jangan lupa like
Gedung korporasi keluarga Park sudah mati suri sejak empat jam lalu. Seluruh staf telah pulang, menyisakan koridor-koridor lantai tiga puluh delapan yang gelap dan sunyi, hanya diterangi lampu darurat di sudut lorong. Di dalam ruang direktur, Jay masih duduk di balik meja kerjanya. Jasnya sudah tersampir kusut di sandaran kursi, dasinya dilonggarkan sembarangan, dan dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka. Layar monitornya masih menyala, menampilkan grafik keuangan yang sama sejak pukul sebelas malam.
Dia tidak bekerja. Jay tidak bisa fokus sama sekali. Sejak kalimat terakhir Jungwon terngiang di kepalanya, rasa cemas yang mencekik terus menggerogoti dadanya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti duri. Jay sengaja memilih untuk tidak pulang ke penthouse malam ini—berusaha memberi jarak, berusaha mendinginkan kepalanya yang hampir pecah karena terus membayangkan dengan siapa kamu pergi, apakah kamu minum terlalu banyak, atau apakah pria-pria di sekitarmu memperlakukanmu dengan buruk.
Tepat pukul dua dini hari.
Brak!
Pintu ganda ruangannya terdorong terbuka dengan keras, menghantam dinding pembatas hingga menimbulkan gaung tajam yang memecah keheningan malam.
Jay tersentak dari lamunannya, matanya melebar saat melihat sosokmu berdiri di ambang pintu. Gaun pestamu berantakan, tali tas kecilmu menjuntai di lantai, dan aroma alkohol yang menyengat langsung menyapu masuk ke dalam ruangan dingin itu. Langkahmu terhuyung ke kiri dan ke kanan, menabrak rak pajangan kecil sebelum kakimu yang goyah membawamu maju ke arah meja kerjanya.
Rasa kaget Jay seketika bercampur dengan letupan amarah dan kepanikan yang jarang sekali muncul di wajahnya. Dia langsung bangkit berdiri dari kursinya, melangkah cepat memutari meja untuk menghampirimu.
“(Y/N)? Kenapa kamu bisa ke sini malam-malam begini?!” Suara Jay naik setengah nada, sarat akan kekhawatiran yang nyaris meledak menjadi kemarahan. “Kamu mabuk parah. Siapa yang bawa kamu ke sini? Sopir taksi mana yang—”
PLAK!
Suara tamparan keras memotong kalimatnya seketika. Kepala Jay terlempar ke samping. Telapak tanganmu yang dingin menghantam pipi kirinya dengan kekuatan penuh dari sisa energimu, meninggalkan rasa panas yang membakar dan tanda kemerahan yang kontras di kulit pucatnya.
Jay mematung. Udara di ruangan itu terasa membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan saat ia perlahan memutar kembali wajahnya ke arahmu. Matanya yang gelap menatapmu dengan keterkejutan yang perlahan luntur menjadi kepedihan yang teramat sunyi.
Kamu berdiri di hadapannya dengan napas memburu, air mata mulai menggenang di sudut matamu yang berkilat marah dan putus asa. Rambutmu berantakan menutupi sebagian wajahmu yang pucat. Arogansimu yang retak menuntut pelampiasan mutlak saat ini juga.
“Berani-beraninya kamu nggak pulang...” desismu tajam, suaramu serak dan bergetar karena emosi yang tak terkendali. Jarimu menunjuk tepat ke dadanya. “Siapa kamu sampai berani mengabaikan aku, Jay? Kamu pikir kamu punya hak untuk menghindar dariku?!”
Jay hanya menatapmu dalam diam, rahangnya mengeras pelan, menelan rasa sakit fisik di pipinya dan rasa perih yang jauh lebih dalam di dadanya.
“Berlutut,” perintahmu kasar, mencengkeram kerah kemejanya dan menariknya ke bawah dengan penuh amarah. “Berlutut di depanku. Sekarang.”
Jay menatap matamu yang liar dan terluka. Di bawah perintah yang begitu merendahkan itu, tidak ada sedikit pun perlawanan dari pria itu. Kesabarannya yang luar biasa—atau mungkin cintanya yang sudah terlalu buta dan merusak—sekali lagi menuntunnya pada kepatuhan total.
Perlahan, Jay menekuk kedua lututnya. Suara gesekan kain celana mahalnya dengan lantai karpet terdengar jelas saat tubuhnya turun ke bawah. Jay berlutut di atas lantai yang dingin tepat di depan kakimu, mendongakkan wajahnya agar tetap bisa menatapmu, membiarkan dirinya direndahkan dan diposisikan sepenuhnya sebagai submisif di hadapan kekacauan emosimu.
“Aku di sini, (Y/N),” bisik Jay parau, suaranya begitu tenang meski getaran napasnya tak bisa ia sembunyikan. “Aku tidak ke mana-mana.”
Ujung stiletto merah menyala yang runcing itu terangkat, menjejak tepat di atas bahu kiri Jay—pada setelan kemeja putihnya yang mahal. Kamu menekan tumit sepatu itu ke bawah dengan kejam, memaksa berat tubuhmu bertumpu di sana, mendorong bahunya hingga postur pria itu sedikit miring ke bawah di atas karpet beludru.
Rasa sakit dari ujung hak yang menekan tulang selangkanya tidak membuat Jay meringis. Pria itu tetap berlutut, membiarkan dirinya diinjak secara harfiah.
Namun, ada sesuatu yang berubah di dalam pupil matanya. Sorot mata yang biasanya dipenuhi kepatuhan hangat dan pasrah itu mendadak mendingin, membeku menjadi kehampaan yang begitu pekat hingga terasa mengerikan. Jay tidak bergerak, tetapi udara di sekitar kalian berdua terasa ditarik habis.
“Puaskan egomu, (Y/N),” bisik Jay.
Suaranya tidak berteriak, tidak membentak, melainkan meluncur sangat pelan, rendah, dan begitu tenang—sebuah ketenangan mematikan yang justru mengiris tepat di saraf paling sensitif dalam dirimu.
“Injak aku sesukamu,” lanjutnya, menatap lurus ke dalam matamu yang berkilat liar oleh alkohol dan amarah. “Karena hanya ini satu-satunya cara kamu merasa berkuasa, kan? Memperlakukanku seperti sampah, sementara kamu sendiri lari ke pelukan pria-pria murahan di luar sana hanya untuk menyadari kalau mereka semua nggak ada artinya.”
Kata-kata itu menghantam tepat di ulu hatimu, membakar arogansimu hingga mendidih.
“Tutup mulutmu, Jay!” desismu murka.
Kamu menarik kakimu dari bahunya, lalu dengan kasar mencengkeram ujung dasi sutra hitam yang menggantung di lehernya. Kamu menarik kain itu dengan kuat, memaksa Jay tersentak bangkit dari posisinya yang berlutut dan menyeretnya melangkah terhuyung menuju sofa kulit hitam panjang di sudut ruangan. Jay tidak melawan. Dia membiarkan dirinya ditarik seperti pion catur yang tak berdaya. Tubuhnya terhempas ke atas bantalan sofa saat kamu mendorong dadanya ke belakang.
“Lucuti celana dalamku,” perintahmu tajam, napasmu memburu, berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka. “Sekarang.”
Jay menatapmu selama beberapa detik dalam hening yang mencekam. Rahangnya mengeras, otot-otot di rahangnya menegang kaku, tetapi tangannya yang besar tetap terangkat patuh. Jemarinya yang dingin menyusup ke balik belahan gaun satinmu, menemukan kain renda tipis yang sudah lembap oleh panas tubuhmu sendiri. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Jay menarik kain itu turun melewati kedua kakimu yang jenjang, menanggalkannya sepenuhnya dan membiarkannya jatuh ke lantai karpet.
Sebelum Jay sempat menarik tangannya kembali, kamu menyambar dasi sutra yang tadi kamu lepas dari lehernya. Kamu meraih kedua pergelangan tangan Jay, menyatukannya di depan dadanya, lalu melilitkan kain sutra itu kuat-kuat—mengikat tangannya sendiri di hadapannya.
“Kamu pikir kamu siapa bisa bicara begitu padaku?” bisikmu bergetar, emosi dan gairah bercampur menjadi badai yang tak terkendali di kepalamu. “Kamu bukan siapa-siapa di sini, Jay. Kamu cuma milikku untuk kuhancurkan.”
“Lakukan kalau itu bisa membuatmu berhenti menangis,” sahut Jay parau, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, membiarkan kedua tangannya yang terikat pasrah di atas dadanya. Egomu yang terluka menuntut pelampiasan yang lebih brutal. Kamu melangkah naik ke atas sofa, menempatkan kedua lututmu di sisi kiri dan kanan kepalanya, lalu memajukan pinggulmu ke depan—menekan bagian intimu yang basah dan panas tepat di depan bibir dan hidungnya.
“Jilat,” perintahmu dengan suara serak yang putus-putus. Jemarimu mencengkeram rambut hitamnya yang tebal, menariknya sedikit ke belakang agar ia tidak bisa berpaling. “Bersihkan semuanya, Jay. Jangan berani-berani berhenti sampai aku bilang selesai.”
Napas hangat Jay berhembus mengenai kulit sensitifmu yang terbuka, membuat sekujur tubuhmu tersentak oleh sensasi panas yang langsung merambat ke tulang belakang. Jay memejamkan matanya sesaat, menelan ludah yang terasa berat di tenggorokannya, sebelum akhirnya ia membuka mulut. Ujung lidahnya yang basah dan panas menyapu lipatan sensitifmu dalam satu sapuan panjang dari bawah ke atas.
“Ah—!” Desahan tajam lolos dari bibirmu seketika.
Jay tidak sekadar patuh padamu, setiap gerakannya diatur dengan intensitas yang menyiksa. Lidahnya menjelajah dengan ritme yang dalam, menekan tepat pada titik paling sensitif yang membuat lututmu gemetar hebat di atas sofa. Dia menggunakan bibir dan lidahnya untuk meminum seluruh cairan gairahmu yang mengalir, menghisap perlahan sebelum kembali membasahinya dengan sapuan-sapuan kasar yang menuntut.
Kamu mencengkeram rambutnya semakin erat, membenamkan wajah pria itu lebih dalam ke intimu saat tubuhmu mulai meliuk tak terkendali di atasnya. “Jay... ah, sialan...” rintihmu di antara isak tangis yang kembali pecah.
Di bawah kendalimu yang mutlak, dengan kedua tangan yang terikat di dada, Jay terus memanjakanmu dalam kebisuan yang penuh dosa. Matanya yang gelap sesekali terbuka di balik helaian rambut yang kamu tarik, menatap bagaimana tubuhmu hancur dalam gelombang kenikmatan yang ia berikan—sebuah kontradiksi menyakitkan di mana kamu merasa memegang seluruh kendali, padahal setiap sentuhan lidahnya membuktikan betapa kamu sepenuhnya bergantung pada pria yang selalu kamu injak-injak ini.
Napas Jay semakin berat dan panas, mengembus langsung ke kulit intimu yang sensitif dan basah kuyup. Sentuhan lidahnya yang awalnya teratur kini berubah ritme—lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh intensitas yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan akal sehatmu.
Bibirnya mengatup rapat di sekitar titik paling sensitifmu, menghisapnya kuat-kuat dalam gerakan berulang yang begitu terampil hingga membuat panggulmu menyentak ke depan tanpa sadar. Sensasi hisapan yang basah dan panas itu mengirimkan sengatan listrik langsung ke pangkal tulang belakangmu, merenggut seluruh udara dari paru-parumu.
“Jay—ah!“
Jeritan tertahan lolos dari bibirmu yang bergetar. Kedua tanganmu mencengkeram helaian rambut tebal Jay semakin erat, kuku-kukumu menekan kulit kepalanya, menenggelamkan wajah pria itu semakin dalam ke intimu. Bukannya mendorongnya menjauh saat kenikmatan itu mulai terasa terlalu menyengat, kamu justru memaksanya tetap di sana, mengurungnya di antara kedua pahamu yang bergetar hebat.
Jay tidak menolak sedikit pun. Di balik pergelangan tangannya yang terikat erat oleh dasi sutra di depan dadanya, ia menggunakan setiap inci keahlian bibir dan lidahnya untuk menuntunmu ke tepi jurang. Lidahnya membelah dan menyapu setiap lipatan dengan sapuan lebar yang kasar namun memabukkan, disusul hisapan kuat yang membuat dinding intimu berdenyut-denyut putus asa.
“Lebih... Jay, fuck... terus di situ...” bisikmu parau, memohon dan memerintah secara bersamaan di antara desahan yang putus-putus.
Mendengar suaramu yang pecah oleh gairah murni, gerakan lidah Jay semakin tak kenal ampun. Ia mempercepat ritme hisapannya, bibirnya menekan rapat sementara ujung lidahnya mengetuk dan memutar tepat di titik pusat kenikmatanmu tanpa jeda semenit pun. Suara basah yang tercipta dari perpaduan cairan gairahmu dan mulutnya bergema pekat di sudut ruang kerja yang temaram.
Gelombang itu datang begitu cepat dan menghancurkan. Otot-otot di bagian bawah tubuhmu menegang kaku seketika. Seluruh tubuhmu tersentak hebat saat pelepasan pertama menghantammu seperti badai. Cairan gairah yang panas menyembur deras dari intimu, membasahi bibir, dagu, hingga sebagian pipi Jay yang terpahat tegas.
“Jay—! Ah... ah!“
Tubuhmu melengkung, getaran dahsyat merambat dari ujung jari kaki hingga ke puncak kepala. Pinggulmu bergerak tak terkendali, menekan wajah rupawan pria itu sekuat tenaga ke intimu saat gelombang orgasme terus memeras tubuhmu habis-habisan.
Bahkan saat kamu terengah-engah dan menangis dalam puncak ekstasi itu, Jay tidak berhenti. Dengan kepatuhan yang luar biasa dan tanpa rasa jijik sedikit pun, ia membuka mulutnya lebih lebar. Lidahnya bergerak menyapu cairan pekat yang membasahi wajahnya sendiri dan intimu, menjilat setiap tetes yang tersisa hingga bersih. Sapuan-sapuan terakhirnya lambat dan penuh kelembapan, menenangkan denyutan intimu yang masih berkedut hebat akibat klimaks yang baru saja kamu lalui.
Ketika kamu akhirnya kehabisan tenaga dan melorot turun ke bantalan sofa, Jay mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya berkilat basah oleh jejak kenikmatanmu, rambutnya berantakan di dahi, dan di balik dasi yang mengikat tangannya, tatapan matanya yang gelap menatapmu lurus-lurus, tatapan yang menelanjangimu sepenuhnya, memperlihatkan betapa kamu baru saja hancur berkeping-keping di bawah pelayanannya.
Napasmu masih terengah-engah dan paha bagian dalammu masih gemetar hebat akibat orgasme yang baru saja meremukkan seluruh tubuhmu. Namun, melihat Jay yang duduk bersandar dengan wajah basah berkilat dan tatapan mata yang tetap tenang di bawah kendalimu justru memicu api lain di kepalamu. Egomu menolak untuk merasa rapuh. Kamu ingin melihat pria sempurna dan terkontrol ini kehilangan seluruh akal sehatnya, memohon di bawah kakimu, dan sepenuhnya tersiksa oleh batas yang kamu ciptakan.
Dengan gerakan lambat yang sengaja kamu buat arogan, kamu merangkak turun dari sandaran sofa, berlutut di antara kedua kaki Jay yang terbuka lebar.
Tanganmu yang dingin menyusup ke gesper ikat pinggang celana kain mahalnya, membukanya dengan bunyi denting logam yang tajam di ruangan hening itu. Kamu menarik resletingnya turun, lalu merobek kain pakaian dalamnya ke bawah tanpa kelembutan sedikit pun.
Milik Jay seketika terbebas ke udara dingin ruangan. Ukurannya yang tebal, panjang, dan berurat tegas berkedut kuat, menegang sepenuhnya hingga ke pangkal. Ujungnya yang merah gelap sudah meneteskan cairan bening tanda betapa tersiksanya tubuh pria itu menahan gairah sejak tadi. Pemandangan kejantanannya yang selalu mengintimidasi ini selalu berhasil membuat tenggorokanmu kering dan jantungmu berdegup dua kali lebih cepat, tetapi kamu menolak membiarkan Jay melihat pengaruh itu padamu.
Kamu menatap wajahnya, mengangkat dagumu angkuh seraya mencengkeram pangkal kejantanannya yang panas membakar.
“Aturan malam ini masih sama, Jay,” bisikmu tajam, suaramu serak dan penuh racun. Kamu meremas batangnya sedikit lebih kuat, merasakan bagaimana otot di bawah kulitnya berdenyut keras merespons sentuhanmu. “Kamu nggak boleh keluar. Sedikit pun. Sampai aku yang izinkan.”
Rahang Jay mengetat. Urat di lehernya mencuat saat napasnya tertahan di dada. Kedua tangannya yang masih terikat erat oleh dasi sutra di depan dada mengepal kuat, kuku-kukunya memutih.
“Iya,” bisik Jay parau, suaranya bergetar hebat menahan godaan rasa sakit dan kenikmatan yang membakar. “Terserah kamu, (Y/N).”
Senyum sinis tersungging di bibirmu. Kamu mulai menggerakkan telapak tanganmu naik dan turun di sepanjang batangnya yang keras seperti batu, membalurkan cairan bening dari ujungnya ke seluruh permukaan kulitnya yang panas. Gesekan kulit ke kulit itu menghasilkan suara basah yang lambat dan menyiksa.
Tidak puas hanya dengan tangan, kamu memajukan wajahmu. Kamu menjulurkan lidah, menjilat tetesan cairan di ujung kepalanya dengan satu sapuan lambat yang membuat pinggul Jay menyentak kecil tanpa sadar di bantalan sofa.
“Ah...” Jay mendesis rendah, memejamkan mata rapat-rapat saat kepalanya terlempar ke sandaran sofa.
“Lihat aku,” perintahmu dingin, menolak memberinya ruang untuk bersembunyi dalam kegelapan pikirannya sendiri.
Jay membuka kelopak matanya yang berat, menatapmu dari atas dengan mata sayu yang dipenuhi rasa lapar yang tertahan dan kepasrahan yang menyakitkan. Di bawah tatapannya yang terkunci, kamu membuka mulutmu lebar-lebar dan menelan kepalanya yang tebal ke dalam kehangatan rongga mulutmu. Sensasi panas dan basah itu seketika menelan miliknya hingga separuh panjangnya. Tenggorokanmu meregang, namun kamu sengaja menghisapnya kuat-kuat seraya memutar lidahmu di sekitar lekukan paling sensitifnya.
“Ssshh... fuck...” Jay mengumpat tertahan di balik giginya yang mengatup rapat. Otot perutnya berkontraksi keras, membentuk garis-garis tegas yang bergetar hebat di balik kemeja putihnya yang kusut.
Kamu menenggelamkan mulutmu lebih dalam, lalu menariknya keluar perlahan hingga hanya menyisakan ujungnya di bibirmu, sebelum kembali menelannya dengan ritme yang sengaja kamu buat tidak beraturan—kadang lambat dan menghisap kuat, kadang cepat dan menuntut, dipadukan dengan cengkeraman tanganmu di pangkalnya yang terus memompa tanpa ampun.
Setiap kali kamu merasakan batangnya berkedut lebih keras tanda bahwa dia sudah berada di ambang batas jurang pelepasan, kamu langsung melepaskan mulutmu dari miliknya dan meremas pangkal batangnya dengan tekanan kuat yang menyakitkan, memotong puncak kenikmatannya secara paksa.
Napas Jay tercekat, dada bidangnya naik turun dengan liar, tersiksa oleh edging brutal yang kamu berikan berulang kali. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan lehernya yang terbuka.
“(Y/N)... kumohon...” bisik Jay parau, suaranya pecah menjadi permohonan pertama yang lolos dari bibirnya malam itu. Matanya menatapmu dengan keputusasaan yang begitu jelas dan liar, tersiksa di antara kepatuhan mutlak dan dorongan biologis yang nyaris membakar habis kesadarannya.
Melihat pria yang selalu dingin dan tenang ini akhirnya memohon di bawah kendalimu membuat rasa puas yang gelap merebak di dadamu. Kamu mengusap cairan di sudut bibirmu dengan punggung tangan, menatapnya dengan tatapan meremehkan yang penuh kemenangan.
“Memohon untuk apa, Jay?” bisikmu kejam, kembali menempelkan bibirmu ke ujung kejantanannya yang berdenyut putus asa. “Aku belum selesai bermain denganmu.”
to be continued





Baru kali ini baca karya kak mici dibikin naik darah terus dr chap 1 smp chap skrg🤯
Suka ni kek gini, gereget anjirr lah