Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas kabut tebal. Kamu terbangun dengan tubuh yang terasa asing—terlalu ringan karena berat badan yang menyusut, namun terlalu berat karena beban mental yang menumpuk. Setiap kali kamu membuka mata dan melihat langit-langit putih, satu-satunya pikiran yang muncul adalah: Kenapa? Kenapa aku masih harus melihat hari ini?
Kamu merasa dunia ini tidak adil karena membiarkanmu bangun sementara rahimmu—simbol masa depan dan harapanmu—telah diangkat sepenuhnya. Kamu bukan lagi wanita yang sama. Kamu merasa seperti cangkang kosong yang rusak.
Namun, di tengah kebencianmu pada diri sendiri, Jake selalu ada.
Jake kini resmi mengambil alih pengawasan medisnya berkolaborasi dengan dokter spesialis lamamu. Tapi yang tidak kamu ketahui adalah dedikasi Jake di luar jam kerjanya. Berkat informasi dari Yuna, Jake mulai “mempelajari” kamu. Dia tahu kamu benci bau bubur rumah sakit yang hambar, jadi dia diam-diam menggantinya dengan sup hangat dari kedai favoritmu. Dia tahu kamu suka aroma lavender untuk menenangkan syaraf, jadi dia meletakkan essential oil kecil di sudut ruangan yang tidak mencolok.
Suatu pagi, saat kamu baru terbangun dan menyadari jahitan di perutmu masih berdenyut, emosimu pecah. Kamu mencoba memukul-mukul dadamu sendiri, menangis terisak tanpa suara sampai wajahmu memerah.
“Kenapa aku nggak mati aja, Jake?!” raungmu saat Jake baru saja masuk ke kamar. “Buat apa aku hidup kalau aku nggak punya rahim lagi? Aku nggak bisa kasih anak ke siapa pun... aku rusak! Aku nggak berharga!”
Jake segera meletakkan papan jalannya. Dia tidak memanggil perawat untuk menyuntikkan penenang. Sebaliknya, dia duduk di tepi ranjangmu, membiarkanmu memukul pundaknya sebagai pelampiasan rasa sakitmu.
“Lihat saya, (y/n),” Jake memegang kedua bahumu, memaksa matamu yang basah untuk menatapnya. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang menenangkan. “Dengarkan baik-baik. Rahim tidak menentukan harga diri kamu sebagai manusia. Kamu bukan pabrik, kamu bukan sekadar alat untuk melahirkan. Kamu adalah kamu. Dan bagi saya, bagi Yuna, bagi orang-orang yang peduli... keberadaan kamu di sini, bernapas, itu sudah lebih dari cukup.”
“Tapi Sunoo—”
“Sunoo adalah orang buta yang kehilangan berlian karena dia lebih memilih kerikil yang berkilau sebentar,” potong Jake tajam namun lembut. “Jangan biarkan standar laki-laki brengsek itu menghancurkan cara kamu memandang diri sendiri.”
Jake mengambil sebuah pemutar musik kecil dari saku jasnya dan memasangkan satu earbud ke telingamu. Sayup-sayup terdengar instrumen piano yang menenangkan—musik yang pernah kamu sebutkan pada Yuna sebagai musik favoritmu saat sedang sedih.
“Saya melakukan ini bukan cuma karena saya hampir menabrak kamu hari itu,” bisik Jake, jemarinya perlahan menghapus air mata di pipimu. “Saya melakukan ini karena saya ingin melihat mata yang penuh harapan itu kembali. Kamu punya hidup yang panjang di depan, (y/n). Dan saya akan pastikan kamu nggak jalan sendirian di sana.”
Sentuhan Jake terasa berbeda. Bukan sentuhan menuntut seperti Sunoo, melainkan sentuhan yang memberikan kekuatan, seolah dia sedang membagi nyawanya untuk menyambung jiwamu yang hampir putus. Di tengah kehancuranmu, Jake perlahan membangun benteng baru, menjadikannya satu-satunya alasan kenapa kamu akhirnya memilih untuk menelan suapan makanan pertamamu hari itu.
Setelah hari-hari yang hanya diisi dengan tangisan dan aroma obat yang memuakkan, sebuah perubahan kecil mulai terjadi. Kamu tidak lagi menolak saat perawat datang membawakan makanan. Kamu tidak lagi memejamkan mata setiap kali matahari masuk ke celah jendela. Kamu mulai memilih untuk bertahan.
Proses recovery fisikmu tidaklah mudah. Akibat pendarahan hebat dan operasi pengangkatan rahim, otot-otot perutmu terasa sangat lemah. Namun, Jake selalu punya cara.
“Pelan-pelan, (y/n). Satu... dua...”
Sore itu, taman rumah sakit menjadi saksi perjuanganmu. Jake memegang kedua tanganmu, berjalan mundur sambil menuntun langkahmu yang masih gemetar. Dia melepaskan jabatannya sebagai dokter sejenak, hanya menjadi seorang pria yang ingin melihatmu berdiri tegak lagi.
“Sakit, Jake...” rintihmu, keringat dingin membasahi dahi.
“Saya tahu. Tapi sakit ini tandanya sarafmu sedang bekerja, (y/n). Kamu sedang hidup,” balas Jake lembut. Dia berhenti sejenak, mengambil sapu tangan dari sakunya dan menyeka keringat di pelipismu dengan gerakan yang sangat perhatian.
Tak jauh dari sana, Yuna duduk di bangku taman sambil menggendong putrinya. Dia terus bersorak kecil, memberikan jempol setiap kali kamu berhasil melangkah satu meter lebih jauh.
“Ayo Tante (y/n)! Semangat!” suara cempreng anak Yuna membuatmu tersenyum tipis.
Yuna mendekat saat kamu akhirnya terduduk lemas di bangku taman karena kelelahan. Dia memberikan sebotol jus buah segar dan memeluk bahumu. “Lo keren banget hari ini. Tahu nggak, Dokter Jake ini bawel banget kalau nanyain makanan favorit lo ke gue? Dia bener-bener mau lo cepet sehat.”
Kamu melirik Jake yang sedang berbincang sebentar dengan perawat lain di kejauhan. “Dia... melakukan terlalu banyak buat orang asing kayak gue, Yun.”
“Mungkin buat dia, lo bukan lagi sekadar ‘orang asing’ yang hampir dia tabrak,” goda Yuna pelan, membuat pipimu yang pucat sedikit bersemu merah.
Malamnya, saat jam kunjung sudah habis dan Yuna sudah pulang, Jake datang ke kamarmu. Dia tidak membawa berkas medis, melainkan dua cup cokelat panas yang aromanya memenuhi ruangan.
Dia duduk di kursi samping ranjangmu, mematikan lampu utama dan membiarkan lampu tidur yang temaram memberikan suasana tenang.
“Hadiah karena sudah berhasil jalan sepuluh meter hari ini,” ucap Jake sambil menyodorkan cokelat itu.
Kamu menerimanya, merasakan hangatnya gelas plastik itu merambat ke tanganmu. “Terima kasih, Jake. Buat semuanya. Buat nggak biarin aku menyerah hari itu.”
Hening sejenak. Hanya ada suara mesin pendingin ruangan dan detak jam.
“Kamu tahu,” Jake memulai, suaranya terdengar lebih dalam di kesunyian malam. “Banyak orang bilang dokter itu harus jaga jarak emosional dengan pasien. Tapi melihat kamu berjuang sendirian tanpa ada satu pun keluarga yang datang... itu menggerakkan sesuatu dalam diri saya.”
Dia menatapmu, kali ini dengan tatapan yang berbeda. Bukan tatapan dokter yang sedang mendiagnosis, tapi tatapan seorang pria yang mengagumi kekuatan di depan matanya.
“Rahim yang hilang itu... itu bukan akhir dari dunia kamu, (y/n). Saya mau kamu percaya kalau suatu saat nanti, kamu akan menemukan kebahagiaan yang nggak menuntut kamu untuk menjadi ‘sempurna’. Kamu berharga hanya dengan menjadi diri kamu sendiri.”
Jake meletakkan tangannya di atas tanganmu yang berada di atas selimut. Sentuhannya hangat, memberikan rasa aman yang selama sembilan tahun ini ternyata tidak pernah benar-benar kamu dapatkan dari Sunoo.
“Besok kita coba jalan dua puluh meter?” tanyanya sambil tersenyum manis.
Kamu menatap tangannya, lalu menatap matanya. Untuk pertama kalinya, pikiran tentang masa depan tidak lagi terasa seperti jurang yang gelap. Selama ada Jake yang memegang tanganmu, kamu merasa mungkin—hanya mungkin—kamu bisa mulai mencintai dirimu lagi.
Sudah tiga minggu sejak duniamu runtuh, dan hari ini, untuk pertama kalinya, kamu tidak melihat bayangan “pasien” saat bercermin.
Pagi itu, Jake datang tidak dengan tangan hampa. Di tangannya ada sebuah paper bag dari salah satu butik ternama. Ia meletakkannya di atas ranjangmu dengan senyum tipis yang selalu berhasil membuat dadamu sedikit lebih tenang.
“Baju rumah sakit ini sudah bosan melihatmu, dan aku rasa kamu juga bosan memakainya,” ucap Jake. “Cobalah. Aku tunggu di luar. Kita akan jalan-jalan sedikit lebih jauh hari ini.”
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, kamu membuka kado itu. Di dalamnya ada sebuah dress selutut berwarna sage green dengan bahan yang sangat lembut—sengaja dipilih agar tidak menekan bekas jahitan di perutmu. Ada juga sepasang flat shoes empuk dan sebuah jepit rambut mutiara yang cantik.
Saat kamu selesai bersalin dan memoles sedikit pelembap bibir pemberian Yuna, kamu berdiri di depan cermin. Untuk pertama kalinya, kamu tidak melihat luka. Kamu melihat dirimu yang dulu—dirimu yang cantik, yang punya hak untuk dicintai.
Jake terpaku sejenak saat kamu membuka pintu kamar. Ia berdeham, mencoba menguasai diri. “Cantik. Kamu terlihat sangat... hidup, (y/n).”
Kalian berjalan perlahan menuju taman rumah sakit. Jake tidak membiarkanmu menggunakan kursi roda. Ia membiarkan lengannya menjadi sandaranmu. Bekas jahitan di perutmu sudah mulai mengering, meski sensasi kaku dan perih sesekali masih muncul, tapi udara segar yang menyentuh kulitmu terasa seperti obat yang lebih ampuh dari dosis morfin mana pun.
“Pelan-pelan saja,” bisik Jake saat kamu agak tersendek di tanjakan kecil taman. “Kita nggak lagi berlomba sama siapa pun.”
Kalian sampai di bawah pohon kenari yang rindang. Jake membantumu duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam ikan. Sinar matahari pagi menyaring lewat celah daun, jatuh tepat di wajahmu.
“Terima kasih, Jake,” gumammu sambil menyentuh kain dress yang kamu pakai. “Aku hampir lupa rasanya menjadi manusia. Aku pikir setelah rahimku diangkat, aku cuma... rongsokan.”
Jake menoleh ke arahmu, sorot matanya berubah serius. “Jangan pernah sebut dirimu seperti itu lagi. Kamu lihat bunga-bunga di taman ini? Ada yang mekar, ada yang baru dipangkas karena rusak, tapi mereka tetap bunga. Mereka tetap indah. Kamu tetap perempuan yang utuh, (y/n). Kekuatanmu buat bangun setiap pagi dengan luka sehebat itu... itu jauh lebih cantik dari apa pun yang bisa diberikan rahim atau fisik.”
Kamu terdiam, meresapi kata-katanya. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, kamu tidak merasa ingin menangis karena sedih, melainkan karena merasa divalidasi.
Jake tiba-tiba merogoh sakunya dan mengeluarkan kamera instan kecil. “Boleh aku ambil fotomu? Sebagai bukti kalau hari ini kamu berhasil menang satu langkah lagi.”
Kamu sempat ragu, namun akhirnya mengangguk. Cekrek.
Foto itu keluar, perlahan menampilkan bayanganmu yang sedang tersenyum tipis dengan latar belakang bunga matahari. Jake memberikan foto itu padamu.
“Simpan ini,” kata Jake. “Nanti, kalau kamu merasa duniamu gelap lagi, lihat foto ini. Ingat kalau ada hari di mana kamu bisa berdiri tegak, memakai baju cantik, dan bernapas tanpa rasa sesak.”
Melihat foto itu, kamu menyadari sesuatu. Perjalananmu masih panjang, lukamu belum benar-benar sembuh, dan kamu masih belum boleh pulang. Tapi duduk di sini, bersama pria yang memperlakukanmu seolah kamu adalah hal paling berharga di dunia, membuatmu sadar bahwa masa depan mungkin tidak semenakutkan itu.
Kamu tidak lagi bertanya “Kenapa aku bangun?”, melainkan mulai bertanya, “Apa yang akan Jake bawakan besok?” Dan bagimu, itu adalah awal dari kesembuhan yang sesungguhnya.
★
Tiga bulan adalah waktu yang panjang, cukup lama untuk membuat aroma rumah sakit yang tadinya terasa mencekam kini menjadi familiar. Sore itu, bangsalmu terasa lebih hidup. Yuna datang membawa “pasukan lengkap”—suaminya yang ramah dan putri kecilnya yang tidak berhenti berceloteh tentang sekolahnya.
“Beneran nggak mau, (y/n)? Kamar tamu di rumah gue nganggur, lho. Suami gue juga nggak keberatan, iya kan, Mas?” Yuna melirik suaminya yang langsung mengangguk mantap.
Kamu tersenyum, kali ini senyum itu sampai ke matamu. Kamu menggenggam tangan Yuna dengan tulus. “Makasih banyak, Yun. Tapi gue mau coba berdiri di kaki sendiri. Gue udah cari-cari kontrakan kecil dekat daycare. Aku kangen kerja, kangen anak-anak. Aku pengen mulai semuanya dari nol.”
Yuna menghela napas, tapi matanya berbinar bangga. “Dasar keras kepala. Tapi oke, gue hargai itu. Yang penting jangan pernah merasa sendiri lagi, ya?”
Setelah mereka pamit, ruangan kembali sunyi, tapi bukan sunyi yang menyakitkan. Kamu duduk di tepi ranjang, menatap pemandangan kota dari balik jendela. Kamu merenungi perjalanan tiga bulan ini. Ingatan tentang Sunoo kini terasa seperti mimpi buruk yang sudah kabur warnanya.
Pikiranmu justru dipenuhi oleh harapan orang-orang yang menarikmu dari lubang hitam. Yuna yang galak tapi penyayang, dan tentu saja... Jake. Dokter muda yang seolah melupakan jalan pulang ke rumahnya sendiri demi memastikan kamu tidak terbangun dalam ketakutan di tengah malam.
Cklek.
Pintu terbuka. Jake masuk tanpa jas putihnya, hanya kaus santai dan celana kain—penampilan “setengah warga rumah sakit” karena dia memang lebih sering menghabiskan waktu di sini daripada di apartemennya sendiri. Tangannya menenteng plastik berisi aroma nasi goreng gila yang sangat kamu kenali.
“Pasukannya Yuna sudah pulang?” tanya Jake santai. Dia berjalan mendekat dan meletakkan makanan itu di meja kecilmu.
“Baru saja,” jawabmu sambil memperhatikannya merapikan meja. “Kamu nggak capek, Jake? Kamu baru selesai operasi tadi siang, kan? Bukannya istirahat malah ke sini bawa makanan.”
Jake menarik kursi, duduk di hadapanmu dengan posisi yang sangat rileks. Dia menatapmu dengan binar mata yang lembut, tidak ada lagi sekat antara dokter dan pasien di antara kalian.
“Capeknya hilang kalau lihat kamu sudah bisa protes begini,” candanya sambil membuka bungkus makanan. “Lagipula, nasi goreng ini nggak enak kalau dimakan sendiri. Temani, ya?”
Kamu tertawa kecil. “Kamu curang. Selalu pakai alasan itu.”
Jake berhenti sejenak, menatapmu dalam-dalam. “Aku serius, (y/n). Tiga bulan ini... melihat kamu berjuang dari yang tadinya nggak mau buka mata sampai sekarang sudah bisa berencana cari rumah sendiri, itu hal paling luar biasa yang pernah aku saksikan sebagai dokter—maksudku, sebagai pria.”
Perasaan hangat menjalar di dadamu, lebih hangat dari uap nasi goreng di depanmu. “Aku nggak akan sampai di titik ini kalau kamu nggak ‘cerewet’ setiap hari, Jake.”
“Aku memang harus cerewet,” balasnya lembut. Jake meraih tanganmu yang ada di meja, menggenggamnya perlahan. Kali ini, tangannya tidak lagi mengecek denyut nadimu secara medis, melainkan hanya ingin memberikan kehangatan. “Nanti kalau sudah keluar dari sini, jangan langsung hilang, ya? Aku masih pengen jadi orang pertama yang tahu kalau kamu berhasil beli gorden baru buat rumahmu.”
Kamu menunduk, menatap tautan tangan kalian, lalu kembali menatap Jake. Ada ketulusan yang begitu nyata di sana, sesuatu yang membuatmu sadar bahwa meski rahimmu sudah tiada dan masa lalumu hancur, hidupmu yang baru terasa jauh lebih utuh.
“Janji,” bisikmu. “Aku nggak akan hilang.”
Jake tersenyum, senyum paling lega yang pernah kamu lihat. “Oke, sekarang makan. Sebelum nasinya dingin dan aku harus pakai alasan ‘medis’ buat maksa kamu makan.”
Di tengah kesunyian kamar rumah sakit yang kini terasa seperti rumah, kamu akhirnya mengerti: kehilangan satu hal besar bukan berarti duniamu berakhir, karena terkadang, kehancuran itu justru membuka pintu bagi orang-orang yang benar-benar layak untuk tinggal.
To Be Continued
JANGAS LUPA LIKE SAYANG💖





Jake aku baper jake ayo nikah sekarang aja yokk😭😭🙏🏻🙏🏻🙌🏻
YEYUNNNN DIMANA KAMU😭