⚾️
Aroma keringat dan mint hangat masih samar-samar tercium dari pergelangan tangan Jungwon yang merangkul bahumu. Sinar matahari sore yang menembus celah ventilasi gudang melukis garis-garis keemasan di atas tanah dan matras tebal tempat kalian berbaring berdua.
Ucapan Jungwon yang terngiang di telingamu—‘Manajer Gue, My Mine Gue, dan satu-satunya alasan Gue bisa berdiri lagi’—seharusnya sukses membuat hatimu meleleh sepenuhnya.
Tapi di balik rasa hangat yang membakar dadamu, ada satu keraguan kecil yang mendadak muncul dan menggelitik benakmu.
Kamu menatap jemarimu yang masih mengunci erat dengan jemari Jungwon yang berukuran lebih besar. Kamu menyusuri kapalan tebal di buku-buku jarinya, lalu mendongak menatap rahang tegas Jungwon yang sedang menatap lurus ke depan dengan senyum puas.
Tunggu dulu, pikirmu.
Kalian sudah berciuman di bawah hujan. Kalian sudah saling menyerahkan tubuh dan gairah paling intim di bench pemain maupun di atas matras gudang sepi ini. Dia bertingkah sangat posesif, menuntut seluruh perhatianmu, dan membuat janji-janji manis seolah kamu adalah pusat dunianya.
Tapi... dia sama sekali belum pernah mengatakannya.
Tidak ada kata ‘kamu mau jadi pacar aku?’. Tidak ada ungkapan cinta formal. Dia cuma mengklaimmu seenak jidatnya sendiri sebagai ‘miliknya’.
Niat jahat untuk menggoda dan mengerjai Yang Jungwon seketika mekar di kepalamu.
Kamu melepaskan kuncian jemarimu dari tangan Jungwon secara perlahan, lalu mendorong dadanya pelan untuk mengikis jarak pelukan kalian.
Jungwon mengerutkan alisnya tipis, merasa kehilangan kehangatanmu. “Kenapa, y/n?”
Kamu duduk tegak di atas matras, membetulkan kerah kemejamu yang sedikit berantakan, lalu menatap Jungwon dengan senyum tipis yang sengaja dibuat semanis dan senetral mungkin.
“Won,” panggilmu santai, merapikan rambutmu ke belakang telinga.
“Ya?”
“Tadi lo bilang apa? ‘Punya’ lo?” Kamu terkekeh pelan, tawa kecil yang terdengar meremehkan namun memikat. “Sejak kapan gue punya lo, dan sejak kapan lo punya gue?”
Jungwon terpaku sejenak. Wajah tampannya yang tadinya rileks mendadak menegang. Ia ikut duduk tegak di hadapanmu, menatapmu dengan mata cokelat pekatnya yang menyipit curiga.
“Maksud lo apa?” suara Jungwon terdengar memelan, ada nada ketidaksukaan yang mulai merayap di sana. “Lo udah tidur sama gue dua kali. Lo manajer gue. Lo yang ada di samping gue dari awal. Ya jelas lo punya gue.”
“Hmm... gitu ya?” Kamu bersedakap, menyandarkan punggungmu ke dinding gudang sambil menatapnya dari atas ke bawah. “Tapi setahu gue, kita ga punya status apa-apa, deh. Lo cuma cowok frustrasi yang gue bantu latihan malam-malam, dan gue cuma cewek yang kebetulan lewat di lapangan.”
“y/n,” panggil Jungwon tajam. Tatapannya mendadak membara.
“Lagian...” Kamu melanjutkan kalimatmu tanpa memedulikan tatapan mengintimidasinya, bibirmu mengukir senyum teasing yang sangat memancing emosi. “...lo aja ga pernah nembak gue. Lo main klaim gue sana-sini, bertingkah kayak paling posesif se-stadion, tapi status gue di hidup lo apa? Teman tapi mesra? Friends with benefits? Atau cuma ‘manajer’ yang kebetulan dapat bonus?”
Kata-kata itu menghantam Jungwon tepat di ulu hati.
Raut wajahnya berubah drastis dalam hitungan detik. Senyum manis dan kelembutan yang menyelimutinya beberapa menit lalu lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh ekspresi gelap, liar, dan penuh rasa kepemilikan yang tersenggol hebat.
Harga diri seorang Yang Jungwon—seorang ace yang baru saja memenangkan pertandingan besar—rasanya seperti diinjak-injak dengan cara yang paling manis olehmu.
“Lo bercanda, kan?” desis Jungwon. Udara di antara kalian mendadak terasa dingin dan berat.
“Gue kelihatannya lagi bercanda?” balasmu santai, menaikkan satu alismu. “Gue cuma menyatakan fakta, Won. Coba ingat-ingat, pernah ga lo minta gue jadi pacar lo secara bener? Nggak, kan? Lo cuma langsung cium gue, meluk gue, terus ngatur-ngatur gue ga boleh dekat sama cowok lain.”
Jungwon memejamkan matanya erat-erat, menahan napasnya yang mulai memburu. Otaknya berputar cepat, menyadari betapa bodohnya dia karena menganggap semuanya sudah jelas tanpa menyatakannya secara langsung. Dia terlalu terbiasa memilikimu di sisinya hingga lupa memberikan kepastian yang pantas kamu dapatkan.
Tapi melihat raut wajahmu yang begitu tenang dan tampak tidak beban seolah status ini tidak berharga buatmu membuat darah Jungwon mendidih hebat. Rasa takut kehilanganmu bercampur dengan amarah posesif meledak seketika di dadanya.
Jungwon merayap maju dengan cepat.
Sebelum kamu sempat bereaksi, kedua tangan kekarnya mencengkeram kedua sisi bahumu, menekan tubuhmu kembali ke dinding gudang. Jungwon menunduk, mengikis habis jarak di antara wajah kalian hingga ujung hidung kalian hampir bersutuhan.
Napas hangatnya yang panas menampar kulit pipimu. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam matamu, menguncimu tanpa celah untuk melarikan diri.
“Oke. Gue salah,” bisik Jungwon, suaranya sangat berat, rendah, dan bergetar karena emosi yang menumpuk. “Gue tolol karena ga ngomong dari awal.”
Kamu menahan napas, terkejut melihat reaksi drastisnya, namun tetap berusaha mempertahankan wajah datar dan senyum ejekanmu.
Jungwon meraih tangan kananmu, menancapkan jemarimu tepat di dadanya—di atas detak jantungnya yang bergemuruh liar dan tak beraturan.
“Dengerin gue baik-baik, y/n,” kata Jungwon, setiap katanya ditekan dengan sangat dalam dan posesif. “Gue ga peduli lo mau sebut apa yang terjadi kemarin. Tapi mulai detik ini, sekarang juga... lo pacar gue. Lo cewek gue. Gue ga bakal biarin lo punya pikiran kalau lo bisa jalan atau dilirik cowok lain selain gue.”
Mata Jungwon mengilat tajam, bibirnya mendekat ke telingamu, berbisik dengan nada menuntut yang memabukkan:
“Jadi pacar gue. Sekarang.”
Jantungmu berdesir hebat mendengar pernyataan tegas yang terkesan ‘memaksa’ namun sangat seksi itu. Efek dari ucapan Jungwon membuat seluruh persendianmu mendadak lemas.
Tapi kamu ingat niat awalmu mengerjainya. Kamu tidak boleh menyerah begitu saja hanya karena tatapan matanya yang membakar.
Kamu menelan ludah pelan, mencoba menetralkan degupan jantungmu sendiri. Kamu mengangkat tanganmu yang bebas, meletakkannya di dada tegap Jungwon, lalu mendorong tubuhnya sedikit ke belakang agar ada jarak di antara kalian.
Jungwon tidak bergeming banyak, tapi ia membiarkanmu memberikan sedikit ruang. Matanya masih menuntut jawaban mutlak dari bibirmu.
“Ah ini mah pemaksaan, bukan nembak beneran,” ucapmu pelan, senyum tipis kembali terukir di bibirmu.
Alis tebal Jungwon bertaut keras. “Kan tujuannya jelas?”
“Gimana kalau gue ga mau?” tanya mu manis, menatap lurus ke matanya tanpa rasa takut sedikit pun. “Gimana kalau gue menolak buat jadi pacar lo sekarang?”
Atmosphere di dalam gudang itu seketika membeku.
Jungwon menatapmu seolah kamu baru saja menyatakan perang terbuka. Rahangnya mengeras tajam hingga urat di lehernya tercetak jelas. Matanya menyipit, memancarkan aura intimidasi alami yang biasanya ia keluarkan di atas mound saat menghadapi batter lawan yang paling berbahaya.
“Lo... mau nolak gue?” tanya Jungwon lambat-lambat, suaranya terdengar sangat berbahaya.
“Kenapa nggak?” balasmu santai, memiringkan kepalamu. “Nembak cewek itu ada prosesnya, Jungwon. Lo ga bisa cuma menatap galak kayak gitu, terus maksa gue bilang ‘iya’. Memangnya lo siapa? Gue punya hak buat bilang enggak.”
Jungwon terkekeh pelan—tawa rendah yang sama sekali tidak terdengar lucu, melainkan tawa dari seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang mencoba melawannya.
“Hak?” Jungwon menyunggingkan senyum miring yang sangat angkuh dan seksi.
Tanpa memberi ampun sedikit pun, tangan kiri Jungwon bergerak cepat menyusup ke belakang pinggangmu, menarik tubuhmu rapat-rapat hingga tidak ada celah udara tersisa di antara dada kalian. Tangan pertamanya yang lain naik, mencengkeram rahang bawahmu dengan lembut namun sangat protektif, memaksa kepalamu menengadah menatapnya.
“Lo ga punya hak buat nolak gue, y/n,” bisik Jungwon tepat di depan bibirmu. Napasnya yang panas menyapu permukaan bibirmu yang sedikit terbuka.
“Jung—”
“Kalau lo bilang enggak...” cut Jungwon cepat, matanya turun menatap bibirmu yang merona merah. “...gue bakal cium lo di sini sampai lo kehabisan napas dan cuma bisa mendesah bilang ‘iya’.”
“Won, lo main curang—”
“Gue bakal gendong lo keluar dari gudang ini sekarang juga,” lanjut Jungwon tanpa menghentikan ancaman manisnya, “Gue bakal umumin ke seluruh anggota tim, ke Pelatih, ke satu sekolah, kalau lo milik gue. Biar sekalian seluruh dunia tau lo ga punya pilihan lain selain jadi cewek gue.”
Kamu menatap mata Jungwon, mencoba mencari celah kebohongan atau keraguan di sana. Tapi yang kamu temukan hanyalah kesungguhan yang teramat pekat. Yang Jungwon tidak sedang gertak sambal. Cowok ini benar-benar akan melakukan setiap kata yang baru saja diucapkannya.
“Lo gila,” gumammu terengah, merasakan lingkaran tangannya di pinggangmu makin mengetat.
“Gue emang gila gara-gara lo,” balas Jungwon jujur, suaranya mendadak melunak, memperlihatkan sisi ketakutannya yang tersembunyi di balik sikap angkuhnya. “Gue ga pernah setakut ini kehilangan sesuatu, y/n. Dulu gue takut sama bola bisbol... tapi sekarang gue jauh lebih takut kalau lo pergi atau mikir gue ga serius sama lo.”
Sentuhan kejujuran di mata Jungwon seketika melumpuhkan seluruh pertahanan dan niat usilmu. Rasa menang yang gilang-gemilang menyelimuti dadamu, melihat bagaimana seorang ace bisbol yang ditakuti lawan bisa tampak begitu pasrah dan memohon di depanmu hanya demi sebuah status.
Kamu mendesah pelan, pura-pura menyerah.
Tanganmu naik, melingkar di leher tegap Jungwon, mengusap helai rambut hitamnya yang lembut.
“Gitu dong,” bisikmu di dekat telinganya. “Kalau mau nembak tuh pakaikan perasaan, bukan cuma modal maksa.”
Jungwon membeku sejenak, matanya membelalak kaget. “Maksud lo...”
Kamu menatap matanya kembali, lalu menyunggingkan senyum paling tulus dan manis yang kamu miliki.
“Iya, Yang Jungwon. Gue mau jadi pacar lo.”
Detik saat kata ‘iya’ terlepas dari bibirmu, seluruh ketegangan di wajah Jungwon luntur seketika.
Seolah sebuah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya, matanya berkilat gembira, dan senyum manis dengan lesung pipi tipisnya mekar sempurna di wajah tampannya.
“Beneran?” tanya Jungwon, suaranya terdengar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah impiannya, sangat berbeda dari sosok intimidatif beberapa detik lalu.
“Nggak, bercanda—mph!”
Jungwon tidak membiarkanmu menyelesaikan kalimat godaanmu. Ia menyambar bibirmu dalam ciuman yang sangat dalam, manis, dan penuh rasa syukur.
Kali ini ciumannya tidak didorong oleh emosi atau kekasaran posesif, melainkan oleh kelembutan yang meluap-luap. Jungwon menyesap bibir atas dan bawahmu bergantian, melumatnya perlahan, menyalurkan seluruh rasa lega dan kebahagiaan yang memenuhi dadanya.
Kamu membalas ciumannya dengan sama hangatnya, jemarimu meremas pelan rambut di belakang kepalanya, membiarkan dirimu tenggelam dalam rasa manis dari kepastian ini.
“Yes, Lo jadi My Mine Gue,” bisik Jungwon di sela-sela ciumannya, menyapu garis rahangmu dengan bibirnya. “Resmi milik gue.”
“Iya, Won. Gue cuma milik lo,” balasku terkekeh pelan di balik lehernya.
Jungwon melepaskan ciumannya sedikit, menatap wajahmu yang memerah di bawah sinar sore. Tangannya masih setia melingkari pinggangmu, enggan melepaskanmu walau cuma seinci.
“Awas aja kalau nanti di restoran lo duduk jauh-jauh dari gue,” ancam Jungwon manja, menyenderkan dahinya di dahimu. “Lo harus duduk di samping gue, kalau perlu di pangkuan gue. Biar senior-senior gatal itu tau lo udah ada yang punya.”
Kamu tertawa menawan, menepuk dada bidangnya pelan. “Iya, Sayang. Sekarang lepasin dulu, gue mau rapikan baju. Tim udah pada nungguin di bus, tuh.”
Jungwon tersenyum nakal, matanya turun menatap bibirmu yang sedikit bengkak akibat ciumannya.
“Biarin aja mereka nunggu,” kata Jungwon santai, jemarinya kembali menyusup nakal di balik kemejamu. “Sebagai pacar baru... gue rasa gue berhak dapet hadiah piala kemenangan yang sebenarnya sebelum kita naik ke bus.”
“Jungwon! Nanti telat—ahhh!”
Kalimatmu terputus saat Jungwon kembali membungkus bibirmu, menarikmu jatuh kembali ke atas matras empuk, dan menenggelamkan kalian berdua dalam kehangatan malam yang baru saja dimulai.
to be continued
⚾️




