36 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa like sampe tembus 100 lebih ya
Cahaya pagi yang bersih dan sejuk menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan pendar keemasan di atas seprai putih yang berantakan. Saat matamu terbuka perlahan, hal pertama yang menyambut indramu bukan lagi rasa sesak dari sisa tangisan kemarin, melainkan kehangatan masif dari dada bidang yang mendekapmu tanpa celah sepanjang malam.
Jay sudah terjaga. Pria berumur tiga puluh tiga tahun itu berbaring miring, menyangga kepalanya dengan satu tangan, sementara sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah wajahmu dengan binar yang luar biasa teduh. Tidak ada lagi kilat amarah, tidak ada lagi topeng dingin yang biasa ia kenakan di depan publik. Detik itu, dia murni menjelma menjadi seorang pria yang tengah dirundung damba mendalam pada wanita di pelukannya.
βPagi, Dek,β bisik Jay, suara baritonnya yang serak khas bangun tidur mengalun rendah, menggetarkan rongga dadanya yang menempel pada bahu polosmu.
Kamu mengerjap, mengulas senyum tipis yang tulus sambil merapatkan tubuhmu ke dalam dekapannya. βPagi, Bang... Abang udah lama bangun?β
βSetengah jam yang lalu. Abang cuma nggak mau bergerak karena kamu tidurnya nyenyak banget,β jawab Jay lembut. Tangan kirinya yang bebas bergerak naik, mengusap pipimu dengan bantalan jemarinya yang kasar namun terasa sangat berhati-hati, seolah takut merusak ketenangan pagi kalian.
Perubahan sikap Jay pagi ini terasa begitu nyata. Sifat dominannya tidak hilang-pria itu tetap mengunci pinggangmu dengan kakinya yang panjang dan menuntut seluruh atensimu terpusat padanya-namun bumbu agresi yang biasanya menyertai egonya kini sepenuhnya luntur, berganti menjadi sebuah afeksi protektif yang teramat sangat memanjakan batinmu.
Jay bangkit lebih dulu, menolak membiarkanmu turun dari kasur dengan alasan udara pagi ini terlalu dingin untuk kulitmu yang masih sensitif setelah penyatuan semalam. Pria tegap itu mengenakan celana kargo dan kaus hitam santai, lalu berjalan ke dapur kecil kosanmu untuk membuatkan dua cangkir teh hangat dan menata bubur ayam yang sengaja ia beli secara sembunyi-sembunyi di depan gang saat kamu masih terlelap.
Di atas meja belajar kecilmu, kalian sarapan bersama dalam kesunyian yang intim. Jay beberapa kali menyuapimu dengan telaten, menepis pelan tanganmu saat kamu hendak mengambil sendok sendiri. Sifat mendominasinya kini berwujud tindakan-tindakan kecil yang protektif, memaksa kamu untuk menerima seluruh curahan perhatiannya tanpa bantahan. Dan yang paling membuat hatimu tenang, tidak ada satu pun tuntutan gairah atau sindiran yang keluar dari bibirnya setelah itu. Sesi pemujaan fisik yang lambat dan manis tadi subuh tampaknya sudah lebih dari cukup untuk menambal seluruh retakan di dalam ego sang pria dewasa.
βMandi dan ganti bajumu, Dek. Pakai baju yang paling nyaman,β ujar Jay setelah kalian menyelesaikan sarapan, matanya menatapmu dengan binar posesif yang kini terasa menghangatkan. βAbang mau ajak kamu jalan-jalan sebentar sebelum Abang harus balik.β
βJalan-jalan? Ke mana, Bang? Abang nggak ngejar waktu buat penerbangan?β tanyamu sedikit ragu, mengingat jadwalnya yang biasanya sangat ketat.
Jay menggeleng pelan, senyuman tipis terukir di bibirnya yang seksi. βJadwal Penerbangan bisa diatur, (y/n). Hari ini waktu Abang sepenuhnya milik kamu sampai siang nanti. Abang mau tebus semua rasa sakit hatimu yang kemarin.β
Satu jam kemudian, kamu sudah duduk di dalam mobil hitam milik Jay yang melaju santai membelah jalanan kota Malang yang mulai ramai. Kali ini, Jay membawa mobilnya sendiri tanpa embel-embel pengawalan, murni bertindak sebagai seorang pria sipil biasa yang sedang membawa kekasih mudanya berkencan di akhir pekan.
Jay membawamu ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota, menggandeng jemari tanganmu yang kecil masuk ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat di sepanjang koridor toko. Sifat dominan Jay kembali terlihat ketika dia membawamu masuk ke dalam butik pakaian, toko buku, hingga konter kosmetik ternama. Pria itu tidak memberikanmu ruang untuk melihat label harga, setiap kali matamu tertuju agak lama pada sebuah barang-baik itu sebuah novel Hukum yang tebal, kardigan rajut baru, atau tas kecil yang cantik-Jay akan langsung mengambil barang tersebut dan menyerahkannya ke kasir dengan gerakan yang mutlak, tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.
βBang, ini udah kebanyakan... aku nggak enak, aku nggak butuh tas ini,β protesmu berbisik saat ia menambahkan satu barang lagi ke atas meja kasir.
Jay menunduk, menatapmu dengan tatapan mata elangnya yang dalam, mengunci pergerakanmu dengan dominasi verbalnya yang tak terbantahkan. βAbang bilang diam dan terima saja, Dek. Abang punya uang yang lebih dari cukup untuk membelikan apa pun yang kamu mau di dunia ini. Jangan pernah menolak pemberian dari pria yang punya kamu seutuhnya.β
Anehnya, tidak ada kesepakatan terselubung atau ancaman rahasia di balik sikap murah hatinya kali ini. Jay murni membelikan semua itu sebagai bentuk kompensasi atas trauma emosional yang sempat ia goreskan di dadamu kemarin siang. Dia ingin membuktikan dengan caranya sendiri bahwa meski dia belum bisa memberikan legalitas nama di depan hukum negara saat ini, dia sanggup memenuhi seluruh kebutuhan hidupmu dengan perlindungan finansial dan fisik yang mutlak tanpa meminta imbalan fisik apa pun sebagai gantinya.
Sebelum kembali ke kosan, Jay memarkirkan mobilnya di sekitar kawasan pedestrian kota. yang ikonik. Dia mengajakmu berjalan kaki menyusuri trotoar berarsitektur kolonial, menikmati sisa-sisa angin sejuk yang berhembus di bawah naungan pohon-pohon rindang.
Atmosfer di antara kalian berdua terasa begitu ringan, bersih dari racun kecemburuan atau bayang-bayang ketakutan akan perjodohan Ayahmu. Di tengah keramaian pedestrian, Jay tidak lagi menyembunyikan kedekatan kalian, lengan kekarnya merangkul bahumu dari samping, menarik tubuhmu agar tetap berjalan di sisi dalamnya yang aman dari laju kendaraan, menyegel kepemilikannya atas dirimu di depan pandangan orang asing yang berlalu-lalang.
Kalian berhenti di sebuah kedai kopi kecil bernuansa retro. Jay memesankan smoothies kesukaanmu dan croissant serta segelas kopi hitam tanpa gula untuk dirinya sendiri. Sambil duduk berhadapan di sudut kedai yang sunyi, kamu menceritakan banyak hal tentang tugas-tugas kuliahmu sebelum libur panjang dimulai yang belum sempat kamu ceritakan padanya karena kesibukan Jay di pangkalan, tentang dosen-dosen Hukum yang menyebalkan, hingga lelucon kecil yang biasa kamu bagikan bersama Isa di kampus.
Jay mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibirmu dengan fokus penuh, menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi sembari sesekali menanggapi ceritamu dengan tawa baritonnya yang rendah dan renyah. Jiwa pria itu tampaknya benar-benar telah menemukan kedamaiannya kembali, rasa cemas yang sempat membuatnya menggila kemarin telah sepenuhnya diredam oleh kepatuhan dan kehangatan yang kamu berikan sejak fajar menyingsing. Dia tidak lagi merasa terancam oleh keberadaan Inspektur Polisi Dua atau siapa pun, karena siang ini, dia tahu dengan pasti bahwa seluruh jiwa dan raga mahasiswi Hukum di depannya ini telah terkunci mati atas namanya seorang.
Waktu berjalan terlalu cepat ketika hati sedang dilingkupi kebahagiaan. Tepat pukul sebelas siang, mobil hitam Jay kembali berhenti di depan gang kosanmu. Suasana domestik yang hangat di dalam mobil mendadak bergeser menjadi sebuah keheningan yang sarat akan beratnya rasa perpisahan emosional yang mulai merayap naik.
Jay mematikan mesin mobilnya, memutar tubuh tegapnya untuk menghadap ke arahmu sepenuhnya. Tatapan elangnya kembali melunak, memancarkan binar kesedihan yang tipis karena dia harus kembali meninggalkan kota ini untuk waktu yang belum ditentukan demi menyelesaikan urusan promosinya di Jakarta.
βBarang-barangmu nanti biar Abang yang bawakan sampai ke atas kamar,β ujar Jay, suaranya kembali merosot menjadi serakan rendah yang hangat.
Kalian melangkah bersama menaiki anak tangga kosan yang sepi. Begitu sampai di depan pintu kamarmu yang terkunci, Jay meletakkan seluruh kantong belanjaan mahal di lantai, lalu melangkah maju untuk menyudutkan tubuh ringkihmu di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu.
Kedua tangan besar Jay merayap naik, membingkai wajahmu dengan kelembutan yang teramat tulus. Dia menatap lekat-lekat ke dalam sepasang matamu, seolah sedang merekam setiap detail binar matamu ke dalam memorinya agar bisa ia jadikan penawar rindu di dalam kesunyian kamar mesnya nanti malam.
βAbang pergi dulu ya, Dek,β bisik Jay, keningnya bersandar lembut di keningmu, membiarkan ujung hidung kalian saling bergesekan dengan ritme yang manis. βJaga dirimu baik-baik di sini. Jangan telat makan, jangan terlalu malam kalau mau baca novelnya. Dan yang paling penting... ingat janji kamu ke Abang semalam.β
βIya, Bang... Abang juga harus jaga kesehatan di Jakarta. Jangan terlalu stres sama kerjaan,β jawabmu parau, kedua tanganmu melingkar erat di sekeliling pinggang kekarnya, meremas kain kaos hitamnya dengan sisa-sisa berat hati yang menuntutnya untuk tidak pergi terlalu cepat.
Jay tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh damba yang begitu indah. Dia menundukkan kepalanya, menyatukan belahan bibir kalian dalam sebuah ciuman perpisahan yang luar biasa panjang, lambat, dan memabukkan. Ciuman yang bersih dari nafsu brutal, murni sebuah lumatan manis yang sarat akan janji setia dan keterikatan emosional yang mendalam di antara dua hati yang sempat hancur namun kini telah kembali utuh saling bertaut.
Begitu pagutan itu terlepas, Jay memberikan satu kecupan terakhir di keningmu dengan durasi yang lama, menyalurkan seluruh sisa afeksinya yang tak bersyarat sebelum dia akhirnya melangkah mundur. Pria tegap itu membalikkan badannya, berjalan menuruni tangga kosan dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan dan damai, meninggalkanmu di depan pintu kamar dengan perasaan cinta yang begitu pekat dan mengunci mati seluruh hidupmu di bawah bayang-bayang pesonanya yang abadi.
Cklek. Blam.
Pintu kayu kamar kosanmu tertutup rapat, mengunci mutlak seluruh kebisingan dunia luar di balik punggungmu. Kamu menyandarkan tubuhmu di balik daun pintu yang kokoh itu selama beberapa detik, memejamkan mata sembari melepaskan satu tarikan napas panjang yang luar biasa lega. Rongga dadamu yang selama hampir tiga puluh enam jam terakhir terasa seperti dihantam badai topan psikologis, kini mendadak terasa begitu lapang, bersih, dan dipenuhi oleh kehangatan sisa-sisa afeksi yang ditinggalkan Laksamana Pertama Jay di undakan tangga beberapa menit lalu.
Kamu melangkah menuju kasur, menjatuhkan tubuhmu di atas seprai putih yang kini sudah sewajarnya berantakan. Bau maskulin beraroma kayu cendana dan mint khas tubuh Jay masih tertinggal pekat di atas bantal milikmu, memberikan ilusi optik seolah pria tegap itu masih mengungkungmu di sana dengan segala bentuk dominasi lembutnya.
Namun, di atas semua rasa lega yang membuncah ini, ada satu beban moral yang mendadak mendesak di dalam kepalamu. Kamu perlu berbicara dengan seseorang. Kamu perlu menumpahkan seluruh detail ketegangan yang nyaris meremukkan kewarasanmu sejak meja makan restoran mewah kemarin siang. Dan di dunia ini, hanya ada satu nama yang memegang kunci rahasia dari seluruh labirin kegilaan hubunganmu dengan sang perwira tinggi.
Isa.
Kamu meraba saku celanamu, mengambil ponselmu, lalu menekan ikon panggilan suara pada kontak nama sahabat terbaikmu itu. Tidak butuh waktu lama, hanya pada nada dering ketiga, sambungan telepon itu langsung terhubung dengan suara tut pendek.
βHalo, (y/n)? Demi Tuhan, kamu ke mana aja dari kemarin?! Aku chat nggak dibalas, aku telepon juga nomor keduamu nggak aktif! Kamu nggak apa-apa, kan? Ayahmu nggak curiga soal apartemen itu, kan?β
Rentetan pertanyaan yang meluncur dengan nada panik dan memburu dari seberang saluran langsung menyambut telingamu. Suara cempreng namun sarat akan kekhawatiran yang tulus dari Isa seketika membuat sudut bibirmu berkedut naik.
βIsa... tenang dulu, Sa. Aku nggak apa-apa. Aku bener-bener aman sekarang,β ujarmu dengan nada suara yang sengaja kamu buat selurus dan setenang mungkin, mencoba menurunkan tensi kepanikan sahabatmu.
Terdengar helaan napas berat dari seberang telepon. βAman gimana maksudmu? Kemarin pas kamu bilang Ayahmu mendadak datang di sini dan ngajak makan siang di resto, aku udah hampir jantungan di kosan, tahu nggak! Aku takut rahasia kamu sama Laksamana itu dibongkar sama intelnya Ayahmu!β
Kamu mengubah posisi dudukmu menjadi bersila di atas kasur, memeluk sebuah bantal kecil di pangkuanmu. βKemarin itu... bener-bener hampir kayak kiamat kecil buat aku, Sa. Ayahku ternyata emang sengaja datang karena mau ngenalin aku sama cowok lain. Inspektur Polisi Dua, anak kenalan dinasnya di Mabes. Dan yang bikin gila... Bang Jay mendadak datang ke kosanku pakai seragam batik formal,otomatis ketemu sma Ayahku dong.... terus Ayahku ngajakin dia makan siang bersama, bahkan duduk semeja sama aku dan Ayah.β
Suara di seberang telepon mendadak hening total selama beberapa detik. Kamu bahkan bisa mendengar desau napas Isa yang tertahan akibat syok yang luar biasa masif.
βKamu... kamu bercanda, kan?β bisik Isa parau. βLaksamana Jay duduk semeja sama Ayahmu?! Terus gimana?! Mereka baku hantam di sana?!β
βNggak, justru itu yang bikin mentalku hancur kemarin, Sa,β tuturmu lambat, mulai mempreteli detail demi detail kejadian tanpa ada yang ditutupi. βBang Jay main cerdik banget di depan Ayah. Dia malah dukung perjodohan itu. Dia bilang di depan mukaku kalau aku ini masih terlalu kecil, mentalku belum stabil buat pacaran sama perwira, dan aku harus fokus kuliah Hukum. Aku ngerasa diinjak-injak banget, Sa. Aku ngerasa kayak... selama dua tahun ini aku cuma dianggap jalang rahasia yang gak punya harga diri di depan publik.β
Mendengar penuturanmu, nada suara Isa di seberang telepon mendadak berubah drastis. Ada jeda yang cukup panjang sebelum dia akhirnya merespons dengan nada yang sedikit defensif dan risih-sebuah reaksi psikologis yang sangat wajar karena selama ini Isa adalah orang pertama yang paling vokal menentang bagaimana Jay mengontrol total seluruh ruang gerak pertemananmu di kampus.
βTuh, kan... Apa aku bilang dari dulu, (y/n)?β Nada suara Isa meninggi, ada selipan rasa jengkel yang tak bisa ia sembunyikan meski ia mencoba menahannya. βLaki-laki tua kayak dia itu cuma mau ambil enaknya aja dari kamu! Dia punya kuasa, dia punya segalanya, tapi pas dihadapkan sama komitmen di depan orang tuamu, dia mundur dan milih buat nyelametin dua bintang di pundaknya sendiri! Dia egois, (y/n)!β
(Jay dikatain tua di usia 33 tahun dongπ
sama Isa)
Kamu menarik napas dalam-dalam, memahami sepenuhnya dari mana arah kemarahan Isa berasal. Sebagai sahabat, Isa telah melihat bagaimana kamu menangis berdarah-darah saat nomor ponselmu disadap oleh Jay, atau bagaimana lingkungan pergaulanmu menyempit drastis karena sifat posesif sang Laksamana.
βAku tahu, Sa. Kemarin aku juga mikir kayak gitu. Aku bahkan sempat teriak putus di depan mukanya pas dia ngikutin aku sampai ke kamar kosan setelah Ayah balik,β lanjutmu, suaranya melembut, mencoba membawa Isa masuk ke dalam ruang rasa yang kamu rasakan pagi ini. βKita sempat berantem hebat banget di kamar. Kamar kosku sampai berantakan karena aku nolak dia sekasar mungkin.β
βTerus? Dia kasar sama kamu?!β tanya Isa dengan nada protektif yang meningkat dua kali lipat.
βAwalnya dia emosional banget karena egonya terluka pas aku ngomong putus. Tapi setelah itu... ada satu momen di mana garda topeng manipulatifnya pecah total, Sa. Untuk pertama kalinya selama dua tahun, aku lihat Bang Jay nangis di depan mukaku. Dia meluk aku erat banget sambil gemeteran, dia bilang dia ketakutan setengah mati kalau aku beneran bakal pergi atau nerima perjodohan dari Ayah.β
Kamu mengusap permukaan kasurmu dengan pandangan menerawang. βDia cerita semuanya, Sa. Tentang tekanan dinas di Jakarta, tentang gimana dia ngerasa kewarasannya cuma bertumpu sama keberadaanku di sini. Pagi ini dia berubah total jadi sosok yang penyayang banget. Dia ngajakin aku jalan-jalan, beliin semua barang yang aku mau tanpa minta imbalan apa pun kayak biasanya. Mentalku dan perasaanku sekarang... jauh lebih baik dan stabil dari sebelumnya, Sa. Aku ngerasa bener-bener disayang sama dia sebagai seorang wanita, bukan cuma sebagai rahasia.β
Di seberang saluran, Isa mendengarkan seluruh penjelasan panjangmu dengan ketenangan yang dipaksakan. Kamu tahu sahabatmu itu pasti sedang menahan seribu satu kritik logis di dalam kepalanya. Namun, karena dia sangat menyayangimu dan tidak ingin membuatmu kembali jatuh ke dalam lubang depresi, Isa memilih untuk menekan ego skeptisnya. Menjaga kenyamanan batinmu saat ini adalah tugas paling penting baginya sebagai seorang pelindung sekunder di hidupmu.
βAsalkan kamu beneran bahagia dan nggak ngerasa tertekan lagi, aku bakal tetep dengerin cerita kamu, (y/n),β ujar Isa akhirnya, suaranya melunak dengan ketulusan yang murni. βAku nggak mau kembali berburuk sangka atau bikin kamu merasa disudutkan di kosan sendiri. Tapi janji sama aku... kalau suatu saat dia mulai balik diktator lagi, kamu harus langsung cerita ke aku. Jangan dipendam sendiri.β
βIya, Isa... janji. Makasih banyak ya udah selalu mau dengerin kegilaan hubunganku,β jawabmu dengan senyuman lega yang merekah lebar di wajahmu.
Atmosfer obrolan di telepon mendadak mencair, bergerak mengalir seru dan santai seperti bagaimana biasanya dua mahasiswi menghabiskan waktu luang mereka di akhir pekan. Setelah tumpukan beban emosionalmu selesai ditumpahkan, poros pembicaraan kini bergeser menuju kehidupan pribadi Isa yang selama ini hampir tidak pernah tersentuh oleh drama romansa apa pun.
βEh, omong-omong soal cowok...β Isa mendadak memotong kalimatnya sendiri, ada selipan nada gugup dan salah tingkah yang sangat jarang kamu dengar dari sosoknya yang biasanya meledak-ledak. βSebenernya... dari kemarin ada sesuatu yang mau aku ceritain ke kamu, tapi akunya masih ragu.β
Kamu langsung menegakkan punggungmu, insting kepo sahabatmu seketika menyala terang. βApa?! Sa, demi apa kamu punya rahasia dari aku? Cerita gak sekarang!β
Terdengar suara tawa renyah yang tertahan dari seberang sana. βIh, jangan dipotong dulu! Jadi begini... beberapa hari lalu, Sunghoon... dia mendadak nge-chat aku. Katanya, ada salah satu temen nongkrongnya di kampus yang pengen kenalan sama aku setelah lihat fotoku di feeds Instagram-nya Sunghoon.β
Kamu melebarkan matamu dengan binar antusias yang besar. βSeriusan?! Siapa cowoknya? Anak Fakultas mana?!β
βAnak Teknik Mesin, angkatan atas kita,β jawab Isa, suaranya kembali merendah, ada nada bimbang yang kentara di sana. βKamu tahu sendiri kan, (y/n)... selama ini aku bener-bener nggak pernah mencoba buat membuka hati ke cowok mana pun. Aku... aku sedikit kena trauma psikologis gara-gara ngelihat gimana rumit dan toksiknya hubungan percintaan kamu sama Laksamana Jay selama dua tahun ini. Di dalam kepalaku, pacaran itu rasanya kayak masuk ke dalam sangkar yang penuh jebakan. Makanya aku sengaja bangun benteng pertahanan diri yang kuat banget biar gak ada cowok yang bisa mendekat.β
Mendengar pengakuan jujur Isa, hatimu mendadak diserang rasa bersalah yang tipis. Kamu tidak pernah menyangka bahwa pilihan hidupmu untuk bertahan di bawah kuasa manipulatif Jay ternyata memberikan dampak sekunder berupa trauma realitas pada sahabat terbaikmu sendiri.
βMaaf ya, Sa... gara-gara aku, kamu jadi mikir semua hubungan bakal se-ekstrem itu,β bisikmu tulus.
βIh, bukan salahmu juga kali! Kan yang bajingan itu si Laksamana tua itu!β potong Isa cepat, memicu tawa kecil di antara kalian berdua. βTapi kemaren itu Sunghoon bener-bener membujuk aku, (y/n). Dia bilang temennya ini orangnya baik banget, ramah, dan gak punya sifat dominan yang aneh-aneh kayak tentara. Sunghoon bahkan berani jamin kalau cowok ini tipe green flag berjalan.β
βTerus? Kamu terima?β tanyamu dengan nada menggoda.
βIya... pelan-pelan aku coba buat buka hati,β aku Isa dengan nada malu-malu yang sangat menggemaskan. βKemarin malam akhirnya aku nerima ajakan dia buat keluar jalan-jalan sore ini. Cuma cari makan bareng di sekitar Alun-alun sih, tapi jujur... jantungku rasanya mau copot sekarang, (y/n)! Aku bingung harus pakai baju apa nanti!β
Kamu tertawa lepas mendengar kepanikan sahabatmu. Sisa waktu telepon itu akhirnya dihabiskan dengan obrolan seru seputar rekomendasi pakaian, gaya rambut, hingga tips kecil bagaimana menghadapi kencan pertama agar benteng pertahanan diri Isa tidak membuat cowok Teknik itu ketakutan di pertemuan pertama mereka. Percakapan itu mengalir begitu alami, membuktikan bahwa seberat apa pun konflik horizontal yang kalian hadapi di dunia luar, ruang persahabatan kalian akan selalu menjadi tempat paling aman untuk pulang.
βYa udah, (y/n)... aku mau siap-siap mandi dulu ya, biar nggak telat pas dijemput nanti. Kamu istirahat yang bener di kosan, jangan mikirin hal-hal aneh lagi!β ujar Isa sebelum mengakhiri panggilan.
βIya, Sa. Semangat ya kencannya! Jangan galak-galak sama cowok itu!β godamu sebelum menekan tombol merah pada layar ponselmu.
Klik.
Sambungan telepon berakhir, meninggalkan kesunyian yang damai di dalam kamarmu. Kamu meletakkan ponselmu di atas meja belajar, lalu berjalan mendekati deretan kantong belanjaan mahal berlogo butik ternama yang tadi diletakkan Jay di samping lemari pakaianmu.
Satu per satu, kamu membuka paperbag tersebut dengan perasaan yang bener-bener membuncah indah. Di dalam tas pertama, ada dua potong kardigan rajut berbahan wol premium berwarna pastel-tipe pakaian hangat yang sangat cocok untuk menangani hawa dingin malam hari, sebuah pembuktian tak kasat mata bahwa Jay sangat memperhatikan detail kenyamanan fisikmu.
Di dalam tas berikutnya, kamu menemukan tiga buah novel Hukum pidana internasional edisi terbaru yang selama ini hanya bisa kamu lihat di daftar keinginan toko buku offline karena harganya yang selangit bagi kantong seorang mahasiswi. Jay membelikannya untukmu tanpa banyak bicara, murni untuk mendukung kelancaran studimu di kampus tanpa menuntut imbalan prestasi apa pun sebagai gantinya.
Dan di tas terakhir, ada sebuah kotak kecil berisi paket kosmetik lengkap dari merek mewah yang biasa digunakan oleh para selebritis wanita di Ibu Kota. Kamu menyentuh permukaan kemasan produk tersebut dengan jemarimu, menyadari betapa Jay telah menggelontorkan nominal yang fantastis sore ini hanya untuk memastikan bahwa wanitanya tidak kekurangan kemewahan sedikit pun di tanah rantaunya.
Melihat semua hamparan hadiah itu, hatimu sepenuhnya dipenuhi oleh rasa syukur yang mendalam. Kamu menyadari bahwa meski cara mencintai seorang Jay sering kali terasa mengurung dan penuh manipulasi psikologis, pria dewasa itu sedang mencoba dengan segenap kemampuannya untuk menjadi sosok pelindung terbaik yang bisa ia lakukan di tengah keterbatasan status legalitas mereka saat ini.
Kamu kembali mengambil ponselmu, membuka aplikasi pesan singkat khusus yang hanya terhubung dengan nomor rahasia milik Jay. Di dalam ruang obrolan yang biasanya dipenuhi oleh kalimat perintah instruksi kedinasan atau jadwal pendaratan yang kaku, kamu mengetikkan untaian kalimat baru yang murni lahir dari lubuk hatimu yang paling dalam.
(y/n) : Bang Jay... aku udah buka semua barang belanjaannya di kamar. Kardigannya bagus banget, pas di tubuhku, dan novel-novelnya bener-bener membantu buat tugasku minggu depan. Makasih banyak ya, Sayang... makasih karena hari ini Abang udah baik banget dan manja-manjain aku tanpa minta apa pun sebagai imbalannya.
Hati-hati di jalan ya, Bang. Semoga penerbangannya lancar sampai Jakarta dan nggak ada kendala cuaca di atas sana. Kabari aku kalau Abang udah mendarat di pangkalan. I love you, My Commander. π€
Kamu menekan tombol kirim, menatap ikon centang dua yang langsung berubah menjadi biru dalam hitungan detik-sebuah indikasi bahwa pria tegap itu sedang memandangi layar ponselnya di dalam mobil menuju mes persiapan penerbangan.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Jay untuk memberikan balasan pesan teks yang begitu singkat namun sarat akan otoritas posesifnya yang khas, mengunci kembali seluruh sisa komitmen emosionalmu di bawah kuasanya sebelum dia membelah langit malam menuju Jakarta.
Abang Jayπ: Sama-sama, Sayang. Pakai kardigannya setiap kali kamu keluar malam, jangan biarkan angin luar bikin kulit halusmu kedinginan. Pelajari novel-novel itu dengan baik, Abang mau wanitanya jadi lulusan Hukum terbaik di kampusnya.
Abang sudah di mes sekarang, sebentar lagi masuk ke ruang persiapan penerbangan. Jangan matikan Hp-mu, jangan pernah coba-coba balas chat dari pria mana pun di kampus selama Abang di Jakarta. Tunggu Abang balik ke sana lagi nanti. You are mine, (y/n). Always.
Kamu memeluk ponselmu di atas dada, membiarkan seulas senyuman paling bahagia terukir di wajahmu seiring dengan suara gemuruh mesin pesawat yang sayup-sayup terdengar melintas tinggi di atas langit kota ini, membawa pergi sang pelindung dominanmu menuju medan tugasnya dengan hati yang jauh lebih ringan dan damai.
to be continued




anda baik kami curiga
Aku masih curiga,
Sowwryy Jay ππ π₯Ί