30 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa like sampe tembus 100 lebih
Begitu derap langkah sepatu Ryujin benar-benar lenyap di balik belokan koridor, keheningan yang tersisa di antara kamu dan Jay terasa begitu pekat, kaku, dan sarat akan ancaman maut. Kamu berdiri mematung dengan kepala tertunduk, menatap ujung selop hak tinggimu. Jantungmu berpacu begitu gila hingga dadamu terasa nyeri, dan seluruh permukaan telapak tanganmu sudah basah kuyup oleh keringat dingin.
Jay tidak langsung membawamu berjalan menuju pelataran depan tempat Ayahmu menunggu. Pria itu justru membalikkan tubuh tegapnya secara lambat, lalu melangkah satu langkah besar mendekat ke arah posisimu.
Sret.
Dengan satu gerakan tangan kanannya yang kekar dan cepat, Jay mencengkeram lengan atas kebayamu-tidak sampai membuatmu memar, namun cukup kuat dan menuntut untuk menarik tubuh ringkihmu masuk ke dalam sebuah koridor buntu yang remang di dekat ruang panel Istana. Area itu sangat sepi, tertutup oleh pilar marmer raksasa dan hanya diterangi oleh lampu dinding yang temaram.
Jay menyudutkan tubuhmu hingga punggungmu membentur dinding marmer yang dingin. Pria itu maju selangkah lagi, mengikis jarak di antara kalian hingga dada bidangnya yang berbalut seragam PDU putih hampir menempel pada dadamu. Aroma parfum mint yang pekat bercampur aroma tembakau kering seketika mengurung seluruh indra penciumanmu, membuatmu kian sesak napas.
βPintar sekali ya mainnya, hm?β
Suara bariton Jay mengalun sangat rendah, nyaris seperti bisikan beringas yang langsung menghantam indra pendengaranmu. Pria itu menundukkan kepalanya, memaksa sepasang mata elangnya yang pekat dan mematikan untuk mengunci langsung manik matamu yang sudah berkaca-kaca. Rahang kokoh sang Laksamana mengeras, menampilkan urat leher yang menegang kaku.
βDua tahun, (y/n). Dua tahun kamu pasang muka polos seolah-olah kamu anak SMA kesepian yang nggak punya siapa-siapa di dunia ini,β Jay mendengus sinis, sebuah tawa pendek yang sarat akan rasa tak percaya sekaligus kemarahan yang meluap keluar dari bibir tipisnya. βTernyata kamu anak kandung Brigadir Jenderal Jaehyun. Anak dari orang yang siang ini jabat tangan saya di aula depan. Kamu sengaja mau menjebak Abang, atau kamu memang se-gila itu?β
βB-Bang Jay... demi Tuhan, enggak...β air matamu akhirnya lolos membasahi pipi, suaramu pecah dan bergetar hebat karena ketakutan yang luar biasa. Kamu meremas tas tanganmu, mencoba memohon di sela isak tangismu yang tertahan. βAku cuma takut... aku takut kalau Abang tahu aku anak polisi, Abang bakal jauhin aku... aku nggak bermaksud bohongin Abang...β
Jay tidak bergeming melihat air matamu. Tangan kanannya bergerak naik, jemari kekarnya yang kasar perlahan menyentuh dagumu, mencengkeramnya dengan penekanan yang tegas agar kamu tidak memalingkan wajah.
βSimpan tangisan kamu. Kamu tahu persis Abang paling benci dibohongi,β bisik Jay lagi, tatapan matanya begitu menguliti mentalmu hingga kamu merasa telanjang di hadapannya. βPunya ayah Jenderal, tapi kelakuan kamu di depan Abang kayak jalang tiap malam di apartemen. Gimana kalau Abang datangi Ayahmu sekarang, lalu Abang ceritakan semua hal jorok yang udah kita lakuin selama dua tahun ini? Menurutmu, siapa yang bakal mati duluan di tangan Jenderal Polisi itu? Abang, atau kamu?β
Mendengar ancaman mengerikan itu, seluruh persendianmu rasanya lumpuh. Kamu menggelengkan kepala dengan panik, mencengkeram ujung seragam putih Jay dengan sisa tenagamu. βJangan, Bang... aku mohon... jangan kasih tahu Ayah... bunuh aku aja tapi jangan kasih tahu Ayah, Bang...β
Jay menyipitkan matanya, menikmati setiap detik keputusasaan dan rasa remuk yang terpancar dari wajah mudamu. Tangan kirinya meraba saku celananya, berniat mengambil ponselnya sendiri untuk menunjukkan ratusan spam chat permohonan maafmu yang menyedihkan. Atmosfer di sudut buntu itu sudah berada di titik didih yang siap menghancurkan seluruh duniamu.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Tepat di saat kritis itu, suara getar kencang dari alat komunikasi HT (Handy Talkie) kedinasan yang menjepit di kopel rim kanan Jay mendadak berbunyi nyaring, memecah ketegangan maut di antara kalian. Bersamaan dengan itu, suara dering panggilan khusus dari ponsel dinas di saku Jay ikut berbunyi.
Jay berdecak kasar. Cengkeramannya di dagumu terlepas. Dengan gerakan taktis yang gusar, ia meraba ponsel dinasnya, melirik layar yang menampilkan nama panggilan dari Komando Pusat Protokoler Istana.
βLaksamana Pertama Jay di sini. Siap,β jawab Jay dengan intonasi yang mendadak berubah menjadi sangat formal dan dingin begitu menekan tombol terima.
βMohon izin, Laksamana. Perintah langsung dari Panglima TNI dan Sekretariat Militer Presiden. Seluruh perwira bintang satu komandan unsur pengamanan diinstruksikan untuk segera merapat ke Ruang Utama Sayap Barat sekarang juga. Ada evaluasi mendadak terkait pergeseran plot siber malam dan persiapan kepulangan tamu VIP negara. Ditunggu dalam waktu tiga menit, Laksamana.β
βSiap. Dimengerti. Saya segera merapat,β jawab Jay pendek sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Jay menurunkan ponselnya, lalu kembali menatap ke arahmu yang masih berdiri gemetar dengan napas yang tersengal-sengal di depan dinding marmer. Situasi kenegaraan tingkat tinggi mendadak mengintervensi eksekusinya sore ini. Jay terpaksa harus pergi, menaruh urusan pribadinya di bawah perintah mutlak sang Panglima.
Namun, Jay bukanlah pria yang akan melepaskan mangsanya begitu saja tanpa meninggalkan jejak teror.
Pria itu maju satu langkah lagi, mempepet tubuhmu hingga tak ada celah. Tangan kekarnya naik ke arah kepala sanggulmu. Dengan gerakan perlahan yang justru terasa sangat intimidatif, jari-jari Jay meraba bagian belakang rambutmu, lalu menarik paksa sebuah tusuk konde hiasan berlapis perak berbentuk burung phoenix yang menyangga sanggul kebayamu hingga beberapa helai rambut anggunmu jatuh berantakan di pelipis wajahmu.
Kamu tersentak, menatapnya dengan pandangan bingung sekaligus takut.
Jay menggenggam tusuk konde perak itu di dalam telapak tangan kekarnya, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam seragam PDU putihnya sebagai barang jaminan. Ia menundukkan wajahnya sekali lagi, berbisik tepat di depan bibirmu yang pucat.
βKamu beruntung tugas negara menyelamatkanmu sore ini, good girl,β ucap Jay dengan seringai gelapnya yang paling beringas, menyemburkan napas hangatnya yang berbau mint di kulit wajahmu. βPulang bersama Ayahmu sekarang. Pasang muka manis seolah-olah kamu anak jenderal yang penurut. Tapi ingat... tusuk konde ini ada di tangan Abang. Begitu kamu menginjakkan kaki di sana, pastikan Hpmu aktif 24 jam. Ini cuma penundaan eksekusi, (y/n). Urusan bohongmu ini... bakal Abang kuliti habis begitu Abang longgar.β
Tanpa menunggu balasanmu, Jay memakai kembali topi pet perwiranya dengan gerakan cepat yang gagah, berbalik arah, dan melangkah lebar meninggalkan koridor buntu itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Kamu ditinggalkan sendirian dalam keadaan berantakan, bersandar pada dinding marmer dengan sanggul rambut yang sebagian sudah lepas, menyadari bahwa kamu baru saja lolos dari mulut singa namun harus pulang membawa bom waktu yang detiknya terus berjalan menuju kehancuran total bersama mental yang terguncang.
β
Dua hari telah berlalu sejak malam jahanam di Istana Negara, dan selama empat puluh delapan jam itu pula kamu memilih untuk lenyap secara mutlak dari muka bumi. Akhir pekan yang seharusnya diisi dengan hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa di kota rantauan justru berubah menjadi masa isolasi yang mengerikan di dalam kamar kosmu. Kamu sengaja mengabaikan puluhan rentetan panggilan telepon dan spam pesan dari Sunghoon, teman-teman satu jurusan Hukum yang mengajakmu hangout di kafe sekitaran kampus, bahkan pesan-pesan panik dari Isa. Kamu mengunci diri di dalam kamar yang gelap, mematikan lampu utama, dan membiarkan dirimu tenggelam di balik selimut tebal yang dingin dengan sisa-sisa ketakutan yang masih mencengkeram dadamu.
Kamu bener-bener ketakutan. Setiap kali memejamkan mata, bayangan tatapan beringas Laksamana Jay di koridor buntu Istana kembali hadir, lengkap dengan suara baritonnya yang mengancam akan membongkar semua hubungan terlarang kalian di depan Ayahmu. Rasa stres yang masif itu merusak fungsi tubuhmu, asam lambungmu naik drastis, membuatmu tidak selera makan hingga beberapa bungkus makanan yang sempat kamu pesan lewat aplikasi Gofood dan Shopeefood utuh membusuk di sudut meja.
Cklek.
Suara engsel pintu kosmu yang mendadak bergerak terbuka seketika membuat tubuhmu tersentak di atas kasur. Jantungmu berdegup gila, mengira bahwa monster itu telah datang untuk mengeksekusimu. Namun, begitu siluet seorang gadis dengan napas terengah-engah muncul di balik remang pintu yang memang sengaja tidak kamu kunci dari dalam, kamu sedikit bernapas lega.
Itu Isa.
βAstaga, (y/n)!! Kamu gila, ya?!β Isa berteriak panik begitu melihat kondisi kamarmu yang berantakan, berbau pengap, dan mendapati dirimu meringkuk seperti janin di atas kasur dengan wajah yang luar biasa pucat serta kantung mata yang menghitam.
Isa langsung melempar tasnya ke lantai, setengah berlari menghampirimu dan langsung duduk di tepi kasur. Ia menyentuh keningmu yang dingin dan basah oleh keringat. βKamu kenapa sih? Dua hari nggak ada kabar, di-chat nggak dibalas, ditelepon nggak diangkat! Sunghoon sama temen sekelasmu sampai nanyain ke aku kamu ke mana karena kamu susah dihubungi kemarin!β
Kamu tidak menjawab. Kamu hanya menatap Isa dengan pandangan kosong yang berair, sebelum akhirnya air mata yang kamu tahan sejak pagi kembali lolos membasahi bantal.
Melihat kondisi mental dan fisikmu yang hancur berantakan seperti ini, Isa mengembuskan napas panjang, menatapmu dengan gurat kecemasan yang amat mendalam. Selama ini, sebagai sahabat terdekat, Isa hanya tahu kalau kamu menjalin hubungan asmara backstreet dengan seorang pria dewasa yang berprofesi sebagai perwira militer bernama Jay-pria yang dalam penilaian Isa memiliki sifat posesif, obsesif, dan gila kontrol yang sering membuatmu menangis.
Isa sama sekali tidak tahu fakta paling kelam di dalam hidupmu, dia tidak tahu bahwa kamu dan Laksamana Jay sudah melangkah jauh hingga bermain di atas ranjang sejak usiamu masih belia. Isa mengira hubungan kalian sebatas gaya pacaran orang dewasa yang toxic, bukan perbudakan gairah di dalam penjara emas yang Jay buat.
βNangis dulu... nggak apa-apa, tumpahin dulu ke aku,β bisik Isa lembut, menarik tubuh ringkihmu ke dalam pelukannya. Kamu langsung memeluk leher Isa dengan erat, menangis tersedu-sedu di pundak sahabatmu, meluapkan seluruh beban berat yang hampir membuat warasmu hilang.
Setelah tangismu agak mereda menjadi isakan kecil, Isa merenggangkan pelukan, menatap matamu dengan serius. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, sesuatu yang menjadi alasan utama mengapa ia sampai nekat menerobos masuk ke kosmu sore ini.
βSebenarnya ada apa, (y/n)? Tolong jujur sama aku,β tanya Isa, nada suaranya berubah menjadi sangat hati-hati namun mendesak. βAku terpaksa nekat ke kosmu hari ini karena... karena pacarmu itu. Laksamana Jay ngehubungi aku satu jam yang lalu.β
Kata-kata Isa seketika membuat seluruh darah di tubuhmu membeku. Kamu menatap Isa dengan tatapan horor yang luar biasa.
βD-Dia... Bang Jay telepon kamu?β tanyamu dengan suara yang parau dan gemetar.
βIya! Waktu itu kan dia sempat kasih nomor WhatsApp-nya karena buat kepentingan kalau ada apa-apa sama kamu pas wisuda dulu. Nomormu nggak aktif sama sekali sejak kamu pulang dari Jakarta,β ujar Isa dengan dahi yang berkerut heran, mencoba merunut keanehan situasi ini.
βDia nanyain keberadaanmu ke aku, suaranya di telepon tadi dingin banget sampai bikin aku merinding. Aku bingung, (y/n). Biasanya kan kalau dia ada kabar atau habis dinas luar kota, kamu yang paling excited cerita ke aku. Tapi ini... kalau sampai seorang Laksamana yang angkuh kayak dia repot-repot hubungi aku cuma buat nyari kamu, berarti ada sesuatu yang nggak beres yang terjadi di Istana Negara kemarin, kan?β
Isa mencengkeram kedua tanganmu yang dingin, menuntut sebuah kebenaran. βCerita sama aku, (y/n). Apa yang udah dia lakuin ke kamu di Jakarta sampai kamu ketakutan kayak gini?β
Di bawah sorot mata Isa yang sarat akan tuntutan kejelasan, pertahanan batinmu benar-benar runtuh sampai ke dasar. Kamu tahu, kamu tidak bisa lagi memikul rahasia gila ini sendirian jika ingin tetap waras. Dengan bibir yang bergetar hebat dan jemari yang terus meremas ujung selimut, kamu akhirnya mulai membuka suara, menceritakan seluruh kronologi horor yang terjadi di Istana Negara dua hari lalu.
Kamu menceritakan bagaimana takdir dengan kejam mempertemukan Ayahmu-sang Brigadir Jenderal Polisi-dengan Laksamana Jay di aula utama. Kamu menceritakan bagaimana Ayahmu menepuk pundak Jay dengan penuh rasa bangga, tanpa tahu bahwa pria tegap berseragam PDU putih di hadapannya adalah monster yang selama dua tahun ini menodai putri kandungnya. Kamu juga menceritakan bagaimana kamu bertemu dengan Letnan Ryujin di toilet, sosok wanita militer yang membelikanmu obat kontrasepsi darurat Postinor di masa SMA, yang ternyata adalah bawahan langsung dari Jay.
βDan... dan pas Kak Ryujin mau anterin aku ke depan,β suaramu tercekat, air mata kembali menetes deras ke pipimu. βBang Jay nahan aku di koridor buntu, Isa... Dia menyudutkan aku ke dinding. Dia tahu aku anak Jenderal. Dia marah besar karena merasa aku bohongin dia selama dua tahun ini...β
Isa mendengarkan seluruh ceritamu dengan mulut yang sedikit terbuka. Wajah sahabatmu itu perlahan berubah menjadi luar biasa syok, pucat, dan tidak percaya dengan kompleksitas takdir yang sedang menjepit hidupmu.
βAstaga... Jadi selama ini dia nggak tahu kalau kamu anak Jenderal Polisi?!β bisik Isa dengan suara yang tertahan di tenggorokan, ikut merinding membayangkan ketegangan antara dua pemegang kekuasaan tertinggi di hidupmu. βTerus... terus dia ngapain kamu di koridor itu, (y/n)? Dia... dia nggak main fisik, kan?β
Kamu menggeleng lemah, wajahmu menyiratkan keputusasaan yang mendalam. βEnggak... tapi dia ngancem bakal ceritain semua hal yang udah kami lakuin di apartemen ke Ayahku. Dia... dia juga ngambil paksa tusuk konde perakku, Isa. Diambil buat jaminan biar aku nggak bisa lari dari dia...β
Isa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, benar-benar tidak menyangka bahwa Laksamana Jay bisa bertindak se-manipulatif dan se-beringas itu untuk mengontrol jalan hidupmu. Sebagai mahasiswa yang pintar dalam berpikir kritis, Isa tahu persis: jika rahasia ini meledak, kehormatan keluarga Ayahmu akan hancur, karier militer Jay berada di ujung tanduk, dan posisimu sebagai korban sekaligus pelaku kebohongan akan menjadi titik paling rapuh yang akan dihantam dari dua arah.
βOrang itu benar-benar psikopat berkedok perwira negara...β gumam Isa lirih, tubuhnya ikut gemetar membayangkan skala bahaya yang sedang mengintaimu. βDia sengaja telepon aku hari ini bukan cuma buat nanyain keberadaanmu, (y/n). Dia lagi ngasih sinyal ke kamu kalau dia bisa menjangkau siapa pun di sekitarmu. Dia lagi neror mental kamu.β
Tepat ketika Isa selesai mengucapkan kalimat itu, ponsel rahasiamu yang tergeletak mengenaskan di atas lantai di bawah ranjang mendadak bergetar kencang.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Di dalam kesunyian kamar kos yang remang, suara getar itu terdengar seperti detak bom waktu yang menakutkan. Kamu dan Isa refleks menoleh ke arah bawah kasur. Layar ponselmu menyala terang, menampilkan sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang sangat kamu hafal.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya, kamu memungut benda pipih itu dan membuka layarnya. Di sana, Laksamana Jay mengirimkan sebuah pesan singkat berupa lampiran foto.
Foto sebuah tusuk konde perak berbentuk burung phoenix milikmu yang diletakkan secara sengaja di atas meja kerja kayunya yang mewah, bersanding lurus dengan sebuah papan nama kuningan bertuliskan: Laksamana Pertama Jay.
Di bawah foto tersebut, ada satu baris kalimat pendek dengan gaya penulisan dinginnya yang khas:
βAbang tahu kamu ada di kosan bersama sahabatmu, good girl. Angkat telepon Abang dalam hitungan ketiga, atau Abang yang telepon Ayahmu sore ini juga untuk mengembalikan tusuk konde ini.β
Kamu menatap layar itu dengan napas yang mendadak berhenti berputar. Udara di dalam kamar kosmu seketika terasa habis, menyadari bahwa penjara emas itu kini telah berubah menjadi penjara mutlak yang siap menguliti habis seluruh sisa hidupmu.
Isa menyambar ponselmu dari atas kasur dengan gerakan kasar, matanya melotot tajam membaca baris kalimat ancaman yang dikirimkan oleh Laksamana Jay. Wajah sahabatmu itu seketika memerah padam, bukan lagi karena syok, melainkan karena amarah yang mendadak meledak sampai ke ubun-ubun. Ia mencengkeram kedua bahumu, mengguncang tubuh ringkihmu yang masih gemetar dengan emosi yang meluap-luap.
βKamu gila, (y/n)! Kamu bener-bener udah nggak waras!β Isa setengah berteriak, suaranya bergetar hebat di dalam kesunyian kamar kos yang pengap. βSetelah semua yang dia lakuin ke kamu di sana, setelah dia nyudutkan kamu di koridor Istana kayak kriminal, kenapa kamu nggak minta putus aja sih dari dulu?! Kenapa kamu masih mempertahankan hubungan sakit kayak gini?!β
Kamu hanya bisa menggelengkan kepala berseling isakan tangis yang kian pecah, mencoba menarik selimut untuk menyembunyikan wajah sembapmu. βNggak semudah itu, Isa... Kamu nggak tahu apa-apa tentang kami. Aku nggak bisa asal mutusin Bang Jay gitu aja...β
βKenapa nggak bisa?! Apa yang bikin nggak bisa, (y/n)?!β Isa kian meradang, cengkeramannya di bahumu semakin mengencang, menuntut logikamu yang telah mati untuk kembali berfungsi.
βKamu ini anak Hukum! Kamu kuliah di Fakultas Hukum universitas negeri, tiap hari belajar pasal, tapi kenapa otakmu mendadak tumpul kalau urusannya sama perwira itu?! Sadar, (y/n)! Tindakan dia yang nahan tusuk konde kamu, ngancem bakal ngasih tahu Ayahmu, itu udah masuk unsur pemerasan emosional! Belum lagi... kalau kita urut balik ke dua tahun lalu pas kamu masih SMA, apa yang dia lakuin ke kamu di apartemen itu udah memenuhi unsur pidana tindakan asusila terhadap anak di bawah umur! Penyalahgunaan video pribadi, pemaksaan gairah... Dia bisa kena pasal berlapis, karier militernya bisa hancur lebur kalau kamu berani lapor!β
βNggak! Aku nggak mau lapor! Jangan pernah kepikiran buat lapor, Isa!β Kamu mendadak berteriak histeris, menyentak tangan Isa dari bahumu dengan kepanikan yang luar biasa. Tatapan matamu yang dipenuhi air mata memancarkan ketakutan sekaligus perlindungan mutlak atas pria yang telah menghancurkanmu.
Isa mundur selangkah di atas kasur, menatapmu dengan pandangan mata yang sarat akan rasa tidak percaya dan kekecewaan yang mendalam. βKenapa? Kenapa kamu masih belain bajingan berseragam itu setelah dia menguliti harga dirimu sampai habis, (y/n)?β
βKarena harga diriku... seluruh hidupku udah diambil dan dipegang mutlak sama Bang Jay, Isa,β bisikmu parau, suaramu mendadak melemah, terdengar begitu rapuh dan putus asa. Kamu menundukkan kepala, meremas jemarimu yang mendingin.
βSemua rekaman, semua foto, semua hal tentang aku ada di tangan dia. Kalau aku nekat mutusin dia atau lapor, dia punya kuasa buat menghancurkan nama baik Ayahku dalam semalam. Tapi... tapi di luar semua ancaman itu...β Kamu mengambil napas berat, mencoba meyakinkan batinmu sendiri yang telah terdistorsi oleh manipulasi rahasia. βDi lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih yakin kalau Bang Jay itu serius sama aku. Ucapan lembutnya pas kami berdua, cara dia merhatiin hal-hal kecil tentang aku... dia cuma lagi marah karena aku bohong soal Ayah. Dia lakuin ini karena dia terlalu obsesif sama aku, Isa. Aku... aku masih sayang banget sama dia.β
Isa memegang kepalanya dengan kedua tangan, mengembuskan napas panjang ke udara, benar-benar tidak habis pikir dengan tingkat kebutaan emosional yang sedang melilit waras sahabatnya. Baginya yang melihat dari sudut pandang hukum yang bersih, kamu bukan lagi sekadar cegil atau cewek gila biasa kamu telah terperangkap ke dalam labirin Stockholm Syndrome yang begitu akut, di mana kamu jatuh cinta dan memaklumi monster yang setiap malam mencekik lehermu secara perlahan di balik selimut gairah.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Sebelum Isa sempat melontarkan argumen bantahan lainnya, layar ponsel di atas kasur kembali bergetar hebat. Kali ini bukan lagi sekadar pesan teks. Nama [Bang Jayπ] kembali berkedip di atas layar, melakukan panggilan telepon kedua tepat di hitungan ketiga sesuai dengan ancamannya di pesan singkat tadi.
Ruangan kos seolah mendadak kehilangan seluruh pasokan udaranya. Tensi di dalam kamar meroket naik, mencekik batinmu hingga ke titik nadir. Kamu menatap layar itu dengan mata yang melebar karena ketakutan, lalu beralih menatap Isa dengan pandangan memohon agar dia tidak bersuara.
Dengan sisa keberanian yang tersisa di dalam rongga dadamu yang sesak, jemarimu yang basah oleh keringat dingin bergerak gemetar menyentuh layar, memberanikan diri untuk menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel rahasia itu ke telingamu.
βH-Halo... Bang Jay...β bisikmu parau, bersiap menerima badai vonis yang siap meruntuhkan sisa hidupmu sore ini.
Suaramu mengalun tipis, nyaris tenggelam di antara sisa isak tangis yang mati-matian kamu redam. Kamu memejamkan mata erat-rata, mengantisipasi bentakan kasar atau rentetan kalimat dingin yang biasanya dilontarkan sang Laksamana tiap kali egonya terusik. Kamu sudah bersiap untuk hancur sore ini.
Namun, keheningan pendek di seberang saluran telepon itu mendadak dipecah oleh sebuah helaan napas panjang yang terdengar begitu berat, lelah, namun terselip kehangatan yang amat familier.
βDek... Kamu nangis?β
Bukan suara bentakan. Bukan pula nada taktis seorang Komandan Upacara yang angkuh. Suara bariton Jay mengalir begitu lembut, halus, dan sarat akan nada penyesalan yang mendalam. Sebuah intonasi yang seketika meruntuhkan seluruh pertahanan psikologismu yang baru saja kamu bangun bersama Isa.
βMaaf... Abang minta maaf ya, Dek,β lanjut Jay, suaranya terdengar begitu tulus tanpa ada bumbu sarkasme sedikit pun. βAbang tahu Abang keterlaluan waktu di koridor Istana kemarin. Abang cuma... Abang syok banget pas tahu kenyataan kalau wanita yang Abang peluk tiap malam ternyata putri dari rekan sejawat Abang sendiri. Abang merasa bersalah karena sudah bersikap beringas sama kamu kemarin. Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang sakit? Perutmu masih kram?β
Mendengar rentetan pertanyaan yang begitu perhatian, hatimu mendadak mencelos. Rasa hangat yang manipulatif itu kembali menjalar, membuat sisi cewek gilamu berbisik bahwa pria ini benar-benar mencintaimu dan hanya sedang lepas kendali karena rasa kepemilikan yang terlalu tinggi.
Kamu melirik ke arah Isa yang masih berdiri kaku di depan kasur, menatapmu dengan sepasang mata yang penuh dengan rasa curiga. Kamu menelan ludah sebelum menjawab, βA-Aku nggak apa-apa, Bang... Cuma agak pusing aja.β
βSyukurlah kalau kamu baik-baik saja,β sahut Jay, nadanya melembut satu oktav lagi. βSekarang Isa masih ada di kosanmu, kan? Dia lagi nemenin kamu?β
βI-iya, Bang. Isa lagi di sini.β
βBagus. Abang sengaja hubungi temanmu tadi karena Abang panik setengah mati waktu nomor rahasiamu nggak aktif dua hari. Abang takut kamu kenapa-napa di sana,β Jay menjeda kalimatnya sejenak, lalu terdengar mengembuskan napas pelan. βDek, tolong teleponnya di-loudspeaker sekarang. Abang mau bicara sebentar sama sahabatmu. Abang mau mastiin sesuatu.β
Kamu sempat ragu, namun tatapan matamu memberi isyarat pada Isa. Jari jemarimu yang masih sedikit gemetar bergerak menyentuh layar, mengaktifkan mode pengeras suara.
Klik.
βSudah, Bang...β bisikmu.
Atmosfer di dalam kamar kos yang remang itu mendadak berubah drastis begitu suara berat Jay menggema melalui pengeras suara ponsel. Suaranya terdengar begitu berwibawa namun sangat ramah, tipikal perwira tinggi yang memiliki tata krama luar biasa di depan publik.
βHalo, Isa? Ini saya, Jay,β sapa Jay dengan intonasi yang begitu tenang dan sopan. βSaya mau mengucapkan terima kasih banyak karena kamu sudah mau datang dan menjaga (y/n) sore ini. Saya tahu sifat posesif saya kemarin malam di Jakarta pasti membuat (y/n) ketakutan dan merepotkan kamu sebagai sahabatnya.β
Isa membeku di tempatnya berdiri. Kedua alisnya bertaut rapat, mendengarkan setiap bait kalimat yang meluncur dari bibir sang Laksamana dengan fokus penuh.
βSaya minta maaf kalau kehadiran saya di hidup (y/n) selama ini terkesan terlalu mengekang dan membuat kalian kurang nyaman,β lanjut Jay, suaranya terdengar begitu tulus, seolah-olah dia adalah pria dewasa paling bijaksana yang sedang mengalah demi kebaikan pasangannya.
βSore ini saya tidak akan membahas urusan apa pun dulu. Saya cuma mau memastikan kalau (y/n) makan dengan teratur dan ada kamu di sampingnya. Tolong bantu saya jaga dia dulu ya, Isa? Jangan biarkan dia mengurung diri lagi. Nanti malam setelah urusan dinas saya di Jakarta selesai, saya yang akan urus semuanya dengan baik tanpa ada ancaman lagi.β
βI-iya, Laks-eh Bang... Baik,β jawab Isa pendek, mendadak kehilangan seluruh kosakata hukumnya karena terpaku oleh karisma verbal yang dipancarkan oleh Jay.
βTerima kasih, Isa. Dek... Abang tutup dulu teleponnya ya? Ingat pesan Abang, makan yang banyak dan jangan nakal di kosan. I love you, Dek.β
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Jay, meninggalkan keheningan baru yang tak kalah mencekik di dalam kamar kosmu.
Kamu menurunkan ponselmu perlahan, menatap Isa dengan pandangan mata yang seolah ingin berkata, βLihat, kan? Bang Jay nggak sejahat yang kamu pikir. Dia lembut dan sayang banget sama aku.β
Isa berdiri mematung di dekat kasur, mengembuskan napas panjang sembari memijat pelipis kepalanya yang mendadak pening. Amarah yang menyala-nyala di dalam diri Isa beberapa menit lalu seketika padam, digantikan oleh sebuah kesadaran pahit yang membuatnya merinding sendirian di sudut kamar.
Kini, Isa paham seratus persen. Kini, Isa tidak bisa lagi menyalahkan kebodohan atau melabelimu sebagai cewek gila yang tak punya otak. Sifat aslimu sebagai anak Hukum yang logis tidak sedang tumpul, melainkan sengaja dilumpuhkan oleh taktik manipulasi psikologis tingkat tinggi yang dimainkan oleh Jay.
Isa bisa menebak dengan sangat tepat: alasan kenapa kamu tidak akan pernah bisa lepas dari belenggu Laksamana Jay bukan hanya karena ancaman foto atau video pribadi, melainkan karena Jay tahu persis kapan harus menjadi monster yang beringas di koridor Istana, dan kapan harus berubah menjadi pria dewasa yang paling lembut, rapuh, dan penuh perhatian di dunia lewat panggilan telepon. Love bombing dan perubahan ritme emosi yang dinamis itulah yang mengunci mati seluruh sistem kewarasanmu, membuatmu selalu haus akan validasi lembutnya setelah diberi teror yang mengerikan.
βGila...β gumam Isa lirih, menatapmu dengan pandangan mata yang campur aduk antara rasa kasihan dan ngeri. βLaki-laki itu benar-benar tahu cara menjinakkan kamu dalam waktu kurang dari lima menit, (y/n). Pantesan... pantesan kamu nggak akan pernah bisa lepas dari dia.β
To be continued




BARU KALI INI JADI YN KOK OON BANGETT MANA ANAK HUKUM LAGI HARUSNYA TEGAS MALAH LETOYππ Padahal Yn bisa ngancem balik lho ke Jay dia kan sebagai anak petinggi punya kuasa buat ancam balik, kalau Jay bisa manipulatif sii Yn juga bisa dong, seharusnya nggak takut dengan ancaman Jay kalau Jay beneran bilang ke Ayahnya sebagai Yn bisa memutar balikkan fakta bilang aja kalau itu semua kemauan Jay pasti karir Jay udah diujung tanduk apalagi Yn mahasiswa Hukum pasti disegani tuh
tuh kan apa gue bilangπΉβοΈ
kita tunggu episode proklamasinya. laksamana jay mengaku tidak siapπ°π°