⚠️ TRIGGER WARNING ⚠️
Cerita ini mengandung konten yang suangat eksplisit dan gelap. Pembaca diharapkan bijak dan berusia di atas 21 tahun. Unsur-unsur di dalam cerita ini murni fiksi dan tidak untuk ditiru di kehidupan nyata.
Contains:
Dark Romance / Psychological Thriller
Non-Consensual / Dub-Con Content
Extreme BDSM & Sexual Brutality
Incestuous Themes (Pseudo-incest)
Pet Play & Objectification
Degradation & Harsh Language
BACA DENGAN RISIKO SENDIRI.
Author tidak bertanggung jawab atas ketidaknyamanan mental atau emosional pembaca. Jika kalian merasa terpicu (triggered), lebih baik untuk berhenti membaca.
be wise reader, please.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Tubuhmu bergetar hebat, sebuah perpaduan antara ketakutan yang murni dan dorongan gairah yang dipicu oleh alkohol serta sentuhan mereka. Kamu merasa benar-benar terekspos, tidak ada lagi helai benang yang melindungimu selain gaun merah yang kini hanya menjadi tumpukan kain tak berguna di pinggang.
Sunoo merapatkan tubuhnya di belakangmu, menarik kedua tanganmu ke belakang punggung dan menguncinya dengan satu tangan yang kuat. Tindakan itu memaksa dadamu membusung ke depan, mengekspos setiap inci kulit sensitifmu di bawah pendar lampu kamar yang remang.
Nipple-mu mengeras, berdiri tegak dan gelap-sebuah reaksi biologis yang mengkhianati rasa takutmu akibat stimulasi intens yang baru saja diberikan Jungwon di bawah sana.
“Lihat, Pa, dia cantik banget di posisi kayak gini,” bisik Sunoo di telingamu, suaranya parau oleh nafsu yang tertahan. “Dia gemetaran, tapi tubuhnya minta buat disentuh lebih jauh.”
Jay merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di antara kedua pahamu yang ditahan lebar oleh Jungwon. Pria itu menatap lurus ke arah intimu yang memerah dan basah, bukti nyata bahwa “persiapan” yang dilakukan putra-putranya telah berhasil dengan sempurna.
“Tujuh belas tahun, (y/n)...” Jay bergumam, suaranya terdengar seperti geraman rendah saat ia menumpukan berat tubuhnya di atasmu.
“Tujuh belas tahun Papa menahan diri untuk tidak menghancurkan hadiah paling berharga di rumah ini.”
Jay mencengkeram pinggulmu dengan kuat, kuku-kukunya menekan kulitmu hingga meninggalkan bekas memerah. Kamu memejamkan mata erat-erat, air mata mengalir deras membasahi bantal saat merasakan ujung kejantanannya yang besar dan panas mulai menekan di depan pintu masukmu yang sudah sangat lembap.
“Open your eyes,” perintah Jay tegas.
“Look who took what should have been mine from the start.”
Saat kamu terpaksa membuka mata, Jay mendorong dirinya masuk dengan satu hentakan yang dalam dan mutlak.
“Aaakhh-!”
Jeritanmu tertahan oleh bibir Jay yang kembali membungkam mulutmu dengan kasar, menghisap sisa oksigenmu saat ia menembus selaput darahmu tanpa ragu.
Rasa sakit yang tajam dan panas menjalar ke seluruh tubuhmu, membuatmu meronta dalam kuncian Sunoo. Namun, tidak ada jalan keluar.
Sunoo semakin erat mendekapmu dari belakang, memberikan kecupan-kecupan penenang yang terasa munafik di pundakmu, sementara Jungwon yang berada di samping kakimu mulai mengusap pahamu, membisikkan kata-kata cinta yang merusak kewarasanmu.
“Sekarang kamu benar-benar milik kami,” bisik Jungwon, matanya berkilat menyaksikan bagaimana ayahnya sendiri sedang menanamkan benih kepemilikan di dalam tubuhmu.
“Bukan lagi sebagai adik, bukan lagi sebagai anak... tapi sebagai jantung dari keluarga ini.”
Jay mulai bergerak, setiap dorongannya terasa berat dan penuh otoritas, seolah ia sedang menandatangani kontrak pelunasan hutang di atas tubuhmu. Kamu hanya bisa terisak dalam diam, terjebak di antara tiga pria yang selama ini kamu puja sebagai pelindung, namun ternyata adalah pemilik yang selama ini hanya menunggu waktu untuk memanenmu sepenuhnya.
“Pa... sakitt... eunggh” Rintihanmu bahkan tidak terdengar oleh mereka karena tidak mengeluarkan suara.
Hantaman Jay yang brutal tidak menyisakan ruang bagimu untuk sekadar memproses rasa sakit. Setiap tujahan yang ia berikan terasa seperti pengukuhan kekuasaan yang absolut, menghancurkan sisa-sisa harga dirimu sebagai seorang Park.
Jay bergerak dengan ritme yang konstan dan tanpa ampun, otot-otot lengannya menegang saat ia menumpu berat tubuhnya di atasmu, sementara matanya yang gelap terus mengunci tatapanmu, memaksamu melihat kehancuranmu sendiri.
Di belakangmu, Sunoo tidak tinggal diam. Merasakan tubuhmu yang melengkung kaku setiap kali Jay menghujam dalam, Sunoo melepaskan kuncian tanganmu hanya untuk melingkarkan lengannya ke depan. Ia meremas payudaramu dengan kasar, jemarinya memilin nipple-mu yang mengeras di sela-sela guncangan tubuhmu.
“Tubuhmu responsif banget sama gerakan papa di dalammu, (y/n)...” bisik Sunoo serak, deru napasnya terasa panas di ceruk lehermu. “Kamu sempit banget, sangat pas buat diisi sama sperma dari keluarga Park.”
Remasan Sunoo di dadamu dan hujaman Jay di bawah sana menciptakan sinkronisasi rangsangan yang membuat otakmu yang sudah terpengaruh alkohol benar-benar mati rasa. Kamu hanya bisa merintih pasrah, air matamu membasahi seprai sutra di bawahmu saat kepalamu terkulai lemas di bahu Sunoo.
Sementara itu, Jungwon yang telah melepaskan pegangan pada kakimu karena kini Jay telah mengunci pinggulmu sepenuhnya, tidak lantas menjauh.
Ia bergeser ke sisi ranjang, tepat di samping wajahmu yang memerah. Kamu bisa melihat dari sudut matamu, Jungwon duduk dengan satu kaki tertekuk, tangannya bergerak cepat mengocok miliknya yang sudah tegang sepenuhnya.
Jungwon menatap pemandangan di depannya dengan tatapan yang sangat gelap-melihat ayahnya sendiri yang sedang merusak “hadiah” mereka, mendengar suara basah dari penyatuan itu, dan menyaksikan desahan memilukan yang keluar dari bibirmu.
“Ah... (y/n), suaramu indah banget pas kamu menangis kayak gini,” gumam Jungwon, suaranya bergetar karena gairah yang memuncak. Ia mendekatkan wajahnya, menghisap sisa air mata di pipimu sementara tangannya terus bergerak intens.
“Terusin desahannya buat kami. Papa bakal habisin kamu malam ini.”
Jay tidak mempedulikan sekelilingnya, fokusnya hanya pada intimu yang hangat. Hentakannya semakin brutal saat ia mendekati puncak. Ia mencengkeram bahumu, memendamkan wajahnya di dadamu yang terus diremas oleh Sunoo, sebelum memberikan satu dorongan terakhir yang sangat dalam-menanamkan seluruh benih kepemilikannya di dalam rahimmu.
“You are mine...” geram Jay dengan suara parau yang terdengar seperti janji sekaligus kutukan.
Jay tetap berada di dalammu selama beberapa saat, membiarkan jantungnya yang berpacu mereda di atas dadamu yang naik-turun. Namun, ketenangan itu hanya sementara. Jay perlahan menarik dirinya keluar, meninggalkan rasa kosong yang aneh sekaligus perih di antara pahamu.
Jay bangkit, mengatur napasnya yang memburu, lalu melirik kedua putra kembarnya yang sudah tidak sabar menunggu giliran.
“Dia sudah terbuka sepenuhnya,” ucap Jay sambil mengusap keringat di dahinya, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas. “Jangan biarin dia beristirahat. Malam ini masih sangat panjang untuk melunasi hutang tujuh belas tahun dari pria gila itu.”
Tubuhmu kini benar-benar mati rasa, terguncang hebat setelah badai brutal yang baru saja diberikan Jay. Namun, begitu Jay menarik diri, tidak ada kelegaan yang datang. Kekosongan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum Sunoo dan Jungwon-dua predator yang sejak tadi menahan diri dengan susah payah-segera merapat, mengklaim sisa-sisa kesadaranmu.
Sunoo melepaskan kuncian tanganmu di belakang, namun hanya untuk mendorong bahumu hingga kamu terbaring telentang di tengah ranjang yang sudah berantakan. Ia merangkak naik, memposisikan dirinya di atas tubuhmu, sementara Jungwon bergerak ke arah wajahmu.
“Sekarang giliran kita berdua, (y/n),” bisik Sunoo. Suaranya tidak lagi lembut, ada getaran haus yang menakutkan di sana.
Sunoo memisahkan kedua pahamu dengan lututnya, menempatkan dirinya di posisi yang baru saja ditinggalkan Jay. Sementara itu, Jungwon berlutut di atas bantal, tepat di depan wajahmu. Ia mencengkeram rahangmu lagi, namun kali ini bukan untuk dicium. Jungwon menekan pangkal kejantanannya yang sudah menegang keras ke bibirmu yang bengkak.
“Buka mulutmu, Sayang. Jangan bikin kakakmu ini maksa kamu,” perintah Jungwon dengan suara rendah yang memerintah.
Dengan sisa tenaga yang ada, kamu mencoba menggeleng, namun Sunoo di bawah sana tidak memberikanmu kesempatan untuk protes. Tanpa peringatan, Sunoo menghujamkan dirinya masuk ke dalam intimu dalam satu dorongan penuh.
“AAAGHHH-!”
Jeritanmu pecah, namun seketika terbungkam saat Jungwon mengambil kesempatan itu untuk membenamkan miliknya ke dalam mulutmu, mengisi rongga mulutmu hingga kamu hampir tersedak. Kamu terjepit di antara dua sensasi yang menghancurkan, Sunoo yang menghantam rahimmu dengan kecepatan yang ganas dari bawah, dan Jungwon yang menguasai napasmu dari atas.
Tangismu pecah tanpa suara, hanya air mata yang mengalir deras melewati pelipis. Sunoo mencengkeram pinggangmu begitu erat hingga meninggalkan bekas jemari yang membiru, sementara ia bergerak dengan ritme yang liar, seolah ingin menghapus jejak Jay yang masih tertinggal di dalam sana.
“Eyes on me, (y/n)... telan milik saudaramu ini sambil merasakan aku di dalammu,” gumam Sunoo serak, matanya berkilat menatap bagaimana tubuhmu digarap dari dua sisi sekaligus.
Di ujung ranjang, Jay berdiri dengan tenang. Ia telah mengenakan kembali kemejanya namun membiarkannya terbuka, memamerkan dada bidangnya yang masih berkeringat. Ia menyesap segelas whiskey mahal sambil menonton pemandangan paling indah yang pernah ia beli, (y/n) yang hancur, pasrah, dan sepenuhnya dimiliki oleh darah dagingnya.
Jungwon memegang bagian belakang kepalamu, mengatur ritme pergerakannya di mulutmu dengan dominasi mutlak. Setiap kali Sunoo menghujam dalam, tubuhmu tersentak ke atas, membuatmu semakin dalam menerima Jungwon. Kamu merasa seolah tubuhmu bukan milikmu lagi, kamu hanyalah sebuah wadah, sebuah instrumen yang dimainkan oleh tiga pria Park untuk memuaskan obsesi belasan tahun mereka yang tertahan selama ini.
“You did so well, Princess” bisik Jungwon di sela-sela napasnya yang memburu, jemarinya mengusap rambutmu dengan kasih sayang yang gila. “Keep going like this. Malam ini nggak bakal berakhir sampai kamu benar-benar lupa sama dirimu sendiri sebelum masuk ke kamar ini.”
Hujaman Sunoo semakin cepat, semakin brutal, sementara Jungwon mulai mencapai puncaknya di mulutmu. Kamu berada di ambang pingsan, namun stimulasi konstan dari depan dan belakang memaksamu untuk tetap terjaga, merasakan setiap inci invasi mereka ke dalam tubuhmu yang kini sudah benar-benar menjadi properti keluarga Park.
Hutang darah itu kini sedang dilunasi dengan setiap desahan, setiap tetes air mata, dan setiap inci tubuhmu yang tak lagi memiliki ruang untuk melarikan diri.
Malam itu, cahaya bulan menjadi saksi bisu di kamar utama Jay. Tidak ada lagi Park (y/n) yang menjadi putri kesayangan, yang tersisa hanyalah seorang wanita yang terjebak dalam lingkaran obsesi tanpa akhir, di mana setiap napasnya kini ditentukan oleh tiga pria yang berdiri di sekelilingnya.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Tubuhmu benar-benar menjadi medan pertempuran bagi nafsu yang sudah mereka pendam selama tujuh belas tahun. Di bawah pendar cahaya remang kamar Jay, kulitmu yang putih kini dipenuhi dengan kontras yang kasar, kemerahan akibat cengkeraman, bekas hisapan di leher dan dada, dan sisa-sisa jejak basah yang menandakan kehancuranmu.
Sunoo tidak memberikanmu waktu untuk bernapas. Ia merenggut pinggulmu, mengangkatnya sedikit agar ia bisa menghujam lebih dalam dan lebih keras. Suara kulit yang beradu dan suara basah dari penyatuan kalian memenuhi ruangan, bergema di antara rintihanmu yang teredam. Sunoo bergerak dengan keganasan yang murni, setiap dorongannya terasa seperti ia ingin menancapkan klaimnya hingga ke tulangmu.
“Sempit banget... (y/n), you were truly made for us,” geram Sunoo. Otot-otot punggungnya menegang hebat, peluhnya menetes jatuh ke perutmu, menyatu dengan keringatmu sendiri.
Sementara itu, Jungwon yang berada di atas wajahmu benar-benar menguasai indra penciuman dan pernapasanmu. Ia memegang rambutmu, menjadikannya kendali untuk mengatur posisi kepalamu saat ia mendorong miliknya semakin dalam hingga menyentuh pangkal tenggorokanmu.
Kamu tersedak, matamu membelalak dengan air mata yang terus mengalir, namun Jungwon tidak memberikan belas kasihan. Ia justru menikmati kontraksi di tenggorokanmu yang mencoba menelan miliknya.
“Hmmphh”
“Telan semuanya, Sayang. Jangan ada yang tumpah,” bisik Jungwon dengan suara yang pecah oleh gairah. Ia menatap ke bawah, melihat bagaimana bibirmu yang bengkak terpaksa terbuka lebar demi menampung ukurannya yang besar.
Kombinasi serangan dari dua arah ini membuat sarafmu mengalami overload. Setiap kali Sunoo menghantam rahimmu dari bawah, tubuhmu tersentak ke atas, secara otomatis membuatmu semakin dalam menerima Jungwon di mulutmu. Kamu terjepit dalam koordinasi yang sangat sinkron-sebuah tarian penghancuran yang sudah mereka rencanakan sejak lama.
Tanganmu yang bebas mencoba mencengkeram sprei sutra di bawahmu, meremasnya hingga lecek, sementara kakimu gemetar hebat di udara, tidak mampu menahan intensitas rangsangan yang membanjiri tubuhmu.
Di tepi ranjang, Jay menonton dengan tatapan lapar. Ia melihat bagaimana kedua putra kembarnya berbagi “hadiah” itu dengan cara yang paling brutal. Jay mendekat, tangannya yang besar mengusap pahamu yang sedang bergetar, memberikan tekanan pada otot-ototmu yang menegang.
“Dia sudah dibatas kehancuran di bawah kendali kalian, Boys,” ucap Jay rendah, suaranya penuh kepuasan maskulin.
“Dia udah nggak tahu lagi siapa yang sedang di dalam atau siapa yang sedang di mulutnya. Dia cuma tahu rasa sakit dan kenikmatan yang kita berikan.”
Sunoo mencapai puncaknya lebih dulu. Ia mencengkeram bahumu hingga kuku-kukunya membekas, lalu dengan satu tujahan terakhir yang sangat kasar, ia menyemburkan seluruh benihnya di dalam dirimu, memenuhi rahimmu hingga terasa hangat dan penuh. Ia tidak langsung keluar, ia tetap menekan di sana, membiarkan denyutannya memberikan rasa panas yang menyiksa sekaligus nikmat.
Hanya berselang beberapa detik, Jungwon pun mencapai batasnya. Ia mencengkram kepalamu lebih kencang, memberikan beberapa dorongan cepat di mulutmu sebelum akhirnya ia membanjiri rongga mulutmu dengan cairan hangatnya yang melimpah.
Kamu terpaksa menelan sebagian besar di bawah tatapan matanya yang tajam, sementara sisanya mengalir keluar dari sudut bibirmu, membasahi bantal Jay.
Mereka berdua akhirnya tumbang di atasmu, menjepitmu di antara beban tubuh mereka yang berat dan napas yang terengah-engah. Sunoo di perutmu, Jungwon di samping wajahmu. Kamu terbaring di sana, hancur secara fisik dan mental, menatap kosong ke langit-langit kamar.
Jay yang sejak tadi berdiri sebagai saksi bisu, kini meletakkan gelas whiskey-nya di atas nakas dengan bunyi denting yang final. Ia tidak lagi bisa menahan diri setelah melihat kedua putra kembarnya bermandikan peluh, menguasai tubuhmu hingga kamu tampak seperti boneka rusak yang tak lagi memiliki daya.
Jay melangkah naik ke atas ranjang besar itu. Kehadirannya seketika membuat Sunoo dan Jungwon memberikan ruang, meski mereka tidak melepaskan kontak fisik darimu. Jay merangkak di sisi kanan tubuhmu, memposisikan dirinya tepat di depan wajahmu yang sudah sembab dan berantakan.
“Sudah cukup bermainnya, anak-anak,” suara Jay terdengar sangat berat, sebuah perintah yang mutlak.
Jay mencengkeram rahangmu lagi, jemarinya menekan kuat hingga kamu terpaksa menatap matanya yang berkilat penuh nafsu yang sudah memuncak.
Ia melihat sisa cairan Jungwon yang masih membasahi sudut bibirmu dan tanda kemerahan di lehermu akibat ulah Sunoo. Bukannya merasa jijik, Jay justru tampak semakin terangsang melihat “investasi”-nya telah digunakan dengan baik oleh darah dagingnya sendiri.
“Kamu pikir karena mereka sudah selesai, kamu bisa beristirahat?” Jay berbisik tepat di depan bibirmu. Bau whiskey dan tembakau dari napasnya menyerbu indramu.
Jay membalikkan tubuhmu dengan satu sentakan kasar hingga kini kamu dalam posisi nungging (doggy style). Posisimu yang rentan itu memperlihatkan segalanya-intimu yang sudah membengkak, memerah, dan dipenuhi oleh sisa-sisa benih Sunoo yang mengalir turun ke pahamu.
Sunoo segera menangkap kedua tanganmu, menariknya ke belakang dan menahannya di atas punggungmu, sementara Jungwon merangkak di bawah wajahmu, memaksa kepalamu mendongak agar ia bisa terus menciumi dan menghisap bibirmu yang sudah mati rasa. Selain itu tangannya bermain di payudaramu yang menggantung indah.
“Look at this, (y/n)... look at how this family handles you,” geram Jay.
Tanpa pelumas tambahan, Jay memposisikan kejantannya yang jauh lebih besar dan keras tepat di pintu masukmu yang sudah sangat terbuka. Dengan satu dorongan brutal dan penuh tenaga, ia menghujam masuk kembali ke dalam dirimu.
“PAPAA AKHH-!”
Jeritanmu tertahan di dalam mulut Jungwon. Jay bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Setiap hantamannya membuat tubuhmu terdorong ke depan, namun Sunoo menahan bahumu agar kamu tetap di tempat, menerima setiap inchi invasi Jay. Jay tidak memberikan ritme yang lembut, ia menghujammu seolah ingin menghancurkan apa pun yang tersisa di dalam sana.
“Kamu... milikku... milik keluarga ini selamanya...” Jay mengerang setiap kali ia menabrak rahimmu mendorong keluar masuk secara brutal mengenaik G-Spotmu.
Tangannya merambat ke depan, meremas payudaramu yang berguncang hebat mengikuti ritme persetubuhan brutal itu. Jungwon di depanmu terus mempermainkan lidahnya di mulutmu, sementara Sunoo mulai menggigit pundakmu dan lenganmu, meninggalkan tanda kepemilikan baru di atas kulitmu yang sudah penuh lebam.
Kamu merasa duniamu gelap. Sensasi panas yang menyengat dari Jay, remasan kasar Sunoo, dan lumatan Jungwon menciptakan badai yang membuatmu kehilangan kesadaran akan waktu. Kamu tidak lagi tahu kapan ini akan berakhir. Yang kamu tahu hanyalah rasa penuh yang menyesakkan di setiap lubang tubuhmu. Kamu mengalami orgasme berkali-kali saat sodokan Jay menekan G-Spotmu.
Jay mencapai puncaknya dengan raungan rendah yang mengerikan. Ia mencengkeram pinggulmu hingga kukunya seolah menembus kulit sesekali menampar pantatmu hingga jepitanmu di bawah sana semakin kencang, lalu menyemburkan gelombang panas yang sangat melimpah ke dalam dirimu, menyatu dengan sisa milik Sunoo. Ia terus menghujam beberapa kali lagi dengan sangat dalam, memastikan setiap tetes benihnya tertanam sempurna di dalam dirimu.
Setelah Jay selesai, ia tidak langsung melepaskanmu. Ia tetap membenamkan dirinya di dalam, memeluk tubuhmu yang sudah terkulai lemas dari belakang, sementara Sunoo dan Jungwon ikut merebahkan diri di sampingmu, mengepungmu dalam lingkaran tubuh pria-pria Park.
Pikiranmu sudah benar-benar kosong, hanya menyisakan insting bertahan hidup yang kian menipis. Pengaruh alkohol dan rentetan stimulasi yang tak henti-hentinya membuatmu berada di ambang antara sadar dan pingsan. Namun, keluarga Park belum selesai denganmu.
Jay menarik dirinya keluar dari dirimu dengan perlahan. Keheningan kamar itu seketika pecah oleh suara basah-plup-sebuah bunyi pelepasan yang menjijikkan namun terdengar sangat memuaskan bagi Jay.
Karena posisimu yang masih menungging, gravitasi melakukan tugasnya, sisa cairan putih kental yang melimpah dari Jay, bercampur dengan milik Sunoo, mulai menetes keluar dari intimu yang sudah terbuka lebar. Cairan itu mengalir di sela-sela pahamu dan membasahi sprei sutra di bawahmu.
Jay tidak segera menyuruhmu bangun. Ia berdiri di belakangmu, menatap pemandangan itu dengan binar bangga yang mengerikan. Ia mengulurkan tangannya yang besar, mengusap pantatmu yang masih memerah akibat hantamannya tadi, sambil membiarkan “cairan cinta” itu terus menetes keluar.
“Kamu sekarang sudah penuh dengan benih kami, (y/n),” gumam Jay, suaranya parau penuh kemenangan.
“Kamu sudah tidak bisa menampung milik kami lagi, tapi saudaramu ini masih menginginkan bagiannya.”
Jay memberikan kode kepada Jungwon. Tanpa membuang waktu, Jungwon merangkak maju dan menarik tubuhmu yang lunglai. Ia tidak membiarkanmu berbaring. Dengan kekuatan yang tidak terduga, Jungwon memosisikanmu dalam posisi lotus, di mana kamu duduk di atas pangkuannya, menghadap ke arahnya dengan kaki melingkar erat di pinggangnya.
Jungwon memegang pinggulmu, lalu dengan satu sentakan ke bawah, ia membenamkan miliknya ke dalam dirimu yang sudah sangat licin dan penuh.
“HEUNGHHH-!”
Jeritanmu tertahan di bahu Jungwon saat miliknya menghujam masuk, mendesak sisa cairan Jay dan Sunoo lebih dalam ke dalam rahimmu. Karena posisinya yang duduk tegak, penetrasi Jungwon terasa jauh lebih dalam dan menekan. Kamu merasakan tekanan yang luar biasa di perut bagian bawahmu.
“Kak Jungwon... too deep...”
“Feel this, (y/n)...” bisik Jungwon, suaranya terdengar sangat terobsesi.
Ia meletakkan telapak tangannya di perut ratamu yang kini tampak sedikit menonjol. Kamu bisa merasakan dengan jelas dari dalam maupun luar, bagaimana ujung kejantanan Jungwon menekan dinding perutmu dari dalam rahim. Ada tumbulan kecil yang bergerak di bawah kulit perutmu seiring dengan gerakan Jungwon yang memacu ritmenya.
“Kamu rakus banget, Sayang... I’m in here,” gumam Jungwon, memaksa matamu untuk menatap ke arah perutmu sendiri di mana tangannya menekan tumbulan itu.
“Aku ngisi ruang kosong yang baru aja ditinggalin sama Papa. Aku masukin punyaku lebih dalam daripada punya mereka.”
Sunoo tidak membiarkanmu hanya fokus pada Jungwon. Ia berada di sampingmu, menciumi payudaramu dan meremasnya dengan posesif, sementara Jay kembali duduk di tepi ranjang, mengusap punggungmu yang berkeringat, menonton bagaimana putra bungsunya menyempurnakan kehancuranmu.
Jungwon mulai bergerak dengan gila. Setiap kali tubuhmu terangkat dan jatuh kembali di atasnya, miliknya seolah ingin menembus rahimmu lebih jauh lagi. Kamu hanya bisa mendongak, mulutmu terbuka tanpa suara, sementara air mata dan sisa-sisa kesadaranmu mulai memudar. Perutmu terasa kencang dan penuh, seolah-olah kamu benar-benar telah menjadi wadah permanen bagi benih-benih pria Park.
Jungwon mencapai puncaknya dengan teriakan yang tertahan di lehermu. Ia menekan perutmu satu kali lagi dengan sangat keras saat ia menyemburkan cairannya sendiri ke dalam rahimmu yang sudah terisi penuh oleh Jay dan Sunoo. Tekanan di perutmu terasa begitu nyata hingga kamu merasa seolah-olah rahimmu akan pecah.
Kamu akhirnya terkulai lemas di pelukan Jungwon, kepalamu bersandar di dadanya saat seluruh tubuhmu gemetar hebat dalam orgasme yang menyakitkan. Jungwon tidak melepaskanmu, ia terus memelukmu erat, tangannya masih mengusap perutmu yang sedikit membuncit karena volume cairan mereka bertiga di dalam sana.
Pikiranmu sudah benar-benar berada di ambang kegelapan. Tubuhmu terasa panas, perih, dan terisi penuh oleh benih-benih pria Park yang kini merembes keluar membasahi sprei. Kamu nyaris tidak bisa merasakan anggota tubuhmu sendiri, namun Jay belum mengizinkanmu untuk menutup mata.
Jay bangkit dari tempatnya bersandar. Ia mengambil sebuah botol kecil dari laci nakas dan menuangkan sebutir pil kecil berwarna putih ke telapak tangannya. Dengan wajah yang kembali tenang namun dingin, ia mendekat ke arahmu yang masih terkulai lemas di pangkuan Jungwon.
“Open your eyes, (y/n). One more thing,” perintah Jay, suaranya tidak bisa dibantah meski kamu sudah tidak berdaya.
Jungwon menahan tengkukmu agar kamu mendongak, sementara Jay menekan ibu jarinya ke bibirmu yang sudah pecah dan bengkak, memaksamu untuk membuka mulut. Kamu menatap pil kecil itu dengan pandangan kabur dan linglung.
“P-papa... apa itu?” bisikmu hampir tak terdengar, suaramu hancur karena terlalu banyak berteriak dan merintih.
“Cuma obat biar kamu nggak sakit besok pagi,” bohong Jay dengan nada yang sangat meyakinkan. Senyum tipisnya tidak mencapai matanya yang gelap.
“Swallow this, then you can sleep as much as you like.”
Kamu, dalam kondisi setengah sadar dan sangat memercayai figur otoritas di depanmu, tidak memiliki kekuatan untuk bertanya lebih lanjut. Kamu tidak tahu bahwa itu adalah pil pencegah kehamilan dosis tinggi. Jay sangat posesif, ia ingin memilikimu setiap malam, namun ia belum siap membiarkan “hadiahnya” ini rusak karena kehamilan yang tidak direncanakan.
Ia ingin tubuhmu tetap menjadi wadah yang sempurna bagi mereka bertiga tanpa gangguan apa pun.
Jay memasukkan pil itu ke dalam mulutmu. Di saat yang sama, Sunoo mengambil gelas air mineral dari nakas dan menempelkannya ke bibirmu.
“Minum, Sayang. Good girl...” bisik Sunoo sambil membantumu meneguk air itu untuk memastikan pil tersebut turun sepenuhnya ke kerongkonganmu.
Begitu pil itu tertelan, Jay mengusap pipimu untuk terakhir kalinya malam itu. “Bagus. Kamu anak yang penurut.”
Begitu tugas terakhir itu selesai, benteng kesadaranmu benar-benar runtuh.
Tekanan di perutmu akibat miliknya Jungwon yang masih tertanam di dalam, rasa lelah yang luar biasa, dan efek obat tersebut membuat duniamu seketika menjadi gelap gulita.
Kamu jatuh pingsan di pelukan Jungwon. Sunoo segera menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhmu yang sudah penuh jejak penghancuran, sementara Jay berdiri di tepi ranjang, menatap pemandangan itu dengan kepuasan mutlak.
Di dalam kamar yang terkunci rapat itu, rahasia tentang pil tersebut terkubur bersama kebenaran tentang identitasmu. Kamu bukan lagi seorang adik atau putri kecil papa lagi, kamu hanyalah sebuah properti berharga yang akan mereka gunakan kembali begitu fajar menyingsing.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Cahaya matahari pagi yang pucat merayap masuk melalui celah gorden sutra di kamar Jay, menyentuh kulitmu yang dipenuhi lebam keunguan dan jejak-jejak kering yang tertinggal dari malam tadi. Kamu terbangun dengan napas yang berat, merasa seolah setiap sendi di tubuhmu telah dilepas dan dipasang kembali secara paksa. Perutmu terasa mulas dan penuh-pengingat konstan akan pil yang Jay berikan dan cairan yang mereka tinggalkan di dalam dirimu.
Kamu mencoba bergerak, namun beban berat di kedua sisimu membuatmu terpaku. Di sebelah kanan, Jungwon tertidur dengan tangan melingkar posesif di pinggangmu. Di sebelah kiri, Sunoo memeluk lenganmu, wajahnya tampak begitu tenang seolah ia tidak baru saja menghancurkan hidupmu semalam.
Dan di depanmu, Jay sudah terjaga.
Ia duduk di tepi ranjang, masih dengan kemeja hitam yang terbuka, sedang menyesap kopi hitamnya dalam diam sambil menatapmu. Tidak ada rasa bersalah di matanya, hanya ada kepuasan yang mendalam.
“Selamat pagi, (y/n),” suara Jay rendah dan serak, memecah keheningan pagi.
“Gimana tidurmu di rumah yang baru?”
Pertanyaan itu seperti siraman air es. Kamu mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhmu yang telanjang, namun Sunoo terbangun karena gerakanmu. Ia tidak melepaskanmu, ia justru menarikmu lebih dekat, menghirup aroma rambutmu.
“Udah bangun, (y/n)?,” gumam Sunoo, suaranya parau khas orang baru bangun tidur. Tangannya mulai merayap turun, menelusuri lekuk punggungmu dengan gerakan yang sangat pelan, membuat bulu kudukmu meremang.
Jungwon pun membuka matanya. Tanpa sepatah kata pun, ia merangkak mendekati wajahmu, memberikan kecupan singkat di bibirmu yang masih bengkak.
“Waktunya sarapan, Sayang. Kamu butuh tenaga untuk sisa hari ini.”
Jay meletakkan cangkir kopinya. Ia tidak terburu-buru. Ia berdiri, lalu duduk kembali di tengah ranjang, tepat di hadapanmu. Ia mengisyaratkanmu untuk mendekat dengan gerakan jari yang tidak terbantahkan.
Dengan gemetar, kamu merangkak mendekat. Jay mencengkeram rahangmu, memaksa wajahmu sejajar dengan kejantanannya yang sudah menegang keras dan menuntut. Ia tidak langsung memaksamu, ia membiarkan ujungnya mengusap pipi dan bibirmu, memaksamu untuk menghirup aroma maskulinnya yang dominan.
“Buka,” perintah Jay pelan. Begitu bibirmu terbuka dengan pasrah, ia mendorong masuk secara perlahan, inci demi inci, membiarkanmu merasakan setiap tekstur pembuluh darahnya yang menegang. Kamu terisak pelan, namun Jay mengunci kepalamu, mengatur ritme yang dalam dan menyesakkan.
Di bawah, Sunoo dan Jungwon mulai berbagi peran. Jungwon berbaring terlentang di bawahmu yang sedang menghisap milik Jay, lalu ia menarik tubuhmu untuk duduk di atas pangkuannya-posisi WOT (Woman on Top). Kamu merasakan milik Jungwon yang panas mulai mendesak masuk ke dalam dirimu yang masih sensitif.
Namun, Sunoo tidak membiarkanmu hanya fokus pada satu orang. Ia berlutut di belakangmu, tangannya memegang pinggulmu agar kamu tidak bisa melarikan diri. Dengan gerakan yang sangat telaten dan penuh perhitungan, Sunoo memposisikan miliknya di lubang yang sama.
“Tahan... jangan nangis dulu,” bisik Sunoo, jemarinya mengusap air matamu saat ia mulai menekan masuk ke samping milik Jungwon.
Vaginamu yang sudah sangat lembut dipaksa untuk melebar lagi. Rasa sakitnya datang secara bertahap-panas, mencekat, dan memenuhi setiap saraf di tubuh bawahmu.
“Hmmphh”
Kamu mendongak, matamu mulai memutih saat dua kejantanan saudara kembar itu mulai berbagi ruang di dalam rahimmu.
Jay yang merasakan tubuhmu menegang hebat, semakin memperdalam hujamannya di mulutmu, memastikan tidak ada suara jeritan yang keluar selain erangan tertahan yang memilukan.
Kamu terjebak dalam ritme yang lambat namun mematikan. Jungwon mendorong dari bawah, Sunoo menekan dari belakang, dan Jay menguasai napasmu dari atas. Setiap gerakan mereka terasa sangat teratur, seolah-olah mereka sedang merayakan kepemilikan mereka atas dirimu sebagai sebuah karya seni yang baru saja mereka beli.
Pagi itu, di bawah cahaya matahari yang semakin terang, kamu menyadari bahwa pelarian adalah kemewahan yang takkan pernah lagi kamu miliki. Kamu adalah milik mereka-seutuhnya, selamanya.
Ritme yang lambat ini justru membuat setiap saraf di tubuhmu berteriak lebih kencang. Kamu bisa merasakan setiap inci gesekan antara milik Jungwon dan Sunoo di dalam vaginamu-dua benda tumpul yang panas, saling beradu dan meregangkan dinding rahimmu hingga batas maksimal. Kamu merasa seolah tubuhmu akan terbelah, namun tangan mereka yang kuat mengunci posisimu dengan presisi yang mengerikan.
Jungwon, yang berada di bawahmu, mulai menggerakkan pinggulnya dengan sentakan pendek namun bertenaga. Setiap kali ia mendorong ke atas, Sunoo yang berada di belakangmu memberikan tekanan balasan ke bawah, memastikan bahwa tidak ada ruang kosong yang tersisa di dalam dirimu.
“Lubang (y/n) rakus banget, bisa nampung kita berdua di dalam sana, Kak Sunoo,” bisik Jungwon serak, tangannya naik untuk menekan perut bawahmu yang tampak sedikit membuncit dan mengeras, memperlihatkan jejak kehadiran mereka di dalam sana.
Kamu hanya bisa mengerang tertahan di dalam mulut Jay. Pupil matamu benar-benar menghilang, menyisakan warna putih yang bergetar saat stimulasi brutal ini menghantam otakmu.
Jay tidak membiarkanmu berpaling, ia memegang tengkukmu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meremas payudaramu yang membusung kaku, memilin nipple-mu hingga kamu merasakan kilatan rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang memuncak.
Jay mulai mempercepat ritmenya di mulutmu. Ia tidak lagi hanya diam, ia menghujamkan dirinya dengan dorongan yang dalam dan dominan, memaksamu untuk menerima setiap inci ukurannya yang besar. Kamu tersedak, air mata dan saliva mengalir membasahi dagumu, namun Jay tetap tak bergeming hingga ia merasakan denyutan di pangkal kejantanannya.
“Telan semuanya, (y/n),” geram Jay tepat sebelum ia meledak.
Hampir bersamaan, koordinasi yang mereka bangun mencapai puncaknya. Sunoo merangkul pinggangmu dari belakang dengan sangat erat, kuku-kukunya menancap di kulitmu, sementara Jungwon mencengkeram pahamu hingga memerah.
“Ah... (y/n)...!”
Tiga gelombang panas menyapu tubuhmu sekaligus. Jay membanjiri mulutmu dengan cairannya yang melimpah, memaksamu untuk menelannya dalam kepasrahan yang hancur. Di bawah, Sunoo dan Jungwon menyemburkan benih mereka ke dalam rahimmu secara bersamaan. Rasa hangat yang luar biasa memenuhi perutmu, membuatmu merasa seolah-olah kamu sedang tenggelam dalam lautan milik mereka.
Tubuhmu melengkung kaku, lalu perlahan lemas seperti boneka kain yang talinya diputus. Kamu terkulai di atas dada Jungwon, napasmu terputus-putus, sementara Jay menarik dirinya dari mulutmu, meninggalkan bibirmu yang terbuka dan gemetar.
Jay mengusap sisa cairan di sudut bibirmu dengan ibu jarinya, lalu mengecup keningmu dengan kelembutan yang memuakkan. “Sarapan yang luar biasa enak, Sayang. Sekarang, bersiaplah. Kita punya banyak waktu untuk mengulanginya sepanjang hari.”
Sunoo dan Jungwon tetap memelukmu, tidak membiarkan satu inci pun kulitmu tidak bersentuhan dengan mereka. Di kamar itu, kamu menyadari bahwa matahari pagi ini bukan menandakan awal hari yang baru, melainkan awal dari pengabdian abadi di mana kamu bukan lagi manusia, melainkan persembahan bagi tiga pria Park.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Setelah badai yang menghancurkan itu mereda, mereka akhirnya membiarkanmu memiliki waktu beberapa menit untuk dirimu sendiri-meskipun kamu tahu, di balik pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu, mereka tetap mengawasimu seperti elang.
Kamu membenamkan seluruh tubuhmu ke dalam bathtub marmer yang luas. Air hangat yang mengepul seharusnya menenangkan, namun saat menyentuh kulitmu, air itu justru mempertegas setiap rasa perih yang tertinggal.
Kamu menyandarkan kepala di tepian marmer yang dingin, menatap kosong ke arah langit-langit kamar mandi yang mewah. Air di sekelilingmu perlahan berubah sedikit keruh, membawa pergi sisa-sisa cairan yang dipaksakan masuk ke dalam tubuhmu pagi ini.
Pikiranmu, yang sebelumnya limbung karena alkohol, kini mulai menjernih dengan cara yang menyakitkan. Kamu mencoba mencerna setiap kepingan realita yang baru saja menghancurkan hidupmu.
Identitas yang Hilang. Nama belakang ‘Park’ yang selama ini kamu banggakan ternyata bukan simbol kasih sayang, melainkan label harga. Kamu bukan putri Jay, kamu adalah barang sitaan yang ia simpan di dalam brankas emas bernama rumah ini.
Pengkhianatan Kakak-Kakakmu. Sunoo dan Jungwon. Mereka yang dulu menghapus air matamu saat kamu jatuh, ternyata adalah orang-orang yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkanmu lebih dalam. Setiap perhatian mereka, setiap sikap protektif mereka terhadap laki-laki lain yang mencoba mendekatimu... itu bukan karena mereka menyayangimu, tapi karena mereka tidak ingin “barang” mereka lecet sebelum waktunya.
Ayah Kandungmu. Bayangan pria yang bersimpuh di panti asuhan itu terus menghantui. Bagaimana bisa seseorang menjual darah dagingnya sendiri demi angka-angka di atas kertas? Kenyataan bahwa kamu ditukar dengan hutang jutaan dolar membuatmu merasa sangat kotor-lebih kotor daripada cairan yang baru saja kamu bersihkan dari tubuhmu.
Kamu menyentuh perut ratamu yang kini terasa kram dan aneh akibat pil misterius dari Jay.
Kamu menyadari satu hal yang paling mengerikan.
Tidak ada jalan keluar.
Jay sudah memastikan bahwa dunia luar menganggapmu mati atau tidak ada. Sunoo dan Jungwon sudah memastikan bahwa tubuhmu tidak akan pernah bisa melupakan sentuhan mereka. Kamu terjebak dalam penjara paling mewah di dunia, dengan tiga sipir yang mencintaimu dengan cara yang paling sakit.
Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi yang terbuka perlahan membuat jantungmu mencelos.
“Sudah cukup melamunnya, (y/n)?”
Suara Jungwon bergema di ruangan yang lembap itu. Ia muncul di balik uap air, masih dengan kemeja yang tidak dikancingkan sepenuhnya. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi bathtub, tangannya merayap masuk ke dalam air untuk membelai lututmu yang terekspos.
“Jangan mikir terlalu keras,” bisik Jungwon, matanya menatapmu dengan kelembutan yang mematikan. “Pikirin aja gimana cara nyenengin Papa nanti malam, biar kami nggak perlu bersikap sebrutal tadi pagi.”
Kamu memejamkan mata, membiarkan tubuhmu tenggelam lebih dalam ke bawah air, menyadari bahwa mulai detik ini, satu-satunya kebebasan yang kamu miliki hanyalah di dalam pikiranmu sendiri-sebelum mereka masuk ke sana juga.
Jungwon tidak menunggu jawabanmu. Ia mengulurkan tangannya yang kuat, merengkuh ketiakmu, dan mengangkat tubuhmu yang basah kuyup keluar dari air seolah kamu tidak berbobot.
Kamu hanya bisa berdiri gemetar di atas lantai marmer yang dingin, sementara Jungwon dengan telaten mengeringkan tubuhmu menggunakan handuk tebal, gerakannya hampir terasa seperti kasih sayang jika saja matanya tidak menatapmu seolah kamu adalah piala kemenangan.
“Ayo,” bisiknya, menuntunmu kembali ke kamar utama di mana Jay dan Sunoo sudah menunggu.
to be continued




Gila bgt ini trio wekwek, dikira akan menjadi pelindung ternyata seorang penjahat berkedok pahlawan. Tp penasaran sbnrnya dalam hati ini trio emg ada rasa sayang ga sih dibalik obsesi dn posesif mereka🤔