38 Halo Dek
Laksamana Jay
Malam minggu ini, sebuah kafe bernuansa industrial di kawasan pusat kota dipenuhi oleh kepulan asap rokok dan riuh rendah suara musik indie. Kamu, Isa, dan Sunghoon duduk mengitari sebuah meja bundar di sudut ruangan. Agenda hangout rutin kalian setelah penatnya minggu pertama ujian tengah semester seharusnya berjalan seru seperti biasanya. Namun, fokus Isa malam ini tampak tidak sepenuhnya berada di atas meja. Gadis itu terus-menerus melirik layar ponselnya yang menyala menampilkan notifikasi pesan dari Nicholas.
Tepat pukul setengah delapan malam, sebuah mobil sedan putih berhenti di seberang kafe. Isa mendadak menepuk jidatnya dengan ekspresi panik yang dibuat-buat.
βAduh! (y/n), Hoon... demi Tuhan aku lupa banget!β pekik Isa salah tingkah, buru-buru menyampirkan tas selempangnya ke bahu. βNicholas ternyata udah di depan. Dia mau ngajakin aku makan malam bareng keluarganya malam ini, dan aku bener-bener lupa bilang ke kalian karena saking pusingnya sama tugas diplomasi tadi sore. Aku... aku duluan nggak apa-apa, kan? Sori banget, ya!β
Kamu berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya tertawa lepas melihat wajah bersalah sahabatmu. βIh, dasar bucin! Ya udah sana pergi, jangan bikin keluarga Nicholas nungguin kamu. Hati-hati di jalan, Sa!β
βSori ya, Hoon! (y/n), aku duluan!β Isa melambaikan tangannya dengan terburu-buru, melangkah cepat membelah keramaian kafe menuju mobil Nicholas, meninggalkan ruang kosong yang mendadak terasa begitu sunyi di antaramu dan Sunghoon.
Atmosfer di meja bundar itu seketika bergeser porosnya. Kamu menatap kursi kosong bekas Isa, lalu beralih menatap Sunghoon yang kini tengah memutar-mutar sedotan di dalam gelas es kopinya dengan pandangan menerawang. Kehadiran Isa selama ini selalu menjadi buffer emosional yang mencairkan segala bentuk kekakuan, dan begitu buffer itu hilang, jarak personal di antaramu dan Sunghoon mendadak terasa begitu dekat dan telanjang.
βEhm... jadi, kita mau tetep di sini atau gimana, Hoon?β tanyamu, mencoba mencairkan kecanggungan yang mulai merayap naik ke permukaan kulitmu.
Sunghoon mendongak, menatap sepasang matamu dengan binar teduhnya yang khas. Dia meletakkan gelasnya, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang manis. βDi sini terlalu berisik, (y/n). Gimana kalau kita jalan-jalan keluar aja? Cari angin di sekitar luar, sekalian jalan kaki. Mau?β
Kamu terdiam sejenak. Alarm tak kasat mata di kepalamu-suara dingin Laksamana Jay tentang kata batasan-sempat bergetar tipis di dalam benakmu. Namun, melihat sorot mata Sunghoon yang begitu tulus dan tidak mengintimidasi, kamu akhirnya mengangguk pelan. βBoleh. Yuk, aku juga agak pusing denger musik kafenya.β
Kalian berdua berjalan kaki beriringan menyusuri trotoar jalan besar yang mengarah ke area pertokoan tua kota. Malam kian larut, dan hawa dingin mulai berembus lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambutmu yang terurai bebas. Sunghoon berjalan di sisi luarmu, secara otomatis memposisikan tubuh tinggi tegapnya sebagai pembatas antara dirimu dan laju kendaraan yang melintas-sebuah tindakan protektif yang begitu alami dari seorang pria seumuranmu.
Obrolan di antara kalian awalnya mengalir dengan topik-topik ringan seputar kampus. Namun, setiap kali kamu tertawa lepas menanggapi cerita konyol anak Teknik Industri, kamu bisa merasakan bagaimana pandangan mata Sunghoon bertahan terlalu lama pada belahan bibirmu. Ada sebuah intensitas emosional yang kaku, sebuah yearning yang begitu berat yang sedang ditahan oleh pria di sampingmu ini di balik kemeja flanelnya.
Tiba-tiba, langit malam yang tadinya bersih mendadak bergemuruh keras. Tanpa ada peringatan berupa rintik gerimis terlebih dahulu, sebuah guratan kilat menyambar, disusul oleh guyuran hujan deras yang langsung tumpah dengan lebatnya membasahi permukaan bumi.
βEh! Hujan, (y/n)!β
Sebelum logikamu sempat memberikan perintah untuk berlari, sebuah kehangatan yang kuat mendadak membungkus pergelangan tangan kananmu. Sunghoon secara refleks mencengkeram jemarimu, menarik tubuh ringkihmu dengan gerakan cepat namun sangat lembut, membawamu membelah tirai air hujan menuju tempat berteduh terdekat.
Kalian berakhir di bawah emperan sebuah toko kain tua yang sudah tutup. Ruang berteduh itu sangat sempit-lebar atap betonnya tidak lebih dari satu meter-ditambah dengan remangnya cahaya lampu jalan yang bias akibat tertutup derasnya air hujan.
Tubuhmu sedikit basah di bagian bahu, dan kamu reflek merapatkan kedua lenganmu di depan dada karena hawa dingin yang mendadak menusuk drastis. Melihat tubuhmu yang menggigil tipis, Sunghoon melangkah satu langkah besar ke depan, memposisikan tubuh tingginya tepat di hadapanmu, bertindak sebagai tameng hidup yang melindungi tubuh kecilmu dari cipratan air hujan yang beringas dari arah jalan.
Jarak di antara kalian seketika terkikis habis hingga ke titik paling kritis. Kamu naik ke satu tanjakan tangga agar Sunghoon tidak terkena banyak cipratan air membuat tinggimu hampir menyamai tinggi badannya yang tegap-meskipun kamu tetap menengadah. Ruang personal yang selama dua tahun ini kamu jaga demi mematuhi aturan Laksamana Jay, runtuh lebur dalam hitungan detik di bawah emperan toko kain tua ini. Kamu bisa menghirup dengan sangat jelas aroma parfum Sunghoon-aroma sea salt dan sabun mandi yang sangat bersih, segar, dan menenangkan, sepenuhnya berbeda dengan aroma kayu cendana dan mint milik Jay yang selalu sarat akan intimidasi kuasa.
Kamu mendongak, berniat untuk mengucapkan terima kasih karena dia lagi-lagi melindungimu dari situasi yang tidak nyaman. Namun, begitu manik matamu berbenturan langsung dengan sepasang mata elang sipit milik Sunghoon, kata-kata itu tercekat di tenggorokanmu.
Di bawah remangnya lampu toko dan gemuruh suara hujan yang memekakkan telinga, tatapan mata Sunghoon tampak berkilat oleh sebuah emosi purba yang luar biasa besar. Seluruh pertahanan diri, kekakuan, dan topeng sahabat yang selama berbulan-bulan ini ia pasang dengan tingkat disiplin tinggi, mendadak retak total. Dorongan impulsif yang lahir dari rasa cemburu terpendam, rasa takut kehilangan, dan rasa sayang yang sudah mencapai batas jenuh, meledak serentak di dalam kepala pria Teknik tersebut.
Sunghoon menatap belahan bibirmu yang sedikit basah oleh sisa air hujan, lalu beralih menatap sepasang matamu dengan pandangan yearning yang begitu kaku namun berpijar penuh gairah muda yang murni.
βH-Hoon...β bisikmu parau, suaramu nyaris tenggelam oleh suara hujan. Tubuhmu mendadak membeku, kaku bukan karena takut, melainkan karena kamu bisa merasakan ada ketegangan psikologis yang luar biasa besar sedang menuntut ruang di antaramu dan Sunghoon.
Sunghoon tidak menjawab dengan kata-kata. Tangan kanannya yang hangat perlahan bergerak naik, jemarinya yang panjang merayap menyusuri garis rahangmu, sebelum akhirnya telapak tangannya membingkai pipimu dengan kelembutan yang teramat tulus namun penuh tekanan menuntut.
Detik itu, dorongan impulsif Sunghoon mencapai puncaknya. Jiwa mudanya menolak untuk kembali menjadi penonton pasif di hidupmu. Sunghoon menundukkan wajah tampannya dengan gerakan yang cepat, memangkas sisa jarak di antara kalian, dan langsung menghantamkan belahan bibirnya di atas bibirmu.
Chup.
Kamu terbelalak, jantungmu berdentum begitu keras hingga rasanya mau meledak. Otak mahasiswamu seketika memutar alarm nama βLaksamana Jayβ dengan warna merah menyala. Logikamu berteriak bahwa ini adalah sebuah kesalahan yang fatal, sebuah pelanggaran batasan yang bisa menghancurkan segalanya. Namun, aneh tapi nyata... tubuhmu menolak untuk bergerak mundur. Kamu tidak menghindar, kedua tanganmu memaku pasrah di sisi tubuhmu, dan bibirmu tetap membiarkan tautan itu terjadi di bawah emperan toko yang remang.
Melihat kamu yang tidak memberikan penolakan fisik, kesadaran Sunghoon yang sudah setipis tisu akibat gairah muda yang tertahan lama, sepenuhnya runtuh. Lumatan bibirnya yang awalnya ragu dan lembut, mendadak berubah menjadi sebuah pagutan yang intens, dalam, dan penuh damba. Sunghoon menghisap ranum bibir bawahmu dengan ritme yang memabukkan, menumpahkan seluruh rasa sakit batinnya selama berbulan-bulan merawatmu dalam diam, menyalurkan seluruh rasa cintanya yang gila melalui setiap lumatan basah yang mengunci sisa napasmu. Kamu terbuai, terjebak di antara rasa bersalah yang menguliti dadamu dan kehangatan murni seorang pria muda yang memperlakukanmu seolah kamu adalah pusat dari seluruh alam semestanya.
Tautan bibir yang sarat akan pelanggaran batas itu berlangsung selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian, sebelum Sunghoon akhirnya menarik perlahan wajahnya kembali dengan napas yang memburu berat.
Begitu tautan bibir kalian terlepas, keheningan yang luar biasa kaku dan canggung langsung menyergap atmosfer di bawah emperan toko. Waktu seolah mendadak membeku kembali. Kamu memaku pandanganmu pada dada bidang Sunghoon yang naik-turun memburu di balik kemeja flanelnya, sementara Sunghoon menarik kembali tangannya dari pipimu dengan getaran yang sangat nyata di jemarinya.
Kalian berdua mematung di sana dalam posisi yang sangat kaku, menolak untuk saling bertatapan mata. Otakmu berputar dengan kecepatan tinggi, diserang oleh rasa bersalah yang luar biasa besar kepada Laksamana Pertama Jay yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya di samudra lepas. Kamu merasa telah mengkhianati jangkar hidupmu. Di sisi lain, Sunghoon berdiri dengan rahang yang mengeras sempurna, merutuki kegilaan dan kelancangan spontannya yang baru saja merusak mutlak garis batas persahabatan yang selama ini ia jaga dengan susah payah.
Tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya ada suara gemuruh hujan yang perlahan-lahan mulai mereda menjadi rintik gerimis tipis yang dingin.
Kamu berdeham kecil, memecah kesunyian yang mencekik batinmu dengan nada suara yang sengaja kamu buat sekaku mungkin. βH-Hujannya... udah agak reda, Hoon. Yuk, pulang.β
Sunghoon tersentak tipis, lalu mengangguk kaku tanpa menatap wajahmu. βIya. Yuk.β
Perjalanan pulang menuju kosanmu dilalui dalam kesunyian yang teramat sangat pekat. Sunghoon mengantarmu menggunakan motor maticnya yang ia kendarai dengan kecepatan sedang membelah sisa-sisa aspal yang basah. Tidak ada lagi obrolan seru tentang kampus, tidak ada lagi tawa lepas, yang tersisa hanyalah jarak nyata yang kaku di antara punggung tegap Sunghoon dan tubuhmu yang duduk menyamping di jok belakang tanpa berani menyentuh jaketnya sedikit pun.
Begitu motor Sunghoon berhenti tepat di depan gerbang besi kosanmu yang sepi, kamu langsung turun dengan gerakan yang terburu-buru, berniat untuk segera mengunci diri di kamar dan lari dari situasi gila ini.
βMakasih ya, Hoon, udah dianterin-β
β(y/n)...β
Belum sempat kamu membalikkan badan untuk membuka selot gerbang, sebuah kehangatan yang kaku kembali menahan pergelangan tanganmu. Sunghoon menahan pergerakanmu. Pria Teknik itu turun dari motornya, berdiri kokoh di hadapanmu di bawah pendar lampu jalan yang remang.
Sunghoon menatapmu dengan sepasang mata sipitnya yang kini memancarkan seluruh kejujuran emosional yang telanjang. Getaran di suaranya terdengar begitu parau dan sarat akan ketegasan seorang pria dewasa yang siap menerima segala konsekuensi dari perbuatannya.
βAku... aku minta maaf buat kejadian di emperan toko tadi,β ujar Sunghoon lambat, suaranya bergetar tipis namun terdengar begitu mutlak di telingamu. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mengunci manik matamu agar tidak menghindar. βAku tahu aku lancang, aku tahu aku udah ngerusak batasan persahabatan kita, dan aku tahu posisi siapa yang ada di hidupmu sekarang. Tapi aku nggak akan pernah menyesal udah cium kamu malam ini, (y/n).β
Sunghoon melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tanganmu, namun intensitas tatapannya justru semakin meningkat.
βAku udah nggak bisa terus-menerus bohong sama diriku sendiri setiap kali lihat kamu tertawa di kantin,β lanjut Sunghoon dengan gurat wajah yang mengeras menahan gejolak rasa di dadanya. βAku sayang sama kamu, (y/n). Aku cinta sama kamu melebihi status kita sebagai sahabat. Aku cuma mau kamu tahu itu sebelum ego kaku pacar tuamu itu bener-bener mengunci seluruh sisa hidupmu di sini. Aku pergi dulu.β
Tanpa menunggu jawaban atau reaksi apa pun dari bibirmu, Sunghoon langsung membalikkan badannya, menaiki motornya kembali, dan memutar gasnya dalam satu hentakan kencang-meninggalkan area gang kosanmu dengan kecepatan tinggi, membelah keheningan malam minggu Malang yang dingin.
Kamu mematung sendirian di depan gerbang besi yang kokoh. Tubuhmu gemetar tipis, bukan karena hawa dingin sisa hujan, melainkan karena pengakuan jujur Sunghoon baru saja meledakkan satu bom waktu baru di dalam sistem emosionalmu. Perlahan, jemari tangan kananmu bergerak naik, menyentuh belahan bibirmu sendiri yang masih terasa hangat dan sedikit bengkak akibat lumatan intens pria Teknik Industri itu beberapa menit lalu.
Dengan langkah yang luar biasa kaku dan pikiran yang sepenuhnya carut-marut oleh rasa bersalah pada Jay dan ketakutan akan perasaan Sunghoon, kamu membuka gerbang, meniti anak tangga kosan satu demi satu dalam kegelapan, sebelum akhirnya mengunci diri di dalam kamar kosanmu yang sunyi-terjebak masuk ke dalam labirin konflik batin yang jauh lebih rumit di antara kepatuhan militer sang Laksamana dan ketulusan gairah muda sang sahabat.
β
Satu hentakan gas kasar membelah keheningan aspal basah di sepanjang perjalanan. Sunghoon tidak lagi peduli pada jarum spidometer motor matic-nya yang nyaris menyentuh angka sembilan puluh di jalanan kota yang licin setelah diguyur hujan deras. Angin malam yang biasanya terasa mendinginkan tengkuk, malam ini justru terasa seperti jilatan api yang membakar seluruh sistem saraf di kepalanya.
Di dalam rongga dadanya, jantung Sunghoon berdentum dengan frekuensi yang mengerikan-abnormal, kacau, dan berantakan.
Begitu ban motornya berdecit pelan meredam kecepatan di depan pagar hitam sebuah kosan eksklusif khusus mahasiswa Teknik, Sunghoon langsung mematikan mesin tanpa menunggu satu detik pun. Dia turun dengan langkah kaki yang terhuyung, nyaris tersandung pembatas semen akibat fokus matanya yang buram oleh sisa-sisa adrenalin yang merajai tubuhnya.
Pria itu meniti anak tangga semen menuju lantai dua dengan terburu-buru, mengabaikan sapaan kaku dari beberapa anak Teknik Mesin yang sedang nongkrong di selasar komunal.
Cklek. Blam!
Pintu kamar nomor 204 itu dibanting menutup dalam satu gerakan cepat yang kasar. Sunghoon langsung mengunci slot pintu dari dalam, menyandarkan punggung tegapnya di balik bidang kayu yang dingin menggelindinkan helmnya kasar, lalu melempar kunci motornya ke sembarang arah hingga benda logam itu menghantam lantai dengan bunyi berdenting yang nyaring.
βBangsat...β
Satu erangan frustrasi yang teramat dalam lolos begitu saja dari sela-sela rahangnya yang mengeras sempurna. Sunghoon menjatuhkan kepalanya ke belakang, menghantamkannya pelan ke permukaan pintu kayu berulang kali, seolah tindakan fisik itu bisa menghentikan pusaran kegilaan yang saat ini sedang meremukkan isi kepalanya.
Dia menatap telapak tangan kanannya yang masih gemetar hebat di bawah pendar lampu kamar yang putih kaku. Kulit telapak tangannya seolah masih merekam dengan sangat jelas kehangatan halus dari tekstur pipimu yang sempat ia bingkai beberapa puluh menit lalu di bawah emperan toko kain. Dan di atas segalanya, belahan bibirnya... bibir tipisnya yang biasa mengatup kaku untuk merumuskan kalkulasi matematika dan efisiensi sistem industri, malam ini masih menyisakan rasa manis yang memabukkan, rasa ranum dari bibir wanita yang selama satu tahun ini ia kunci namanya di dasar hati paling dalam.
Sunghoon berjalan cepat menuju wastafel di sudut kamar. Dia memutar keran air hingga maksimal, lalu meraup air dingin itu menggunakan kedua telapak tangannya dan menghantamkannya ke wajah tampannya berkali-kali. Dia butuh kesadaran murni. Dia butuh logikanya kembali. Dia adalah seorang asisten laboratorium yang terbiasa berpikir dengan bagan alir yang terstruktur dan kalkulasi risiko yang presisi, namun malam ini, seluruh fungsi kognitif yang ia banggakan itu hancur lebur tanpa sisa hanya karena dorongan impulsif berdurasi kurang dari satu menit.
Sunghoon menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah cermin di depannya. Refleksi dirinya di dalam kaca tampak mengenaskan, rambut hitam pendeknya berantakan akibat sisa air hujan, matanya yang biasa teduh kini memerah pekat oleh perpaduan antara gairah muda yang belum tuntas, rasa bersalah yang menguliti ego, dan sebuah kelegaan masif yang anehnya terasa begitu nikmat di dadanya.
Pria itu meremas tepian wastafel keramik hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Sisi waras di dalam kepalanya mulai bangkit berdiri, berteriak sekasar mungkin untuk menuntut pertanggungjawaban atas kelancangannya.
βKamu gila, Sunghoon! Kamu bener-bener udah gila!β batinnya menjerit, memaki pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan penuh kebencian. βDia itu sahabatmu! Dia wanita yang selama setahun ini kamu jaga dengan kedok pertemanan yang bersih! Dan yang paling penting... dia punya orang lain. Pria yang posisinya nggak akan pernah bisa kamu jangkau dengan statusmu yang cuma mahasiswa biasa!β
Namun, tepat di samping makian logis itu, sebuah ego maskulin yang selama ini ia pasung dalam-dalam di bawah kemeja flanelnya ikut bangkit memberikan perlawanan yang sama sengitnya.
βTapi kamu nggak salah!β sisi gelap egonya berbisik dengan nada yang luar biasa menghasut. βKamu lihat sendiri gimana dia nggak menghindar pas kamu cium tadi. Bibirnya... dia membiarkanmu melumatnya, dia menerima seluruh damba yang kamu tumpahkan di bawah hujan itu! Kalau dia murni cuma menganggapmu sahabat, dia pasti udah nampar mukamu atau dorong tubuhmu menjauh sejak detik pertama!β
(anggap aja ada malaikat baik dan buruk wkwkwk)
βAaaarrghhh!!β
Sunghoon mengerang keras, memukul permukaan cermin wastafel dengan kepalan tangan kanannya hingga menimbulkan bunyi debuman yang menggetarkan kaca. Pria itu berbalik, berjalan frustrasi mengitari kamarnya yang berukuran empat kali empat meter layaknya seekor predator yang terkurung dalam sangkar besi. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan, lalu menjatuhkan tubuh besarnya secara paksa di atas kasur kasurnya yang polos.
Dia telentang, menatap langit-langit kamar dengan napas yang memburu patah-patah. Di dalam kesunyian malam kosan Teknik ini, Sunghoon terpaksa menyelam ke dalam sisi lain dari dirinya sendiri-sebuah wilayah abu-abu yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun di kampus, bahkan oleh Isa sekalipun.
Di balik pembawaannya yang ramah, kalem, dan selalu menjadi penengah krisis, Sunghoon sebenarnya menyimpan sebuah obsesi yang teramat gelap dan kaku terkait dirimu. Dia telah melebihi batas rindu yang wajar. Rasa sayangnya sudah lama bermutasi menjadi sebuah rasa kepemilikan terpendam yang menyiksa batinnya setiap kali dia melihatmu merenung menatap ponsel rahasiamu di kantin, atau ketika dia mengingat bagaimana tubuh ringkihmu harus menanggung memar psikologis akibat aturan kaku sang perwira tinggi militer di Jakarta.
Sunghoon memiringkan tubuhnya, memeluk salah satu bantal gulingnya erat-erat sembari menenggelamkan wajahnya di sana. Oksigen yang ia hirup terasa sesak, dipenuhi oleh bayang-bayang konsekuensi masif yang kini mulai berbaris rapi di depan matanya seperti hantu yang siap menagih tebusan.
Dia mulai menghitung risiko. Sebagai anak Teknik Industri, otaknya secara otomatis memetakan skenario terburuk dari retaknya batasan yang ia lakukan malam ini.
Konsekuensi pertama: Hubungan persahabatan kalian bertiga. Sunghoon tahu betul, setelah malam ini, atmosfer meja kayu di sudut kantin Universitas tidak akan pernah bisa kembali sama seperti dulu. Kekakuan dan kecanggungan mutlak akan berdiri di antaramu dan dirinya. Bagaimana dia bisa duduk berhadapan denganmu besok senin sambil mendengarkanmu membahas pasal Hukum Perdata, jika setiap kali kamu membuka belahan bibirmu, ingatan Sunghoon akan langsung melesat kembali pada memori pagutan basah di bawah emperan toko kain itu? Bagaimana jika kamu memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari pergaulan karena merasa tidak nyaman? Kehilangan hak istimewa untuk melihat senyummu setiap hari adalah hukuman mati yang paling ia takuti di dunia ini.
Konsekuensi kedua, dan yang paling membuat bulu kuduk Sunghoon meremang dingin: Laksamana Pertama Jay.
Sunghoon meraba dadanya yang berdegub kencang. Dia teringat cerita Isa tentang bagaimana Jay mengontrol total seluruh jaringan komunikasi dan pergaulanmu menggunakan perangkat intelijen pribadinya. Pria yang kamu panggil βAbangβ itu bukan sekadar pacar posesif biasa, dia adalah seorang penguasa yang akan naik jabatan bintang dua di pundak yang memiliki otoritas mutlak untuk menyingkirkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan wilayah kepemilikannya.
βKalau dia tahu... kalau orang itu denger soal malam ini dari sadapan atau mata-matanya...β Sunghoon berbisik parau pada kegelapan kamar, rahangnya gemetar tipis bukan karena takut akan keselamatan fisiknya sendiri, melainkan karena dia tahu Jay akan melimpahkan kemarahan taktisnya kepadamu, meremukkan kembali kestabilan mentalmu yang baru saja membaik beberapa bulan terakhir ini.
Sunghoon merutuki kebodohannya. Dia merasa menjadi pria egois yang tidak bertanggung jawab, demi menuntaskan dahaga yearning-nya yang sudah berada di ubun-ubun, dia telah menaruhmu di dalam posisi bahaya yang luar biasa kritis. Jika Jay memutuskan untuk pulang dari samudra lepas besok pagi karena mendeteksi ada anomali dalam perilakumu, Sunghoon tahu hubungan rahasiamu akan kembali bertransisi menjadi sebuah sangkar besi yang mencekik batinmu dua kali lipat lebih kejam.
Namun, di tengah segala bentuk ketakutan dan kalkulasi risiko yang meremukkan logikanya, Sunghoon tidak bisa membohongi selapis rasa terdalam di batinnya. Ada sebuah erangan lega yang terselip di balik setiap napas frustrasinya malam ini.
Pria tegap itu berguling kembali, menatap dinding kamar yang dipenuhi tempelan kertas rumus optimasi sistem. Dia menyentuh bibirnya sendiri menggunakan ujung ibu jarinya, ingatan visualnya kembali memutar adegan di Toko tua dengan detail yang teramat sangat jernih.
Dia ingat bagaimana rasanya saat bibir kaku mereka pertama kali menyatu-rasa dingin dari sisa air hujan yang mendadak menguap digantikan oleh sengatan listrik statis yang membakar gairah mudanya. Dia ingat bagaimana tubuh kecilmu bergetar di balik kungkungkungan dadanya, dan bagaimana pasrahnya belahan bibirmu menerima setiap hisapan dan lumatan dalam yang ia berikan dengan kesadaran yang setipis tisu.
βTapi aku udah bilang... aku udah nyatain semuanya di depan gerbangnya,β bisik Sunghoon lirih, seulas senyuman tipis tanpa sadar terukir di wajah tampannya yang letih.
Ada rasa puas yang luar biasa candu yang merayap di dalam dadanya. Selama setahun ini dia bertindak sebagai pecundang kaku yang hanya bisa membelikanmu obat saat kamu sakit asam lambung, pria yang hanya bisa menggeser gelas es teh manis milikmu agar tidak menumpahi baju kuliahmu, sementara pria lain di Jakarta memegang kendali penuh atas raga dan jiwamu. Namun malam ini, untuk waktu beberapa puluh detik, Sunghoon telah membuktikan pada dirinya sendiri dan pada dirimu, bahwa dia memiliki keberanian seorang pria sejati untuk melintasi garis batas kekuasaan sang Laksamana.
Dia telah menanamkan jejaknya di hidupmu. Dia telah membuat pertahanan batasan yang dibuat Jay retak lebur di bawah kuasanya. Sunghoon tahu, setelah malam minggu ini, kamu tidak akan pernah bisa melihatnya murni sebagai βSunghoon sang sahabatβ lagi. Setiap kali matamu menatap figur tingginya di selasar kampus, memori ciuman intens di bawah emperan toko itu akan selalu bangkit berdiri, memaksa kamu untuk menyadari bahwa ada seorang pria muda seumuranmu yang mencintaimu dengan intensitas kegilaan yang sama besarnya dengan sang perwira tinggi militer.
Sunghoon memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan keheningan malam kosan Teknik melilit tubuhnya yang letih hingga ke ujung fajar. Konflik batinnya mungkin belum selesai, dan hari senin nanti pasti akan membawa kecanggungan yang luar biasa menyiksa di bawah meja kantin, namun bagi seorang Sunghoon yang jiwanya telah lama dirundung damba, rasa manis dari bibir (y/n) malam ini adalah sebuah takdir abu-abu yang siap ia pertahankan dengan seluruh sisa taruhan hidupnya di kampus, masa bodoh dengan ancaman badai militer yang mungkin sedang mengintai dari tengah samudra lepas.
to be continued
dicipok Sunghoon dalam keadaan begini gimana mau nolakβπ»π
ampuni aku michiesπ₯Ήππ»




orang baru jangan ikut campur pls
gaperna sekesal ini sama y/n jujurππ