3 Mommy's Pretty Boy
Lee Heeseung
★AYO VOTE CHAPTER INI★
Mendengar tantangan kecil dari Heeseung, senyuman miring langsung terbit di bibirmu. Jiwa dominanmu yang tadinya sempat melunak karena sesi sharing affection langsung tersulut kembali. Kamu menegakkan sedikit tubuhmu, menatapnya dari atas dengan pandangan mata yang menggelap penuh intimidasi yang seksi.
“Oh, berani nuntut sekarang, hm?” bisikmu rendah, jemarimu bergerak mencengkeram dagunya perlahan, menahan wajah tampannya agar tetap mengunci tatapanmu. “Kalau mau dimanja lagi, panggil aku yang manja dulu. Aku mau denger seberapa butuh kamu sama pawang kamu malam ini.”
Heeseung menelan ludahnya kesusahan, jakunnya yang seksi bergerak naik-turun. Tatapan lapar dan dominan yang kamu berikan bener-bener melumpuhkan akal sehatnya seketika. Sisi femboy-nya yang penurut dan haus akan afeksi langsung mendominasi seluruh dirinya. Wajahnya merona merah padam, matanya berkabut sayu, dan tanpa sadar, untaian kata yang paling manis sekaligus mematikan lolos begitu saja dari bilah bibir plumpy-nya.
“M-mommy... tolong manjain Heeseung lagi... please...” celetuknya dengan suara yang teramat sengau, lembut, dan merengek manja kayak anak kecil yang butuh perlindungan.
Deg.
Kamarmu mendadak serasa kehilangan pasokan udara. Dipanggil dengan sebutan “Mommy” oleh cowok setampan dan segemas Heeseung bener-bener membuat seluruh pertahananmu runtuh. Kamu sempat tertegun sepersekian detik, jantungmu berpacu gila-gilaan karena salting setengah mati, tapi di saat yang sama, bulu kudukmu meremang karena gairah yang luar biasa besar langsung menyengat seluruh tubuhmu. Panggilan itu benar-benar mengaktifkan naluri dominasi mutlakmu ke tingkat tertinggi.
Kamu terkekeh rendah, suara tawamu terdengar begitu sensual di keheningan kamar. Kamu menunduk, membisikkan kalimat balasan tepat di depan bibirnya yang gemetar menanti responsmu.
“Pinter banget, Baby... Sebutan yang bagus buat malam yang panjang ini,” bisikmu penuh penekanan, menekankan kata Baby dengan nada yang begitu protektif sekaligus lapar.
Sisi dominanmu meledak sepenuhnya tanpa ada yang ditahan lagi. Kamu langsung menyatukan kembali bibir kalian dalam ciuman yang jauh lebih menuntut, dalam, dan menguasai, membuat Heeseung langsung melenguh pasrah di bawah kungkunganmu. Tanganmu bergerak tegas, merayap masuk ke balik piyamanya, mencengkeram pinggang rampingnya dengan posesif seolah ingin menegaskan bahwa seluruh jiwa dan raganya adalah milikmu malam ini.
Mendengar panggilan sayangnya dibalas dengan sebutan Baby yang begitu dalam dari mulutmu, Heeseung benar-benar pasrah total. Dia menangis kecil lagi, bukan karena sedih, tapi karena rasa nikmat dan aman yang kelewat batas melingkupi hatinya. Malam itu, kamu menuruti semua hal yang Heeseung inginkan-memimpin ritme, memberikan sentuhan-sentuhan tegas yang menuntut kepatuhannya, dan membawanya kembali ke dalam dunia gairah yang panas, di mana Lee Heeseung sepenuhnya tunduk dan bahagia menjadi baby kesayangan di bawah kuasa penuh mommy-nya tercinta.
Atmosfer kamar tidur malam itu benar-benar terkunci dalam ketegangan yang pekat. Begitu panggilan “Mommy” dan “Baby” terucap, semua batasan dan keraguan menguap habis. Kamu mengambil alih kendali tubuhnya secara total, menyalurkan setiap jengkal fantasi dominanmu yang sempat tertahan.
Kamu membalikkan keadaan dalam satu gerakan tegas. Kamu menarik kedua tangan Heeseung ke atas kepalanya, menguncinya di sana dengan satu tanganmu, sementara tanganmu yang lain merayap turun dengan berani, menyingkap dastermu sendiri dan pakaian tidurnya yang baru saja dipakai. Penyatuan kulit yang masih hangat dari sisa pergulatan sebelumnya kembali terasa intim dan menuntut.
“Mommy... ahh, please... Heeseung jangan digantung lagi,” rintih Heeseung, air mata gairah kembali menggenang di sudut matanya yang sayu. Sisi femboy-nya malam ini benar-benar pasrah, hancur berantakan di bawah tatapan laparmu.
Kamu tersenyum miring, menolak untuk memberikan pelepasan dengan mudah. Kamu sengaja menggesekkan milikmu yang sudah basah di atas kejantanannya yang kembali menegang sempurna, menyiksanya dengan ritme yang lambat dan memutar tepat di pangkalnya. Heeseung mendongak, urat leher dan jakun seksinya menegang tajam, mengeluarkan lenguhan panjang yang teredam saat kamu membungkam bibir plumpy-nya dengan ciuman yang menuntut.
“Kamu milik siapa, Heeseung? Bilang,” bisikmu rendah, menarik sedikit rambut hitamnya agar dia menatap langsung ke dalam manik matamu.
“M-milik Mommy... Heeseung milik Mommy seutuhnya... hiks, tolong masuk sekarang...” rintihnya dengan suara sengau yang teramat manja, memohon validasi dan sentuhan tegas yang dia butuhkan.
Mendengar permohonan pasrah itu, kamu tidak lagi menahan diri. Kamu mengangkat pinggulmu sedikit lalu menghentakkannya ke bawah dalam satu gerakan dalam yang menghujam sampai ke ujung rahimmu. Hubungan pekat itu kembali menyatu dengan sempurna. Heeseung menjerit tertahan, tubuhnya melengkung ke atas saat kamu langsung memacu ritme dengan brutal, cepat, dan penuh dominasi dari atas tubuhnya.
Suara gesekan kulit yang basah memenuhi keheningan kamar. Kamu terus bergerak tanpa ampun, menikmati bagaimana kejantanan Heeseung berdenyut kencang di dalam dirimu seiring dengan jepitan rahimmu yang semakin mengetat akibat gairah yang memuncak. Heeseung hanya bisa menangis keenakan, meremas seprai kasur dengan tangan yang gemetar hebat, sepenuhnya menyerahkan seluruh kendali malam itu ke dalam fantasi terliarmu hingga kalian kembali mendekati puncak pelepasan bersama.
Keheningan malam di kamar itu benar-benar runtuh, digantikan oleh gairah yang semakin liar dan tak terkendali. Kamu menaikkan tempo goyanganmu dari atas tubuh Heeseung menjadi jauh lebih cepat, dalam, dan tanpa ampun. Setiap hentakan tegas yang kamu berikan menciptakan suara penyatuan yang basah dan pekat, menggema nyaring di sela-sela napas kalian yang memburu.
“Ah-hh... Heeseung, liat bawah sini... Denger nggak sebecek apa rahim aku karena kamu, hm?” bisikmu rendah, suaranya terdengar begitu seksi dan dominan di sela napasmu yang terengah-engah.
Heeseung mendongak dengan pandangan yang benar-benar hancur dan sayu. Wajah cantiknya sudah memerah padam sempurna sampai ke leher. Mendengar dirty talk yang keluar langsung dari bibirmu, akal sehatnya benar-benar menguap.
“M-mommy... ahh! S-sempit banget... di dalam rahim Mommy enak banget, lembut, hiks... Heeseung mau gila...” rintihnya berantakan, air mata gairah mengalir deras membasahi pipinya seiring dengan tubuhnya yang refleks melengkung ke atas setiap kali kamu menghantam titik terdalamnya.
“Pinter, terus panggil aku kayak gitu sambil jepit milikkmu di dalam sini, Baby,” balasku makin brutal, sengaja menggiling pangkalnya dengan putaran pinggul yang mematikan.
Akibat pergerakanmu yang begitu bertenaga dan brutal dari atas, payudaramu bergoyang hebat tepat di depan wajah Heeseung. Pemandangan sensual itu bener-bener menyulut fantasi terliar kekasih femboy-mu ini. Dengan sisa tenaga yang dia punya, kedua tangan indahnya kembali melayang naik, mencengkeram dan meremas dadamu yang penuh dengan remasan yang menuntut nikmat.
Heeseung menarik tengkukmu ke bawah, menenggelamkan wajahnya di dadamu dan kembali mengulum putingmu dengan rakus. Dia kembali nenen seperti anak kecil yang kehausan afeksi, menyedot dan memainkan lidahnya di sana dengan begitu nikmat, sementara di bawah sana miliknya yang menegang hebat berdenyut semakin kencang di dalam jepitan rahimmu yang super ketat.
Kombinasi antara suara becek yang pekat, dirty talk panas yang saling bersahutan, serta hisapan kuat Heeseung di dadamu membuat seluruh tubuhmu merinding hebat. Kamu memacu ritme ke titik puncak, membiarkan gelombang nikmat yang dahsyat membawa kalian berdua semakin dekat menuju pelepasan mutlak malam itu.
Seluruh tubuhmu mulai bergetar hebat, sebuah reaksi alami yang tak bisa kamu kendalikan lagi karena stimulasi yang sudah terlalu intens. Rasa panas menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala, dan entah kenapa, malam ini Heeseung terasa berkali-kali lipat lebih merangsang daripada biasanya. Sisi penurutnya yang berpadu dengan kepasrahan yang sensual bener-bener menyalut ego dominanmu hingga ke titik tertinggi.
Kamu melenguh keras, suara desahanmu terdengar semakin serak dan berat saat kamu terus memacu pinggulmu tanpa memberi jeda sedikit pun.
“Ah-hh... Heeseung, k-kamu bener-bener bikin aku gila... penis kamu gede banget di dalem rahim aku, s-sampe ke ujung... nghh!” rintihmu frontal, melepaskan semua filter di kepalamu dan membiarkan dirty talk panas mengalir begitu saja demi menaikkan gairah kalian berdua.
Mendengar kata-kata vulgar yang keluar langsung dari mulutmu, Heeseung seolah mendapatkan suntikan gairah baru. Dia melepaskan hisapannya di dadamu sebentar, mendongak dengan mata yang sayu dan berkabut penuh nafsu, lalu membalas ucapanmu dengan kalimat yang jauh lebih frontal.
“M-mommy... jepit terus... ahh! Rahim Mommy anget banget, kencang... hiks, Heeseung mau tumpah di dalem rahim Mommy sekarang... tolong sedot sperma Heeseung sampe habis... nghh!” rintih Heeseung tanpa saringan, suaranya yang sengau terdengar begitu seksi di telingamu.
Ucapan frontal dari mulutnya bener-bener menjadi pemicu yang mematikan. Detik itu juga, dinding rahimmu refleks berkedut hebat dan menjepit batang penisnya yang menegang sempurna dengan sangat, sangat kencang-seolah-olah kamu bener-bener ingin memeras setiap tetes pelepasan dari dalam dirinya.
“Ah-aaah! S-sakit, tapi enak banget... Mommy kencang banget, hiks!” Heeseung memekik keras, kedua tangannya mencengkeram erat paha atasmu saat jepitan super ketat dari rahimmu membuat kejantatannya yang berdenyut hebat di dalam sana terasa seperti sedang dicekik dengan nikmat.
Kamu menghiraukan rintihannya dan justru semakin mempercepat tumbukan brutalmu dari atas, menikmati sensasi pekat dan suara becek yang semakin nyaring, membawa kalian berdua berlomba menuju puncak pelepasan mutlak yang sudah di depan mata.
Heeseung benar-benar sudah berada di batas kemampuannya. Kejantatannya yang sudah menegang maksimal dan berdenyut hebat di dalam rahimmu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Entah mendapat dorongan keberanian dari mana, sisi submisifnya yang manis mendadak patah oleh gelombang gairah liar yang sudah dia tahan terlalu lama sejak di kafe tadi siang.
Dengan satu gerakan sentakan yang tiba-tiba dan bertenaga, kedua tangan indahnya mencengkeram kuat pinggangmu. Dia menarik tubuhmu berguling di atas kasur, membalikkan posisi dalam sekejap mata hingga kini kamu berada di bawah kendali penuh tubuh tingginya.
Kamu terengah-engah, melebarkan mata karena terkejut dengan perubahan posisi yang begitu instan. Namun, sebelum kamu sempat mengambil alih kendali lagi, Heeseung sudah mengambil alih seluruh permainan.
Dia langsung menghantamkan pinggulnya ke bawah dengan kekuatan penuh, melakukan penetrasi yang begitu dalam, cepat, dan kasar dari atas.
Plak! Plak! Plak!
Suara penyatuan kulit yang basah dan pekat beradu dengan nyaring di dalam kamar, berbaur dengan derit halus ranjang yang bergoyang akibat hentakan brutal yang dia pimpin. Heeseung menangis keenakan, air mata gairahnya menetes langsung mengenai pipimu, sementara bibirnya terus mengeluarkan desahan serak yang penuh kepuasan yang teramat sangat. Sisi liarnya yang terpendam mendadak meluap, menuntut haknya untuk segera mengisi rahimmu sampai penuh.
“Ah-hh! S-Sayang... Mommy... maaf, Heeseung udah nggak kuat... hiks, enak banget!” rintihnya frontal di sela-sela hentakannya yang semakin mematikan.
Sebelum kamu sempat merespons dengan kata-kata, Heeseung menunduk dalam. Dia membungkam bibirmu dengan ciuman yang teramat intens, panas, dan menuntut. Di sela-sela pagutan bibir kalian yang basah, kedua tangan panjangnya bergerak turun, meraih jemarimu dan menyatukan jari-jari kalian dalam tautan yang sangat erat-sebuah kuncian tangan di atas kasur yang dipenuhi dengan afeksi dan rasa cinta yang mendalam.
Kamu yang biasanya memegang kendali penuh sebagai pawang yang dominan, detik itu juga benar-benar dibuat lumpuh dan terbuai. Dominasi sesaat yang Heeseung tunjukkan terasa begitu hot, seksi, dan sangat merangsang.
Tubuhmu melunak pasrah di bawah kuncian tubuhnya, membiarkan dirimu menikmati setiap tumbukan brutal dan dalam yang dia berikan dari atas, sementara jepitan rahimmu di bawah sana semakin meremas miliknya dengan ketat, menyongsong detik-detik menuju klimaks bersama yang sudah membakar di depan mata.
Melihat Heeseung yang mendadak mengambil kendali dengan begitu liar, gairahmu justru semakin tersulut ke titik tertinggi. Alih-alih mencoba membalikkan posisi kembali, kamu memilih untuk menantang batas kemampuannya. Sisi dominanmu beralih taktik menjadi sebuah provokasi yang mematikan.
Kamu mengangkat kedua kakimu, lalu melingkarkannya dengan erat di sekeliling pinggul tegap Heeseung, mengunci tubuhnya agar menyatu semakin dalam tanpa celah.
Di sela-sela tautan jemari kalian yang erat, kamu sengaja menaikkan ritme jepitan rahimmu di bawah sana. Kamu meremas kejantanannya yang menegang hebat dengan kedutan-kedutan ketat yang ritmis, sengaja memancing titik paling sensitifnya sembari mendongak untuk membisikkan kata-kata godaan tepat di telinganya.
“Ah-hh... Heeseung... cuma segini kemampuannya, hm? Katanya mau ngisi rahim Mommy... kok hentakannya mulai pelan?” bisikmu sensual, diakhiri dengan gigitan kecil di daun telinganya yang memerah.
Provokasi verbal dan jepitan maut dari rahimmu bener-bener merusak sisa akal sehat Lee Heeseung. Jiwa dominasi yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya kini pecah dan keluar sepenuhnya. Dia meracau frustrasi, suaranya bener-bener berantakan karena kenikmatan yang terlalu berlebihan.
“Ngggh! S-Sayang... k-kamu bener-bener... ahh! Sempit banget, jangan jepit kencang-kencang... hiks!” racau Heeseung dengan napas yang terputus-putus.
Sebagai jawaban atas tantanganmu, Heeseung mendadak memacu pinggulnya dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh lebih brutal dari sebelumnya. Setiap hentakannya kini terasa begitu bertenaga, menghunjam lurus dan menghantam bagian terdalammu tanpa ampun hingga menciptakan suara penyatuan yang luar biasa pekat dan basah.
Dia benar-benar menguasaimu di bawah tubuhnya. Di sela-sela ciuman panas dan hentakan mematikannya, Heeseung mulai memanggil namamu berkali-kali dengan suara serak yang penuh obsesi dan kepemilikan mutlak.
“(y/n)... ahh! (y/n)... kamu punya aku... cuma punya aku!” serunya frontal, menyebut namamu di sela desahan napasnya yang memburu.
Mendengar namamu dipanggil dengan cara se-seksi itu oleh Heeseung yang sedang mendominasimu bener-bener membuat seluruh tubuhmu menegang hebat. Gelombang pelepasan yang dahsyat merayap naik, membuat dinding rahimmu berkedut semakin gila, menjepit miliknya hingga ke titik maksimal.
“Heeseung... a-aku mau keluar... nghhh!” lenguhmu keras, mendongak dengan urat leher yang menegang.
“Sama-sama, Sayang... ah-hh, keluar di dalem... (y/n)!”
Heeseung memberikan tiga hentakan terdalam yang bener-bener mengunci penyatuan kalian sebelum akhirnya kalian berdua mencapai klimaks bersama dalam satu desahan panjang yang memenuhi ruangan. Tubuh Heeseung gemetar hebat di atas tubuhmu, melepaskan seluruh cairannya yang hangat dan kental, menyembur deras memenuhi rahimmu hingga meluap kembali di sela paha kalian. Kalian berdua ambruk saling mendekap, menyatukan sisa-sisa napas yang memburu dalam keheningan malam yang begitu memuaskan dan penuh cinta.
Heeseung langsung ambruk menjatuhkan seluruh bobot tubuhnya di atas tubuhmu. Napasnya memburu berantakan, naik-turun dengan cepat di ceruk lehermu, sementara sisa keringat yang membasahi dahi dan rambut pirangnya menempel di kulitmu. Tubuhnya masih gemetar kecil akibat pelepasan yang teramat dahsyat tadi.
Kamu terkekeh pelan, rasa lemas yang luar biasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhmu. Perlahan, kamu meluruskan kakimu yang tadi melingkar di pinggulnya, lalu beralih melingkarkan kedua tanganmu di punggung polosnya yang hangat.
“Heeseung... kamu hebat banget tadi,” bisikmu tulus, suaranya masih agak serak sisa desahan tadi.
Mendengar pujian pertamamu, Heeseung bergerak pelan. Dia mengangkat kepalanya dari ceruk lehermu, mendongak untuk menatapmu. Wajah tampannya yang cantik masih merona merah padam, matanya yang bulat kelihatan sayu dan berkaca-kaca penuh afeksi. Sisi liarnya yang keluar tadi mendadak menguap, kembali digantikan oleh Lee Heeseung yang super manja dan femboy penurut.
“B-beneran...?” bisiknya teramat sengau dan malu-malu, bibir plumpy-nya mengerucut gemas. “Maaf ya... tadi aku tiba-tiba kasar banget... aku beneran nggak bisa nahan lagi pas kamu panggil baby dan godain aku kayak gitu.”
Kamu tersenyum manis, membiarkan jiwa pelindung dan dominanmu kembali mengambil alih sesi aftercare malam ini. Tanganmu bergerak naik, menangkup rahang tegasnya dengan lembut, lalu ibu jarimu telaten mengusap sisa air mata di sudut matanya dan merapikan helai rambutnya yang basah oleh keringat.
“Nggak usah minta maaf, Sayang. Aku justru suka banget,” pujimu lagi, membuat binar di mata Heeseung langsung menyala terang. “Aku bener-bener kagum. Kamu seksi banget pas ngambil kendali tadi. Cara kamu manggil nama aku, cara kamu ngunci tangan aku... you did so well, Baby. Kamu bener-bener bikin aku puas malam ini.”
Mendengar rentetan pujian dan validasi mutlak dari mommy-nya, Heeseung bener-bener meleleh seketika. Rasa percaya dirinya yang sempat anjlok karena komentar jahat orang-orang kampus tadi siang langsung pulih total, digantikan oleh rasa bahagia yang membuncah sampai ke dada.
Dia menyunggingkan senyuman plumpy yang paling manis dan tulus, lalu menyembunyikan wajah malunya dengan ndusel-ndusel manja di dadamu. Kedua tangan indahnya memeluk pinggangmu erat-erat, menolak buat lepas.
“Makasih, Sayang... makasih udah selalu muji aku,” gumamnya pelan dari balik dadamu, menikmati kehangatan aftercare yang kamu berikan. “Aku sayang banget, bener-bener sayang sama kamu. Jangan pernah bosen ya buat meluk dan ngatur aku kayak gini.”
Kamu terkekeh gemas, mengecup puncak kepalanya lama sambil terus mengusap punggungnya dengan penuh rasa cinta. Di atas kasur yang berantakan dan di bawah selimut hangat yang kalian tarik bersama, malam itu ditutup dengan suasana yang begitu fluffy dan penuh afeksi. Tak peduli seberapa liar fantasi yang kalian salurkan, pada akhirnya, pelukan hangat dan saling menerima satu sama lain adalah tempat pulang terbaik bagi kalian berdua.
★
THE END
terima kasih sudah request cerita ini 🩵







kayaknya enak deh punya cowo femboy, MAU JUGA SATU MOM😭💞
AIGOOO MY BABYY!! 🥺🤤😻🥵💋🫦💗❤️🔥💋