4 Halo Dek
Laksamana Jay
โ Jangan lupa likeโ
Jay memarkirkan mobilnya di area parkir privat hotel dengan sangat tenang. Tanpa melepaskan penyatuan kalian yang masih terasa hangat, ia hanya menarik rokmu sedikit untuk menutupi bagian bawahmu yang polos, lalu menggendongmu masuk ke dalam lift menuju kamar presidential suite yang sudah ia pesan. Kamu masih terlelap, benar-benar habis tenaganya akibat pergolakan di mobil tadi.
Begitu sampai di kamar, Jay membaringkanmu di atas ranjang king size yang luas dan empuk. Aroma sprei bersih dan AC yang dingin perlahan menyapu kulitmu yang masih berkeringat. Jay menatapmu lama, wajah polosmu yang tertidur denganseragam sekolah yang berantakan benar-benar memancing sisi gelapnya.
Ia tidak tahan. Tanpa berniat membangunkanmu, Jay kembali melucuti pakaiannya sendiri. Ia merangkak di atas tubuhmu, menatap wajah tidurmu yang tenang sebelum kembali mengarahkan miliknya yang sudah kembali menegang keras kearah intimu.
โSstt... tidur aja, Sayang. Biar aku yang gerak,โ bisiknya, meski ia tahu kamu tidak mendengarnya.
Jay perlahan memasukkan miliknya kembali. Kamu merintih pelan dalam tidurmu, alismu bertaut saat merasakan tekanan besar itu kembali mengisi rahimmu. Tubuhmu bereaksi secara alami, meskipun matamu terpejam rapat, kamu justrubergumam keenakan, seolah sedang berada dalam mimpi yang sangat erotis.
โBang... ahh... terus... lebih cepet...โ igauanmu keluar begitu saja, membuat Jay menyeringai puas.
โKamu minta sendiri ya, Adik Kecil,โ geram Jay.
Ia meraih kedua kakimu, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga lututmu nyaris menyentuh dadamu-posisi yang membuat intimu terbuka sangat lebar dan dalam. Jay mulai menggenjotmu dengan brutal. Suara decakan basah dan derit ranjang hotel yang mewah itu mengisi ruangan. Jay tidak lagi menahan diri, ia menghujammu tanpa ampun, memanfaatkan kepasrahanmu dalam tidur.
Hingga tiba di titik puncaknya, Jay menekan pinggulnya kuat-kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Semburan cairan spermanya yang panas dan kental kembali membanjiri rahimmu.
Sensasi panas yang mendadak memenuhi bagian dalam dirimu itu seolah menjadi alarm alami. Matamu langsung terbuka lebar. Hal pertama yang kamu lihat adalah langit-langit kamar hotel yang asing dan mewah, serta wajah Jay yang beradatepat di atasmu, berkeringat, dengan napas yang menderu berat di ceruk lehermu.
โA-ah... Bang Jay?โ suaramu serak, matamu mengerjap bingung sebelum kesadaran menghantammu sepenuhnya.
Kamu melirik ke arah jendela besar di samping ranjang. Langit sudah benar-benar gelap. Lampu-lampu kota mulai menyala terang.
โJam berapa ini?! Bang! Aku harus pulang!โ kamu mulai panik, mencoba mendorong dada bidang Jay agar ia menjauh, namun Jay tetap bergeming. Ia justru menstabilkan napasnya di atasmu, membiarkan berat tubuhnya menguncimu di kasur.
โSantai, (y/n). Tarik nafas dulu,โ ucap Jay datar, suaranya sangat tenang dan dominan. Ia menatapmu dengan mata sayu penuh kepuasan, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah karena telah membawamu kabur. โKamu tadi tidur pules banget pas aku pakai. Sayang kalau dibangunin.โ
โTapi Ibu... Ayah... mereka pasti nyariin aku! Ini udah malem banget, Bang!โ air matamu mulai menggenang lagi, kali ini karena rasa takut yang nyata akan amukan orang tuamu.
Jay hanya mengusap rambutmu yang berantakan di atas bantal, lalu mengecup bibirmu singkat. โAku sudah bilang, kan? Ada hukuman buat anak nakal yang keluar duluan. Ini baru permulaan, Sayang. Jangan pikirin rumah dulu... malam ini, kamu cuma punya aku.โ
Kepanikanmu memuncak saat matamu menangkap cahaya yang terus berkedip dari dalam tas sekolah yang tergeletak di meja samping ranjang. Tas itu bergetar hebat, menandakan rentetan panggilan masuk yang tak terjawab.
โBang... HP-ku! Pasti Ibu atau Ayah!โ Kamu berusaha bangkit, namun tubuhmu masih terasa lemas dan berdenyut akibat serangan Jay yang baru saja selesai.
Saat tanganmu hendak menggapai tas itu, Jay bergerak lebih cepat. Dengan ketangkasan seorang prajurit, ia menyambar ponselmu sebelum kamu sempat menyentuhnya. Ia duduk di pinggir ranjang, membiarkan punggung tegapnya yang polosmenghalangimu, sambil menatap layar yang masih menyala menampilkan nama โIbuโ.
โJangan dijawab dulu,โ perintah Jay tenang, matanya fokus pada layar sementara jemarinya dengan lihai menari di atas papan ketik.
โBang! Kasih HP-nya! Mereka bakal lapor polisi kalau aku nggak angkat!โ suaramu meninggi, hampir histeris.
Jay hanya melirikmu sekilas dari balik bahunya. โKalau kamu angkat sekarang dengan suara gemetar dan napas berantakan begini, mereka justru bakal langsung tahu kamu lagi di ranjang sama laki-laki. Kamu mau itu?โ
Skakmat. Kamu membeku, menyadari kebenaran dingin dalam ucapannya.
Kamu hanya bisa memperhatikan dari belakang saat Jay membuka pesan Grup keluarga di WhatsApp. Ada belasan pesan dari Ibumu yang bertanya kenapa kamu belum pulang, dan pesan tegas dari Ayahmu yang menanyakan keberadaanmu.
Jay mengetik dengan sangat tenang, meniru gaya bahasamu yang santai namun sopan.
โBu, maaf tadi HP-nya mati total terus dicas di kamar sebelah. Aku lagi di rumah Isa, lagi ngerjain tugas kelompok sejarah buat besok pagi. Kayaknya aku kemaleman banget, boleh ya aku nginep di sini aja? Besok pagi aku langsung berangkatsekolah dari rumah Isa.โ
Tak lama, muncul balasan dari Ayahmu.
โRumah Isanya di mana? Ayah jemput sekarang aja biar besok Ayah anter sekalian ke sekolah.โ
Jantungmu seolah berhenti berdetak melihat balasan itu. Kamu menatap Jay dengan panik. โBang, Ayah mau jemput! Gimana ini?โ
Jay tidak tampak gentar sedikit pun. Ia langsung membalas dengan cepat.
โNggak usah, Yah. Kasihan Ayah capek baru pulang kerja. Besok aku sekalian bareng papanya Isa kok, beliau juga mau ke arah sekolah. Lagian aku mau lanjut belajar bareng Isa sebentar lagi. Tidur aja duluan ya, Yah, Bu. Maaf telat kasih kabar.โ
Hening sejenak. Kamu menahan napas sampai akhirnya muncul tanda centang dua biru dan balasan singkat: โYa sudah, hati-hati. Jangan tidur terlalu larut.โ
Jay meletakkan ponselmu kembali ke meja, lalu berbalik menatapmu dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia merangkak kembali ke atas tempat tidur, mendekatimu yang masih gemetar karena rasa takut dan lega yang bercampuraduk.
โTuh, kan? Beres,โ bisiknya sambil menarik pinggangmu hingga tubuhmu kembali menempel padanya. โSekarang nggak ada alasan buat panik lagi. Orang tuamu sudah tenang, dan malam ini... kamu sepenuhnya punya Abang tanpa gangguan.โ
Ia menciumi pundakmu yang masih terbuka, sementara tangannya mulai kembali nakal menjelajahi lekuk tubuhmu. Kamu merasa terjebak dalam sangkar emas, meskipun Jay baru saja menyelamatkanmu dari amukan orang tua, kamu tahubahwa malam ini kamu benar-benar tidak akan dibiarkan tidur sedetik pun.
Jay mematikan layar ponselmu dan meletakkannya jauh dari jangkauan. Ia melihat matamu yang masih berkaca-kaca karena ketakutan, lalu mengecup keningmu lama, mencoba meredam sisa-isak tangismu.
โSstt... sudah, kan? Semuanya aman. Kamu nggak perlu mikirin apa-apa lagi selain aku malam ini,โ bisiknya dengan suara yang mendadak sangat lembut, kontras dengan ketegasannya tadi.
Jay kemudian membimbingmu bangun dari ranjang. Tubuhmu terasa pegal dan sedikit gemetar saat kakimu menyentuh lantai, namun Jay dengan sigap menahan pinggangmu. Ia membawamu masuk ke dalam kamar mandi yang luasnya hampirseparuh kamar tidur tadi.
Interiornya sangat mewah, dengan lampu kuning temaram dan dinding marmer yang berkilat.
Begitu masuk, kamu menyadari sesuatu yang berbeda. Hotel ini memang dirancang khusus untuk pasangan yang ingin mengeksplorasi fantasi. Di sudut ruangan, ada berbagai perlengkapan yang belum pernah kamu lihat sebelumnya-kursidengan posisi aneh, handcuffs yang dilapisi bulu halus, hingga deretan minyak aroma terapi yang menggoda.
โKita berendam dulu ya, Sayang. Biar badanmu rileks,โ ujar Jay.
Ia menyalakan keran bathtub besar di tengah ruangan, mencampurkan garam mandi beraroma mawar yang harumnya langsung memenuhi indramu. Jay masuk lebih dulu ke dalam air hangat yang mulai berbusa, lalu ia menarikmu untuk duduk di antara kedua kakinya, menyandarkan punggungmu di dada bidangnya yang keras.
Jay mulai memanjakanmu. Ia mengambil spons lembut dan mulai mengusap bahumu, lenganmu, hingga turun ke dadamu dengan gerakan yang sangat pelan. Tangannya yang kasar namun lihai itu memijat otot-ototmu yang tegang, membuatmuperlahan mulai merasa sangat nyaman dan terlindungi.
โEnak, Bang... anget,โ jawabmu lirih, kepalamu terkulai lemas di pundaknya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di bawah air yang dipenuhi busa sabun, kamu bisa merasakan posisi dudukmu yang sangat intim membuat bokongmu terus bergesekan dengan miliknya. Karena suhu air yang hangat dan gerakanlembut Jay yang memanjakanmu, milik Jay yang tadinya sempat melunak setelah pelepasan tadi, perlahan mulai memberikan reaksi.
Kamu merasakan sesuatu yang keras dan berdenyut kembali menekan di celah bokongmu. Ukurannya yang besar terasa semakin nyata saat bersentuhan langsung dengan kulitmu di bawah air.
โBang...โ bisikmu, napasmu mulai kembali pendek saat menyadari perubahan itu.
Jay terkekeh rendah, suara tawanya bergema di dinding kamar mandi yang sunyi. Ia tidak mencoba menyembunyikannya, justru ia merangkul pinggangmu lebih erat, menarik tubuhmu agar semakin menekan miliknya yang kini sudah tegangsempurna lagi.
โKatanya mau mandi?โ godamu dengan suara gemetar.
โTadinya begitu,โ Jay menggigit kecil cuping telingamu, tangannya mulai merayap naik ke dadamu, meremasnya di bawah air. โTapi kamu terlalu pintar buat bikin aku โbangunโ lagi, (y/n). Sepertinya sesi memanjakannya harus diselingi sedikit... hukuman yang aku janjiin tadi, hm?โ
Uap hangat dari bathtub dan aroma mawar yang tadinya menenangkan, kini mendadak terasa menyesakkan saat suasana kembali memanas. Kamu mencoba memutar tubuh, menatap mata Jay dengan pandangan memohon.
โBang... mandi aja dulu, ya? Badanku masih pegel banget, beneran,โ negomu dengan suara parau, berharap sisi lembut Jay yang tadi memandikanmu masih ada.
Jay hanya memberikan seringai tipis, sebuah tatapan yang mengatakan bahwa negosiasi tidak berlaku di bawah kekuasaannya. โMandi sudah selesai, Sayang. Sekarang waktunya bayar โutangโ karena kamu nakal di mobil tadi.โ
Tanpa membiarkanmu protes lebih jauh, Jay menarik tubuhmu lebih rapat hingga punggungmu menempel sempurna di dada bidangnya. Di bawah air yang berbusa, kamu merasakan miliknya yang besar dan tegang kini menyelinap, โnyelempitโ di antara belahan bokongmu. Posisi itu sangat intim, memberikan tekanan yang panas dan berdenyut tepat di area sensitifmu dari belakang.
โBang Jay... ahh,โ rintihmu saat kamu merasakan lengan berototnya melingkar di lehermu.
Bukan cekikan yang menyakitkan, tapi sebuah kuncian posesif yang setengah menekan-seolah ia ingin memastikan kamu tidak bisa berpaling sedikit pun. Lengan besarnya yang keras membuatmu merasa benar-benar tak berdaya dalamdekapannya. Sementara itu, tangan Jay yang satu lagi meluncur turun ke bawah air, menyusup di antara paha dalammu yang sudah terbuka lebar.
โTahan napasmu, (y/n),โ bisik Jay serak di telingamu.
Ia mulai memadukan dua jarinya, masuk ke dalam intimu yang masih sensitif dan basah akibat sesi sebelumnya. Jay mulai mengocoknya dengan ritme pelan namun dalam, menciptakan suara kecipak air yang bercampur dengan lenguhanmuyang tertahan. Jarinya bergerak sangat lihai, mencari titik paling sensitifmu seolah ia sudah menghafal setiap inci tubuhmu.
โMmph! Bang... pelan... ahh!โ kamu melengkungkan punggung, kepalamu terdongak dan bersandar di bahu Jay yang kokoh.
Jay tidak membiarkanmu bicara lebih banyak. Dari posisi samping, ia memiringkan wajahnya dan membungkam bibirmu dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut. Ciuman itu terasa liar, perpaduan antara rasa manis sabun dan gairahyang meledak. Kamu merasa oksigenmu direbut, baik dari kuncian lengannya di leher maupun dari pagutan bibirnya, membuatmu benar-benar berada di bawah kendali penuh sang Laksamana Pertama di tengah kepungan air hangat.
Suara kecipak air di dalam bathtub semakin riuh, beradu dengan suara napasmu yang tersengal akibat kuncian lengan Jay di lehermu. Dua jari Jay yang bermain di bawah air bergerak semakin cepat, mengocok intimu yang sudah sangat sensitifhingga kamu merasa seolah akan meledak kembali.
โBang... ahh! Jay... cukup... hiks...โ kamu meracau, matamu terpejam rapat saat sensasi panas menjalar dari bawah air hingga ke ubun-ubunmu.
Jay tidak melepaskan ciumannya yang dalam dari samping, justru ia semakin mempererat dekapannya. Begitu ia merasakan tubuhmu menegang hebat-tanda puncak keduamu datang-ia menekan jarinya lebih dalam, membiarkanmu orgasmedalam kunciannya di dalam air hangat yang kini beriak kencang. Tubuhmu lemas, terkulai di dada bidangnya yang basah.
โPinter banget, Sayang. โHukumanโ pertama selesai,โ bisik Jay, suaranya parau penuh kepuasan.
Jay kemudian bangkit, otot-otot tubuhnya yang atletis berkilat tertimpa cahaya lampu marmer. Ia menggendongmu keluar dari bathtub dalam keadaan basah kuyup. Air menetes dari rambut dan tubuh kalian, membasahi lantai kamar mandiyang mewah itu. Bukannya mengeringkanmu dengan handuk, Jay justru membawamu ke depan cermin besar yang dikelilingi alat-alat fantasi yang tadi kamu lihat.
Ia mengambil sebuah paper bag kecil lainnya yang ternyata berisi lingerie sutra hitam yang sangat transparan dan minim. Dengan telaten, Jay memakaikan pakaian dalam sexy itu ke tubuhmu yang masih basah. Jemarinya yang kasar bersentuhandengan kulitmu yang dingin akibat AC, menciptakan sensasi kontras yang bikin merinding.
โKamu tahu, (y/n)?โ Jay menangkup wajahmu, menatap pantulan dirimu di cermin yang kini tampak sangat dewasa dan menggoda dalam balutan sutra hitam. โAku nggak pernah merasa seobsesi ini sama perempuan mana pun. Kamu itu berharga banget buat aku. Makanya, aku mau kamu ngerasain semuanya malam ini... karena aku sayang banget sama kamu.โ
Kata-kata manis itu, diucapkan dengan nada otoritas namun penuh damba, benar-benar membuatmu salting. Rasa malu yang tadi menyergap seketika luntur, berganti dengan perasaan dicintai yang luar biasa dalam. Kamu merasa menjadi pusatsemesta bagi pria setangguh Jay.
โAku juga sayang Bang Jay...โ bisikmu lirih, menunduk malu namun tanganmu menggenggam lengannya yang berotot.
Efek dari ucapan manis itu luar biasa. Kamu yang awalnya takut dan ragu, kini menjadi sangat penurut. Saat Jay membimbingmu menuju salah satu kursi fantasi di sudut kamar mandi dan memintamu mengambil posisi menungging sambilmemegang pegangan besi di depannya, kamu melakukannya tanpa bantahan sedikit pun.
โPinter, Adik Kecil,โ puji Jay, suaranya merendah saat ia berdiri di belakangmu, menatap lekuk tubuhmu yang terekspos sempurna di balik lingerie basah itu. โSekarang, siap buat โhukumanโ selanjutnya?โ
Kamu hanya bisa mengangguk pasrah, siap mengikuti instruksi apa pun yang keluar dari bibir pria yang kini telah menguasai jiwa dan ragamu sepenuhnya.
โ
To Be Continued
setelah baca dan ngerasa ketrigger aku saranin buat drop aja
kesehatan mental lebih utama.
dan ingat! ini cuma fiksi walaupun based on my experience
bagian manipulatifnya aja




Omg kak, bentar ya agak maleman lagi ku bacanya, karena bahaya bgt klo d baca skrng๐ญ
Happy ending yah, kasian kl smp y/n hamil tp ternyata si laksamana ini micin sekkiya