31 Halo Dek
Laksamana Jay
ayo jangan lupa vote sampai tembus 100 lebih
Isa mengembuskan napas panjang, melempar tasnya ke atas meja belajar sembari meraba saku celananya untuk mengambil ponsel. โYa sudah, urusan otak gilamu sama Laksamana itu kita bahas nanti. Sekarang yang penting kamu harus makan. Muka kamu udah kayak mayat hidup, (y/n).โ
Isa membuka aplikasi Gojek di ponselnya, berniat memesankan semangkuk bubur ayam hangat dan beberapa menu makanan yang sekiranya bisa merangsang nafsu makanmu yang mati suri sejak dua hari lalu. Namun, baru saja jemarinya hendak menekan tombol konfirmasi pembayaran, gerakan tangan Isa mendadak terhenti sempurna. Sepasang matanya melebar menatap saldo GoPay di layarnya.
โLoh? Kok...โ Isa bergumam heran, mengetuk riwayat transaksi dengan dahi berkerut. โSejak kapan saldo GoPay-ku ada dua juta?โ
Kamu mendongak lemah dari balik selimut. Sebelum kamu sempat bersuara, ponsel Isa bergetar pendek menampilkan sebuah notifikasi pesan WhatsApp baru dari nomor Jay. Isa langsung membacanya dengan suara yang agak datar.
โSaya sudah transfer sejumlah dana ke GoPay kamu, Isa. Tolong pesan makanan yang paling bergizi buat (y/n), dan pastikan kamu juga beli makanan yang enak buat dirimu sendiri sebagai ucapan terima kasih saya karena sudah menemani dia sore ini. Kalau kurang, beri tahu saya.โ
Isa seketika mendengus sinis, melempar ponselnya ke atas kasur tepat di samping kakimu. โGila. Sistem kontrolnya bener-bener udah terencana sampai ke akar-akar. Dia bahkan tahu cara memanfaatkan aku lewat uang saku.โ
โIsa... maaf ya,โ bisikmu merasa bersalah, tahu kalau sahabatmu paling tidak suka diatur-atur oleh orang asing, apalagi oleh pria posesif seperti Jay.
โAslinya aku mau balikin duitnya detik ini juga, (y/n). Gengsi akunya gede banget kalau harus disetir sama pacar militermu itu,โ ujar Isa sembari mengklik pesanan makanan dengan wajah bersungut-sungut. โTapi demi kesehatanmu yang udah di ambang kritis begini, aku mengalah dulu untuk sore ini aja. Awas ya, besok-besok kalau kamu udah sehat, aku nggak mau terlibat lagi dalam pusaran anggaran belanja Laksamana Jay.โ
Kamu hanya bisa tersenyum tipis, merasakan sedikit kehangatan di tengah kabut depresi yang sempat mengurungmu. Setengah jam kemudian, makanan datang. Di bawah tatapan intimidasi Isa yang jauh lebih galak dari dosen Hukum Perdata, kamu terpaksa menghabiskan setengah porsi makanan itu demi mengisi lambungmu yang kosong.
Setelah makanan tandas, Isa berdiri dan melipat kedua tangannya di dada. โSekarang, kamu pergi mandi. Bersihin itu badan, bau pengap kosan ini udah menyengat banget, aku bantu beresin dikit. Aku bakal balik ke kosanku sendiri kalau kamu udah bersih dan rapi.โ
โLoh? Kamu nggak jadi menginap?โ tanyamu, sedikit cemas jika harus ditinggalkan sendirian lagi dengan bayangan foto tusuk konde di kepala.
โAwalnya aku niat banget mau menginap sampai kamu beneran oke dan waras,โ sahut Isa sembari merapikan tasnya. โTapi setelah denger telepon dari Jay tadi, aku sadar kamu butuh ruang sendiri buat mencerna semuanya. Lagian, kamu sendiri yang tadi maksa aku buat pulang ke kosan aja karena katamu udah merasa beneran mendingan, kan? Aku tahu kamu cuma nggak enak sama aku.โ
Kamu mengangguk kaku, membenarkan ucapan Isa. Setelah perdebatan panjang, kamu akhirnya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu kamu keluar dengan handuk yang melilit rambut dan baju kaus santai yang bersih, Isa sudah bersiap di ambang pintu.
โAku balik ya. Ingat, pintu kosan dikunci rapat. Kalau ada apa-apa, atau kalau si Laksamana itu mendadak nelepon lagi dengan nada beringas, langsung hubungi aku. Paham?โ
โPaham, Sa. Makasih banyak ya,โ ucapmu tulus. Isa mengangguk pendek, lalu berjalan keluar meninggalkan koridor kosanmu yang kembali diselimuti kesunyian sore yang temaram.
Suara gemercik air sisa mandimu perlahan mengering, digantikan oleh kesunyian kamar yang kini terasa jauh lebih manusiawi setelah jendela kamarmu dibuka sedikit oleh Isa tadi. Kamu duduk di tepi ranjang, menyisir rambutmu yang basah dengan jari-jari yang masih agak lemas. Pikiranku melayang pada kalimat terakhir Jay di telepon, pria itu tidak akan datang malam ini. Urusan dinas kepresidenan dan evaluasi bersama Panglima pasca-17 Agustus memaksanya tetap tertahan di Jakarta hingga esok hari.
Kamu aman dari jangkauan fisiknya untuk malam ini, dan kenyataan itu setidaknya memberi waktu bagi jantungmu untuk beristirahat dari ritme gila.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pelan di pintu depan kosanmu seketika memutus lamunan. Tubuhmu refleks menegang. Jantungmu kembali berdegup kencang karena rasa trauma yang belum sepenuhnya hilang. Siapa lagi? Isa kembali karena ada barang yang tertinggal?
Kamu berdiri, melangkah perlahan menuju pintu depan dengan perasaan waswas. Begitu jemarimu memutar kunci dan membuka daun pintu kayu itu perlahan, sosok tinggi tegap yang berdiri di sana bukanlah Isa, bukan pula ajudan berseragam putih milik Jay.
โHoon?โ
Matamu melebar tipis menatap Park Sunghoon yang berdiri di ambang pintu dengan setelan kasualโkaus hitam polos longgar dipadukan dengan celana kargo santai. Di tangan kanannya, pria kaku itu memegang sebuah kantong plastik putih berlogo apotek di dekat kampus, sementara tangan kirinya memegang kunci motornya yang berdenting pelan sama roti basah untukmu.
Sunghoon tidak langsung bersuara. Sepasang mata elangnya yang biasanya tajam dan kaku, kini menatap lurus ke arah wajah pucatmu, meneliti kantung matamu yang menghitam, hingga rambut basahmu yang berantakan. Tatapannya dipenuhi oleh rasa khawatir yang diredam rapat-rapat oleh pembawaannya yang dingin.
โIsa yang ngasih tahu aku kalau kamu sakit,โ ucap Sunghoon dengan nada suara datarnya yang khas, namun terselip getaran tulus yang menenangkan. โKatanya kamu mengurung diri dari kemarin gara-gara asam lambungmu kambuh parah setelah balik dari Jakarta.โ
Kamu menelan ludah, mendadak merasa canggung dan bersalah karena sudah mengabaikan belasan spam chat darinya sejak kemarin. โAh... iya, Hoon. Maaf ya, aku beneran pusing banget kemarin sampai nggak sempat cek HP.โ
Sunghoon hanya mengangguk pendek, seolah tidak peduli dengan alasan logis apa pun asalkan dia bisa melihat sendiri bahwa kamu masih bernapas di hadapannya. Ia mengangkat sedikit kantong plastik di tangannya.
โAku bawain obat lambung sirup sama beberapa vitamin yang biasa diresepin dokter. Tadi Isa bilang kamu udah dipaksa makan, jadi sekarang waktunya kamu minum obat ini biar lambungmu nggak perih lagi malam nanti sama ini ada roti kalau sewaktu-waktu kamu tengah malam lapar,โ ujar Sunghoon santai, melangkah satu langkah mendekat namun tetap menjaga jarak aman yang sangat menghormati batas privasimuโsebuah sikap dewasa yang selalu kontras dengan cara Jay yang suka menerobos ruang pribadi tanpa izin.
โHoon, makasih banyak ya... Kamu repot-repot banget sampai ke sini,โ bisikmu, merasakan sebersit rasa aman yang tenang mulai mengalir di dadamu. Di depan Sunghoon, kamu tidak perlu memakai topeng sebagai anak jenderal yang sempurna, dan kamu juga tidak perlu merendahkan dirimu seperti jalang yang ketakutan. Sunghoon memperlakukanmu murni sebagai seorang teman yang berharga.
Sunghoon menatap kantong obat itu, lalu kembali menatap manik matamu dengan binar yang melunak. โNggak repot. Aku cuma nggak suka lihat sahabat aku mendadak hilang tanpa kejelasan sebelum nilai ujian bener-bener keluar.โ Pria kaku itu menjeda kalimatnya sejenak, lalu menambahkan dengan nada suara yang lebih pelan, โMinum obatnya, (y/n). Istirahat yang bener. Jangan bikin orang lain... makin khawatir di luar sana.โ
Kamu mengangguk pelan, menerima kantong plastik itu dari tangannya. Di balik rasa syukurmu atas kehadiran Sunghoon yang menenangkan sore ini, ada sebuah rasa bersalah yang kembali mencubit hatimu. Kamu tahu, kedatangan Sunghoon adalah oase tenang di tengah badai hidupmu, namun jauh di dalam lubuk hatimu yang paling gelap, kamu juga tahu bahwa besok pagi... Laksamana Pertama Jay akan benar-benar kesini untuk menuntut seluruh sisa pertanggungjawaban atas kebohongan dua tahunmu.
Sunghoon baru saja hendak membalikkan tubuhnya menuju tangga koridor setelah memastikan kantong obat itu berpindah ke tanganmu. Namun, belum sempat pria itu melangkah, sebuah gerakan impulsif yang tak sadar kamu lakukan di bawah alam bawah sadarmu seketika menghentikan pergerakannya.
Sret.
Jemari tanganmu yang masih sedikit dingin refleks maju, meremas pelan ujung kaus hitam longgar yang dikenakan Sunghoon dari arah belakang. Remasan yang pelan, namun cukup kuat untuk menahan langkah kaki tegap sang mahasiswa Teknik Industri tersebut. Sunghoon seketika mematung di ambang pintu. Punggung bidangnya menegang kaku, menanti apa yang akan keluar dari bibirmu.
Kamu menundukkan kepala, menyembunyikan wajah sembapmu di balik bayangan pintu kosan yang remang, lalu berbisik lirih tepat di belakang punggungnya.
โHoon... terima kasih ya. Terima kasih banyak karena udah selalu perhatian sama aku, dan... udah jadi sahabat yang baik banget buat aku selama ini.โ
Mendengar untaian kata yang meluncur dari belahan bibirmu, Sunghoon diam-diam meringis dalam hati. Dada bidangnya terasa berdenyut nyeri, sebuah hantaman telak yang tak kasat mata tepat mengenai ulu hatinya. Sahabat. Kata itu berdengung statis di indra pendengarannya, menegaskan kembali sekat tebal dan batas mutlak yang selama ini sengaja kamu pasang di antara kalian berdua.
Sunghoon mengembuskan napas pendek lewat hidung, mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya sendiri. Tindakannya merapat ke kosanmu sore ini sebenarnya adalah salah satu tindakan paling impulsif yang baru pertama kali ia lakukan seumur hidupnya kepada seorang perempuan. Di kalangan anak-anak kampus, Park Sunghoon dikenal sebagai mahasiswa Teknik Industri yang luar biasa kaku, berdarah dingin, egois terhadap waktunya sendiri, dan selalu menjaga jarak aman dengan lawan jenis. Dia bukan tipe pria yang akan membuang waktu luangnya hanya untuk mengantar obat ke kosan seorang gadis.
Namun sore ini, seluruh kendali logis yang selama dua puluh tahun ini ia pelihara runtuh total hanya karena satu kalimat panik dari Isa melalui pesan singkat. Begitu Isa mengabarkan bahwa kamu drop total dengan asam lambung yang kram parah setelah balik dari Jakarta, fokus Sunghoon di depan laptopnya pecah berantakan. Detik itu juga, setelah tahu Isa terpaksa pamit pulang ke kosannya, kaki Sunghoon bergerak sendiri tanpa bisa dicegah oleh otaknya. Dia menyambar kunci motor, bergegas ke apotek terdekat, dan berakhir berdiri di depan pintu kamarmu membawa sebungkus obat sirup.
Sunghoon sendiri tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan atau apa yang sebenarnya ia harapkan dari tindakan nekatnya ini. Dia tahu persis bahwa kamu sudah memiliki seorang pacarโpria dewasa berwibawa yang pernah ia lihat sekilas menjemputmu di depan gerbang semester lalu meskipun Sunghoon tidak benar-benar meliha wajahnya.
Perlahan, Sunghoon membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah sepasang matamu yang masih menyiratkan sisa-sisa trauma dan ketakutan yang mendalam. Di dalam hati kecilnya yang paling dalam, Sunghoon hanya bisa berharap satu hal: kamu diperlakukan dengan sangat baik, lembut, dan dihargai oleh pacarmu itu.
Sunghoon sengaja menanamkan harapan itu di dalam kepalanya, setidaknya agar ia tetap memiliki batasan moral yang kuat untuk tidak melangkah lebih jauh. Dia butuh alasan untuk tetap bertahan di posisinya sebagai seorang โsahabatโ agar dia tidak nekat menarikmu paksa keluar dari pelukan pacarmu jika suatu saat nanti hal buruk terjadi padamu akibat ulah egois cowokmu itu. Sunghoon tidak tahu saja, bahwa firasat buruknya sore ini sebenarnya sedang menunjuk langsung pada sosok monster berseragam putih yang besok pagi siap mampir ke kosmu untuk menguliti habis warasmu.
โNggak perlu makasih terus,โ ucap Sunghoon akhirnya, suaranya kembali datar dan kaku, mencoba memasang kembali topeng ketenangannya yang sempat retak. Ia mengulurkan tangan kanan, menepuk pucuk rambutmu yang masih sedikit basah dengan satu gerakan kaku yang singkat sebelum menariknya kembali ke dalam saku celana. โMasuk sana. Minum obatnya, terus langsung tidur. Aku balik dulu.โ
Kamu mengangguk pelan, melepaskan remasan jemarimu di ujung kausnya. Kamu menatap siluet tegap Sunghoon yang mulai berjalan menjauh membelah temaramnya koridor tangga kosan, membawa pergi sebersit rasa aman yang tenang, dan meninggalkanmu sendirian di dalam kamar untuk menghitung mundur sisa jam yang tersisa sebelum fajar besok menyingsing bersama kedatangan Jay.
โ๏ธ
Fajar belum sepenuhnya vertikal di langit ketika ponselmu di atas nakas bergetar tanpa suara. Layarnya yang berkedip di dalam remang kamar memantulkan sebaris pesan singkat yang langsung membuat seluruh pasokan oksigen di paru-parumu mendadak surut.
Bang Jay๐: โAbang sudah di dalam mobil, di depan gang kosanmu. Keluar sekarang, Dek. Jangan bikin Abang nunggu lama.โ
Tidak ada bentakan. Tidak ada kalimat makian. Namun, untaian aksara yang diketik lurus tanpa emotikon itu justru mengirimkan sinyal bahaya yang jauh lebih mengerikan ke dalam kepalamu. Tubuhmu gemetar hebat saat kamu terburu-buru menyambar kardigan rajut, membiarkan rambutmu yang belum sempat disisir rapi terurai berantakan, dan melangkah turun membelah koridor kosan yang masih sepi sunyi.
Begitu kakimu melangkah keluar dari gerbang gang, sebuah mobil berwarna hitam legam dengan kaca film yang sangat pekat sudah terparkir statis di bawah naungan pohon mahoni. Kamu menelan ludah, memaksakan kakimu yang terasa seringan kapas untuk mendekat. Tepat saat langkahmu berada satu meter dari pintu penumpang depan, terdengar bunyi klek yang halusโkunci otomatis mobil dibuka dari dalam.
Kamu membuka pintu dengan perlahan, disambut oleh embusan angin AC mobil yang sangat dingin dan aroma parfum mint bercampur aroma interior kulit yang begitu pekat. Begitu tubuhmu mendarat di atas jok, pintu mobil kamu tutup, dan detik itu juga terdengar bunyi sret-klek yang berat dari sistem auto-lock yang dikendalikan dari kemudi kiri. Kamu terkunci mutlak di dalam sangkar besi bersamanya.
Laksamana Pertama Jay duduk tegap di balik kemudi. Pagi ini dia tidak mengenakan seragam dinas PDU putihnya yang kaku, melainkan hanya sepotong kemeja linen hitam kasual dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, menampilkan urat-urat menonjol di pergelangan tangan kekarnya. Topi perwiranya tidak ada, namun aura dominasi dan kekuasaan mutlak yang memancar dari tubuhnya tidak berkurang sedikit pun.
Pria itu tidak langsung menginjak pedal gas. Ia memutar sedikit tubuh tegapnya, menatap lurus ke arah wajahmu yang pucat sembap dengan sepasang mata elangnya yang pekat. Untuk beberapa detik, keheningan di dalam mobil itu begitu menyiksa, hanya diisi oleh suara dengung halus mesin V8 yang bergetar konstan.
โSudah sarapan?โ
Suara bariton Jay mengalun sangat rendah, begitu halus dan tenang, memecah kesunyian dengan intonasi yang mendadak terdengar sangat protektifโtipikal pacar dewasa yang penuh perhatian. Namun, bagi indra perasamu yang sudah terbiasa dikuliti oleh taktiknya, kamu bisa merasakan ada makna lain yang bersembunyi di balik kelembutan itu. Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan basa-basi; itu adalah gertakan halus yang ingin menegaskan bahwa dia memegang kendali penuh atas metabolisme dan sisa hidupmu hari ini.
โB-Belum, Bang,โ jawabmu parau, tidak berani menatap langsung ke dalam manik matanya.
Jay mengangguk pelan. Tangan kanannya bergerak maju, jemari kekarnya yang kasar perlahan merapikan beberapa helai rambutmu yang berantakan di dekat pelipis, menyelipkannya ke belakang telingamu dengan kelembutan yang membuat bulu kudukmu meremang.
โBagus. Kita sarapan di apartemen aja kalau gitu. Abang sudah minta orang buat antar makanan ke atas,โ ucap Jay santai, sebelum akhirnya memindahkan tuas transmisi dan menginjak pedal gas, membawa mobil itu membelah jalanan Malang yang mulai merayap ramai.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen sewaannya di pusat kota, Jay bertindak layaknya seorang kekasih yang luar biasa perhatian. Ia sesekali meraih tangan kananmu yang sedingin es, menggenggamnya erat di atas paha kekarnya sembari fokus menyetir dengan tangan kiri. Ia bahkan sempat mengomel kecil dengan nada rendah yang manis tentang bagaimana kamu yang ceroboh hingga membiarkan asam lambungmu kambuh parah dua hari lalu.
Semua perlakuannya terasa begitu sempurna, begitu hangat, seolah-olah insiden mencekik di koridor buntu Istana Negara dua hari lalu hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah nyata. Namun, genggaman tangannya yang terlalu kencang dan kilat sedingin es yang sesekali muncul di matanya saat melirikmu diam-diam menegaskan satu hal: ini hanyalah ketenangan sebelum badai. Pria ini sedang mengulur benang layang-layangnya, membiarkanmu merasa aman sejenak sebelum ia menyentaknya putus tanpa ampun.
Cklek. Bzzzt.
Pintu elektronik unit apartemen sewaan mewah milik Jay terbuka setelah ia menempelkan kartu aksesnya. Unit yang terletak di lantai atas itu sangat sunyi, bersih, dan berbau aromaterapi kayu cendana yang menenangkan. Di atas meja makan marmer yang terletak di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan luar kota, sudah tersaji dua kotak makanan mewah dari restoran hotel bintang lima yang masih mengepulkan uap hangat.
โDuduk, Dek. Dihabiskan buburnya selagi masih hangat. Abang tahu lambungmu belum kuat diisi makanan berat,โ perintah Jay lembut sembari melepas jam tangan kronografnya dan meletakkannya di atas meja konter.
Kamu menurut patuh tanpa sepatah kata pun. Kamu duduk di kursi makan dengan punggung yang kaku, menyuapkan sendok demi sendok bubur ayam ke dalam mulutmu yang terasa hambar. Di seberang meja, Jay duduk tenang. Pria itu tidak menyentuh makanannya sama sekali ia hanya menyesap secangkir kopi hitam tanpa gula, matanya yang pekat mengunci setiap pergerakan tanganmu yang masih sedikit gemetar menahan sendok.
Suasana sarapan pagi itu berjalan dalam ritme yang lambat, hening, dan dipenuhi oleh ketegangan psikologis yang luar biasa pekat. Bunyi denting sendokmu yang sesekali beradu dengan mangkuk keramik terdengar seperti ketukan jam dinding raksasa yang menghitung sisa waktu kebebasanmu.
Begitu kamu meletakkan sendok tanda selesai, Jay meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan bunyi ketukan yang pelan namun tegas. Kelembutan sandiwara pacar perhatian yang ia pasang sepanjang jalan tadi seketika menguap, digantikan oleh perubahan aura kedirgantaraan yang sedingin es kutub.
Sret.
Jay meraba saku kemeja linen hitamnya, lalu mengeluarkan sebuah benda perak kecil dari sana.
Tuk.
Tusuk konde perak berbentuk burung phoenix milikmu diletakkan secara sengaja di atas permukaan meja marmer, tepat di antara mangkuk buburmu dan cangkir kopinya. Benda itu berkilau di bawah siraman cahaya matahari pagi dari balik jendela, tampak seperti barang bukti kejahatan di atas meja interogasi.
โMakanannya sudah selesai, kan? Sekarang, mari kita mulai perbincangan serius kita, Anak Jenderal,โ ucap Jay, suara baritonnya kini merosot turun ke titik paling rendah, sarat akan penekanan yang menuntut ketundukan mutlak.
Kamu refleks menarik napas dalam, mencengkeram kain celanamu di bawah meja dengan kuku-kuku yang memutih. Rasa ketakutan itu kembali merayap naik, mencekik hulu kerongkonganmu hingga rasanya ingin menangis detik itu juga.
Jay memajukan sedikit tubuh tegapnya, menumpu kedua lengan kekarnya di atas meja, memperkecil jarak di antara wajah kalian hingga kamu bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana otot rahangnya yang kokoh mengeras sempurna.
โDua tahun ini... kamu tahu betul siapa Abang, (y/n). Kamu tahu pangkat Abang, kamu tahu pangkalan tempat Abang bertugas, kamu tahu seberapa beringasnya Abang kalau mengunci kamu di kamar ini,โ Jay menjeda kalimatnya, matanya menyipit tajam menembus langsung ke dalam pertahanan batinmu yang rapuh. โTapi Abang sama sekali tidak tahu siapa kamu yang sebenarnya. Abang cuma tahu kamu anak remaja polos yang butuh perlindungan pria dewasa. Pintar sekali kamu menyembunyikan nama Brigjen Jaeyun dari apartemen ini.โ
โB-Bang Jay... aku mohon...โ suaramu pecah menjadi bisikan parau yang bergetar. โAku nggak bermaksud menjebak Abang... Aku cuma takut kalau dari awal Abang tahu aku anak polisi, Abang bakal anggap hubungan kita ini bahaya dan Abang bakal ninggalin aku...โ
โMemang bahaya, (y/n)!โ Jay mendadak menaikkan intonasi suaranya, memotong kalimatmu dengan satu ketukan tegas telapak tangannya di atas meja marmer hingga mangkuk di depanmu bergetar. Kilas kemarahan yang beringas mendadak berkilat di matanya. โHubungan kita ini bukan cuma bahaya buat karier militer Abang, tapi ini sudah menyangkut harga diri dua institusi tertinggi! Ayahmu itu memegang otoritas hukum wilayah. Gimana kalau siang itu di Istana, Ayahmu tahu kalau perwira muda yang dia tepuk pundaknya dengan penuh rasa bangga adalah pria yang sama yang sudah menodai kesucian putri kandungnya sejak masih pakai seragam SMA?!โ
Kamu menundukkan kepala sedalam-dalamnya, air mata yang sejak tadi kamu tahan akhirnya lolos deras membasahi pipimu, menetes di atas meja makan. Bahumu terguncang hebat karena rasa bersalah dan ketakutan yang teramat sangat.
Jay menatap tangisanmu dengan gurat wajah yang dingin tanpa ekspresi kasihan. Ia mengulurkan tangan kekarnya, mengambil kembali tusuk konde perakmu, lalu memainkannya di antara jemari tangannya yang kokoh.
โSekarang pilihan ada di tanganmu, Dek,โ bisik Jay lagi, nadanya kembali melunak namun terdengar jauh lebih mematikan daripada sebelumnya. โAbang nggak akan memakai cara kasar, karena Abang masih sayang sama kamu. Tapi ingat... tusuk konde ini, semua rekaman di dalam ruang tidur ini, vcs kita setiap malam, dan seluruh rahasia kita ada di bawah kuasa Abang. Mulai hari ini, sandiwara anak remaja penurutmu sudah selesai. Kamu harus ikuti semua permainan terencana Abang untuk meredam kecurigaan Ayahmu. Kalau kamu berani membuat satu saja gerakan ceroboh yang memicu kecurigaan jajaran kepolisian...โ Jay sengaja menggantung kalimatnya, memberikan seringai gelapnya yang paling beringas tepat di depan wajah sembapmu. โ...Abang nggak akan segan-segan menjatuhkan bom waktu ini langsung di depan meja kerja Ayahmu. Paham, good girl?โ
Di tengah isak tangis yang membuat dadamu naik-turun dengan sesak, entah dari mana datangnya, sebersit keberanian yang nekat mendadak mencuat di balik keputusasaanmu. Kamu menghapus air mata di pipimu dengan punggung tangan yang gemetar, lalu mendongakkan kepala, menatap langsung ke dalam manik mata elang pria yang selama dua tahun ini mengurungmu dalam sangkar emasnya.
โKalau... kalau Abang memang beneran sayang sama aku...โ suaramu bergetar parah, namun terselip nada tuntutan yang teramat sangat ingin kamu dengar kepastiannya. โKenapa... kenapa Abang nggak langsung ngelamar aku aja ke rumah? Biar... biar semua masalah ini beres, Bang. A-Ayahku... Ayahku pasti senang dan bangga punya menantu seorang Laksamana Jay. Hubungan kita nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi, kan?โ
Mendengar pertanyaan tak terduga yang meluncur dari bibir pucatmu, gerakan jemari Jay yang sedang memainkan tusuk konde perakmu seketika terhenti. Pria tegap itu terdiam selama beberapa detik. Tak ada amarah yang meledak, namun sudut bibir tipisnya perlahan tertarik ke atas, menampilkan seulas senyuman tipis yang luar biasa manipulatif dan sarat akan rahasia.
Jay meletakkan kembali tusuk konde itu, lalu menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi marmer. Ia menatapmu dengan pandangan menilai, seolah sedang melihat seorang anak kecil yang meminta mainan yang belum waktunya untuk dimiliki.
โNgelamar kamu, hm?โ Jay mengulang kalimatmu dengan nada suara baritonnya yang santai namun bergaung berat. Pria itu terkekeh pendek, sebuah tawa rendah yang langsung membuat nyalimu kembali menciut.
Pria berumur awal tiga puluhan ini mulai memainkan kelihaian verbalnya. Jay tahu persis bagaimana cara memutarbalikkan logika hukummu menggunakan pesona dan ambisi besarnya.
โDek... dengerin Abang,โ ucap Jay, nadanya mendadak melunak, bertransisi menjadi sosok pria dewasa yang sedang memberikan pengertian mendalam. โUmur Abang saat ini bahkan belum menyentuh tiga puluh lima tahun. Karier militer Abang sedang berada di puncak keemasan, dan Abang nggak akan membiarkan apa punโtermasuk sebuah pernikahan diniโmemperlambat pergerakan pangkat Abang di markas besar.โ
Jay memajukan kembali tubuhnya, menatapmu dengan binar mata yang ambisius sekaligus mengintimidasi. โKamu tahu sendiri, setahun lalu saat KRI Elang mengalami insiden kebocoran dan hampir tenggelam di laut dalam, siapa yang memimpin operasi penyelamatan di garis depan? Abang, (y/n). Abang berhasil mengevakuasi seluruh prajurit muda dan awak kapal tanpa ada satu pun korban jiwa. Prestasi itu, ditambah beberapa operasi intelijen ring dalam yang Abang selesaikan kemarin, sudah masuk ke dalam meja sidang Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi.โ
Jay menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang luar biasa megah pada deretan kata berikutnya. โDalam waktu dekat, Abang akan dipromosikan naik pangkat menjadi Laksamana Muda bintang dua. Abang diplot untuk menjabat sebagai Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal). Jabatan basah dan sakral di usia yang belum genap tiga puluh lima tahun. Kamu bisa bayangkan seberapa besar kuasa yang akan Abang pegang nanti?โ
Kamu terpaku membisu. Skala dunia Jay terlalu besar dan mengerikan untuk dijangkau oleh otak mahasiswamu.
โKalau Abang nekat melamar kamu sekarang ke rumah Jenderal Polisi itu, opini publik dan intelijen internal akan langsung mencium ada yang tidak beres. Pernikahan perwira tinggi militer dengan putri Jenderal Polisi yang umurnya masih sangat muda pasti akan memicu penyelidikan latar belakang,โ tutur Jay dengan suara sehalus beludru namun menekan mentalmu perlahan. โAbang mau kamu bersabar. Tunggu sampai posisi Abang sebagai Danpuspomal mutlak dan aman, tunggu sampai kamu menyelesaikan kuliah Hukummu. Abang lakuin ini semua demi masa depan kita juga, Dek. Biar nanti saat Abang datang ke rumahmu, Abang datang sebagai pria dengan kuasa tertinggi yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Paham?โ
Mendengar penjelasan Jay yang begitu terencana, terstruktur, dan dibumbui oleh janji masa depan yang berkilau, seluruh argumen hukum di kepalamu mendadak lumpuh lagi. Kamu merasa bersalah karena sudah meragukan keseriusannya. Di dalam hatimu yang rapuh, kamu kembali percaya bahwa pria beringas ini melakukan segalanya demi melindungimu.
โM-Maaf, Bang...โ bisikmu lirih dengan kepala kembali tertunduk. โMaaf karena aku udah berpikiran yang enggak-enggak soal Abang... Aku... aku bakal nunggu Abang.โ
Mendengar ucapan maaf dan ketundukan mutlak yang meluncur dari bibirmu, kilat dingin di sepasang mata Jay seketika mencair, digantikan oleh tatapan sarat akan gairah kepemilikan yang amat pekat. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja makan marmer, lalu berhenti tepat di samping tempat dudukmu.
Sebelum kamu sempat mendongak, sepasang lengan kekarnya yang kokoh sudah merengkuh tubuh ringkihmu dari belakang. Jay menarikmu masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat, menenggelamkan wajah sembapmu di balik dekapan kemeja linen hitamnya yang beraroma maskulin.
โNah... begitu, good girl,โ bisik Jay tepat di pucuk kepalamu, mengusap punggungmu dengan gerakan lambat yang menenangkan. โAbang cuma butuh kepatuhan dan kesabaran kamu. Jangan pernah ragukan rasa sayang Abang ke kamu, Dek.โ
Kamu memejamkan mata erat-rata di dalam pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang selalu berhasil membuatmu kecanduan sekaligus ketakutan di saat yang bersamaan. Rasa sesak di dadamu perlahan memudar, digantikan oleh rasa pasrah yang teramat dalam pada takdir yang mengikatmu bersamanya.
Jay merenggangkan sedikit pelukannya, lalu menundukkan wajah tampannya. Jemari tangannya yang kasar bergerak lembut menghapus sisa air mata di sudut matamu, sebelum akhirnya ibu jarinya mengusap bibir bawahmu yang pucat dengan penekanan yang sensual.
โDua hari ini Abang tersiksa di Jakarta karena kamu mengabaikan Abang,โ gumam Jay rendah, suara baritonnya kini berubah menjadi serak dan berat, dipenuhi oleh sinyal gairah yang sudah tidak bisa ia bendung lagi setelah menahan diri sejak di Istana. โSekarang, bayar utang maafmu sore ini, Dek.โ
Tanpa menunggu jawabanmu, Jay menyatukan belahan bibir kalian dalam sebuah ciuman yang mendalam, intens, namun kali ini terasa begitu penuh dengan letupan kasih sayang yang posesif. Kamu mengalungkan kedua lenganmu di leher kokohnya, membiarkan tubuhmu diangkat dengan mudah oleh Jay untuk dibawa masuk ke dalam kamar tidur utama yang remang di balik tirai yang tertutup rapat.
Sore itu, di atas ranjang apartemen sewaannya, Jay menguliti seluruh ketakutan dan kebohongan dua tahunmu bukan lagi dengan kata-kata ancaman kedinasan, melainkan dengan sentuhan-sentuhan beringas yang dipenuhi kelembutan yang memabukkan. Setiap jengkal sentuhan tangannya yang kasar di atas kulitmu, setiap bisikan kata cinta yang ia embuskan di ceruk lehermu, seolah menjadi segel mutlak bahwa tubuh, jiwa, dan seluruh harga dirimu sebagai anak Jenderal telah tergadaikan sepenuhnya di bawah kuasa sang calon Danpuspomal. Kamu membiarkan dirimu hancur dan menyatu bersamanya dalam pusaran gairah rahasia, melupakan sejenak fakta bahwa di luar sana, takdir sedang menyusun badai yang jauh lebih besar untuk menghantam kalian berdua.
to be continued




Jay itu nggak seberapa cinta, dia cuman mikirin karir dan karirnya dan Yn cumn dijadiin hal senang senang untuk dia makanya Jay bisa ambil hak atas Yn seenaknya sampai meras otak Yn karena dari dulu udah kena child grooming, Yn juga ke Jay cintanya bukan cinta tulus tapi tersimpan hal yang bikin dia takut kedepannya dia mau maju tapi takut dia mau mundur banyak yang harus dia pikir ulang lagi termasuk kesuciannya sedangkan Jay cuman mikirin karirnya padahal Yn bisa lepas apalagi dia kan mahasiswa Hukum perjalannya masih jauh kalau dia beneran pinter bisa tuh jeblosin Jay ke ranah hukum karena udah nodai Yn dibawah umur, Manipulatif, Mengancam tapi Yn ini kebutaan sama yang namanya cintaโบ
kesel bgt gw lama-lama sama lu yeen ๐ญ nape tolol bgt sih ๐ซณ๐ป