jangan lupa untuk like
Kamu menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanmu mendadak terasa kering, dan bulu kudukmu meremang hebat mendengar rentetan ancaman sensual yang keluar dari bibir manis Jake. Ini pertama kalinya selama lima bulan pacaran kamu melihat sisi dirinya yang seberingas ini. Gak ada lagi Jake si pacar penurut yang bakal berhenti cuma karena kamu bilang βudah, Jakeβ. Yang ada di depanmu sekarang adalah seorang pria yang insting dominannya sudah tergelitik sampai batas maksimal.
Tapi anehnya, ketakutanmu itu gak bertahan lama. Darah anak Farmasi di dalam tubuhmu seolah bereaksi pada stimulan yang tepat, rasa takut itu perlahan bermutasi menjadi letup gairah yang menantang. Kamu suka melihat bagaimana cowok yang diperebutkan satu kampus ini bertekuk lutut dan kehilangan kendali hanya karena dirimu.
Kamu gak menyahut lewat kata-kata. Sebagai gantinya, kamu menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat gelapnya. Tatapan matamu yang semula sayu pasca-klimaks kini berubah, memancarkan binar menantang yang seolah mengatakan, βCoba aja kalau kamu bisa, Captain.β
Kamu mengangkat kedua tanganmu yang bebas, mendaratkannya di sisi wajah Jake. Ibu jarimu bergerak lambat, mengusap garis rahangnya yang tegas. Di sana, kulitnya terasa sedikit kasar karena mulai ditumbuhi jambang tipis-sebuah detail maskulin yang jarang terekspos di lapangan kampus, tapi malam ini kelihatan begitu seksi karena mempertegas struktur mukanya yang tajam dan hidung besarnya yang mancung.
Kamu menarik tengkuknya sedikit ke bawah, lalu mendaratkan kecupan lembut di ujung hidung mancungnya. Belum sempat Jake merespons, kamu menurunkan kecupanmu ke sepanjang garis rahangnya, menghirup aroma sisa parfum dan keringat jantannya yang memabukkan.
βJangan cuma banyak omong, Jake,β bisikmu tepat di depan belahan bibirnya, memprovokasi dengan nada yang teramat intim. βTunjukin ke aku sebrutal apa fantasi anak FIK.β
Detik itu juga, seluruh sisa kewarasan Jake putus tanpa ampun.
Mendengar tantangan langsung dari mulutmu, Jake mengerang kasar seperti singa yang baru dilepas dari kandang. Tanpa aba-aba atau gerakan slowburn lagi, dia langsung menerjangmu ke dalam bantalan sofa. Tubuh besarnya yang berotot keras menindihmu, menahan kedua pergelangan tanganmu ke atas kepala dengan satu cengkeraman tangannya yang besar dan kuat.
Jake merunduk, langsung melumat bibirmu dengan ciuman yang jauh lebih frontal dan kelaparan dibanding ronde pertama. Bersamaan dengan tautan bibir kalian yang basah dan berisik, pinggul kokohnya yang sudah kembali menegang sempurna di sela pahamu langsung melakukan satu sentakan besar.
Jleb!
Miliknya yang besar dan berdenyut keras kembali melesat masuk, menghantam dinding intimu yang masih basah dan sensitif dalam satu ketukan dalam yang maksimal.
βAhhn!β
Kamu memekik keras di dalam mulutnya, tubuhmu reflek melengkung ke atas menerima hantaman mendadak yang begitu padat dan menginvasi sampai ke ujung rahimmu. Gak ada waktu buat bernapas. Jake langsung menggerakkan pinggul atletnya dengan ritme yang cepat, kasar, dan tanpa jeda, siap merubuhkan seluruh batasan yang pernah kamu buat di antara kalian.
Di tengah lumatan bibir Jake yang begitu memburu dan merusak, kamu justru terkikik geli. Suara tawa kecilmu yang teredam di dalam mulutnya menjadi bensin paling murni yang membakar habis sisa-sisa kesabaran pria itu. Kamu sama sekali tidak gentar dengan intensitas brutal yang dia berikan, kamu justru merayakannya. Kedua kakimu yang bebas dengan cepat naik, melingkar bergelayut erat di sekeliling pinggul kokohnya, mengunci tubuh kalian berdua tanpa ada jarak satu milimeter pun yang tersisa.
Begitu kuncian kakimu mengencang, Jake semakin leluasa menancapkan bebannya. Pinggul atletnya bergerak maju-mundur dalam ketukan yang konstan, cepat, dan luar biasa bertenaga. Hantaman demi hantaman frontal itu menumbuk pusat intimmu yang sudah tergenang cairan kepuasan dari ronde pertama.
Plak! Croot! Plak! Squelch!
Suara gesekan yang basah, pekat, dan teramat vulgar bergema memenuhi ruang tengah apartemenmu yang sunyi. Cairan yang melumuri milik Jake memercik ke mana-mana setiap kali dia menarik diri hampir keluar, hanya untuk dihujamkan kembali sampai mentok ke dinding rahimmu dalam satu sentakan dalam. Sensasi penuh dan licin yang beradu itu menciptakan melodi intim yang mengikis habis seluruh rasa malu yang kamu punya.
βDenger suara ini, hm? Kamu becek banget di bawah sini, Sayang. Sempit, panas, jepit aku kayak mau mati,β geram Jake, suaranya benar-benar pecah, serak, dan mengalir tanpa filter tepat di depan wajahmu. Matanya yang menggelap menatap lurus ke bawah, menyaksikan bagaimana miliknya yang tegang sempurna tenggelam dan menghilang di sela pangkal pahamu.
Tangan besar Jake tidak tinggal diam membiarkanmu menikmati siksaan itu sendirian. Satu tangannya yang semula mengunci pergelangan tanganmu kini bergerak turun. Jari-jemarinya yang kasar mencengkeram salah satu dadamu yang bebas, meremasnya dengan tekanan yang begitu kuat hingga bentuknya berubah di sela jemarinya. Gak puas hanya meremas, di sela ritme tumpuannya yang makin cepat, Jake sesekali melayangkan tamparan-tamparan pelan yang tegas di atas permukaan dadamu.
Plak!
βAh! Jake... ahh!β Kamu tersentak, rasa perih yang berbaur dengan nikmat yang melimpah membuat matamu berair seketika. Kulit dadamu yang putih bersih langsung menyisakan rona kemerahan yang seksi akibat bekas tamparannya.
Melihat reaksimu yang semakin histeris, Jake semakin kesetanan. Dia melepaskan cekalan tangannya yang satu lagi dari atas kepalamu. Dengan kasar, dia meraih salah satu kaki kananmu, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menyampirkannya di atas bahu lebarnya yang bidang. Posisi asimetris ini membuat intimu terbuka jauh lebih lebar dan terekspos tanpa pertahanan, memberikan jalur yang semakin vertikal bagi Jake untuk menembus titik paling sensitifmu.
Kini, dengan kedua tangannya yang bebas sepenuhnya, Jake fokus mengeksploitasi bagian atas tubuhmu. Kedua telapak tangan besarnya mencengkeram sepasang dadamu, meremas dan mendorongnya ke atas-bawah seirama dengan tumpuan pinggulnya dari bawah. Setiap kali pinggul kokoh si kapten olahraga itu menghantam tubuhmu, dadamu memantul indah dengan gerakan yang begitu menggoda di depan matanya.
βLihat ini... mantul-mantul cantik banget di depan muka aku. Sialan, kamu bener-bener bikin aku gila malam ini,β bisik Jake, dirty talk-nya mengalir semakin frontal, detail, dan beringas tanpa memedulikan lagi tata krama bicaranya yang biasa manis di depan fans atau kating kampus. βKamu yang biasa pakai baju longgar dan kacamata di perpus, sekarang telanjang di bawah aku, pasrah diginiin sama buaya kampus yang kamu maksud, hm? Bilang ke aku, bagian mana yang paling enak? Di sini? Atau pas aku tembak rahim kamu kayak tadi, hah?!β
Setiap kata vulgar yang keluar dari mulut manis yang kini berubah beringas itu terdengar seperti afrodisiak yang langsung menyengat otakmu. Kamu mencengkeram erat lengan sofa kulit di bawah kepalamu, membiarkan tubuhmu terguncang hebat mengikuti insting hewani Jake yang terus memburu titik puncak ronde kedua dengan kecepatan yang semakin tidak masuk akal.
Ruang tengah apartemenmu kini sepenuhnya berubah menjadi arena pelepasan yang pengap dan dipenuhi kabut gairah yang teramat pekat. Suara deru napas Jake yang berat dan terengah-engah berbaur dengan jerit desahanmu yang terus lolos tanpa bisa ditahan lagi. Sofa kulit tempat kalian bertumpu menjadi saksi bagaimana seorang mahasiswi Farmasi yang biasanya mengedepankan logika, keteraturan, dan hitungan dosis aman, kini sepenuhnya menyerahkan seluruh kendali tubuhnya untuk diobrak-abrik oleh insting hewani sang kapten olahraga.
Posisi kaki kananmu yang bertumpu di atas bahu lebar Jake memberikan sudut penetrasi yang begitu ekstrem. Setiap kali pinggul atletis cowok itu mendorong maju, miliknya yang tegang sempurna menembus jalur lurus yang langsung menghantam titik terdalam di mulut rahimmu tanpa ada penghalang sedikit pun.
Plak! Squelch! Plak! Squelch!
Bunyi becek yang vulgar dan ritmis itu semakin nyaring terdengar, memenuhi setiap sudut ruangan yang sunyi. Cairan alami yang diproduksi oleh tubuhmu akibat stimulasi yang bertubi-tubi kini meluber, membasahi sela paha Jake dan menetes ke atas permukaan kulit sofa. Jake sama sekali tidak mengurangi kekuatannya. Sebagai atlet yang terbiasa melatih ketahanan fisik dan stamina setiap hari di lapangan, kecepatan yang dia tunjukkan di ronde kedua ini justru semakin konstan dan bertenaga, seolah-olah dia memiliki pasokan energi yang tidak ada habisnya.
βJake... ahh! Pelan-pelan... itu terlalu dalem, ahh!β Kamu memekik, kepalamu bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri di atas bantalan sofa. Kedua tanganmu yang bebas bergerak panik, mencoba mendorong pelan perut keras Jake yang dipenuhi otot six-pack tegang, namun kekuatan tanganmu saat ini sama sekali tidak ada artinya. Tubuhmu sepenuhnya terkunci di bawah dominasi mutlaknya.
Jake justru mengetatkan rahangnya mendengar rintihan pasrahmu. Sepasang mata cokelat gelapnya berkilat penuh kepuasan yang gelap. Dia merunduk, membiarkan dadanya yang bidang dan basah oleh keringat menempel rapat pada dadamu, menciptakan sensasi lengket yang teramat sensual saat kulit telanjang kalian bergesekan.
βEnggak ada kata pelan lagi, Sayang,β bisik Jake, suaranya terdengar begitu berat, parau, dan bergetar tepat di sela lipatan leher dan telingamu. Napasnya yang memburu panas terasa membakar kulit sensitifmu. βKamu sendiri yang tadi nantang aku di depan rahang aku, kan? Kamu bilang mau lihat sebrutal apa fantasi anak FIK? Ini baru permulaan.β
Sambil terus menghunjamkan pinggulnya dengan ritme yang cepat dan menghunjam dalam, kedua tangan besar Jake yang bebas dari memegang pergelangan tanganmu kini sepenuhnya fokus pada sepasang dadamu yang memantul indah mengikuti setiap sentakannya. Jarinya yang panjang dan sedikit kapalan itu mencengkeram kasar gundukan kembar milikmu, meremasnya bergantian dengan tekanan yang tidak main-main.
Plak!
Satu tamparan pelan kembali mendarat di atas permukaan kulit dadamu yang sensitif, meninggalkan jejak kemerahan yang langsung kontras dengan kulit putih bersiarmu. Kamu tersentak hebat, sebuah desahan tinggi kembali terlempar dari tenggorokanmu seiring dengan dinding intimu yang reflek menjepit miliknya dengan remasan beruntun yang teramat ketat.
βAh! Sial, jepitannya... bagus banget, Sayang. Kamu bikin aku mau keluar lagi cepet-cepet,β umpat Jake kasar, dirty talk-nya mengalir semakin vulgar dan tak terfilter. Lidah manisnya yang biasa digunakan untuk merayu dan memberikan kata-kata lembut di kampus kini sepenuhnya berubah menjadi senjata yang teramat beringas.
βKamu tahu gak seberapa tersiksanya aku selama sebulan ini? Setiap kali aku heat di lapangan habis tanding, aku cuma bisa bayangin muka kamu. Dan setiap kali kamu cuma mau pakai mulut kamu buat bersihin aku... aku selalu nahan diri buat gak langsung nidurin kamu di atas meja lab kamu. Malam ini, aku bakal ambil semua jatah yang kamu utang sama aku selama lima bulan ini,β geram Jake, bicaranya mendetail, frontal, dan penuh dengan visualisasi yang membuat otakmu semakin korsleting.
Kamu terkikik di sela-sela rasa perih dan nikmat yang berbaur menjadi satu di dalam tubuhmu. Tatapan matamu yang berair dan sayu menatap lurus ke dalam mata Jake, membalas binar laparnya dengan tatapan menantang yang tidak pernah dia lihat di koridor kampus. Kamu menyukai detail ini. Kamu menyukai fakta bahwa Jake yang dipuja-puja oleh puluhan cewek populer, yang selalu dikejar oleh kakak tingkat dari berbagai fakultas, saat ini sedang bertingkah seperti pria kesetanan yang memohon penuntasan hanya di dalam dirimu.
βKalau gitu... ambil semuanya, Captain,β bisikmu menantang, suaranya terdengar begitu menggoda dan serak di sela napasmu yang putus-putus. Kamu sengaja menggerakkan kaki kirimu yang masih bebas untuk mengusap punggung bawahnya, memancingnya untuk bergerak lebih dalam lagi. βTembak rahim aku lagi sampai penuh kalau kamu emang sanggup.β
Tantangan verbal yang kamu lontarkan seolah menjadi pukulan telak yang meruntuhkan sisa-sisa rem kewarasan yang dimiliki Jake. Sepasang matanya menggelap total, hampir sepenuhnya hitam akibat pupil yang melebar karena gairah yang sudah berada di puncaknya.
βKamu bener-bener minta dihabisin ya, Sayang,β desis Jake dengan suara yang mengerikan namun teramat seksi.
Dengan satu gerakan kasar, Jake menurunkan kaki kananmu dari bahunya, namun dia langsung membalikkan tubuhmu hingga kini kamu berada dalam posisi menungging-doggy style-di atas sofa kulit. Posisimu yang mendadak berubah membuatmu harus bertumpu pada kedua siku tanganmu di atas bantalan sofa, sementara pinggulmu terangkat tinggi di depan wajahnya.
Sebelum kamu sempat mengumpulkan kesadaran, Jake langsung merapatkan tubuhnya dari belakang. Tanpa memberikan waktu bagi intimu untuk beristirahat, miliknya yang masih tegang sempurna dan berurat keras itu kembali dihujamkan masuk dalam satu ketukan vertikal yang luar biasa kuat dari belakang.
Jleb!
βAHH! JAKE!β
Kamu menjerit parah, matamu terpejam rapat dengan punggung yang reflek melengkung ke bawah saat merasakan miliknya melesat masuk begitu dalam, jauh lebih dalam dibandingkan posisi sebelumnya. Hantaman dari posisi belakang ini benar-benar tanpa ampun, langsung menjangkau titik paling sensitif di ujung rahimmu dengan akurasi yang mematikan.
Jake tidak memberikan jeda sedikit pun. Kedua tangan besarnya mencengkeram erat tulang pinggulmu, menguncinya dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Dari posisi ini, dia mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur dengan kecepatan yang luar biasa brutal. Setiap kali pinggul atletisnya menumbuk pantatmu, suara kulit yang beradu dengan keras bergema memenuhi ruangan, berbaur dengan suara basah dari intimu yang terus menerus memproduksi cairan akibat gairah yang sudah overdosis.
Jake menjambak rambut panjang gelombangmu yang sudah payah kamu catok kebelakang, membuatmu mendongak keenakan setiap miliknya menghantam masuk ke dalam rahim. Jake mengerang keras dia benar-benar melepaskan semua hasratnya padamu tanpa tersisa sedikitpun.
Kalau sudah begini tidak ada kata kembali.
To Be Continued





Beuhh mantep bet dah JakeuπβοΈ
BTW MANGAT KAKK, Jujur suka bet ama semua pov luπ gragasΒ² mantappπβ€οΈβπ₯
Nikmati jirr ππ¦π€€ππ₯΅