jangan lupa like tembusin 100 lebih
Matahari hari Senin di bulan ini menyengat selasar Fakultas Hukum dengan pendar kaku yang membuat kepalamu semakin berdenyut nyeri. Sepanjang akhir pekan kemarin, kamu mengunci diri di dalam kamar kosan, menatap langit-langit kamar sembari memutar ulang setiap detail pagutan impulsif di bawah emperan toko kain tua. Sentuhan bibir Sunghoon yang intens, napas mudanya yang memburu, dan debaran salah yang sempat singgah di dadamu menjelma menjadi hantu psikologis yang menguliti kewarasanmu secara perlahan.
Ketika bel istirahat siang berbunyi, langkah kakimu menuju kantin pusat Universitas terasa begitu berat, seolah sepasang sepatumu terbuat dari beton. Kamu merapatkan kardigan rajut pemberian Jay ke tubuhmu-sebuah tindakan bawah sadar untuk mencari perlindungan emosional dari rasa bersalah yang terus menerus menuntut tebusan.
Begitu kamu sampai di sudut meja kayu yang biasa, atmosfer domestik yang biasanya ramai dan penuh tawa seketika terasa mencekik. Sunghoon sudah duduk di sana. Pria Teknik Industri itu mengenakan kemeja kargo hijau lumut dengan lengan yang digulung hingga siku, menatap lurus ke arah layar laptopnya yang menampilkan diagram alir simulasi sistem.
โEh, (y/n)! Sini duduk!โ sapa Isa dengan nada suara yang luar biasa ceria, memecah kesunyian kaku di meja itu.
Isa, yang baru beberapa minggu mencicipi status sebagai pacar resmi Nicholas, tampak berpendar oleh kebahagiaan yang meluap-luap. Dia tidak menyadari sama sekali ada anomali nyata yang sangat kritis sedang memaku pergerakanmu dan Sunghoon.
Kamu mengambil posisi duduk di samping Isa, tepat berhadapan dengan Sunghoon. Saat matamu secara tidak sengaja berbenturan dengan sepasang mata sipit milik Sunghoon, pria itu langsung mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop dengan gerakan yang teramat kaku. Tidak ada senyuman teduh, tidak ada gurauan manis, dan tidak ada lagi tangan yang bergerak natural untuk mengusap sisa kondensasi air di mejamu.
Sunghoon memilih untuk membangun tembok keheningan yang luar biasa tebal. Dia membatasi interaksi verbalnya seminimal mungkin, hanya menjawab dengan gumaman pendek setiap kali Isa menanyakan pendapatnya tentang tugas atau menu makanan.
โHoon, kamu kenapa sih? Kok kaku banget kayak kanebo kering dari tadi?โ goda Isa usil, menyenggol lengan Sunghoon dengan ujung sendoknya. โOh... aku tahu nih. Pasti karena malam minggu kemarin aku tinggalin ya? Makanya, cari pacar! Lagian kemarin pas aku pergi sama Nicholas, kalian berdua lanjut jalan ke mana? Gak seru banget nih kalau gak cerita!โ
Pertanyaan polos Isa seketika membuat aliran darah di wajahmu berhenti. Kamu membeku di tempat, meremas tali tas kuliahmu di bawah meja dengan ritme jantung yang berdentum abnormal. Kamu melirik Sunghoon, berharap pria itu bisa menyelamatkan situasi ini dengan kemampuan kalkulasi risikonya.
Sunghoon menutup laptopnya dengan satu ketukan pelan yang tegas. Dia tidak menatapmu sama sekali saat menjawab kalimat Isa. โKemarin langsung balik, Sa. Hujan deras banget di luar. Sori ya, aku harus ke laboratorium sekarang, ada jadwal asistensi praktikum angkatan bawah yang gak bisa ditinggal.โ
Sunghoon bangkit berdiri, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu tegapnya, lalu melangkah pergi membelah keramaian kantin tanpa memberikan satu pun pandangan sekunder ke arahmu. Kepergiannya meninggalkan kepulan kecanggungan yang begitu pekat, membuat makanan di piringmu seketika kehilangan seluruh rasanya.
Rasa tidak nyaman yang mengurung batinmu sepanjang siang akhirnya mencapai titik jenuh. Kamu tahu, jika kecanggungan kaku ini terus dibiarkan menggantung di kampus, pertahanan dirimu di depan Isa akan runtuh lebur dalam hitungan hari. Kamu butuh kepastian. Kamu butuh meluruskan garis batas yang sempat retak kemarin malam, demi keselamatan Sunghoon sendiri dan demi menjaga kestabilan hubungan rahasiamu dengan Jay.
Pukul tiga sore, setelah memastikan Isa sudah pulang lebih dulu bersama Nicholas, kamu melangkah menuju Gedung Perpustakaan Pusat Universitas. Berdasarkan informasi dari grup angkatan, kamu tahu anak-anak Teknik Industri sering kali menghabiskan waktu sore di lantai tiga-area literatur sains dan teknologi yang biasanya sepi pengunjung di awal semester.
Langkah kakimu yang berbalut sepatu flat bergema pelan di antara barisan rak buku kayu yang tinggi menjulang. Begitu kamu berbelok di rak nomor tujuh yang memuat buku-buku optimasi sistem industri, kamu menemukan figur tegap Sunghoon sedang berdiri membelakangimu, memasukkan sebuah buku tebal ke dalam rak dengan gerakan yang lambat dan letih.
โSunghoon...โ bisikmu pelan, menahan volume suaramu agar tidak memicu teguran dari penjaga perpustakaan.
Sunghoon tersentak tipis. Tubuh tingginya berputar perlahan, dan begitu dia melihat sosokmu berdiri di antara remangnya lorong rak buku, ada gurat keterkejutan yang bercampur dengan rasa bersalah yang amat dalam terpancar dari wajah tampannya.
โ(y/n)... kamu ngapain di sini?โ tanya Sunghoon parau, suaranya merosot menjadi serakan rendah yang terdengar begitu lelah. Pria itu mundur satu langkah kecil, mencoba menegakkan kembali jarak personal yang kemarin malam sempat ia lumat habis.
โKita perlu bicara, Hoon. Aku gak bisa terus-menerus pura-pura gak ada apa-apa di depan Isa dengan sikap kamu yang kayak tadi di kantin,โ ujarmu, melangkah satu tapak lebih dekat, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang matanya yang sayu. โSoal kejadian malam minggu kemarin... itu sebuah kesalahan yang fatal, Hoon. Aku minta maaf karena aku sempat hilang kendali, tapi kita harus balik lagi ke garis batas kita yang dulu. Kita ini sahabat, Hoon. Cuma sahabat.โ
Mendengar kata โsahabatโ meluncur kembali dari bibirmu, rahang Sunghoon seketika mengeras sempurna. Ada kilat kekecewaan yang kaku yang kembali membakar matanya. Pria Teknik itu menopang kedua tangannya di pinggiran rak kayu di belakangnya, mengurung arah pandanganmu dengan dominasi maskulinnya yang diam namun menuntut penuh.
โSahabat mana yang membiarkan sahabatnya sendiri melumat bibirnya selama hampir 5 menit di bawah hujan, (y/n)?โ tanya Sunghoon dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan penekanan yang menusuk langsung ke pusat rasa bersalahmu. โJangan bohongi dirimu sendiri demi mematuhi aturan pacar tuamu di Jakarta. Aku udah bilang di depan gerbang kosanmu... aku gak bisa dan aku gak mau balik lagi jadi sahabat biasa yang pura-pura buta setiap kali lihat kamu tersiksa karena hubungan rahasiamu.โ
โHoon, tolong dengerin aku!โ potongmu dengan kepanikan yang mulai merayap naik ke dada, menyentuh lengan kemejanya dengan gerakan memohon yang kaku. โIni demi kebaikanmu sendiri. Kamu gak tahu siapa Bang Jay yang sebenarnya. Dia punya segalanya buat nyingkirin kamu dari kampus ini kalau dia sampai tahu soal malam itu. Batasan yang dia buat itu mutlak, Hoon. Tolong... jangan bikin semuanya makin rumit.โ
Sunghoon menatap jemari tanganmu yang mencengkeram lengan kemejanya, lalu beralih menatap wajahmu dengan binar yearning yang begitu pekat dan kaku. โAku gak peduli sama ancaman militer atau apa pun pangkat orang itu, (y/n). Yang aku peduliin cuma kamu. Tapi kalau emang kehadiran fisikku sekarang bikin kamu ketakutan setiap hari... oke. Aku bakal jaga jarak di depanmu. Aku bakal tetep jadi โSunghoon sang sahabatโ yang kaku di depan Isa, asal kamu gak perlu nangis lagi karena rasa bersalahmu.โ
Sunghoon menarik lengannya perlahan dari genggaman tanganmu, memberikan satu tatapan damba terakhir yang sarat akan luka dalam, sebelum dia berjalan melewatimu dan meninggalkan lorong perpustakaan yang remang-meninggalkanmu dalam kepulan batin yang semakin carut-marut oleh dilema emosional yang tak berujung.
โ
Malam harinya, sekitar pukul sembilan, suasana kamar kosan sewaanmu terasa luar biasa sunyi dan mengintimidasi. Kamu duduk bersandar di kepala kasur, menatap tumpukan diktat Hukum Perdata Internasional yang terbuka di pangkuanmu tanpa bisa mencerna satu kata pun dari kalimat pasal di dalamnya. Fokus kepalamu sepenuhnya lumpuh, terjebak di antara tatapan mata sayu Sunghoon di perpustakaan sore tadi dan bayang-bayang kepemilikan mutlak Laksamana Pertama Jay.
Tiba-tiba, sebuah getaran panjang yang disertai oleh nada dering bernada militer yang kaku memecah keheningan kamarmu.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Jantungmu rasanya mendadak melompat keluar dari rongga dada ketika melihat layar gawai hitam rahasiamu menyala terang, menampilkan barisan nomor enkripsi satelit panjang yang tidak dikenal. Panggilan telepon satelit dari laut lepas.
Jay.
Adrenalin baru seketika menyembur ke seluruh pembuluh darahmu, memicu rasa panik yang membuat telapak tanganmu mendadak basah oleh keringat dingin. Kamu menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali, mencoba menetralkan getaran di pita suaramu, sebelum akhirnya menekan tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telingamu.
โHalo... Assalamualaikum, Bang Jay?โ ujarmu, menahan napas dengan tingkat ketegangan horizontal yang luar biasa tinggi.
โWaalaikumsalam, Sayang,โ suara bariton Jay yang luar biasa berat, dalam, dan sarat akan wibawa komando taktis langsung menggema di seberang saluran. Ada suara desau angin laut dalam dan gemuruh konstan mesin kapal perang yang samar-samar melatarbelakangi suaranya, membuktikan bahwa sang Laksamana saat ini tengah membelah samudra lepas di bagian utara negara. โAbang baru dapat sinyal satelit yang stabil setelah armada kita mendekati pulau terluar malam ini. Kamu sudah di kamar, Dek?โ
โU-Udah, Bang... baru selesai belajar buat kuis besok pagi,โ jawabmu, meremas ujung seprai putihmu dengan sangat erat untuk meredam rasa bersalah yang luar biasa masif yang meremukkan dadamu detik itu juga. Kamu merasa seperti seorang penjahat yang sedang diinterogasi langsung oleh sang hakim agung.
โBagus. Anak pintar,โ tutur Jay lembut, namun nada protektifnya yang posesif tetap terasa mengunci seluruh ruang gerakmu bahkan dari jarak ribuan mil laut. โAbang sengaja telepon karena Abang rindu setengah mati sama wanitanya Abang di sana. Di laut lepas ini... rasanya kewarasan Abang cuma bertumpu sama ingatan tentang bagaimana kamu meluk Abang subuh-subuh waktu itu.โ
Mendengar kalimat penuh afeksi tulus dari pria dewasa yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi baret biru negara, air matamu nyaris menetes karena beban moral yang terlalu berat. Jay masih sepenuhnya buta. Sang Laksamana sama sekali tidak tahu bahwa garis batas suci kepemilikannya telah dirobohkan secara impulsif oleh seorang mahasiswa Teknik di bawah guyuran hujan Klojen dua hari lalu.
โAbang... gimana di sana? Patrolinya aman, kan?โ tanyamu, mencoba mengalihkan fokus pembicaraan secepat mungkin sebelum Jay mendeteksi ada anomali dalam intonasi suaramu.
โSemuanya terkendali di bawah komando Abang, Dek. Kamu gak perlu khawatir soal keamanan laut,โ jawab Jay tenang. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir sang Laksamana seketika membuat seluruh sistem saraf di tubuhmu membeku total.
โOmong-omong soal keamanan... gimana lingkungan kampusmu beberapa minggu ini? Anak Teknik Industri yang namanya Sunghoon itu... dia masih jalanin fungsinya dengan bener buat jagain kamu sama Isa di kantin, kan? Dia gak ada macam-macam atau berani lewat batas sama kamu selama Abang gak di sana?โ
Pertanyaan Jay mendarat seperti hantaman meriam taktis tepat di atas hulu hatimu. Ruang kamarmu mendadak terasa kehabisan oksigen. Kamu bisa merasakan getaran keringat dingin yang mengalir menuruni pelipismu, sementara otak mahasiswamu dipaksa untuk bekerja dengan kecepatan maksimal demi merumuskan sebuah kebohongan struktural yang rapi dan tidak memicu kecurigaan intelijen militer Jay.
Kamu harus sangat pintar menutupi ini. Jay tidak boleh tahu detail terkecil apa pun tentang ciuman di bawah hujan itu, karena jika egonya yang mendominasi mendeteksi ada pengkhianatan fisik, keselamatan Sunghoon di kampus akan berada di ujung tanduk dalam hitungan jam.
Kamu menelan ludah dengan susah payah, mengulas sebuah suara manis yang manja yang biasa ia sukai untuk meredam ketegangannya. โSunghoon... dia baik banget kok, Bang. Dia bener-bener jagain aku sama Isa kayak gimana yang Abang instruksikan kemarin. Dia... dia kaku banget orangnya, Bang, malah sekarang dia sering sibuk di laboratorium Teknik Industri jadi jarang bareng-bareng di kantin lagi. Abang gak usah khawatir ya, gak ada satu pun pria di kampus ini yang berani macam-macam sama aku, karena mereka semua tahu aku cuma fokus kuliah Hukum.โ
Terdengar jeda beberapa detik dari seberang telepon satelit-sebuah jeda yang terasa seperti eksekusi mati bagi batinmu yang didera rasa bersalah ganda. Kamu menahan napas, takut jika Jay menyadari ada sedikit kebohongan dalam untaian kalimat panjangmu.
Helaan napas bariton yang berat akhirnya terdengar dari ujung saluran, disusul oleh suara tawa rendah Jay yang penuh rasa puas atas jawaban kepatuhanmu. โBagus kalau anak Teknik itu tahu diri dan tahu di mana posisinya berada. Tetap di posisimu dengan baik ya, Sayang. Jangan biarkan tangan siapa pun menyentuh kulit halusmu. Abang pegang penuh janji medismu dan janji setiamu di bawah malam Kayutangan.โ
โIya, Bang Jay... aku bakal selalu inget batasan dari Abang,โ bisikmu parau, memeluk lututmu erat-erata di atas kasur dengan sisa-sisa kewarasan yang menipis.
โAbang harus kembali ke ruang kemudi komando sekarang, Dek. Sinyalnya sudah mulai tidak stabil lagi. Tidur yang nyenyak, jangan telat makan, dan tunggu Abang bersandar di pangkalan dua minggu lagi. I love you, My Commanderโs Girl.โ
โI love you too, Abang...โ jawabmu lirih sebelum sambungan telepon itu terputus dengan suara tut panjang yang statis, menandakan kapal perang Jay telah kembali bergerak menjauh membelah samudra lepas, meninggalkanmu sendirian di dalam kamar kosan dengan air mata rasa bersalah yang akhirnya tumpah membasahi kardigan rajut pemberiannya, terjebak di tengah-tengah perang batin horizontal yang kian meruncing di bawah langit kota rantauan.
Dua minggu berlalu sejak panggilan telepon satelit malam itu, dan ketakutan terbesarmu perlahan bertransisi menjadi sebuah bentuk ketegangan baru yang jauh lebih tak kasat mata. Laksamana Pertama Jay membuktikan ucapannya, dari tengah samudra lepas, melalui barisan pesan teks yang masuk setiap kali kapalnya mendapat sinyal pelabuhan transit, dia benar-benar melunak.
Kadar obsesinya yang beringas tampak sengaja ia tekan dalam-dalam demi memberikanmu ruang napas akademik yang longgar di kota ini. Jay sedang berusaha keras menjadi sosok pelindung yang penyayang, bukan lagi diktator yang mengintimidasi. Setelah dia dengan sadar melakukan pemeriksaan psikisnya sebelum melakukan patroli di samudra lepas. Jay sendiri yang memberitahu bahwa dia menjalani terapi dengan psikolog militer yang telat ia percaya untuk membantunya meredakan kegilaannya dan sempat menawarkanmu perawatan padamu juga, namun kamu menolak karena merasa mentalmu baik-baik saja. Padahal kamu hanya takut jika kamu melakukan pemeriksaan mental yang ada kamu semakin gila, walaupun posisimu sebenernya yang butuh pertolongan.
Namun, ketika ancaman dari Jakarta mereda, masalah utama justru berakar semakin kuat di dalam kampusmu sendiri.
Sunghoon menepati janjinya di perpustakaan untuk tidak lagi bersikap agresif atau membahas insiden ciuman
malam itu secara verbal. Namun, alih-alih mundur sepenuhnya, pria Teknik Industri itu justru mengubah taktiknya menjadi gerakan mikro yang jauh lebih berbahaya bagi pertahanan batinmu. Dia melakukan infiltrasi halus melalui perhatian-perhatian kecil tanpa suara yang kembali muncul ke permukaan.
Setiap kali jam istirahat siang di kantin pusat, Sunghoon tidak lagi menatapmu dengan sorot mata menuntut. Dia kembali bersikap biasa di depan Isa, namun tindakannya berbicara dalam bahasa yang berbeda.
โEh, (y/n), ini tadi si Sunghoon nitip roti bakar cokelat kesukaanmu lewat aku,โ ujar Isa siang itu, meletakkan sebingkus roti hangat di atas diktat Hukum Perdatamu. โKatanya tadi dia sekalian beli di depan gerbang Teknik, terus inget kalau kamu sering skip sarapan kalau hari Senin.โ
Kamu tertegun, menatap bungkus roti itu dengan dada yang berdesir aneh. Kamu melirik Sunghoon yang duduk dua kursi di sebelah Isa. Pria itu tetap fokus pada ponselnya, seolah titipan roti itu hanyalah sebuah formalitas pertemanan yang tidak berarti apa-apa.
Bukan cuma itu. Besoknya, saat kamu membuka loker buku di perpustakaan pusat, kamu menemukan selembar kertas folio berisikan ringkasan materi Hukum Pidana Internasional yang ditulis dengan garis grafik yang sangat rapi-khas gaya pemetaan sistem anak Teknik Industri. Tidak ada nama pengirim, namun sepotong sticky notes kecil berwarna biru di sudut atas bertuliskan: โJangan begadang cuma buat ngerangkum ini. Dibaca pelan-pelan aja.โ
Gerakan-gerakan halus tanpa pamrih dari Sunghoon pelan-pelan mulai meruntuhkan benteng penolakanmu. Kamu mulai merasakan sebuah kenyamanan yang aneh dan salah. Di satu sisi, kamu terus menyangkal perasaan itu, mematikan setiap riak debaran di dadamu dengan kalimat penegas bahwa kamu adalah milik Jay seutuhnya. Namun di sisi lain, kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri bahwa perhatian kecil dari pemuda seumuranmu yang normal dan membumi seperti ini adalah sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh seorang Laksamana berusia tiga puluh tiga tahun yang hidupnya dipenuhi protokol militer yang kaku.
Puncaknya terjadi di hari Kamis sore. Langit kota rantauan mendadak menumpahkan hujan badai yang luar biasa lebat, disertai angin kencang yang membuat dahan-dahan pohon di selasar Fakultas Hukum berderak ngeri.
Isa sudah pulang lebih dulu, dijemput oleh Nicholas menggunakan mobil sedan putihnya tepat sebelum hujan badai mencapai puncaknya. Kamu berakhir sendirian, berdiri kaku di selasar gedung Hukum yang mulai sepi, menatap nanar ke arah halaman kampus yang memutih oleh tirai air hujan. Kamu merapatkan kardigan rajut pemberian Jay ke tubuhmu yang mulai menggigil diterpa angin malam.
โBelum pulang?โ
Sebuah suara bariton yang familiar mendadak memecah deru suara hujan di sampingmu. Kamu menoleh cepat dan menemukan Sunghoon sudah berdiri di sana. Pria itu tampak basah di bagian bahu kemejanya, memegang sebuah payung hitam besar dan sebuah jas hujan plastik berwarna biru di tangan kanannya.
โBelum, Hoon... gak bawa payung, telanjur deres banget,โ ujarmu kaku, langsung mengambil jarak satu langkah mundur untuk menegakkan kembali garis batas keamananmu, sekilas teringat malam hujan deras di emperan toko kain tua kala itu.
Sunghoon tidak memprotes jarak yang kamu buat. Dengan wajah datarnya yang tenang-tanpa ada gurat modus atau emosi berlebih-dia melangkah maju, lalu mengulurkan jas hujan plastik itu kepadamu. โPakai ini. Kamu bisa jalan sampai depan gerbang buat cari angkot atau ojek mobil.โ
โEh, gak usah, Hoon. Gak apa-apa, aku bisa nunggu kafenya agak redaan dikit,โ tolakmu cepat, panik karena alarm rasa bersalah kepada Jay langsung berbunyi nyaring di dalam kepalamu. Kamu terlalu takut jika menerima kebaikan fisik Sunghoon akan membuat retakan di hatimu makin melebar.
Sunghoon tidak mendengarkan penolakanmu. Dengan gerakan protektif yang sangat alami namun tegas, dia melangkah mendekat, mengabaikan jarak satu langkah yang kamu buat tadi. Pria itu membuka lipatan jas hujan tersebut, lalu dengan kedua tangannya yang hangat, dia memasangkan tudung jas hujan itu ke atas kepalamu, merapikan untaian rambutmu yang mencuat keluar agar tidak terkena cipratan air dengan kelembutan yang luar biasa kaku.
Jarak kalian sempat terkikis selama tiga detik penuh. Kamu bisa menghirup aroma sabun bersihnya yang bercampur dengan aroma tanah basah akibat hujan. Jantungmu berkhianat lagi, berdetak dengan ritme yang terlalu cepat untuk ukuran seorang wanita yang sudah berkomitmen dengan pria lain.
โJangan keras kepala, (y/n). Kamu baru sembuh dari asam lambung bulan kemarin, jangan sampai kehujanan lagi,โ ujar Sunghoon pelan, suaranya terdengar begitu tulus tanpa menuntut balasan apa pun. Dia meletakkan gagang payung hitamnya di tanganmu yang lain. โPakai aja. Aku bisa terobos hujan sampai parkiran Teknik. Motor gampang.โ
Sebelum kamu sempat mengembalikan barang-barang tersebut, Sunghoon sudah membalikkan tubuh tingginya. Pria Teknik Industri itu langsung berlari menerobos derasnya hujan badai malam itu, membiarkan tubuh tegapnya basah kuyup tersiram air langit, meninggalkanmu sendirian di selasar Hukum dengan perasaan campur aduk yang luar biasa hebat.
Kamu pulang ke kosan malam itu dengan air mata yang tertahan di sudut mata. Rasa bersalahmu kepada Jay mencapai titik kritis yang menyiksa mental. Begitu sampai di dalam kamar, kamu buru-buru mengambil ponsel rahasiamu, mengetikkan pesan teks panjang berisi kalimat rindu dan penegasan janji setia kepada sang Laksamana di laut lepas-sebuah pelarian psikologis untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa hatimu tidak sedang bergeser ke arah sang sahabat.
Namun, dinamika yang kamu sembunyikan dengan rapat ini ternyata tidak bisa selamanya luput dari pandangan jeli seorang sahabat perempuan.
โ
Hari Sabtu siang, Isa mengajakmu pergi thrifting dan mencari pakaian kasual di salah satu pasar sandang dekat Alun-alun kota. Agenda jalan berdua yang seharusnya dipenuhi oleh obrolan bucin Isa tentang Nicholas dan kebucinanmu tentang Jay, mendadak berubah arah ketika kalian sedang memilah-milah deretan kardigan rajut di antara gantungan baju besi yang bising.
Isa mendadak menghentikan gerakan tangannya, lalu membalikkan tubuhnya menghadapmu secara penuh. Sepasang mata gadis Hubungan Internasional itu menatapmu dengan pandangan menyelidiki yang sangat tajam-sebuah sorot mata jeli yang biasa ia gunakan saat menganalisis krisis geopolitik di kelas kuliahnya.
โ(y/n)... aku mau nanya sesuatu sama kamu, dan tolong jawab jujur,โ ujar Isa dengan nada suara yang mendadak turun beberapa oktav, kehilangan keceriaan cemprengnya yang biasa.
Kamu ikut menghentikan gerakan tanganmu di gantungan baju, jantungmu mendadak berdesir waspada. โNanya apa, Sa? Kok serius banget?โ
โKamu... lagi ada masalah ya sama Sunghoon?โ tembak Isa langsung ke pusat sasaran, membuatmu nyaris menjatuhkan kardigan yang sedang kamu pegang.
Kamu mencoba tertawa kecil, berusaha memasang ekspresi se-normal mungkin di depan wajah sahabatmu. โHah? Masalah apa sih, Sa? Orang kita biasa aja di kantin dari kemarin-kemarin.โ
โJangan bohongin aku, (y/n). Aku ini sahabat kalian berdua dari semester satu bahkan lebih lama sahabaan sama kamu,โ potong Isa tegas, melipat kedua lengannya di depan dada. โSunghoon itu biasanya anak yang paling berisik kalau dengerin kamu ngeluh soal pasal Hukum meskipun kadang kaku. Dia selalu jadi orang pertama yang geser duduknya biar deketan sama kamu. Tapi dua minggu terakhir ini... dia banyak diem. Gesturnya emang masih perhatian, dia masih nitip roti buat kamu lewat aku, tapi matanya... mata Sunghoon tuh selalu mandang kamu dengan tatapan yang aneh banget setiap kali kamu gak ngelihat dia. Dan kamu... kamu terus-menerus menghindar atau bersikap terlalu formal setiap kali Sunghoon nawarin bantuan. Ada apa di antara kalian berdua pas aku pergi sama Nicholas malam minggu kemarin?โ
Pertanyaan beruntun dari Isa seketika memicu kepanikan nyata berskala besar di dalam dadamu. Seluruh pasokan oksigen di sekitarmu rasanya menguap habis. Kamu tahu betul, jika sampai Isa mengendus adanya insiden ciuman di emperan toko yang tutup atau pengakuan perasaan Sunghoon, rahasia ini akan melebar luas ke dalam lingkaran pergaulan Nicholas-karena Nicholas adalah teman dekat satu tongkrongan Sunghoon di Teknik.
Dan skenario terburuk dari semua itu adalah kiamat bagi kesehatan batinmu. Jika riak gosip ini membesar di kampus, jaringan intelijen pribadi atau mata-mata yang ditanam Jay di sekitar wilayah kampus pasti akan menangkap anomali tersebut dalam hitungan hari. Kamu tahu dengan pasti watak sang Laksamana, jika Jay mendeteksi ada pria lain yang berani menyentuh miliknya dan membuatmu bimbang, Jay tidak akan segan-segan menggunakan kekuasaan absolutnya untuk menghancurkan karier akademik Sunghoon, atau yang lebih buruk... mengurungmu kembali ke Jakarta, merenggut seluruh kebebasan kuliah dan pertemanan yang baru saja kamu nikmati di sini. Kamu akan benar-benar kehilangan dirimu sendiri untuk kedua kalinya.
โSa... demi Tuhan, gak ada apa-apa,โ ujarmu dengan suara yang bergetar tipis, menggenggam kedua tangan Isa di antara gantungan baju dengan tatapan memohon yang sangat nyata.
โSunghoon... dia cuma lagi pusing banget sama tugas asistensi laboratoriumnya di Teknik Industri, makanya dia agak jaga jarak biar bisa fokus kuliah. Dan aku juga lagi banyak tugas kelompok. Tolong... jangan berpikiran yang aneh-aneh ya, Sa? Kita bertiga harus tetep kompak kayak biasa. Aku gak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara salah paham kayak gini.โ
Isa menatap lekat-lekat ke dalam sepasang matamu yang memancarkan ketakutan emosional yang teramat besar. Sebagai sahabat yang tahu bahwa kamu memiliki hubungan rumit dengan seorang pria berkuasa di Jakarta, Isa akhirnya menghela napas panjang, melunakkan sorot matanya yang tajam.
โYa udah kalau emang gak ada apa-apa, (y/n). Aku cuma gak mau lingkaran pertemanan kita hancur aja,โ ujar Isa pelan, memberikan remasan penenang di jemarimu. โAku menikmati kebebasan persahabatan kita bertiga dari dulu, dan aku harap gak ada rahasia yang bakal ngerusak itu semua di masa depan.โ
โIya, Sa... gak bakal ada yang rusak kok,โ bisikmu lirih, sebuah kalimat penenang untuk Isa yang sebenarnya merupakan sebuah doa penuh ketakutan bagi dirimu sendiri.
Kamu membalikkan badan kembali ke arah deretan baju, menyembunyikan wajahmu yang mendadak pias sempurna. Di dalam hatimu yang carut-marut, kamu tahu kamu sedang berjalan di atas seutas tali tipis yang sangat rapuh-terjebak di antara infiltrasi kebaikan Sunghoon yang mulai terasa nyaman namun salah, kecurigaan Isa yang mengintai, dan bayang-bayang aturan kaku Laksamana Pertama Jay yang siap melumat habis seluruh duniamu jika sampai rahasia di bawah hujan malam itu terbongkar ke permukaan.
to be continued
ayo buruan abis๐ญ





yeen: mama i'm a criminal๐ข
Maruk bgt lo yn ๐คง๐คง