❛❛Impotent Photographer : Jake Sim❞
;
Suasana ruang istirahat kantor siang itu lebih bising dari biasanya. Tiga rekan kerjamu berkumpul di dekat mesin kopi, wajah mereka penuh dengan ekspresi antara kasihan dan rasa penasaran yang berlebihan.
“Sumpah, cakep banget, kan? Jake Sim. Gue denger dari temen gue yang model, dia itu fotografer jenius, tapi ya itu... sayang banget dia impoten,” bisik salah satu temanmu sambil menunjukkan layar HP-nya.
“Masa sih? Badan sebagus itu masa nggak ‘hidup’?” sahut yang lain dengan nada kecewa. “Sayang banget, padahal kalau dia normal, antrean yang mau sama dia pasti udah sepanjang jalan tol.”
Kamu hanya menyimak sambil pura-pura sibuk dengan ponselmu. Nama Jake Sim terdengar asing di telingamu. Kamu sama sekali tidak peduli pada gosip itu, karena pikiranmu masih terjebak pada memori panas dengan Jay semalam. Saat mengecek HP, layar ponselmu masih bersih dari notifikasi mata merah itu.
Syukurlah, mungkin malam ini gue libur, pikirmu lega. Kamu merasa butuh waktu untuk menenangkan sarafmu yang nyaris putus karena dua malam berturut-turut “menjajah” pria-pria kelas atas.
Namun, harapan itu hancur saat kamu baru saja meletakkan tas di meja apartemenmu.
Drrttt... Drrttt...
Getaran itu berbeda. Rasanya lebih tajam. Begitu kamu menyalakan layar, logo mata merah itu muncul dengan teks yang bikin jantungmu berhenti berdetak sejenak.
TARGET DOSSIER: NIGHT 03
Name: Jake Sim (Sim Jae-yun)
Occupation: Fine Art & Fashion Photographer.
Location: The Darkroom Studio, Private Basement.
Difficulty: Extreme (Hidden Fetish & Psychological Complexity)
Status Alert: Rumored Impotent.
[MISSION: THE AWAKENING]
“Target bukannya bermasalah; dia hanya bosan. Kebanyakan wanita terlalu membosankan untuk membangkitkan gairahnya. Tugasmu adalah menjadi ‘Muse’-nya dan membuktikan rumor itu salah. Jika kamu gagal membuatnya ‘bereaksi’ dalam waktu 60 menit, identitasmu akan terbongkar.”
Kamu lemas seketika. “Impoten?” gumammu sambil menatap layar. “Kalau dia beneran impoten, gimana caranya gue nyelesaiin misi ini?!”
Instruksi aplikasi kali ini lebih aneh. Tidak ada perintah memakai lingerie seksi. Sebaliknya, aplikasi itu memintamu memakai kemeja putih kebesaran tanpa bawahan apa pun. Kamu merasa aplikasi ini benar-benar tahu bagaimana cara bermain dengan fantasi targetnya.
Zlap!
Sensasi terseret itu datang lagi. Kali ini, udara terasa lembap dan berbau bahan kimia film. Kamu mendarat di sebuah ruangan temaram yang hanya diterangi oleh lampu neon merah redup. Di sekelilingmu, ribuan lembar foto hitam putih tergantung di tali jemuran, menampilkan potret-potret wanita dengan berbagai ekspresi-namun semuanya terlihat tanpa jiwa.
Di sudut ruangan, seorang pria dengan kaus hitam polos sedang duduk di depan sebuah meja kerja, membelakangimu. Dia memegang sebuah kamera manual, mengusap lensanya dengan sangat teliti seolah-olah itu adalah benda paling berharga di dunia.
Jake meletakkan kameranya dengan pelan di atas meja, lalu berbalik sepenuhnya. Matanya yang tajam menatapmu dengan intensitas yang berbeda dari Heeseung atau Jay. Tatapannya bukan tatapan lapar, melainkan tatapan seorang seniman yang sedang menguliti objeknya.
“Gue nggak inget nyewa model buat malam ini,” suara Jake terdengar sangat lembut namun dingin. “Dan gue nggak suka ada orang asing masuk ke darkroom gue tanpa izin.”
Kamu menelan ludah, mencoba menenangkan debar jantungmu. “Nama gue (Y/N),” ucapmu dengan suara yang diusahakan tetap tenang. “Gue... gue ke sini karena gue denger lo fotografer hebat. Gue nggak sengaja liat beberapa hasil foto lo, dan gue bener-bener tertarik sama cara lo ngambil sudut pandang. Semuanya kelihatan... punya rahasia.”
Mendengar pujian itu, Jake terdiam sejenak. Satu alisnya terangkat. Dia bangkit dari kursinya, berjalan mendekatimu hingga jarak kalian hanya tersisa beberapa langkah. Aroma bahan kimia film dan parfum maskulin yang elegan menguar dari tubuhnya.
“Tertarik sama hasil foto gue?” Jake mengulang kalimatmu dengan nada sangsi. Dia mengitarimu, memperhatikan bagaimana kemeja putih kebesaran itu menggantung di tubuhmu, memperlihatkan lekuk kakimu yang polos.
“Banyak model yang bilang gitu cuma buat cari muka,” lanjut Jake sambil berhenti tepat di depanmu. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap matamu dalam-dalam. “Tapi tatapan lo beda. Ada rasa takut, tapi juga rasa penasaran yang besar.”
Jake mengulurkan tangannya, ujung jarinya yang dingin menyentuh dagumu, memaksamu untuk terus menatapnya.
“Katanya lo tertarik sama karya gue, kan? Kalau gitu, lo pasti tahu kalau kamera gue nggak pernah bohong,” bisik Jake tepat di depan wajahmu. “Kamera gue bisa nangkep apa yang bener-bener lo rasain, bahkan yang lo sembunyiin dari dunia.”
Dia melepaskan dagumu dan kembali mengambil kamera manualnya yang tadi. Dia mulai mengintip lewat viewfinder, mengarahkan lensanya tepat ke arahmu.
“Mari kita liat, (Y/N). Apa lo beneran tertarik sama seni gue... atau lo cuma salah satu dari mereka yang dateng ke sini buat buktiin rumor sampah soal gue?”
Jake mulai memutar ring fokus pada lensanya. Suara klik dari tombol rana kamera terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.
“Pose buat gue, (Y/N). Kasih gue alasan kenapa gue harus percaya kalau kehadiran lo malam ini bukan sekadar ilusi yang ngebosenin.”
Instruksi dari aplikasi OBSESSION seolah-olah menyuntikkan keberanian dan naluri yang tidak pernah kamu miliki sebelumnya. Kamu yang biasanya kaku di depan kamera, tiba-tiba merasa setiap gerakan tubuhmu adalah senjata. Di bawah pendar lampu neon merah yang remang, kamu mulai memainkan peranmu sebagai “Muse“ yang tak terduga.
Suara klik dari kamera Jake berulang kali memecah kesunyian. Jake masih menatapmu dari balik lensa, namun gerakannya mulai melambat. Dia menyadari ada perubahan pada dirimu.
Posemu tidak lagi canggung, kamu mulai meliukkan tubuh dengan luwes, membiarkan kemeja putih itu merosot di satu bahu, memperlihatkan kulitmu yang tampak merona di bawah cahaya merah.
“Buka tiga kancing atasnya,” perintah Jake tiba-tiba, suaranya lebih rendah satu oktav. “Cahayanya nggak masuk ke lekuk leher lo dengan bener. Gue butuh liat lebih banyak.”
Kamu menatap Jake tepat di matanya, lalu perlahan jemarimu mulai membuka kancing kemeja itu satu per satu. Kamu tidak hanya membuka kancingnya, kamu melakukannya sambil menatapnya dengan pandangan menantang, seolah sedang mengupas lapisan demi lapisan pertahanannya.
Setelah kancing terbuka, kamu tidak berhenti di situ. Kamu berjalan mendekat ke arah meja kerjanya yang penuh dengan cairan kimia dan hasil foto. Kamu duduk di tepi meja, membuat bagian bawah kemejamu terangkat tinggi hingga menyingkap pahamu sepenuhnya.
“Gimana, Jake? Apa lensanya udah nangkep apa yang dia mau?” bisikmu sambil menyilangkan kaki dengan perlahan, sebuah gerakan provokatif yang sengaja kamu lakukan untuk memancing reaksinya.
Jake menurunkan kameranya. Untuk pertama kalinya malam ini, dia tidak lagi melihatmu lewat lensa, tapi langsung dengan matanya sendiri. Dia berjalan mendekat, berdiri di antara kedua kakimu yang terbuka. Jake meletakkan kameranya di sampingmu, lalu tangannya yang besar dan dingin merayap naik, mencengkeram paha dalammu dengan tekanan yang cukup kuat.
“Lo... berani banget buat ukuran orang asing yang baru masuk ke sini,” ucap Jake, napasnya kini terasa hangat di wajahmu.
Kamu bisa merasakan sesuatu di balik celana kainnya yang bersentuhan dengan lututmu. Rumor tentang dia yang “mati” sepertinya mulai terpatahkan. Ada reaksi kecil namun nyata yang mulai muncul dari balik sana. Kamu memberanikan diri, melingkarkan tanganmu di lehernya, menariknya hingga wajah kalian hanya berjarak satu inci.
“Mungkin karena gue bukan model biasa, Jake,” bisikmu, jemarimu mulai bermain di tengkuknya, memberikan stimulasi kecil yang membuat napasnya mulai memberat. “Atau mungkin... karena lo akhirnya nemu sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar benda mati di ruangan ini.”
Mata Jake menggelap. Kedinginan yang tadi dia tunjukkan mulai retak, digantikan oleh kilatan gairah yang sudah lama dia tekan. Dia menekan paha dalammu lebih keras, membuatmu refleks mendesah pelan.
“Lo tahu apa yang terjadi sama model yang terlalu banyak tingkah di darkroom gue?” tanya Jake dengan nada mengancam yang sensual. “Gue bakal ‘nyetak’ setiap inci tubuh lo di ingatan gue, sampai lo nggak bisa bedain mana yang nyata dan mana yang seni.”
Tatapan Jake yang tadinya kosong dan bosan kini bertransformasi menjadi sorot predator yang telah menemukan mangsa paling berharga. Senyum miringnya melebar saat dia melihatmu tidak menolak sentuhannya. Dia meraih gulungan tali rami yang biasanya digunakan untuk menjemur lembaran klise foto yang masih basah. Tekstur tali itu kasar, kontras dengan kulitmu yang halus.
“Kalau lo mau jadi muse gue, lo harus siap jadi objek seutuhnya,” bisik Jake dengan nada rendah yang memerintah.
Dia menarik kedua tanganmu ke atas kepala, menyatukan pergelangan tanganmu dan melilitnya dengan tali tersebut pada sebuah tiang penyangga besi di dekat meja kerjanya. Kamu bisa merasakan dinginnya besi dan kasarnya tali yang mulai menggesek kulitmu.
Tubuhmu gemetar hebat, ada rasa takut yang merayap di tulang belakangmu saat menyadari posisimu yang kini benar-benar tidak berdaya. Kamu merasa seperti boneka pajangan yang siap dimanipulasi sesuai fantasinya. Namun, setiap kali kamu ingin memprotes, bayangan peringatan di HP-mu kembali muncul. Selesaikan misi ini, atau identitasmu hancur.
Jake mundur satu langkah, mengagumi hasil karyanya. Dia mengambil kamera manualnya lagi, mengabadikan ekspresi ketakutan dan gairah yang tercampur di wajahmu. “Sempurna. Ketakutan lo... itu seni yang nggak bisa dibuat-buat.”
Puas dengan hasil fotonya, Jake tidak lagi membiarkan jarak di antara kalian. Dia melepas ikatan tali itu dengan satu sentakan cepat, namun tidak untuk membebaskanmu. Dia justru mencengkeram rahangmu dan menarikmu masuk ke area yang lebih dalam-sebuah bilik sempit yang digunakan untuk proses pencetakan foto. Di sana, hanya ada satu lampu merah kecil yang memberikan iluminasi remang-remang, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus intim.
Di ruangan yang sempit itu, aroma cairan pengembang foto yang tajam bercampur dengan feromon yang mulai memenuhi udara. Jake memojokkanmu ke dinding yang dingin, lalu jemarinya yang panjang mulai melucuti kancing kemeja putihmu satu per satu dengan kecepatan yang menuntut.
“Katanya mereka bilang gue ‘mati’?” Jake berbisik tepat di telingamu, suaranya kini dipenuhi dengan hasrat yang meledak-ledak. “Mari kita kasih mereka alasan buat narik omongan sampah itu.”
Begitu kemeja itu jatuh ke lantai, Jake tidak membuang waktu. Dia menempelkan tubuhnya padamu, dan detik itu juga, kamu merasakan bukti fisik yang luar biasa keras dan panas menekan perutmu dari balik celananya.
Rumor itu seratus persen salah. Jake tidak impoten, dia hanya terlalu pemilih, dan malam ini, kamu adalah satu-satunya orang yang berhasil memicu “api” yang selama ini dia padamkan sendiri.
Jake mulai mencium lehermu dengan ganas, sementara tangannya menjelajahi lekuk tubuhmu dengan pemahaman seorang seniman yang sedang mempelajari objeknya. Setiap sentuhannya meninggalkan jejak panas, membuatmu meracau pelan di tengah kegelapan bilik itu.
“Tatap gue, (Y/N),” geramnya, tangannya beralih membuka ikat pinggangnya sendiri dengan terampil. “Gue bakal bikin lo ngerasain apa artinya jadi objek obsesi seorang Jake Sim. Dan gue pastiin, lo bakal ketagihan sama rasa sakit dan nikmat yang gue kasih.”
Pancinganmu berhasil. Jake yang tadinya menganggapmu sebagai objek foto, kini memandangmu sebagai satu-satunya realitas yang ingin dia hancurkan sekaligus dia agungkan. Di dalam bilik sempit yang hanya diterangi cahaya merah itu, tensi antara kalian meledak menjadi sesuatu yang jauh lebih panas dari cairan pengembang foto mana pun.
Jake menarikmu lebih rapat, menghapus jarak yang tersisa. Dia menangkup wajahmu dengan kedua tangannya, lalu mendaratkan ciuman yang membuat duniamu seolah berhenti berputar. Ini bukan ciuman kasar yang terburu-buru, ini adalah ciuman yang penuh penekanan, pelan, namun sangat menuntut.
Bibir Jake terasa sangat lembut sekaligus ahli saat menyesap bibirmu, seolah dia sedang mencicipi rasa paling langka yang pernah dia temukan. Kamu terhanyut, membalas setiap lumatan dengan desahan tertahan yang mengundang gairahnya lebih jauh.
“Lo tahu cara ngerusak fokus gue, (Y/N)...” bisiknya parau di sela ciuman kalian.
Tangan Jake mulai bekerja dengan presisi seorang maestro. Satu tangannya meremas payudaramu dengan ritme yang teratur, sementara tangan lainnya merosot ke bawah, menyusup ke pusat kenikmatanmu yang sudah mulai basah. Jemarinya yang panjang dan terampil mulai memainkan klitorismu, memberikan stimulasi yang sangat tepat sasaran hingga kakimu terasa lemas.
“Jake... akh... jangan berhenti di situ...” kamu mulai meracau, melakukan dirty talk yang sengaja kamu tujukan untuk membakar kewarasannya. “Rumor itu sampah... lo jauh lebih hidup dari siapapun yang pernah gue temuin. Pake gue, Jake... bikin gue jadi hasil karya lo yang paling berantakan malam ini.”
Mendengar provokasimu, Jake mengerang rendah-suara yang terdengar seperti singa yang baru saja bangun dari tidurnya. Dia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan satu gerakan kuat, dia mengangkat satu kakimu dan menyampirkannya di pinggangnya, memojokkanmu hingga punggungmu menempel erat pada dinding bilik yang dingin.
Tanpa peringatan, Jake menghujamkan dirinya masuk ke dalammu.
“Sial... (Y/N)!” Jake menggeram keras saat merasakan betapa ketat dan hangatnya kamu menjepit miliknya.
Dia mulai melakukan penetrasi dengan tempo yang dalam dan stabil, setiap dorongannya terasa memenuhi seluruh rongga di dalam dirimu. Di ruangan sesempit itu, setiap desahanmu yang jujur dan tak tertahankan terpantul ke dinding, memenuhi pendengaran Jake. Dia sengaja berhenti sejenak setiap kali kamu berada di ambang puncak, hanya untuk mendengar suaramu yang memohon padanya.
“Kasih gue suara paling jujur lo,” bisik Jake, napasnya memburu di telingamu. “Gue pengen setiap desahan lo jadi audio pelengkap dari foto-foto yang gue ambil tadi. Gue mau lo cuma inget rasa ini setiap kali lo denger suara kamera.”
“Ahh... Jake... lebih dalam... Please...”
Jake kembali memacu ritmenya, lebih cepat dan lebih agresif. Kamu mencengkeram bahunya kuat-kuat, kuku-kukumu meninggalkan bekas goresan panjang saat kamu merasakan gelombang nikmat yang luar biasa mulai menyapu kesadaranmu.
Jake terus menjajahmu dengan dominasi yang tenang namun mematikan, memastikan bahwa malam ini, identitasmu sebagai “Muse“-nya akan terukir permanen dalam memori dan tubuhnya.
Pemandangan di dalam bilik merah itu kini benar-benar menyerupai adegan dari film dewasa kelas atas. Jake, yang selama ini dianggap “mati” oleh dunia luar, justru menunjukkan stamina yang paling tidak masuk akal.
Dia mengangkat tubuhmu sepenuhnya, membiarkan punggungmu bergesekan dengan dinding bilik yang dingin sementara kedua kakimu melilit erat di pinggangnya yang kokoh sebagai tumpuan.
Jake menghujammu tanpa ampun. Setiap dorongannya begitu bertenaga dan dalam, seolah dia ingin menembus setiap lapisan pertahanan yang kamu miliki. Di ruangan yang sempit dan pengap itu, suara penyatuan kalian terdengar begitu nyaring, beradu dengan suara napas yang berebut oksigen.
“Jake... akh! Pelan... pelan sedikit!” kamu meracau, tapi tubuhmu justru membalas setiap serangannya dengan jepitan yang semakin erat.
Gelombang nikmat yang terlalu besar akhirnya pecah. Tubuhmu menegang kaku, matamu berputar ke atas saat kamu mengalami orgasme pertamamu bersama Jake. Kamu berteriak parau, mengeluarkan suara yang paling jujur yang pernah dia dengar. Cairan hangat mengalir di antara sela paha kalian, namun alih-alih melambat, Jake justru semakin menggila.
“Gue belum selesai, (Y/N). Baru aja mulai,” geram Jake di telingamu.
Dia terus menghujammu dengan ritme yang brutal. Saat kamu masih dalam kondisi afterglow yang sensitif, Jake membenamkan wajahnya di lehermu dan menggigit bahumu dengan cukup keras-bukan untuk menyakiti, tapi sebagai tanda kepemilikan. Rasa perih itu justru tercampur dengan nikmat yang luar biasa, membuat adrenalinmu semakin memuncak.
Kamu mengalungkan tanganmu di pundaknya, mendekap kepalanya dengan erat seolah kamu tidak ingin dia lepas. Jemarimu mencengkeram rambutnya yang basah oleh keringat, sementara kakimu semakin mengunci pinggangnya agar dia bisa masuk lebih dalam lagi. Serangannya terasa begitu primal, Jake seolah sedang menumpahkan seluruh rasa bosan dan hampa yang selama ini dia rasakan lewat setiap hentakan tubuhnya padamu.
“Lihat gue, (Y/N)! Buka mata lo!” perintah Jake dengan nada rendah yang mendominasi.
Saat kamu membuka mata yang sudah berair karena nikmat, kamu melihat Jake sedang menatapmu dengan sorot mata yang begitu intens-sebuah tatapan yang menunjukkan bahwa dia tidak hanya menginginkan tubuhmu, tapi dia ingin menguasai seluruh sensasimu malam ini.
Dia terus memacu kecepatannya, mengubah bilik pencetakan foto itu menjadi arena pertempuran yang paling panas, hingga kamu tidak bisa lagi membedakan mana rasa sakit dan mana kenikmatan murni.
Udara di dalam studio itu kini terasa jauh lebih panas dan pekat. Jake akhirnya mencapai puncak pertamanya dengan satu geraman panjang, menghujamkan dirinya sedalam mungkin saat dia melepaskan seluruh cairannya yang panas di dalam rahimmu. Tubuhnya menegang, memelukmu erat di dinding bilik itu selama beberapa detik yang terasa abadi.
Namun, Jake Sim tidak pernah merasa cukup dengan hanya satu “sketsa.”
Jake menurunkanmu dari dinding, namun sebelum kakimu sempat menapak lantai dengan stabil, dia kembali menarikmu ke area meja kerjanya yang luas. Dia menyapu semua peralatan foto dan botol kimia hingga jatuh berserakan, lalu menidurkanmu di atas tumpukan lembaran foto hasil karyanya. Foto-foto hitam putih yang dingin itu kini menjadi alas bagi tubuhmu yang panas dan berkeringat.
“Gue belum selesai ‘berkarya’ di tubuh lo, (Y/N),” bisik Jake dengan mata yang berkilat gila.
Dia meraih kembali tali rami yang tadi. Dengan kecepatan yang sangat terampil, dia menarik tanganmu ke atas kepala dan mengikatnya kuat pada kaki meja yang berat. Tidak berhenti di situ, dia menarik kakimu, menekuknya secara ekstrem hingga lututmu nyaris menyentuh dada, lalu mengikatnya dalam posisi mengangkang sempurna. Kamu merasa sangat rentan, terikat dalam posisi semi-BDSM yang mengekspos setiap inci bagian paling sensitifmu di bawah lampu neon merah.
Wajahmu merona hebat, napasmu terputus-putus antara rasa malu yang luar biasa dan gairah yang semakin tersulut. Jake menatap “karya agungnya” itu dengan napas memburu. Dia meraih kamera digitalnya kali ini, menyalakan lampu flashyang akan memberikan efek dramatis.
Jake kembali menarik tubuhmu sedikit ke tepian meja, menyatukan dirinya kembali denganmu tanpa sedikit pun rasa lelah. Ronde kedua ini jauh lebih ekstrim. Sambil menggoyangkan pinggulnya dengan kencang dan kasar, tangan kirinya memegang kamera, mengarahkannya tepat ke wajahmu dan tubuhmu yang sedang berguncang hebat.
KLIK! KLIK! KLIK!
Lampu flash putih membutakan matamu setiap beberapa detik, bersamaan dengan dorongan brutal Jake yang membuat payudaramu memantul indah dengan ritme yang gila.
“Ah! Jake! Stop... kameranya... akh! Too deep!” racauu liar. Suaramu yang serak dan kata-kata kotor yang keluar karena rasa nikmat yang tak tertahankan membuat Jake benar-benar kegilaan.
Dia tidak peduli jika foto-foto itu akan terbakar atau hancur, dia hanya ingin mengabadikan momen di mana seorang wanita berhasil menghidupkan kembali “monster” di dalam dirinya.
Jake semakin mempercepat temponya, mengabaikan tali yang mulai menggesek kulit pergelangan tangan dan kakimu. Dia ingin menghancurkanmu sekaligus memujamu dalam satu waktu yang sama.
“Terus teriak buat gue, (Y/N)! Kasih gue ekspresi paling jalang yang lo punya!” geram Jake sambil menekan tombol rana kamera bersamaan dengan hantaman pinggulnya yang paling keras.
Ruangan itu dipenuhi suara jepretan kamera, suara kulit yang beradu, dan racauanmu yang memenuhi setiap sudut darkroom, menciptakan simfoni kegilaan yang hanya bisa diciptakan oleh seorang obsesif seperti Jake Sim.
Puncak dari kegilaan Jake Sim akhirnya mencapai titik nadir. Jake melepaskan kameranya ke atas tumpukan foto, membiarkan benda itu tergeletak begitu saja karena kini dia membutuhkan kedua tangannya untuk mencengkeram panggulmu dengan kekuatan penuh.
Jake tidak lagi memberikan ruang untuk bernapas. Dia memacu ritmenya dengan kecepatan brutal, menghantam setiap saraf sensitifmu hingga duniamu serasa meledak menjadi jutaan serpihan cahaya merah.
Kamu meracau, berteriak, hingga suaramu hilang, dan tepat saat Jake menghujamkan dirinya untuk terakhir kalinya dengan dorongan yang sangat dalam, tubuhmu melengkung kaku. Kesadaranmu seolah ditarik paksa dari raga karena nikmat yang terlalu dahsyat, kamu pingsan dalam pelukan kegilaannya.
Jake mengerang keras, melepaskan seluruh cairannya yang panas jauh di dalam rahimmu, membanjiri ruang yang baru saja dia jajah tanpa ampun.
Beberapa saat kemudian, saat kesadaranmu mulai kembali dengan sisa-sisa napas yang terputus, kamu mendapati Jake sudah melepaskan ikatan di tangan dan kakimu. Namun, dia belum benar-benar selesai. Dengan napas yang masih memburu, dia meraih kembali kameranya dan mengambil satu foto terakhir: potret dirimu yang berantakan, lemas, dengan sisa air mata nikmat dan kulit yang masih memerah di atas meja kerjanya.
Jake mendekatkan wajahnya ke telingamu, aroma keringat dan hasratnya masih begitu pekat. Dia menunjukkan layar kameranya yang menampilkan fotomu saat berada di puncak orgasme tadi-sebuah potret yang begitu mentah dan provokatif.
“Lo tahu, (Y/N)?” bisiknya dengan nada rendah yang sangat menyeramkan. “Gue nggak bakal biarin model lain nempatin posisi ini. Kalau gue nggak bisa milikin lo di dunia nyata, gue bakal bikin lo ‘mati’ di dalam kamera gue selamanya. Jangan berani-berani muncul di depan orang lain dengan wajah kayak gini... atau gue bakal hancurin mereka semua.”
Jake bangkit, meninggalkanmu yang masih lemas tak berdaya untuk masuk ke dalam bilik pencetakan guna memproses “karya agungnya” itu. Dia ingin segera melihat wajahmu tercetak di atas kertas foto.
Jake melangkah masuk ke dalam bilik pencetakan dengan napas yang masih berat, membawa kartu memori dan klise film seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga. Di dalam kegelapan yang diterangi lampu merah itu, dia tersenyum puas. Dia membayangkan akan memenuhi dinding studionya dengan wajah (Y/N)-wajah yang berhasil menghidupkan kembali gairahnya yang sempat mati.
“Tunggu di sana, (Y/N). Jangan ke mana-mana kalau lo nggak mau gue ikat lebih kencang lagi dari yang tadi,” teriaknya dari dalam bilik, suaranya terdengar posesif sekaligus penuh kemenangan.
Namun, saat Jake mulai memproses klisenya di bawah cairan kimia, keajaiban gelap dari aplikasi OBSESSION mulai bekerja. Di layar kameranya, gambar wajahmu perlahan-lahan mengabur, seolah tertutup kabut tebal yang tidak bisa ditembus. Dan di atas meja kerja, tubuhmu mulai berpendar merah.
Zlap!
Kamu terbangun di atas kasur apartemenmu. Tubuhmu gemetar hebat, dan ada rasa perih yang nyata di pergelangan tanganmu bekas ikatan tali rami tadi. Kamu segera mengecek HP-mu.
[MISSION COMPLETE: NIGHT 03] Target: Jake Sim - REVIVED.
Reward: “The Muse’s Curse” & 2000 Diamonds.
Warning: Sang fotografer kini terobsesi. Ia akan menghabiskan hidupnya mencari hantu di dalam kameranya.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Jake menghabiskan waktu cukup lama di dalam sana. Dia dengan teliti memproses setiap gambar, menikmati setiap detik saat bayangan tubuhmu mulai muncul di atas kertas foto yang terendam cairan kimia. Dia pikir kamu masih terbaring lemas di atas meja kerjanya, mencoba mengumpulkan sisa tenaga setelah serangan brutal yang dia berikan.
Begitu dia keluar dari bilik dengan lembaran foto yang masih basah di tangannya, Jake tertegun.
“ (Y/N)?”
Ruang studionya sunyi senyap. Meja kerjanya kosong. Hanya ada tumpukan foto yang berantakan dan bau harum tubuhmu yang masih tertinggal di udara. Jake segera berlari ke arah pintu keluar yang terkunci rapat dari dalam. Tidak ada tanda-tanda pintu itu dibuka. Dia memeriksa setiap sudut ruangan, di balik tirai-tirai hitam, hingga ke dalam lemari penyimpanan.
“Sial! Gimana bisa lo pergi?!” teriak Jake frustrasi. Suaranya menggema di seluruh basement yang luas itu.
Dia pikir kamu telah melarikan diri dengan sisa tenaga yang kamu punya-mungkin lewat celah yang tidak dia ketahui. Amarah dan rasa penasaran bercampur aduk di dadanya. Namun, saat dia menatap lembaran foto yang baru saja dia cetak untuk melihat wajahmu sekali lagi, dunianya benar-benar runtuh.
Di atas kertas foto itu, hanya terlihat siluet tubuhmu yang indah dalam posisi terikat, namun bagian wajahmu... kosong. Putih bersih seolah-olah cahaya lampu flash tadi menghapus seluruh fitur wajahmu tanpa sisa. Jake segera mengecek kamera digitalnya, dan hal yang sama terjadi. Semua file foto itu rusak tepat di bagian wajah.
Jake jatuh terduduk di lantai studionya yang dingin, mencengkeram rambutnya dengan tangan gemetar. Kamu tidak hanya hilang secara fisik, tapi kamu juga menghilang dari setiap bukti yang dia miliki.
“Siapa lo sebenarnya... (Y/N)?” bisiknya dengan suara pecah terlihat frustasi dan tampak sedikit gila.
Malam itu, Jake Sim tidak mendapatkan “karya agung” yang dia inginkan. Dia justru mendapatkan sebuah obsesi baru yang akan menghantui setiap jepretan kameranya selamanya. Dia tidak akan pernah berhenti mencari “hantu” yang telah membangkitkan monster di dalam dirinya.
❛❛Impotent Photographer : Jake Sim❞
To Be Continued
mau banget jadi ‘Muse’-nya Jake🥵
jangan lupa LIKE dan komen ya kalau kalian suka 🤍
love u michies 💖






KACAUU