29 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa like sampe tembus 100 lebih
Gong perbincangan formal di aula utama akhirnya teredam oleh pengumuman protokoler yang menggema melalui pengeras suara Istana. Seluruh tamu undangan kehormatan diinstruksikan untuk segera kembali menempati kursi di tribun kehormatan guna mengikuti jalannya Upacara Penurunan Sang Merah Putih. Pertemuan maut yang mencekik itu terpaksa disudahi. Jay memberikan penghormatan militer terakhir yang luar biasa presisi kepada Ayahmu, mengangguk kaku pada Ibumu, dan sengaja melemparkan satu tatapan lurus yang sedingin es kutub ke arah manik matamu sebelum berbalik arah, membelah kerumunan dengan langkah tegapnya yang berwibawa.
Begitu siluet tubuh kekar itu menghilang di balik pintu aula, pasokan oksigen di sekitarmu seolah baru dikembalikan. Kamu mengembuskan napas pendek yang gemetar, merasakan seluruh permukaan punggungmu sudah basah kuyup oleh keringat dingin yang menembus lapisan dalam kain kebayamu.
Selama berjalan menuju tribun, jemarimu bergerak gila di bawah lipatan selendang, mengetik baris demi baris kalimat di aplikasi WhatsApp pada ponselmu.
βBang Jay, demi Allah aku minta maaf. Aku nggak bermaksud bohongin Abang selama dua tahun ini. Aku cuma takut... aku takut kalau Abang tahu aku anak polisi, Abang bakal jauhin aku atau masalahnya jadi panjang karena jabatan Ayah.β
βAbang, tolong balas. Jangan diam kayak gini, aku takut banget. Aku hampir nangis di tribun, Bang. Tolong jangan marahin aku atau apa-apain keluargaku, ini murni salahku yang nggak jujur dari awal.β
βBang Jay, please... Angkat teleponku nanti malam kalau sudah selesai tugas. Aku mohon, Bang...β
Spam pesan panjang lebar yang sarat akan kepanikan, air mata yang tertahan di pelupuk mata, dan permohonan maaf yang merendah itu hanya berakhir dengan centang satu gray, yang beberapa menit kemudian berubah menjadi centang dua namun sama sekali tidak biru. Pria itu sengaja mengabaikanmu mutlak. Jay tahu persis bagaimana cara menghancurkan mentalmu tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun: dengan keheningan yang menyiksa.
Di lapangan istana, Jay sudah kembali berdiri di tengah lapangan upacara sebagai Komandan Upacara Penurunan Bendera. Dari jarak puluhan meter di atas tribun, kamu bisa melihat tubuh tegapnya berdiri kokoh bak patung perunggu di bawah sorot lampu sorot stadium dan senja Jakarta yang mulai menggelap.
Suara baritonnya yang menggelegar saat memberikan komando kepada pasukan kehormatan terdengar begitu lantang, bergaung membelah langit Istana, memicu tepuk tangan magis dari para pejabat di sekitarmu. Namun bagimu, setiap gema suara Jay adalah ketukan vonis mati yang siap menghancurkan sangkar emas tempatmu bernaung selama ini. Dia sedang fokus penuh pada tugas kenegaraan tingkat tinggi, menaruh eksistensimu di titik paling bawah dari skala prioritasnya, sengaja membiarkanmu menderita dalam ketidakpastian di atas kursi tribun yang mewah.
Begitu ritem upacara selesai dan lagu Andhika Bhayangkari terakhir dikumandangkan, para hadirin mulai membubarkan diri secara perlahan. Kepalamu terasa pening luar biasa, berdenyut-denyut akibat tekanan psikologis yang bertubi-tubi sejak siang. Satu-satunya hal yang ada di dalam benakmu saat ini adalah: kamu ingin cepat-cepat pulang ke rumah dinas di Malang, mengunci diri di kamar, dan menangis sejadi-jadinya sampai Jay mau mengangkat teleponmu.
βIbu, Ayah... Aku izin ke toilet sebentar ya sebelum kita ke parkiran mobil. Perutku mendadak agak kram,β pamitmu dengan wajah yang sudah sepucat kertas, tidak berbohong karena rasa stres ini benar-benar memicu asam lambungmu naik.
βIya, Nak. Jangan lama-lama ya, Ayah tunggu di dekat koridor utama,β jawab Ayahmu lembut.
Kamu berjalan setengah tersuruk menuju deretan toilet VIP di area sayap kanan Istana. Setelah membasuh wajahmu dengan air dingin di depan wastafel dan mencoba menata kembali napasmu yang memburu, kamu mendorong pintu kayu toilet untuk keluar.
Namun, tepat saat kamu melangkah keluar ke arah koridor sunyi yang beralaskan karpet beludru merah, sosok wanita tegap berambut pendek dengan seragam Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) yang rapi sedang berjalan berlawanan arah, bersiap untuk masuk.
Langkah kaki kalian berdua seketika terkunci di atas karpet.
βLoh... Kamu?β
Suara itu terdengar sangat familier. Letnan Ryujin berdiri mematung, sepasang mata tegasnya yang biasa menatap dokumen intelijen kini melebar sempurna karena rasa terkejut yang amat sangat. Tatapannya terpaku pada wajahmu, lalu turun memperhatikan kebaya mewah lambang keluarga perwira tinggi yang melekat di tubuhmu, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke dalam manik matamu.
Jantungmu rasanya benar-benar mau copot dari rongga dada. Jika di posisi ini ada tombol untuk menghilang dari muka bumi, kamu akan menekannya tanpa ragu. Kamu gemetar setengah mati, bingung dan linglung bagaimana harus menjelaskan situasi gila ini kepada kakak tingkat yang selama dua tahun ini menjadi tempat bersandar rahasiamu di ruang digital.
Selama dua tahun terakhir, pasca-insiden apotek militer itu, kalian berdua memang saling menyimpan nomor WhatsApp. Hubungan kalian sangat manis dan sehat, Ryujin sesekali mengomentari status WhatsApp-mu tentang keluhan tugas kuliah Hukum, dan kamu pun sering memuji foto-foto kedinasannya yang keren. Ryujin adalah sosok kakak perempuan yang tegas namun sangat penyayang.
Kalian bahkan beberapa kali saling curhat masalah asmara lewat obrolan teks-tentang bagaimana Ryujin yang pening menghadapi ego para perwira pria di markas besar, dan tentang kamu yang sering menangis karena terjebak dalam hubungan dengan βpria dewasa yang posesif dan beringasβ. Namun, karena komitmen privasi dan kode etik implisit, kalian berdua tidak pernah sekalipun mengungkapkan nama atau identitas asli pria yang dimaksud ke dalam ruang obrolan.
Dan sore ini, tabir itu robek tanpa ampun.
βK-Kak Ryujin...β bisikmu parau, suaramu nyaris hilang di tenggorokan. βAku... aku diundang sama keluarga di sini. Ayahku... Brigadir Jenderal...β
Ryujin menarik napas dalam, mencoba mencerna pasokan informasi yang mendadak menghantam logikanya seperti ombak besar. Matanya bergerak dinamis, menghubungkan titik-titik memori kelam dua tahun lalu dengan realitas di hadapannya sekarang.
Gadis remaja usia 16 tahun yang dulu berdiri gemetar, ketakutan, dan menangis di depan etalase apotek 24 jam dengan sisa cairan beringas seorang pria di dalam tubuhnya... gadis yang ia belikan obat kontrasepsi darurat Postinor agar masa depannya tidak hancur berantakan... ternyata adalah putri kandung dari seorang Jenderal Polisi bintang satu yang dihormati di jajaran petinggi hukum nasional.
βKamu... anak Brigjen Jaehyun?β Ryujin bergumam lirih, nada suaranya berubah dari syok menjadi sebuah getaran emosi yang sulit diartikan. Ada rasa tidak percaya, rasa kasihan yang mendalam, sekaligus kemarahan tersembunyi yang mendadak berkilat di matanya.
Ryujin maju satu langkah, memperkecil jarak di antara kalian di koridor toilet yang sepi itu. Ia menatap kebayamu, lalu menatap gurat ketakutan yang begitu kentara di wajah mudamu. Sebagai seorang wanita dewasa dan perwira taktis, Ryujin tahu persis: jika anak seorang Jenderal sampai harus membeli obat seperti itu secara sembunyi-sembunyi di masa sekolahnya, maka pria dewasa yang menjebaknya... pasti memiliki kuasa yang jauh lebih mengerikan hingga mampu membungkam mulut gadis sekecil ini.
βJadi selama ini... pria posesif yang sering kamu ceritakan di chat itu... pria yang bikin kamu nangis semalaman itu...β Ryujin menggantung kalimatnya, matanya menyipit tajam menembus langsung ke dalam pertahanan batinmu yang rapuh. βDia tahu siapa Ayahmu, (y/n)?β
Kamu hanya bisa menggeleng lemah dengan air mata yang akhirnya lolos membasahi meronamu, benar-benar ingin menangis sejadi-jadinya karena merasa sudut-sudut takdir sedang menjepitmu dari segala arah tanpa memberi ruang untuk bernapas.
Tanpa aba-aba, tanpa penjelasan, dan tanpa memedulikan maskara yang mulai luntur merusak riasan wajahmu, seluruh pertahanan batinmu runtuh total. Kamu melangkah maju dan langsung menjatuhkan tubuhmu ke dalam pelukan Kapten Ryujin, memeluk tubuh tegap berbalut seragam perwira itu dengan sangat erat. Bahumu terguncang hebat, dan tangis yang sejak siang kamu tahan di balik bilik toilet akhirnya pecah menjadpipii isakan yang menyeditkan di atas pundaknya.
Kamu menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa ketakutan, kepanikan, dan rasa sesak yang mencekik lehermu semenjak tatapan mata Jay mengunci pergerakanmu di aula tadi. Kamu bener-bener ketakutan.
Ryujin sempat tertegun selama beberapa detik, kedua tangannya menggantung di udara karena syok mendapat serangan emosional yang begitu mendadak dari anak jenderal di hadapannya. Namun, insting pelindung seorang kakak perempuan di dalam dirinya segera mengambil alih. Ryujin tidak melontarkan satu pun pertanyaan interogatif yang mendesak. Dia tidak memaksamu untuk langsung bercerita, tidak juga meminta kejelasan mengapa kamu bisa se-hancur ini di tengah pesta kemerdekaan negara.
Ryujin paham, posisimu saat ini teramat sulit. Melihat kebaya mewah yang kamu kenakan dan bagaimana ketakutan itu masih sama persis dengan gurat kepanikan di apotek dua tahun lalu, Ryujin tahu kamu sedang terjebak di dalam labirin rahasia yang taruhannya adalah kehormatan keluargamu sendiri.
Dengan lembut, tangan kanan Ryujin naik, mengusap punggung kebayamu dengan gerakan konstan yang menenangkan, sementara tangan kirinya mendekap kepala sanggulmu agar wajah sembapmu tersembunyi di dada seragamnya.
βSsh... Udah, nggak apa-apa. Nangis aja dulu, keluarin semuanya,β bisik Ryujin lembut, suaranya yang biasa terdengar tegas di markas besar kini melunak, menjadi tameng pelindung sementara untukmu di koridor toilet VIP yang sepi itu. βKakak ada di sini, (y/n). Kamu aman.β
Di dalam dekapan hangatnya, kamu terus menggelengkan kepala, menyembunyikan wajahmu yang basah oleh air mata dan keringat dingin. Kamu mengunci mulutmu rapat-rapat. Di tengah isak tangismu, kamu memilih untuk tetap menyembunyikan identitas pacarmu. Kamu sama sekali tidak berani bilang kalau pria dewasa, pria posesif yang telah menodaimu dan membuatmu bertingkah seperti cewek gila selama dua tahun ini, juga ada di tempat yang sama sore ini-bahkan baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Komandan Upacara tertinggi, Laksamana Pertama Jay.
Kamu terlalu takut jika Ryujin sampai tahu bahwa pria beringas yang dia benci di dalam cerita curhatmu adalah atasan militernya sendiri, maka badai kehancuran itu akan meluas dan menghabisi semua orang, termasuk karier Ryujin atau keselamatan nyawa Jay di tangan pasukan Ayahmu.
Sementara itu, jam taktis di pergelangan tangan Ryujin terus berdetik. Di balik sikap tenangnya menenangkanmu, isi kepala Ryujin sebenarnya sedang berkejaran dengan waktu. Sesuai dengan jadwal protokoler pasca-upacara penurunan bendera, Ryujin sebetulnya harus segera bergegas menuju ruang transit perwira di sayap barat Istana. Dia memegang dokumen intelijen akhir dan berkewajiban untuk memberikan laporan resmi, sekaligus memberikan ucapan selamat dan apresiasi secara personal kepada Laksamana Jay atas kesuksesan besar upacara hari ini.
Jay pasti sudah menunggunya di sana dengan rokok atau segelas kopi hitam, siap mengevaluasi hasil kerja hari ini dengan ketat. Namun, melihat tubuh ringkihmu yang terus gemetar hebat di dalam pelukannya, langkah kaki sang Letnan itu tertahan sepenuhnya. Ryujin memilih untuk mengabaikan sejenak panggilan dinas atasannya. Baginya saat ini, menyelamatkan waras dari adik perempuan yang pernah ia tolong dua tahun lalu jauh lebih penting daripada sekadar menyerahkan lembaran kertas laporan di depan meja sang Laksamana.
βKakak temenin kamu sampai tenang, ya? Habis itu kamu harus balik ke Ayah dan Ibumu dengan muka tegap. Jangan biarkan orang-orang di luar sana lihat anak seorang jenderal keluar dari toilet dengan muka nangis kayak gini,β bisik Ryujin lagi, mempererat dekapannya, terus memberikan ketenangan tanpa tahu bahwa pria yang sedang menunggunya di ruang seberang adalah monster yang sama yang sedang kamu tangisi dalam diam.
Pelukan Ryujin perlahan merenggang, namun kedua telapak tangannya yang hangat masih bertengger kokoh di kedua pundak kebayamu, menahan tubuhmu agar tidak limbung. Wanita perwira itu menundukkan wajah, mencoba membaca binar matamu yang masih basah dan memerah.
βUdah agak enakan? Napasnya diatur dulu, (y/n),β bisik Ryujin, suaranya terdengar begitu protektif.
Kamu hanya bisa menggeleng lemah. Demi Tuhan, di dalam lubuk hatimu yang paling dalam, kamu sama sekali tidak mau ditinggalkan sendirian sekarang. Rasa tertekan yang menghantam dadamu begitu kuat hingga rasanya seluruh pasokan udara di koridor Istana ini habis. Ada dorongan gila di dalam dirimu yang ingin menumpahkan segalanya detik ini juga, ingin berteriak di depan wajah Ryujin bahwa pria yang menghancurkan masa remajamu, pria yang membuatnya harus membelikan Postinor dua tahun lalu, adalah pria yang sama yang kini sedang menunggunya di ruang perwira.
Namun, sisa logikamu langsung menampar kesadaranmu. Jika kamu jujur sekarang, posisimu akan jauh makin sulit. Badai itu tidak hanya akan menggulung dirimu dan Jay, tapi juga akan menyeret kehormatan institusi Ayahmu dan menghancurkan karier militer Ryujin yang berada di bawah komando langsung sang Laksamana. Kamu memilih membisu, menelan kembali kebenaran itu hingga terasa pahit di lidah.
Melihat gurat kepanikanmu yang belum mereda, Ryujin mengembuskan napas panjang. Ia melirik jam tangannya yang sudah lewat beberapa menit dari jadwal laporan. βYa sudah, Kakak nggak akan tinggalin kamu di sini sendirian. Ayo, Kakak anterin kamu sampai koridor depan tempat Ayahmu menunggu. Tapi setelah itu Kakak harus segera menghadap Laksamana Jay, dokumen ini harus diserahkan sore ini juga.β
Kamu hanya bisa pasrah dan mengangguk kaku. Kalian berdua mulai melangkah beriringan membelah koridor yang remang. Jantungmu berdegup kencang, berdoa di dalam hati agar perjalanan singkat menuju pelataran depan ini berjalan lancar tanpa hambatan.
Namun, takdir sore itu tampaknya benar-benar sedang ingin menguliti warasmu sampai habis.
Tepat saat kalian berbelok di persimpangan koridor yang berbatasan langsung dengan taman dalam, siluet tinggi tegap dengan seragam PDU putih itu mendadak muncul dari arah berlawanan. Langkah kakimu seketika terkunci di atas lantai marmer. Tubuhmu gemetar hebat saat menyadari siapa yang berjalan sendirian di sana.
Laksamana Pertama Jay.
Pria itu berjalan perlahan, melangkah dengan aura beringas yang kentara meski suasana di sekitarnya sepi. Topi pet perwiranya sudah dilepas dan didekap erat di ampitan lengan kirinya, menampilkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan namun justru menambah kesan intimidatif. Tangan kanannya sedang menempelkan sebuah ponsel hitam ke telinga, raut wajah tampannya tampak luar biasa tegang dan dingin, dengan alis yang bertaut rapat seolah sedang mengutuk seseorang di seberang saluran.
βAngkat... Sialan, di mana kamu sebenarnya?β Kamu bisa mendengar gumaman rendah yang keluar dari bibir tipis Jay saat jarak kalian mengikis menjadi beberapa meter. Suara baritonnya yang serak terdengar begitu bising di koridor yang sunyi ini.
Secara refleks, tanganmu yang bersembunyi di balik lipatan selendang kebaya bergerak meraba tas tangan. Kamu membuka sedikit kancingnya dan melirik layar ponselmu yang sejak siang tadi sengaja kamu atur dalam mode hening (silent) total agar tidak memicu kecurigaan Ayahmu.
Layar ponselmu menyala terang di dalam remang tas. Di sana, sebuah notifikasi panggilan masuk berwarna merah berkedip tanpa suara.
Abang Jayπ Calling...
Darahmu rasanya langsung berdesir dingin ke seluruh tubuh. Tebakanmu seratus persen benar. Pria yang sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah menahan amarah di depan sana, pria yang sedang mengutuk di telepon itu, ternyata sedang mencoba menghubungi nomor rahasiamu. Jay sengaja mengabaikan ratusan spam chat permohonan maafmu sejak sore tadi, hanya untuk memberikan serangan balik psikologis berupa panggilan telepon tak terduga yang ia tahu pasti akan membuatmu gila ketakutan jika tidak diangkat.
Dengan gerakan panik yang terburu-buru, kamu langsung menyembunyikan kembali ponselmu ke dasar tas, mengancingnya rapat-rapat seolah benda pipih itu adalah sebuah bom waktu yang siap meledak.
βSiap, Laksamana!β
Suara lantang Ryujin yang mendadak memberikan penghormatan militer di sebelahmu seketika memecah keheningan. Ryujin yang sama sekali tidak tahu apa-apa, justru berinisiatif mengajakmu untuk melangkah maju, menghampiri sang Komandan Upacara yang memang sedang ia cari sejak tadi.
Jay menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah di hadapan kalian. Pria itu menurunkan ponselnya dari telinga dengan gerakan lambat yang taktis, lalu memasukkannya ke dalam saku celana seragam putihnya. Mata elangnya yang tajam melirik Ryujin sekilas, memberikan anggukan kepala pendek sebagai balasan hormat, sebelum akhirnya... sepasang manik mata yang pekat dan mematikan itu bergeser, mengunci penuh seluruh pergerakan tubuhmu.
Tatapan mata Jay sore itu begitu menusuk, sedingin es namun sarat akan kilat kemarahan tersembunyi yang membuat bulu kudukmu meremang hebat. Dia tahu kamu sengaja tidak mengangkat teleponnya. Dia tahu kamu sedang berdiri ketakutan di sana, berlindung di balik punggung bawahannya sendiri.
βLaporan dokumen intelijen akhir dan evaluasi pengamanan ring dalam sudah siap, Laksamana. Saya berniat menyerahkannya di ruang transit perwira, namun kebetulan bertemu Anda di sini setelah mengantarkan putri dari Jenderal Kepolisian,β ucap Ryujin dengan nada tegas dan profesional, sama sekali tidak menyadari badai tak kasat mata yang sedang bergemuruh hebat di antara atasannya dan gadis di sebelahnya.
Jay tidak langsung merespons ucapan Ryujin. Pria itu sengaja membiarkan keheningan yang mencekik berlangsung selama beberapa detik, membiarkan auranya mendominasi atmosfer koridor sepi itu. Setelah dirasa mentalmu sudah cukup tertekan, Jay akhirnya kembali membuka suara beratnya.
βSimpan dulu dokumen itu, Letnan Ryujin. Kembali saja ke rombongan utamamu di depan,β perintah Jay, intonasi suaranya terdengar datar namun mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.
Ryujin sedikit mengernyitkan dahi, melirik ke arahmu yang berdiri dengan wajah sepucat mayat di sampingnya. Sebagai kakak yang baik, Ryujin merasa tidak tega meninggalkanmu dalam keadaan tertekan seperti ini. βMohon izin, Laksamana. Saya berjanji pada keluarganya untuk mengantarkan Nona (y/n) sampai ke koridor depan tempat Ayahnya menunggu. Kondisinya sedang agak kurang sehat sore ini, biar saya selesaikan tugas ini dulu.β Ryujin sengaja membuat alasan agar dia bisa mengantarkanmu dengan aman.
Mendengar penolakan halus dari Ryujin, rahang tegas Jay tampak mengeras. Sudut bibirnya berkedut tipis, menampilkan seringai gelap yang amat sangat tipis yang hanya ditujukan untuk menguliti mentalmu.
βTidak perlu, Letnan,β potong Jay, suaranya kini turun satu oktav, terdengar jauh lebih dingin dan sarat akan penekanan yang menuntut kepatuhan militer. βSaya ada urusan kedinasan mendesak yang harus dibahas bersama Brigjen Jaehyun sore ini terkait plot ring luar. Kebetulan rute saya searah ke pelataran depan. Biar saya yang membawa putri Jenderal kembali ke rombongannya.β
Alasan kedinasan yang meluncur mulus dari bibir Jay terdengar begitu logis dan terhormat di telinga Ryujin. Namun bagimu, kalimat itu adalah vonis mati. Kamu tahu persis itu hanya alasan busuk agar Jay bisa membawamu pergi, memisahkanmu dari pelindungmu, dan mendapatkan kesempatan maut untuk menginterogasi serta menghabisimu berdua saja di sudut Istana yang sepi.
Ryujin sempat terdiam, batinnya bergolak ragu. Ia menatapmu sekali lagi, seolah meminta persetujuan lewat tatapan mata. Kamu ingin sekali berteriak, βKak Ryujin, tolong jangan tinggalin aku! Jangan biarin orang ini bawa aku!β Namun, tenggorokanmu seolah terkunci rapat oleh rasa takut yang luar biasa pada kuasa Jay.
βIni perintah, Letnan Ryujin. Kembali ke posmu sekarang,β tegur Jay sekali lagi, kali ini dengan nada bariton yang begitu tajam dan mengintimidasi, mutlak menggunakan pangkat bintang satunya untuk membungkam segala argumen.
Mendapat teguran keras yang tidak bisa diganggu gugat itu, Ryujin akhirnya tidak punya pilihan lain. Sebagai seorang prajurit, kepatuhan pada atasan adalah hukum tertinggi. Ia menegakkan tubuhnya, memberikan hormat militer terakhir yang kaku kepada Jay.
βSiap, dimengerti, Laksamana. Mohon izin undur diri,β ucap Ryujin patuh. Sebelum berbalik arah, Ryujin sempat meremas pelan jemari tanganmu yang sedingin es, berbisik lirih yang hanya bisa didengar olehmu, βNggak apa-apa, ya... Kamu aman sama Laksamana Jay. Beliau perwira yang bertanggung jawab.β
Kamu hanya bisa menatap punggung Ryujin yang mulai melangkah menjauh, berjalan meninggalkanmu sendirian di koridor remang itu. Rasa putus asa yang teramat sangat seketika merayap naik memenuhi dadamu begitu langkah kaki sang Kapten menghilang di balik belokan dinding. Kini, kamu benar-benar tertinggal sendirian, terjebak di dalam ruang sunyi bersama monster beringas yang siap menuntut seluruh pertanggungjawaban atas kebohongan dua tahunmu.
To Be Continued




tebak yeen abis ini bakal gimana?
nurut sama jay=udah biasa
yeen mulai sadar=alhamdulillah
yeen ngelawan jay=proklamasi
Akk ud baca di wp, tp aku mampirrr ramaikannnπ«°π«°π«°