23 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa like kalo bisa tembus sampe 100 lebih
Begitu siluet mobil Jay hilang ditelan tikungan jalan raya di luar sekolah, kamu mengembuskan napas panjang, memeluk buket bunga mawar merah raksasa itu dengan kedua lenganmu seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Kamu menoleh ke arah Isa dengan senyum merekah, wajahmu merona merah padam karena sisa validasi dan perhatian yang baru saja kamu terima.
“Sa, dia beneran keren banget, kan? Kamu lihat sendiri kan gimana cara dia natap aku tadi?” tanyamu penuh antusias, mencari pengakuan lebih jauh dari sahabat terbaikmu.
Isa menatapmu selama beberapa detik. Ada kilat kepedihan dan kekhawatiran yang teramat besar di balik bola matanya, namun ia dengan cepat mengedipkan mata, menyembunyikan badai emosi itu di balik tawa renyah yang sengaja ia buat terdengar meledek.
“Iya, iya, dasar budak cinta! Ganteng banget, gagah lagi, pantesan kamu sampai klepek-klepek begitu,” ledek Isa sambil merangkul pundakmu, menyembunyikan fakta bahwa telapak tangannya sendiri masih terasa dingin dan gemetar setelah berhadapan langsung dengan sang Laksamana. “Udah ah, ayo balik ke aula. Kebaya kita udah lecek nih gara-gara kamu ajak lari-larian ke pojokan parkiran.”
Kamu tertawa lepas, tidak menyadari sama sekali beban pikiran yang baru saja kamu jatuhkan ke pundak sahabatmu. Kamu menggandeng erat lengan Isa, melangkah bersama dengan ritme kaki yang santai kembali menuju gedung aula utama tempat kerumunan wisudawan dan orang tua masih berkumpul.
Di sepanjang koridor menuju aula, beberapa adik kelas dari anggota ekstrakurikuler Pramuka—organisasi yang selama ini kamu ikuti dengan aktif—mendadak mencegat langkahmu. Mereka datang bergerombol, membawa beberapa buket bunga tiruan dari kain flanel, jajanan, dan boneka beruang kecil berseragam sekolah.
“Kak (y/n)! Selamat atas kelulusannya ya, Kak! Ini ada kenang-kenangan kecil dari anak-anak Pramuka, makasih udah bimbing kita selama ini!” seru salah satu adik kelasmu dengan wajah ceria yang tulus.
“Wah, makasih banyak ya semuanya! Ya ampun, repot-repot banget sampai bikin ginian,” ujarmu haru, menerima tumpukan hadiah itu hingga kedua tanganmu benar-benar penuh. Isa pun ikut membantu memegang sebagian hadiah dari adik-adik kelasmu, membuat pelukan lengan kalian penuh dengan warna-warni kertas krep dan bunga.
Tumpukan hadiah dari anak-anak Pramuka ini menjadi berkah tersendiri yang tidak kamu duga. Hal ini menjadi alasan sempurna yang menyelamatkanmu dari interogasi keluarga.
Ketika kamu dan Isa akhirnya kembali ke titik kumpul keluarga di dekat pintu utama aula, Ayah dan Ibumu sudah berdiri di sana menunggu. Mata tajam Ayahmu—yang terbiasa menguliti gerak-gerik tersangka di ruang interogasi kepolisian—sempat melirik ke arah buket mawar merah besar yang mencolok di pelukanmu. Namun, melihat di sekelilingmu juga penuh dengan hadiah-hadiah kecil berlogo Pramuka dan boneka-boneka murah dari adik kelas, asumsi pria paruh baya itu langsung terbentuk dengan sendirinya.
“Wah, banyak sekali bunganya, Nak. Ternyata anak Ayah populer juga ya di sekolah,” goda Ayahmu dengan suara baritonnya yang tegas namun penuh kehangatan seorang bapak. Senyum bangga terukir di wajahnya yang mulai dihiasi kerutan usia.
Ibumu ikut menimpali sambil merapikan bajunya, tersenyum anggun ke arah Isa. “Iya, syukurlah. Ini pasti dari anak-anak Pramuka yang sering kamu latih hari Sabtu itu, kan? Isa juga dapat banyak ya?”
“Iya, Tante. Ini tadi anak-anak di depan langsung serbu kita pas keluar dari aula,” sahut Isa dengan sangat lihai, menimpali asumsi orang tuamu tanpa memberikan celah sedikit pun bagi kebenaran mengerikan tentang Jay untuk mencuat ke permukaan. Isa melirikmu sekilas, memberikan kode lewat mata agar kamu tetap tenang.
“Ya sudah, kalau begitu ayo kita langsung ke parkiran depan. Ajudan sudah siapkan mobil. Kita pulang sekarang, Ibu sudah pesan katering makanan di rumah buat syukuran kecil-kecilan malam ini. Isa, kamu ikut sekalian ya? Makan-makan di rumah,” ajak Ibumu ramah.
“Aduh, maaf banget, Tante, Ayah... Sore ini Isa harus langsung pulang ke rumah karena saudara dari luar kota mau datang juga. Lain kali Isa pasti mampir buat makan-makan,” tolak Isa dengan sopan, memberikan alasan yang masuk akal agar tidak merusak momen internal keluargamu.
“Oh, begitu ya? Ya sudah, tidak apa-apa. Salam buat orang tuamu ya, Sa. Terima kasih sudah menemani (y/n) selama sekolah,” ucap Ayahmu berwibawa.
Kalian akhirnya berjalan bersama menuju area gerbang depan. Setelah berpamitan dan berpelukan singkat dengan Isa, kamu melangkah masuk ke dalam kursi belakang mobil dinas SUV hitam milik Ayahmu yang dijaga ketat oleh dua ajudan berseragam. Dari balik kaca mobil yang perlahan bergerak menjauh, kamu melambaikan tangan ke arah Isa yang berdiri sendirian di trotoar.
Di dalam mobil yang melaju konstan dikawal motor patwal, kamu memeluk buket mawar merah besar dari Jay di sisi kanan tubuhmu, sementara tangan kirimu memegang tumpukan hadiah Pramuka. Dua dunia yang bertolak belakang kini berada di dalam dekapannya secara bersamaan: dunia kepatuhan murni pada sang Laksamana yang manipulatif, dan dunia kehormatan keluarga dari sang Brigadir Jenderal Polisi yang siap melindungimu dengan senjata dan kekuasaan.
.
Sementara itu, di tempatnya berdiri, Isa perlahan menurunkan lambaian tangannya seiring hilangnya mobil dinas kepolisian milik keluarga Ayahmu di balik kepadatan lalu lintas Kota. Senyuman ceria yang sejak beberapa jam lalu ia pasang dengan paksa seketika runtuh tanpa sisa, digantikan oleh hela napas panjang yang sarat akan beban mental yang teramat berat.
Isa menatap buket bunga dan hadiah di tangannya—hadiah pemberian dari Laksamana Jay yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan yang panas di jemarinya.
Ia berjalan perlahan menuju halte angkutan umum terdekat, memilih duduk di sudut bangku yang agak sepi. Pikirannya benar-benar kacau, berputar gila memproses semua fakta yang baru saja menampar kesadarannya sore ini. Firasat buruk yang sempat ia rasakan di depan rumahnya beberapa waktu lalu kini telah menjelma menjadi sebuah kepastian yang mengerikan.
Laksamana Pertama Jay.
Isa berulang kali merapalkan nama itu di dalam hatinya dengan rasa tidak percaya. Dia tahu betul siapa pria itu. Di era digital dan keterbukaan informasi seperti sekarang, wajah tampan dan prestasi militer Jay sering kali wara-wiri di portal berita nasional dan televisi sebagai salah satu perwira muda paling cemerlang di jajaran TNI Angkatan Laut. Pria itu adalah sosok yang berkuasa, memiliki otoritas atas ratusan prajurit, dan mempunyai akses pada senjata serta hukum yang kuat.
Dan sahabat baiknya... (y/n), seorang gadis remaja yang baru saja menginjak usia 18 tahun hari ini, yang masih mengenakan seragam putih abu-abu beberapa hari lalu, telah menjadi pelampiasan rahasia dari pria dewasa sekelas Jay selama hampir dua tahun.
Isa mengingat kembali semua keanehan perilaku yang kamu tunjukkan selama setahun terakhir ini. Bagaimana lingkungan pertemananmu perlahan-lahan menyempit hingga habis tak bersisa. Bagaimana kamu selalu menolak diajak berkumpul bersama teman-teman kelas dengan alasan yang dicari-cari. Bagaimana kamu hanya diizinkan pergi jika ada dirinya yang menemani. Bagaimana wajahmu sering kali terlihat sembap dan ketakutan setelah menerima panggilan telepon rahasia di sudut kelas, dan bagaimana kamu mendadak terlihat begitu murung lalu tiba-tiba berubah sangat bahagia secara ekstrem dalam waktu singkat setelah menerima transferan uang atau hadiah mewah.
“Kena jebakan.. (y/n) beneran dikurung di dalam jebakan manipulatif sama pria itu,” gumam Isa lirih, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus rasa kasihan yang mendalam.
Sebagai seorang sahabat yang cerdas—yang bahkan berhasil lolos masuk universitas negeri melalui jalur prestasi SNBP tanpa perlu memeras otak di tryout—Isa bisa melihat dengan sangat jelas struktur manipulasi psikologis (love bombing dan gaslighting) yang sedang diterapkan Jay padamu. Jay sengaja mengisolasimu dari dunia luar, memotong semua dukungan sosialmu, menghancurkan rasa percaya dirimu dengan kemarahan yang meledak-ledak, lalu kembali datang sebagai pahlawan dengan hadiah dan kalimat penenang tentang “masa depan” agar kamu merasa sepenuhnya bergantung dan berutang budi pada kehadirannya.
Namun, yang paling membuat bulu kuduk Isa meremang sore itu adalah fakta tentang keluarga.
Isa melirik ke arah jalan raya, mengingat kembali pengawalan ketat mobil dinas Ayahmu. Ayahmu adalah seorang Brigadir Jenderal Polisi, seorang perwira tinggi yang memiliki garis komando tegas, dihormati di markas wilayah, dan mempunyai pengaruh hukum yang tidak bisa diremehkan.
Jay sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Jay mengira kamu hanyalah anak SMA biasa yang haus kasih sayang, yang bisa ia kasari, manipulasi, dan tiduri di kamar-kamar sewaan apartemen tanpa perlu takut akan konsekuensi hukum atau balasan yang setimpal.
Bagaimana kalau Ayah (y/n) tahu? Pertanyaan itu mendadak melintas di kepala Isa, membuat keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Jika sang Brigadir Jenderal sampai mengendus bahwa putri kandungnya telah dinodai, diisolasi, dan dijadikan pemuas nafsu oleh seorang Laksamana TNI di bawah umur selama dua tahun, hal itu tidak akan sekadar berakhir sebagai masalah keluarga biasa. Itu akan menjadi badai besar—sebuah benturan horizontal yang melibatkan ego dua institusi bersenjata terbesar di negara ini, sebuah skandal yang bisa menghancurkan karier militer Jay sekaligus mencoreng nama baik korps kepolisian tempat Ayahmu bernaung. Dan di tengah-tengah badai itu, kamu..., akan menjadi korban yang paling hancur, hancur secara mental, sosial, dan masa depan.
Isa mencengkeram erat bungkusan hadiah dari Jay. Ia tahu, posisinya saat ini sangat krusial namun sangat berbahaya. Jika ia bertindak gegabah dengan langsung melaporkan hal ini pada orang tuamu, kamu yang sudah terlanjur tercuci otaknya oleh gairah dan manipulasi Jay pasti akan membencinya, menganggapnya sebagai pengkhianat, dan justru akan semakin berlari menyembunyikan diri di balik ketiak sang Laksamana. Kamu tidak akan pernah mendengarkan nasihat logis dengan cepat dalam kondisi mabuk kepayang seperti ini. Tanpa Isa kulik lebih jauh, dia sudah sadar pola yang diberikan pria dewasa seperti Jay kepada kamu yang masih anak SMA.
Demikian pula jika ia mencoba mengancam Jay, pria dewasa itu memiliki seribu satu cara hukum dan kekuasaan untuk membungkam anak remaja sepertinya dengan mudah.
Mengingat senyum bahagiamu yang tulus saat memeluk mawar merah tadi, Isa akhirnya memejamkan mata rapat-rapat, mengambil sebuah keputusan besar yang sangat berat bagi batinnya sendiri.
“Aku harus diam... Aku harus tetap pura-pura nggak tahu apa-apa untuk sekarang,” bisik Isa pada dirinya sendiri di tengah bisingnya jalanan sore kota Malang.
Ia memilih untuk menyimpan rahasia mengerikan ini sendirian. Ia akan terus berperan sebagai sahabat yang ceria, tempat pelarian yang aman, dan tameng pelindung luar yang disukai oleh Jay maupun orang tuamu. Isa memutuskan untuk menunggu—menunggu sampai kamu mulai melangkah ke dunia perkuliahan, menanti sampai kedewasaan yang sesungguhnya perlahan membuka matamu yang tertutup kabut gairah, dan siap menjadi jaring pengaman pertama yang akan menangkap tubuhmu ketika sangkar emas yang dibangun Jay itu akhirnya retak dan runtuh menimpa dirimu sendiri suatu hari nanti.
to be continued




Sumpah isa ini bnr² real friend bgt, dia ngelindungi y/n dgn caranya tnp hrs dia menyakiti y/n. Jujur kl aku pny tmn posisi gitu jg bakal lakuin hal yg sama kaya isa, krn kl bertindak gegabah kaya kena ke segala arah terutama nantinya si y/n ga pny tmpt untuk dia bisa percayai lg. Kl pun mau lepas bnr² kudu si laksamananya sndr yg ngelepasin, krn kl si y/n yg pingin lepas buyar da disebar tuh foto dn video syur y/n
W buat isa, pantes kamu masuk ptn ya sa👏👏 one day kalo semua udah ke ungkap jangan tinggalin si yeen itu ya sa, walaupun si yeen bloon nya ngalahin dark sistem ML. kita tunggu late game bapaknya si yeen bakal se gacor apa nanti😍😍