sebuah laci tersembunyi di bawah ranjangnya, mengeluarkan sebuah kotak yang berisi perangkat BDSM yang berkilat tajam di bawah lampu redup. Ia mengambil sebuah spreader bar (batang logam untuk merentangkan kaki) dan sepasang nipple clamps yang terhubung dengan rantai tipis.
“Papa mendisiplinkan tubuhmu. Tapi aku... aku akan mendisiplinkan jiwamu,” gumamnya.
Tanpa peringatan, Jungwon menarikmu dan memaksamu berbaring di tempat tidurnya. Ia memasang spreader bar di pergelangan kakimu, mengunci kedua kakimu dalam posisi terbuka lebar yang sangat rentan. Kamu tidak bisa menutup pahamu, tidak bisa menyembunyikan intimu yang masih basah dan membengkak dari pandangannya.
“Now, beg me for mercy,” perintah Jungwon sambil memegang remote kecil di tangannya.
“Kak Jungwon... please... f-forgive me,” isakmu, mencoba bergerak namun rantai dan batang logam itu justru membuat setiap gerakanmu menjadi siksaan baru.
(lemes kaki gua cuy).
“Memohon dengan tulus, (y/n). Bilang kalau kamu itu peliharaanku yang nakal dan nggak akan pernah mencoba buat pergi lagi,” Jungwon merangkak naik ke atas tubuhmu, namun ia tidak melakukan penetrasi.
Ia justru menggunakan sebuah vibrator telur yang ia tekan di atas klitorismu yang sudah sangat membengkak, sementara tangannya yang lain menarik rantai di lehermu (choker). Ia membiarkanmu berada di ambang orgasme yang menyiksa tanpa membiarkanmu mencapainya.
“Say it!” bentaknya, suaranya kini pecah oleh obsesi yang gelap.
“Aku... aku peliharaanmu, Kak Jungwon! Aku milikmu! Tolong... ampuni aku... jangan tinggalin aku kayak gini!” kamu menjerit, benar-benar hancur. Manipulasi mentalnya bekerja, rasa sakit dan stimulasi yang dipaksakan ini membuatmu merasa bahwa satu-satunya orang yang bisa menghentikan siksaan ini hanyalah Jungwon.
Jungwon tersenyum puas. Ia mematikan alat-alat itu untuk sejenak, hanya agar kamu merasakan kekosongan yang menyakitkan, sebelum ia menggantinya dengan kehadirannya sendiri. Ia menghujammu dengan ritme yang lambat dan dalam, membiarkanmu merasakan setiap inci dari “hukuman” tulusnya yang membuatmu benar-benar melupakan cara bernapas.
Malam itu, di kamar Jungwon, kamu belajar bahwa kelembutan hanyalah senjata lain untuk memastikan bahwa jiwamu kini telah terantai sama eratnya dengan tubuhmu.
Jungwon melepas penyatuannya lagi lalu berdiri dalam kesunyian yang mencekam.
“Sunoo sama Papa kasar banget ke kamu, ya?” suara Jungwon merayap pelan, terdengar sangat empati namun ada nada tajam yang tersembunyi. “Itu karena mereka nggak tahu cara menghargai sesuatu yang rapuh.”
Ia melangkah perlahan, suara gesekan kakinya di karpet terdengar sangat keras di telingamu yang berdenging. Jungwon duduk di sisi ranjang menghadap padamu, jemarinya yang dingin menyisir rambutmu yang berantakan, menyelipkan anak rambut ke belakang telingamu dengan kelembutan yang mematikan.
“Tapi aku tahu, (y/n)... kamu nggak butuh pukulan. Kamu cuma butuh diingatkan sebergantung apa kamu sama kami,” bisik Jungwon.
Ia meraih kotak hitam di bawah ranjangnya yang lain dengan gerakan yang sangat tenang. Jungwon mengeluarkan sebuah blindfold (penutup mata) sutra hitam. Tanpa meminta izin, ia melingkarkannya di matamu, mengikatnya cukup kencang hingga duniamu seketika menjadi gelap gulita.
“Waktu kamu nggak bisa melihat, setiap sentuhanku akan terasa sepuluh kali lebih kuat,” gumamnya di dekat ceruk lehermu.
Dalam kegelapan itu, indramu yang lain menjadi sangat waspada. Kamu mendengar denting logam yang halus. Jungwon memasangkan borgol pergelangan tangan yang dilapisi bulu lembut, namun saat ia menarikmu ke ranjang dan mengaitkan borgol itu ke kepala tempat tidur, kamu tahu kelembutan itu hanyalah kamuflase.
Kedua tanganmu terentang di atas kepala, kakimu terbuka lebar, tubuhmu terekspos sepenuhnya dalam posisi pasrah yang menyiksa. Kamu mendengar Jungwon bergerak di sekitar ranjang, namun kamu tidak tahu di mana dia berada.
Zzzt...
Suara halus dari sebuah alat yang baru saja ia nyalakan membuat jantungmu berpacu. Kamu merasakan sesuatu yang dingin dan bergetar menyentuh paha bagian dalammu. Bukan di intimu, tapi hanya di sekitarnya. Jungwon menarik alat itu perlahan, menelusuri garis kulitmu yang paling sensitif, namun tidak pernah memberikan apa yang kamu inginkan.
“Kak Jungwon... please...” rintihmu, tubuhmu mulai melengkung mencari kontak.
“Sshh... jangan terburu-buru, (y/n). Aku tadi cuma main-main sama kamu and we have all night to make you beg properly for me,” bisik Jungwon dari arah yang tak terduga.
Tiba-tiba, kamu merasakan tekanan tajam di dadamu. Jungwon memasangkan nipple clamps dengan sangat perlahan. Ia memutar bautnya sedikit demi sedikit, membiarkan rasa sakitnya merayap naik secara bertahap, dari denyutan kecil hingga menjadi rasa panas yang membakar. Setiap kali kamu mencoba memprotes, ia akan menarik rantai yang menghubungkan kedua klem itu, membuatmu tersentak kesakitan sekaligus terangsang secara paksa.
Ia mulai mempermainkan indramu. Ia meneteskan wax lilin aromaterapi yang hangat ke perutmu. Rasa hangat yang tiba-tiba itu membuatmu terkesiap, namun sebelum kamu sempat terbiasa, ia meniupnya hingga dingin.
“Tell me, (y/n)... siapa yang memegang kendali atas napasmu sekarang?” tanya Jungwon, kini ia berada tepat di atas wajahmu, aroma parfumnya yang maskulin memenuhi penciumanmu.
“K-kamu... Kak Jungwon... kamu...”
“Be sincere. Say that you are my little pet who has been giving up.”
Jungwon menggunakan sebuah bulu merak yang halus, menyapukannya di area intimu yang sudah membengkak hebat akibat ulah Jay dan Sunoo walaupun dia sendiri sempat masuk sedikit lalu keluar lagi. Sentuhan itu begitu ringan hingga hampir tidak terasa, namun bagi sarafmu yang sudah overload, itu adalah siksaan yang murni. Kamu memohon, menangis, dan meronta dalam kuncian borgolmu, namun Jungwon terus menjaga ritme yang menyiksa ini—menolak memberikanmu pelepasan, hanya membiarkanmu terbakar dalam gairah dan rasa malu yang mendalam.
Atmosfer di kamar itu terasa semakin berat dan pekat, dipenuhi oleh aroma keringat, lilin, dan obsesi Jungwon yang mulai memuncak.
Kegelapan di balik penutup mata membuat setiap suara kecil terdengar seperti guntur. Kamu hanya bisa mendengar napas Jungwon yang tenang dan teratur, kontras dengan napasmu yang tersengal-sengal. Rasa perih dari klem di dadamu terus berdenyut, namun Jungwon belum selesai menghancurkan pertahanan mentalmu.
⛓️
“Tubuh kamu udah jujur banget, (y/n). Dia kangen sama sentuhan kami, walaupun mulutmu bilang mau pergi,” bisik Jungwon, tangannya yang dingin merayap di antara pahamu yang terbuka lebar akibat kuncian spreader bar.
Kamu mendengar bunyi klik kedua. Kali ini, sebuah getaran rendah dan berat mulai mengisi kesunyian kamar. Jungwon tidak langsung memberikan pelepasan, ia mengambil vibrator telur baru yang permukaannya bergerigi dan menekannya tepat di atas klitorismu yang sudah sangat membengkak dan berdenyut.
“Ah! Kak Jungwon, s-stop... too much...” jeritmu pelan, tubuhmu tersentak hebat di atas ranjang.
“Belum, Sayang. Ini baru permulaan,” sahutnya dengan suara yang sangat tenang, hampir seperti seorang dokter yang sedang melakukan operasi.
Tanpa peringatan, ia mengambil vibrator silikon yang lebih besar seperti miliknya—sebuah alat yang dirancang untuk mengisi ruang sepenuhnya. Dengan gerakan yang sangat lambat, ia mendorong alat itu masuk ke dalam vaginamu yang masih penuh dengan sisa benih Jay dan Sunoo. Alat itu masuk inci demi inci, memaksa dinding rahimmu yang sudah lelah untuk meregang sekali lagi.
Begitu alat itu tertanam sepenuhnya di dalam, Jungwon menyalakannya pada level maksimal.
Dunia seolah meledak di depan matamu yang tertutup. Dua sumber getaran yang berbeda menghantam titik paling sensitifmu secara bersamaan. Di luar, klitorismu disiksa oleh getaran tajam, sementara di dalam, dinding vaginamu dihantam oleh denyutan berat yang konsisten.
“Hhh... ngghhh! Kak J-Jungwon... m-maaf... aku minta ampun!” rintihmu dengan air mata yang terus merembes dari balik penutup mata. Kamu mencoba merapatkan paha, namun spreader bar itu menahanmu dalam posisi terbuka yang memalukan.
“begging me for mercy, (y/n). Bilang kalau kamu nggak butuh pintu keluar, kamu hanya butuh getaran ini... kamu cuma butuh aku,” Jungwon berbisik tepat di telingamu, sambil tangannya mulai menarik-narik rantai di klem dadamu, menyinkronkan rasa sakit tajam di atas dengan kenikmatan yang meledak-ledak di bawah.
Pertahanan terakhirmu runtuh. Kamu tidak lagi memikirkan gerbang rumah, tidak lagi memikirkan masa lalumu. Otakmu hanya dipenuhi oleh sensasi elektrik yang diberikan Jungwon. Kamu benar-benar hancur secara psikologis, kamu mulai merasa bahwa Jungwon adalah satu-satunya sumber oksigenmu.
“I-I’m your pet... hhh... aku milik Park... tolong, Kak Jungwon... selesaiin ini...” isakmu, sepenuhnya menyerah pada takdirmu sebagai objek miliknya.
Jungwon mematikan getaran itu secara tiba-tiba, meninggalkanmu dalam kesunyian yang menyakitkan dan rasa kosong yang luar biasa. Ia melepas penutup matamu, membiarkanmu menatap matanya yang gelap dan penuh kemenangan di bawah cahaya lampu remang.
“Sekarang, barulah aku bakal kasih kamu ampunan yang tulus,” gumamnya, sebelum ia melepaskan miliknya sendiri dan menggantikan mesin dingin itu dengan panas tubuhnya yang jauh lebih mendominasi.
Kesunyian yang jatuh setelah Jungwon mematikan semua alat itu terasa lebih menyakitkan daripada getarannya sendiri. Tubuhmu, yang baru saja berada di puncak saraf yang meledak-ledak, tiba-tiba dihempaskan ke dalam kekosongan yang hampa. Kamu terengah-engah, dadamu naik-turun dengan cepat, dan rahimmu berdenyut-denyut menuntut sesuatu yang tidak kunjung datang.
Kamu berada di ambang orgasme—tepat di pinggir jurang—namun Jungwon dengan sengaja menarikmu kembali ke daratan yang gersang.
🌑
“Jungwon... please... jangan berhenti... hhh... I beg you so much ...” rintihmu dengan suara yang pecah. Kamu menggeliat di atas ranjang, borgol di pergelangan tanganmu berdentang keras saat kamu mencoba mencari gesekan apa pun untuk menuntaskan hasrat yang menyiksa itu.
Jungwon tetap bergeming. Ia hanya berdiri di samping ranjang, menatapmu dengan ekspresi datar yang sangat dingin. Ia membiarkanmu menderita dalam kondisi edged (di ambang puncak) yang ekstrim.
“Kenapa aku harus kasih kamu itu?” tanya Jungwon pelan, suaranya terdengar sangat jauh. “Beberapa jam yang lalu kamu mau kabur lari dari aku. Kamu mau ninggalin rumah ini. Sekarang, kamu malah mohon sama aku seakan-akan aku ini satu-satunya duniamu.”
“M-maaf... hhh... aku salah... tolong, Kak Jungwon... perutku... sakit banget...” tangismu pecah.
Otakmu benar-benar kacau. Penolakan pelepasan (orgasm denial) adalah bentuk siksaan psikologis yang paling berat. Sarafmu yang tadinya terbakar kini terasa seperti tersengat listrik yang tak kunjung padam. Kamu merasa sangat kotor, sangat rendah, dan sepenuhnya hancur karena kamu menyadari bahwa kamu sedang memohon pada pria yang baru saja menyiksamu.
Jungwon naik kembali ke atas ranjang, namun ia tidak menyentuh bagian bawahmu. Ia justru menindih tubuhmu, memposisikan wajahnya hanya beberapa inci dari wajahmu yang sembab oleh air mata.
“Lihat aku, (y/n). Look how pathetic you are now,” bisik Jungwon, tangannya mengusap air matamu dengan ibu jari. “Kamu menangis karena kamu butuh aku. Bukan karena kamu mencintaiku, tapi karena tubuhmu udah aku rusak sampai nggK bisa berfungsi tanpa tanganku.”
Ia membiarkanmu berada dalam posisi tersiksa itu selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Setiap kali kamu mencoba menggesekkan pahamu, ia akan menekan perutmu dengan keras, memaksamu untuk tetap diam dan merasakan denyutan frustrasi itu.
“Ini adalah pengampunan dari aku,” gumam Jungwon dingin. “Aku nggak akan biarin kamu sampai ke puncak malam ini. Kamu bakal tidur dengan rasa lapar ini, biar setiap detik kamu memejamkan mata, kamu ingat bahwa akulah satu-satunya yang bisa kasih kamu kepuasan dan aku juga yang bisa merenggutnya dari kamu.”
Kamu menangis tersedu-sedu, kepalamu menggeleng-geleng di atas bantal. Otakmu sudah tidak bisa lagi memproses logika. Kamu merasa benar-benar seperti peliharaan yang sedang dihukum karena tidak patuh, lapar, haus, dan tidak berdaya di bawah kendali tuannya.
Jungwon akhirnya melepaskan borgol di tanganmu dan spreader bar di kakimu, namun ia segera memelukmu dengan sangat erat, mengunci tubuhmu yang lemas di dalam dekapannya. Ia membiarkanmu menangis di dadanya, membiarkan hasratmu yang tak tuntas itu menyiksa batinmu hingga fajar menyingsing.
Tubuhmu sudah melampaui batas kewarasan. Rasa penuh yang berdenyut di rahimmu, sisa getaran yang masih merambat di sarafmu, dan penolakan kejam dari Jungwon menciptakan badai rasa lapar yang primitif. Kamu tidak lagi peduli pada hukuman, tidak lagi peduli pada harga diri. Kamu hanya ingin rasa sakit yang panas ini berhenti.
⛓️
Saat Jungwon mencoba menarikmu ke dalam pelukannya untuk membiarkanmu menderita dalam sisa hasrat yang tak tuntas, kamu justru memberontak dengan cara yang tidak ia duga. Dengan tenaga sisa yang dipicu oleh frustrasi seksual yang ekstrim, kamu mendorong bahu Jungwon hingga ia jatuh telentang di atas ranjang.
“What are you doing, (y/n)?” suara Jungwon terdengar tajam, ada kilatan keterkejutan sekaligus rasa ingin tahu di matanya.
Kamu tidak menjawab. Napasmu terdengar seperti rintihan pendek yang putus-putus. Air mata masih mengalir deras, namun pandanganmu terkunci pada kejantanan Jungwon yang masih tegang sempurna di balik celananya yang masih terbuka.
Dengan tangan gemetar, kamu merangkak naik ke atas tubuhnya. Kamu memposisikan dirimu tepat di atasnya, mengabaikan tatapan dingin yang ia berikan. Kamu mengambil kendali—sesuatu yang dilarang keras di rumah ini.
“Aku... hhh... I can’t take it anymore, Kak Jungwon... Please...” isakmu saat kamu memegang miliknya dan mengarahkannya ke intimu yang sudah sangat membengkak dan basah kuyup.
“Aku nggak kasih kamu izin,” desis Jungwon, tangannya mencengkeram pinggangmu dengan keras, namun ia tidak mendorongmu menjauh. Ia justru ingin melihat seberapa jauh “peliharaannya” ini akan melanggar aturan demi sebuah pelepasan.
Kamu tidak mempedulikan peringatannya. Kamu mendudukkan tubuhmu dengan sentakan kasar, membiarkan milik Jungwon menghujam masuk ke dalam dirimu dalam satu gerakan penuh.
“AAAGGHHH—!”
Jeritanmu pecah saat rasa penuh itu akhirnya kembali mengisi kekosongan yang menyiksa. Kamu mulai bergerak sendiri—liar, tidak beraturan, dan penuh keputusasaan. Kamu bergerak naik-turun dengan ritme yang kacau, mencoba mengejar puncak yang sempat Jungwon curi darimu.
Jungwon hanya diam, membiarkanmu melakukan segalanya. Tangannya yang besar tetap di pinggangmu, bukan untuk membantumu, tapi untuk memastikan ia bisa merasakan setiap inci getaran tubuhmu yang hancur.
“Kamu ya... so thirsty, so disgusting,” bisik Jungwon, matanya berkilat penuh kemenangan saat ia melihat bagaimana kamu secara sukarela menghancurkan martabatmu sendiri di hadapannya. “You took it without permission. You know the consequences, right?”
Kamu mengangguk dalam tangisan, kepalamu terkulai lemas saat kamu terus memacu tubuhmu. Setiap gesekan terasa seperti aliran listrik yang membakar. Otakmu sudah benar-benar mati rasa, yang ada hanya keinginan untuk meledak.
Akhirnya, dengan satu hentakan terakhir yang sangat dalam di mana kamu menekan tubuhmu sepenuhnya ke bawah, puncak yang tertahan itu pecah. Tubuhmu kejang hebat di atas Jungwon, rahimmu mencengkeram miliknya dengan kekuatan yang menyakitkan, dan pandanganmu menggelap saat orgasme yang paling traumatis itu menghantammu.
Kamu ambruk di atas dada Jungwon, terengah-engah dengan sisa isakan yang memilukan. Kamu telah mendapatkan pelepasanmu, tapi harganya sangat mahal: kamu baru saja membuktikan pada Jungwon bahwa kamu sudah sepenuhnya “rusak” dan bergantung padanya.
Jungwon yang belum sampai pelepasannya akhirnya menghujammu lebih cepat dari bawah mengangkat pinggulmu sampai dia melepaskan cairannya di dalam rahimmu bercampur dengan milik Sunoo dan Jay yang masih ada di dalam hinggal meluber keluar di sela-sela paha kalian.
Jungwon membelai rambutmu yang basah oleh keringat, lalu berbisik dingin di telingamu. “Kamu udah dapetin apa yang kamu mau. Sekarang, siap-siap aja ngadepin Papa sama Sunoo besok pagi, karena aku bakal laporin pencurian kecil kamu ini ke mereka.”
To Be Continued
abis revisi ulang ini badanku langsung lemes tak berdaya🤧




Aaaaaa gila bgt ini baca², bukan merinding tp lebih ke sedih dn kaya ikut ngerasain rasa putus asa y/n yg cm pingin diperlakukan dengan layak dn disayangi dengan cara yg bnr😭