32 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa like sampai tembus 100 lebih ya
Tirai beludru tegap berwarna kelabu pekat di kamar tidur utama unit apartemen itu telah tertutup rapat, menghalau sisa-sisa sinar matahari yang berusaha merangsek masuk. Ruangan itu seketika tenggelam dalam remang yang sunyi, menyisakan bias lampu dinding kekuningan yang temaram di sudut ranjang. Aroma kayu cendana yang menenangkan dari ruang tengah kini bercampur baur dengan wangi parfum mint maskulin milik Jay yang menguar pekat akibat suhu tubuhnya yang mulai meroket naik.
Jay merebahkan tubuh ringkihmu di atas seprai sutra abu-abu dengan kelembutan yang teramat sangat, seolah-olah kamu adalah barang pecah belah yang paling berharga di dalam hidupnya. Namun, di balik kelembutan gerakan itu, ada sebuah tuntutan mutlak yang tidak bisa dibantah. Pria itu langsung mengurung pergerakanmu, memosisikan tubuh tegapnya yang besar tepat di atas tubuhmu, menumpu berat badannya dengan kedua siku kekarnya di sisi kepalamu.
Sepasang mata elang Jay yang pekat kini berubah menggelap sepenuhnya, dipenuhi oleh kilat hasrat dan rasa rindu (yearning) yang begitu besar, yang selama berbulan-bulan ini tertahan di balik seragam dinas militernya di Jakarta. Pria itu menatapmu seolah-olah kamu adalah satu-satunya tempat ia pulang setelah lelah bertempur dengan kerasnya dunia birokrasi dan kedinasan bintang satu.
βAbang kangen banget sama kamu, Dek... Setengah mati Abang nahan diri di Jakarta,β bisik Jay, suaranya kini merosot drastis menjadi serakan bariton yang amat rendah dan berat, bergetar tepat di depan permukaan bibirmu.
Kamu tidak mampu menjawab. Tenggorokanmu tercekat, bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena getaran hasrat yang mendadak disuntikkan Jay langsung ke dalam pembuluh darahmu. Kedua tanganmu yang masih sedikit gemetar perlahan naik, meraba dada bidang Jay yang berbalut kemeja linen hitam, merasakan detak jantung sang Laksamana yang berpacu kencang dan tidak beraturan-sama liarnya dengan detak jantungmu sendiri.
Tanpa memberikan jeda bagi logikamu untuk kembali berpikir, Jay menundukkan kepalanya, menyatukan kembali belahan bibir kalian dalam sebuah ciuman yang luar biasa dalam. Kali ini, ciuman itu tidak mengandung intimidasi dingin seperti di meja makan tadi. Ini adalah sebuah ciuman yang sarat akan rasa lapar, sebuah pagutan yang menuntut balasan atas waktu-waktu yang hilang selama dua hari kemarin. Lidahnya merangsek masuk dengan penuh niat namun lembut, menyapu seluruh rongga mulutmu, menghisap ranum bibirmu bergantian dengan ritme yang begitu memabukkan.
Kamu melenguh rendah di dalam pagutannya, memejamkan mata erat-erat saat ciuman Jay mulai beralih menuruni rahang tegasnya, lalu hinggap di ceruk lehermu. Di sana, Jay memberikan hisapan-hisapan dalam yang sensual, meninggalkan tanda kemerahan yang kontras di atas kulit lehermu yang putih bersih, seolah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya yang sah sebelum badai yang sesungguhnya dimulai.
Jemari tangan Jay yang besar dan kasar mulai bergerak taktis di atas tubuhmu. Dengan ketelitian seorang perwira tinggi, ia membuka satu demi satu kancing pakaian kasual yang kamu kenakan. Setiap kali kulit tangan kasarnya bersentuhan langsung dengan permukaan kulit perutmu yang sensitif, tubuhmu refleks tersentak, menciptakan sensasi sengatan listrik halus yang membuat bulu kudukmu meremang hebat.
Kamu terbuai sepenuhnya. Segala doktrin hukum, pasal asusila, dan nasihat marah dari Isa beberapa jam lalu menguap tuntas dari kepalamu, terbakar habis oleh kobaran gairah yang dinyalakan oleh pria di atasmu. Kamu membiarkan dirimu ditarik masuk ke dalam pusaran dosa yang paling nikmat ini, menyerahkan seluruh kendali tubuhmu pada jemari Jay yang kini mulai menelanjangi sisa pertahanan dirimu hingga tak ada sehelai benang pun yang tersisa.
Ketika tubuh polosmu sepenuhnya terekspos di bawah pendar lampu kekuningan, Jay sempat tertegun selama beberapa detik. Tatapan matanya yang pekat menyapu setiap lekuk tubuhmu dengan binar pemujaan yang teramat dalam. Tidak ada pandangan merendahkan, Jay menatapmu layaknya seorang pria yang sedang mengagumi karya seni paling suci yang pernah ia miliki di dunia ini.
Dengan gerakan perlahan, Jay melepaskan kemeja linen hitamnya sendiri, menampilkannya dada bidangnya yang tegap, perut six-pack yang keras berurat, serta beberapa guratan luka samar hasil dari latihan militer berat dan operasi laut dalam di masa mudanya. Bahu lebarnya yang kokoh seolah menegaskan bahwa pria ini mampu memikul beban negara, sekaligus mampu mengurungmu dalam kuasa penuh gairahnya.
Jay kembali merapatkan tubuhnya, membiarkan kulit dada bidangnya yang hangat bergesekan langsung dengan sensitifnya dada polosmu. Sentuhan kulit bertemu kulit itu memicu desah napasmu yang kian memburu.
βAbang... jangan lama-lama... tolong...β bisikmu parau, jemarimu meremas kuat otot bisep Jay, memohon kejelasan atas rasa penuh yang mulai menyiksa area intim milikmu.
Jay terkekeh rendah, sebuah suara serak yang seksi tepat di telingamu. Ia mengecup keningmu lama, menyalurkan rasa sayang yang begitu posesif di sela-sela tuntutan gairahnya. βSabar, Sayang... Abang mau nikmati setiap detiknya bersama kamu. Jangan terburu-buru.β
Jay memosisikan kedua kaki jenjangmu agar terbuka lebar, bersandar di atas bahu dan pinggul tegapnya. Pria itu mengambil posisi di antara kedua pahamu, mengusap lembut area intim milikmu yang sudah basah sepenuhnya oleh cairan alami akibat stimulasi intens yang ia berikan sejak tadi. Sentuhan jemarinya di titik paling sensitif milikmu membuat pinggulmu refleks terangkat ke atas, mencari lebih banyak gesekan yang mematikan.
Ketika Jay mulai mengarahkan inti kejantanannya yang besar dan menegang keras ke arah liang senggama milikmu, pria itu menatap lurus ke dalam matamu. Ia menahan pergerakannya sejenak, memastikan bahwa kamu benar-benar siap untuk menerima badai penyatuan ini.
βLihat mata Abang, Dek. Jangan merem,β perintah Jay rendah, sebuah titah mutlak yang langsung kamu patuhi.
Secara perlahan namun pasti, dengan satu dorongan yang mantap dan sarat akan penekanan lembut, Jay melesakkan seluruh panjang kejantanannya masuk ke dalam liang intim milikmu yang sempit. Rasa penuh yang kuat dan sensasi robekan nikmat yang luar biasa seketika menghantam kesadaranmu. Kamu memekik pelan, mendongakkan kepala dengan napas yang tercekat di tenggorokan saat mendapati dirimu terisi penuh olehnya.
βAhhh... B-Bang Jay... penuh...β keluhmu parau, air mata kenikmatan mulai menetes di sudut matamu.
βSsh... relaks, Sayang. Atur napasnya. Abang ada di sini bakal pelan-pelan,β bisik Jay lembut, mengecupi kelopak matamu yang basah, sementara pinggulnya tetap diam di dalam dirimu, memberikan waktu agar tubuh ringkihmu bisa beradaptasi dengan ukurannya yang masif.
Begitu ia merasakan jepitan liang intimmu mulai melunak dan menerima kehadirannya, Jay mulai menggerakkan pinggulnya. Ia menarik keluar kejantannya hampir setengah, lalu menghantamkannya kembali ke dalam dengan ritme yang lambat, konstan, namun sangat dalam. Setiap tumbukan bertenaga yang diberikan Jay menghantam titik paling sensitif di dalam rahimmu, menciptakan gelombang kenikmatan erotis yang membuat seluruh tubuhmu gemetar hebat.
Kamu melenguh dan mendesah liar di dalam kamar yang sunyi itu. Kedua tanganmu mencengkeram erat otot punggung Jay yang basah oleh keringat, kuku-kukumu menggores kulit punggungnya seiring dengan makin cepatnya ritme yang dimainkan oleh sang Laksamana. Jay bener-bener yearning sore ini, gerakan pinggulnya begitu menuntut, menghantam telat pertahanan dirimu berulang kali, seolah ia ingin menanamkan eksistensinya sedalam mungkin ke dalam jiwa dan ragamu agar kamu tidak akan pernah bisa berpaling kepada pria mana pun di dunia ini-termasuk Sunghoon atau siapa pun yang mencoba mendekatimu di kampus.
Kamar tidur itu kini dipenuhi oleh suara peraduan kulit yang intens, deru napas yang memburu bersahut-sautan, dan desah kepasrahanmu yang memenuhi setiap sudut ruangan. Jay mengubah posisimu menjadi tengkurap, mengangkat pinggulmu tinggi-tinggi dengan kedua tangan kekarnya, lalu menyerangmu kembali dari arah belakang (doggy style).
Dari sudut ini, penetrasi Jay terasa jauh lebih dalam dan brutal. Setiap kali pinggul tegapnya menghantam pantatmu, tubuhmu terdorong ke depan di atas bantal, memicu jeritan desah yang kian melengking tinggi. Jay meraba ke depan, mencengkeram kedua payudaramu dengan gemas, meremasnya konstan seiring dengan hentakan pinggulnya yang kian memanas menuju klimaks.
βAbang... aku udah nggak kuat... ahh... m-mau keluar...β teriakmu parau, tubuhmu sudah berada di ambang batas pelepasan gairah yang luar biasa masif.
Jay mempercepat ritme hentakannya menjadi sangat cepat dan bertenaga, urat-urat di leher dan dahinya menegang sempurna, menandakan bahwa pria itu juga sudah berada di ujung tanduk pelepasannya. βBareng Abang, Dek... Keluar bareng Abang...β
Dengan beberapa kali tumbukan terakhir yang sangat dalam dan menghujam langsung ke dasar rahimmu, tubuhmu seketika menegang kaku. Liang intimmu menjepit kejantanan Jay dengan remasan kedutan yang luar biasa kencang seiring dengan tumpahnya cairan pelepasanmu yang membasahi sprei. Bersamaan dengan itu, Jay menggeram rendah-sebuah geraman bariton yang terdengar begitu beringas namun puas-saat ia menyemprotkan seluruh cairan spermanya yang hangat dan kental dalam jumlah banyak, memenuhi rongga rahimmu hingga meluap keluar di antara sela-sela paha kalian.
Tubuh tegap Jay ambruk di atas punggungmu, napasnya yang terengah-engah memburu terasa hangat menghantam kulit tengkukmu yang basah oleh keringat. Pria itu membiarkan kejantannya tetap tertanam di dalam dirimu selama beberapa menit, menikmati sisa-sisa kedutan nikmat pasca-klimaks yang masih terasa berdenyut halus di antara penyatuan kalian.
Setelah ritme napasnya mulai stabil, Jay perlahan menarik dirinya keluar, membalikkan tubuh ringkihmu agar kembali menghadap ke arahnya. Ia menarik selimut tebal abu-abu untuk membungkus tubuh polos kalian berdua, lalu merengkuh tubuhmu masuk ke dalam dekapan pelukan hangatnya.
Kepalamu bersandar nyaman di atas dada bidangnya yang naik-turun dengan teratur, mendengarkan detak jantung Jay yang perlahan mulai melambat. Tangan kekar Jay bergerak konstan mengusap punggung polosmu di balik selimut, sesekali mengecup pucuk rambutmu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan yang teramat tulus.
Di dalam keheningan sore yang mulai beranjak malam di pusat kota, kamu memejamkan mata dengan rasa pasrah yang mutlak. Sentuhan penuh kasih sayang dari Jay sore ini telah berhasil menjinakkan seluruh sisa traumamu dari Istana Negara. Kamu tahu, pria ini adalah penjara sekaligus rumah bagimu. Dan di bawah dekapan hangat sang calon Danpuspomal, kamu memilih untuk menutup mata dari badai takdir yang esok hari siap menguji seberapa kuat ikatan dosa yang telah kalian rakit bersama selama dua tahun ini.
Unit apartemen itu kini telah sepenuhnya dikuasai oleh keheningan malam kota rantauan. Sayup-sayup suara deru kendaraan di jalanan bawah sana tidak mampu menembus tebalnya dinding kaca dan tirai beludru kelabu yang menutup rapat ruang tidur utama. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan deru napas teratur milik Jay yang mengalun konstan, menjadi melodi latar yang menenangkan di dalam kamar yang remang.
Kamu masih belum bisa memejamkan mata. Di bawah gulungan selimut tebal abu-abu yang membungkus tubuh polos kalian berdua, kamu memilih untuk berbaring miring, menyandarkan setengah tubuhmu pada dada bidang Jay yang telanjang. Pria itu tampaknya benar-benar kelelahan setelah menyelesaikan serangkaian tugas dinas pengamanan intensif di Jakarta, yang langsung disambut dengan penerbangan pagi untuk datang kemari dan sesi penyatuan penuh gairah yang baru saja kalian selesaikan.
Meskipun matanya terpejam rapat dalam tidur yang nyenyak, kedua lengan kekar Jay sama sekali tidak melonggarkan besar dekapannya. Tangan kirinya mengunci pinggulmu, sementara tangan kanannya mendekap erat punggung polosmu, menarik tubuh ringkihmu seolah-olah kamu adalah jangkar yang menahan warasnya agar tidak hanyut oleh beratnya beban negara.
Kamu menengadah perlahan, menatap lurus ke arah wajah tampan yang berada beberapa sentimeter di depan wajahmu. Bias lampu dinding kekuningan yang temaram menyoroti setiap pahatan tegas di wajah sang Laksamana Pertama.
Tangan kananmu yang bebas perlahan bergerak naik, keluar dari balik selimut. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati agar tidak mengusik tidurnya, jemari tanganmu yang mungil mulai menelusuri garis rahang tegas Jay. Kulit jarimu merasakan tekstur kasar yang maskulin dari sisa-sisa bulu halus di sekitar rahangnya yang belum sempat dicukur bersih pagi ini-sebuah detail kecil yang selalu berhasil membuat dadamu berdesir hangat tiap kali kalian menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.
Melihat bagaimana pria beringas ini bertransisi menjadi begitu tenang, rapuh, dan defensif saat tertidur di sampingmu, sebuah dorongan emosional yang teramat besar mendadak meluap dari dalam rongga dadamu. Logikamu yang beberapa jam lalu sempat bergolak keras kini telah lumpuh total, kalah telak oleh rasa kepemilikan dan rasa keterikatan yang sudah telanjur berakar kuat di dalam nadimu.
Secara refleks, kamu memajukan tubuhmu, sedikit mendongak, lalu menempelkan belahan bibirmu di atas bibir tipis Jay yang terkatup rapat. Sebuah kecupan yang sangat lembut, lama, dan dipenuhi oleh seluruh rasa pasrah yang kamu miliki di dunia ini.
βAku sayang banget sama Abang... Sayang banget, sampai rasanya mau gila,β bisikmu teramat lirih tepat di depan permukaan bibirnya, menyuarakan sebuah pengakuan jujur yang sekaligus menjadi bentuk penyerahan dirimu seutuhnya pada sangkar emas yang ia bangun.
Kamu baru saja hendak menarik kembali kepalamu untuk kembali bersandar di dada bidangnya, namun gerakanmu seketika terkunci.
Sret.
Cengkeraman tangan Jay di punggung polosmu mendadak mengencang. Sepasang mata elang yang pekat itu perlahan terbuka, menampilkan manik mata yang langsung mengunci lurus pandangan matamu di dalam remang kamar. Jay ternyata tidak sepenuhnya tertidur, atau mungkin, insting militernya yang luar biasa pekat membuatnya langsung terjaga begitu merasakan sentuhan lembut dan kecupan di belahan bibirnya.
Sebuah seringai tipis yang sangat maskulin dan seksi terukir di sudut bibir tipis Jay. Suara baritonnya terdengar luar biasa serak dan berat khas orang yang baru bangun tidur saat ia kembali membuka suara.
βAbang dengar semuanya, Dek,β gumam Jay rendah, getaran suaranya terasa nyata menghantam dadamu yang menempel pada dada bidangnya.
Pria itu meraba bagian belakang lehermu, menekan tengkukmu dengan tegas agar wajah kalian kembali mengikis jarak. Jay tidak memberikan kecupan balasan yang terburu-buru, ia hanya menempelkan keningnya di keningmu, membiarkan deru napas hangatnya yang berbau mint menyapu permukaan kulit wajahmu yang memerah padam karena malu.
βUcapin sekali lagi,β perintah Jay dengan nada baritonnya yang dalam, sebuah perintah mutlak yang kali ini terdengar begitu memanjakan indra pendengaranmu. βAbang mau dengar langsung saat mata kamu menatap Abang seperti ini.β
Kamu menelan ludah dengan susah payah, merasakan detak jantungmu kembali berpacu gila di bawah kuasanya. Dengan keberanian yang tersisa, kamu menatap lurus ke dalam manik mata elangnya yang pekat. βAku... aku sayang banget sama Bang Jay. Aku bakal nunggu Abang sampai kapan pun... sampai Abang siap buat bawa aku ke hadapan Ayah.β
Jay terdiam sejenak, menikmati setiap bait ketundukan emosional yang meluncur jujur dari bibir mudamu. Kepuasan ego yang teramat besar terpancar dari binar matanya. Bagi Jay, pengakuanmu malam ini adalah sebuah kemenangan mutlak, dia tidak hanya berhasil menguasai tubuhmu, tapi dia juga berhasil mengunci mati hatimu agar tidak ada celah bagi pria mana pun di luar sana untuk merebutmu dari sisinya.
βPintar sekali wanita Abang ini, hm?β bisik Jay lembut, mengecup pucuk hidungmu dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya melumat kembali bibirmu dalam sebuah pagutan pendek yang hangat dan menenangkan. βTetap seperti ini, (y/n). Jangan pernah berpikir untuk lari dari Abang, karena kamu tahu persis Abang bisa menemukanmu di sudut mana pun di negara ini.β
Jay menarik tubuhmu makin rapat, menenggelamkan seluruh tubuh ringkihmu di balik dekapan tubuh besarnya yang hangat, bersiap membawa kalian berdua masuk ke dalam tidur yang sesungguhnya.
Namun, tepat di saat atmosfer kamar tidur itu baru saja kembali diselimuti ketenangan yang damai, di sudut kamar yang remang, di balik saku kardigan kasual milikmu yang tergeletak mengenasan di atas lantai bawah kasur...
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Ponselmu yang sempat kamu aktifkan kembali atas perintah Jay beberapa jam lalu mendadak bergetar kencang di atas lantai marmer. Di dalam kesunyian malam, suara getar itu terdengar begitu nyaring dan mengganggu.
Bukan pesan dari Isa, bukan pula spam chat dari Sunghoon. Layar ponselmu yang berkedip terang di kegelapan lantai menampilkan sebuah nama kontak yang seketika membuat seluruh darah di tubuhmu membeku dingin, memutus paksa seluruh ilusi keamanan yang baru saja kamu rasakan di atas ranjang Jay.
Nama kontak yang tertera di sana adalah: Ayah. Dan di bawah nama itu, sebuah pesan singkat yang baru saja masuk terbaca dengan sangat jelas menembus remang malam:
βBesok pagi Ayah ada kunjungan dinas mendadak ke Markas Brimob kotamu. Besok siang Ayah sekalian mampir ke kosanmu, kita makan siang bersama. Siapkan dirimu, Nak.β
Pesan singkat di layar ponsel rahasia itu layaknya sebilah belati es yang langsung dihujamkan tepat ke hulu jantungmu. Di dalam remang kamar tidur utama apartemen, tubuhmu seketika menegak kaku. Napasmu yang beberapa detik lalu masih berayun teratur dalam dekapan hangat Jay, kini mendadak memburu pendek-pendek, tersedak oleh rasa panik yang masif yang merangsek naik dari dasar lambung.
βB-Bang... Bang Jay, bangun...β Suaramu parau, pecah menjadi bisikan histeris yang bergetar hebat saat jemari tanganmu mengguncang bahu kokoh pria di sampingmu. βAyah, Bang... Ayah besok siang mau ke kosanku. Beliau ada kunjungan dinas di sini.β
Laksamana Pertama Jay tidak menunjukkan riak keterkejutan yang dramatis. Sepasang mata elangnya yang pekat perlahan terbuka, langsung jernih tanpa ada sisa-sisa kantuk khas warga sipil. Ia melirik layar ponselmu yang masih menyala terang menampilkan rentetan kalimat tegas dari sang Brigadir Jenderal Polisi. Rahang kokoh Jay mengeras semenit, namun ekspresi wajahnya tetap poker face-tenang, taktis, dan sedingin es kutub.
βAku mau pulang sekarang, Bang! Aku harus balik ke kosan malam ini juga!β Kamu mulai menangis panik, mencoba menyibak selimut abu-abu untuk memungut pakaianmu yang berceceran di lantai marmer. Isolasimu selama dua hari ini runtuh dalam semalam, dan bayangan wajah tegas Ayahmu menatap kamarmu yang berantakan membuat seluruh persendianmu lemas.
Namun, sebuah cengkeraman tangan yang besar dan kuat mendadak menahan pergelangan tanganmu. Jay menarik tubuh polosmu kembali ke dalam rengkuhannya, mengunci pergerakanmu di bawah kungkungan dada bidangnya yang hangat.
βJangan bodoh, (y/n). Ini sudah jam dua malam,β bisik Jay, suara baritonnya mengalun sangat rendah namun sarat akan otoritas yang tidak boleh dibantah. βKamu pulang dalam kondisi histeris dan mata bengkak begini di tengah malam hanya akan memicu kecurigaan penjaga kosan atau teman-temanmu. Kamu balik besok subuh. Jam lima pagi Abang yang antar sampai depan gang. Sekarang, tidur.β
βTapi, Bang-β
βAbang bilang tidur, good girl,β potong Jay, memberikan satu kecupan tegas di keningmu yang basah oleh keringat dingin sebelum membalikkan tubuhmu membelakangi dadanya, mendekapmu erat hingga tak ada ruang bagimu untuk berontak.
Malam itu, di dalam penjara emas mewah pusat kota, kamu sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap detak jam dinding apartemen terdengar seperti hitungan mundur menuju eksekusi matimu sendiri.
Tepat jam lima subuh, saat langit pagi ini masih diselimuti kabut tipis dan hawa dingin yang menusuk tulang, mobil SUV hitam milik Jay sudah membelah jalanan sunyi menuju area kosanmu. Perjalanan itu hening total. Kamu meremas jemarimu yang mendingin, sementara Jay fokus menyetir dengan satu tangan, sesekali melirikmu dingin. Begitu mobil berhenti di bawah naungan pohon mahoni di depan gang, Jay tidak mematikan mesin.
βBersihkan kamarmu sampai tidak ada satu pun jejak Abang tertinggal. Dan yang paling penting...β Jay menjeda kalimatnya, jemari kasarnya bergerak menyusuri kerah kardigan rajutmu, menurunkannya sedikit untuk menatap beberapa tanda kemerahan (kissmark) yang ia tinggalkan dengan beringas di leher putihmu semalam. Sulas senyuman gelap terukir di bibirnya. β...tutupi ini dengan benar di depan Ayahmu. Abang nggak mau rekan sejawat Abang itu tahu putri kecilnya habis Abang tandai semalam.β
Kamu menelan ludah dengan susah payah, mengangguk kaku, lalu bergegas turun dari mobil tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
Sesampainya di dalam kamar kos, pacuan waktumu yang sesungguhnya dimulai. Kamu bergerak seperti orang kesurupan. Dengan sisa-sisa rasa perih dan lemas di tubuhmu akibat sesi intim semalam, kamu mengumpulkan semua helai pakaian, membersihkan sisa makanan yang sempat membusuk di sudut meja, dan menyemprotkan pengharum ruangan beraroma mawar dalam jumlah banyak untuk mengubur mutlak aroma parfum mint maskulin milik Jay yang sempat menguar dari tubuhmu, tentu tidak melupakan morning after pill kmau telan dengan buru-buru.
Di depan cermin, jantungmu hampir copot melihat tiga bercak keunguan yang kontras di ceruk leher sebelah kiri. Dengan tangan yang gemetar hebat, kamu mengaplikasikan concealer tebal-tebal, melapisinya dengan bedak padat, dan menaikan sweeter berkerah tinggi (turtleneck) milikmu hingga batas maksimal dagu. Kamu harus terlihat seperti mahasiswi Hukum yang anggun, berprestasi, dan suci di depan pria yang dengan hukum moral yang ketat.
Tepat pukul sebelas siang, sebuah mobil dinas kepolisian berpelat hitam khusus dengan sirine mati terparkir rapi di depan gerbang kosanmu. Sosok pria paruh baya dengan tubuh tegap berwibawa, mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang dan celana kain rapi turun dari pintu penumpang belakang.
βAyah!β Kamu memaksakan sebuah senyuman termanis yang kamu miliki, berlari kecil menyambut pelukan hangat dari sang Brigadir Jenderal Polisi.
βAnak gadis Ayah kenapa pucat sekali? Isa bilang kamu sempat sakit lambung kemarin?β tanya Ayahmu, sepasang matanya yang tajam khas intelijen menatap wajahmu dengan gurat kecemasan seorang orang tua. Beliau mengusap pucuk rambutmu lembut.
βCuma kecapekan aja, Yah. Sekarang udah mendingan kok,β dustamu dengan lancar, walau di dalam hati kamu merasa menjadi anak paling jahanam di muka bumi karena membohongi pria sangat menyayangimu ini. βKita... kita langsung berangkat makan siang sekarang, Yah?β
βIya, Ayah sudah pesankan tempat yang agak tenang di pusat kota. Biar kita bisa ngobrol santai tanpa keganggu urusan dinas,β sahut Ayahmu hangat, merangkul pundakmu untuk berjalan keluar dari area gang menuju mobil.
Namun, tepat saat kaki kalian berdua baru saja melangkah ke tepi jalan raya, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam legam yang sangat kamu kenal mendadak melambat dan berhenti tepat dua meter di depan yang mobil dinas Ayahmu. Jantungmu seketika berhenti berdetak. Seluruh persendianmu membeku dingin saat kaca film pekat mobil itu diturunkan perlahan, menampilkan sosok Laksamana Pertama Jay di balik kemudi.
Jay tidak langsung kembali ke pangkalan. Pria itu sengaja menetap di sini, menunggumu di titik buta yang tak terduga.
Jay membuka pintu mobil, turun dengan gerakan tegap yang luar biasa berwibawa. Pagi ini dia mengenakan kemeja batik dengan motif parang yang gagah, membuat aura militernya tetap memancar kuat walau tanpa seragam dinas putihnya. Dengan langkah taktis, Jay berjalan menghampiri posisi kalian berdua, lalu mengangkat tangan kanannya tepat di samping pelipis, memberikan hormat militer yang sangat sempurna kepada Ayahmu yang secara angkatan dinas berada di atasnya.
βMohon izin, Jenderal,β sapa Jay, suaranya baritonnya mengalun begitu bulat, sopan, dan dipenuhi tata krama tingkat tinggi khformalas perwira elit.
Ayahmu sempat tertegun semenit sebelum sepasang matanya berbinar mengenali sosok anak muda berprestasi yang tempo hari ia puji di aula Istana Negara. βLoh? Laksamana Pertama Jay? Wah, tidak menyangka kita bisa bertemu lagi di sini!β Ayahmu langsung membalas hormat tersebut dengan senyuman lebar, lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat erat tangan kekar Jay. βAda agenda dinas apa di wilayah sini, Laksamana?β
βSiap, Jenderal. Saya baru saja menyelesaikan koordinasi taktis internal pasca-evaluasi 17 Agustus di pangkalan kota ini. Kebetulan saya sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk kembali ke Jakarta,β dusta Jay dengan air muka yang luar biasa tenang, tanpa ada satu pun kerutan gugup di dahinya. Aktor watak gila ini bersandiwara dengan sangat mulus di depan seorang Jenderal Polisi senior.
Jay mengalihkan lirikannya sekilas ke arahmu-sebuah tatapan sedingin es yang mengandung dominasi mutlak, seolah sedang memperingatkanmu untuk tidak mengeluarkan satu pun suara yang salah. βTernyata Jenderal sedang mengunjungi putri Anda?β
βAh, iya! Ini putri tunggal saya, (y/n), sebelumnya kita sempat bertemu di Istana Negara. Dia kuliah di jurusan Hukum di sini,β jawab Ayahmu dengan nada bangga yang luar biasa, tanpa tahu bahwa putri tunggal yang ia banggakan telah disetubuhi habis-habisan oleh pria di hadapannya beberapa jam yang lalu. Ayahmu menepuk pundak tegap Jay dengan akrab. βWah, kebetulan sekali kalau begitu, Laksamana Jay! Ini saya dan putri saya baru saja mau berangkat makan siang di pusat kota. Daripada Anda langsung ke bandara dengan perut kosong, bagaimana kalau Anda bergabung sekalian bersama kami? Kita makan siang bersama, mengobrol santai antar-rekan sejawat. Jangan ditolak, ya?β
Mendengar undangan maut yang meluncur langsung dari bibir Ayahmu, duniamu rasanya runtuh seketika. Kamu menatap Jay dengan pandangan mata yang dipenuhi permohonan yang teramat sangat agar pria itu menolak. Kamu tidak akan kuat menahan tekanan mental jika harus duduk semeja dengan mereka berdua.
Namun, Jay justru menyunggingkan sebuah senyuman sopan-senyuman tipis seorang predator yang tahu mangsanya sudah terpojok tanpa jalan keluar.
βSiap. Sebuah kehormatan besar bagi saya mendapatkan undangan langsung dari Jenderal,β jawab Jay dengan intonasi tegas yang patuh. βTerima kasih banyak, Jenderal. Saya akan mengikuti mobil dinas Anda dari belakang.β
Kamu meremas ujung baju turtleneck-mu di balik kardigan hingga kuku-kukumu memutih, menahan tangis ketakutan yang hampir meledak di tenggorokan, menyadari bahwa siang ini... kamu akan melangkah masuk ke dalam ruang interogasi paling mengerikan di dalam hidupmu.
to be continued
ramein ya, jangan lupa like dan komen-komen...
soalnya pengen cepet-cepet spill chapter 34 Awokawok




mengewe yeen kau paling lihai, menikahi yeen kau paling anjay
Yokk happy ending yokkk demi kewarasan gue