22 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan kupa like kalo bisa tembus 100 ke atas
Hari kelulusan akhirnya tiba, membawa atmosfer haru yang pekat di aula sekolah. Riuh tepuk tangan, kebaya-kebaya indah, dan jas formal berbaur dengan tumpukan buket bunga yang memenuhi ruangan. Setelah prosesi wisuda yang panjang, kamu menyempatkan diri untuk berfoto bersama Ayah yang gagah dengan seragam dinasnya, Ibu yang tersenyum anggun, serta Isa yang setia mendampingimu dengan kebaya senada.
Begitu sesi foto keluarga selesai, kamu melirik ke arah luar aula. Jantungmu berdegup kencang karena sebuah rencana nekat yang sudah kamu susun sejak semalam. Kamu menyentuh lengan Ibumu pelan, lalu menoleh ke arah Ayah.
โAyah, Ibu... aku sama Isa izin ke area parkiran sebentar, ya? Masih banyak teman-teman sekelas yang ngajakin foto perpisahan di luar. Nanti kalau Ayah dan Ibu sudah mau pulang, kabari aku saja,โ ucapmu dengan alasan yang terdengar sangat wajar.
Ayahmu mengangguk, mengusap puncak kepalamu yang tertutup toga dengan bangga. โIya, jangan lama-lama. Sore ini kita ada acara syukuran keluarga di rumah.โ
โSiap, Yah!โ
Kamu segera menarik pergelangan tangan Isa, membawanya membelah kerumunan wisudawan menuju area luar sekolah yang agak sepi, dekat barisan pohon mahoni di sudut terjauh tempat parkir.
Isa mengernyit bingung, mencoba mengimbangi langkahmu yang terburu-buru. โEh, (y/n), kita mau foto sama siapa sih? Anak-anak kelas kan kumpulnya di dekat panggung utama, kenapa malah ke pojokan parkiran?โ
Kamu menghentikan langkah, berbalik menatap sahabatmu dengan binar mata yang campur aduk antara gugup dan bersemangat. โSa... sebenarnya hari ini ada seseorang yang datang khusus buat merayakan kelulusanku. Dan... aku rasa ini waktu yang tepat buat ngenalin dia ke kamu.โ
Isa tertegun. Jantungnya mencelos seketika. Tanpa perlu kamu sebutkan namanya, potongan teka-teki sore itu di depan rumahnya langsung berputar otomatis di kepalanya. Pria dewasa itu. Sang Laksamana.
Kalian berjalan mendekati sebuah mobil sedan mewah dengan kaca gelap yang terparkir di bawah rimbunnya pohon. Begitu jarak kalian tinggal beberapa meter, pintu penumpang terbuka. Sosok pria bertubuh tegap, atletis, dengan kemeja batik premium yang membungkus sempurna dadanya yang bidang melangkah keluar. Kacamata hitamnya diturunkan sedikit, menatap kedatanganmu dengan senyuman tipis yang sangat berwibawa.
Laksamana Jay. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk hadir di sekitar sekolahmu.
Dari balik punggungnya, Jay mengeluarkan sebuah buket bunga mawar merah yang sangat besar dan mewah, lengkap dengan sebuah kotak hadiah berpita satin. Tidak hanya itu, di tangan kirinya, ia juga membawa satu buket bunga berukuran sedang serta satu pelengkap hadiah lain.
โSelamat atas kelulusanmu, good girl,โ ucap Jay dengan suara baritonnya yang berat, menyerahkan buket besar itu kepadamu.
โAbang! Makasih banyak...โ matamu berbinar haru, langsung menerima buket itu dengan perasaan melambung tinggi. Validasi yang ia berikan di hari kelulusanmu terasa seperti hadiah terindah.
Kamu segera berbalik, merangkul lengan Isa yang sejak tadi berdiri kaku di sampingmu. โBang Jay, kenalin... ini Isa. Sahabat baikku yang selama ini selalu aku ceritain ke Abang. Dan Sa... ini Bang Jay. Pacarku.โ
Isa merasakan dingin menjalar di punggungnya. Berdiri sedekat ini dengan seorang perwira tinggi militerโyang selama ini hanya ia lihat di upacara kenegaraan atau berita televisiโmembuat nyalinya menciut. Aura intimidasi dan dominasi yang memancar dari tubuh Jay begitu pekat.
Namun, mengingat semua rahasia yang sudah ia simpan sendiri sejak hari itu, Isa mengepalkan tangannya tersembunyi, mencoba menekan rasa takutnya dalam-dalam. Ia memaksakan diri untuk terlihat biasa saja, memasang wajah excited dan ceria layaknya seorang sahabat remaja yang baru pertama kali dikenalkan pada pacar temannya.
โHalo, Omโeh, Bang Jay. Salam kenal, aku Isa,โ ucap Isa dengan nada riang yang sedikit bergetar, menjabat tangan besar Jay yang terasa kasar dan kokoh.
Jay tersenyum ramah, senyuman khas politikus dan perwira yang sangat rapi dan manipulatif. Ia menyerahkan buket bunga kedua dan hadiah yang sudah ia siapkan khusus untuk Isa. โSalam kenal, Isa. Ini ada sedikit hadiah kelulusan buat kamu. Terima kasih ya, selama ini sudah selalu menemani dan menjaga (y/n) dengan baik di sekolah.โ
โWah, repot-repot banget, Bang! Makasih banyak ya,โ jawab Isa, menerima hadiah itu dengan mata berbinar yang dipaksakan, berusaha mengimbangi sandiwara ini demi kenyamananmu.
Kamu yang melihat Isa merespons dengan baik merasa sangat lega dan bahagia. Sisi remajamu yang haus akan pengakuan dari lingkungan sekitar membuatmu sengaja menyenggol lengan Isa, meminta pendapatnya.
โGimana, Sa? Ganteng kan pacarku?โ bisikmu setengah menggoda, namun cukup keras untuk didengar oleh Jay.
Isa menangkap sinyal itu. Ia tahu betul bagaimana cara menyenangkan hati pria dengan ego setinggi langit seperti Jay, sekaligus cara untuk tetap aman di posisinya. Isa menatap Jay dengan pandangan kagum yang dibuat-buat, lalu menoleh padamu.
โParah sih, (y/n). Kamu beruntung banget bisa dapetin cowok segede ini, ganteng, mapan, gagah lagi. Pantesan selama ini kamu sembunyiin terus dari aku, takut aku tikung ya?โ seloroh Isa sambil tertawa renyah. โBang Jay ini beneran kelihatan dewasa dan berwibawa banget, cocok banget jagain kamu.โ
Pujian verbal dari mulut Isa seketika memicu ego maskulin Jay melambung ke titik tertinggi. Sorot mata elangnya berkilat penuh kebanggaan dan kepuasan. Jay terkekeh rendah, membusungkan dadanya sedikit seraya merangkul pinggangmu secara posesif di depan sahabatmu, seolah menandai bahwa kamu adalah wilayah kekuasaan mutlaknya yang berhasil ia taklukkan.
โBisa saja kamu, Isa,โ ujar Jay dengan nada bangga yang tidak bisa disembunyikan dari suaranya. โAbang memang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat (y/n). Dia sudah jadi anak baik selama ini, jadi dia pantas mendapatkan ini semua.โ
Kamu tersenyum sangat lebar, menyandarkan kepalamu di bahu bidang Jay dengan perasaan menang, merasa bahwa pilihanmu selama dua tahun ini tidak salah. Namun di sisi lain, Isa yang menyaksikan interaksi itu dari jarak dekat hanya bisa membatin pilu. Di balik senyum cerianya sore itu, firasat buruknya justru semakin menguat melihat bagaimana Jay dengan begitu mudah mengendalikan emosi dan memanipulasi situasi, menjebak sahabat baiknya semakin dalam ke dalam sangkar emas yang tak kasat mata.
Temaram matahari sore mulai menembus celah-celah daun pohon mahoni, memantulkan kilas cahaya kemerahan di atas kap mesin sedan mewah milik Jay. Setelah beberapa menit obrolan yang sarat akan ketegangan tersembunyi dan pujian yang melambungkan ego, Jay melirik jam tangan taktis kronograf yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu bersenang-senang dan bersandiwara telah habis. Dunia militernya yang kaku dan penuh kedisiplinan kembali memanggil sang perwira tinggi.
โ(y/n),โ panggil Jay, suaranya mendadak berubah transisi dari ramah menjadi nada bariton yang tegas, khas seorang komandan yang siap memberikan perintah. โAbang harus undur diri sekarang. Sore ini ada rapat koordinasi mendesak di markas komando yang sama sekali nggak bisa Abang wakilkan. Jenderal dari markas besar Jakarta mau datang meninjau armada.โ
Mendengar ucapan itu, binar bahagia di wajahmu sedikit meredup. Sisi remajamu yang egois dan haus akan kehadirannya selalu merasa waktu yang diberikan Jay tidak pernah cukup. Dua tahun berjalan, dan kamu masih harus selalu mengalah pada kalimat โurusan markasโ atau โtugas negara.โ
โKok cepat banget sih, Bang? Padahal acaranya belum benar-benar selesai. Aku masih pengen pamer buket bunga ini sambil jalan bareng Abang,โ keluhmu manja, memundurkan bibirmu bengkak beberapa senti sambil meremas pelan ujung kemeja batik premiumnya.
Jay terkekeh rendah, sebuah suara basah yang serak yang selalu berhasil menggelitik perutmu. Ia tidak peduli pada keberadaan Isa yang berdiri hanya satu meter di samping kalian. Dengan gerakan posesif yang mutlak, tangan besarnya naik, menangkup rahangmu lalu menunduk untuk mengecup keningmu dengan sangat lama dan dalam. Kehangatan bibirnya meresap ke kulitmu, menyalurkan kembali rasa tenang sekaligus dominasi yang mengunci akal sehatmu.
โJangan manja, Sayang. Kamu tahu sendiri kan konsekuensi posisi Abang? Tapi Abang sudah tepati janji buat datang dan kasih kamu hadiah, kan?โ bisik Jay lembut tepat di depan wajahmu, membuat napas maskulinnya yang beraroma mint menerpa indra penciumanmu. โJadilah good girl yang mandiri. Pulang ke rumah, nikmati syukuran keluargamu, dan jangan buat ulah yang memancing kecurigaan Ayahmu. Paham?โ
โIya, Bang... Paham,โ jawabmu pasrah, sepenuhnya patuh di bawah tatapan matanya yang tajam dan menghanyutkan.
Jay kemudian melepaskan rangkulannya di pinggangmu, menegakkan tubuh tegapnya yang berotot, lalu menoleh ke arah Isa. Aura ramah tamah militernya kembali dipasang dengan rapi.
โIsa, Abang pamit duluan ya. Tolong jaga sahabatmu ini, jangan biarkan dia keluyuran atau bertingkah aneh-aneh selama Abang nggak ada. Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung hubungi nomor Abang yang tadi,โ ucap Jay, memberikan senyuman formal yang tampak begitu berwibawa namun terasa dingin di mata Isa.
Isa yang sejak tadi berusaha menekan debar jantungnya karena syok, langsung menegakkan posisinya. Ia memaksakan sebuah anggukan mantap dan senyuman paling natural yang bisa ia tunjukkan sebagai seorang anak remaja yang menghormati pria dewasa.
โSiap, Bang Jay! Tenang aja, (y/n) aman sama aku. Abang hati-hati di jalan ya, sukses buat rapat di markasnya,โ sahut Isa dengan nada riang yang dibuat-buat, penuh antusiasme palsu yang sengaja ia pelihara agar sandiwara ini berjalan mulus.
โTerima kasih, Isa. Abang jalan dulu,โ final Jay.
Pria itu berbalik, membuka pintu kemudi sedan mewahnya dengan gerakan anggun yang tegas, lalu masuk ke dalam kabin. Mesin mobil berkapasitas besar itu menderu halus sebelum akhirnya perlahan bergerak mundur, membelah area parkiran, dan melaju keluar dari gerbang sekolah, meninggalkan kepulan debu tipis dan aroma parfum maskulin yang pekat di bawah rindangnya pohon mahoni.
to be continued




curiga gua jay main belakang sm yeen
apalagi ini๐ซฉ๐ซฉ๐ซฉ๐ซฉ kok gue curiga jay ada sesuatu di belakang yeen๐ซฉ๐ซฉ๐ซฉ FAKLAH JAYYY SIALAN LO, YEEN JUGA BOT BANHET DI BILANGIN, amit amig dah semoga emang ga ada sesuatu di belakang yeen, kasian anak polos cuma pengen pacaran kayak biasa tapi dapet predator mematikan๐๐๐๐