Matahari sore yang berwarna jingga keemasan mulai merayap masuk melalui celah gorden apartemenmu, memberikan rasa hangat yang perlahan membangkitkanmu dari tidur yang sangat lelap.
Tubuhmu terasa jauh lebih ringan, meskipun area intim dan rahimmu masih menyisakan denyut tumpul—pengingat permanen akan serangan brutal di toilet kampus tadi siang.
Kamu mendapati dirimu sudah berganti pakaian. Seseorang—kemungkinan besar Jake yang paling lembut (kecuali pas seks)—telah mengganti lingerie hitam yang basah itu dengan kaus oblong kebesaran milik salah satu dari mereka yang baunya sangat maskulin.
Saat kamu mencoba duduk, kamu melihat Jay dan Sunghoon duduk di meja kerjamu. Mereka tidak sedang bermain, mereka sedang sibuk dengan laptop masing-masing dan iPhone baru milikmu.
“Bangun juga akhirnya,” gumam Jay tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Gue baru aja selesai pasang enkripsi di akun TikTok lo. Mulai sekarang, setiap kali lo mau upload atau live, sistemnya bakal otomatis kirim notifikasi ke HP gue buat persetujuan.”
Sunghoon memutar kursi kerjamu, menatapmu dengan mata tajamnya yang dingin. “Dan gue udah beli peralatan baru. Kamera 4K, lighting studio, dan tiang yang lebih solid. Semuanya udah terpasang di ruang tengah. Kita bakal mulai sesi Live perdana lo malam ini.” Hah? secepat itu?, batinmu heran namun kamu tahu mereka orang yang cukup berpengaruh dan berduit jadi kamu abaikan saja.
Malam tiba. Ruang tengah apartemenmu kini berubah menjadi studio private yang mewah. Kamu berdiri di depan tiang perak baru yang berkilat, hanya mengenakan setelan dance yang sangat minim—pilihan Jake—yang nyaris tidak menutupi dadamu yang masih penuh bekas gigitan mereka. Kamu sedikit menggerutu, tadi pagi Jay bilang bakal pilihin outfit yang menutupi area yang cuma mereka yang bisa melihat, namun seertinya itu cuma omongan doang.
Kamera sudah menyala, namun sudut pandangnya diatur sedemikian rupa agar wajahmu tetap misterius di balik masker renda baru yang lebih elegan.
“Oke, Luna. Go live dalam 3... 2... 1,” instruksi Jay dari balik layar monitor.
Seketika, ribuan penonton masuk ke dalam siaranmu. Komentar-komentar nakal mulai membanjiri layar. Kamu mulai bergerak, meliuk di tiang dengan gerakan yang jauh lebih sensual karena kamu tahu tiga pria yang memiliki tubuhmu sedang menonton tepat di depanmu, di balik kamera.
Di tengah sesi live, saat kamu sedang melakukan gerakan spin yang indah, Jake tiba-tiba berjalan mendekat. Ia tidak masuk ke dalam frame kamera, tapi ia berlutut di bawah tiang, tepat di luar jangkauan lensa.
Ia mulai mengusap paha bagian dalammu saat kamu sedang bergantung. Sentuhan tangannya yang nakal membuat konsentrasimu pecah. Kamu menggigit bibir, mencoba tetap terlihat profesional di depan ribuan penonton yang memujimu sebagai “Dewi Tiang”.
“Sshh... jangan berhenti, Luna,” bisik Jake, suaranya masuk ke dalam mikrofon namun terdengar seperti desahan bagi penonton. “Tunjukin ke mereka gimana binalnya asisten pribadi kami kalau lagi kerja.”
Penonton di kolom komentar menggila, mereka tidak tahu bahwa di balik estetika tarian itu, kamu sedang berjuang menahan lemas karena Jay kembali memainkan remote vibrator yang tadi pagi mereka pasang lagi.
Setelah satu jam sesi yang sangat menyiksa namun menghasilkan jutaan rupiah dalam bentuk gift, Jay mematikan siarannya secara mendadak saat jumlah penonton mencapai puncaknya.
“Cukup buat publik,” ujar Jay sambil berdiri. Ia menghampirimu yang sudah terduduk lemas di bawah tiang, napasmu memburu dan keringat membasahi seluruh tubuhmu.
“Sekarang...” Sunghoon mendekat, melepaskan masker rendamu dengan kasar. “Sesi buat pemilik aslinya dimulai. Tadi itu cuma pemanasan, kan?”
Mereka bertiga mengepungmu di bawah tiang silver itu. Di bawah lampu studio yang terang, mereka kembali menagih “pajak” atas perlindungan yang mereka berikan di kampus tadi. Kamu tidak lagi punya kekuatan untuk menolak, karena bagaimanapun juga, kamu sudah menjadi candu bagi mereka, dan mereka adalah penguasa mutlak atas hidupmu.
Melihat tatapan lapar di mata Sunghoon dan Jay yang sudah siap menerkammu kembali di bawah tiang, kamu menelan ludah. Tubuhmu benar-benar sudah mencapai batasnya. Dengan keberanian yang tersisa, kamu memutuskan untuk menggunakan satu-satunya senjata yang baru saja kamu sadari kekuatannya: pesonamu.
Kamu tidak melarikan diri. Sebaliknya, kamu merangkak pelan di atas karpet bulu menuju Jay, lalu menyandarkan kepalamu di lututnya. Kamu mendongak dengan mata sayu yang berkaca-kaca, jari-jarimu memainkan ujung celana kainnya yang mahal.
“Kak Jay... Kak Hoon... Kak Jake...” bisikmu dengan nada manja yang sengaja dibuat serak. “Luna capek banget... rahim Luna masih kerasa penuh dari yang tadi siang di toilet. Boleh istirahat sebentar? Aku laper...”
Kamu memberikan kecupan kecil di punggung tangan Jay, lalu beralih menatap Sunghoon dengan kerlingan genit yang polos namun mematikan. “Kalau aku pingsan sekarang, nanti nggak ada yang bisa dipake buat sesi malam, kan?”
Ketiga pria itu tertegun. Mereka terbiasa melihatmu ketakutan atau pasrah, tapi melihatmu mulai “bermain” dengan peranmu sebagai peliharaan mereka membuat adrenalin mereka meledak dengan cara yang berbeda.
Jay menghela napas panjang, mencoba meredam gairahnya. “Sial... lo pinter banget ngerayu, (Y/N).”
“Oke,” putus Jay sambil menarikmu berdiri. “Gue yang masak malam ini. Jake, Hoon, mandiin dia gantiin bajunya yang bener. Gue nggak mau liat dia pake baju kurang bahan itu pas lagi makan, atau gue bakal khilaf lagi.”
Satu jam kemudian, aroma steak wagyu dan pasta truffle memenuhi apartemenmu. Jay ternyata adalah koki yang sangat handal, ia bergerak di dapur dengan apron hitam tanpa kaus di dalamnya, pemandangan yang membuatmu sulit mengalihkan mata.
Kamu duduk di meja makan, kini mengenakan sweater rajut kebesaran milik Sunghoon yang menutupi hingga paha. Jake duduk di sebelah kananmu, terus-menerus mengusap rambutmu yang masih agak basah, sementara Sunghoon di sebelah kirimu sibuk menuangkan wine merah ke gelasmu.
“Makan yang banyak,” ujar Jay sambil meletakkan piring di depanmu. “Ini protein buat otot lo yang kaku gara-gara kelamaan nungging tadi siang.”
Selama makan malam, suasana berubah menjadi jauh lebih manusiawi. Tidak ada paksaan, hanya obrolan yang mengalir di antara denting sendok dan garpu.
“Gimana rasanya pake iPhone baru?” tanya Sunghoon tiba-tiba. “Gue liat lo tadi sempet bingung pas mau live.”
“G-Good, Kak. Makasih banyak,” jawabmu malu-malu. “Tapi... aku takut kalau ada temen kelas yang liat aku bawa barang semahal itu. Mereka pasti curiga.”
Jake terkekeh, ia memotongkan daging untukmu dan menyuapkannya. “Biarin aja mereka curiga. Lagian, mulai hari ini semua orang tau kalau lo itu ‘asisten’ pribadi kami. Wajar dong kalau asisten Jay, Jake, dan Sunghoon dapet fasilitas mewah.”
“Apa rencana kalian selanjutnya buat aku?” tanyamu pelan, menatap Jay yang sedang menyesap wine-nya.
Jay menatapmu tajam. “Gue mau lo tetep jadi si culun yang pinter di kampus. Gue suka kontrasnya. Pas semua orang ngeremehin lo, cuma kami yang tau kalau si culun ini punya tubuh yang paling indah yang pernah kami rasain.”
“Dan soal Live tadi,” tambah Sunghoon. “Penghasilannya udah gue masukin ke rekening khusus atas nama lo. Tapi lo nggak boleh pake duit itu tanpa izin kami. Kita bakal pake itu buat tabungan masa depan... masa depan kita berempat.”
Mendengar kata “kita berempat”, jantungmu berdesir. Ada rasa takut yang mulai bercampur dengan ketergantungan. Kamu mulai merasa nyaman berada di bawah perlindungan mereka, meskipun harga yang harus kamu bayar adalah kebebasanmu sepenuhnya.
Suasana makan malam yang tadinya tenang dan penuh obrolan hangat mendadak berubah drastis. Niatmu untuk bersikap manja dan meminta istirahat sepertinya justru memicu sisi posesif mereka yang lebih dalam.
Setelah makan malam selesai, Jake memintamu duduk di sofa ruang tengah. Ia berlutut di depanmu, tatapannya lembut namun penuh kepemilikan. Dari saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru hitam.
“Ini buat kamu, Luna. Tanda kalau kamu itu berharga... dan cuma milik kami,” bisik Jake lembut berbeda dengan beberapa jam yang lalu.
Ia membuka kotak itu, menampilkan sebuah kalung rantai emas putih yang sangat tipis dan elegan. Namun, yang membuat jantungmu berdesir adalah liontinnya: tiga huruf inisial yang terjalin rumit—J.J.S. (Jay, Jake, Sunghoon).
Jake melingkarkan kalung itu di leher jenjangmu, jari-jarinya yang hangat mengusap kulitmu. “Cantik banget. Mulai sekarang, jangan pernah lepas kalung ini, bahkan saat kamu mandi atau live. Ini jimat kamu, biar semua orang tahu siapa pemilik asli penari tiang tercantik ini.”
“Makasih, Kak Jake... ini bagus banget,” ujarmu pelan, menyentuh liontin dingin itu di dadamu.
Belum sempat kamu menikmati momen romantis itu, Sunghoon mendekat dengan laptop di tangannya. Ia duduk di sampingmu, wajahnya kembali dingin dan serius.
“Jake udah kasih hadiahnya, sekarang tugas gue buat pastiin lo layak pake liontin itu,” ujar Sunghoon datar.
Ia membuka sebuah folder video privat di laptopnya. Kamu membelalakkan mata saat melihat isi videonya: itu adalah rekaman Live TikTok-mu tadi malam, tapi diedit sedemikian rupa, memperlihatkan setiap kesalahan kecil gerakanmu, setiap desahan tak terkontrol, dan setiap kali kamu terlihat lemas.
“Liat ini, (Y/N),” desis Sunghoon, memutar video itu perlahan. “Di menit ke-12, gerakan spin lo terlalu lambat. Di menit ke-25, lo hampir jatuh karena vibratornya Jay terlalu kenceng. Ini nggak profesional. Penonton bayar mahal buat liat ‘Dewi Tiang’, bukan asisten culun yang nggak tahan iman.”
“Tapi kak, aku beneran lemes banget badannya,” kamu mencoba membela diri walaupun hanya dapat tatapan mengejek dari Sunghoon.
Jay berdiri di belakang sofa, meremas bahumu kuat-kuat. “Kita harus ajarin dia gimana cara misahin antara rasa nikmat di tubuh sama profesionalisme di depan kamera. Kita nggak mau aset kita kelihatan murahan karena nggak bisa nahan desahan.”
“Malam ini...” Sunghoon menutup laptopnya, menatapmu dengan pandangan predator. “Pelajaran teorinya selesai. Kita mulai latihan praktiknya sekarang. Lo harus belajar gimana cara tetep fokus... bahkan saat kita bertiga ngisi lo sekaligus.”
Mereka tidak memberimu waktu untuk protes. Dengan satu gerakan cepat, Jay menarik sweater rajut yang kamu pakai, meninggalkanmu bugil di bawah lampu ruang tengah yang terang.
Jay duduk di sofa, bersandarkan bantal. “Naik ke atas gue, Luna. Pake service terbaik lo kalau lo nggak mau gue naikin level vibratornya malam ini.”
Kamu merangkak naik ke pangkuan Jay, memposisikan dirimu di atas kejantanannya yang sudah tegang sempurna. Perlahan, kamu menurunkan tubuhmu, mendesah kencang saat miliknya memenuhi liangmu yang masih sensitif dari toilet kampus tadi siang.
“Ahh... Master Jay... penuh banget...” rintihmu sambil mulai menggerakkan pinggulmu naik-turun.
“Pinter banget goyangnya, little bitch,” geram Jay, tangannya meremas pantatmu kasar. “Terus goyang... jepit punya gue se-kenceng mungkin. Gue mau ngerasain gimana rahim lo nerima punya gue di depan temen-temen gue.”
Saat kamu sedang asyik bergoyang di atas Jay, Sunghoon mendekat dari belakang sofa kiri berdiri di belakangmu. Ia mencengkeram bahumu, memaksamu untuk menunduk dan menempelkan dadamu di dada bidang Jay. Posisi ini membuat pantatmu terangkat tinggi di belakang.
Sunghoon berlutut di depan sofa, posisinya tepat di belakang pantatmu yang sedang naik-turun di atas Jay. Ia melumuri kejantanannya yang besar dan berurat dengan lube, lalu memposisikannya di sela kecil liangmu yang sudah sedikit longgar karena ukuran Jay yang sedang tertanam di dalam.
“Tahan napas lo, (Y/N). Ini bakal sedikit sakit... tapi lo bakal suka,” bisik Sunghoon parau.
Dalam satu sentakan brutal, Sunghoon mendorong miliknya masuk bersamaan dengan punya Jay.
“AAAAHHH! KAK SUNG-HOON! SAKIT! S-STOP!” Kamu menjerit kencang, tubuhmu melengkung hebat. Sensasi penuh yang sangat ekstrem di dalam rahimmu membuatmu merasa seolah tubuhmu akan terbelah menjadi dua.
“Sial, sempit banget... fuck! Luna, lo bener-bener mau bikin kita gila!” Sunghoon mengerang keras, ia mulai bergerak dengan ritme yang berlawanan dengan Jay, menciptakan siksaan nikmat yang tak tertahankan di dalam dirimu.
Di tengah rasa penuh di rahimmu, Jake sedikit bergeser di sofa, mendekatkan wajahnya ke wajahmu yang sudah hancur karena nikmat dan air mata. Ia mengeluarkan miliknya yang sudah tegang dan basah, mengarahkannya tepat ke mulutmu.
“Mulutnya buka, asisten cantik. Jangan cuma rahim lo yang nampung benih kami,” perintah Jake lembut namun memaksa.
Kamu membuka mulutmu, melahap milik Jake sedalam mungkin. Kini tubuhmu benar-benar dikuasai sepenuhnya. Rahimmu dipenuhi dua batang besar milik Jay dan Sunghoon yang sedang menghajarmu tanpa ampun, sementara mulutmu sibuk melayani Jake.
“Sebut nama gue di dalem mulut lo, Luna!” Jake menggeram, memperdalam tusukannya di mulutmu.
Suara hantaman kulit kalian berempat bergema di ruang tengah, beradu dengan desahan tertahanmu yang teredam oleh milik Jake dan erangan kotor dari Jay dan Sunghoon.
“Little bitch... rahim lo nampung dua sekaligus, mulut lo penuh punya Jake... lo bener-bener diciptain cuma buat jadi mainan kami bertiga selamanya!” desis Jay sambil mempercepat pompanya di bawahmu.
Malam itu, liontin J.J.S. di lehermu berkilau di bawah lampu, sebuah tanda kepemilikan mutlak yang kini telah sah secara tubuh dan jiwa.
Suasana di ruang tengah apartemenmu berubah menjadi panggung pemujaan beringas, di mana tubuhmu adalah altar persembahannya. Tidak ada lagi ruang untuk rasa manja atau lelah.
Rasa sakit yang tajam dari penetrasi ganda di rahimmu perlahan melebur menjadi gelombang kenikmatan yang melumpuhkan akal sehat, memicu pelepasan yang paling brutal yang pernah kamu bayangkan.
“Sial, Hoon... jepitannya makin kenceng! Dia bener-bener suka dihajar dua batang sekaligus!” geram Jay dari bawahmu, matanya berkilat liar menatap wajahmu yang hancur karena nikmat. Tangannya mencengkeram pinggangmu hingga meninggalkan bekas kebiruan, memaksamu untuk terus goyang di atasnya.
Sunghoon yang berada di depan sofa, mempercepat ritme pompanya dengan brutal. Setiap hunjaman Sunghoon menabrak pangkal milik Jay di dalam rahimmu, menciptakan gesekan ekstrem yang membuatmu menjerit tertahan di dalam mulut Jake.
“Ndesah buat gue, little bitch! Bilang kalau rahim lo penuh sama punya Jay dan gue!” bisik Sunghoon parau, napasnya memburu di tengkukmu. Ia merenggut rambutmu, memaksamu mendongak agar Jake bisa menusuk mulutmu lebih dalam.
“Hmmph... H-Hoon... J-Jay... ahh... full... so full...” desahmu terbata-bata di sela-sela servismu pada Jake.
Jake, yang mulutnya terus kamu layani, mulai mencapai batas kesabarannya. Ia menarik miliknya dari mulutmu, menyisakan jejak liur yang berantakan di bibirmu. Ia menciummu dengan kasar, menghisap lidahmu seolah ingin merenggut nyawamu, sementara tangannya meremas dadamu yang montok dengan sangat keras.
“Gue udah nggak tahan... gue mau keluar di muka lo yang sange ini, Luna!” desis Jake.
“Gue juga! Rahimnya panas banget, Hoon!” sahut Jay.
“Tahan... bentar lagi... kita keluar bareng-bareng di dalem rahim peliharaan kita ini!” perintah Sunghoon dengan suara mendominasi.
(anj meqwe gue kedut kedut😭)
Runtuhnya pertahananmu sudah di depan mata. Gelombang orgasme kesekian kalinya malam ini mulai menggulung tubuhmu. Kamu merapatkan paha, menjepit kedua batang besar di dalam dirimu dengan sangat ketat, matanya memutar ke atas dan air mata menetes deras.
“AAAAHHH! K-KAK... SEMUANYA... AKU KELUAAARR! AHHH!” teriakmu kencang, tubuhmu bergetar hebat dalam spasme kepuasan yang menyakitkan.
Teriakanmu memicu ledakan gairah mereka.
Jay adalah yang pertama kali mengerang keras. Ia memberikan sentakan-sentakan terdalamnya, menghujam rahimmu hingga pangkal, dan menyemburkan benihnya yang kental dan panas, mengisi setiap sudut liangmu yang masih sempit.
“Fuck... kenceng banget... (Y/N)!”
Detik berikutnya, Sunghoon menyusul. Ia mencengkeram bahumu kuat-kuat, memberikan dorongan-dorongan brutal yang terakhir, dan memuntahkan seluruh spermanya di atas cairan Jay, meluapi rahimmu hingga terasa sangat penuh dan berat.
“AAAHHH! LUNA... PUNYA GUE PENUH DI DALEM!”
Di sela-sela pengerangan Jay dan Sunghoon, Jake menarik kepalamu agar mendongak menghadapnya. Ia mengarahkan miliknya yang sudah tegang sempurna tepat di depan wajahmu. Dengan erangan yang sangat dalam, Jake menyemprotkan benihnya yang kental di atas wajah, mata, dan bibirmu yang terbuka.
Cairan panas Jake melumuri wajahmu, membasahi liontin J.J.S. yang melingkar di lehermu. Penampilanmu bener-bener hancur, wajah berlumuran sperma Jake, tubuh bugil berguncang hebat di atas Jay, dan rahim penuh sesak oleh campuran benih Jay dan Sunghoon yang meluber keluar dari liangmu yang membengkak.
Suara hantaman kulit dan erangan kotor perlahan mereda, digantikan oleh deru napas yang terengah-engah dan aroma seks yang sangat menyengat di ruang tengah apartemenmu.
Kalian berempat terkulai lemas dalam posisi yang sangat intim. Jay masih tertanam di dalam dirimu di bawah, Sunghoon masih memelukmu dari belakang dengan miliknya yang masih tertanam sebagian, dan Jake berlutut di depanmu, menatap wajahmu yang “kotor” dengan tatapan penuh kepuasan.
“Sial... ini sesi paling gila yang pernah gue rasain,” gumam Jay, mengusap keringat di dahinya. “Rahim lo bener-bener wadah yang sempurna buat kami bertiga, (Y/N).”
Sunghoon menarik dirinya keluar perlahan, membiarkan campuran cairan mereka merembes keluar dengan suara basah yang memalukan. Ia mengusap pipimu yang berlumuran sperma Jake.
“Malam ini... lo resmi jadi milik kami secara utuh. Nggak ada lagi rahasia, nggak ada lagi penolakan.”
Jake mencium liontin J.J.S. yang kini berkilau karena cairan miliknya. “Jimat ini... udah sah. Mulai besok, seluruh kampus bakal tau kalau si culun (Y/N) itu asisten pribadi Jay, Jake, dan Sunghoon... asisten yang siap ngelayanin kami kapan pun dan di mana pun.”
Kesadaranmu benar-benar terputus setelah benih terakhir dari Jake menyemprot panas di wajahmu. Tubuhmu lemas tak bertulang, merosot di pelukan Jay dengan mata yang memutar ke atas sebelum akhirnya terpejam sepenuhnya. Kamu pingsan karena overstimulation yang terlalu ekstrem—rahim yang dihantam dua batang sekaligus dan mulut yang dipaksa bekerja tanpa henti telah menguras habis sisa tenagamu.
Melihatmu terkulai tak berdaya dengan tubuh yang berantakan, aura predator di ruang tengah itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa kepemilikan yang protektif.
Jay perlahan menarik dirinya keluar dari liangmu yang sudah memerah dan bengkak. Ia menggendong tubuh bugilmu dengan sangat hati-hati, membiarkan kepalamu bersandar di ceruk lehernya.
“Dia pingsan... kita bener-bener ngerusak dia malam ini,” gumam Jay, suaranya kini terdengar berat dan sedikit menyesal, namun ada nada bangga di sana.
Sunghoon segera beranjak ke kamar mandi. Ia menyiapkan air hangat di bathtub, mencampurnya dengan minyak esensial yang menenangkan. Sementara itu, Jake mengambil handuk lembut dan mulai menyeka cairan spermanya sendiri yang mengering di wajah dan liontin emas putih di lehermu.
“Liat lehernya... liontin ini keliatan cantik banget di dia, bahkan pas dia lagi pingsan kayak gini,” bisik Jake sambil mencium keningmu yang berkeringat.
Mereka membawamu ke kamar mandi. Di dalam bathtub yang hangat, mereka bertiga berbagi tugas merawat “piala” mereka yang sedang pingsan:
Sunghoon memijat kaki dan betismu yang kaku karena terlalu lama menegang dan menari di tiang. Ia mengurutnya dengan lembut, memastikan aliran darahmu kembali lancar.
Jay membersihkan area intimmu dengan sangat telaten. Menggunakan jemarinya, ia membantu mengeluarkan sisa-sisa benihnya dan benih Sunghoon agar rahimmu tidak terasa sakit saat bangun nanti. Suara basah di dalam air itu terdengar kontras dengan kelembutan gerakannya.
Jake mencuci rambutmu, memijat kulit kepalamu hingga kamu mengeluarkan lenguhan kecil dalam pingsanmu, tanda bahwa tubuhmu mulai merasa rileks.
“Dia bakal benci banget sama kita besok pagi pas ngerasain badannya pegal semua,” kekeh Jake pelan.
“Nggak masalah,” sahut Jay sambil membilas tubuhmu. “Dia punya kita bertiga buat nanggung semua pegalnya. Dia nggak akan butuh orang lain lagi.”
Setelah bersih dan harum, mereka mengeringkan tubuhmu dan memakaikanmu baju tidur sutra yang sangat lembut—tentunya tanpa pakaian dalam agar kulitmu bisa bernapas. Mereka membawamu ke ranjang besar di kamar utama, membaringkanmu tepat di tengah.
Sunghoon memasangkan kembali kacamata culunmu di atas nakas, seolah mengingatkan bahwa besok peranmu kembali dimulai. Jay menyelimutimu hingga sebatas dada, memastikan liontin J.J.S. tetap terlihat berkilau di atas kulit putihmu.
Mereka bertiga akhirnya ikut merebahkan diri, mengurungmu dalam pelukan dari tiga sisi. Jake memeluk pinggangmu, Jay menjadikan lengannya sebagai bantalmu, dan Sunghoon memegang tanganmu erat.
“Tidur yang nyenyak, Luna,” bisik Sunghoon sebelum mematikan lampu.
“Besok, seluruh dunia harus tau siapa pemilik asisten cantik ini.”
to be continued
maaf ya guys aku agak pusing nyalinnya




Lanjut, woiii. Cape tau nunggu yang gak pasti😭