2 Waiters Gadungan
Sim Jake
Hari-hari setelah itu bener-bener di luar kendali. Kamu yang tadinya ke kafe buat skripsi, sekarang malah skripsi yang jadi alasan buat ketemu Jake. Hubungan kalian makin cair. Dari yang tadinya cuma tanya jawab singkat, sekarang udah berani bales-balesan pesan lewat WhatsApp.
Sampai akhirnya, dia ngajak kamu jalan. Bukan ke kafe, tapi jalan santai di pedestrian kota pas malam minggu.
“Kamu kalau jalan fokusnya ke depan, jangan ke kaki terus. Pengen nemuin duit?” canda Jake. Malam itu dia kelihatan beda banget. Nggak ada apron, cuma kaos hitam polos yang ngetat di badan, nunjukin hasil olah raga yang nggak main-main.
Kamu mendongak, nyengir sedikit. “Ya abisnya Mas Jake jalannya cepet banget, aku kan harus nyamain langkah.”
“Mas Jake lagi,” gumamnya pelan sambil geleng-geleng. Dia tiba-tiba berhenti jalan, bikin kamu otomatis ikut berhenti. “Panggil Jake aja kenapa sih? Berasa tua banget aku dipanggil Mas.”
“Tapi kan emang lebih tua,” jawabmu sambil meletin lidah.
Jake baru mau bales omongan kamu, tapi tiba-tiba dari arah belakang ada gerombolan anak muda yang lagi lari-larian-mungkin lagi bikin konten atau apa. Salah satu dari mereka lari terlalu pinggir dan...
BRAK!
Bahu kamu disenggol kenceng banget. Kamu limbung, kaki kamu keserimpung langkah sendiri. Kamu udah siap-siap bakal mencium trotoar, tapi tiba-tiba ada tangan kokoh yang narik pinggang kamu dengan sentakan kuat.
DEGH.
Wajah kamu mendarat tepat di dada bidangnya. Harum tubuhnya yang maskulin dan hangat langsung menyerbu indra penciuman kamu. Karena kaget dan refleks nyari pegangan, tangan kamu tanpa sadar melingkar di pinggangnya, meluk dia erat banget.
Dunia seolah berhenti muter selama beberapa detik. Kamu bisa denger detak jantung Jake yang ternyata sama kencengnya sama jantung kamu.
“Modus kamu pinter juga ya,” bisik Jake tepat di atas kepala kamu.
Kamu buru-buru mau lepasin pelukannya, muka kamu udah merah padam kayak kepiting rebus. “Eh, s-sorry! Tadi ada yang nyenggol, aku nggak sengaja-”
Bukannya ngelepasin, Jake malah makin ngeratin pelukannya di pinggang kamu. Dia nunduk, natap kamu dengan tatapan yang bikin lutut kamu lemes lagi-tatapan yang sama kayak waktu di depan toilet dulu.
“Nggak usah dilepas dulu,” katanya, suaranya rendah dan dalam. “Enak juga ternyata dipeluk kamu.”
Kamu makin nggak berkutik. Kamu cuma bisa nyembunyiin wajah kamu yang panas di dadanya. Jake terkekeh pelan, getaran di dadanya kerasa banget sampai ke pipi kamu. Pelan-pelan, dia ngelepasin pelukannya tapi tangannya masih betah di bahu kamu, seolah nggak mau kamu jauh-jauh.
“Udah, jangan kaku gitu. Kayak lagi dipeluk beruang aja,” candanya sambil ngerangkul bahu kamu, bawa kamu jalan lagi. Tapi kali ini, dia jalannya mepet banget sama kamu, nggak kasih celah sedikit pun buat angin lewat.
Sepanjang sisa jalan itu, Jake nggak henti-hentinya ngegoda kamu. Tangannya yang di bahu kamu sesekali turun buat ngusap lengan kamu, atau jarinya yang usil mainin ujung rambut kamu.
“Capek nggak?” tanyanya pas kalian udah sampai di depan pager rumah kamu.
Kamu geleng-geleng. “Enggak, seru kok.”
“Bagus deh kalau seru,” Jake senyum, tapi kali ini senyumnya beda. Nggak ada candaan lagi di sana. Dia maju selangkah, masuk ke ruang pribadi kamu, bikin kamu mundur sampai mentok ke pager rumah.
Dia nahan tangan kamu yang baru mau buka kunci pager. Suasananya tiba-tiba berubah jadi sangat... serius.
“Aku nggak mau cuma jadi ‘Mas Kafe’ yang kamu temuin tiap sore,” katanya pelan. Matanya terkunci ke mata kamu, nggak kasih kamu ruang buat lari.
Malam itu sudah larut. Suasana di depan kontrakanmu sunyi, cuma ada suara jangkrik dan lampu jalan yang remang-remang. Kamu baru saja mau mengucap salam perpisahan, tapi tangan Jake masih betah menahan pagar rumahmu.
“Boleh aku masuk sebentar?” tanya Jake. Suaranya nggak lagi bercanda. Ada nada serius yang bikin bulu kudukmu meremang. “Aku mau ngomong sesuatu. Penting. Nggak enak kalau di pinggir jalan begini.”
Kamu sempat ragu. Kamu sendirian di rumah, dan Jake... well, dia pria dewasa yang baru saja membuat jantungmu hampir copot di jalan tadi. Tapi melihat tatapan matanya yang tulus, kamu akhirnya mengangguk.
“Iya, masuk aja. Tapi maaf ya kalau berantakan,” jawabmu sambil membuka pintu.
Begitu masuk, kamu langsung menyalakan lampu ruang tamu. Kamu baru mau berbalik untuk menawarkan minum, tapi ternyata Jake sudah berdiri tepat di belakangmu. Dia nggak duduk di sofa. Dia malah menutup pintu kontrakanmu dengan pelan, lalu menguncinya.
Klik.
Suara kunci itu terdengar nyaring di telingamu. Jantungmu mulai berulah lagi.
“Duduk dulu, Mas... eh, Jake,” katamu gugup, menunjuk sofa kecil di ruang tamu.
Bukannya duduk, Jake malah melangkah maju, memaksamu mundur sampai kamu terduduk di pinggiran sofa. Dia berdiri di depanmu, menjulang tinggi, memberikan efek intimidasi yang anehnya malah bikin kamu makin berdebar.
Dia berlutut di depanmu, satu tangannya bertumpu di sandaran sofa, mengunci pergerakanmu lagi.
“Kamu tahu kan aku nggak pernah main-main kalau nyamperin kamu di meja kafe?” suaranya rendah, hampir seperti bisikan. “Aku juga nggak main-main pas nungguin kamu di depan toilet waktu itu.”
Kamu cuma bisa mengangguk pelan, meremas ujung bantal sofa. Kamu merasa seperti mangsa yang sedang dipojokkan, tapi anehnya kamu nggak ingin lari.
“Aku udah perhatiin kamu jauh sebelum kamu sadar aku ada,” lanjutnya. Jarinya mulai merayap dari pergelangan tanganmu ke arah bahu, lalu berhenti di dagumu. Dia mengangkat wajahmu agar menatapnya. “Dan aku nggak mau nunggu lebih lama lagi.”
Kamu menelan ludah. “Maksudnya?”
“Mau gak jadi istriku?”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Lugas. Tanpa basa-basi. Kamu syok. Otakmu yang biasanya encer buat ngerjain proposal, tiba-tiba macet total. Kamu mau jawab, tapi bibirmu mendadak kelu.
Melihat kamu yang hanya diam dengan mata membulat, Jake seolah kehilangan kesabarannya. Dia nggak menunggu jawaban lisanmu.
Dia menarik tengkukmu pelan dan langsung menyambar bibirmu.
DEG.
Ciumannya terasa panas dan menuntut. Berbeda dengan sikap “Mas-Mas” kafe yang santai, kali ini Jake menunjukkan sisi dominannya. Kamu sempat kaget dan mencoba mendorong dadanya, tapi kekuatan Jake nggak sebanding. Tangannya yang besar justru merengkuh pinggangmu, menarik tubuhmu makin rapat ke arahnya.
Lama-lama, pertahananmu runtuh. Kamu mulai membalas ciumannya, tanganmu perlahan naik meremas kerah bajunya. Suasana ruang tamu yang tadinya dingin karena AC, mendadak terasa membara.
Pas kamu sudah mulai kehabisan napas, Jake melepaskan pagutannya. Jidat kalian saling bersentuhan, napas kalian beradu, pendek-pendek dan memburu. Kamu menatapnya dengan muka yang bener-bener shock dan bibir yang sedikit bengkak.
Jake mengusap bibirmu dengan jempolnya, matanya menggelap. “Aku tanya sekali lagi,” bisiknya dengan suara yang lebih parau. “Mau gak jadi istriku?”
Kamu masih nggak bisa bersuara. Kamu cuma bisa memberikan anggukan kecil-sangat kecil sampai hampir nggak terlihat. Tapi bagi Jake, itu sudah lebih dari cukup.
Dia tersenyum puas, sebuah senyum kemenangan. “Pinter,” bisiknya sebelum dia kembali memburu bibirmu, kali ini dengan kecupan-kecupan kecil yang bikin kamu benar-benar nggak berkutik di bawah kuasanya.
Lampu ruang tamu yang kuning temaram bikin bayangan Jake di dinding kelihatan makin besar dan mengintimidasi. Kamu masih berusaha nyari oksigen setelah ciuman tadi, tapi Jake nggak kasih kamu waktu buat tenang. Dia masih mengurungmu, lututnya sekarang menyelinap di antara kedua paha kamu, bikin kamu makin terhimpit di sofa.
“Mas... Jake, pelan-pelan...” bisik kamu, napas kamu masih putus-putus.
Jake nggak dengerin. Atau lebih tepatnya, dia nggak peduli. Dia malah makin mendekat, nempelin keningnya ke kening kamu. Kamu bisa ngerasain panas tubuhnya yang makin naik.
“Tadi itu belum jawabannya, (y/n),” bisik Jake, suaranya sekarang serak banget, tipe suara yang bakal bikin cewek mana pun lemes. “Aku nggak suka jawaban yang cuma sekadar anggukan.”
Tangannya yang besar nggak lagi di sandaran sofa. Sekarang tangan itu masuk ke bawah dagu kamu, maksa kamu buat natap matanya yang gelap-gelap karena keinginan yang udah dia tahan sejak pertama kali liat kamu di depan toilet itu.
“Mau nggak jadi istri aku?” tanyanya lagi. Kali ini bukan pertanyaan, tapi lebih ke perintah.
Kamu baru mau buka mulut buat ngomong “iya”, tapi Jake seolah nggak butuh kata-kata lagi. Dia kembali nyambar bibir kamu, tapi kali ini jauh lebih agresif. Kamu ngerasain lidahnya mulai menuntut akses lebih dalam, dan tanpa sadar kamu ngebuka mulut kamu, ngebiarin dia nguasain semuanya.
Tangan Jake mulai usil. Dia nggak nunggu persetujuan kamu buat nurunin tangannya ke pinggang, lalu masuk ke balik kaos yang kamu pakai. Sentuhan kulitnya yang kasar ketemu kulit perut kamu yang halus bikin kamu tersentak, punggung kamu otomatis melengkung karena sensasi listrik yang menjalar ke seluruh tubuh.
“Mas... jangan di sini,” rintih kamu di sela-sela ciumannya.
“Terus di mana? Di kamar?” Jake ngelepas ciumannya sebentar, cuma buat gigit kecil daun telinga kamu, bikin kamu ngerasain sensasi panas-dingin sekaligus. “Aku udah bilang kan, aku nggak sabar. Kamu yang bikin aku begini, (y/n). Tiap hari liatin aku di kafe dengan muka penasaran itu... kamu pikir aku nggak tahu?”
Dia mulai menciumi leher kamu, ninggalin tanda merah yang pasti bakal susah hilang besok pagi. Kamu cuma bisa nengadah, tangan kamu nyengkrem rambut hitam Jake yang berantakan, nyoba buat tetep sadar di tengah gempuran sensasi yang dia kasih.
Jake bener-bener nggak nunggu kamu setuju buat hal-hal yang lebih jauh. Dia mulai nuntun tangan kamu buat ngerasain detak jantungnya yang gila di balik kemejanya.
“Jawab dulu. ‘Mau, Jake’. Bilang gitu,” perintahnya sambil terus ngecupin tulang selangka kamu.
“Mau... aku mau, Jake...” suara kamu pecah, bener-bener nggak berdaya di bawah kendali dia.
Jake berhenti sebentar, natap kamu dengan senyum pemenang yang paling sombong yang pernah kamu liat. Dia ngecup bibir kamu sekali lagi, tapi kali ini lembut banget, seolah-olah dia lagi nandain kalau kamu sekarang adalah hak miliknya.
“Pinter banget calon istri aku,” bisiknya nakal.
★
Beberapa bulan kemudian, setelah resepsi pernikahan megah yang bikin temen-temen kampus kamu syok setengah mati, kamu baru sadar kalau kamu bener-bener dapet “jackpot”.
Kamu lagi duduk di kantor CEO sebuah perusahaan properti dan F&B besar yang gedung pusatnya punya view langsung ke seluruh kota. Jake-suami kamu yang dulu kamu kira cuma mas-mas waiters yang juga tukang pel-sekarang lagi duduk di kursi kebesarannya tanpa apron, tapi pake setelan jas yang harganya mungkin bisa buat beli rumah kontrakan kamu sepuluh biji.
“Jadi... Mas itu beneran pemilik kafe itu?” tanya kamu sambil ngeliatin laporan keuangan yang nggak sengaja kamu baca. Angkanya nolnya banyak banget sampai kamu pusing.
Jake muter kursinya, natap kamu sambil lepas kacamata kerjanya. Dia jalan nyamperin kamu, lalu duduk di pinggiran meja kerja, narik kamu buat berdiri di antara kakinya-posisi favoritnya.
“Aku emang suka sesekali turun ke lapangan kalau lagi bosen di kantor,” katanya sambil narik pinggang kamu. “Dan hari itu, aku mutusin buat jadi waiter karena aku liat ada mahasiswi cantik yang lagi stres ngerjain proposal tapi malah sibuk ngeliatin aku.”
Kamu mukul bahunya pelan. “Ih! Jadi Mas emang sengaja godain aku pas di toilet itu?”
Jake ketawa, tawa renyah yang sama yang dulu bikin kamu nggak bisa tidur. “Nggak cuma godain. Aku emang udah nargetin kamu buat jadi ratu di rumah aku. Capek kan ngerjain skripsi? Sekarang kamu nggak usah pusing lagi. Nanti Jokiin aja biar cepet selesai. Duit aku tujuh turunan juga nggak bakal abis, bahkan kalau kamu mau beli kafe itu sekaligus isinya sekarang juga.”
Dia narik kamu makin deket, bisikin sesuatu di telinga kamu yang bikin muka kamu merah lagi. “Tapi ada satu syarat...”
“Apa?”
“Tiap sore, kamu harus pake apron itu lagi di depan aku... tapi nggak usah pake baju lain di dalemnya.”
Kamu bener-bener nggak bisa berkutik. Ternyata, Mas-Mas kafe kamu ini emang predator yang udah ngerencanain semuanya sejak awal.
Kamu mengerjapkan mata, benar-benar nggak percaya sama apa yang baru saja keluar dari mulut Jake. Wajahmu panas bukan main, merahnya mungkin sudah sampai ke telinga. Kamu tahu Jake itu nakal, tapi kamu nggak menyangka kalau imajinasinya bakal se-spesifik itu.
“Mas... kamu gila ya?” cicitmu sambil mencoba melepaskan diri dari kurungan tangannya di meja kerja.
Jake justru makin merapat. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja, mengunci tubuhmu. Dia menatapmu dengan binar mata yang penuh kemenangan. “Gila karena kamu, (y/n). Kenapa? Ide bagus, kan? Mengingat itu awal mula kita ketemu.”
“Tapi... tapi masa cuma pake apron?” suaramu makin mengecil. Membayangkan dirimu hanya dibalut selembar kain hitam tanpa apa-apa di baliknya benar-benar bikin lututmu gemetar.
Jake terkekeh pelan. Dia mencium pucuk hidungmu dengan gemas. “Anggap aja itu reward buat aku karena udah kerja keras cari uang buat tujuh turunan kita nanti. Gimana? Deal?“
Kamu menggeleng kuat-kuat. “Nggak mau! Mesum banget!”
“Oh, beneran nggak mau?” Jake mengangkat alisnya. Dia tiba-tiba berdiri tegak, merapikan jasnya seolah-olah sudah nggak tertarik lagi. “Ya udah kalau gitu. Padahal tadinya aku mau kasih kamu kartu kredit tanpa limit yang baru buat belanja besok... tapi karena kamu nggak mau nurutin permintaan simpel aku...”
Dia sengaja menggantung kalimatnya sambil pura-pura mau balik ke kursi kerjanya. Kamu tahu itu cuma trik, tapi entah kenapa, melihat wajah “merajuk” Jake yang tetap kelihatan tampan itu bikin pertahananmu goyah. Apalagi kamu sadar, kamu emang selalu kalah kalau udah didebat sama dia.
“Tunggu!” panggilmu pelan.
Jake berhenti, bahunya sedikit berguncang-menahan tawa. Dia berbalik dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. “Ya?”
Kamu menunduk, memainkan ujung jarimu dengan gelisah. “Kalau... kalau aku lakuin, kartu kreditnya beneran ditambah limitnya?”
Jake langsung balik lagi ke depanmu dalam sekejap. Dia tersenyum lebar, senyum yang kali ini benar-benar nakal. “Bukan cuma ditambah, Sayang. Kamu mau beli kafenya sama lapangan padel sekalian juga aku kasih.”
Dia menarikmu ke dalam pelukannya, lalu berbisik tepat di telingamu, “Apronnya udah aku pesen. Yang bahannya sutra, biar nyaman di kulit kamu. Malam ini, ya?”
Kamu cuma bisa menyembunyikan wajahmu di dadanya, pasrah lahir batin. Kamu merona hebat, membayangkan malam ini bakal jadi malam yang sangat panjang dan melelahkan. Jake benar-benar tahu cara memanfaatkan kekayaan dan pesonanya buat bikin kamu nurut.
“Iya, iya... dasar mesum,” gumammu pelan.
Jake tertawa puas. Dia mengangkat dagumu dan memberikan satu kecupan dalam yang seolah menjanjikan kalau malam ini kamu nggak bakal dikasih waktu buat tidur.
“that is my smart wife,” bisiknya sebelum dia benar-benar menggendongmu keluar dari ruangan kantornya, nggak peduli kalau para sekretaris di luar bakal melihat kalian dengan tatapan penuh tanya.
★
To Be Continued
OH SYHHTTT MY WIFE GA TUH




ramein biar bisa main gila besok pake apron sutra
akal² lu ya jake biar bisa masuk ke rmh gw mana main ngunci pintu+ngokop gw!! 😭😭, tapi ujung² gw jg mau sihh hehehe. YA KALI DI TOLAKK OHH TENTU SAJA TIDAKK HAHAHAHA!! 🤭😏🤤😻💗💋🫦💃🏻💅🏻
ANJAYYY ASIKK NIKAH SAMA ORKAY+GANTENG+SATSET LAGIII AHAYYY!! 💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻