Ketakutan yang sempat tersisa di benakmu mendadak digantikan oleh rasa syok yang melumpuhkan saat nama aslimu meluncur begitu lancar dari bibir pria yang seharusnya adalah orang asing ini. Pupil matamu bergetar hebat, mencoba mencari jawaban di balik tatapan predatornya yang tajam. Bagaimana mungkin? Kamu tidak pernah berkenalandengannya, bahkan selama dua tahun ini, unit 401 di depanmu itu bagaikan makam yang sunyi.
“D-darimana… dari mana kamu tahu nama aku?” tanyamu dengan suara yang tercekat di tenggorokan, mencoba menjauhkan wajahmu dari hembusan napasnya yang menghasut.
Riki hanya menyeringai, sebuah ekspresi yang mencampurkan obsesi dan kepuasan yang murni. Dia tidak memberimujawaban lewat kata-kata. Alih-alih menjawab, dia justru membungkam bibirmu dengan ciuman yang menghisap habissisa oksigenmu, sementara tangannya yang bebas mencengkeram rahangmu agar kamu tidak bisa memalingkan muka.
Di sisi lain, ada kenyataan gelap yang tidak kamu sadari. Sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di lorongapartemen ini dengan kardus-kardus pindahan, Riki sudah mengamatimu dari balik lubang intip pintunya yang gelap. Dia tahu jadwal kuliahmu, dia tahu kapan kamu merasa lelah, dan dia tahu bagaimana cara kamu tersenyum pada kurirpaket. Kejadian di bus itu bukanlah kebetulan, itu adalah eksekusi dari skenario yang sudah bersarang di otaknya selamaberbulan-bulan. Dia hanya menunggu masa ovulasimu tiba, saat pertahananmu berada di titik terlemah.
JLEB! JLEB! JLEB!
Sodokan Riki berubah menjadi hantaman yang tidak masuk akal. Dia tidak lagi menggunakan ritme, melainkan kekuatanmurni yang ingin menghancurkanmu. Setiap sentakan membuat punggungmu terbentur dinding beton dengan keras, tapi sensasi di bawah sana jauh lebih mendominasi segalanya.
“Riki! Ahh-ngghh! Stop, aku udah… aku udah nggak kuat!” kamu meracau, air mata mulai menggenang di sudut matamukarena stimulasi yang terlalu bertubi-tubi. Tubuhmu yang sebelumnya sudah berada di ambang puncak sebelumkedatangannya kini dipaksa untuk melampaui batas itu.
“Belum, (y/n). Kita baru mulai,” geramnya di telingamu, suaranya terdengar seperti perintah mutlak.
Riki mengangkat satu kakimu lebih tinggi, menyampirkannya di bahunya yang kokoh, membuat penyatuan itu terjadidalam sudut yang paling ekstrem. Batangnya yang berurat terasa seolah ingin menembus dinding rahimmu. Cairan pelumas alami yang melimpah akibat orgasme yang tertunda tadi kini justru menjadi bahan bakar bagi Riki untukmenghujammu semakin brutal. Suara splat, splat yang basah dan nyaring bergema di koridor masuk unitmu yang sempit.
Kamu kehilangan kendali total. Kepalamu terkulai lemas, matamu memutar ke belakang saat gelombang orgasme yang luar biasa dahsyat menghantam sarafmu. Ini adalah puncak yang paling menyakitkan sekaligus paling melegakan yang pernah kamu rasakan. Otot-otot liangmu menjepit milik Riki dengan kontraksi yang sangat kencang, memeras batangnyaseolah-olah kamu ingin menyerap seluruh keberadaannya ke dalam dirimu.
Cairanmu menyembur keluar dalam jumlah banyak, membasahi perut Riki dan lantai di bawah kaki kalian, namun Riki tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dia justru memanfaatkan momen kontraksimu untuk memompa lebihkeras, lebih dalam, dan lebih cepat.
“Iya, jepit terus… habiskan semuanya di punya aku,” bisik Riki vulgar, wajahnya memerah karena gairah yang memuncak, sementara dia terus menghujammu tanpa ampun di dinding, memastikan bahwa malam ini kamu tidak akan pernah bisamelupakan namanya, wajahnya, dan bagaimana dia memiliki setiap inci tubuhmu.
Riki belum puas. Bahkan setelah kamu meledak dengan hebat di dinding, dia tidak membiarkanmu turun ke lantai. Dengan posisi masih menyatu, dia menyeret tubuhmu yang lemas menuju meja makan kayu yang terletak hanyabeberapa langkah dari pintu masuk.
Dia membanting tubuhmu ke atas permukaan meja yang dingin, memaksamu untuk menungging. Satu kakimu ditarikpaksa naik ke atas meja, sementara kaki lainnya berpijak gemetar di lantai. Posisi ini membuat liangmu terbukasepenuhnya-pasrah dan terekspos tanpa perlahan.
JLEB!
Satu sentakan buta dari belakang membuat meja makanmu bergeser beberapa inci. Riki tidak memberikan ampun. Dia menghujammu dari belakang dengan sudut yang sangat frontal, langsung menghantam titik tanpa basa-basi.
Kriet… kriet… kriet…
Suara meja kayu yang berderit karena hantaman brutal Riki seolah menjadi musik pengiring malam yang penuh dosa ini. Kaos oversized-mu sudah tersingkap ke atas, melingkar di lehermu, membiarkan punggung dan bokongmu yang memerah menjadi sasaran empuk tangannya yang kasar.
“Liat meja kamu… sampai bunyi begini Cuma karena aku kentot kamu,” geram Riki. Dia meremas pinggulmu sampaimeninggalkan bekas jari yang memutih, lalu mendekatkan bibirnya ke telingamu yang sudah basah oleh keringat.
Dia mulai menyuntikkan kata-kata mesum yang paling frontal, menghancurkan sisa-sisa harga dirimu sebagai mahasiswiteladan.
“Kamu suka kan ditidurin tetangga kamu sendiri? Lubang kamu ini rakus banget, (y/n)… jepit yang kenceng, jangan dilepas. Bilang kalau kamu mau aku isi sampai rahimmu penuh sama mani aku. Bilang kalau kamu emang murahan kalausudah kena punya aku!”
Kata-kata vulgar itu menghantam mentalmu lebih keras daripada hantaman fisiknya. Kamu menangis-bukan karenasedih, tapi karena overload kenikmatan yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya. Air matamu jatuh membasahipermukaan meja saat kamu meracau tidak jelas.
“R-riki… ahh! Iya… kenceng lagi… hantam aku!” tangismu pecah, suaramu serak karena terlalu banyak mendesah.
Setiap kali kamu menjepit batangnya karena stimulasi kata-katanya, Riki justru semakin beringas. Dia memompa seolah-olah ingin membelah tubuhmu menjadi dua. Dia membiarkan tubuhnya berkeringat hebat, setiap tetesnya jatuh kepunggungmu yang melengkung kaku.
“Iya, terus… jepit terus sampai aku keluar di dalem. Malam ini kamu nggak akan bisa jalan ke kampus besok pagi, (y/n). Aku bakal pastiin kamu cuma bisa inget gimana rasanya jadi milik aku di atas meja ini.”
Hantaman itu semakin cepat, semakin brutal, hingga duniamu hanya berisi suara meja yang berderit, napas berat Riki, dan rasa panas yang membakar di pusat tubuhmu.
Suasana di ruang makan itu semakin panas dan sesak. Meja kayu yang biasanya kamu gunakan untuk belajar kinimenjadi saksi bisu dari penyatuan yang sangat primitif. Kamu sudah tidak bisa lagi menahan suara, teriakanmu pecah, memanggil nama Riki berulang kali di sela isak tangis gairah yang tak terbendung.
“Riki… ahh! R-riki, pelan… p-panas… nggghhh!”
Kamu memohon, namun Riki seolah tuli. Setiap hantamannya justru semakin dalam dan frontal, batangnya yang besardan keras itu terus menerus menghujam hingga menyentuh serviksmu, menciptakan sensasi ngilu yang meledak-ledak di sekujur perut bawahmu. Tubuhmu gemetar hebat, kakimu yang satu di atas meja mulai lemas dan kehilangan tenagauntuk menumpu.
Melihat punggungmu yang melengkung kaku karena stimulasi itu, Riki tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia merunduk, kedua tangannya yang kasar merayap ke depan dan meremas payudaramu yang terekspos karena kaosmu yang tersingkap hingga leher. Dia menarik dan memilin putingmu yang mengeras searah dengan ritme sodokannya yang semakin gila.
“Sakit atau enak, huh? Jawab, (y/n)!” geramnya, suaranya terdengar sangat rendah dan bergetar tepat di telingamu. “Lihat gimana tubuh kamu bereaksi… Kamu emang dibuat cuma buat nerima punya aku seutuhnya.”
Guncangan itu mencapai titik puncaknya. Duniamu serasa berputar, antara rasa sakit karena sodokan yang terlalu dalamdan kenikmatan yang meluap-luap karena masa ovulasimu yang sedang menggila. Kamu berada di ambang ledakan yang paling dahsyat.
Riki menyadari kamu sudah berada di ujung tanduk. Dia membungkuk, menanamkan wajahnya di antara pundak dan lehermu, lalu menggigit pundakmu dengan kuat-sebuah tanda kepemilikan yang permanen.
“Riki-aku… aku mau keluar! Ahhh!”
“Iya, keluar bareng aku… sekarang!”
Sreeet… Jleb!
Hantaman terakhir itu begitu kuat hingga meja makanmu berderit nyaring untuk terakhir kalinya. Bersamaan dengan itu, liangmu memeras habis milik Riki saat kamu muncrat untuk kedua kalinya malam ini.
Cairanmu menyembur keluar, membasahi penyatuan kalian yang masih rapat. Di saat yang sama, Riki mengerangpanjang, tubuhnya menegang kaku saat dia memuntahkan seluruh benihnya ke dalam rahimmu.
Kamu bisa merasakan cairan hangat itu membanjiri bagian terdalam dirimu, mengisi setiap inci ruang yang kosongdengan jumlah yang sangat banyak. Kamu terkulai lemas di atas meja, napasmu putus-putus, sementara Riki masihmenekan tubuhnya ke arahmu, memastikan tidak ada satu tetes pun yang terbuang sia-sia dari “hadiah” yang baru sajadia tanamkan di dalam dirimu.
Keheningan perlahan menyergap, hanya menyisakan suara napas kalian yang saling bersahutan di tengah unit apartemen yang kini terasa jauh lebih sempit dan berbahaya.
Dunia di sekitarmu mendadak gelap. Beban kenikmatan yang terlalu ekstrem dan guncangan fisik yang brutal membuatsistem sarafmu mati rasa. Tubuhmu yang awalnya menegang kaku perlahan terkulai lemas di atas meja makan, pingsan dalam keadaan yang paling berantakan.
Riki merasakan perubahan itu. Dia menyadari denyut di dalam dirimu perlahan melambat meski tubuhmu masihmengalami tremor pasca-orgasme. Bukannya panik, dia justru menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai menakutkan yang penuh dengan kepuasan predator. Baginya, melihatmu pingsan karena perbuatannya adalah bentukpengakuan tertinggi atas dominasinya.
Tanpa melepaskan pandangan darimu, Riki membopong tubuh polosmu ke kamar tidur. Dia membaringkanmu di tengahkasur yang berantakan, lalu dengan tenang melepaskan jaket denim dan celananya hingga ia sepenuhnya naked. Otot-otot tubuhnya yang tegang berkilat di bawah lampu kamar yang temaram.
Dia menarik kaos oversized dari lehermu, membuangnya ke lantai. Kini, kamu tergeletak pasrah di hadapannya. Riki berdiri di tepi ranjang, memanjakan matanya dengan setiap lekukan tubuhmu yang dihiasi jejak-jejak merah.
Tangannya yang besar mulai membelai setiap inci kulitmu, dari ujung kaki hingga wajahmu yang masih tampak sayudalam ketidaksadaran. Riki menunduk, mencium bibirmu yang sedikit terbuka dengan posesif. Tangannya bergerak kelehermu, mencekiknya pelan-bukan untuk menyakiti, tapi untuk merasakan denyut nadimu yang masih berpacu di bawah kulitnya.
“Kamu milikku sekarang, (y/n),” bisiknya kejam.
Dia mulai meninggalkan jejak-jejak baru.
Bibirnya turun ke rahang, meninggalkan hickey yang lebih banyak dan lebih pekat di belakang telingamu. Ciumannyaberlanjut ke area dada, menghisap kulit sensitif di sana hingga berubah warna. Riki kemudian beralih ke payudaramu, nenen dengan rakus seolah dia adalah bayi yang kelaparan, namun dengan aura yang jauh lebih gelap dan penuh gairah.
Sementara mulutnya sibuk di atas, tangannya merayap turun ke bawah. Jari-jarinya bersarang di dalam liangmu yang masih hangat dan penuh dengan cairannya. Riki tidak membiarkanmu beristirahat meski kamu pingsan. Dia memasukkan dua jarinya, mengocok kembali liangmu yang becek, memaksa tubuhmu yang tidak sadar itu untukmerespons kembali sentuhannya.
Dia tidak peduli kamu tertidur atau tidak, baginya, tubuhmu adalah wilayah kekuasaan yang bebas ia eksplorasi sesukahati sepanjang malam ini.
Riki benar-benar tenggelam dalam obsesinya yang gelap. Ketidakberdayaanmu justru menjadi katalis yang membuatgairahnya semakin membara. Dia menikmati bagaimana tubuhmu, meski kesadaranmu telah hilang, masih memberikanrespons-respons kecil yang jujur -sebuah pengkhianatan biologis yang sangat ia sukai.
Saat kedua jarinya mengocok di dalam liangmu yang banjir, dia bisa merasakan otot-otot di dalam sana berdenyutlemah, menjepit jarinya dengan irama yang spontan. Riki menarik bibirnya dari putingmu, menimbulkan suara “plop” yang basah dan nyaring, memecah kesunyian kamar yang hanya diisi oleh suara napas beratnya.
Dia menatap tubuhmu yang tergeletak pasrah dengan pandangan yang mengerikan, lalu berbisik tepat di depanwajahmu yang terlelap, “Kamu dengar itu? Tubuh kamu bahkan nggak bisa berhenti minta lebih, meskipun kamu pingsan. Kamu memang diciptain buat aku hancurin setiap malam, Sweetheart.”
Tanpa membuang waktu, Riki bergerak turun ke ujung kasur. Dia meraih kedua pergelangan kakimu dan menariknya hingga panggulmu berada di pinggir ranjang, membukanya lebar-lebar dalam kangkangan yang sangat memalukan dan terekspos. Matanya berkilat saat melihat liangmu yang masih sedikit terbuka, mengeluarkan sisa-sisa cairannya yang bercampur dengan milikmu.
Tanpa aba-aba, Riki membenamkan wajahnya di sana.
SLURPP… AHNN…
Dia menjilati setiap inci area sensitifmu dengan beringas. Lidahnya yang panas dan kasar menyapu klitoris dan bibir kemaluanmu, menyesap semua sisa penyatuan kalian dengan rakus seolah itu adalah nektar yang paling berharga. Riki benar-benar mencintai setiap jengkal tubuhmu, baginya, kamu adalah mahakarya yang selama ini hanya bisa iabayangkan dari balik dinding unitnya.
Dia menyesap habis cairan yang keluar, masuk ke dalam lubangmu dengan lidahnya, dan sesekali menghisap klitorismu dengan tekanan yang konstan. Tubuhmu yang pingsan memberikan reaksi kecil-pinggulmu sedikit terangkat dan jemarikakimu menekuk kaku.
Riki menyeringai di sela—sela kegiatannya. Kamu sangat responsif, sangat pasrah, dan tidak memberontak lebih—persis seperti boneka bernyawa yang selama ini ia idamkan untuk menghuni unitnya sebagai tawanan gairahnya yang tak terbatas. Malam ini masih sangat panjang, dan Riki tidak punya niat sedikit pun untuk membiarkanmu bangun tanpamerasakan keberadaannya di dalam dirimu lagi.
Riki merangkak ke sisi tempat tidur, meraih laptopmu yang tadi tergeletak begitu saja. Dengan jemari yang masih basaholeh sisa gairah, dia menyalakan kamera. Lampu indikator kecil di samping lensa itu menyala hijau, seolah menjadi mata ketiga yang akan menjadi saksi abadi atas kehancuranmu malam ini. Dia memiringkan layarnya, memastikan sudutpandangnya menangkap seluruh pemandangan di atas kasur: tubuhmu yang pucat, pasrah, dan terekspos sepenuhnya di bawah dominasi sosoknya yang besar.
“Ini bakal jadi koleksi favorit kita, sayang,” bisiknya ke arah kamera dengan nada yang dingin dan posesif.
Setelah memastikan rekaman berjalan, Riki kembali menjamahmu. Dia tidak memberikan ruang bagi kulitmu untukbernapas. Dia menciumimu lebih rakus dari sebelumnya, seolah ingin menghisap sisa nyawa dari bibirmu yang takberdaya. Ciumannya turun, membelah area dadamu, mempermainkan kedua payudaramu dengan cara yang sangat kasar. Dia menyesapi putingmu bergantian, menggigit kecil hingga meninggalkan bekas gigi yang kontras di kulitmu yang halus, menciptakan suara hisapan yang terekam jelas oleh mikrofon laptop.
Riki mencapai puncak obsesinya. Dia memosisikan dirinya di antara kedua pahamu, mendorong kakimu hingga menekuklebar ke samping perutmu dalam pose kangkangan yang sangat ekstrem dan memalukan. Dia meraih kedua tanganmuyang lemas, meletakkannya di samping kepalamu dengan siku menekuk-posisi klasik seorang perempuan yang menyerahsepenuhnya pada dominasi pasangannya.
“Lihat diri kamu di kamera, (y/n)… kamu kelihatan cantik banget saat hancur begini,” geramnya tepat ditelingamu meskikamu tidak bisa mendengarnya sebelum dia melakukan sentakan buta.
JLEB!
Dia menghujammu kembali, masuk sepenuhnya ke dalam liangmu yang sudah sangat lunak dan becek. Meskipunkesadaranmu masih hilang di alam bawah sadar, tubuhmu memberikan respon primitif yang luar biasa. Begitu batang Riki yang panas dan berurat itu bergerak brutal di dalam sana, dinding rahimmu secara refleks menjepitnya dengan kencang, seolah-olah otot-ototmu mengenali dan mendambakan kehadirannya.
Riki mengerang keras, matanya terpejam sejenak menikmati jepitan maut dari tubuhmu yang pingsan. Dia mulai memompa dengan ritme yang mematikan, setiap hantamannya membuat tubuhmu yang lemas berguncang hebat di atas kasur, menciptakan visual yang sangat provokatif di layar laptop.
Dia terus menghujam, bergerak frontal dan tidak terkendali, memastikan setiap detik dari dominasi gilanya initerdokumentasi dengan sempurna. Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya dari layar laptop itu, Riki terus“memanen” tubuhmu, tidak peduli kapan kamu akan bangun, karena baginya, kamu yang tidak berdaya jauh lebihmenggairahkan untuk dirusak berkali-kali.
Riki benar-benar menjadikan tubuhmu yang tak berdaya sebagai kanvas bagi segala fantasi gelap yang selama ini hanyaia simpan di balik dinding unitnya. Kamera laptop itu terus merekam setiap pergantian posisi yang ia lakukan denganefisiensi seorang predator.
Dari posisi kangkangan lebar, ia membalikkan tubuhmu hingga menungging pasrah dalam keadaan pingsan. Dia menarikpinggulmu tinggi-tinggi, membiarkan dadamu terhimpit kasur sementara ia menghujammu dari belakang dengan sudutyang sangat menukik. Suara hantaman kulit yang beradu bergema di seluruh kamar, berpadu dengan deru napas Riki yang semakin beringas.
Meskipun kesadaranmu belum kembali, alam bawah sadarmu mulai memberikan reaksi terhadap invasi yang begituintens. Setiap kali batang Riki yang besar dan panas itu menghantam serviksmu dengan kasar, sebuah desahan tipis dan serak lolos dari bibirmu yang sedikit terbuka.
“Nghhh… ahh…”
Suara itu sangat lirih, namun bagi Riki, itu adalah melodi kemenangan. “Iya, sayang… rasain terus,” geramnya sambilmenjambak rambutmu agar kepalamu terdongak, memperlihatkan wajahmu yang sayu di depan kamera.
Riki terus bereksperimen. Dia membopongmu, menyandarkan tubuh lemasmu di kepala ranjang sementara ia terusmemompa tanpa henti. Dia seolah tidak mengenal kata lelah, setiap gaya yang ia lakukan bertujuan untuk merasakan setiap sudut sempit di dalam dirimu.
Setiap sodokannya begitu frontal, seolah ia ingin menyatu dengan rahimmu selamanya. Perut bawahmu berdenyut hebat, dan meskipun kamu tidak bisa membuka mata, tubuhmu terus melengkung kaku, menjepit miliknya dengan kontraksi yang tak terkendali setiap kali ia menyentuh titik terdalammu. Riki benar-benar merealisasikan obsesinya, mengubah malam yang tenang ini menjadi maraton gairah yang brutal dan tak terlupakan setidaknya bagi kamera yang merekam setiap detiknya.
Kegilaan Riki mencapai puncaknya saat ia melihat bagaimana tubuhmu yang tak berdaya masih mampu memberikandesahan-desahan kecil yang mengundangnya untuk bertindak lebih jauh. Baginya, pingsanmu bukanlah tanda untukberhenti, melainkan undangan untuk mengeksploitasi setiap jengkal pertahananmu yang sudah runtuh.
Riki menarikmu ke tepi tempat tidur, membiarkan tubuh bagian atasmu menggantung rendah hingga kepalamu hampir menyentuh lantai, sementara panggulmu disangga oleh tumpukan bantal di ujung kasur.
Posisi ini membuat gravitasi menarik isi perutmu, memaksa liangmu terbuka lebih lebar dan lebih dalam darisebelumnya.
“Kamu bahkan udah keterbukaan ini buat aku, (y/n),” geramnya, suaranya terdengar seperti bisikan iblis saat diamemandangi lubangmu yang sudah memerah dan berdenyut karena stimulasi tanpa henti.
Riki kembali masuk dengan satu sentakan buta yang begitu kuat hingga tubuh lemasmu bergetar hebat. Kali ini dia tidakmenggunakan ritme yang teratur. Dia menghujammu dengan kekuatan penuh-frontal, kasar, dan tanpa ampun. Setiaptusukannya menghantam serviksmu dengan telak, menciptakan suara “plak plak plak” yang memenuhi kamar, beradudengan suara derit ranjang yang seolah akan patah.
Di alam bawah sadarmu, rasa sakit dan kenikmatan itu bercampur menjadi satu. Kamu merintih pendek, sebuah suara parau yang menyedihkan namun menggairahkan bagi Riki. Cairanmu yang tersisa bersama benih Riki yang sudahmembanjir di dalam sana merembes keluar, membasahi paha dan sprei, namun Riki justru menggunakan pelumas alamiitu untuk mempercepat genjotannya.
Riki tidak puas hanya dengan satu lubang. Sambil terus memompa dengan beringas di bawah, tangannya yang besarmerayap ke lehermu, meremasnya dengan tekanan yang pas untuk membuat wajahmu memerah. Dia ingin melihatmubenar-benar hancur di depan kamera laptop yang masih menyala.
“Aku nggak bakal biarin kamu lupa gimana rasanya punya aku merobek kamu dari dalam,” bisiknya vulgar, tepat sebelumdia menarikmu kembali ke tengah kasur dan membalikkan tubuhmu untuk posisi yang lebih brutal.
Dia melipat kedua kakimu hingga lututmu menyentuh dadamu sendiri, menciptakan tekanan maksimal pada rahimmu. Dalam posisi ini, batangnya yang besar dan berurat seolah benar-benar memenuhi setiap ruang kosong di dalam dirimu. Riki menghujammu habis-habisan, membiarkan keringatnya menetes membasahi tubuhmu yang penuh dengan jejakgigitannya.
Saat ia merasa puncaknya sudah di depan mata, Riki tidak mengurangi kecepatannya. Justru, dia semakin kehilangankendali. Dia menghantammu dengan kecepatan yang mematikan, tidak peduli meskipun tubuhmu yang pingsan mulaimengalami kejang-kejang kecil akibat stimulasi yang terlalu bertubi-tubi pada titik-titik saraf paling sensitifmu.
“(y/n)… ahhh… keluar bareng aku lagi, jalang kecil!”
Dengan satu geraman keras, Riki menyentakkan tubuhnya ke depan sekuat tenaga, membenamkan miliknya sampai ketitik terdalam yang bisa ia capai. Dia menegang kaku, rahangnya mengeras saat dia kembali memuntahkan benihnya kedalam dirimu dalam jumlah yang banyak. Dia terus menekan, tidak membiarkan satu inci pun jarak tersisa, sementarakamera merekam setiap detik penyatuan yang haus dan penuh obsesi itu.
Di dalam kamar yang pengap oleh bau seks dan gairah, Riki terkulai di atas tubuhmu yang masih tak sadarkan diri, menyeringai puas karena ia tahu-setiap jengkal dirimu kini telah ia tandai dengan cara yang paling brutal.
To Be Continued
lanjut?





WAH EMG DAH GILA BRONDONG SATU INII BRUTAL+GRAGAS BUKAN MAIN!! RIKII MANTEP GACOR BGT KIII!! 😭🤤🫠😻🫦💋❤️🔥💗💃🏻💦
ANJIR NGGK EXPECT BISA SEBRUTAL INI WOYY ,GILAK DAH LU KII!! GACOR BNGETT ANJIRR 🤤🤤👅