Enam Bulan Kemudian
Musim hujan di Jakarta kali ini terasa lebih dingin, atau mungkin hanya hatimu yang mulai membeku. Sudah tiga bulan sejak terakhir kali kamu merasakan aroma kopi dan pelukan aman dari Jungwon. Sesuai permintaanmu—yang saat itu kamu klaim sebagai cara untuk “memperbaiki hubungan dengan Jake”—Jungwon benar-benar menghilang.
Dia tidak lagi mengirim pesan menanyakan apakah kamu sudah makan siang. Dia tidak lagi muncul secara tiba-tiba saat kamu sedang menangis di pinggir jalan. Jungwon mengambil jarak aman, menepi ke balik meja kantornya di SCBD, mencoba memunguti sisa-sisa harga dirinya yang sempat hancur berkeping-keping. Dia memilih untuk menghormati keputusanmu, meski itu artinya dia harus membunuh perasaannya sendiri setiap hari.
Sementara itu, hubunganmu dengan Jake? Itu adalah sebuah panggung sandiwara yang melelahkan.
༝༚༝༚
“
Ayo, satu pose lagi. Peluk leher aku, tatap mataku seolah kita pasangan paling bahagia di dunia,” perintah Jake. Suaranya tidak lagi memiliki kehangatan seperti saat awal kalian berkenalan tiga tahun lalu.
Kamu menurut. Kamu memeluk lehernya, mencium pipinya untuk kebutuhan konten campaign terbaru kalian. Begitu lampu kilat kamera berhenti menyala, Jake langsung melepaskan tanganmu seolah kamu adalah benda panas yang menjijikkan. Dia langsung berjalan menuju monitor, berdiskusi dengan fotografer tanpa menoleh padamu sedikit pun.
“Jake, kita bisa bicara sebentar?” tanyamu, mencoba meraih tangannya di tengah hiruk pikuk kru studio.
“Bicara apa lagi? Aku sibuk, jadwal tayang konten ini mepet. Karir kita lagi di puncak, jangan bikin drama,” sahutnya dingin.
“Aku cuma mau tahu... kita ini apa, Jake? Kita udah jalan sejauh ini, tapi kamu nggak pernah mau ngebahas masa depan. Kamu cuma peduli sama engagement, sama brand deal,” suaramu mulai bergetar. Kamu butuh validasi. Kamu butuh kepastian bahwa semua pengorbananmu—termasuk membuang Jungwon—tidak sia-sia.
Jake berhenti melangkah. Dia menoleh, menatapmu dengan sorot mata yang membuatmu merinding. “Kamu mau kejujuran? Oke. Kita ini ‘bisnis’, (y/n). Sejak video kita viral dua tahun lalu dan kamu jadi seleb, nilai kamu di mata aku cuma sebatas angka di Instagram. Karir aku butuh image pasangan idaman, dan kamu yang paling pas buat peran itu. Jangan harap lebih.”
Dunia seolah runtuh di bawah kakimu. “Jadi... awal kita pdkt dulu? Semua janji kamu?”
“Itu investasi aku buat sampai di titik ini,” jawab Jake enteng sebelum kembali fokus pada layar ponselnya.
༝༚༝༚
Tanpa sadar, kakimu membawamu ke sini. Di depan gedung megah tempat Jungwon bekerja. Kamu berdiri di trotoar yang basah oleh sisa hujan, menatap satu per satu lampu ruangan yang mulai mati.
Lalu, kamu melihatnya.
Jungwon keluar dari lobi, mengenakan trench coat hitam, tampak jauh lebih dewasa dan dingin. Dia sedang berbincang dengan seorang rekan kerja perempuan—seseorang yang tampak sepadan dengannya, seseorang yang tidak memberikan luka padanya setiap malam. Jungwon tertawa. Tawa yang tulus, jenis tawa yang dulu selalu ia berikan padanya sebelum kamu merusaknya.
Kamu hendak melangkah maju, ingin berteriak bahwa kamu menyesal, bahwa Jake ternyata hanya monster, bahwa kamu butuh dia. Namun langkahmu terhenti saat melihat Jungwon membukakan pintu mobil untuk perempuan itu dengan sangat sopan—cara yang sama yang selalu ia lakukan padamu.
Jungwon sempat menoleh ke arah trotoar. Dia melihatmu. Matanya menangkap sosokmu yang mengenaskan, berdiri di bawah lampu jalan dengan makeup yang mulai luntur karena air mata.
Dulu, dia akan langsung berlari menghampirimu tanpa berpikir dua kali. Tapi sekarang?
Jungwon hanya menatapmu selama tiga detik. Tatapan yang kosong, seolah kamu hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah ia maafkan tapi tidak ingin ia kunjungi kembali. Dia kemudian masuk ke kursi pengemudi, menghidupkan mesin, dan melaju pergi melewati dirimu tanpa sepatah kata pun.
Dia benar-benar sudah menata kembali harga dirinya. Dia tidak lagi ingin menjadi pelarian. Dia memilih untuk menjadi pria yang menghormati keputusannya sendiri—dan keputusanmu untuk menjauh.
Kamu terduduk di trotoar, memeluk lututmu sendiri di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tidak pernah peduli. Jake memanfaatkanmu, dan Jungwon—satu-satunya pria yang benar-benar mencintaimu—telah belajar untuk hidup tanpa dirimu.
༝༚༝༚
Hanya butuh dua belas jam bagi dunia yang kamu bangun bersama Jake untuk runtuh total. Setelah kampanye Brand Ambassador bertema “Pasangan Abadi” itu tayang dan memenuhi baliho digital di sepanjang jalan protokol, kamu memutuskan untuk berhenti menjadi pajangan.
Memutus hubungan dengan Jake ternyata tidak sesederhana menghapus foto di galeri. Apartemenmu menjadi saksi bisu amukan pria itu. Jake meledak—bukan karena kehilangan cintamu, tapi karena kehilangan kontrak bernilai miliaran yang terancam batal jika image kalian hancur. Kata-kata kasar meluncur dari bibirnya, menghakimi asal-usulmu, menyumpahi kariermu, hingga akhirnya sebuah cengkeraman keras di rahangmu meninggalkan bekas kemerahan yang perih setelah satu tamparan mendarat di pipi mulusmu.
“Lo pikir lo siapa tanpa gue?” teriaknya tepat di depan wajahmu sebelum membanting pintu hingga engselnya bergetar. “Lo itu cuma figuran yang gue bikin jadi bintang. Lo bakal balik jadi sampah, (y/n)!”
Lega. Itu adalah rasa pertama yang muncul di tengah perihnya rahang dan hatimu yang terkoyak. Kamu muak dengan kepura-puraan ini. Namun, saat kesunyian apartemen kembali mencekam, rasa hampa yang jauh lebih gelap datang menyerang.
Pikiran untuk mengakhiri segalanya sempat terlintas saat kamu menatap balkon lantai dua puluh, seolah terjatuh ke aspal Jakarta yang keras jauh lebih baik daripada menanggung sakit yang tidak terlihat ini.
(mentalnya y/n kena fix)
Namun, di tengah keputusasaan itu, bayangan satu pria muncul. Pria yang selama ini kamu jadikan pelarian, pria yang kamu buang demi mempertahankan laki-laki yang baru saja menyakitimu.
Dengan sisa kewarasan yang ada, kamu menyeret tubuhmu keluar. Kamu tidak peduli dengan penampilanku yang mengenaskan—lebam di wajah yang mulai membiru, rambut berantakan, dan mata yang hampir buta karena air mata.
Kamu kembali ke sana. Ke depan gedung apartemen Jungwon yang beberapa hari lalu kamu pandangi dari kejauhan.
Kamu berdiri di depan pintu unitnya dengan tubuh gemetar hebat. Kamu tahu kamu tidak punya hak. Kamu tahu kamu sudah memintanya pergi, memintanya menjaga jarak, dan memaksanya menelan kehormatannya sendiri. Tapi kamu egois. Kamu selalu egois jika itu menyangkut Jungwon.
Tok. Tok.
Tidak ada jawaban. Kamu mengetuk lagi, kali ini lebih keras, hingga kamu akhirnya terduduk lemas di depan pintunya, menyembunyikan wajah di balik lutut.
“Won... please...” bisikmu parau.
Suara klik kunci terdengar. Pintu itu terbuka perlahan, menampakkan Jungwon yang hanya mengenakan kaos putih polos dan celana rumah. Dia tampak seperti pria yang baru saja mencoba untuk tidur, namun matanya yang tajam langsung menangkap sosokmu yang meringkuk di lantai.
Jungwon terpaku. Dia melihat lebam di rahangmu. Dia melihat tanganmu yang gemetar. Selama beberapa detik, tidak ada kata-kata. Kebencian yang mungkin sempat ia bangun selama berbulan-bulan jarak ini seolah menguap, digantikan oleh naluri pelindung yang sudah mendarah daging.
“Jungwon... Jake... Jake udah pergi,” isakmu tanpa sanggup mendongak. “Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi. Aku jahat ya? Aku baru datang ke kamu pas aku lebih hancur dari sebelumnya kayak gini?”
Jungwon berlutut di depanmu. Dia tidak langsung memelukmu. Ada jarak yang ia jaga sebagai tanda bahwa dia bukan lagi pria yang bisa kamu mainkan perasaannya sesuka hati. Namun, tangannya perlahan terangkat, jari-jarinya yang hangat menyentuh lebam di wajahmu dengan sangat lembut, membuatmu meringis kecil.
“Dia yang ngelakuin ini?” suara Jungwon rendah, dingin, dan penuh kemarahan yang tertahan.
Kamu hanya bisa mengangguk di tengah tangisanmu yang semakin pecah. “Aku mau mati aja, Won. Aku ngerasa kotor, aku ngerasa bodoh...”
Jungwon menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan kelelahan batin. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan egonya yang berteriak untuk menutup pintu ini rapat-rapat. Tapi Jungwon tetaplah Jungwon. Pria yang sudah mencintaimu dalam diam selama bertahun-tahun ini tidak akan pernah bisa membiarkanmu hancur sendirian, meski kamu adalah orang yang menghancurkannya.
“Masuk,” ucapnya singkat.
Dia membantumu berdiri, merangkul bahumu yang rapuh, dan membawamu masuk ke dalam tempat perlindungan yang dulu selalu kamu khianati. Jungwon menutup pintunya, mengunci dunia luar, dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kamu kembali berada dalam radius hangatnya.
Kesunyian di dalam apartemen Jungwon terasa begitu padat. Hanya ada suara denting kotak P3K yang diletakkan di atas meja kaca. Jungwon duduk di hadapanmu, sangat dekat hingga kamu bisa mencium sisa aroma cedarwood dan kopi yang selalu menjadi candumu.
Dengan tangan yang sangat stabil namun dingin, dia menekan kapas beralkohol ke sudut bibirmu yang pecah. Kamu meringis, reflek memejamkan mata, dan air mata kembali luruh membasahi pipimu yang lebam.
“Tahan sebentar,” bisiknya. Suaranya datar, namun ada getaran kemarahan yang ia tekan dalam-dalam di pangkal tenggorokannya.
Kamu menatapnya melalui pandangan yang kabur. “Won... aku ke sini cuma mau bilang makasih. Makasih karena selama ini udah jadi orang paling sabar sedunia buat aku yang bodoh ini.”
Tangan Jungwon berhenti di udara.
“Aku bakal pergi, Won. Habis ini, aku nggak akan ganggu hidup kamu lagi. Aku nggak mau narik kamu masuk ke sampah yang Jake kasih ke aku,” lanjutmu dengan suara pecah. Ini adalah janji terakhirmu. Kamu sudah siap melepaskannya, siap menghilang dari hidupnya agar pria sehebat Jungwon tidak perlu lagi mengurusi wanita serusak dirimu.
Jungwon terdiam cukup lama. Dia menaruh kapas itu kembali ke meja, lalu perlahan mendongak menatap matamu. Keheningan itu pecah saat Jungwon tiba-tiba menarik napas panjang, dan seketika itu juga, pertahanan dingin yang ia bangun selama berbulan-bulan jarak ini runtuh sepenuhnya.
Bukannya melepaskanmu pergi, Jungwon justru menarikmu ke dalam pelukan yang sangat erat—begitu erat hingga kamu bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu, bahunya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, Jungwon-mu yang kuat itu menangis.
“Jangan ngomong gitu...” gumamnya parau. “Jangan berani-berani kamu pergi setelah kamu dateng ke aku dalam keadaan kayak gini.”
Jungwon melepaskan pelukannya hanya untuk menangkup wajahmu dengan kedua tangannya. Dia menatap lebam di rahangmu dengan tatapan yang menyiratkan rasa sakit yang luar biasa, namun di balik itu, ada binar kelegaan yang egois.
“Aku benci liat kamu luka, (y/n). Aku benci Jake karena dia udah ngerusak kamu,” Jungwon bicara dengan napas yang terputus-putus. “Tapi aku lega... aku lega bajingan itu akhirnya pergi dari hidup kamu. Aku nggak peduli kamu kotor, aku nggak peduli kamu hancur. Datang ke aku seribu kali pun dalam keadaan kayak gini, aku bakal tetep buka pintu.”
Jungwon mencium keningmu lama sekali, sebuah ciuman yang terasa seperti sebuah sumpah. “Jangan pergi. Kamu nggak punya siapa-siapa lagi, kan? Kalau gitu, tetap di sini. Biar aku yang benerin kepingan kamu, satu per satu.”
Di saat itu, kamu menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Jungwon tidak pernah ingin kamu pergi. Dia lebih memilih melihatmu hancur di pelukannya daripada melihatmu utuh tapi di tangan orang lain. Dia sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya demi mencintaimu yang toxic.
Apartemen ini masih sama. Masih ada aroma sandalwood yang menenangkan dan deretan buku yang tertata rapi. Jungwon baru saja selesai mengganti kompres di rahangmu. Dia bergerak dalam diam, sangat telaten, seolah-olah jika dia bersuara sedikit saja, kamu akan pecah menjadi debu.
Namun, keheningan ini justru membuat kepalamu berisik. Di sela rasa perih di wajahmu, bayangan beberapa malam lalu kembali berputar seperti film rusak. Bayangan Jungwon yang keluar dari lobi kantornya, tertawa lepas dengan wanita lain, dan membukakan pintu mobil dengan kelembutan yang biasanya hanya milikmu.
“Won,” panggilmu lirih.
Jungwon yang sedang membereskan sisa kapas menoleh. “Iya? Ada yang sakit lagi?”
“Cewek itu... yang semalam sama kamu. Dia siapa?”
Gerakan tangan Jungwon terhenti. Dia tidak langsung menjawab, malah menarik napas panjang dan duduk di tepi ranjang, tepat di sampingmu. “Dia rekan kerja, (y/n). Cuma rekan kerja.”
“Kamu ketawa pas sama dia,” sahutmu, suaramu getir. “Aku ngeliat kamu dari seberang jalan, Won. Kamu kelihatan... bahagia. Lebih bahagia daripada pas kamu lagi nungguin aku di parkiran apartemen Jake.”
Jungwon memalingkan wajahnya. Ada senyum tipis yang terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Jake. “Kamu mau aku jujur? Iya, malam itu aku berusaha bahagia. Aku berusaha keras buat nurutin permintaan kamu untuk jaga jarak. Aku coba buat jadi manusia normal yang nggak perlu nungguin kabar dari cewek yang bahkan nggak pernah angkat teleponnya kalau lagi sama pacarnya.”
Rasa bersalah menghantammu, tapi sisi denial-mu lebih kuat. “Terus kenapa sekarang kamu di sini? Kenapa kamu buka pintu buat aku lagi kalau kamu udah bisa ketawa sama orang lain?”
Jungwon berbalik, menatapmu dengan sorot mata yang hancur sekaligus penuh kasih. “Karena aku bohong. Aku bohong ke diri aku sendiri kalau aku bisa hidup tanpa kamu. Aku bisa ketawa sama dia, tapi pikiran aku tetep ke kamu. Aku nanya ke diri aku sendiri, apa kamu udah makan? Apa Jake lagi bentak kamu? Apa kamu lagi nangis?”
“Tapi aku udah rusak, Won!” suaramu meninggi, pecah oleh tangisan. “Kamu liat aku sekarang. Aku hancur, mentalku juga kena, aku kotor karena Jake, aku udah nggak punya apa-apa buat dikasih ke kamu. Kamu pantes dapet cewek itu, bukan aku yang cuma dateng pas butuh obat.”
Jungwon tiba-tiba memegang kedua tanganmu, menggenggamnya begitu erat hingga kamu tidak bisa berpaling.
“Berhenti mutusin apa yang pantes buat aku,” bisik Jungwon tajam. “Aku nggak butuh kamu yang utuh. Aku nggak butuh kamu yang sempurna. Aku cuma butuh kamu di sini, meskipun kamu cuma jadiin aku pelarian lagi. Aku lebih milih luka bareng kamu daripada bahagia palsu sama orang lain.”
“Kamu gila, Won...”
“Aku emang udah gila dari bertahun-tahun lalu,” sahutnya sambil menyatukan keningnya dengan keningmu. “Dan yang paling gila adalah... aku seneng Jake ngelakuin ini. Aku seneng dia akhirnya nunjukin sifat aslinya, supaya kamu tahu kalau nggak ada tempat paling aman di Jakarta selain di samping aku.”
Kata-kata itu merayap masuk ke dalam hatimu. Kamu membencinya karena dia terlalu baik, dan kamu membenci dirimu sendiri karena kamu tahu, jauh di dalam lubuk hatimu, kamu merasa tenang saat Jungwon mengatakan itu. Kamu masih denial terhadap perasaanmu sendiri, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong—kamu semakin menyusup masuk ke dalam pelukannya, mencari kehangatan yang selama ini kamu sia-siakan.
Di luar, hujan mungkin sudah reda, tapi di dalam kamar ini, badai baru saja dimulai—badai perasaan yang mungkin tidak akan pernah menemukan jalan keluar yang benar.
Jungwon tidak membalas lagi. Dia tahu kata-katanya tadi sudah cukup untuk mengguncang duniamu. Dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut kamu akan hancur jika ia menyentuhmu terlalu keras, ia menarik selimut down feather miliknya hingga menutupi tubuhmu yang masih bergetar.
Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya jingga redup. Di bawah temaram itu, segala garis keras di wajah Jungwon melunak. Tidak ada lagi manajer ambisius SCBD yang dingin, yang ada hanyalah seorang pria yang dunianya baru saja pulang setelah pengembaraan yang menyakitkan.
“Sini,” bisiknya pelan.
Jungwon merebahkan diri di sampingmu. Ia tidak langsung memelukmu secara posesif. Ia memberikan ruang, seolah menunggu izin yang tidak terucap dari bahasa tubuhmu. Namun, dinginnya sisa trauma semalam dan rasa kosong yang ditinggalkan Jake membuatmu secara naluriah bergeser, mencari panas tubuhnya. Kamu menyusup masuk ke dalam dekapan Jungwon, menyembunyikan wajahmu di dadanya yang bidang.
Detak jantungnya terasa stabil. Deg. Deg. Deg. Sebuah irama yang jauh lebih menenangkan daripada janji-janji palsu Jake yang selalu menggebu tapi kosong.
Tangan Jungwon melingkar di punggungmu, sementara tangan lainnya mengusap lembut rambutmu yang masih sedikit acak-acakkan. Ia mencium puncak kepalamu dengan sangat lama, menghirup aroma sisa sampo dan wangi parfummu yang kini mulai bercampur dengan bau sabun antiseptik.
“Won... aku masih mikirin cewek itu,” gumammu di balik dadanya, suaramu teredam namun penuh dengan denial yang tersisa. “Dia kelihatan sangat... sempurna dan bersih dari dosa. Nggak kayak aku yang datang ke kamu bawa luka orang lain.”
Jungwon menghela napas, jemarinya berhenti sejenak di rambutmu. “Dia memang bersih, (y/n). Tapi dia bukan kamu. Aku bisa makan siang sama siapapun, aku bisa ketawa sama siapapun untuk urusan kerjaan atau basa-basi dunia luar. Tapi cuma sama kamu aku ngerasa... aku nggak perlu akting jadi Jungwon yang sempurna.”
Ia sedikit merenggangkan pelukannya hanya untuk menatap matamu. “Cewek itu punya dunianya sendiri yang rapi. Tapi aku lebih milih berantakan sama kamu daripada rapi sama orang lain. Kamu itu bukan sampah, dan luka ini...” ia menyentuh lebam di wajahmu dengan ibu jarinya, “...ini cuma tanda kalau kamu udah berjuang buat lepas dari sesuatu yang salah. Jangan pernah ngerasa kotor di depan aku.”
Kamu memejamkan mata, membiarkan air mata terakhir jatuh dan terserap ke kaos putih yang Jungwon kenakan. Rasa kantuk yang sangat berat mulai menyerang—jenis kantuk yang hanya bisa dirasakan saat seseorang merasa benar-benar aman. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, kamu tidak perlu memegang ponselmu, menunggu pesan dari Jake yang tidak kunjung datang. Kamu tidak perlu memikirkan engagement atau tuntutan konten.
Jungwon terus mengusap punggungmu dengan gerakan melingkar yang meninabobokan. Di ruangan itu, dinginnya AC Jakarta seolah tidak sanggup menembus hangatnya perlindungan yang ia berikan.
“Tidur ya,” bisik Jungwon tepat di telingamu. “Aku nggak akan kemana-mana. Pas kamu bangun nanti, aku masih di sini. Pas kamu butuh air putih jam lima pagi, aku masih di sini. Bahkan kalau besok kamu pengen marah-marah atau nangis lagi, aku tetep di sini.”
Kamu mengeratkan pelukanmu, melingkarkan tanganmu di pinggangnya, seolah ingin memastikan bahwa pria ini nyata. Di ambang sadarmu, rasa denial itu mulai luruh, digantikan oleh kesadaran pahit bahwa rumah yang selama ini kamu cari tidak pernah berupa gedung apartemen mewah atau sorot lampu panggung. Rumahmu adalah pria yang sekarang sedang menahan napasnya sendiri agar tidak mengusik tidurmu.
Malam itu, di tengah kesunyian Jakarta yang tak pernah tidur, kalian berdua hanyut dalam perkembangan perasaan yang paling murni—sebuah keintiman tanpa sentuhan fisik yang berat, hanya dua jiwa yang saling mencoba menambal lubang di hati masing-masing dalam diam yang paling dalam.
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Jungwon, memantul di atas sprei abu-abu yang kini terasa jauh lebih lembut dari biasanya. Kamu terbangun bukan karena dering telepon yang menuntut, melainkan karena aroma roti panggang dan kopi yang menguar hingga ke dalam mimpi.
Kamu menoleh ke samping. Sisi tempat tidur itu sudah kosong, namun masih menyisakan kehangatan. Kamu bangkit perlahan, meraba rahangmu, rasa perihnya sudah berkurang, meski lebamnya kini berubah warna menjadi ungu kebiruan—sebuah pengingat bisu tentang apa yang baru saja kamu tinggalkan.
Di dapur minimalisnya, Jungwon berdiri dengan kemeja kantor yang sudah rapi, namun lengan bajunya digulung hingga siku. Ia sedang menata dua piring sarapan sederhana. Begitu melihatmu muncul dengan kaos kebesarannya yang menenggelamkan tubuhmu, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Tidurnya nyenyak?” tanyanya, suaranya jernih tanpa beban semalam.
Kamu mengangguk, duduk di kursi meja makan sambil memeluk dirimu sendiri. “Makasih, Won. Buat semuanya.”
“Sarapan dulu. Aku harus berangkat jam delapan ada rapat,” ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih dan obat pereda nyeri.
Kehangatan domestik ini terasa begitu asing namun sangat mendandukan. Tidak ada kamera yang merekam, tidak ada pengaturan pencahayaan untuk konten. Hanya ada suara denting garpu dan percakapan kecil tentang kopi yang terlalu pahit. Di sini, di ruang kecil ini, kamu merasa benar-benar menjadi manusia, bukan sekadar aset engagement.
Tujuh Hari Kemudian. Kedamaian yang baru telah di mulai. Seminggu berlalu seperti sebuah proses detoksifikasi yang panjang. Kamu memutuskan untuk menonaktifkan akun media sosialmu, memutus akses Jake dari duniamu, dan untuk sementara waktu, menetap di unit apartemen Jungwon—atas permintaannya yang setengah memaksa.
Sore itu, Jakarta baru saja diguyur hujan deras. Kamu duduk di balkon apartemen Jungwon, melihat lampu-lampu jalanan yang mulai menyala di kejauhan. Kamu sudah tidak lagi merasa butuh pod untuk menenangkan sarafmu. Rasa denial yang dulu membentengi hatimu perlahan mulai runtuh, terkikis oleh ketelatenan Jungwon yang tidak pernah menuntut balasan.
Jungwon pulang tepat waktu. Suara pintu terbuka dan langkah sepatunya adalah bunyi favorit barumu. Ia menghampirimu di balkon, masih dengan tas kerjanya, lalu berdiri di sampingmu menghirup udara dingin sisa hujan.
“Gimana hari ini?” tanyanya lembut.
“Tenang,” jawabmu singkat, menoleh ke arahnya. “Aneh ya, Won? Ternyata hidup tanpa bisingnya notifikasi itu bisa se-tenang ini.”
Jungwon tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. Ia merangkul bahumu, membawamu ke dalam pelukannya yang kokoh. “Itu karena kamu akhirnya berhenti dengerin suara orang lain dan mulai dengerin diri kamu sendiri.”
Kamu menyandarkan kepala di bahunya. “Won, soal cewek di kantor itu... aku minta maaf aku sempat curiga.”
Jungwon terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa menenangkan. “Nggak apa-apa. Itu artinya kamu peduli. Tapi kamu harus tahu satu hal, (y/n). Selama bertahun-tahun aku nunggu kamu, mataku udah terlatih buat nggak liat orang lain. Kamu itu pusat gravitasi aku. Mau sejauh apa pun kamu pergi, aku bakal tetep ketarik ke arah kamu.”
Kamu mendongak, menatap matanya yang jernih. Di sana, kamu tidak menemukan manipulasi seperti di mata Jake. Kamu hanya menemukan ketulusan yang murni dan janji yang tidak perlu diucapkan keras-keras.
“Aku nggak janji bisa langsung sembuh seutuhnya, Won,” bisikmu.
“Aku juga nggak minta kamu langsung sembuh,” sahut Jungwon sambil mengecup ujung hidungmu. “Kita punya seumur hidup buat benerin kepingan yang rusak itu. Pelan-pelan aja. Yang penting, sekarang kamu di sini. Sama aku.”
Malam itu, kalian tidak pergi ke Bogor atau ke restoran mewah seperti yang kalian lakukan dulu. Kalian hanya memesan makanan via aplikasi, menonton film lama di televisi, dan tertidur di sofa dengan tangan yang saling bertautan. Tidak ada drama, tidak ada kepura-puraan. Hanya dua orang yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah tersesat di tengah riuhnya kepalsuan Jakarta.
Kamu akhirnya berdamai—bukan hanya dengan Jungwon, tapi dengan dirimu sendiri. Kamu menyadari bahwa cinta yang sehat tidak akan pernah membuatmu merasa harus “berakting” untuk dicintai. Dan Jungwon, dengan segala kesabarannya, telah membuktikan bahwa dia adalah satu-satunya pria yang layak memiliki seluruh kepingan hatimu, baik yang masih utuh maupun yang sudah retak.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Lima Tahun Kemudian.
Jakarta masih sama bisingnya, namun duniamu telah berubah total. Tidak ada lagi lampu studio yang menyilaukan atau tekanan untuk tampil sempurna di depan kamera. Ruang kerja Jungwon yang dulu penuh dengan barang endorse milikmu kini telah berubah menjadi ruang bermain yang ceria dengan lantai kayu yang hangat dan tumpukan mainan edukasi.
Kamu berdiri di dekat jendela besar rumah kalian, menyesap teh hangat sambil mengelus perutmu yang mulai membuncit secara signifikan. Kehamilan ketiga. Sebuah berkah yang tidak pernah kamu bayangkan saat kamu meringkuk di depan pintu Jungwon dalam keadaan hancur bertahun-tahun lalu.
“Bundaa! Liat, Sakuya bikin gedung tinggi kayak kantor Ayah!”
Suara cempreng putra sulungmu memecah keheningan. Kamu menoleh dan tersenyum tulus—senyum paling nyata yang pernah kamu miliki. Di sampingnya ada Kya, adik perempuannya yang baru berusia dua tahun sibuk mengacak-acak balok susun sambil tertawa riang.
Pintu depan terbuka, dan suara langkah kaki yang familiar membuat jantungmu masih berdesir dengan cara yang sama. Jungwon masuk dengan kemeja yang sedikit berantakan, namun wajahnya langsung cerah begitu melihat “harta karun”-nya berkumpul di ruang tengah.
“Ayah pulang!” seru anak-anakmu sambil berlari memeluk kaki Jungwon.
Jungwon tertawa, menggendong keduanya sekaligus dengan kuat—kekuatan yang sama yang dulu ia gunakan untuk menopangmu saat kamu hampir menyerah.
Setelah mengecup kening anak-anak, ia melangkah menghampirimu. Matanya tidak pernah berubah, masih penuh dengan pemujaan yang murni, seolah-olah kamu adalah satu-satunya mahakarya yang paling berharga di dunia ini.
“Capek, Sayang? Bayinya nakal nggak hari ini?” bisik Jungwon sambil melingkarkan tangannya di pinggangmu, telapak tangannya yang hangat menetap di atas perutmu yang besar.
“Dia aktif banget siang ini, Won. Sepertinya dia tahu Ayahnya mau pulang,” jawabmu sambil menyandarkan kepala di bahunya.
Jungwon meratukanmu. Benar-benar meratukanmu. Ia adalah pria yang konsisten, yang membantumu membasuh luka fisik lima tahun lalu, dan pria yang sama yang kini memijat kakimu setiap malam saat kamu merasa pegal karena kehamilan. Ia tidak pernah mengungkit masa lalumu dengan Jake. Baginya, masa itu hanyalah kabut yang sudah tersapu oleh sinar matahari.
“Terima kasih ya,” gumam Jungwon tiba-tiba, mencium pelipismu lama.
“Untuk apa?”
“Untuk milih aku. Untuk milih hidup yang tenang ini. Kamu kelihatan jauh lebih cantik sekarang daripada saat kamu ada di layar ponsel jutaan orang.”
Kamu tertegun sejenak. Kamu mengingat kembali masa-masa saat kamu kecanduan validasi dari orang asing, saat kamu merasa harus tampil terbuka demi sebuah engagement. Sekarang, dengan daster rumahan dan wajah tanpa riasan, kamu justru merasa paling cantik karena ada Jungwon yang selalu menatapmu seolah kamu adalah pusat semestanya.
Kamu telah sembuh sepenuhnya. Dunia maya tidak lagi memiliki daya tarik bagimu. Kebahagiaanmu kini nyata, bisa disentuh, dan bisa didengar melalui tawa anak-anakmu.
Malam itu, saat anak-anak sudah terlelap, Jungwon membawakanmu segelas susu hamil dan duduk di sampingmu di tempat tidur. Ia membelai rambutmu, menatapmu dengan cinta yang tidak pernah luntur barang satu persen pun sejak malam di Bogor itu.
“Aku sayang kamu, Bundanya anak-anak,” bisiknya.
“Aku lebih sayang kamu, Won. Makasih sudah nggak pernah menyerah sama aku.”
Di dalam pelukan Jungwon, kamu menyadari bahwa luka sehebat apapun bisa sembuh jika dirawat oleh orang yang tepat. Kamu telah meninggalkan kepalsuan untuk mendapatkan kenyataan yang luar biasa. Dan di sinilah kamu, dalam kehamilan ketigamu, dicintai dengan sangat tulus oleh pria yang dulu pernah kamu jadikan cadangan, namun kini menjadi segalanya.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
THE END
jangan lupa kasih feedback ya, sayangku
Love You Michies
💖




