28 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa like sampe tembus 100 lebih
Langkah kakimu yang berbalut selop hak tinggi terasa begitu berat dan kaku saat melintasi ambang pintu aula utama. Bunyi bising dari denting gelas kristal, obrolan ratusan pejabat tinggi, dan gema musik simfoni yang mengalun dari sudut ruangan mendadak terdengar seperti dengungan statis yang menjengkelkan di telingamu. Isi kepalamu masih tertinggal di koridor taman luar. Bayangan tawa lepas Jay bersama Ryujinโkakak penolong di apotek dua tahun laluโberputar gila bak rol film rusak, memicu rasa mual yang perlahan naik ke hulu kerongkongan.
โNah, ini dia anak Ayah. Lama sekali, Nak? Sampai Ibu mau menyusulmu lagi ke belakang,โ suara bariton Ayahmu yang tegas seketika memotong lamunanmu begitu kamu sampai di titik kumpul keluarga.
Kamu memaksakan satu senyuman tipis, meremas tas tangan kecilmu dengan jari-jari yang mulai sedingin es. โMaaf, Yah, Bu. Toiletnya agak antre di dalam.โ
Ayahmu tidak curiga. Pria dengan jajaran bintang satu di pundaknya itu hanya mengangguk pendek, namun fokusnya jelas tidak berada padamu sepenuhnya. Sejak lima menit lalu, mata tajam sang Brigadir Jenderal terus bergerak gelisah, celingukan menatap ke arah pintu masuk aula besar sembari sesekali mengetukkan jarinya di atas layar ponsel dinas yang ia genggam.
โAyah sebenarnya lagi cari siapa sih? Kok dari tadi sibuk cek HP terus?โ tanyamu, mencoba mengalihkan gemuruh di dadamu sendiri dengan melirik ekspresi Ayah yang tampak begitu tidak sabar.
Ayahmu menurunkan ponselnya, lalu menoleh padamu dan Ibumu dengan binar mata yang sarat akan rasa kagum yang murni. โItu... pahlawan muda dari jajaran armada laut. Kalian tadi lihat kan perwira tegap yang jadi Komandan Upacara di depan Presiden? Yang suaranya menggelegar waktu memimpin laporan?โ
Jantungmu seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh. Seluruh persendianmu mendadak kaku. Komandan Upacara?
โOh, perwira Angkatan Laut yang tinggi besar itu, Yah?โ Ibumu ikut menimpali, membetulkan letak selendang kebayanya dengan ketertarikan yang sama. โIbu tadi sempat lihat dari layar monitor di dalam. Gagah sekali ya, walau nggak begitu jelas karena Ibu lupa pakai kacamata, masih muda tapi prestasinya sudah luar biasa.โ
โBetul, Bu. Dia salah satu perwira taktis terbaik yang dimiliki negara saat ini. Ayah sudah kirim pesan singkat ke ajudannya tadi, katanya dia sedang menuju ke aula ini setelah menyelesaikan sisa laporan di luar,โ ujar Ayahmu dengan nada bangga yang begitu kentara. Pria paruh baya itu kembali membusungkan dadanya yang bidang. โAyah mau kenalkan dia secara personal ke kalian. Jarang-jarang orang seperti dia punya waktu luang di luar markas besar.โ
Kamu merasakan dingin yang luar biasa mulai menjalar dari ujung jari kaki, merayap naik menembus kain kebayamu yang ketat, hingga mencengkeram paru-parumu hingga terasa pasokan oksigen di sekitarmu mendadak menipis. Atmosfer di dalam aula ber-AC mewah itu seketika terasa mencekik, seolah dinding-dinding marmer Istana bergerak menyempit untuk menjepit tubuhmu.
Jangan bilang... Jangan bilang kalau orang itu...
โAh, itu dia! Akhirnya datang juga,โ seru Ayahmu dengan suara yang sedikit ditinggikan, memotong seluruh kepanikan batinmu.
Kamu refleks mengikuti arah pandangan mata Ayahmu menuju pintu masuk utama aula. Di sana, membelah kerumunan para tamu kehormatan yang langsung berbisik kagum, siluet tinggi tegap berotot itu berjalan melangkah masuk. Laksamana Pertama Jay. Pria itu berjalan dengan ritme kaki yang konstan dan tegas, khas seorang serdadu yang terlatih sempurna. Seragam PDU putihnya yang bersih tanpa cela tampak berkilau di bawah siraman lampu kristal Istana, dengan pedang pora yang menggantung di pinggang kirinya dan topi pet perwira yang kini dijepit di bawah lengan kirinya.
Aura dominasi dan kekuasaan mutlak yang memancar dari tubuhnya sore ini naik dua kali lipat, membuat sosok Jay terlihat seperti dewa perang yang tak tersentuh oleh manusia biasa.
Melihat kedatangan sang Laksamana, Ayahmu tanpa ragu langsung mengambil inisiatif. Dengan langkah lebar yang berwibawa, sang Brigadir Jenderal berjalan mendahului kalian beberapa meter ke depan untuk menyapa sang Komandan Upacara secara langsung. Kamu dan Ibumu hanya bisa berdiri terpaku di posisi semula, menonton skenario gila yang sedang dirajut oleh takdir di depan matamu.
โLaksamana Jay!โ panggil Ayahmu tegas seraya mengulurkan tangan kanannya.
Jay yang merasa namanya dipanggil langsung menghentikan langkah. Mata elangnya yang tajam berputar, dan begitu menangkap sosok perwira tinggi kepolisian di hadapannya, Jay dengan sigap menegakkan tubuhnya, memberikan penghormatan militer yang kaku namun penuh rasa hormat antar-perwira sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Ayahmu.
Kalian berdua menyaksikan dari jarak dekat bagaimana Ayahmu menjabat tangan kekar Jay dengan sangat eratโsebuah jabat tangan hangat khas dua orang yang saling menghormati posisi masing-masing. Detik berikutnya, Ayahmu melangkah satu langkah lebih dekat, lalu menepuk pundak tegap Jay berkali-kali dengan penuh rasa bangga dan kehangatan yang mendalam.
โLuar biasa tugasmu hari ini, Laksamana. Presisi dan tanpa cela. Saya bangga sekali melihat performamu di lapangan tadi,โ ucap Ayahmu dengan tawa renyah yang bariton.
โTerima kasih atas apresiasinya, Jenderal. Ini semua berkat kerja sama tim dan dukungan sistem pengamanan ring luar yang diamanatkan kepada satuan Anda,โ balas Jay dengan suara beratnya yang mantap, tetap menjaga intonasi profesionalnya yang dingin.
โAh, jangan terlalu formal begitu kalau di dalam ruangan ini. Sini, ikut saya sebentar,โ Ayahmu membalikkan sedikit tubuh tegap Jay, merangkul pundak sang Laksamana dengan santai, lalu menggiringnya berjalan mendekat ke arah tempatmu dan Ibumu berdiri. โAda orang-orang terpenting di hidup saya yang sangat ingin saya kenalkan langsung kepada Anda.โ
Tiap derap langkah sepatu lars Jay yang mendekat ke posisimu terdengar seperti detak jam dinding raksasa yang sedang menghitung mundur sisa waktu hidupmu. Kamu benar-benar ketakutan. Rasa takut yang belum pernah kamu rasakan seumur hidupmu, bahkan lebih mengerikan daripada saat kamu pertama kali menyerahkan dirimu di kamar apartemen sewaannya. Lututmu gemetar hebat di balik kain kebaya, dan kamu harus mencengkeram tas tanganmu begitu kencang hingga kuku-kukumu memutih, berusaha sekuat tenaga agar tubuhmu tidak ambruk di atas lantai marmer Istana Negara.
Deg.
Waktu seolah berhenti berputar secara mutlak ketika langkah kaki Jay akhirnya berhenti tepat dua langkah di hadapan posisimu berdiri. Bau parfum maskulin beraroma mint yang pekat dan sangat akrab di indra penciumanmu seketika menguar, merubuhkan seluruh sisa logikamu.
Jay mendongak, berniat memasang senyum formal perwiranya kepada keluarga rekan sejawatnya. Namun, begitu sepasang mata elang yang tajam itu jatuh tepat pada wajahmu, kamu bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana seluruh topeng ketenangan sang Laksamana runtuh dalam hitungan milidetik.
Pupil mata Jay melebar sempurna karena syok yang luar biasa. Otot rahangnya yang kokoh seketika mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang kaku. Untuk pertama kalinya selama dua tahun kamu mengenalnya, kamu melihat seorang Laksamana Pertama Jayโpria taktis yang menguasai ratusan prajurit dan strategi perangโkehilangan kata-kata dan terlihat benar-benar tidak siap menghadapi realitas.
Pandangan mata Jay menyapu penampilanmu dari atas ke bawah. Menatap kebaya modern berwarna salem yang membungkus anggun tubuhmu, menatap sanggul rambutmu yang berkelas, dan akhirnya menyadari posisi berdirimu yang berada tepat di sebelah kiri seorang Brigadir Jenderal Polisi berpengaruh besar.
Di dalam kepala taktisnya, sebuah bom atom kebenaran baru saja meledak tanpa ampun, menghancurkan seluruh asumsi dan ego maskulinnya yang selama ini menganggapmu hanyalah seorang โanak SMA polos, kesepian, murahan, dan haus belaian pria dewasaโ yang bisa ia mainkan sesuka hati di dalam sangkar emasnya. Gadis remaja yang selama dua tahun ini ia panggil dengan sebutan jalang di atas ranjang, yang dinding intimnya sering ia hantam secara kasar hingga menangis kesakitan, ternyata adalah putri kandung dari seorang Jenderal Polisi yang memiliki otoritas hukum tertinggi di jajaran markas wilayah.
Namun, sebagai seorang perwira tinggi yang terlatih menghadapi situasi krisis di medan perang, Jay menunjukkan kemampuan adaptasi psikologis yang mengerikan. Hanya dalam waktu kurang dari dua detik, ia berhasil memaksa otot-otot wajahnya kembali rileks, menarik napas dalam, dan memasang kembali topeng profesionalnya yang sedingin es. Ia menegakkan tubuhnya, memberikan anggukan kepala yang kaku namun sopan.
โSelamat sore, Ibu... Selamat sore,โ ujar Jay dengan suara baritonnya yang mendadak sedikit tertahan, sengaja tidak menyebutkan namamu karena ia sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Ayahmu yang tidak menyadari ketegangan maut yang sedang tercipta di antara kalian, baru saja mau membuka mulut untuk memperkenalkan namamu. โLaksamana Jay, kenalkan iniโโ
โLoh, Laksamana Jay, kan? Ya ampun, Ayah... Ibu sudah tahu dan kenal sama Laksamana Jay,โ potong Ibumu tiba-tiba dengan senyuman ramah yang sangat tulus, melangkah satu langkah maju ke depan.
Kata-kata Ibumu seketika membuat jantungmu serasa mau copot dari tempatnya. Kamu menatap Ibumu dengan tatapan horor yang luar biasa, benar-benar ketakutan jika Ibumu mendadak membongkar hubungan terlarang kalian di sini. Jay pun tampak menahan napasnya, mata elangnya berkilat waspada, menatap Ibumu dengan fokus penuh.
โOh ya? Ibu sudah kenal?โ tanya Ayahmu, mengernyitkan dahi heran sekaligus penasaran.
โIya, Ayah ingat nggak? Dua tahun lalu, waktu putri kita masih aktif-aktifnya di kegiatan Pramuka sekolah dan ikut acara kemah besar di dekat pangkalan laut,โ ujar Ibumu dengan nada suara yang mengalir santai tanpa beban. โWaktu hari terakhir acara yang hujan lebat itu, Laksamana Jay ini yang sangat berbaik hati untuk mengantarkan putri kita pulang sampai ke depan gerbang rumah karena (y/n) ketinggalan rombongan. Ibu ingat sekali wajah gagahnya Laksamana, makanya memori itu melekat sekali di ingatan Ibu sampai sekarang.โ
Jay mendengar penjelasan Ibumu, dan kamu bisa melihat ada kilas kelegaan yang luar biasa tipis di balik tatapan matanya yang dingin. Kebohongan yang dulu ia gunakan sebagai alasan untuk memulangkanmu setelah ronde panas di masa SMA, kini justru menjadi penyelamat hidupnya di hadapan Ayahmu.
โBukan cuma itu, Ayah,โ lanjut Ibumu lagi dengan binar mata kagum. โIbu kan juga sering tonton berita di televisi. Berita tentang musibah tenggelamnya KRI Elang tahun lalu yang berhasil diselamatkan dengan cepat berkat keputusan bijak dari Laksamana Jay. Luar biasa sekali, masih muda tapi dedikasinya pada negara tidak main-main.โ
Ayahmu seketika tertawa lepas, menepuk lengan Jay sekali lagi dengan sisa rasa tidak percaya yang menyenangkan. โWah, wah! Dunia ini ternyata sempit sekali ya, Laksamana! Ternyata Anda sudah jadi pahlawan bagi putri saya jauh sebelum hari ini. Saya benar-benar berutang budi pada Anda karena sudah menjaga putri saya waktu acara Pramuka dulu.โ
โSudah menjadi kewajiban kami sebagai unsur TNI untuk mengayomi masyarakat, Jenderal. Saya hanya melakukan apa yang sudah semestinya dilakukan,โ sahut Jay dengan kalimat tertata rapi yang sangat diplomatis.
Namun, di balik kalimat formal yang meluncur mulus dari bibirnya, mata elang Jay mendadak bergeser, mengunci tatapan matanya tepat pada sepasang matamu yang sedang bergetar ketakutan. Sudut bibir tipis sang Laksamana mendadak terangkat sangat tipisโsebuah seringai gelap yang hampir tak kasat mata yang hanya bisa ditangkap oleh indra penglihatanmu.
Tatapan matanya sore itu seolah mengirimkan sebuah pesan tak tertulis yang sangat intim sekaligus mengancam: โJadi kamu anak jenderal, hm? Berani sekali kamu membohongi Abang selama dua tahun ini, good girl. Urusan kita belum selesai.โ
Suasana di antara kalian berempat seketika berubah menjadi sangat dingin, kaku, dan canggung maut yang mencekik batin. Kamu berdiri membeku di samping Ibumu, terjebak di dalam pusaran sandiwara protokoler Istana, menyadari bahwa benang rahasia yang selama dua tahun ini kamu rajut dengan rapi, kini telah retak dan siap menyeretmu masuk ke dalam konflik yang jauh lebih beringas antara dua pemegang kekuasaan tertinggi di hidupmu.
To Be Continued




Ikut tahan nafas seolah ngerasain di posisi y/n. Aduh please jay lu jgn ngadiยฒ yah, kl lu ngadiยฒ gue berdoa supaya mnt kak mici satuin aja y/n sm sunghoon
Bacanya sambil ikutan nahan napas jadinya ๐ฎโ๐จ