Jangan lupa vote
Sore itu, suasana di dalam apartemen lama itu terasa begitu mencekam sekaligus menyesakkan. Riki tidak memberikanmu waktu sedetik pun untuk bernapas atau sekadar menyesuaikan diri dengan atmosfer kamar yang penuh memori masa lalu kalian. Begitu pintu kayu itu tertutup dan terkunci rapat, dunia luar-termasuk statusmu sebagai istri sah Lee Heeseung-seolah runtuh seketika.
Riki membalikkan tubuhmu dengan kasar, mendorong belikatmu hingga membentur dinding semen yang dingin. Kamu memekik pelan, namun pekikan itu langsung dibungkam oleh ciuman yang luar biasa menuntut, brutal, dan sarat akan emosi yang meledak-ledak. Ini bukan lagi ciuman kerinduan yang manis, ini adalah hukuman, sebuah klaim sepihak dari seorang pria muda yang merasa seluruh dunianu telah dirampas oleh ayahnya sendiri.
โRghh... Riki... mmmph...โ Kamu berusaha memalingkan wajah, namun tangan besar Riki mencengkeram rahangmu dengan kuat, memaksamu untuk terus menerima pagutan bibirnya yang terasa panas dan asin oleh amarah.
Jemari Riki bergerak dengan sangat cepat dan tidak sabaran. Dia merenggut long outer hitam yang kamu kenakan, melemparnya sembarang ke lantai. Setelah itu, kedua tangannya beralih ke kerah turtleneck yang kamu pakai untuk menutupi tanda-tanda semalam. Tanpa memedulikan kainnya yang mahal, Riki menariknya ke bawah dengan paksa hingga jahitannya robek di bagian bahu, mengekspos dada atasmu yang langsung naik-turun karena napas yang memburu.
โLihat ini,โ desis Riki di depan bibirmu, napasnya memburu berantakan. Matanya yang menggelap menatap tajam ke arah kulitmu. โKamu masih pakai baju tertutup begini di depan aku? Kamu mau sok suci setelah semua yang kita lakuin semalam, hah?!โ
โRiki, le-lepas... kita nggak boleh begini terus, Heeseung bisa-โ
โJangan sebut nama dia!โ bentak Riki, suaranya meninggi, menggema di dalam ruangan yang sunyi. Kilatan luka dan obsesi beradu di matanya yang tajam. โSetiap kali kamu sebut nama pria itu, rasanya aku mau gila, Y/N! Kamu itu punya aku! Kamu pacar aku! Kita belum pernah putus!โ
Sebelum kamu bisa membalas, Riki menyambar tubuhmu, mengangkatnya dengan satu sentakan kuat dan melemparmu ke atas ranjang berseprai abu-abu di tengah ruangan. Kasur tua itu berdecit keras menerima beban tubuhmu. Belum sempat kamu merangkak mundur, Riki sudah merangkak naik, mengurung tubuh mungilmu di bawah kungkungan tubuh atletisnya yang jauh lebih besar dan tegap.
Kedua pergelangan tanganmu dikunci di atas kepala, ditekan kuat-ke kasur hingga kamu tidak bisa menggerakkan tubuh bagian atasmu sama sekali. Riki menundukkan kepalanya, menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu, langsung menggigit dan menghisap kulit sensitif di sana dengan kebrutalan yang murni emosional.
โAhh! Riki! Sakit... hnghh, le-lepasin... Riki!โ Kamu menangis, air mata mulai mengalir di sudut matamu. Rasa sakit dari gigitannya terasa begitu nyata, namun di saat yang sama, sengatan gairah yang terlarang mulai menjalar ke selangkanganmu, membuat tubuhmu berkhianat dengan cara yang paling memalukan.
โTeriak yang keras, Y/N. Desah nama aku sampai Daddy kamu bisa denger dari luar kota!โ geram Riki. Tangan satunya yang bebas bergerak ke bawah, merobek paksa celana dalam yang kamu kenakan hingga menyisakan robekan kain tak berbentuk.
Riki tidak memberikanmu waktu untuk bersiap. Dia tidak memberikan rangsangan yang lembut seperti yang Heeseung lakukan di Bali atau subuh tadi. Dengan emosi yang membakar seluruh akal sehatnya, Riki membuka ritsleting celananya, mengeluarkan miliknya yang sudah menegang maksimal, dan langsung menghujamkan dirinya masuk ke dalam dirimu dalam satu hentakan yang sangat dalam dan kasar.
โAAAAHHH! RIKI!โ Kamu berteriak histeris, tubuhmu melengkung ke atas karena shock yang luar biasa. Rasa penuh yang mendadak dan hantaman keras pada rahimmu membuat pandanganmu sempat memburam. Itu terasa begitu sesak, begitu padat, dan sangat brutal.
โFffuck, Y/N... kamu sempit banget, bangsat,โ umpat Riki, suaranya pecah menjadi erangan rendah yang sangat vulgar. Dia tidak langsung bergerak, membiarkan dirinya tertanam sedalam mungkin di dalam rahimmu sementara tubuhmu bergetar hebat di bawahnya. โKamu masih sesempit ini... tapi kemarin Daddy udah puas main di dalam sini, kan? Iya?!โ
โNgg-nggak... ahh, Riki... stop, sakit... hnghh...โ Kamu menggelengkan kepala di atas bantal, air matamu membasahi seprai.
Riki tidak mendengarkan. Dia mulai menarik dirinya keluar hingga hampir sepenuhnya terlepas, lalu menghujam kembali dengan kekuatan penuh. Plak! Plak! Plak! Suara benturan pinggul kalian yang telanjang menggema vulgar di dalam kamar, berpadu dengan suara decitan ranjang yang semakin cepat.
โAhh! Ahh! Riki... y-ya Tuhan... pelan-pelan... mmmph!โ
Setiap sodokan Riki terasa begitu kejam namun di saat yang sama memicu pelepasan endorfin yang luar biasa di otakmu. Tubuhmu yang sudah terbiasa dengan ritme liar Riki selama dua tahun terakhir langsung memberikan respons maksimal. Cairan alamimu mengalir deras, membasahi titik penyatuan kalian, membuat setiap tancapan Riki terdengar semakin basah dan becek.
โDenger suara ini, Y/N? Kamu becek banget buat aku,โ bisik Riki dengan kata-kata yang sangat kotor di telingamu, sengaja membuat mentalmu semakin runtuh. โBadan kamu nggak bisa bohong. Kamu benci aku yang kasar begini, tapi mmk kamu malah jepit aku kencang banget. Kamu kangen dicaplok kayak gini, kan?!โ
โNnghh! Ahh! Riki... stop bicarain itu... ahh, ahh! Lebih dalam... Ki... mmmph!โ Kamu akhirnya menyerah pada insting tubuhmu. Kamu tidak bisa lagi berpura-pura menjadi istri yang setia saat pria muda ini sedang mengobrak-abrik seluruh pertahananmu.
Riki tersenyum puas, sebuah seringai kemenangan yang sangat seksi sekaligus menakutkan. Dia melepaskan kuncian di tanganmu, beralih mencengkeram pinggangmu dengan kedua tangan besarnya. Dia menarik pinggulmu ke atas, memaksamu menerima hantaman yang jauh lebih cepat dan bertenaga. Punggungmu berguncang hebat, payudaramu terpental-pental ritmis di udara, memicu gairah Riki hingga tingkat yang paling berbahaya.
โSebut nama aku, Sayang... panggil aku kayak dulu,โ perintah Riki, suaranya parau, napasnya tersengal-sengal di atas wajahmu.
โR-Riki... ahh! Riki... fffuck... aku... aku mau keluar... ahh!โ Kamu mencengkeram bahu Riki, kuku-kukumu menancap dalam di kulit punggungnya hingga meninggalkan bekas goresan kemerahan yang panjang. Kamu sudah berada di ujung tanduk, otot-otot intimmu menjepit milik Riki dengan sangat ketat hingga membuat pria itu mengerang frustrasi.
โKeluar bareng aku, Y/N! Jangan berani keluar duluan!โ Riki semakin menggila. Dia memacu pinggulnya dengan kecepatan yang tidak manusiawi, menyodok jauh ke dalam rahimmu seolah ingin menembus batas tubuhmu.
โAhh! Ahh! RIKIII! NNGHHH!โ
Kamu berteriak saat puncak kenikmatan itu menghantammu, membuat seluruh tubuhmu kejang dan mencengkeram milik Riki dengan remasan yang luar biasa nikmat. Detik itu juga, Riki memberikan tiga hantaman terakhir yang paling brutal, sebelum akhirnya dia melenguh panjang, membenamkan wajahnya di lehermu saat dia menyemprotkan cairan spermanya yang panas dan melimpah, memenuhi bagian dalam rahimmu hingga meluap keluar di sela paha kalian.
Kamar itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas kalian berdua yang terengah-engah seperti orang yang kehabisan oksigen. Riki ambruk di atas tubuhmu, membiarkan berat badannya menindihmu sepenuhnya, sementara miliknya masih tertanam erat di dalam dirimu yang masih berdenyut pasca-orgasme.
โ
Satu minggu berlali dengan cepat.
Malam itu, atmosfer di dalam kamar utama kediaman Lee terasa begitu mencekam. Kamar luas bergaya minimalis modern dengan ranjang king size yang dilapisi sprei sutra abu-abu gelap-tempat yang seharusnya menjadi ruang sakral pernikahanmu dengan Lee Heeseung-kini telah berubah menjadi penjara mewah yang pengap. Besok pagi, pria berusia 40 tahun yang berstatus sebagai suamimu itu akan menginjakkan kakinya kembali di rumah ini setelah seminggu penuh urusan bisnis di luar kota. Namun malam ini, singa muda yang dia percayai untuk menjaga rumah justru berada di kamarmu.
Riki berdiri di ujung ranjang. Pria berusia dua puluh tahun itu baru saja mengunci pintu dengan bunyi klik yang halus namun terdengar mematikan di telingamu. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan lekuk otot perut dan dadanya yang kencang, hasil dari metabolisme tubuh muda yang sedang berada di puncak performa. Matanya yang tajam dan dingin mengunci pergerakanmu yang refleks merapatkan outer satin tipismu ke dada.
โRiki... tolong keluar. Besok Daddy kamu pulang pagi-pagi sekali,โ suaramu gemetar, mencoba memohon pada akal sehatnya yang tampaknya sudah menguap sejak beberapa hari lalu.
Riki tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah maju dengan sangat pelan, layaknya predator yang tahu korbannya tidak punya jalan keluar. Setiap langkah kaki telanjangnya di atas lantai marmer seolah menjadi hitungan mundur menuju kehancuranmu. Saat jarak di antara kalian terkikis habis, Riki mencengkeram kedua bahumu, mendorongmu tanpa memedulikan rontaan lemahmu hingga tubuhmu ambruk di tengah kasur milik ayahnya.
โKeluar? Ke kamar sebelah maksudmu?โ Riki merangkak naik, mengurung tubuh mungilmu di bawah kungkungan tubuhnya yang tegap dan berat. Napasnya yang hangat dan beraroma mint menerpa wajahmu, membawa gelombang dejavu dari masa-masa kalian di kosan dulu. โNggak akan, Y/N. Aku udah bilang kan, aku nggak akan biarin kamu balik jadi istri penurut setelah apa yang kita lakuin seminggu ini.โ
Dengan satu sentakan kasar, Riki merenggut gaun tidur satinmu hingga jahitannya robek di bagian dada, mengekspos kulitmu yang sebenarnya masih menyisakan bercak memar keunguan dari permainan kalian di apartemen dua hari lalu. Riki menatap jejak-jejak itu dengan tatapan lapar yang emosional. Ada rasa cemburu, amarah, dan kepemilikan yang gelap di matanya.
Tanpa memberikanmu waktu untuk bersiap atau memohon lagi, Riki membuka celananya, mengeluarkan miliknya yang sudah menegang maksimal, dan langsung menghujamkan dirinya masuk ke dalam dirimu dalam satu hentakan yang sangat dalam dan tanpa ampun.
โAAAAHHH! RIKI!โ Kamu menjerit histeris, matamu terbelalak lebar saat rasa penuh dan hantaman keras itu langsung menumbuk rahimmu. Tubuhmu melengkung ke atas, jemarimu mencengkeram sprei rajut di bawahmu hingga kuku-kukumu memutih menahan shock fisik yang luar biasa.
Riki tidak membiarkanmu beradaptasi. Dia langsung menarik dirinya keluar hingga hampir terlepas, lalu menghujam kembali dengan kekuatan penuh yang murni emosional. Plak! Plak! Plak! Suara kulit yang beradu memenuhi keheningan kamar, berpadu dengan suara decitan ranjang mewah yang mulai bergetar hebat.
โFffuck, Y/N... kamu sempit banget, bangsat,โ umpat Riki, suaranya pecah menjadi erangan rendah yang sangat vulgar di ceruk lehermu. โKamu masih sesempit ini, tapi seminggu lalu Daddy udah puas main di dalam sini, kan? Iya?!โ
โNgg-nggahhh... Riki... stop... ahh! Jangan ngomong gitu... hnghh!โ Kamu menangis, menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri di atas bantal. Jiwamu tersiksa oleh rasa bersalah pada Heeseung yang begitu tulus memuliakanmu, namun tubuhmu justru mengkhianatimu total. Gesekan konstan dari milik Riki memicu gelombang nikmat destruktif yang membuat selangkanganmu terasa semakin basah, memproduksi cairan alami yang melimpah hingga terdengar suara becek setiap kali Riki menyodok jauh ke dalam.
Dua jam berlalu, namun Riki sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Setelah ronde pertama yang brutal membuatmu lemas dengan sisa-sisa sperma yang meluap di sela pahamu, Riki memaksamu untuk bertukar posisi. Kebrutalannya kali ini bersifat mengikat, dia ingin memegang kendali penuh atas setiap reaksi tubuhmu.
Riki menarik tubuhmu ke tepi ranjang, memosisikanmu dalam posisi menungging rendah (doggy style). Dia mencengkeram kedua tanganmu ke belakang, menguncinya dengan satu genggaman tangannya yang besar, memaksa punggungmu melengkung sempurna ke bawah. Posisi ini membuat pinggulmu terdongak tinggi, sementara dadamu menggantung dan bergoyang ritmis mengikuti setiap pergerakannya.
โLihat ke depan, Y/N. Lihat foto pernikahan kalian di dinding itu,โ bisik Riki dengan suara yang sangat jorok dan manipulatif. Dia sengaja mengarahkan wajahmu ke arah foto besar di mana kamu dan Heeseung tersenyum bahagia dalam balutan pakaian pengantin. โLihat gimana Daddy senyum di sana, sementara sekarang istrinya lagi nungging di bawah anaknya sendiri, nerima sodokan sampai ke rahim. Kamu suka kan, diginiin sama aku?โ
โAhh! Ahh! Riki... brengsek... nnghh! Sakit... jangan liatin aku ke foto itu... ahh!โ Kamu menjerit, meremaskan matamu rapat-rapat karena tidak sanggup menahan hantaman rasa bersalah secara visual. Namun, sodokan Riki dari belakang terasa berkali-kali lipat lebih padat dan dalam pada posisi ini. Setiap kali pinggulnya menumbuk pantatmu, tubuhmu berguncang hebat, menciptakan sensasi perih yang bercampur dengan letupan orgasme yang kembali mendekat.
โBuka matamu, Sayang! Panggil nama aku!โ Riki semakin menggila. Tangan satunya yang bebas merayap ke depan, meremas payudaramu dengan kasar, meninggalkan bekas cemerlang baru yang akan menutupi sisa jejak Heeseung. โSebut siapa yang punya badan ini sekarang!โ
โR-Riki... ahh! Riki... fffuck... aku... aku mau keluar... ahh! Riki, cepet... nnghh!โ Kamu pasrah, membiarkan suaramu pecah memenuhi kamar. Otot-otot intimmu menjepit milik Riki dengan sangat ketat akibat sensasi pelepasan yang sudah berada di ujung tanduk.
Riki mengerang rendah, mempercepat ritmenya hingga tingkat yang tidak manusiawi. Dia menghujammu tanpa ampun, membiarkan pinggulnya menabrak pantatmu dengan keras hingga kamu mencicit kesakitan sebelum akhirnya seluruh tubuhmu kejang dalam dekapan orgasme kedua yang luar biasa menguras tenaga. Detik itu juga, Riki memberikan beberapa hentakan dalam yang bertenaga, sebelum melenguh panjang dan menyemburkan cairannya yang panas jauh di dalam rahimmu, membuat bagian dalam dirimu terasa hangat dan penuh.
Malam semakin larut, menuju pukul tiga pagi yang sunyi. Kamar itu kini berbau pekat oleh aroma peluh dan cairan sperma yang berceceran di atas sprei. Kamu sudah berada di titik lelah yang luar biasa, kakimu gemetar dan napasmu tersengal-sengal. Namun, Riki tampaknya belum puas. Baginya, menyiksamu dengan kenikmatan adalah satu-satunya cara untuk menahanmu agar tidak kembali ke pelukan ayahnya besok.
Riki membalikkan tubuhmu kembali menjadi terlentang. Dia menarik kedua kakimu tinggi-tinggi, melingkarkannya ke atas bahunya yang lebar (mating press). Posisi ini membuat tubuhmu terlipat pasrah, membiarkan area intimmu terekspos sepenuhnya tanpa ada ruang untuk menghindar.
โRiki... udah... aku capek banget... badanku sakit semua,โ rintihmu dengan air mata yang sudah mengering di pipi. Punggung dan pinggangmu terasa pegal luar biasa akibat posisi-posisi sebelumnya.
Riki menatapmu, sorot matanya melunak sesaat oleh rasa bersalah, namun obsesinya jauh lebih besar. Dia menunduk, mencium bibirmu yang sudah bengkak dengan lumatan yang sedikit lebih lembut namun tetap posesif. โBentar lagi, Sayang. Biar Daddy tahu kalau semalaman ini kamu cuma tidur sama aku. Biar bau aku nggak ilang dari badan kamu.โ
Tanpa menunggu persetujuanmu, Riki kembali menyatu denganmu. Karena tubuhmu sudah sangat basah oleh sisa permainan sebelumnya, masuknya Riki kali ini terdengar sangat vulgar, menciptakan suara lubricated yang basah dan berdecit setiap kali dia bergerak naik turun. Riki tidak lagi bergerak secepat tadi, dia memilih ritme yang lambat, panjang, dan menekan ke dalam.
โNnghh... ahh... Mas Heeseung... eh, ahh! Riki...โ Kamu salah sebut karena kesadaranmu yang mulai menurun akibat kelelahan.
Mendengar nama Heeseung disebut dalam ritme intim ini membuat rahang Riki mengeras seketika. Dia langsung menghentikan gerakan lambatnya, menggantinya dengan sodokan-sodokan brutal yang menghantam dinding rahimmu bertubi-tubi tanpa ampun.
โAku bilang jangan sebut nama pria tua itu di depan aku, Y/N!โ desis Riki dengan urat-urat leher yang menonjol. Dia mencengkeram paha dalammu hingga memerah, memacu pinggulnya dengan kemarahan yang membakar. โAku pacarmu! Aku yang pertama tidur sama kamu di kosan! Bukan pria tua itu!โ
โAhh! Ahh! Riki, maaf... nnghh! Sakit... ahh! Riki... hnghh... aku keluar lagi... ahh!โ Kamu berteriak pasrah saat hantaman emosional Riki justru membawamu ke puncak kenikmatan berikutnya yang membuat seluruh kesadaranmu seolah dicabut paksa dari tubuhmu.
Ketika ufuk timur mulai memancarkan cahaya kebiruan yang menandakan subuh telah tiba, badai di kamar utama itu akhirnya mulai mereda. Riki melakukan ronde terakhirnya dengan posisi yang lebih intim, dia memelukmu dari samping (spooning style), menenggelamkan miliknya dari belakang dengan ritme yang lambat namun tetap konstan dan dalam, seolah-olah dia sedang mengukir tanda kepemilikan terakhirnya sebelum fajar menyingsing.
Kamu hanya bisa bersandar pasrah pada dada bidangnya, matamu menatap kosong ke arah jendela luar. Tubuhmu dipenuhi oleh memar keunguan, bekas gigitan, dan sisa-sisa cairan putih yang mengering di paha dalammu-sebuah bukti visual dari pengkhianatan terbesar yang kamu lakukan pada Heeseung sepanjang malam suntuk ini.
Riki memberikan beberapa dorongan dalam yang terakhir, sebelum akhirnya dia mengerang rendah dan mengeluarkan sisa cairannya di dalam tubuhmu. Dia tidak langsung menarik diri, dia membiarkan dirinya tetap berada di dalam dirimu, memeluk pinggangmu yang lecet dengan sangat erat, seolah-olah besok dia tidak akan pernah diizinkan menyentuhmu lagi di depan ayahnya.
โBesok... bersikaplah seolah-olah nggak ada apa-apa di depan Daddy,โ bisik Riki dengan suara parau tepat di telingamu, sementara tangannya merayap ke lehermu, meraba bekas gigitannya yang paling gelap di sana. โTapi ingat satu hal, Y/N. Kapan pun aku mau, aku bakal masuk lagi ke kamar ini dan ambil apa yang jadi milikku. Kamu nggak akan pernah bisa lepas dari aku.โ
Kamu memejamkan mata rapat-rapat saat air mata terakhirmu jatuh membasahi sprei, menyadari bahwa mulai subuh ini, hidupmu telah resmi menjadi tawanan dari rahasia gelap yang kamu bangun bersama anak tirimu sendiri.
โ
To Be Continued





Like father, like son๐๐
lanjut pwieeesss