❛❛ The Ice Prince - Park Sunghoon❞
;
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela apartemenmu terasa seperti ejekan. Kamu mencoba bangkit dari tempat tidur, namun rintihan kecil lolos dari bibirmu saat merasakan otot-otot paha dan punggungmu menjerit protes.
Jake Sim benar-benar pria yang berbahaya, di balik wajah tenang dan rumor impoten itu, dia menyimpan stamina yang sanggup menghancurkan kewarasan siapa pun. Tubuhmu terasa remuk, sebuah pengingat fisik yang nyata akan tali rami, meja kayu dingin, dan hantaman brutal yang dia berikan di dalam bilik merah itu.
Saat bercermin, kamu mendesah frustrasi. Jejak keunguan di lehermu terlalu mencolok, sebuah “stempel” kepemilikan yang ditinggalkan Jake sebelum kamu menghilang.
Dengan terpaksa, kamu melilitkan syal sutra tebal untuk menutupi seluruh area leher, meski cuaca hari ini sebenarnya tidak sedingin itu.
Kamu juga mengenakan stocking hitam pekat hingga pangkal paha, mencoba menyamarkan bekas merah di kulitmu, meski dalam hati kamu tahu bahwa jika seseorang melihat terlalu dekat, mereka akan tahu ada sesuatu yang terjadi semalam.
Sesampainya di kantor, atmosfer terasa sangat sibuk. Sebagai tim PR (Public Relations), kamu tidak punya waktu untuk melamunkan rasa sakit di tubuhmu. Atasanmu, seorang wanita paruh baya yang ambisius, memanggilmu ke ruangannya.
“Kita butuh wajah yang merepresentasikan prestige dan perfection untuk kolaborasi brand perhiasan mewah bulan depan,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah dokumen.
“Pihak pusat meminta kita menghubungi anak dari pemilik perusahaan utama kita di distrik sebelah. Dia punya pengaruh besar di kalangan elit.”
Nama yang tertera di dokumen itu membuat jantungmu berdegup kencang: Park Sunghoon.
Dia bukan hanya sekadar anak direktur utama, tapi juga mantan atlet figure skating nasional yang kini mengelola arena ice skating terbesar sekaligus paling eksklusif di kota ini. Dia dijuluki “The Ice Prince“ bukan hanya karena bakatnya di atas es, tapi karena kepribadiannya yang dikenal sedingin kutub utara dan sangat perfeksionis.
Kamu berangkat bersama rekan kerjamu, Yujin, menuju distrik elit tersebut. Sepanjang perjalanan, Yujin tidak berhenti mengoceh. “Gue denger Park Sunghoon itu orangnya sulit banget diajak bicara. Dia benci kesalahan sekecil apa pun. Lo harus hati-hati, (Y/N). Jangan sampai salah bicara di depan dia.”
Gedung arena ice skating itu berdiri megah dengan arsitektur kaca yang berkilau. Di dalam, suhu udara turun drastis. Kamu berjalan melewati lorong-lorong sunyi hingga tiba di area tribun utama. Di tengah hamparan es yang putih bersih, seorang pria sedang meluncur dengan gerakan yang sangat presisi dan anggun.
Itu dia. Park Sunghoon.
Dia mengenakan pakaian latihan serba hitam yang melekat ketat di tubuhnya, menonjolkan kaki panjang dan bahunya yang tegap. Gerakannya begitu tajam, setiap putaran dan lompatan yang dia lakukan terlihat sempurna tanpa cela. Namun, wajahnya tampak sangat datar, seolah dia tidak memiliki emosi sama sekali.
Setelah selesai, dia meluncur ke pinggir lapangan, mengambil handuk putih yang disodorkan asistennya. Kamu dan Yujin mendekat dengan langkah ragu.
“Selamat siang, Pak Sunghoon. Kami dari tim PR kantor pusat,” ucapmu sesopan mungkin.
Sunghoon berhenti menyeka keringatnya. Matanya yang tajam dan jernih seperti es menatapmu dari atas ke bawah. Pandangannya sempat tertahan sejenak pada syal yang kamu kenakan di tengah ruangan yang sebenarnya sudah cukup hangat ini, sebelum akhirnya dia menatap matamu langsung.
“Sepuluh menit. Sampaikan poinnya dengan cepat. Saya tidak suka membuang waktu untuk hal yang tidak efisien,” suaranya terdengar datar, tanpa intonasi ramah sedikit pun.
Selama presentasi singkat itu, kamu merasa terintimidasi. Setiap kali kamu menjelaskan detail kontrak, Sunghoon hanya mendengarkan dengan tatapan menghakimi. Dia adalah definisi dari tembok es yang sulit ditembus. Tidak ada celah, tidak ada keramahan. Setelah urusan selesai, dia hanya mengangguk singkat dan kembali ke tengah es tanpa mengucapkan kata perpisahan.
Kamu pulang dengan perasaan lelah yang berlipat ganda. Kamu mengira bahwa tugasmu hari ini hanyalah urusan pekerjaan biasa. Namun, saat kamu baru saja melepas syal dan hendak merebahkan diri di sofa, ponselmu di atas meja bergetar dengan frekuensi yang sangat kamu kenali.
Pendar merah keluar dari layarnya, menyinari ruangan apartemenmu yang remang.
[NEW TARGET ACQUIRED: NIGHT 04]
Name: Park Sunghoon
Status: The Frozen Crown (Emotional Suppression)
Location: Private Ice Rink - Midnight Session.
[MISSION: CRACK THE ICE]
“Sunghoon menuntut kesempurnaan karena dia takut akan kegagalan. Dia dingin karena dia tidak pernah merasakan panasnya gairah yang sesungguhnya. Hancurkan disiplinnya, buat dia bertekuk lutut pada nafsu yang selama ini dia anggap kotor. Jika esnya tidak mencair malam ini, kamu tidak akan pernah bisa kembali.”
Kamu menatap layar itu dengan tangan gemetar. Park Sunghoon. Pria yang baru saja memperlakukanmu seperti debu di arena skating tadi, kini menjadi mangsamu malam ini.
Berdiri di ambang kegelapan kamar apartemenmu, jantungmu berdegup kencang hingga terasa ke pangkal tenggorokan. Kamu menatap pantulan dirimu di cermin dengan rasa cemas yang menggerogoti. Apakah Sunghoon akan mengenaliku? Pertemuan di tempatnya tadi siang terasa begitu dingin dan formal.
Namun, kamu segera tersenyum kecut, pria seangkuh Sunghoon tidak akan sudi menyimpan wajah seorang staf PR di memorinya yang berharga. Baginya, kamu hanyalah gangguan sepintas lalu, sebuah titik debu di atas hamparan es yang bersih.
Tepat saat pikiran itu melintas, cahaya merah menyala dari ponselmu, menelan seluruh bayangan di ruangan. Sebuah sensasi tarikan gravitasi yang ekstrem menarikmu, dan dalam sekejap, udara hangat apartemenmu berganti menjadi udara beku yang menusuk tulang.
Kamu mendarat dengan anggun di pinggir arena ice skating pribadi yang megah. Cahaya lampu sorot hanya menyala di bagian tengah, menciptakan panggung putih yang kontras dengan kegelapan tribun yang mengelilinginya.
Kamu menunduk dan menyadari bahwa aplikasi OBSESSION telah mengganti pakaianmu. Kamu mengenakan gaun sutra tipis berwarna biru es yang sangat provokatif, dengan belahan hingga ke pinggul yang mengekspos setiap inci kakimu yang jenjang.
Anehnya, bekas kemerahan dari Jake telah lenyap seolah tidak pernah ada, meski rasa nyeri di pinggulmu masih berdenyut sebagai pengingat nyata. Di kakimu, sepasang sepatu heels skating kristal terpasang sempurna, membuatmu berdiri dengan postur yang sangat menggoda.
Di tengah arena, Sunghoon sedang melakukan putaran camel spin yang sempurna. Begitu dia berhenti dan menyadari kehadiran sosok asing, matanya yang tajam langsung berkilat penuh amarah.
“Siapa lo? Gimana bisa lo masuk ke sini?” suaranya menggema di seluruh arena, dingin dan mengintimidasi. “Pergi sekarang, atau gue panggil keamanan.”
Kamu tidak menjawab. Alih-alih pergi, kamu justru meluncur masuk ke dalam hamparan es. Seolah-olah ada sihir yang merasuki otot-ototmu, kamu menari di atas es dengan keluwesan seorang balerina profesional. Kamu meluncur mengelilingi Sunghoon, menciptakan lingkaran-lingkaran imajiner yang menjeratnya di tengah. Gaun tipis itu tertiup angin saat kamu melakukan putaran, menyingkap kaki indahmu di depan matanya.
Sunghoon terpaku. Dia yang tadinya ingin mengusirmu, kini justru terdiam mengikuti setiap gerak lincahmu dengan matanya yang mulai meredupkan kebencian, digantikan oleh rasa penasaran yang dipaksakan.
Kamu berhenti tepat satu jengkal di hadapannya. Napasmu yang hangat menciptakan uap tipis di antara kalian. Dengan keberanian yang tak terduga, kamu meraih tangannya yang terbalut sarung tangan tipis dan menariknya untuk berdansa.
“Gue denger-denger, Pangeran Es ini nggak pernah membiarkan satu pun noda ada di arenanya,” bisikmu, suaramu terdengar sangat seductive dan merdu. “Tapi lihat... sekarang gue ada di sini. Apa gue noda yang kayaknya emang mau lo hapus, atau justru satu-satunya warna yang lo butuhkan di dunia lo yang pucat ini?”
Sunghoon mendengus, mencoba menarik tangannya namun kamu justru menariknya lebih dekat hingga dadamu bersentuhan dengan dadanya yang keras. “Lo cuma gangguan, (Y/N). Lo nggak punya hak buat ada di sini.”
“Oh, jadi lo ingat nama gue?” kamu tersenyum miring, sebuah permainan psikologi yang sengaja kamu lancarkan. “Gue kira lo terlalu sibuk memuja diri sendiri sampai nggak sadar kalau ada seseorang yang terus ngeliatin lo dari balik tembok es yang lo bangun sendiri.”
Kamu mulai memandu gerakannya, berdansa di atas es dengan ritme yang lambat dan intim. Sunghoon yang awalnya kaku mulai terbawa suasana. Tangannya yang besar kini mendarat di pinggangmu yang terbuka, mencengkeram kulitmu dengan tekanan yang menunjukkan pergulatan batin antara keinginan untuk mendorongmu menjauh atau menarikmu lebih dalam.
“Lo terlalu berisik buat seseorang yang cuma ‘gangguan’,” geram Sunghoon, wajahnya kini hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahmu.
“Dan lo terlalu panas buat pria yang dijuluki es,” balasanmu telak. Kamu memberikan tatapan yang menantang sekaligus memuja, melakukan tarik ulur emosional yang membuat napas Sunghoon mulai tidak beraturan. “Buktiin ke gue, Hoon. Apa es lo beneran abadi, atau lo cuma butuh satu sentuhan buat bikin semuanya mencair dan banjir?”
Tangan Sunghoon yang tadinya di pinggang kini merambat naik ke tengkukmu, mencengkeram rambutmu dengan lembut namun posesif. Dinding esnya mulai retak, dan untuk pertama kalinya, kamu melihat api gairah yang menyala di balik manik matanya yang jernih.
Sunghoon tidak melepaskan cengkeramannya di tengkukmu. Sebaliknya, dia menarik kepalamu sedikit ke belakang, memaksamu memamerkan leher jenjangmu yang kini tak lagi tertutup syal. Matanya yang dingin menelusuri setiap inci wajahmu, mencari tanda-tanda keraguan, namun yang dia temukan hanyalah tantangan yang membara.
“Lo mau liat seberapa jauh es ini bisa mencair?” bisiknya, suaranya kini serak dan berat.
Tanpa aba-aba, Sunghoon membungkam bibirmu dengan ciuman yang menghancurkan. Ini bukan ciuman romantis, ini adalah serangan. Dia menciummu dengan kasar, menuntut jawaban atas provokasi yang kamu berikan sejak tadi. Lidahnya menyapu rongga mulutmu dengan dominasi yang dingin, seolah sedang menandai wilayah baru yang baru saja dia temukan. Namun, tepat saat kamu mulai terhanyut dan membalas ciumannya dengan desahan pelan, Sunghoon tiba-tiba melepaskanmu.
Dia mundur selangkah, napasnya sedikit memburu namun wajahnya kembali datar—sebuah taktik tarik ulur yang sangat menyiksa. “Cukup. Jangan pikir gue selemah itu.”
Kamu tersenyum miring, menyadari bahwa dia sedang berakting kuat padahal matanya tidak bisa berbohong. Kamu meluncur mundur perlahan, menciptakan jarak yang membuatnya merasa kehilangan kehangatanmu.
Dengan gerakan yang sangat provokatif, kamu berjalan menuju bangku pemain di pinggir lapangan yang gelap. Kamu duduk di sana, menyilangkan kakimu yang mengenakan heels skating hingga gaun biru es itu tersingkap jauh ke atas, memperlihatkan paha mulusmu yang berkilau di bawah lampu sorot.
“Gue tau lo nggak lemah, Hoon. Lo cuma... kesepian di atas takhta es yang lo bangun sendiri,” ucapmu sambil memainkan jemarimu di sepanjang garis leher gaunmu yang rendah.
Kamu mulai melakukan gerakan yang lebih berani. Kamu menarik napas dalam, membiarkan dadamu naik turun dengan teratur sambil menatapnya dengan pandangan yang merayu. Kamu menyentuh dirimu sendiri dengan lembut, membiarkan jemarimu menelusuri lekuk tubuhmu seolah-olah kamu sedang menikmati dinginnya arena ini.
Sunghoon berdiri mematung di tengah es. Dia mencoba untuk tetap diam, mencoba untuk mempertahankan disiplin atletnya yang legendaris. Tapi hasrat yang tidak pernah dia rasakan selama bertahun-tahun—hasrat yang selama ini dia anggap kotor dan mengganggu—kini bangkit dengan kekuatan yang mengerikan. Dia bisa merasakan denyut gairah yang panas di balik celana ketatnya, sesuatu yang sangat asing namun terasa begitu benar.
Matanya terkunci pada gerakan tanganmu. Setiap kali kamu memberikan desahan tipis yang menggoda, es di dalam dirinya retak lebih dalam. Sunghoon tidak pernah merasa sehaus ini. Dia benci bagaimana tubuhnya bereaksi pada setiap gerakanmu, tapi dia juga tidak bisa berpaling.
“Berhenti, (Y/N)...” geram Sunghoon, tapi dia justru mulai meluncur mendekat ke arahmu di bangku pemain.
“Kenapa? Bukannya lo suka kesempurnaan?” bisikmu saat dia sudah berdiri tepat di depanmu, menghimpitmu di kursi itu dengan kedua tangannya. “Lihat diri lo sekarang. Berantakan, haus, dan nggak disiplin sama sekali. Lo gagal jadi Pangeran Es malam ini, Hoon.”
Kata-kata “gagal” itu menjadi pemicu terakhir. Kedisiplinan Sunghoon hancur berkeping-keping. Dia mencengkeram kedua pergelangan tanganmu dan menekannya ke sandaran kursi, menatapmu dengan sorot mata yang sudah tidak lagi dingin—tapi penuh dengan nafsu yang meledak-ledak.
“Kalau gue gagal jadi pangeran... maka gue bakal jadi monster yang bakal habisin lo malam ini,” bisiknya tepat di depan bibirmu sebelum dia kembali menerjangmu dengan gairah yang selama ini dia pendam dalam-dalam.
Sunghoon tidak menunggu jawabanmu. Dia menyusupkan tangannya ke bawah pangkal pahamu dan mengangkat tubuhmu dengan satu sentakan kuat. Kamu refleks melilitkan kakimu di pinggangnya yang kokoh, sementara dia meluncur dengan kecepatan tinggi menuju pintu keluar arena, membawamu masuk ke dalam area pribadinya: Ruang Ganti Pribadi.
Begitu pintu tertutup dan terkunci otomatis, suhu udara berubah drastis. Ruangan ini hangat, beraroma kayu cendana dan maskulin yang mahal. Sunghoon membanting tubuhmu ke pintu kayu yang tebal, menjepitmu dengan tubuhnya yang keras.
“Lo mau liat seberapa kotor gue saat gue nggak lagi di depan kamera?” geram Sunghoon.
Dia menarik gaun biru esmu ke bawah hingga mengekspos bahu dan dadamu. Sepatu skating sudah terlepas sejak di luar tadi. Matanya yang tajam menelusuri setiap inci kulitmu yang kini merona karena panas tubuhnya. Tanpa basa-basi, dia mulai menciumi lehermu dengan gigitan-gigitan kecil yang menuntut. Tangannya yang terbiasa menggenggam beban latihan kini meremas pinggulmu dengan kekuatan yang membuatmu mendesah tertahan.
Sunghoon membawamu ke sofa kulit panjang di sudut ruangan. Dia menidurkanmu di sana, namun bukannya langsung melakukan penetrasi, dia justru melucuti pakaian latihannya sendiri dengan gerakan yang cepat dan penuh amarah yang tertahan. Saat tubuhnya yang atletis dan berotot sempurna itu terekspos, kamu bisa melihat betapa kontrasnya dia dengan Sunghoon yang kamu temui siang tadi.
“Tatap gue, (Y/N). Jangan berani-berani tutup mata lo pas gue lagi hancurin diri lo di sini,” perintahnya saat dia memposisikan dirinya di antara kedua kakimu yang terbuka lebar.
Sunghoon memasuki dirimu dengan satu dorongan yang sangat kuat dan dalam, seolah-olah dia sedang memecah lapisan es yang selama ini membeku di dalam jiwanya. Kamu berteriak, suaramu teredam oleh ciumannya yang kembali datang menyerang. Gerakannya sangat presisi—seperti atlet yang sedang mengejar medali emas—namun penuh dengan nafsu yang brutal.
“Gue... benci saat lo bikin gue ngerasa kayak gini,” bisik Sunghoon di sela-sela dorongannya yang semakin cepat. “Gue benci gimana lo bikin gue ngerasa kalau kesempurnaan gue nggak ada artinya dibandingin rasa nikmat ini.”
Kamu merangkul lehernya, menariknya lebih dekat. “Kalau gitu... hancurin kesempurnaan itu, Hoon. Jadiin gue satu-satunya kesalahan yang lo nikmatin seumur hidup lo.”
Mendengar itu, Sunghoon kehilangan sisa kewarasannya. Dia memacu ritmenya tanpa ampun, menggoyangkan pinggulnya dengan kekuatan yang membuat sofa kulit itu berdecit nyaring.
Desahanmu yang keras memenuhi ruang ganti yang privat itu, menjadi satu-satunya musik yang dia butuhkan. Sunghoon menjajahmu, menghancurkan martabatnya sendiri untuk mendapatkan setiap inci kenikmatan yang kamu tawarkan, hingga dia benar-benar mencair dalam pelukanmu.
Sunghoon ternyata adalah seorang pembelajar yang cepat—sangat cepat. Disiplinnya sebagai atlet kelas dunia membuatnya memiliki kontrol tubuh yang luar biasa, dan begitu dia memahami apa yang membuatmu mendesah, dia melakukannya berulang kali dengan presisi yang mematikan.
Kebrutalan Sunghoon bukan hanya soal tenaga, tapi soal bagaimana dia memperlakukan tubuhmu seperti medan kompetisi yang harus dia menangkan. Dia tidak memberimu jeda. Setiap kali kamu mengira telah mencapai batas, Sunghoon justru meningkatkan intensitasnya.
Jari-jarinya yang panjang mencengkeram sofa hingga kulit sofa itu berkerut, sementara pinggulnya menghantammu dengan ritme yang begitu stabil dan dalam. Kamu merasa sensitivitas tubuhmu meningkat berkali-kali lipat, setiap gesekan kulitnya terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafmu.
“Hoon... akh! Pelan... ini terlalu... ngh!” Kamu meracau, kepalamu mendongak ke belakang dengan mata yang mulai kabur karena nikmat.
“Tadi lo yang minta gue buat hancur, kan?” Sunghoon berbisik parau, suaranya terdengar sangat seksi dengan napas yang memburu di ceruk lehermu. “Jangan minta berhenti sekarang. Gue baru aja mulai paham bagian mana yang bikin lo gemetar kayak gini.”
Dia menemukan titik sensitifmu dengan akurasi seorang profesional. Sunghoon sengaja menggiling bagian itu dengan gerakan memutar yang lambat namun sangat bertenaga, membuatmu meremas otot lengannya yang keras demi mencari tumpuan. Kamu merasa sangat horny, rasa lapar yang aneh mulai menguasai dirimu. Lagi dan lagi, kamu tidak lagi peduli pada misi, kamu hanya menginginkan pria di atasmu ini untuk terus menghancurkanmu.
Sunghoon tiba-tiba menarikmu untuk duduk di pangkuannya sambil tetap melakukan penyatuan. Dalam posisi yang sangat intim ini, dia membiarkanmu merasakan ‘penuh’ miliknya sepenuhnya. Tangannya merayap turun, memainkan pusat kenikmatanmu dengan ritme yang sinkron dengan gerakan pinggulnya.
“Liat diri lo, (Y/N). Lo berantakan karena pria yang lo sebut ‘es’ ini,” geramnya, menatapmu dengan sorot mata yang penuh kemenangan.
Sentuhan Sunghoon yang lihai—meski dia mengklaim tidak pernah melakukan ini—membuatmu mencapai puncak yang jauh lebih hebat dari malam-malam sebelumnya. Kamu merasakan rahimmu berdenyut hebat, menjepit miliknya dengan sangat ketat hingga Sunghoon sendiri menggeram frustrasi dan mempercepat temponya. Kebrutalan yang dia berikan di akhir ronde ini benar-benar membuatmu kehilangan kemampuan untuk berpikir logis. Kamu hanya bisa mendekapnya, membiarkan Pangeran Es itu membakarmu habis di dalam ruang ganti yang sunyi.
Sunghoon seolah tidak mengenal kata lelah. Kedisiplinannya yang biasa dia gunakan untuk berlatih berjam-jam di atas es kini ia gunakan untuk menguras habis setiap sisa tenagamu.
Sunghoon tiba-tiba mencengkeram pinggangmu dengan kuat dan memutar tubuhmu dalam satu gerakan yang mulus. Kini kamu berada dalam posisi reverse cowgirl, dipaksa menghadap ke arah cermin besar yang terpasang di dinding depan sofa kulit tersebut.
“Tatap cerminnya, (Y/N),” perintah Sunghoon, suaranya terdengar sangat dominan dan tanpa bantahan.
Dia menarik pinggulmu agar kamu menungging lebih rendah, memaksamu mengangkang sepenuhnya di atasnya. Melalui pantulan cermin yang diterangi lampu temaram ruang ganti, kamu bisa melihat pemandangan yang membuat wajahmu terasa terbakar. Tubuhmu benar-benar kacau—rambut berantakan, kulit yang memerah karena gesekan, dan wajah yang basah karena peluh.
Namun yang paling membuat jantungmu berdegup kencang adalah saat kamu melihat setiap inci milik Sunghoon yang kembali menghujam masuk ke dalam milikmu. Area pribadimu sudah merah merona, membengkak karena perlakuan brutal Sunghoon sejak tadi, namun dia seolah sengaja ingin kamu menyaksikan sendiri bagaimana dia “merusak” kesempurnaan tubuhmu.
“Lihat diri lo sendiri pas lagi nerima gue, (Y/N)...” bisik Sunghoon sambil meraih kedua tanganmu dan memaksamu untuk menumpu pada sandaran sofa.
Dia mulai memacu temponya dari belakang dengan hantaman yang sangat kencang. Setiap kali pinggulnya bertabrakan dengan pantatmu, terdengar suara tamparan kulit yang nyaring memenuhi ruangan, beradu dengan suara decitan sofa. Kamu dipaksa menyaksikan lewat cermin bagaimana tubuh atletis Sunghoon yang berkeringat itu bergerak dengan kekuatan penuh, menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kamu miliki.
“Hoon... akh! Stop... aku nggak mau liat cerminnya... malu...” racaumu dengan napas tersengal, namun Sunghoon justru semakin menekan pinggulmu ke bawah agar penyatuan kalian semakin dalam.
“Jangan tutup mata lo. Gue mau lo ingat pemandangan ini,” geram Sunghoon. Dia mencengkeram payudaramu dari belakang, memainkannya dengan kasar sambil terus menghujamkan miliknya tanpa ampun. “Gue mau lo tahu kalau di balik es yang mereka agung-agungkan, ada monster yang baru aja lo bangunin, dan monster ini nggak bakal lepasin lo gitu aja.”
Sensasi visual lewat cermin itu benar-benar meningkatkan sensitivitasmu ke titik maksimal. Kamu bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuhmu berguncang hebat mengikuti setiap ritme brutal yang Sunghoon berikan.
Kamu akhirnya mencapai puncak orgasme kedua yang begitu dahsyat, tubuhmu bergetar hebat di atasnya, sementara Sunghoon mengerang keras, membenamkan wajahnya di punggungmu sambil memberikan beberapa dorongan terakhir yang sangat dalam sebelum akhirnya dia melepaskan seluruh panasnya di dalam dirimu.
Pemandangan di cermin itu benar-benar menjadi saksi bisu bagaimana seorang Park Sunghoon melucuti martabatnya sendiri demi memujamu secara brutal. Kamu sudah kehilangan kendali atas saraf-saraf tubuhmu, setiap gerakan Sunghoon terasa seperti ribuan volt listrik yang menghantam rahimmu.
Sunghoon tidak membiarkanmu hanya diam menerima hantamannya. Tangannya yang besar menyusup ke bawah, menemukan klitorismu yang sudah sangat sensitif dan membengkak. Dia menggeseknya dengan ibu jari yang kasar dan ritme yang konstan, tepat saat pinggulnya menghujam ke atas. Kombinasi serangan itu terlalu mematikan.
“Hoon... akh! Too much... gue—”
Tubuhmu melengkung kaku, matamu berputar ke belakang saat orgasme yang dahsyat menghantammu. Cairanmu keluar begitu banyak, membanjiri miliknya yang masih tertanam di dalam dan merembes hingga membasahi sofa kulit tersebut. Namun, bukannya melambat karena kamu sudah mencapai puncak, Sunghoon justru semakin haus.
“Jangan berhenti sekarang, (Y/N). Gue bahkan baru mulai menikmati ini,” geramnya parau.
Dia mencengkeram kedua pahamu, mengangkatnya tinggi hingga kamu berada dalam posisi menggantung di atasnya, lalu dia menaik-turunkan tubuhmu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
“Ah... ahhh... ahh Sung-hoon...” Kamu meracau tidak jelas. Sunghoon benar-benar gila.
Sunghoon menumbuk titik paling sensitif di dalam rahimmu dengan presisi seorang atlet—tanpa meleset sedikit pun. Kamu menjatuhkan kepalamu ke belakang, rambutmu terurai kacau, sementara payudaramu bergoyang indah mengikuti setiap hantaman brutal dari bawah.
Sunghoon mendongak, matanya yang menggelap menatap lekat bagaimana payudaramu memantul dan bagaimana wajahmu hancur karena nikmat dari cermin. Pemandangan itu membuatnya benar-benar kegilaan.
“Liat seberantakan apa lo di depan gue, (Y/N), mirip jalang kecil,” Sunghoon mulai melakukan dirty talk dengan suara rendah yang menggetarkan tulang. “Lo dateng ke tempat gue pake syal rapi seolah lo wanita terhormat, tapi sekarang... lo ngangkang dan banjir di sofa gue cuma karena gue gerakin pinggul gue. Lo suka, kan, dihancurin kayak gini sama ‘Pangeran Es’ lo?”
Hantaman terakhirnya menjadi yang paling brutal. Dia menarik pinggulmu agar menyatu sepenuhnya tanpa celah, seolah ingin meleburkan dirinya ke dalam rahimmu.
“Panggil nama gue... bilang kalau cuma punya gue yang bisa bikin lo kayak gini!” tuntutnya dengan napas yang memburu.
“Sunghoon... akh! Sunghoon... punya lo... paling nikmat... hancurin gue!” racaumu tanpa sadar.
Mendengar pengakuanmu, Sunghoon mengerang keras, sebuah suara primal yang keluar dari lubuk hatinya. Dia mencapai puncaknya bersamaan dengan orgasme keduamu yang lebih hebat.
Dia menyemburkan seluruh cairannya yang panas dan kental di dalam dirimu, memenuhi rahimmu hingga meluap. Sunghoon mendekapmu sangat erat, membiarkan detak jantung kalian yang berpacu gila menjadi satu-satunya suara di ruang ganti yang sunyi dan beraroma gairah itu.
Keheningan segera menyelimuti ruang ganti pribadi itu, hanya menyisakan suara napas kalian yang masih tersengal dan detak jantung yang saling beradu kencang. Sunghoon tidak segera menjauh. Dia memosisikan dirinya bersandar pada sandaran sofa kulit yang dingin, lalu menarik tubuhmu yang lunglai untuk bersandar sepenuhnya di dadanya yang bidang.
Kalian berdua terkulai lemas dalam posisi spooning, dengan kakimu yang masih lemas berada di antara kedua kaki panjangnya. Sensasi hangat masih terasa jelas di dalam dirimu karena kalian masih dalam keadaan menyatu. Sunghoon melingkarkan lengannya yang kokoh di perutmu, mendekapmu erat seolah takut kamu akan menguap jika dia melonggarkan sedikit saja pelukannya.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa rendah—hampir menyerupai kekehan sinis namun takjub—keluar dari tenggorokan Sunghoon. Dada bidangnya bergetar di punggungmu.
“Gila...” gumam Sunghoon parau. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang bercampur dengan keringatnya sendiri. “Gue bener-bener nggak nyangka bakal ngelakuin hal serendah ini di ruang ganti gue sendiri. Lo bener-bener ngerusak semua prinsip gue dalam satu malam, (Y/N).”
Meskipun kata-katanya terdengar seperti keluhan, tangannya justru semakin erat mendekapmu. Dia mulai memberikan ciuman-ciuman kecil dan malas di bahumu, sebuah stimulasi lembut yang membuat tubuhmu yang sudah sensitif kembali merinding. Tidak ada lagi Pangeran Es yang kaku, yang ada hanyalah seorang pria yang baru saja menemukan sisi gelapnya sendiri dan ia sangat menikmatinya.
“Jangan pikir ini berakhir di sini,” bisik Sunghoon dengan nada posesif yang tajam. “Gue bakal cari tahu gimana cara lo masuk ke sini. Dan kalau gue nemuin lo lagi... gue nggak bakal selembut ini.”
Kamu hanya bisa memejamkan mata, menikmati sisa-sisa kehangatan Sunghoon sebelum rasa kantuk yang luar biasa akibat pelepasan yang hebat itu membawamu pergi.
Napas Sunghoon yang tadinya memburu kini mulai berangsur teratur dan berat di ceruk lehermu. Kelelahan yang luar biasa setelah “pelepasan” yang begitu brutal akhirnya menumbangkan pertahanan sang atlet. Dia tidak melepaskanmu, lengan kokohnya tetap melingkar erat di perutmu, mengunci tubuhmu dalam dekapannya yang hangat di atas sofa kulit itu.
Dalam keadaan masih menyatu dan intim, Sunghoon akhirnya terjatuh dalam lelap yang sangat dalam. Ini mungkin tidur paling nyenyak yang pernah dia rasakan setelah sekian lama hidup dalam tuntutan kesempurnaan. Wajahnya yang biasanya kaku kini terlihat lebih damai, meski tangannya sesekali mengerat seolah takut kamu akan pergi.
Tepat saat itu, layar ponselmu yang tergeletak di lantai berpendar merah redup, memecah kesunyian ruang ganti.
[MISSION COMPLETE: NIGHT 04]
Target: Park Sunghoon — MELTED.
Status: Deep Sleep / Recovery Mode.
Reward: “The Ice Prince’s Favor” & 3000 Diamonds.
Kamu menatap wajah Sunghoon untuk terakhir kalinya, merasakan detak jantungnya yang tenang di punggungmu sebelum cahaya merah itu menelan kesadaranmu sepenuhnya.
Sunghoon terbangun di sofa kulit ruang ganti pribadinya dengan napas yang teratur namun berat. Udara hangat di ruangan itu masih menyisakan aroma gairah yang pekat. Saat dia membuka mata, dia mendapati dirinya masih dalam keadaan bugil sepenuhnya, dengan selimut tipis yang entah sejak kapan menutupi sebagian tubuhnya.
Dia meraba sisi sofa di sebelahnya, berharap menemukan tubuh hangat yang tadi didekapnya begitu erat. Namun, hasilnya nihil. Sofa itu kosong. Hanya ada bekas kerutan pada kulit sofa dan sisa kelembapan yang membuktikan bahwa ada seseorang di sana bersamanya beberapa saat lalu.
Sunghoon segera bangkit, mengabaikan rasa lelah di otot-otot atletisnya. Dia memeriksa seluruh sudut ruang ganti yang terkunci rapat, bahkan hingga ke area arena es yang kini gelap gulita. Tidak ada siapa-siapa.
“Sial... apa itu cuma mimpi?” bisiknya parau, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya.
Namun, rasa nyeri di punggungnya, bekas goresan kuku di bahunya, dan aroma tubuhmu yang masih tertinggal di bantal sofa itu terlalu nyata untuk disebut bunga tidur. Sunghoon mencoba mengingat wajahmu, namun anehnya, setiap kali dia mencoba memvisualisasikan fitur wajahmu, pikirannya seolah tertutup kabut tebal—memory fog dari aplikasi bekerja dengan kuat.
Meskipun wajahmu samar, Sunghoon tidak pernah bisa melupakan postur tubuhmu, lenguhanmu, dan bagaimana rasanya saat dia menghujam masuk ke dalam dirimu. Dia lupa namamu, dia lupa bagaimana rupamu, tapi sel-sel tubuhnya merekam dengan jelas rasa nikmat yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
“Gue bakal cari lo,” geram Sunghoon sambil mengepalkan tangan. “Siapa pun lo, gue nggak bakal biarin lo pergi setelah bikin gue seberantakan ini.”
Sementara itu, di sisi lain kota, kamu terbangun dengan sentakan kecil di apartemenmu. Hal pertama yang kamu rasakan adalah rasa sakit yang menjalar dari pinggul hingga ke seluruh tulang belakangmu. Badanmu terasa remuk, seolah-olah kamu baru saja dihantam oleh badai salju.
Setiap kali kamu mencoba menggerakkan kaki, otot paha bagian dalammu bergetar hebat—pengingat brutal bagaimana Sunghoon menahanmu dalam posisi reverse cowgirl dan memaksamu mengangkang sepenuhnya di depan cermin.
Kamu merangkak ke arah kamar mandi, dan saat melepas pakaian, kamu memekik pelan. Selain leher yang penuh tanda kemerahan, ada bekas cengkeraman tangan yang jelas di pinggulmu, seolah Sunghoon sengaja ingin meninggalkan jejak permanen di sana. Kamu segera melilitkan syal sutra tebal untuk menutupi lehermu sebelum berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor, kamu mencoba fokus pada pekerjaan PR-mu, namun laporan dari Yujin membuat dunianya seolah berputar.
“(Y/N), lo tahu nggak? Park Sunghoon, anak pemilik perusahaan itu... dia tiba-tiba datang ke kantor pagi-pagi buta. Katanya dia mau meninjau ulang tim PR yang kemarin datang ke arenanya. Dia kayak orang kesetanan nyari ‘seseorang’ tapi dia nggak tahu namanya. Sekarang dia ada di ruang rapat utama, meriksa data semua karyawan satu per satu!”
Jantungmu berdegup kencang. Sunghoon tidak mengingat wajahmu secara jelas karena proteksi aplikasi, tapi dia mengingat “rasanya”. Dan sekarang, dia sedang memburu hantunya di dunia nyata.
“Dia lagi cari siapa ya?,” kamu malah bertanya polos seakan tidak tahu apa apa padahal aslinya kamu panik bukan main.
“Ya mana gue tau? yang jelas bukan gue yang di cari, yaudahlah gue mau balik duluan,” Yujin lalu meninggalkanmu turun ke lantai dasar.
Langkahmu terhenti di tengah koridor kantor yang dingin, jantungmu bertalu-talu hingga terasa menyakitkan di balik rusuk. Keringat dingin mulai membasahi punggungmu. Bukannya aplikasi bilang aku bakal aman? Bukannya wajahku seharusnya terlindungi? kamu membatin dengan napas tersengal. Kenekatan Sunghoon di luar nalar, obsesinya seolah mampu menembus batasan digital yang dibuat oleh aplikasi OBSESSION.
Tepat saat kamu berbelok di tikungan lorong menuju pantry, sosok jangkung dengan aura dingin itu muncul. Park Sunghoon. Kamu refleks menundukkan kepala, merapatkan syal sutramu, dan mempercepat langkah membelakanginya. Kamu bisa merasakan tatapan tajamnya menusuk punggungmu. Saat kamu melangkah menjauh, aroma parfummu yang khas—perpaduan vanila lembut dan musk yang tertinggal dari sesi panas semalam—tertiup angin koridor dan menyapa indra penciumannya.
Sunghoon tersentak. Pupil matanya melebar. Postur tubuh dari belakang itu, lekuk pinggang itu... memorinya yang kabur tiba-tiba berdenyut menyakitkan.
“Heis!” serunya ketus, berbalik dengan cepat.
Namun, kamu sudah menghilang di balik pintu otomatis yang tertutup rapat. Sunghoon berdiri mematung di tengah lorong, napasnya memburu. Dia tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas dalam ingatannya, tapi instingnya meneriakkan bahwa “hantu” yang dicarinya baru saja lewat.
Setelah keheningan yang mencekam, dia akhirnya menandatangani dokumen proyek PR tersebut tanpa banyak bicara dan pergi meninggalkan gedung dengan aura frustrasi yang kental. Kamu selamat—setidaknya untuk saat ini.
❛❛The Ice Prince - Park Sunghoon❞
TO BE CONTINUED
aigo aigo jinjja neomu wanjon jalsaenggyoseo Park Sunghoon-nim
🥵🥵🥵
gimana dengan part kali ini?
btw aku suka kalo Sunghoon main sambil ada cerminnya. kayak anjay banget gitu soalnya vibes dia nyatu disitu xixixixi
mohon di maklumi ya ini fetish yang sepertinya akan permanen melekat di jati diri sunghoon di cerita yang aku buat...
I hope you don’t mind with this.
Love you, Michies💖💖💖






aww, sunghoon🥹🍎
GILAKK BGT PARK SUNGHOON 😍