Beberapa bulan setelah badai astral itu mereda, Heeseung bukan lagi pria yang sama. Getir ketakutan yang biasanya merayapi pundaknya setiap kali ritual dimulai telah lenyap, digantikan oleh ketenangan yang presisi—seperti predator yang baru saja menyadari bahwa ia memiliki taring.
Malam itu, penthouse-mu diselimuti keheningan yang menyesakkan.
Kamu duduk di singgasana beludru hitammu, menyilangkan kaki dengan angkuh sembari menanti “budak” kesayanganmu datang menyetor energi.
Namun, saat pintu ganda itu terbuka, tak ada suara lutut yang beradu dengan lantai.
Heeseung masuk dengan langkah tegap yang menggema. Ia melepaskan jas mahalnya, membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja seolah kain sutra itu tak berharga.
Saat ia mendongak, matanya berkilat ungu pekat—warna yang seharusnya hanya milikmu.
“Duduk, (y/n),” suaranya rendah, bergetar dengan otoritas yang membuat bulu kudukmu berdiri. Itu bukan permintaan; itu adalah titah yang mengikat udara.
Kamu terkekeh, meski ada denyut aneh di perutmu. “Lo lupa siapa yang menciptakan lo, Seung? Berlutut di kaki gue. Sekarang.”
Bukannya patuh, Heeseung justru menyeringai tipis. Ia menjentikkan jarinya ke udara. Seketika, bayangan di sudut ruangan menggeliat hidup, merayap cepat seperti ular hitam yang dingin dan langsung membelit pergelangan tanganmu ke sandaran kursi.
Kamu terbelalak, mencoba menarik kekuatanmu, namun nihil. Ia menggunakan potongan jiwamu yang kau tanam di tubuhnya untuk memanipulasi dimensi gelapmu sendiri.
Heeseung mendekat, langkahnya pelan dan mengintimidasi. Ia mencengkeram rahangmu dengan jemari yang kini memiliki kekuatan penghancur. “Gue belajar cepat, Sayang. Lo kasih gue jiwa lo, berarti lo kasih gue kunci ke seluruh isi kepala dan kekuatan lo. Lo pikir gue bakal puas jadi wadah selainan hidup?”
Ia membungkuk, membenamkan wajahnya di ceruk lehermu. Bukannya ciuman lembut, ia menancapkan taringnya ke nadimu dengan kasar.
Kamu tersentak, punggungmu melengkung saat merasakan aliran energi yang seharusnya kau hisap justru tersedot balik ke tubuhnya dengan rakus.
“Heeseung... agh! Hentikan!” rintihmu. Dominasimu runtuh seketika. Tubuhmu gemetar hebat saat ia mulai mengambil alih kendali sarafmu.
Heeseung tertawa rendah, sebuah suara bariton yang kini berlapis dengan gema ribuan suara iblis. “Dulu gue takut karier gue redup. Tapi sekarang? Gue nggak butuh panggung itu lagi kalau gue bisa punya ‘penciptanya’ merangkak di bawah kaki gue.”
Ia memaksamu melakukan ritual itu dengan posisi yang menghina harga dirimu. Heeseung memegang kendali penuh atas ritmenya—kasar, menuntut, dan tanpa ampun.
Ia membakar sarafmu, membawamu ke ambang pelepasan berkali-kali hanya untuk menghentikannya tepat sebelum kamu mencapai puncak.
Ia membiarkanmu memohon, membiarkan dinding rahimmu meremas miliknya karena paksaan koneksi jiwa, bukan karena keinginanmu.
Kamu hancur di bawah kuasanya, namun tubuhmu memberikan reaksi nikmat yang mengkhianati akal sehatmu.
Saat kamu akhirnya mencapai puncak yang begitu hebat hingga tanduk dan ekormu bergetar hebat dalam gelombang orgasme yang menyakitkan, Heeseung menatapmu.
Matanya memancarkan pemujaan, tapi itu adalah pemujaan seorang kolektor terhadap barang antik yang sangat mahal.
“Gue mutusin buat nggak jadi Incubus,” bisiknya, lidahnya menjilat sisa darah di bibirmu yang pecah. “Jadi manusia dengan kekuatan setengah dewa jauh lebih asyik. Gue bisa berdiri di stadion, menghisap adorasi dari jutaan orang, lalu pulang ke rumah untuk mengonsumsi energi paling murni dari lo.”
Dengan gerakan kasar, ia memposisikanmu mengangkang di sofa. Ia menarik ekormu sendiri—bagian tubuhmu yang paling sensitif—dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganmu di atas kepala. Kamu benar-benar lumpuh. Sang Succubus yang dulunya memanipulasi industri hiburan lewat bonekanya, kini terjebak menjadi mainan dalam sangkar emas ciptaannya sendiri.
“Lo bilang gue milik lo selamanya, kan?” Heeseung tersenyum miring, mencium tato kontrak di perutmu yang kini meredup, kehilangan cahayanya karena kekuatannya telah berpindah total padanya.
“Salah, (y/n). Kita milik satu sama lain. Dan dalam hubungan ini... gue yang pegang kendali atas napas lo.”
❣️
Heeseung tidak memberimu ruang untuk bernapas. Setiap kali kamu mencoba meraih kesadaran, ia merenggutnya kembali dengan hentakan yang lebih keras, lebih dalam, seolah ia ingin memecahkan sesuatu di dalam dirimu yang selama ini terlalu sombong.
Bayangan-bayangan hitam di ruangan itu bergerak mengikuti ritmenya, melilit tubuhmu hingga kulitmu memerah, memaksamu tetap terbuka lebar saat ia menghujam tanpa ampun.
“Lihat gue, (y/n). Lihat siapa yang sekarang menguasai setiap jengkal tubuh lo,” geramnya, suaranya parau karena nafsu yang murni jahat.
Ia tidak menggunakan sihir untuk membuatmu klimaks, ia menggunakan pengetahuan anatomi yang kau ajarkan padanya, memadukannya dengan kekuatan fisik yang kini melampaui batas manusia.
Kamu merintih, suara succubus-mu pecah menjadi tangisan parau saat ia menekan titik sensitifmu berulang kali tanpa jeda.
Pandanganmu mulai kabur, hanya ada warna ungu gelap dan wajah Heeseung yang tampak seperti dewa kematian yang sedang berpesta.
Saat pelepasan itu datang untuk kesekian kalinya, tubuhmu mengejang hebat, punggungmu melengkung ekstrem hingga ekormu yang terikat bergetar liar.
Kamu kehilangan kontrol atas otot-ototmu, hanya bisa mengerang tanpa kata saat Heeseung menanamkan benihnya sekaligus menyedot sisa tenaga astralmu melalui koneksi kulit ke kulit. Kamu hancur, benar-benar kosong, dan jatuh pingsan di ambang kegilaan sensual.
Beberapa jam kemudian, kamu terbangun bukan di atas lantai yang dingin, melainkan di atas tempat tidur king-sized yang dilapisi sutra putih. Tubuhmu terasa bersih, namun setiap inci ototmu berdenyut nyeri.
Heeseung ada di sana. Ia duduk di sisi tempat tidur, tanpa pakaian atas, menatapmu dengan binar mata yang kini lembut—namun kelembutan itu justru lebih menakutkan daripada kemarahannya.
Di tangannya ada sebuah cawan perak berisi cairan kental berwarna merah keunguan, esensi kehidupan yang telah ia murnikan kembali untukmu.
“Minum, Sayang,” bisiknya. Ia merengkuh kepalamu, menyandarkannya di dadanya yang bidang dan hangat.
Ia menyuapimu cairan itu dengan ibu jarinya, membiarkan jemarinya mengusap bibirmu yang bengkak dengan penuh kasih sayang yang posesif.
Seketika, staminamu pulih. Rasanya seperti aliran listrik yang menyengat sarafmu, memaksa sel-selmu beregenerasi secara instan.
Heeseung mencium keningmu lama, jemarinya membelai rambutmu seolah kamu adalah porselen rapuh yang baru saja ia pecahkan dan lem kembali.
“Lo kelihatan cantik banget pas tadi hancur di bawah gue,” gumamnya di telingamu.
“Jangan pernah pikir buat pergi. Penthouse ini sudah gue segel dengan darah kita berdua. Dunia luar nggak akan pernah bisa lihat lo lagi, tapi mereka akan terus memuja gue—dan gue akan terus bawa semua energi mereka buat lo konsumsi di sini. Lo ratu gue, tapi ratu yang nggak boleh turun dari ranjangnya.”
Kamu memejamkan mata, menyembunyikan kilat kebencian yang masih menyala di balik bulu matamu.
Kamu membiarkan Heeseung memelukmu, membiarkan ia percaya bahwa semangatmu telah patah sepenuhnya.
Saat ia terlelap dengan tangan yang masih mengunci pinggangmu, kamu mulai memetakan aliran energi di ruangan itu.
Kamu menyadari satu hal: Heeseung menjadi kuat karena ia memegang potongan jiwamu, tapi itu juga adalah kelemahannya. Jiwa itu asing bagi tubuh manusianya.
Ada titik jenuh di mana tubuhnya tidak akan sanggup menampung kekuatan succubus yang murni jika dipicu secara paksa.
Gue butuh dia buat melakukan satu kesalahan fatal, pikirmu tajam. Gue harus bikin dia ngerasa begitu berkuasa sampai dia lupa kalau dia cuma wadah.
Kamu mulai merencanakan sebuah “ritual puncak” yang palsu—sebuah jebakan di mana kamu akan berpura-pura memberikan sisa seluruh intisari sihirmu kepadanya.
Kamu akan menggiringnya untuk membuka seluruh gerbang jiwanya, dan di detik saat ia merasa menjadi dewa, kamu akan menarik kembali potongan jiwamu dengan paksa, meski itu berarti merobek jantungnya dari dalam.
Sekarang, Seung! Ambil semuanya!” teriakmu, aktingmu sempurna saat tubuhmu melengkung seolah kesakitan di bawah kendalinya.
Heeseung menarik napas dalam, mencoba menelan seluruh esensi gelapmu. Namun, di detik ia merasa tak terkalahkan, matanya membelalak. Tubuhnya mulai retak. Pembuluh darah di lehernya menghitam. Ia terlalu serakah hingga ia lupa bahwa wadah manusia punya batas, dan kamu baru saja menyumbat wadah itu hingga pecah.
“A-apa yang... (y/n), hentikan! Ini terlalu banyak!” ia tercekik, tangannya mencengkeram dadanya sendiri.
Kamu berdiri dengan tenang di tengah badai energi, ikat tangan dari bayangan itu hancur saat kendalinya goyah.
Kamu berjalan mendekat, menangkup wajahnya yang kini bersimbah peluh darah.
“Lo bilang kita milik satu sama lain?” bisikmu dingin, suaramu kembali ke otoritas sang ratu iblis.
“Lo salah. Lo cuma parasit yang lupa diri.”
Kamu menghujamkan tanganmu ke dadanya—bukan secara fisik, melainkan secara astral. Kamu merobek kembali potongan jiwamu yang selama ini ia curi.
Suara teriakan Heeseung bergema merobek keheningan penthouse, sebuah suara yang lebih mengerikan daripada suara ribuan iblis.
Saat jiwa itu kembali padamu, kekuatanmu meledak berkali-kali lipat. Sebaliknya, Heeseung ambruk.
Tanpa energi Succubus yang menopangnya, tubuhnya yang telah dipaksa bekerja melampaui batas manusia kini layu seketika.
Karier, kekuatan dewa, dan obsesinya menguap bersama asap hitam.
Heeseung tergeletak di lantai, bernapas tersengal, matanya kembali menjadi hitam manusia biasa—redup dan hancur.
Ia kehilangan segalanya... Kekuatannya, jiwanya, dan kewarasannya.
“Bunuh... gue...” rintihnya, menatapmu dengan sisa-sisa cinta yang sakit.
Kamu berjongkok di sampingnya, membelai pipinya untuk terakhir kali sebelum berdiri dan memunggungi sosok yang dulunya adalah idolamu dan tempatmu mendapatkan makanan.
“Enggak, Seung. Gue bakal biarin lo hidup. Lo bakal balik ke panggung itu besok, tapi sebagai manusia biasa yang nggak punya apa-apa lagi. Lo bakal ngerasain gimana rasanya dilupakan oleh dunia yang pernah lo genggam.”
Kamu melangkah keluar dari penthouse itu, meninggalkan sang idola yang kini hanya menjadi cangkang kosong yang menangis di kegelapan.
Penguasa yang sebenarnya telah kembali, dan kali ini, kamu tidak akan membiarkan seekor budak pun menyentuh mahkotamu.
The End
-




